Dorm (Chapter 1)

 

Author             : BaoziNam

Judul               : Dorm (Chapter 1)

Cast                 : All member EXO

Genre              : Friendship, comedy, family

Rating             : Teen

Length             : Chapter

Author’s Note : Cerita asli dari otak author sendiri. Cast cuma nyewa sebentar nanti juga                             dibalikin lagi (?). Jangan jadi PLAGIAT! Comment dan saran ditunggu~

 

****

Seorang pria berambut putih dan berpipi chubby sedang berjalan di pinggir pantai sambil menendang ombak di sampingnya. Langkahnya pun berhenti pas didepan ombak yang sedang menendang kakinya. Matanya menatap lurus ke arah matahari yang akan tenggelam sebentar lagi. Senyumnya mengembang saat ia menyaksikan moment yang sangat ia sukai sedang berlangsung. Berkas-berkas matahari pun menghilang setelahnya. Langit perlahan menghitam. Taburan bintang sudah mulai terlihat di langit bersama bulan yang bersinar terang. Pria itu membalikkan tubuhnya meninggalkan pantai sambil menjinjing sepatu olah raganya. Tiba-tiba ponselnya bergetar di dalam saku celananya. Ia menghentikan langkahnya dan merogoh sakunya. Benda putih itu terus bergetar, memaksa empunya untuk menjawab panggilan yang ditujukan untuknya. Ibu jarinya menyeret ikon hijau di layar kemudian menempelkan di telinganya.

            “Yeoboseyo?” ucapnya pertama kali. “Aku sedang di pantai. Kau dimana? Aku akan kesana sekarang. Berhentilah mengomel, Luhan! Kututup!” Dia memutuskan panggilan itu.

            Pria itu berjalan cepat menuju mobil hitamnya. Ia membuka pintu belakang mobil dan melempar sepatu beserta ponselnya disana. Dengan berlari kecil ia menuju kursi pengemudi. Dengan terburu-buru ia melakukan semuanya. Mulai dari mengencangkan sabuk pengaman sampai menyalakan mesin mobil yang tak kunjung menyala. Pria berambut putih itu pun mengeluarkan umpatannya karena kesal. Tapi setelah umpatan itu, akhirnya mobilnya menyala dan ia segera menggas mobilnya. Mobil hitamnya pun melaju kencang meninggalkan pantai.

            Di lain tempat, pria berkulit putih susu sedang melirik ke kanan dan ke kiri sambil melihat jam tangannya. Perasaan cemas dan kesal sedang menyelimuti pikirannya sekarang. Ketiga temannya yang bersamanya sekarang ini tampak acuh dengan kecemasan pria itu. Mereka lebih memilih bercerita atau membuat kegaduhan dengan suara tawa menggelegar yang diciptakan dari salah satu dari mereka. Pria putih susu itu pun menatap ke sumber kekacauan dengan tatapan membunuh. Teman-temannya itu pun diam.

            “Dia terlambat terus!” erang Chanyeol—pria jangkung yang duduk di sebelah kanan pria pendek di sebelah kirinya.

            “Ini salahku memilih sekolah di dekat pantai dan mengajak kalian juga. Aku tak tahu kalau dia sangat menyukai matahari terbenam di pantai,” sesal Jongdae—pria pendek di sebelah kiri Chanyeol.

            “Bukannya aku sudah memperingatkanmu?” kesal Baekhyun—pria yang duduk diantara kedua pria itu.

            “Diamlah! Dia sudah datang,” ujar Luhan—pria putih susu—dengan nada pelan hampir berbisik. Sontak ketiga temannya bungkam dan memilih mengerjakan sesuatu selain menggunjingkan orang yang dibilang Luhan sudah datang kesini.

            Sebuah mobil hitam terparkir di tempat parkir di sebuah asrama sekolah. Seorang pria berambut putih tadi keluar dari sana, kemudian berlari masuk ke dalam asrama. Luhan menyandarkan punggungnya di kursinya sambil menunggu temannya itu datang. Chanyeol beranjak dari kursinya untuk melihat ke bawah. Dia mendapati mobil temannya sudah terparkir disana dan itu berarti dia sudah datang. Baekhyun menurunkan kepala ke meja sambil mendesah malas. Jongdae hanya meminum jus yang ia pesan sejak setengah jam sedikit demi sedikit. Tak lama kemudian, pintu kamar mereka mengeluarkan bunyi ‘klik’ yang beriringan dengan masuknya seseorang dari sana.

