You Never Give Me a Chance Part 6

sesulli copy

Nama : @sehuhet
Judul Cerita : You Never Give Me a Chance
Tag : Oh Sehun, Choi Sulli, Kim Jongin, Jung Krystal, and other.
Genre : friendship, romance, sad (maybe)
Catatan Author : cerita ini murni buatan author sendiri, mohon jangan di copas. Dan author mohon maaf kalau ada yang tidak suka dengan castnya, sesungguhnya cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf juga kalau banyak typo. Ditunggu komennya juga yaa, makasihh🙂

Happy Reading~

***

“ada apa?”

Sulli melepaskan pandangannya dari sosok Jongin yang duduk membelakanginya. Pria itu tidak sendiri, Jongin duduk berdua dengan seorang gadis yang ia kenal sebagai salah satu trainee Wu Yifan soesangnim.

Apa yang mereka lakukan? Sejak kapan Jongin dekat dengan seorang gadis? Kenapa Jongin berbohong padanya?

Pertanyaan demi pertanyaa mulai bersarang di kepalanya. Mengenal Jongin sejak kecil membuat Sullii sangat tahu sifat Jongin yang tidak mudah dekat dengan seorang gadis. Kalau di dekati gadis, itu sudah bukan hal yang biasa, tapi biasanya Jongin akan dengan terang-terangan menolak untuk di dekati. Melihat Jongin duduk bersama seorang gadis seraya bercanda gurau membuat dada Sulli tiba-tiba terasa seperti terhantam sesuatu. Ia memang tidak bisa melihat wajah Jongin, tapi dari kedua bahu nya yang bergetar, Sulli tahu kalau Jongin sedang tertawa bersama gadis itu.

Tapi, bukankah Jongin sedang menggantikan soesangnim mengajar? Kenapa sekarang pria itu ada disini? Apa Jongin berbohong padanya? tapi kenapa?

ya, Sulli-ya, gwenchana?

Sulli mengerjapkan matanya dan mendongak menatap Sehun lalu tersenyum, senyum yang sangat di paksakan. “gwenchana

jinjja?” tanya Sehun tidak percaya, “ada apa? kenapa mendadak murung seperti ini? seingatku tadi kau yang begitu semangat mengajak ku makan”

Sulli menhela nafas panjang. “apa Jongin sedang dekat dengan salah satu teman trainee nya?” tanyanya. Ia harus tahu. Kalau memang Jongin sedang dekat dengan gadis itu, kenapa Jongin tidak pernah cerita padanya?

“hm? Wae? Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?”

“kau hanya perlu menjawabnya Sehun-ssi, apa Jongin sedang dekat dengan salah satu teman trainee nya?”

Sehun tidak langsung menjawab. Ia menatap Sulli begitu lama seolah sedang memastikan apa yang sedang ada di dalam fikirannya, sebelum akhirnya menjawab. “molla, aku tidak pernah melihat Jongin dekat dengan salah satu teman trainee nya, Jongin juga tidak pernah bercerita apapun tentang seorang gadis padaku. Tapi yang aku tahu,” Sehun berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Yifan hyung selalu memasangkan Jongin dengan Jiyeon ketika sedang latihan, hyung juga selalu meminta tolong pada Jongin dan Jiyeon untuk menggantikannya mengajar”

“apa mereka sedekat itu? apa Jongin dan Jiyeon sedekat itu?”

“huh? Hey, ada apa?”

Sulli menggelengkan kepalanya, “ani, tidak ada apa-apa. makanlah makananmu Sehun-ssi” dan setelah itu, Sulli tidak mengatakan apapun selama mereka menghabiskan makanannya. Sulli bisa merasakan Sehun yang sedang memperhatikannya, tapi ia mencoba untuk tidak peduli. Ia hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan makanannya dan segera pergi dari café ini.

