Precious Metals (Chapter 3 : Backfire)

project

Title                 : Precious Metals (Chapter 3 : Backfire)

Author             : Jung Ri Young

Cast                 : EXO OT12

Genre              : Action, Brothership, Thriller, Adventure

Rating             : PG-13

Length             : Chaptered

Disclaimer       : Member EXO milik Tuhan, Orang tua dan SMEnt.

Summary         : Berapa harga yang harus Kai bayar setelah insiden penembakan yang melibatkannya dengan anak buah Draconisius, Byun Baekhyun?Apa yang selanjutnya Kris lakukan atas kegagalan Tao pada misi sebelumnya?

Chapter 1 , Chapter 2

.

-Precious Metals-

(Backfire)

.

(Previous…) Benar saja, Kai menghentikan langkahnya yang sedang memutari tubuh Baekhyun. Giginya gemeretak, menahan emosi akibat ucapan lelaki bertubuh kecil di hadapannya dan—

darr—

Timah panas berhasil keluar disusul dengan senyum mengejek yang terukir di bibirnya.

.

-Precious Metals-

.

“Arah barat daya. Sekitar 7 kilo meter dari tempat ini.” Chanyeol bergumam sambil terus memantau radar di layar monitor. Di sampingnya, Suho yang sedang menyetir terlihat fokus mendengarkan. Ia tak mengatakan apapun, hanya mengangguk kecil tanda mengerti.

“Jadi target kita kali ini benar-benar Draconisius? Kris Wu?” D.O yang berada di kursi belakang angkat bicara. Sedari tadi ia seperti orang bodoh. Tertinggal banyak informasi.

“Sepertinya begitu.” sahut Chanyeol tanpa berpaling.

Kemudian mereka kembali diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Ini bukan tugas sederhana. Mereka menyadarinya. Berhadapan dengan mafia sekelas Draconisius berarti mereka telah siap mati kapan saja. Kris Wu telah lama masuk dalam daftar hitam kepolisian, namun instansi itu tak pernah berhasil menangkap karena kepiawaiannya dalam berkilah. Dan malam ini, di bawah komando Suho, mereka mencoba peruntungan dengan menyerbu tempat yang di duga sebagai markas Draconisius dengan bantuan radar yang tertangkap oleh Chanyeol.

“Suho!” Chanyeol membelalakan mata. Ia memencet beberapa tombol untuk memastikan sesuatu.

“Ada apa?”

“Ada radar lain di sekitar sini. Berhenti..berhenti!”

Gesekan ban mobil yang bertemu aspal dengan tiba-tiba menimbulkan decitan nyaring dan membuat ketiga tubuh itu condong ke depan, lalu kembali terhempaskan.

Chanyeol sedikit menggerutu, mengusap-usap keningnya yang sukses membentur dashboard mobil dengan keras. Ia menggumamkan kata-kata seperti ‘dasar tidak becus menyupir’ dan ‘tidak profesional’ yang tertangkap jelas di telinga Suho. Namun pria itu memilih mengabaikannya. Lebih tertarik pada sinyal atau tanda apalah tadi yang Chanyeol katakan.

“Radar apa maksudmu?” D.O menjulurkan leher ke depan, merasa penasaran.

“Ini.” tunjuk Chanyeol pada layar monitor. Terdapat tanda merah berkelap-kelip di atas peta daerah Seoul.

“Bukankah kita juga berada di tempat ini?” Suho yang ikut mengamati mulai mengerti.

Chanyeol mengangguk, “ya, dan berita bagusnya, jenis pelacak yang digunakan sama dengan yang digunakan pada kasus penyelundupan itu. Kemungkinan besar itu juga bagian dari Drac— tunggu!” Chanyeol kembali terbelalak, kali ini lebih heboh. Ia kembali berkutat dengan tombol-tombol keyboardnya. Suho dan D.O yang tidak terlalu mengerti sistem jaringan hanya bisa menyaksikan dengan tegang. Menunggu hingga rekannya itu selesai menganalisis data.

“Apa yang terjadi, Chanyeol?” satu menit berlalu namun lelaki itu belum juga buka suara. Membuat Suho makin penasaran.

“Ada yang sedang— ah tunggu sebentar!”