            “Kau terlambat lagi, Minseok.” Luhan menegurnya dengan nada datar. Pria berambut putih yang dipanggil Minseok itu hanya bisa memperlihatkan senyum pipi bulatnya.

            “Apa aku benar-benar terlambat?” tanyanya dengan wajah tanpa dosa. Baekhyun mengerang keras mendengar pertanyaan Minseok. Chanyeol memukul-mukul lengan Jongdae tanpa ampun karena hal yang sama yang dirasakan oleh Baekhyun juga. Jongdae hanya bisa pasrah sambil memejamkan mata dengan erat dan berharap Chanyeol segera menghentikannya. Luhan berdiri dari kursinya, lantas memegang pundak Minseok yang sedang menatapnya bingung.

            “Karena kau kita terlambat nonton film Frozen kesukaan Chanyeol di bioskop,” ucap Luhan dengan nada membunuh.

            “Kita harus menunggu pemutaran ulang satu setengah jam lagi karena kau!” adu Chanyeol dengan merengek.

            “Hei, hei. Ini bukan salahku, oke? Kalau tahu itu film kesukaanmu, aku akan datang setengah jam sebelum filmnya diputar,” bela Minseok.

            “Kau selalu berkata seperti itu tapi tak ada yang pernah kau kabulkan,” rengek Chanyeol lagi. Minseok hanya memutar bola matanya melihat tingkah Chanyeol yang menggelikan.

            “Kau harus membeli popcorn jumbo untukku dan Chanyeol,” perintah Baekhyun kesal. “Oh, jangan lupakan untuk Jongdae juga,” tambah Baekhyun setelah melirik Jongdae yang mengatakan dengan matanya tentang dirinya yang juga harus dihitung dalam pentraktiran popcorn.

            “Dan untuk Sehun, Choco Bubble Tea!!” teriak seseorang dari dalam kamar.

            “Kau tidak bisa berkehendak begitu saja, Oh Sehun! Kau tidak ikut dalam hal ini!” tolak Minseok mentah-mentah. “Ada luhan yang akan membelikanmu setelah kami menonton!” tambahnya lagi. Luhan mendesis kesal.

            “Jadi kita harus menunggu beberapa jam lagi. Kalau begitu aku mandi dulu,” pamit Minseok lalu berjalan menuju kamar mandi.

            Jongdae, Chanyeol, dan Baekhyun hanya bisa menahan tangis mereka dalam diam karena tidak bisa menonton film Frozen di penayangan pertama. Mereka pun serempak berpikir, pasti mereka akan diejek Zitao dan Jongin di sekolah. Mereka harus menahan malu karena bukan mereka bertigalah yang pertama menontonnya. Luhan menatap mereka bertiga secara bergantian dengan ekspresi jijik.

            “Kalian menggelikan! Aku bersumpah! Kalian benar-benar menggelikan!” maki Luhan. Yang ditujukan tidak menjawab sama sekali. Luhan mendesah keras lalu mengambil ponselnya yang ada dia atas meja dengan kasar. “Aku akan membelikan tiket kedua untuk kalian, jadi jangan menangis.” Seketika ketiga makhluk yang ada di depannya menjadi cerah dan tersenyum senang pada Luhan. Luhan memutar bola matanya jengah. Kalian harus membayar ini di akhir, pikir Luhan dalam hati.

            “Luhan, aku boleh ikut?” tanya Sehun yang tiba-tiba muncul dari balik pintu balkon, tempat keempat orang tadi berbicara dan menghabiskan waktu. Luhan menoleh ke belakang.

            “Maaf, Sehunnie. Kau tidak boleh keluar hari ini. Aku akan membelikanmu Bubble Tea nanti,” ucap Luhan lembut sambil tersenyum. Sehun pun tersenyum juga sebagai tanda jawaban setujunya untuk Luhan. Sehun akhirnya kembali ke kamarnya tanpa suara.