 

***

 

Sehun tebangun dari tidurnya. Ia melirik jam di samping tempat tidurnya dan menghela nafas melihat jam sudah menunjukkan tengah malam. Tidak heran, tadi saat tiba di dorm ia langsung masuk ke kamarnya dan tidur. Ingatannya samar-samar mengingat percakapan terakhirnya dengan Sulli.

Setelah mengantar Sehun, Sulli memberikan kunci mobilnya dan menyuruhnya menyampaikan pada Jongin kalau malam ini ia menginap di rumah Luna.

‘kenapa tidak kau sampaikan sendiri?’

Sulli tidak langsung menjawab, gadis itu menghea nafas panjang dan menjawab, ‘tolong sampaikan saja, jebbal..’ dan setelah itu ia melanjutkan menaiki tangga menuju kamarnya dengan Suzy.

Sebenarnya Sehun ingin sekali menyakan ada apa, kenapa tiba-tiba gadis itu bersikap aneh sejak di café tadi. kenapa tidak Sulli sendiri saja yang menyampaikan pada Jongin kalau ia ingin pindah. Apa karena takut Jongin menentangnya? Seharusnya ia sudah mengetahui konsekuensi nya untuk menghadapi Jongin kalau memang ingin pindah. Tapi kenapa?

Yah, pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa terus bersarang di kepalanya sekarang. kalau saja tadi ia tidak sangat lelah dan butuh istirahat, tentu saja Sehun sudah membanjiri Sulli dengan pertanyaan-pertanyaan sampai gadis itu menjawab. Sayangnya, tubuhnya benar-benar butuh istirahat, dari pada bertengkar dengan Sulli ia lebih memilih memasuki kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya.

Dan sekarang ia terbangun tengah malam di hantui perasaan ingin tahu apa yang terjadi dengan Sulli.

“ah sudahlah, besok pagi saja aku tanyakan ada apa” gumamnya lalu beranjak dari tempat tidur. Tenggorokkannya terasa sangat kering dan ia butuh minum. Jadi ia berjalan keluar kamar menuju dapur.

Setelah mendapatkan minuman, Sehun berjalan menuju ruang Tv saat melihat sepertinya ada cahaya tv. Sepertinya ada salah satu anak trainee yang masih terbangun. Tapi siapa? Setaunya, Yifan hyung menetapkan peraturan kepada seluruh adan trainee untuk langsung beristirahat setelah latihan usai.

Dan alisnya langsung mengkerut ketika melihat Jongin lah yang sedang duduk di depan tv. Sehun pun berjalan menghampiri Jongin dan duduk di sampingnya hati-hati. Jongin memang menatap pada layar tv di depannya, tapi tatapannya kosong penuh fikiran.

“Jongin-ah,” Sehun memanggil. Tidak ada respon. Bahkan Jongin tidak mengalihkan tatapannya.

“Jongin-ah” Sehun kembali mencoba, kali ini ia menyentuh pundak Jongin. Dan benar saja, pria itu langsung tersadar dan menoleh padanya.

huh?

“ada apa? kenapa kau belum tidur? Kalau hyung tau kau bisa di hukum”

“aku menunggu Sulli, jam berapa ini?” Jongin melihat jam dinding di atas tv lalu mendesah berat, “sudah tengah malam kenapa Sulli belum pulang? ponsel nya pun tidak aktif sejak tadi”

Kedua mata Sehun melebar mendengar ucapan Jongin. Fikirannya tentang perubahan sifat Sulli tadi semakin membuatnya penasaran. Apa Sulli menjauhi Jongin? Kenapa?

Karena Sulli tahu Jongin sedang dekat dengan salah satu gadis teman trainee nya.

            Sehun tersentak dengan pemikirannya itu. apa benar mood Sulli yang tiba-tiba berubah itu akibat mengetahui Jongin dekat dengan seorang gadis? Tapi kenapa hal itu membuat Sulli resah? Apa Sulli menyimpan perasaan pada Jongin?

Dan kenapa tiba-tiba dadaku terasa sesak?