“Sedang apa? Ya! katakan dengan jelas!”

“Ada jaringan lain yang sedang melacaknya juga. Seperti kita.” terang Chanyeol terburu-buru.

“Apa?!” Suho dan D.O memekik hampir bersamaan. Mereka bertukar pandangan.

“Cepat bergerak. Kita tidak boleh keduluan!” Suho membuka pintu mobil patrolinya. Kemudian disusul dengan D.O. Ia melongokan kepala lewat jendela ketika Chanyeol tak kunjung turun.

“Ya, lelet sekali! Ayo cepat!”

Chayeol tak bergeming, ia masih mengerjap-ngerjapkan mata bingung.

“Su..suho..” ia tergagap, menatap pemimpinnya lamat.

“Jejak Draconisius hilang.” lirihnya.

“APA?! bagaimana bisa? ini bahkan belum genap lima menit!”

Chanyeol menggeleng, “sepertinya mereka menyadari alat pelacak itu.”

Suho melemas. Fakta bahwa ia telah bergegas membawa banyak pasukan dan kehilangan jejak di tengah jalan membuat persendiannya tak berfungsi dengan baik. Ini bahkan lebih pahit daripada mati di tangan seorang Kris Wu.

“Tapi setidaknya kita harus mencari tahu siapa pengintai itu. Kita sudah terlanjur turun tangan, apa kalian mau berhenti begitu saja?” Yah, D.O benar. Mereka bisa mencari tahu siapa orang yang ikut campur itu. Setidaknya, malam ini tak boleh terlewatkan dengan sia-sia.

“Kau benar. Perintahkan pasukan untuk kembali ke markas. Kita cukup bertiga untuk mempermudah ruang gerak.”

“Baik.”

.

-Precious Metals-

.

Mereka kini bertiga, menyusuri jalan dengan petunjuk yang telah dipahami dengan jelas oleh Park Chanyeol. Ia memimpin dengan diikuti Suho dan D.O. Senjata api dan berbagai macam peralatan yang dibutuhkan telah siap di tangan.

“Tunggu,” Chanyeol berhenti melangkah. Menurunkan suaranya hingga menyerupai bisikan.

“Ada apa lagi?” Suho menyahut. Menyetarakan volume suara dengan anak buahnya itu.

“Hati-hati melangkah, mungkin ia ada di sekitar sini.” perintahnya. Lihat? siapa yang pemimpin sebenarnya di sini?

Suho mendengus. Ia memperhatikan area sekitar kalau-kalau melihat sesuatu. Kini D.O yang berada di belakangnya menepuk-nepuk dengan sedikit keras.

“Lihat!” bisiknya. Suaranya nyaris tercekat.

Baik Chanyeol maupun Suho mengikuti arah telunjuk lelaki bermata bulat itu. Mereka menahan nafas, melihat pemandangan menegangkan di sebuah taman yang sangat sepi itu.

.

-Precious Metals-

.

Suho merunduk di balik semak-semak untuk memperhatikan lebih jelas. Ia menarik senjata, sambil tetap memperhatikan dua orang yang sepertinya sedang bersitegang.

Kreeekk!

“Kita bertemu lagi, Byun Baekhyun!” samar-samar ia mendengar suara seseorang yang sedang menodongkan revolver.

“Tak usah berbasa-basi, kau memuakkan!” sahut seseorang yang lain. Yang lebih kecil dari ‘penodongnya’. Suaranya sangat lantang walau sedang dalam keadaan terpepet seperti itu.

Lelaki itu, yang menodongkan senjatanya tertawa mengejek mendengar ucapan calon korbannya. “Yeah, aku tak suka terburu-buru. Karena membuatmu mati pelan-pelan itu lebih menyenangkan.” bisik sang penodong dengan langkah berputar-putar.

Suho tak bergeming. Ia menghitung dalam hati, mengantisipasi kalau-kalau ucapan lelaki penodong itu benar-benar dilakukannya.

“Tunggu apa lagi, Suho. Lumpuhkan dia. Lelaki kecil itu dalam bahaya!” D.O yang menguntit bersama Chanyeol mulai was-was. Ia sedikit geram karena Suho tak kunjung bergerak.

