FF : GROWL Chap. 10

Growl

Tittle              : Growl

Author            : Ohmija

Cast                : EXO and Park Yoora

Genre              : Action, Friendship, Family, Romance

Langkah-langkah Sehun, Luhan, Chanyeol, Tao dan Kyungsoo mengiringi roda-roda ranjang rumah sakit yang membawa ibu Luhan. Menelusuri lorong-lorong panjang dalam kekhawatiran hebat. Wajah Luhan sudah memucat, dan sepanjang jalan Sehun terus menghusap pundaknya.

Pada akhirnya, harus berhenti mengejar saat seorang suster menahan mereka untuk tidak masuk ke dalam ruang yang bertuliskan ‘ruang ICU’.

Luhan terhuyung mundur bersamaan dengan Sehun yang langsung menangkap tubuhnya. Ia mendudukkan sahabatnya itu disebuah kursi, detik berikutnya, keempat sahabatnya mengerumuninya.

Luhan nyaris tertunduk dalam, diam membisu tanpa mengeluarkan suara namun dia tidak menangis. Matanya sudah jelas menggambarkan kekhawatiran itu, tapi mungkin dia masih mempunyai kekuatan untuk tidak membiarkan air matanya jatuh.

Dalam keterdiamannya, terus saja merutuki dirinya sendiri kenapa dia membiarkan ibunya terus bekerja keras untuk menghidupi mereka. Hanya membiarkannya tanpa mengetahui jika selama ini ibunya mengidap sebuah penyakit.

Apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia tidak bisa melakukan apapun kecuali menyesal.

“Chanyeol! Sehun!”suara Yoora terdengar dari ujung lorong, dia berlari menuju Sehun dan yang lain. “Apa yang terjadi?! Ada apa dengan omoni?” dia menatap siapapun dengan raut panik.

Chanyeol menggeleng, “tidak tau, noona. Omoni tiba-tiba pingsan.”

“Apa kau tidak bisa masuk ke dalam dan memastikan jika omoni baik-baik saja?”tanya Sehun dengan nada pelan.

“Aku tidak bisa. Karena aku tidak mendapat tugas untuk membantu dokter.” Ia merasa menyesal.

“Kalau begitu, tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali menunggu, kan?”sahut Tao. Ia menghela napas panjang kemudian duduk disamping Luhan. Tangannya terulur, menepuk pundak sahabatnya itu. “Tidak ada yang akan terjadi. Jangan khawatir.”

Luhan tidak bereaksi apapun. Kepalanya terus menunduk bersamaan dengan rasa penyesalannya yang semakin mendalam terhadap ibunya, Di dunia ini, dia hanya memiliki satu orang ibu tapi dia tidak menjaganya dengan baik.

Tiga puluh menit kemudian, dokter keluar dari ruangan membuat semua orang yang duduk diluar seketika berdiri.

“Apa yang terjadi pada ibu saya, dok?”tanya Luhan.

Dokter itu menghela napas panjang sesaat, “Ibu anda menderita jantung koroner. Terjadi penyempitan di bagian arterinya sehingga jantungnya tidak menerima cukup darah.”

Ada sebuah pukulan keras yang seketika dirasakan Luhan menghantam dadanya kuat, menghilangkan kekuatan di kakinya untuk memijak, seperti tanpa tulang. Dia terhuyung, dan buru-buru menyambar lengan Tao untuk berdiri tegak kembali. Beningan air sudah menggenang di matanya, saat ia menatap dokter itu.

“Kau pasti bercanda kan?”lirihnya sedih.

“Luhan…” Sehun mencoba menenangkan sahabatnya itu. Sedangkan Yoora langsung memeluk Chanyeol dan menangis.

“KAU PASTI BERCANDA KAN?!”teriaknya berontak. “Ibuku tidak mungkin terkena penyakit itu! Ibuku tidak pernah mengatakannya! Kau pasti salah! Kau pasti salah!”

“Luhan.” Sehun menahan kedua tangan Luhan dan langsung mendekapnya kuat-kuat.