“apa kau tahu kemana Sulli? aku bertanya pada Suzy dan katanya ia tidak melihat Sulli”

Sehun mengerjap, “huh? Oh.. Sulli menginap di rumah temannya yang bernama Luna. Ia bilang, sampai ibu nya kembali ia akan tinggal disana”

MWO?!

“kenapa Sulli tidak bilang padaku?!”

Sehun menggaruk belakang kepalanya melihat reaksi Jongin, “umm.. tadi setelah mengantarku pulang Sulli langsung ke atas untuk membereskan pakaiannya. Aku fikir ia akan izin padamu”

“kapan Sulli ke sini? Dan kenapa dia mengantarmu pulang?”

Melihat emosi Jongin yang tiba-tiba tersulut, Sehun menjadi ciut sendiri. selama berteman dengan Jongin, tidak pernah ia melihat sahabatnya itu marah sampai seperti ini.

“selesai latihan tadi aku sangat kelelahan, aku berniat menelfonmu dan ternyata justru tersambung pada nomor Sulli, katanya kau sedang menggantikan hyung jadi Sulli menawarkan diri mengantarku” Sehun berhenti sejenak, “saat kami tiba sepertinya kalian sedang berlatih, aku langsung masuk kamar dan Sulli langsung naik ke lantai atas. Aku fikir ia akan mengatakan padamu”

“apa kau tahu bagaimana cara mengubunginya?”

“ah.. aku punya nomor Luna,” ucap Sehun, saat bertemu Luna di ruang kesehatan tadi Sehun sengaja meminta nomor gadis itu untuk menanyakan keadaan Sulli kalau gadis itu tidak mengangkat ponselnya. Sepertinya tidak sia-sia ia meminta nomor gadis itu.

Dikeluarkannya ponsel Sehun dari kantong celananya dan mencari nomor Luna.

yoboseo?

            “Luna…ssi?

ne? nugueyo?

“ini aku Oh Sehun,”

“oh? Ada apa Sehun-ssi?

“maaf menganggumu malam-malam, apa Sulli sudah tidur?”

“ahh… ani, kebetulan kami belum tidur. Sebentar aku berikan ponselku pada Sulli” terdengar suara grasak grusuk dari sebrang sana, lalu samar-samar suara Sulli terdengar menanyakan siapa yang menelfon. “ada apa Sehun-ssi?

Dan sekarang suara Luna berganti menjadi suara Sulli. Sehun tersenyum sendiri mendengar nada sinis dari gadis itu, dan baru saja ia membuka bibirnya untuk mengatakan sesuatu, ponselnya sudah berpindah ke tangan Jongin. Melihat itu Sehun hanya bisa menghela nafas pasrah.

“kenapa kau tidak mengatakan padaku kalau kau menginap dirumah temanmu? Tidak tahukah kau kalau aku menungguimu semalaman?”

 

***

 

Sulli menjauhkan ponselnya ketika mendengar suara Sehun berganti menjadi suara Jongin. “aku sudah mengatakannya pada Sehun, bukankah dia sudah menyampaikannya? Dan, aku tidak menyuruhmu untuk menungguku sampai tengah malam Jongin­­­-ah

“ada apa? kenapa kau seperti ini?”

“apa maksudmu?’

kau marah padaku?”

“marah? atas dasar apa aku marah padamu?”

Terdengar helaan nafas panjang dari Jongin, “besok aku akan menjemputmu di kampus”

“untuk apa? aku akan pulang dengan Luna”

“ada apa? katakan padaku Sulli-ya, jangan membuatku khawatir” ucap Jongin lembut. Sulli tahu, kalau sudah melembutkan suaranya seperti itu, tandanya Jongin sudah benar-benar tidak bisa membantah Sulli dan mencoba meluluhkan hati gadis itu.

Kalau biasanya ia akan luluh dan langsung mengatakan apa yang menganggu fikirannya pada Jongin. Kali ini tidak semudah itu. Sulli mendesis dan menjawab, “tidak ada apa-apa Jongin-ah. hanya sedang ada masalah sedikit” bohong Sulli.