“Aku tak takut denganmu, brengsek!” suara itu kembali terdengar. Semakin jelas dan membuat mereka kembali memperhatikan.

“Suho! Apa kau akan membiarkan kejahatan terjadi di depan matamu?! Lelaki itu bisa mati!”

Suho tak menghiraukan kedua anak buahnya yang semakin panik. Ia masih fokus pada dua orang di depannya.

“Benarkah? tapi sepertinya tubuhmu mulai menegang, kawan.”

“Cih! untuk apa? aku bahkan ragu kau bisa menggunakan senjata di tanganmu itu!”

Lelaki penodong itu menghentikan langkahnya yang sedang memutari si tubuh kecil. Sepertinya ia sangat geram. Hingga tangannya siap bergerak menarik pelatuk senjatanya.

“Suho!!”

darr—

Timah panas itu akhirnya berhasil keluar berkat desakan kedua anak buahnya. D.O dan Chanyeol menghembuskan nafas lega. Kemudian mereka bergegas mengekor pemimpinnya yang sedang menghampiri kedua lelaki itu.

.

-Precious Metals-

.

Baekhyun memejamkan mata erat-erat. Suara tembakan itu memekakan telinga. Yeah tentu saja, karena peluru itu mungkin kini telah bersarang di kepalanya. Menembus tengkorak dan mengobrak-abrik sistem syaraf di dalamnya.

satu detik

dua detik

Ia masih menunggu, namun rasa sakit itu tak kunjung datang. Oh, apa ini yang disebut kematian? Bahkan setelah ia mengoleksi dosa sebanyak itu, ia juga tak merasakan rasa sakit akibat nyawanya yang dicabut paksa. Ya Tuhan, kau baik sekali!

Baekhyun membuka mata. Menemukan Kai yang menyeringai di depannya. Oh tidak! Apa di dunia selanjutnya ia juga akan bertemu dengan makhluk menyebalkan ini lagi? Ya Tuhan, mengapa kebaikanmu tanggung sekali!

Kai masih mempertahankan senyum menyebalkan itu di bibirnya. “Kau beruntung malam ini.” ucapnya. Kemudian Baekhyun menangkap raut kesakitan di wajah musuhnya itu. Lambat laun Baekhyun sadar. Ia belum mati, ia masih hidup karena Kai belum sempat menarik pelatuk revolvernya. Ia memperhatikan Kai mengambil sesuatu dari betis kirinya. Matanya sontak melebar. Peluru! Astaga!

Baekhyun merutuki kelambatan otaknya dalam mencerna sesuatu. Ini efek anggur sepertinya. Ia menjadi kurang fokus bahkan tidak menyadari bahwa suara tembakan itu berasal dari orang lain yang mengincar musuhnya itu. Ia mengedarkan pandangan. Menemukan seseorang yang tentu saja membuat matanya mendelik heboh.

“Sial! Polisi.”

Tanpa berpikir panjang ia mengambil langkah seribu. Tak peduli dengan musuh yang kini ditinggalkannya. Ia harus menyelamatkan diri atau Kris akan menghabisinya jika oknum pemerintah itu berhasil mengendus jejaknya sebagai seorang Draconisius.

.

-Precious Metals-

.

“Bodoh sekali! Bagaimana kau bisa tidak tahu!” Sehun merutuki Tao. Ia beberapa kali mengumpat geram sambil memperhatikan kobaran api kecil yang menyala. Ya, Sehun baru saja membakar sesuatu. Ia menghanguskan sebuah benda kecil berbentuk bulat yang ditemukannya. Melenyapkan atau setidaknya merusak jaringan yang sedang aktif itu.

“Aku tidak tahu, sungguh! Jangan umpat aku seperti itu!” ujar Tao membela diri. Siapa sangka? ternyata sedari tadi ia membawa dua radar pelacak. Satu tergenggam di tangan, satu lagi menempel pada badan van yang kini ia tumpangi bersama rekannya, Sehun. Jika yang ia genggam di tangan adalah alat yang hampir aktif dalam beberapa jam kedepan, alat yang lain, yang baru ditemukan oleh Sehun itu sudah aktif. Ya, benar-benar sudah aktif dan mungkin telah sukses mendapat perhatian dari pihak yang paling mereka hindari. Kepolisian.