 

****

 

Jalanan Seoul begitu ramai dipadati oleh kendaraan-kendaraan yang bergerak begitu cepat seperti sedang mengejar waktu. Sekarang jam sembilan waktu setempat. Waktu-waktu para pencari uang untuk pulang menuju rumahnya. Waktu yang juga dipergunakan orang untuk berolahraga malam di sekitar Sungai Han. Mereka lebih memilih malam karena tempatnya sudah sepi dan mereka bisa bebas berolahraga. Tempat-tempat hiburan juga masih buka, khususnya bioskop.

            Minseok, Luhan, Chanyeol, Baekhyun dan Jongdae berjalan menuju bioskop yang berada di lantai atas sebuah Mall besar di kota Seoul. Tidak banyak orang disana. Tapi bioskop masih ramai dengan pengunjung. Karena Luhan sudah berjanji untuk membelikan tiket lagi untuk mereka semua, jadi Luhan yang membelinya. Chanyeol dan Jongdae menarik paksa Minseok menuju counter makanan untuk membelikan mereka semua popcorn. Minseok hanya pasrah dengan permintaan mereka. Sedangkan Jongdae menunggui mereka semua di bangku panjang sambil memainkan ponselnya.

            “Kemana yang lain?” tanya Luhan tiba-tiba sambil memberikan tiket kepada Jongdae.

            “Pasangan BaekYeol menarik Minseok menuju counter makanan,” adu Jongdae lalu mengambil tiket itu dari tangan Luhan. Luhan mengambil tempat duduk di samping Jongdae yang sedang asik bermain game Line Cookie Run di ponselnya.

            Lima menit menunggu akhirnya ketiga teman Luhan dan Jongdae datang. Kedua tangan pasangan BaekYeol penuh dengan makanan. Chanyeol memberikan popcorn jumbo kepada Luhan dan Jongdae. Baekhyun lalu memberikan popcorn satunya lagi kepada Chanyeol. Minseok hanya membeli minuman dingin untuk dirinya. Rasanya hasrat untuk memakan cemilan jagung itu sudah hilang. Pria itu memilih menghempaskan tubuhnya di samping Luhan yang terus menatap gerak-geriknya.

            “Mereka lebih mirip Minhee. Aku bersyukur aku tidak melihatnya lagi sampai tiga tahun ini, tapi nyatanya ada dua duplikat Minhee yang tersisa disini,” gumam Minseok letih. Minhee adalah adik perempuan Minseok yang masih berusia 6 tahun.

            “Aku rasa pasangan BaekYeol itu lebih rewel daripada Minhee,” komentar Luhan.

            “Kau tidak tahu apa yang aku rasakan hidup bersamanya selama 10 tahun terakhir,” bantah Minseok.

            “Kalau begitu, berikan Minhee padaku,” pinta Luhan asal. Minseok menoleh kearahnya dan menatapnya dengan tatapan membunuh. Luhan hanya berpura-pura tidak tahu setelah mendapat respon tersebut.

            “Kalian sedang mengobrolkan apa? Ayo masuk! Kita harus dapat tempat enak secepatnya,” ucap Jongdae kepada mereka berdua yang sejak tadi sudah berdiri di sampingnya. Minseok dan Luhan berdiri setelah Jongdae menyuruhkan mereka untuk ikut pergi.

            “Aku ingin nonton film yang lain selain film anak-anak seperti ini. Aku ingin nonton yang dewasa. Zombie dan monster misalnya!” rengek Luhan pada dirinya sendiri.

            “Ayo kita pergi lain waktu,” ajak Minseok di telinga Luhan. Luhan pun mengangguk. Mereka berdua pun masuk ke dalam bioskop setelah Jongdae masuk. Pasangan BaekYeol sudah mengambil tempat duduk di barisan tengah dan juga sudah mengosongkan tiga tempat duduk untuk ketiga temannya. Minseok memilih duduk di dekat jalan keluar dan Luhan duduk di antara Jongdae dan Minseok.

            Mata Minseok langsung tertuju pada seorang gadis berseragam sedang menjualkan minuman dingin kepada penonton. Dia pun berganti arah menuju bagian tempat duduk Minseok dkk. Minseok menoleh kepada ke-empat sahabatnya dan bertanya apa ada yang mau membeli minuman. Oke, Chanyeol dan Baekhyun akan tersedak bila tidak membeli minuman. Mereka lupa akan minuman karena terlalu bersemangat membeli popcorn. Jadi Minseok memutuskan untuk membeli beberapa minuman dari gadis penjual itu.