“Tidak mungkin. Ibuku tidak mungkin sakit. Sehun, katakan jika dokter pasti salah. Ibuku tidak apa-apa.”tangisnya di pundak Sehun. “Sehuuuun…”

***___***

“Ada dua pilihan. Kau bisa memilih operasi atau melakukan terapi.” Dokter menjelaskan.

“Apa bedanya?”tanya Luhan.

“Tidak ada bedanya. Operasi membutuhkan waktu dan proses pemulihan lebih lama, sedangkan terapi, prosesnya berlangsung cepat.” Yoora yang duduk disebelah Luhan, mengambil alih.

“Bagaimana dengan resikonya?”

“Jika melakukan operasi, ada kemungkinan terjadi komplikasi seperti pendarahan. Namun sangat cocok untuk pasien yang mengalami penyumbatan di lebih dari tiga pembuluh darah atau penyumbatan yang terjadi di pembuluh utama kiri. Sedangkan terapi, mungkin arterinya bisa menyempit kembali namun resiko mengalami komplikasi relatif rendah,”jelas dokter.

“Lalu yang mana yang akan kau pilih?”

***___***

 

“Lalu yang mana yang akan kau pilih?”

Terus hening. Hanya itu yang bisa dilakukan oleh Luhan sejak setengah jam yang lalu. Dia terduduk lesu di depan ruangan ibunya dengan kepala yang menunduk dalam dan asa yang semakin terputus.

Biaya Operasi mencapai 6 – 9 juta won, dan biaya terapi sekitar 3 juta won. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Kemana dia harus mencari uang sebanyak itu? Dia dan ibunya memang memiliki tabungan, namun jumlahnya sama sekali tidak sebesar yang di harapkan, bahkan ridak mencapai setengahnya.

“Luhan.” Sehun menepuk pundak Luhan setelah membiarkan sahabatnya itu membisu sangat lama. “Mau bicara denganku?”

Luhan hanya menggerakkan kepalanya sedikit kearah Sehun, lalu menatap depan kembali. Ia tetap bisu.

“Mungkin aku memang tidak bisa membantumu, tapi setidaknya, bisakah kau membagi bebanmu denganku?”tawar Sehun, ia menghusap pundak Luhan lembut.

Tao, Kyungsoo dan Chanyeol yang sejak tadi ikut setia menemani Luhan, berjongkok didepannya. Mereka menatap Luhan lurus-lurus.

Tao menepuk punggung tangan Luhan yang ia letakkan diatas lututnya, “aku mempunyai tabungan sekitar lima ratus ribu won. Kau bisa memakainya dulu.”

Chanyeol mengangguk, “aku juga mempunyai tabungan, mungkin jumlahnya hampir sama dengan tabungan Tao. Kau mau memakainya?”

“Aku… aku juga mempunyai tabungan sekitar satu juta won.”ukar Kyungsoo pelan. “Luhan, kau bisa memakainya.”

Wajah Luhan semakin memanas, rasa sesak yang sejak tadi ditahannya seperti menggurak dan ingin meledak dalam bentuk air mata. Tidak ada yang bisa dilakukannya saat ini. Terima kasih karena teman-temannya ingin membantu namun tetap saja semua itu tidak cukup untuk memenuhi biayanya.

“Waktunya adalah besok…”seru Luhan, suaranya terdengar serak. “Jika tidak, ibuku tidak akan—“

“Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak. Mengerti?!”tegas Sehun, ia mengulurkan kedua tangan, mencekal kedua bahu Luhan dan memaksanya untuk menatapnya. “Tidak ada yang terjadi. Ibumu akan baik-baik saja.”

“Bagaimana bisa kau mengatakannya jika ibuku harus melakukan operasi atau terapi untuk sembuh? Jangan membohongiku.” Luhan mendongak, menatap Sehun dengan mata yang berkaca-kaca. “Bahkan jika seribu kali kau meyakinkanku jika ibuku baik-baik saja, semuanya tidak akan berguna. Ibuku kritis dan dokter harus melakukan sesuatu sebelum esok hari. Apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan tidak mempunyai uang sama sekali! Aku tidak punya apapun! Lalu, bagaimana aku bisa tenang? Aku tidak akan bisa tenang Oh Sehun!” suara Luhan mulai meninggi, namun bening-bening air mata juga mulai membentuk sebuah sungai di pipinya.