“Aku penasaran dengan isi otakmu. Kenapa kau begitu bodoh? Bukankah sudah jelas alat yang menempel itu merupakan jenis yang sama dengan yang kau genggam. Aish! Apa orang tuamu tak pernah menyekolahkanmu?”

“Berhenti berbicara seolah kau tahu tentang orang tuaku! Aku bodoh karena aku tak pernah dipedulikan. Bahkan untuk sekolah! Aku memang bodoh, Sehun. Aku bodoh karena mereka! Kau puas!”

“YA! Kenapa kau meneriakiku! Aku bahkan yang tak pernah tahu siapa orang tuaku biasa saja. Mengapa kau begitu sensitif?!” Sehun menyahut kesal. Salahnya memang, ia menyinggung-nyinggung masalah orang tua bersama orang di sebelahnya ini. Ia benar-benar ingin marah. Bukan karena Tao yang menyulut emosinya. Tapi kenyataan bahwa ia merupakan anak yang tak diinginkan membuatnya kembali memanas.

Sehun dapat menyimpulkan demikian karena orang tuanya dengan tega membuangnya saat ia masih bayi. Orang tua macam apa mereka?

“Setidaknya ada yang memperhatikanmu. Setidaknya ada orang yang benar-benar mau merawatmu, Sehun.” nada bicara Tao menurun. Ia masih tetap memperhatikan jalanan di depannya tanpa menoleh lawan bicaranya.

Benar. Sehun masih beruntung karena Kris mau memeliharanya sampai sekarang. Itulah alasan mengapa Sehun sangat menghormatinya. Karena ia berhutang budi pada pendiri Draconisius itu.

“Aku tak tahu bagaimana nasibku jika Kris tidak memungutku dulu. Mungkin aku sudah mati dimakan binatang buas.” sahutnya sedikit bercanda. Ia berusaha menghibur diri.

“Yeah, kupikir dia tak cocok jadi penjahat. Melihat bagaimana caranya memperlakukanmu, Kris lebih cocok disebut ayah daripada Bos mafia.”

Sehun menoleh ke sampingnya. Tertawa mendengus seolah ucapan Tao adalah lelucon yang terlalu garing. “Kau belum mengenalnya karena kau baru beberapa tahun bergabung dengan kami. Aku dan Baekhyun sudah sangat hafal dengan sifat dinginnya itu. Dia berbahaya, Tao.” balasnya tanpa minat.

Sehun terpaku. Pikirannya kembali meyalang pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat Kris menemukan seorang remaja yang selalu terlibat tawuran, namun tak sekalipun menerima kekalahan. Remaja itu terlihat sangat tangguh. Walau tak sehebat dirinya, anak kesayangan Kris. Kris mulai tertarik dan sering memperhatikan gerak gerik remaja itu. Hingga suatu saat, ia menghabisi nyawa kedua orang tuanya untuk mempermudah merekrutnya menjadi kaki tangan Draconisius. Dan remaja itu saat ini telah duduk bersebelahan dengan Sehun, tanpa tahu kebenarannya sama sekali.

“Bodoh” cibirnya dalam hati.

.

-Precious Metals-

.

Chen dan Xiumin menunduk setelah melaporkan kejadian yang menimpa rekannya. Mereka yang mendapat laporan murka, tentu saja. Dan kedua orang itu menjadi sasaran empuk kemarahan para pemimpin Draconisius tersebut.

Luhan bergerak gusar di tempatnya. Memikirkan apa yang harus ia lakukan agar anak buahnya yang tak becus itu selamat dari jerat kepolisian. Ya, anak buahnya yang bernama Kai itu kini ditahan kepolisian karena tindakannya yang gegabah. Menodongkan senjata sembarangan.

“Apa kau punya ide, Lay? Bicaralah. Jangan seperti orang bisu begitu!” gertaknya kesal. Sepertinya rekannya tenang-tenang saja padahal situasi ini terbilang darurat.

“Apa kita harus melakukan sesuatu?” sahutnya santai.

Luhan mendelik, begitu juga kedua anak buahnya yang tersisa.

“Biarkan dia menyelesaikan masalah ini sendiri. Lanjutkan saja pekerjaanmu.”