“tidak ingin bercerita denganku?”

ani, sudah ada Luna disini yang akan mendengarkan ceritaku, tidurlah Jongin-ah, besok kau harus latihan. jaljayeo

saranghae Sulli-ah…

Kalau biasanya Sulli akan menjawab ucapan Jongin, kali ini tanpa mengatakan apapun Sulli langsung memutuskan sambungannya.

Ia melempar ponselnya dengan kesal dan mulai menangis. Ia mulai tidak mengerti dengan dirinya sendiri, belakangan ini entah mengapa dirinya sering sekali menangis. Ada saja yang membuat suasana hatinya menjadi buruk.

“Sulli-ya, kau mungkin harus membiarkan Jongin mejelaskan padamu” Luna dari belakang mulai memeluk Sulli mencoba menenangkan sahabatnya itu.

“dia sudah berbohong Luna-ya, aku tidak suka Jongin berbohong” isak Sulli. kini pundak Luna mulai basah terkena air matanya. “Jongin mulai dekat dengan seorang wanita, dan ia tidak menceritakannya padaku…”

“kenapa Jongin harus menceritakannya padamu?”

Sulli diam sejenak, “aku… aku tidak suka Luna-ya. aku tidak suka kalau Jongin melupakanku demi wanita lain..”

“kau mencintai Jongin, Sulli-ya?

aniyo!” Sulli menjawab dengan cepat. Ia langsung menegakkan tubuhnya dan menatap Luna, “ya, memang aku menyayangi Jongin, tapi itu karena aku sudah menganggapnya sebagai oppa ku, tapi untuk mencintainya…. Aku rasa itu tidak mungkin”

“kenapa tidak mungkin? Bisa saja tanpa sadar kau mulai mencintainya?”

Sulli menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya pelan. Lebih baik ia mulai mengganti topic karena ia tidak akan mungkin

“sudahlah Luna-ya, aku malas membahasnya. Lebih baik kita tidur, jaljayo” tidak ingin memperpanjang percakapan, Sulli langsung membaringkan tubuhnya membelakangi Luna lalu menarik selimut sampai menutupi wajahnya.

Apa yang di bicarakan Luna tadi, tentu saja itu tidak mungkin. Sulli tidak mungkin mencintai Jongin, oh ya, ia memang mencintai Jongin, tapi bukan dalam arti mencintai sebagai seorang pria, Sulli mencintai Jongin sebagai keluarga.

Banyak orang mengatakan kalau sedang jatuh cinta, ia akan merasa berdebar-debar ketika berada di dekat orang tersebut, tapi Sulli tidak, ia tidak berdebar ketika berdekatan dengan Jongin. Bukankah itu cukup menjelaskan kalau ia tidak mencintai Jongin?

Ah sudahlah. Memikirkan hal ini tidak aka nada habisnya. Orang-orang boleh mengira kalau ia jatuh cinta pada Jongin, tapi yang sangat mengerti perasaannya jalas saja dirinya sendiri. Tidak perduli orang lain mengatakan kalau ia mencintai Jongin, toh ia memang mencintainya, sangat mencintai Jongin sebagai sahabat dan keluarga. Hanya itu.

 

***

 

“setelah ini aku ada di kelas jurnalistik, aku akan bertemu denganmu di perpus Luna-ya, aneyong” setelah memeluk sahabatnya itu, Sulli keluar dari mobil dan berlari menuju kelas pertamanya. Ia sedikit terlambat. Sebenarnya ia ingin berangkat naik bus saja ke kampus saat melihat Luna sedang tidur dengan nyenyaknya, hari ini sahabatnya itu tidak ada kelas sampai jam 2 nanti, jadi tidak enak rasanya kalau harus memaksa Luna bangun pagi sedangkan semalam mereka tidur sangat larut. Tapi berhubung ia benar-benar sangat terlambat bangun, jadi Sulli terpaksa membangunkan Luna dan memintanya untuk mengantar.