            Saat gadis itu menawarkan minumannya, Minseok mengambil beberapa minuman di dalam box minuman yang ia bawa. Minuman itu ia bagikan kepada temannya sebelum ia merogoh kantung belakang celananya yang kemudian ia memberi beberapa lembar uang kepada gadis itu. Gadis penjual itu tersenyum sambil mengucapkan terima kasih dengan lembut. Minseok membalasnya. Sepergian gadis itu, lampu dimatikan pertanda film akan segera dimulai. Pasangan rewel itu menghentikan teriakan antusiasnya. Untung saja Luhan sudah memperingatkan mereka untuk tidak berisik selama film di tayangkan. Aku akan membawa mereka ke Yixing untuk di tes psikologi mereka, pikir Minseok sambil menatap Chanyeol dan Baekhyun secara bergantian lewat ujung matanya.

 

****

 

Keesokan paginya….

            “Sehun! Cepat sedikit! Kita bisa terlambat!” teriak Luhan di pagi hari sambil mengancingkan lengan bajunya.

            Orang yang dipanggilnya berlari kesana-kemari mengambil barang-barang yang ia perlukan. Seperti dompet dan ponsel. Pagi hari adalah waktu yang dibenci Luhan. Karena Sehun selalu membuatnya terlambat masuk kelas karena menunggui Sehun yang sedang mencari barang-barangnya. Sehun tipe orang yang ceroboh dalam apapun dan dia pelupa. Dan dia juga suka menaruh barang-barang pentingnya di sembarang tempat. Seperti hari ini. Dia bilang kalau dia kehilangan blazernya dan tidak bisa menemukannya dimana-mana. Tapi, Chanyeol mengatakan pada Sehun kalau barang yang ia cari itu ada di laundry. Jongdae juga bilang kalau ia menemukan kartu pelajar Sehun ada di pot tanaman dekat TV. Pelupanya sangat melebihi lansia pada umumnya.

            “Ppali! Kita sudah terlambat!” Luhan sudah capek menunggu Sehun yang masih mencari ponsel birunya itu.

            “AH! KETEMU! Ayo kita pergi.” Sehun pun berjalan bangga mendahului Luhan yang masih menatapnya kesal. Luhan pun mengunci kamar asrama mereka dengan password.

 

****

 

Bel sudah berbunyi semenjak lima menit yang lalu, tapi sosok Luhan dan Sehun belum juga muncul di mejanya. Minseok yang sejak tadi gelisah akan hal itu, terus melongok ke pintu depan dan belakang kelasnya. Lehernya mulai sakit karena melakukannya terus selama tiga menit terakhir. Suho yang duduk di sebelahnya menjadi risih karena hal itu. Ia menutup bukunya dengan kencang lalu melepaskan kacamatanya.

            “Sepertinya mereka berdua telat lagi. Padahal aku sudah bilang pada Luhan untuk tidak menungguinya setiap pagi. Dia tetap ingin menunggui bocah itu.”

            “Sudah kubilang mereka itu tidak bisa terlepaskan satu sama lain.” Minseok menghela napasnya perlahan. Walaupun sekarang Luhan selalu berada di dekat Minseok, tapi perhatian Luhan masih banyak tertinggal di Sehun.

            Xiang Songsaengnim akhirnya masuk ke dalam kelas. Guru wanita yang super gendut itu sangat galak dan cerewet, parahnya beliau mengajar matematika. Yang lebih parahnya lagi, Sehun dan Luhan belum juga sampai di kursi mereka. Kedua kursi di depan Minseok dan Suho masih kosong. Mereka hanya bisa berharap tidak ada hukuman berat yang akan diterima mereka untuk yang kedua puluh kalinya.

            Xiang Songsaengnim mulai mengabsen satu-persatu. Baekhyun, Chanyeol dan Jongdae sudah dipanggil. Absen itu sebentar lagi mendekati nama Oh Sehun. Oh Tuhan, tolong selamatkan mereka berdua.