“Kau gila?!”

“Apa yang kau khawatirkan sebenarnya?”

“Alat pelacak itu, tentu saja! Jika Kai tertangkap, sudah pasti polisi menyita semua barang-barangnya. Cepat atau lambat mereka akan menemukan apa yang sedang Kai kerjakan, Lay!”

“Bukankah itu bukan masalah serius bagi Monocerus?” ucapnya membuat Luhan bungkam.

Ya, Luhan terlalu egois karena mengkhawatirkan jenis alat pelacak yang mungkin saja diketahui kepolisian. Alat pelacak itu miliknya. Jika kepolisian tahu, sudah jelas semua bukti akan mengarah padanya, bukan pada Monocerus. Tapi, apa Lay tidak lebih egois lagi jika membiarkannya masuk dalam jurang sendirian?

“Turunlah, bereskan anak buahmu itu. Kau bertanggung jawab karena kau yang menyuruhnya melacak.”

.

-Precious Metals-

.

“Sudah kubilang aku tidak melakukan apapun. Sungguh!” untuk yang ke sekian kali Kai menjawab ketika diintrogasi dengan pertanyaan yang sama. Ia kesal, sangat ingin membanting tubuh lelaki bermata bulat di depannya itu.

“Lalu apa yang membuatmu menodongkan senjata pada orang itu?” D.O, polisi yang bertugas mengintrogasi kembali bertanya. Masih dengan nada yang tenang.

“Itu hanya salah paham. Kau tak tahu apa yang terjadi sesungguhnya!”

“Kalau begitu ceritakan.”

Kai mendengus di tempatnya. Borgol yang melilit kedua tangannya membuat ruang geraknya sangat terbatas. Ia sudah seperti teroris yang siap dihukum mati.

“Bicaralah. Kau mungkin akan mendapat keringanan jika mengatakan yang sejujurnya.” D.O masih berusaha, ia belum menyerah.

“Kau akan menyesal jika tahu kebenarannya.” sahut Kai tanpa minat.

D.O mengangguk-anggukan kepala. “Benarkah?”

“Ya! karena orang yang kalian selamatkan itu adalah komplotan Draconisius!”

Ucapan Kai yang masih begitu santai membuat D.O maupun Suho yang memperhatikan di balik ruangan terperanjat. Mereka mendelik, seolah kenyataan itu begitu mengejutkan.

“Kau bercanda?”

“Sudah kubilang kau pasti menyesal! Sekarang lepaskan aku, Tuan Do!” sahutnya melirik nametag yang tersemat di dada kiri D.O.

Suho menyeruak di antara acara introgasi itu. Menarik kerah baju Kai hingga lelaki itu mendongak. “Katakan, bagaimana bisa orang itu adalah komplotan Draconisius?”

“Karena kau terlalu gegabah, Pak Polisi. Aku bisa saja menangkapnya untukmu. Tapi kau melukaiku!”

“Begitu? Lalu apa hubunganmu dengan mereka? huh?”

Terdiam, Kai tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin jika kini ia mengatakan bahwa ‘aku adalah komplotan Monocerus, Pak Polisi.’ atau ‘aku adalah mafia saingan mereka’. Ah, itu ide konyol. Kai masih ingin menghirup udara bebas di luar sana.

“Apa kau sedang mencari alasan untuk menutupi identitasmu?” Suho menaikan sebelah alisnya.

Kai tersenyum, “tentu saja tidak. Aku pernah menjadi korban kejahatan mereka.”

“Begitu? Kasus apa itu? jika benar kau pernah menjadi korban kejahatannya pasti kepolisian mempunyai catatannya. Katakan.” tantang Suho kembali. Sepertinya ia terlanjur curiga.

Kai mendengus tanpa minat. Polisi ini benar-benar susah dibodohi. “Perampokan. Aku dirampok Byun Baekhyun kala itu.”

.

-Precious Metals-

.

Baekhyun menghentikan langkah ketika dirasa keadaan sudah cukup aman. Ia berjalan pelan-pelan. Memegangi dadanya yang sedikit sesak akibat berlari tanpa henti. Nafasnya masih tersenggal. Dan Dragon Manor sudah di depan mata.