Saat memasuki lorong, Sulli mempercepat larinya dan ketika seseorang berdiri tidak jauh darinya, tanpa bisa di rem Sulli menabrak tubuh pria itu hingga tubuhnya terpental dan hampir jatuh kalau saja lengannya tidak di tahan.

“aww..” ringisnya, lalu segera menegakkan tubuhnya, “mianhe, aku sedang buru-buru” ucapnya sambil membungkukkan badannya dan kembali mengambil ancang-ancang untuk berlari. Tapi saat ia melewati pria yang di tabraknya, tiba-tiba saja lengannya di tarik dan tubuhnya kembali berdiri di hadapan pria itu.

Sulli merasa kesal. Ia sudah terlambat masuk kelas dan sekaranng ia akan semakin terlambat karena pria dihadapannya ini tidak membiarkannya pergi. Oh demi tuhan! Ia tidak sengaja menabraknya kenapa juga pria itu harus menahannya seperti ini?

Dengan ke kesalan yang sudah menumpuk, Sulli mendongakkan kepalanya dan langsung memutar kedua bola matanya ketika melihat siapa pria dihadapannya itu.

Oh Sehun.

“ada apa?! aku sudah sangat terlambat masuk kelas dan sekarang kau menahanku yang berarti membuatku semakin terlambat!” bentak Sulli.

“hey, santai saja, nona” Sehun menanggapi dengan santai, sama sekali tidak terganggu dengan kemarahan Sulli.

“mau apa kau?” ketus Sulli. ia melirik jam tangannya dan menghembuskan nafas panjang. Percuma kalau ia masuk kelas sekarang, nanti yang ada ia justru di hukum dosennya dan di berikan tugas yang tidak tanggung-tanggung. Dari pada mengambil resiko itu, Sulli lebih memilih membolos saja sekalian.

“bagaimana kalau kita bicara di café terdekat? Mengingat kita mendapat kelas pertama yang sama, dan sangat jelas sekarang sudah sangat telat, bukankah lebih baik kita membolos?”

“terserah” sahut Sulli acuh lalu berbalik berjalan mendahului Sehun. “dimana kau memarkirkan kendaraanmu?”

Sehun tersenyum lebar mendengar ucapan Sulli. Ia segera mempercepat langkahnya dan menggenggam tangan Sulli untuk mengikutinya. “sebelah sini, nona”

Sulli tertegun menatap tangannya yang kini berada dalam genggaman Sehun. Selain Jongin, inilah pertama kali nya seorang pria menggenggam tangannya seperti itu. Mencoba meredakan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak di luar batas, Sulli hanya bisa diam menurut kemana Sehun membawanya.

“ah.. aku lupa!”

Sulli mengangkat kepalanya menatap Sehun ketika mendengar pria itu mengumpat. Ia memiringkan kepalanya dan menatap Sehun dengan alis menyerngit.

“umm… aku tidak membawa mobilku, tidak apa kan kalau kita naik motor?” tanya Sehun hati-hati, dan sebelum Sulli bisa menjawab, pria itu sudah menyelak nya dengan berkata, “tapi kita bisa naik taksi kalau kau mau”

Melihat kekhawatiran Sehun, tanpa sadar membuat Sulli terkekeh pelan. Kenapa pria itu harus khawatir kalau ia tidak mau naik motor? Ia tidak memiliki trauma yang parah untuk menaiki motor. “aku bahkan belum menjawab mu Oh Sehun”

“oh.” Ucap Sehun yang kini menatap Sulli dengan intens.

Ditatap seperti itu oleh Sehun, tentu saja membuatnya gugup. Sulli berdehem untuk membersihkan tenggorokkannya dan menjawab, “kita lebih baik naik motor daripada harus membuang-buang uang untuk naik taksi” setelah mengatan itu, Sulli menarik tangannya dari genggaman Sehun dan membalikkan tubuhnya. “dimana motormu Sehun-ssi?