“Harusnya aku menyadarinya sejak dulu. Harusnya aku mengetahui jika ibuku sedang sakit! Harusnya aku tidak mendengarkannya saat dia melarangku untuk bekerja! Harusnya…” Tercekat. Suara Luhan terasa seperti tersangkut di pangkal tenggorokannya. Rasa sakit ini terlalu sesak, bahkan menyumbat saluran pernapasannya dan mematikan pita suaranya. Dia kembali menunduk dalam tangisnya.

Sehun tergugu. Tubuhnya membeku namun matanya terus tertancap pada sosok sahabatnya itu. Pundaknya bergetar dan suara tangisnya terdengar memilukan. Seumur hidupnya, ini adalah pertama kalinya dia mendengar Luhan menangis hingga seperti ini. Pilu.

Tidak seperti teman-temannya yang lain. Dia bahkan tidak memiliki apapun untuk dia berikan pada Luhan, untuk sekedar membantu meringankan bebannya. Dia tidak mempunyai apapun. Sama sekali.

Melihat itu, Yoora yang sejak tadi menangis di kejauhan, mendekati Luhan dan menjatuhkan diri disampingnya. Ia membekap mulutnya sendiri karena tidak bisa menahan tangis, berikutnya menguatkan berusaha menelan tangis untuk sekedar menghibur.

Wanita itu mengatupkan kedua telapak tangannya di pipi Luhan, menatapnya lirih. “Hey, aku akan berusaha untuk membantumu. Aku akan bicara pada dokter untuk melakukan sesuatu pada ibumu. Jangan mena…ngis…” suara Yoora tercekat. “…tolong jangan menangis…”

“Noona, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?”isak Luhan. “Apa yang harus aku lakukan?”

Keheningan pekat mendominasi saat pertanyaan itu dilontarkan. Tidak ada yang mampu menjawab. Tidak ada yang mampu memberikan jalan keluar untuk Luhan karena mereka sendiri tidak tau harus berbuat apa.

Yoora memeluk adiknya itu erat-erat sebagai bentuk penguatan. Mendekap tubuh mungil Luhan untuk sekedar meberikannya kehangatan. Bisa dirasakan jika tubuhnya bergetar, dan semakin lama suaranya yang semakin terdengar putus-putus.

Mereka pernah merasakannya. Saat-saat menyakitkan seperti ini. Bertahun-tahun lalu, saat Chanyeol dan Yoora kehilangan orang tua mereka dalam sebuah kecelakaan hebat. Juga Sehun, yang dalam ingatannya, dia hanya mempunyai sedikit kenangan dengan ibunya. Bahkan kini, kenangan itu terasa samar.

Luhan adalah sahabatnya. Ah, bukan… bukan hanya sekedar sahabat tapi juga saudaranya karena dia telah menganggap ibu Luhan sebagai ibunya sendiri. Saat dia tidak menemukan tempat untuk bersandar atas semua masalahnya, Sehun menemukan sebuah pelukan seorang ibu. Saat dia merindukan bagaimana nikmatnya masakan seorang ibu, Sehun menemukannya di rumah Luhan.

Dia juga bersedih. Dia juga ingin menangis. Namun dia lebih memilih untuk menjadi yang terkuat untuk sandaran Luhan. Dia berusaha menahannya dalam tangisan tanpa suara.

“Aku akan mendapatkan uang untukmu.” Sehun berseru kemudian membuat Luhan melepaskan pelukannya dan menoleh ke belakang.

Perlahan, Sehun mengangkat kepalanya dan menatap Luhan, “aku akan mendapatkan uangnya.”ulangnya lagi.

“Sehun, apa yang akan kau lakukan?”tanya Tao bingung.

Sehun terdiam sejenak. Beruntungnya, otak bodohnya mencetuskan sebuah ide yang dia rasa adalah yang terbaik, Ini satu-satunya yang bisa dia lakukan. Satu-satunya keahlian yang bisa menghasilkan banyak uang.

“Aku akan mendapatkan kekurangannya. Besok, ibumu akan segera di terapi. Aku berjanji.”