“Butuh tumpangan, Byun?” seseorang menjulurkan kepala dari mobil yang ditumpanginya. Baekhyun mendengus, kemudian membuka pintu belakang dan menghempaskan tubuh di sana.

“Dari mana saja kau?!” tanpa basa-basi ia menjambak rambut blonde lelaki yang berada tepat di belakang kemudi. Sedikit keras hingga pemilik kepala itu mendongak dan meringis kesakitan.

“Lepaskan, bodoh! Sakit.”

Baekhyun tak mengindahkan rintihan dan umpatan Sehun. Ia masih dengan gemas menarik-narik tanpa ampun. Lagipula, Baekhyun memiliki dendam tersendiri dengan rambut itu yang sukses membuatnya salah orang dan hampir mati di tangan anak buah Monocerus.

“Jika kau berani meninggalkanku seperti tadi, kubunuh kau, Oh Sehun!” ancamnya.

Sehun yang merasa rambutnya hampir rontok buru-buru mengiyakan. “Oke-oke, aku minta maaf. Salahkan Tao yang menghubungiku tiba-tiba!”

Ucapannya yang tanpa pertimbangan sukses membuat tulang keringnya menerima tendangan dari orang lain yang berada disebelahnya. “Sialan! Aku tak akan menghubungimu jika keadaan tidak genting!”

“Lantas kau sendiri yang membuat keadaan itu menjadi genting, Huang Zitao!” gerutunya.

“Jadi sekarang siapa yang harus disalahkan? Kau akan menyalahkan Kris? Lebih baik mati saja!” Tao mencibir.

Sehun memutar bola mata. Sambil masih mendongak karena lelaki yang berada tepat dibelakangnya masih betah menjambak rambutnya. “Apa kau berniat menggunduliku?” sindirnya.

“Jika itu membuatmu jera aku akan dengan senang hati melakukannya.”

“Hei, sudah kubilang aku minta maaf! Ada sesuatu yang mendesak tadi. Tanyakan pada Tao jika tak percaya.”

“Aku tak peduli! Bahkan tadi aku hampir mati di tangan Kim Kai. Kau tak tahu itu kan?”

Sehun berhenti meronta. Bertukar pandangan dengan Tao sebelum melirik ke belakang. Ke arah Baekhyun. “Bagaimana bisa?”

“Tentu saja karena kau meninggalkanku, bodoh!”

“Cih, apa kau selemah itu hingga baru ditinggal beberapa jam langsung terancam mati oleh Kim Kai?”

“RAMBUTMU, OH SEHUN! WARNA RAMBUTMU YANG SAMA PERSIS DENGAN KAI YANG MEMBUATKU MENGIRA DIA ADALAH KAU!”

Baik Sehun maupun Tao meringis mendengar lengkingan Baekhyun yang memekakan telinga. Oke, dia memang memiliki suara beberapa oktaf lebih tinggi. Tapi tidak perlu berlebihan kan!

“Benarkah? sama persis?”

“Ya!”

“Ah, tapi aku lebih tampan. Harusnya kau bisa membedakan.”

“APA AKU BISA MELIHAT ORANG TAMPAN DARI ARAH BELAKANG?”

“Byun Baekhyun bisakah kau menurunkan suaramu? Telingaku bisa meledak, sialan!” Tao tak tahan hingga menjadi ikut kesal. Ia menggosok-gosok telinganya yang bisa saja berasap jika rekannya itu terus berteriak-teriak di dalam mobil yang cukup sempit ini.

.

-Precious Metals-

.

“Kau tahu apa resikonya jika gagal melakukan misi, Huang Zitao?”

Tao membeku mendengar ucapan Kris yang bernada ancaman. Ia tahu, dirinya sedang dalam bahaya.

“Ma..maafkan aku, Bos.” balasnya, masih menunduk.

Kris beralih pada anak buah kesayangannya yang sedang bersandar santai di ambang pintu. Mencomot batang rokok yang masih dihisap oleh Sehun. “Kau tahu apa yang harus kau lakukan?” pertanyaan Kris tersebut diartikan sebagai perintah oleh Sehun. Ia mengangguk. Menyambar kembali rokok di tangan Kris yang belum sempat ia habiskan, lalu pergi.