Dan tubuh Sulli langsung membeku ketika desahan nafas Sehun terasa di telinganya ketika pria itu berkata, “kau terlihat sangat cantik saat tersenyum”

Ya Tuhan! Ada apa dengannya? Sulli memegangi dadanya mencoba menenangkan detak jantungnya. Berada di dekat Sehun sepertinya tidak baik untuk jantungnya, karena tiap kali pria itu melakukan hal tak terduga, jantungnya akan langsung berdetak kencang seolah akan melompat.

“kau tunggu disini, aku akan mengambil motorku” ucap Sehun tersenyum lebar, sebelah tangannya menepuk puncak kepala Sulli sebelum akhirnya berlari ke parkiran untuk mengambil motornya.

Selagi menunggu Sehun, Sulli merutuki dirinya yang tiba-tiba aneh seperti ini. Ia tidak terbiasa dengan sentuhan dari para pria, ya tentu saja Jongin terkecuali, jadi mungkin wajar saja kalau dirinya bereaksi seperti ini bukan? Jantungnya yang berdetak tak karuan, tentu saja itu pasti hanya karena ia kaget karena belum terbiasa. Pasti seperti itu. Sebisa mungkin Sulli mencoba untuk meyakinkan dirinya.

            Dan ketika Sehun muncul dengan motornya Sulli menghembuskan nafas panjang mencoba tenang. Sehun memberhentikan motornya tepat di depan Sulli dan langsung memakaikan helm di kepala Sulli. Merasakan jarak wajah mereka yang sangat dekat, Sulli reflek memundurkan kepalanya, tetapi Sehun yang mencoba mengaitkan tali helm di kepala Sulli justru menariknya yang membuat jarak wajah mereka semakin dekat. Selesai memakaikan helm, Sehun mengulurkan tangannya pada Sulli untuk membantunya naik ke atas motor.

“lingarkan tanganmu pada pinggangku” perintah Sehun.

Sulli tercengan mendengarnya, “mwo?! shireo!” tukasnya.

Dan tiba-tiba Sehun membalik tubuhnya untuk mengambil lengan Sulli dan melingkarkan di pinggangnya. Ditarik secara tiba-tiba seperti itu, membuat tubuh Sulli langsung bertubrukan dengan punggung Sehun. Dalam hati ia berdoa semoga saja Sehun tidak merasakan detak jantung nya yang lagi-lagi berdetak di luar batas.

“lepaskan tanganmu Oh Sehun. kau akan membahayakan kita berdua kalau hanya menyetir dengan satu tangan”

Sehun tidak mengindahkan ucapan Sulli. Sebelah tangannya masih menggenggam lengan Sulli yang melingkar di perutnya sedangkan sebelah tangannya yang lain memegang stang motor. “tidak masalah, aku ahli dalam mengemudi”

yak! Lepaskan tanganmu Oh Sehun!”

“tidak akan, karena aku tahu kalau aku melepaskannya kau akan melepas peganganmu dari pinggangku”

“aku berjanji akan terus berpegangan padamu!”

yakso?!

ne!

Dan dengan begitu, Sehun melepaskan tangannya dan mulai mengemudi dengan normal. Sulli menghela nafas panjang dan langsung cemberut. Lelah kalau kepalanya terus tegak, akhirnya ia menyandakan dagu nya pada bahu Sehun. “kau sangat pemaksa.”

 

***

 

“jadi, kenapa kau tiba-tiba menjauhi Jongin?” tanpa basa-basi, setelah mereka mendapatkan tempat dan memesan makanan ringan serta minuman Sehun langsung bertanya.

Sulli yang mendengar pertanyaan Sehun langsung menopang dagu dan menatap ke arah luar candela. Gadis itu terlihat jelas tidak mau membahas masalah ini. Tapi bukan Sehun namanya kalau tidak bisa mendapatkan apa yang ia mau, jadi ia kembali berucap. “aku memang tidak tahu sedekat apa kalian, tapi ini pertama kali nya aku melihat Jongin marah seperti semalam. Dia sangat mengkhawatirkanmu Sulli-ya

“aku tidak ikut denganmu untuk membahas masalah ini Sehun-ssi” ucap Sulli masih tidak mengalihkan tatapannya.