            “Oh Sehun?” tanya Xiang Songsaengnim memecah keheningan. “Oh Sehun?” wanita itu kembali memanggil nama Sehun yang tak kunjung disahut oleh pemiliknya. “Oh Sehun? Dia terlambat lagi.” Wanita itu menuliskan sesuatu di kertas absennya kemudian menyebuh nama lainnya. “Xi Luhan?”

            Kali ini Minseok bersumpah akan menghajar kedua makhluk itu bila tidak datang satu menit lagi. Suho yang mendengar nama temannya disebut hanya bisa menenggelamkan kepalanya diantara kedua tangan yang ia lipat di atas meja.

            “Xi Luhan?” guru itu mengedarkan seluruh pandangannya. Tangannya pun bergerak mengisi kolom absen dan memberi suatu tanda yang menunjukkan kalau Luhan terlambat. Xiang Songsaengnim memanggil nama selanjutnya. Bersamaan dengan itu, datanglah Sehun dan Luhan dari pintu belakang kelas. Sontak seisi kelas menoleh ke arah mereka berdua termasuk guru Xiang. Sehun hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sedangkan Luhan menunduk malu.

            “Kalian terlambat lagi, Oh Sehun dan Xi Luhan.” Suara menggelegar guru Xiang memecahkan keheningan dan menambah ketegangan di kelas itu.

            “Maafkan kami, Songsaengnim,” ucap Luhan dan Sehun berbarengan.

            “Saya akan memikirkan hukuman yang cocok untuk kalian berdua agar kalian bisa mematuhi peraturan sekolah dan tidak datang terlambat terus. Kalian bisa duduk sekarang.”

            “Gamsahabnida, Songsaengnim.”

Sehun dan Luhan menuju bangkunya dalam diam, sementara guru Xiang melanjutkan mengabsen. Sekilas Luhan melihat mata Minseok yang menatapnya, seakan-akan mau membunuhnya setelah ini. Untuk sementara, Luhan tidak mau menatap Minseok. Dia menakutkan kalau sedang marah.

            “Lu, sepertinya Minseok marah padamu,” bisik Sehun.

            “Aku tahu. Jangan ingatkan aku tentang itu hari ini,” pinta Luhan. Sehun mengangguk mengerti.

 

****

 

Saat istirahat siang, Minseok terus mengomeli Luhan dan Sehun. Ia mengatakan ke Luhan kalau ia terlalu memperhatikan Sehun yang membuat dirinya sendiri dalam bahaya tidak naik kelas bila terlalu banyak absen terlambat. Sehun diceramahi karena sifat cerobohnya yang tidak pernah hilang, juga sifat pelupanya yang menyusahkan orang lain. Padahal Minseok sudah memperingatkan Sehun untuk mengecek semua barangnya saat malam sebelum tidur. Walaupun Sehun berkilah ia sudah melakukannya, tetap saja itu tidak membuat Minseok memakluminya. Chanyeol dan Baekhyun hanya bisa makan dalam diam sambil menonton Minseok memarahi Sehun dan Luhan. Suho tampaknya acuh tak acuh dengan masalah ini. Dia lebih memilih membaca novel terjemahannya sambil melahap daging steak-nya yang sudah ia potong kecil-kecil.

           Sebagai kata penutup, Minseok tidak akan menemani mereka menyelesaikan hukuman sepulang sekolah nanti, yang langsung ditolak oleh mereka berdua. Minseok tetap dalam pendiriannya dan tidak akan menemani mereka menyelesaikan hal yang membosankan itu. Minseok berpura-pura tidak mendengar saat Sehun terus memohon padanya.

            “Hyung jahat!” ungkap Sehun keras sambil memanyunkan bibirnya.

            “Aku bukan hyung-mu,” bantah Minseok cepat.

            “Kau tetap hyung-ku karena kita lahir di bulan yang berbeda,” bela Sehun.

            “Tentu saja berbeda. Aku kan tidak lahir dari rahim ibumu, Sehunnie,” ejek Minseok lalu memakan sushi-nya acuh tak acuh.

            “Minseok hyung memang daebak,” bisik Chanyeol kepada Suho.

            “Itu sebabnya tidak ada yang bisa melawannya dalam segala hal,” balas Suho sambil berbisik juga.