“Bagaimana denganmu, Baekhyun?” seolah sedang mencari informasi sebanyak-banyaknya, Kris mengintrogasi ketiga anak buahnya bergantian.

“Anak buah Monocerus tertangkap polisi. Dia hampir membunuhku sebelum kepolisian melumpuhkannya.”

“Kerja bagus. Pastikan mereka tak mengenalimu.”

“Baik.”

.

-Precious Metals-

.

“Hei, Pak Polisi! Kapan kau melepaskanku, huh?” Kai yang berada dibalik jeruji besi terus mengomel. Kesal karena proses pengusutan dirinya tak kunjung selesai.

“Jangan terlalu berharap. Kau mungkin tak akan pernah keluar dari tempat ini.”

“Bagaimana bisa? bukankah pemimpinmu sendiri yang mengatakan mau melepaskanku jika aku bisa membantu menangkap gembong Draconisius?”

“Ya, itu sebelum ditemukan bukti lain di dalam sini.” sahut D.O santai sambil mengangkat sebuah netbook.

“Memangnya apa yang kau temukan di dalam situ?”

“Kau mengawasi jejak Draconisius, benar?”

“Ya, itu benar. Lantas?”

“Lantas apa yang membuatmu melakukannya?”

“Sudah kubilang aku pernah dirampok mereka. Aku ingin mengambil hartaku yang mereka ambil.”

“Kau pikir aku percaya? Sistem jaringanmu terlalu canggih untuk ukuran masyarakat biasa.”

Baru saja Kai membuka mulut untuk menyahut, seorang polisi lain memasuki ruangan. Tubuhnya tinggi tegap, menjadikan kesan gagah jika saja wajahnya tak dihiasi senyum lebar yang membuatnya seperti idiot. Di belakangnya, seorang gadis berjalan mengekor, ia terlihat bingung. Namun ketika bertemu pandang dengan Kai wajahnya seketika mencerah.

“Siapa?” Tanya D.O pada rekannya.

“Orang ini yang akan menjamin kebebasan tahananmu itu.”

“Oh, tapi pemeriksaan belum selesai.”

“Benarkah? tapi Suho menurunkan surat bebas bersyarat untuknya.”

“Apa maksudmu bebas bersyarat, Tuan Polisi?” Kai menginterupsi.

“Kau tetap wajib lapor beberapa hari sekali sampai pemeriksaan selesai dilakukan.”

“Bagaimana jika aku tidak mau?”

“Lalu kau akan benar-benar menjadi tersangka, Kim Kai.”

“Permisi, bisakah kita menyelesaikan pembebasan Kai sekarang? aku cukup sibuk.” gadis itu, yang sedari tadi hanya diam terlihat sedikit kesal.

“Ah, tentu saja, nona. Akan kulakukan segera untukmu.” sahut Chanyeol berbinar. Ia meraih tangan sang gadis, kemudian mengusap-usapnya hingga gadis itu bergidik geli.

“Jaga kelakuanmu pada kekasihku, Tuan. Dia ketakutan.”

“Chanyeol, jangan membuatku malu!” D.O juga menimpali. Ia mendelik, membuat bola matanya makin terlihat besar mengerikan. Namun Chanyeol seolah tuli. Ia tetap saja berkedip-kedip genit, semakin menjijikan bagi sang gadis.

D.O kemudian mengurus beberapa surat yang berhubungan dengan tahanannya itu, hanya butuh beberapa menit, hingga kemudian ia benar-benar membuka jeruji besi dan mengeluarkan Kai dari sana.

“Terimakasih.” ucap gadis itu tulus.

Chanyeol tersenyum lebar. “Sama-sama. Ah, kau benar-benar gadis lembut.”

Kai buru-buru menarik kekasihnya pergi sebelum polisi genit itu benar-benar menerkamnya.