Setelah menyelesaikan ucapannya, Sehun langsung berdiri dan berlalu pergi. Sontak yang lain terkejut.

“Sehun!”cegah Chanyeol namun tidak dihiraukan oleh Sehun yang terus berjalan menjauh. Dia dan Tao saling pandang, keduanya sangat tau apa yang akan dilakukan oleh Sehun setelah ini. “Noona, kami akan pergi.”

“Kalian mau kemana?” Kyungsoo bertanya tak mengerti.

“Tunggulah disini dan temani Luhan. Kami akan segera kembali.“ Kemudian ia menoleh kearah Tao. “Zitao, ayo!”

Tao mengangguk lalu berlari bersama Chanyeol menyusul langkah Sehun. Saat ini, mereka harus berada disekitar pria itu untuk mengontrol emosinya, juga melindunginya dari orang-orang yang akan mengganggu jalannya.

“Sehun!” Chanyeol meraih lengan Sehun dan memaksanya untuk berhenti. Sehun menoleh, ekspresinya terlihat dingin. “Kita pakai mobilku.” Ia mengeluarkan kunci dan menunjukkannya pada Sehun namun ia segera menggeleng.

“Tidak. Aku tidak akan menggunakan mobilmu.”

Chanyeol dan Tao sama-sama terkejut. Sehun menghela napas panjang saat ia menatap dua sahabatnya itu, “Kalian tau apa yang akan aku lakukan, kan? Jangan ikut campur. Ingat terakhir kalian bersamaku? Kalian berdua masuk sel dan mendapat masalah. Menjauhlah dariku dan biarkan aku sendiri yang mencari uangnya.”

Chanyeol menahan lengan Sehun lagi begitu pria itu sudah bergerak dan hampir pergi, kali ini disertai dengan tekanan membuat Sehun termundur kasar dan menatap keduanya kembali.

“Kau pikir kau siapa?!” nada suaranya mulai meninggi. “Jangan merasa kau adalah yang terhebat sehingga kau ingin melakukannya sendiri!”

“Chanyeol, aku tidak bermaksud begitu.” Sehun menghela napas putus asa. Bukan seperti itu maksudnya. Dia hanya tidak ingin Chanyeol dan Tao mendapat masalah lagi karenanya. “Malam ini aku akan melakukan pertandingan besar. Aku tidak mau mengorbankan mobilmu jika aku kalah. Aku hanya—“

“Kita tidak akan meninggalkan teman.” Chanyeol menegaskan. “Kau lupa?”

“Tidak perduli apapun yang terjadi, kami ingin menemanimu. Walaupun setelah ini harus dipukuli habis-habisan, yang terpenting adalah ibu Luhan, kan?” Tao menepuk pundak Sehun lantas tersenyum meyakinkan.

Empati. Yah, itu sudah pasti. Karena saat-saat seperti ini guna sahabat sangat dibutuhkan. Seberapa kuatnya Sehun dipenampilan luarnya, dia tetap jadi yang termuda diantara mereka. Dia tetap yang paling rapuh dan paling membutuhkan pegangan. Selama ini hanya bersikap seolah-olah tegar dan bisa menghadapi semuanya. Bersikap seolah-olah dia yang terkuat untuk melindungi semua orang yang ia sayangi. Kenyataannya, selama ini pemuda ini terus menangis dalam keterdiamannya.

Sehun tertegun menatap kunci mobil Chanyeol hingga suara bariton pemuda itu mengembalikan kesadarannya, “Kita tidak akan meninggalkan teman.”ulangnya lagi.

Samar, sebuah senyum tercetak di bibir mungil Sehun. Kini dia merasa lega karena dua sahabatnya berada disekitarnya. Saat ini, dia mempunyai kekuatan.

Sehun akhirnya mengangguk lalu meraih kunci itu, “Kita tidak akan meninggalkan teman.”

***___***

“Sudah lama tidak bertemu denganmu, Jjong.”sapa Kai begitu ia menutup pintu mobil dan menghampiri seseorang yang sedang bersandar di kap depan mobilnya. “Tidak ku sangka kau masih menyukai nongkrong di tempat seperti ini.”