            Yah, siapa sih yang mau melawan kakak tertua mereka? Otomatis yang tertua yang akan di dengar dan di patuhi apa yang mereka suruh dan apa yang ia larang.

            “Hyung! Bantu aku!” rengek Sehun kepada Luhan sambil menarik lengan baju Luhan.

            “Kita lakukan saja berdua hari ini, ya, Sehunnie,” bujuk Luhan lembut. Seketika Sehun melengkungkan bibirnya dan sebentar lagi dia akan mengacaukan acara makan siang ini dengan tangisan dan rengekan penuh kebisingan. Melihat reaksi Sehun yang berubah muram, Minseok meletakkan sumpitnya dengan anggun lalu pergi meninggalkan meja tanpa suara. Pasangan BaekYeol menarik lengan Suho untuk pergi. Luhan yang menyadari orang-orang sudah pergi, langsung mengambil sumpitnya. Ia mengapit daging bakar di mangkuknya. Dengan paksa ia memasukkan daging itu ke dalam mulut Sehun.

            “YA! Hentikan!” bentak Sehun kesal sambil mengambil daging itu dari mulutnya.

 

****

 

Kelas sudah sepi sejak dua jam yang lalu. Lampu-lampu kelas sudah dimatikan, hanya menyisakan satu kelas yang terletak di lantai dua dan berada di ujung. Terlihat Sehun dan Luhan yang sedang mengerjakan hukuman mereka dengan soal-soal matematika yang berjumlah 50 soal. Alasan bagi Minseok untuk tidak menemani mereka mengejakan hukuman adalah Sehun. Nantinya Minseok yang akan mengerjakan semuanya, Sehun dan Luhan tinggal menyalinnya saja. Sebenarnya, Minseok mau saja membantu, tapi dia lelah untuk belajar kembali. Sekarang Luhan yang menggantikan posisi Minseok yang mengerjakan soal. Sehun tetap mengerjakan menyalinnya saja.

            “Selesai! Ternyata mudah ya, hyung!” girang Sehun sambil merenggangkan tangannya.

            “Mana ada menyalin yang tidak mudah?” sindir Luhan. Sehun pura-pura tidak mendengar. Reaksi Sehun ini yang membuat Luhan memutar kedua bola matanya kesal. Luhan memakai tasnya dan berjalan meninggalkan Sehun.

            “Tunggu, hyung.”

            Lorong kelas sangat sepi. Hanya beberapa lampu neon yang dinyalakan. Sehun yang penakut berusaha menetapkan pandangannya lurus ke bawah dan mengaitkan lengannya ke lengan Luhan. Luhan menganggap ini adalah hal yang biasa dan tidak menakutkan. Walaupun sesekali ia mendengar ada sebuah suara misterius dari salah satu kelas tapi ia tidak takut. Berkat suara itu, Sehun semakin dekat dengan Luhan dan semakin erat pegangannya pada lengan Luhan. Semoga lenganku tidak memar setelah ini, gumam Luhan dalam hati.

            Akhirnya, mereka berhasil keluar dari sekolah yang menyeramkan itu. Sebelum kembali ke asrama, mereka menyempatkan diri membeli makanan di luar. Seperti roti ikan atau es krim. Tak lupa juga Bubble Tea untuk Sehun. Ketatnya peraturan asrama membuat mereka dilarang membawa makanan dari luar dan hanya boleh makan makanan dari kantin asrama. Peraturan itu membuat mereka, khususnya Sehun, tidak bisa minum Bubble Tea dan Tteukbokgi sesuka hatinya. Terkadang ada salah satu dari mereka yang nekat menerobos keluar untuk membeli jajanan semacam itu dan membawanya diam-diam ke dalam kamar asrama.

            Sekarang, mereka merasa sangat bebas. Makan telur ikan dan cumi-cumi bakar sesuka hati mereka. Mencoba ini dan itu yang dijajakan di pasar kaki lima. Sehun dan Luhan seakan melupakan kejadian terlambatnya pagi ini. Senyum dan tawa yang menghiasi wajah mereka malam ini. Karena sudah larut malam, Sehun meminta Luhan untuk makan Kimbap untuk terakhir kalinya sebelum mereka kembali. Mereka memilih kedai di dekat sekolah lalu memesan beberapa porsi untuk mereka berdua.