“Polisi menjijikan!” umpat keduanya ketika berhasil keluar gedung.

to be continue…

22 thoughts on “Precious Metals (Chapter 3 : Backfire)

  1. krisbeibe berkata:

    wah keren2,
    ngkak bnget pas baek ngejambak sehun wkwk
    firasat gue blg tu cwe luhan dh, haha tp kgk tau jga ah :3
    next thor

  2. Clarissa Tiara berkata:

    Wkwkwkakaka , ngakak sama bagian terakhirnya
    Keren…… keren ….eonnn sukaaaaaa bangettt apa chanyeol nya genit bingit
    Kasian kai dinistakaan bener , yg jadi Yeoja tuh luhan yak Wkwkwk
    Lanjut “… Eon keep writing ea❤❤😉

  3. AsihHaeHun berkata:

    q kira baek bakalan mati, untung aja nggak…
    q ngerasa ada yg dismbunyiin kris dari sehun, kris kenapa jahat gitu y, sampe bunuh ortu tao, gk bis ngebayangin waktu sehun ngerokok -_-.. mereka disini kaya gk punya perasaan gitu, jadi serem sendiri..
    kocak bgt waktu sehun baek ma tao dimobil, mbyangin baek njambak2 rambut sehun..
    pertama baca yg ada gadisnya itu, langsung kepikiran luhan, iya gk sih?

  4. Nuraya berkata:

    Pemikiran para rider kok sama semua ya, gadis itu mungkin luhan kekeke😀
    Bener ngakak guling2 saat baek jambak2 rambut sehun, ff’nya seru bgt lanjuuuttt….
    Fighting thor!

  5. indahtentiana berkata:

    ah eonniiii !!!!! ini sumpah keren abis !!!! . mian aku baru sempet baca . huhuuuu . sumpah , waktu baca di chap 2 aku kira baekhyun bakalan meninggal . sumpah deh eonniiii !!!! kerennya kebangetan ! lucu waktu kata2 baekhyun blg emgnya bisa bedain wajah tampan dari belakang . wkwkwk . eonniiii , please ne , jangan nistakan suamiku tercintah . ntar aku surih baekhyun nalak eonni baru tau rasa . wkwkwk . udah deh ya , kayaknya kepanjangan . tapi masih pengen sebenernya comment , tapi udah deh dilanjut di chapter 4 aja . wkwkwk . ditunggu eonni !!! . eonni punya sosmed gak ? kalo punya follow aku d twitter dong @indahtentiana . avanya make kacamata . nanti mention aku JRY , aku follback langsung deh . wkwkwk . sekian dan terimakasih😀

    • JungRiYoung berkata:

      noooo,, gimana entar bisa lanjut nulis kalo separuh hatiku mati *plaaakk*
      “please ne , jangan nistakan suamiku tercintah . ntar aku surih baekhyun nalak eonni baru tau rasa” ini apa?????? apa kamu berniat mencuri posisiku menjadi istri sah byunbaek??? wkwkwk
      oke nanti aku follow, tapi akunya lebih aktif di fb daripada twitter /inikudet/ hahaaa

      • indahtentiana berkata:

        makanya eonnii !! jangan nyari masalah karna menistakan byunbaek wkwkwk . aku kan engga mencuri eonni ! aku istri sahnya ! eonni kan cuma dimaduin sama baekhyun -_- wkwkwk peace –v . fb ? hmmm , kalo gitu add indah tentiana aja . wkwkwk .

  6. jelsa berkata:

    Huh.. kirain Baekhyun bakal ketembak mati.. aishh baekhyun jangan jambak-jambak rambutnya Sehun dong, kasian Sehun oppaku.. hehe Chanyeol genit juga. Tapi siapa yaa gadis itu?? Wah jangan-jangan Luhan. Kebayang deh kalo Chanyeol ngelus-ngelus tangannya Luhan terus kedip-kedip genit ke Luhan wkwkwk :-D:-D

    Makin seru ffnya eon. Ditunggu! Lanjut..

  7. rim A berkata:

    Daebakk thor!!
    kirain baekkiny mati.. tpi kok mlah suamiku yg ktembak si thor, tp untung kai gpp..
    trus tuh cwek yg ngejamin kai syp thor? sruhnny luhan ya? pke nma aku aja deh thor yg jd tuh cwek, di genit”in ama yeolli gpp deh hehe..
    tpi kesanny polisi kok gmpang dibhongi gitu thor!!
    pacar ku si tao dibuat pinter donk!! msak sehun trus yg dbanggain sma kris..
    keep fighting thor buat ff brikutny!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s