Kai tersenyum singkat. Ia mengeluarkan sekotak rokok dari saku jaketnya lalu menghisap satu batang. Diletakkannya kotak rokok terbuka itu diantara dirinya dan temannya kemudian ia melompat naik dan duduk diatas kap depan mobil temannya.

“Namaku Chen. Kau tau itu.”ketus temannya terus menatap ke depan dengan tatapan dingin.

Kai tertawa renyah, “Masa lalumu tidak akan berubah walaupun kau mengubah namamu.”serunya mengepulkan asap keudara,

Chen menoleh sekilas kemudian berdecak sambil geleng-geleng kepala, “Kau juga tidak berubah. Selalu menghisap rokok setiap saat.”

“Cih, ini adalah obat penenangku. Juga benda yang paling ku cintai. Jika rokok adalah seorang wanita, mungkin aku akan bercinta dengannya berulang-ulang.”

Chen tertawa mendengus, “bodoh.”

“Ah, aku melupakan sesuatu.” Kai melompat turun, lalu berjalan menuju mobilnya. Ditempatnya, Chen hanya memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh pria berkulit gelap itu. Begitu dia menegakkan tubuh, Chen terkejut bukan main karena ternyata Kai mengeluarkan dua botol bir.

“Mantan pacarku adalah seorang DJ, sebelum kami putus, dia memberikan ini padaku. Bir ini adalah bir import, dari Selandia baru. Rasanya sangat enak.” Kai memberikan sebuah botol bewarna coklat kekuningan pada Chen. Ia tersenyum dengan percaya diri seolah-olah bir adalah hal ilegal untuk anak SMU sepertinya. “Aku tau kau pasti sedang mempunyai masalah, kan? Kau bisa menceritakannya padaku. Tapi, bisakah kita sambil minum bir? Aku sengaja membawakannya untukmu. Rasanya benar-benar enak. Kau tidak akan menyesal.” Ia menggoyang-goyangkan botolnya karena Chen sama sekali tidak bereaksi.

Chen menghela napas, akhirnya menerima bir pemberian Kai membuat pria itu langsung tersenyum kemudian melompat dan duduk di kap mobil lagi.

“Apa gadis yang menidurimu memberikan ini sebagai bayaran?” Chen mulai meneguk birnya. Suaranya di telan oleh suara-suara bising mobil yang sedang melakukan free style namun Kai masih mampu mendengarnya.

Ia kembali tersenyum, “Kau pikir aku pria seperti apa yang telah ditiduri oleh wanita?”

“Lalu apa?”

“Kami saling meniduri.”ucapnya bodoh, Chen berdecak,

“Itu tidak ada bedanya bodoh.”

“Hahaha… ada apa? Kenapa tiba-tiba menelponku?”

“Apa aku mengganggumu?” Chen justru balas bertanya.

“Sedikit.”kata Jongin. “Kau tau bagaimana padatnya jadwalku saat akhir pekan.” Ia mengendikkan kedua bahu, merasa bangga.

Chen mendengus lagi, “berhenti meniduri gadis-gadis bodoh itu. Jika ayahmu mengetahuiya, dia akan mencoretmu dari silsilah keluarga Kim.”

“Lalu siapa yang akan dia tulis? Dimata hukum, aku adalah anak kandungnya satu-satunya. Dia bahkan tidak menikahi wanita-wanita yang telah memberikan anak untuknya.” Ia berdecak malas. “Lagipula, sudah sebulan ini aku tinggal di apartementku. Aku tidak tinggal bersama dengannya lagi.”

Salah satu alis Chen terangkat naik, “kenapa?”

“Muak bertemu dengan simpanannya yang terus berganti-ganti. Mereka semua bahkan dengan percaya diri menyuruhku memanggil mereka dengan sebutan ‘ibu’. Mungkin mereka tidak pernah bersekolah sebelumnya sehingga tidak mengetahui apa arti dari panggilan itu.”

“Tidak ada bedanya. Kau sama saja dengan ayahmu.”

Kai menggeleng santai, “kami berbeda.”serunya pelan namun terdengar tegas. “Dia meniduri semua gadis hingga mereka melahirkan banyak anak. Memberikan harapan yang pada akhirnya tidak terwujud sama sekali. Dia adalah laki-laki pengecut yang tergila-gila dengan seks.”