            Tiba-tiba ponsel Luhan bergetar saat ia sedang ingin memasukkan satu potong Kimbap ke dalam mulutnya. Ia lahap potongan itu lalu membuka pesan masuk. Dari Minseok.

Minseok : Kau dimana? Ada pemeriksaan asrama mendadak malam ini. Kalau kau tidak kembali                 lima menit lagi, kau mati.

            Luhan tiba-tiba tersedak membaca pesan itu. Sehun segera memberikannya air minum. Luhan langsung menegaknya sampai habis lalu menepuk-nepuk dadanya sendiri.

            “Waeyo, hyung?” tanya Sehun khawatir.

            “Ada… uhuk! Pemeriksaan mendadak.. uhuk! Sepuluh menit lagi.. uhuk!” jawab Luhan di sela-sela batukannya.

            “What?! Kita harus pergi secepatnya! Ini uangnya, Bu. Terima kasih!”

            Sehun mengambil tas Luhan dan dirinya setelah membayar pesanan mereka. Padahal mereka belum menghabiskan satu porsi lagi. Mendengar ada pemeriksaan mendadak, selera makannya seketika menghilang. Luhan pun ikut berlari bersama Sehun menuju asramanya. Sempat-sempatnya Luhan menghitung waktu yang tersisa baginya untuk sampai ke asramanya. Tinggal tujuh menit lagi. Akhirnya mereka sampai di area asrama. Tapi, tak mungkin bagi mereka untuk masuk lewat pintu utama. Harus melalui jalan pintas atau bisa dibilang tangga darurat yang berada di belakang gedung asrama.

            “Tangga darurat saja! Ayo, ikut aku!”

            Luhan pun berlari lebih dulu yang diikuti Sehun di belakangnya menuju tangga darurat. Tiba-tiba ponselnya bergetar kembali. Pintu tangga darurat ia banting sambil menjawab panggilan itu. Luhan membiarkan Sehun naik lebih dulu sementara ia menjawab panggilan di belakang Sehun.

            “Kau dimana? Kepala Asrama sudah berada di lantai dua!” pekik Minseok tiba-tiba di seberang. Padahal Luhan belum mengucapkan ‘halo’. Tapi sepertinya itu tak penting sekarang.

            “Aku di tangga darurat bersama Sehun. Kami baru di lantai satu,” jawab Luhan.

            “Apa! Kau bisa cepat, tidak? Aku bisa gi.. Oh tidak! Wanita itu disini!” pekik Minseok tiba-tiba.

            “Alihkan perhatiannya! Kupinta alihkan perhatiannya!” pinta Luhan gagap. Dia gemetar sekarang. Cepat sekali wanita itu berada di lantai tiga.

            “Apa? Kau gila, huh? Dia tidak gampang di bohongi. Oh, tidak! Dia sekarang di kamar Hyun Jin. Ppali!”

            Luhan semakin terkejut mendengarnya. Kamar Hyun Jin hanya berjarak lima kamar dari kamarnya dan Minseok. Oh tidak!

            Luhan melirik papan nomor yang menunjukkan angka dua berukuran besar. Lantai tiga masih sangat jauh. Apa dia bisa sampai ke kamarnya tepat waktu?

****

TBC…. (Komentar ditunggu^^)

6 thoughts on “Dorm (Chapter 1)

  1. fafa sasazaki berkata:

    Ikut degdeg.an bareng hunhan nie bca part akhirnya..
    Uwoo, minseok cerewet bgt ya..
    Eh,ngmng2 ni anak2 Exo seumurankah? Kok sehun manggilnya Luhan, g pke hyung..

    Keep writing ne baozinam-ssi, aq suka gaya bahasanya.

  2. nab03~ berkata:

    Woahwoahwoah.. Baru baca chapt satu aja aku juga ikutan deg-degan ndiri lho wakakaka:vvv maapkeun yaaa,, saia reader baru disini. Minta ijin ngebaca ffnya yaaa. Khamsahamnidaa.. Oh iya, aku juga suka gaya penulisannya. Simple dan gampang dimengerti, rapi juga. Okee aku lanjut baca yaa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s