“tapi aku mengajakmu kesini untuk membahas masalah ini.” ucap Sehun tegas. “Jongin menunggumu sampai tengah malam, ia bisa saja kena hukuman kalau Wu yifan hyung mengetahuinya”

“aku tidak memintanya untuk menungguku, lagi pula aku sudah meminta tolong padamu untuk menyampaikannya”

“aku minta maaf soal itu,” Sehun meringis seraya menggaruk belakang kepalanya, “aku sangat kelelahan dan langsung tertidur begitu sama dorm”

Sulli mengangkat bahunya acuh, “setidaknya kau menyampaikannya saat kau bangun tengah malam”

“kenapa Sulli-ya?” suara Sehun berubah serius. Melihat Sulli yang masih tidak berpaling, ia menjulurkan tangannya untuk menangkup kepala Sulli dan memaksanya menatap padanya. “apa kau menyukai Jongin?”

Sehun sempat melihat kekagetan dalam mata Sulli saat ia menangkup wajahnya, tapi segera ia menguasai ekspresi nya dan menepis tangan Sehun. “te..tentu saja… tentu saja aku menyukai Jongin” ucapnya terlihat salah tingkah.

Entah salah tingkah akibat perlakuannya barusan atau karena ucapannya yang mengatakan kalau ia menyukai Jongin, Sehun benar-benar tidak bisa menebaknya. Kalau Sulli gugup akibat pertanyaannya, apakah benar gadis itu menyukai Jongin? Benarkah ada sesuatu di antara mereka berdua? Jatuh cinta? Apa Sulli jatuh cinta pada Jongin?

Kepala Sehun terasa mau pecah dengan seribu pertanyaan yang mulai bersarang di kepalanya. Ia mengusap wajahnya dan kembali menatap Sulli. “apa kalian berkencan?”

Dan reaksi yang sangat tidak di sangka, Sulli justru tertawa mendengar pertanyaan Sehun kali ini. “apa kau gila?! Tentu saja tidak! Aku bukanlah gadis yang Jongin harapkan untuk membahagiakannya!”

“tapi kau terlihat terganggu saat mengetahui Jongin sedang dekat dengan seorang gadis. Kau cemburu?”

molla” wajah Sulli berubah murung, “ini hanya tidak biasa untukku. Jongin selalu menjadi milikku, dan terasa aneh saat mengetahui ia dekat dengan gadis lain”

“kau menyayanginya kan?”

“harus berapa kali kau bertanya seperti itu? aku jelas saja menyayangi Jongin.”

Sehun semakin bingung. Ia menatap Sulli dengan seksama mencoba membaca gadis itu. Apa sebenarnya yang ada di kepala gadis itu? bagaimana perasaannya pada Jongin?

“kalau kalian saling sayang kenapa tida–”

“Sulli-ya, kebetulan bertemu denganmu, bisakah kita bicara?”

Sehun dan Sulli mendongakkan kepalanya untuk mentap siapa gadis yang memotong pembicaraan mereka. Ketika melihat Krystal berdiri dengan anggun di depan meja mereka, Sehun langsung menatap Sulli yang sedang menatap Krystal dengan tatapan bingung, penuh harap dan… khawatir.

Menoleh padanya, Sulli tersenyum meminta izin. “maafkan aku Sehun­-ssi, aku akan segera kembali” dan setelah mengatakan itu. Sulli beranjak dari tempatnya dan mengikuti Krystal berjalan keluar café.

Tadi Sulli mengatakan kalau ia akan kembali bukan? Jadi lebih baik ia menunggu disini sampai gadis itu kembali.

 

***

 

5 thoughts on “You Never Give Me a Chance Part 6

  1. claudya han berkata:

    Jadi ikutan bingung,sulli g mau kehilangan jongin,jongin jg overposessif sm sulli, trus sikap sulli k sehun kyny udh mulai berubah tuh….. trus kristal mau ngapain tuh??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s