Chen tersenyum geli, “lalu kau?”

“Aku? Hahaha… sejak awal berhubungan aku telah mengingatkan jika aku hanyalah murid SMU yang tidak ingin berhubungan dengan serius. Aku juga tidak pernah mengajak mereka bercinta, hanya saja, noona-noona itu tidak akan pernah tahan setiap kali melihatku.”

Tawa Chen pecah ke permukaan. Dia tertawa hingga terbahak-bahak dan hampir tersedak oleh birnya. Inilah tujuannya mengajak Kai bertemu. Kai adalah tipe orang yang selalu mengatakan kebenaran tanpa malu. Walaupun terkadang terkesan bodoh, tapi sahabat lamanya itu selalu mampu menghiburnya dengan cerita-ceritanya yang konyol.

“Yah..,yah… kau bisa membayarku dengan ddokbukkie setelah ini.”ujar Kai santai, dia meneguk minumannya namun dalam hati merasa lega karena Chen sudah tertawa.

“Aku akan membayarnya dua kali lipat.” Angguk Chen lalu tertawa lagi.

Bersyukur. Chen sangat bersyukur karena dia selalu memiliki Kai di sisinya. Walaupun mereka tidak berada di satu sekolah yang sama sekarang tapi Kai selalu ada jika dia membutuhkannya.

Disisi lain, Kai juga merasa sangat lega saat melihat Chen tertawa. Saat pria mungil itu menelponnya tadi, dia sudah mengetahui jika Chen sedang mempunyai masalah. Mereka sangat dekat saat SMP dan Kai cukup mengetahui bagaimana cerita hidup Chen. Tentang hidupnya, keluarganya dan kakaknya yang pergi. Yah, hidup pemuda itu memang rumit dan sialnya, Chen bukanlah tipe orang sepertinya yang tidak pernah memikirkan apapun. Dia sangat kontras dengan kepribadian Kai.

“Bukankah itu Oh Sehun?” Tiba-tiba Kai menegakkan tubuh, ia mengetek puntung rokoknya ke samping. “Apa yang dia lakukan disini?”

Mata Chen membulat, “kau mengenalnya?”

“Yah, si brengsek yang selalu mencari masalah denganku.”

“Cih, ternyata dia mempunyai banyak musuh di manapun.” Chen berdecak kemudian geleng-geleng kepala, terus memperhatikan Sehun dan teman-temannya dari kejauhan.

“Jangan-jangan kau…”

Chen mengangguk, “kemarin dia mengalahkanku di pertandingan dan cukup membuatku malu.”

“Benarkah?” Kai tertawa renyah. Ia merangkul sebelah pundak Chen. “Jangan khawatir, kemarin aku juga sudah memukulinya sampai babak belur.”

“Sehun, kau yakin?” Chanyeol mencekal pundak Sehun, menahannya.

“Aku tetap tidak akan menggunakan mobilmu, Chanyeol. Ini terlalu berat.”

Chanyeol terpaksa menurunkan tangannya dan membiarkan Sehun pergi, ia dan Tao menunggu didekat mobilnya. Sehun menghampiri seseorang yang sudah diketahui adalah anak dari seorang pejabat terkenal. Dia suka berkumpul ditempat ini, dia juga memiliki mobil yang bagus, namun tidak memiliki cukup keahlian dalam mengemudi. Itu sebabnya, dia sering sekali kalah.

“Hey, Park Dong Bin.”sapa Sehun. Dongbin yang sedang asyik berpesta dengan teman-temannya menoleh dengan kening berkerut.

“Kau memanggilku?”

“Yah, kau.”

“Bukankah seharusnya kau memanggilku dengan sebutan ‘hyung’?”

Sehun tidak mengacuhkannya, “aku tidak ingin basa-basi karena aku mempunyai satu tawaran bagus untukmu.”ucapnya tegas.

“Apa?”

“Aku bisa menjadi pembalapmu malam ini.”

Dongbin terkejut, “hah?”

“Taruhannya mobil.”kata Sehun. “Aku ingin bertaruh dengan mobil.”

“APA?!” Kini Dongbin benar-benar terperangah.

“Jika aku menang, kau bisa mendapatkan mobilnya. Kau hanya perlu memberiku 3 juta.”

“K-kau serius?” Dongbin masih tidak mempercayai kata-kata Sehun.

“Jika kau tidak mau—“

“Aku mau!”ucap Dongbin cepat. “Tentu saja aku mau!”

***___***

Ini adalah malam keberuntungan bagi Dongbin. Dia seperti mendapar durian runtuh atas tawaran Sehun. Siapa yang tidak mengetahui Oh Sehun? Si pembalap menakjubkan itu. Dia pasti akan menang jika menggunakan Sehun sebagai pionnya.

Dongbin mengumumkan tantangan itu pada semua orang. Ia berdiri ditengah-tengahjalan dan mengatakan dengan bangga jika dia menantang semua orang untuk melawan Sehun.

Seketika semuanya terdiam. Hening. Taruhan ini begitu mencengangkan. Sehun sebagai lawan mereka dan taruhannya adalah sebuah mobil. Jika mereka kalah, itu artinya mereka akan kehilangan mobil mereka.

Dongbin tertawa penuh kemenangan, “Oh Sehun, kau harus memenangkan pertandingan ini!”

“Dongbin-ah, bagaimana jika dia kalah? Kau akan kehilangan mobilmu.”seru seorang teman Dongbin dari belakang.

Tenggelam dalam kesenangannya, Dongbin melupakan hal yang paling penting, Benar juga. Bagaimana jikaSehun kalah. Dia akan kehilangan mobilnya.

“Dia benar, bagaimana jika kau kalah?”

Sehun tetap menatap Dongbin tenang, “Jika aku kalah, kau bisa memotong satu kakiku.”

Semua orang seketika ternganga mendengar jawaban Sehun barusan, terutama Tao dan Chanyeol, “Astaga Sehun!”teriak Tao dari sisi.

Namun Sehun tidak bergeming, didepan semua orang, dia berkata dengan sangat tegas dan jelas, “kau bisa memotong kakiku jika aku kalah.”ulangnya lagi.

“Oh shit! Dia pikir siapa dia?! Sombong sekali.”maki Kai merasa kesal dengan tindakan Sehun.

“Aku rasa ada sesuatu.” Chen tidak mengalihkan tatapannya dari Sehun. “Aku tidak pernah melihatnya seserius ini sebelumnya. Aku yakin dia tidak sedang main-main.”

TBC

36 thoughts on “FF : GROWL Chap. 10

  1. nina berkata:

    parah bgt ternyata penyakitnya eomma luhan😦
    kukira sehun bakalan ke suho, ternyata malah kebalapan
    dan ada kai sm chen disana
    semoga kai sm chen gg jadi pengacau
    kai -__- kamu bener2 bad boy

  2. Cicil berkata:

    potong kakiiii????? hunnie, kamu kira kita lagi main potong bebek angsa haaahhh??? jangan taruhin yang enggak enggak deh, aku jadi khawatir entah._. jangan sampe kalaahhh awas yaaa. dan si Kyungie kaya juga ya, walaupun aku gak tau 3 juta won dalam rupiah itu berapa tapi yang pasti besar biayanya. dan ngilu banget pas Luhan nanya ke Yoora dia harus ngapain, itu bikin mewek serius;_;

    teruuuusss lanjuttt okeeee, keep writing yaaa^o^)9

  3. Ade Zeni Anggraeni - Fanfiction Park Jiyeon ♥ EXO berkata:

    Persahabatan sesungguhnya ! Daebakk !

    Sehun-oppa, SEMANGAT ! Kau harus menang !

    Author lanjutkan jangan lama-lama😀

  4. Nuraya berkata:

    Miris banget baca partnya luhan, kaga bisa ngebayangin kalo luhan nangis sampai memilukan😥
    Oh, sehun kaga serius kan? Tarohan kaki? Sehun seharusnya kou bisa minta lbih banyak, aku tdk tau brp 3 juta won kalo dirupiahkan, tpi mungkin hrga mobil sport jauh lbih mahal dri itu…
    Persahabatanya sangat kuat, aku salut thor >.<
    lanjuuutt thor jngan lama2, fighting!😀

  5. Hilma berkata:

    ah, jangan… jangan potong kaki… hiks…
    terharu banget sama persahabatan mereka…
    sehun faighting, pokoknya sehun harus menang…

  6. Anna berkata:

    sehun pasti menang, kalau nggak kasihan dia kasihan juga ibunya Luhan. kagum banget sama persahabatan mereka, sangat mengharukan.

  7. Ks127Cy berkata:

    HAH?

    Luhan#sbar ya han…😥

    Kai?#nih orang-lu msih SMU bro kelakuan lu bner2?-#

    Sehun?#Nih jga-lho kira kaki itu murah apa?gila lho-

    -_-”

    ha-ha?

    next aja thor~🙂

  8. Kai's fan berkata:

    aku gk ngerti pas bagian akhirnya.klo Sehun kalah,Dongbin kehilangan mobil?? Luhan sabar ya..pasti eommanya sembuh kok🙂

    next jangan lama lama thor

  9. Dini berkata:

    Yaaaa ibu mertuaaaa bertahanlahhh😦 aku akan membantu mendoakan sehun supaya menang…. hiks #pelukLuhan
    brothership nya bikin terharu aaahhh bangga deh kalo punya sahabat sesetia gituuu u,u
    Sehun menangggg sehun pasti menangggg hwaitinggg…. /
    Next chap hwaiting juga buat unnie Mija ^^

  10. Kusuma berkata:

    Huaaaaa… Kyaaaaaa… Cerita nya bagus sekali.. Dapat Feel nya banget… >_<

    Kasihan ibu nya Luhan.. u,u😥
    Yang tabah ya Luhan…

    MWO? Bagaimana ini? Kaki? Kaki Sehun di potong jika kalah? O_O terus bagaimana dengan membayar operasi atau terapi ibu Luhan jika Sehun kalah? Trs Kai atau Chen ikutan balapan kah? Jika bukan, siapa yang menjadi lawan Sehun di Arena balapan tersebut? Huaaaa… Thor, Lanjut! Palli, Palli Thor.. DAEBAKKK untuk FF nya (y)🙂😀

  11. Tiikaa berkata:

    Maaf bru smpet komen eon.. Huhi sibuk bnget minggu kmren
    Omoooo,, itu sehun bneran bkalan ngorbanin kakinya klau dia kalaah.. Itu sehun gak main2 kan? Dia kok nekat bngey sih…
    Aduhhh semoga sehun menang eon..
    Pnsaran aku

  12. Desy berkata:

    ini sumpah FF favorit ku!! daebak bgt sumpah!!
    oh sehun *Lovestruck* aigoo keren bgt.
    aku pengen punya sahabat kyak mereka.haha
    pas baca chapter ini tanganku sampe basah -_- keringetan.
    lanjut thor ^^ fighting!!

  13. deomi berkata:

    ommo~ sehun bandel bgt disini… taruhannya kan nyawa
    duhh jebal thor sehun jgn dibuat pincang
    ntar kerennya berkurang
    keep writing thor!

  14. amelia berkata:

    ya mpun sehun apaapaan sih yaakkkk..
    ini bener” persahabatan.. wahh.. aku acungin jempol deh buat sehun tao chanyeol.. ^^

  15. J Rose berkata:

    Oh Sh*t kenapa harus T.B.C -_- ?
    Ya ampun ak greget tingkat akut bgt bcany eon,nggak tw ap yg trjdi slnjutny moga” aja sehun mnang. Itu saja pesan ku untk ff nih
    Untk ff” lainny tolong bkin greget lg chap”ny
    Keep Writing and fighting ._.9

  16. laychen berkata:

    YAKKKK OH SEH !! APA KAU GILAAA HAH ! KAKI WOI KAKI ..
    CK tp akunterharu demi sahabatt kau relala melakukan ini .itu namanya bagus jrang punya tmna seperti itu ..

    Aku rahap semua jd tmn yaa gk musuhan lol haha ..
    kan jd banyak tmn 1 satu gpp lah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s