You Never Give Me a Chance Part 5

sesulli copy

Nama : @sehuhet
Judul Cerita : You Never Give Me a Chance
Tag : Oh Sehun, Choi Sulli, Kim Jongin, Jung Krystal, and other.
Genre : friendship, romance, sad (maybe)
Catatan Author : cerita ini murni buatan author sendiri, mohon jangan di copas. Dan author mohon maaf kalau ada yang tidak suka dengan castnya, sesungguhnya cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf juga kalau banyak typo. Ditunggu komennya juga yaa, makasihh🙂

Happy Reading~

***

Sulli pasti akan gila karena lagi-lagi ia mau tidak mau harus berangkat ke kampusnya bersama Sehun. Saat sedang sarapan tadi, Sehun yang bangun kesiangan dan datang keruang makan terakhir tiba-tiba saja meminta Jongin untuk membiarkan Sulli berangkat bersamanya. Awalnya Jongin menolak, tentu saja, Jongin sudah berjanji untuk mengantarnya hari ini karena kemarin ia tidak mengantarnya, tapi Sehun, dengan alasan yang sangat masuk akal, ‘aku dan Sulli kan satu kampus, jadi kau tidak perlu bolak-balik’ mampu membuat Jongin setuju dengan mudahnya.

Memang kemaren Sulli sangat menghargai apa yang dilakukan Sehun padanya. Tapi bukan berarti ia mulai membuka hati untuk mau dekat dengan Sehun. Hati nya masih sangat tertutup untuk orang-orang seperti Sehun.

“hari ini kelas mu selesai jam berapa?”

Sulli mendengus, “jam 2, tapi aku–”

“tidak ada alasan kau harus membantu teman mu lagi Sulli-ya, kemarin kau sudah pulang sangat larut dan tidak untuk hari ini”

“tapi tugasku belum selesai!” protes Sulli.

“kau bilang temanmu akan kembali hari ini, jadi biarkan saja dia yang mengurusnya!” Sehun tidak mau kalah.

Merasa sangat lelah kalau harus terus bertengkar dengan Sehun, Sulli memelankan suaranya seolah ia menyerah, “Soehyung menitipkan tugas ini padaku Sehun-ssi, aku tidak mau bekerja setengah setengah”

Kalau mereka berdua berbicara dengan emosi, tidak aka nada habisnya. Salah satu dari mereka harus ada yang mengalah dan berbicara dengan kepala dingin.

Benar saja, Sehun menghela nafas panjang dan berucap, “baiklah, jam berapa kerjaanmu itu selesai? Tidak boleh lebih dari jam 5 sore, telfon aku kalau sudah selesai atau aku sendiri yang akan menghampirimu ke kampus”

“tenang saja, tidak akan lewat jam 5, tugas ku hanya tinggal beberapa yang harus diselesaikan, karena Soehyun sudah kembali, ia juga pasti akan membantuku” ucap Sulli

“bagus.”

“lagipula,” Sulli menyipitkan matanya pada Sehun, “kenapa aku harus menelfonmu? Aku bisa pulang sendiri atau menelfon Jongin untuk menjemputku.”

“aku hari ini tidak ada latihan, jadi aku akan menunggumu di kampus”

YAK! Aku kan sudah bilang kau tidak perlu menungguku!” omel Sulli.

“kita satu kampus, apa salahnya kalau berangkat dan pulang bersama? Itu akan menghemat waktu!”

Sulli memijat keningnya untuk menahan emosi. Kenapa emosinya akan selalu tersulut tiap kali berbicara dengan Sehun? Keduanya pasti akan adu mulut tiap kali bicara.

yak, Sehun-ssi, aku ini sudah besar, kau pun juga. kita bedua memiliki urusan masing-masing, tidak mungkin kau menungguku selama kurang lebih dua jam hanya untuk pulang bersama. Aku bisa naik bus untuk pulang”

Diam sesaat, Sehun tidak mengatakan apapun. Lalu ucapan Sehun selanjutnya sukses membuat Sulli tercengang. “kenapa kau membenciku Sulli-ya

Sulli menoleh ketika mendengar nada dingin dari suara Sehun. “aku tidak membencimu”

“kenapa kau menangis semalam?”

Sulli tersentak. Ia tidak menyangka Sehun akan membahas itu lagi, “bukan urusanmu Sehun-ssi. Berhentilah mengangguku, jebbal..

“mengganggu?” ucap Sehun tidak percaya lalu tertawa hambar, “aku tidak pernah menagganggu mu Sulli-ya

“berhentilah berada disekelilingku.”

“bagaimana caranya? Kita tinggal di dorm yang sama, kita juga satu kampus, bagaimana aku bisa tidak berada di sekelilingmu?”

“kampus ini besar, kecil kemungkinan untuk kita bertemu, dan sepertinya malam ini aku akan tinggal dirumah temanku sampai ibu ku pulang” setelah mengatakan itu, Sulli langsung membuka pintu mobil dan keluar. Ia jengah dengan sikap Sehun yang mengganggunya, memang apa yang dilakukan Sehun tidak bisa di bilang menganggu, tapi karena Sulli membenci –status- Sehun, ia merasa sangat terganggu.

Tubuh Sulli terhuyung kebelakang saat lengannya di tarik oleh seseorang dan kini ia sudah berhadapan langsung dengan Oh Sehun. Jarak diantara mereka begitu dekat sampai-sampai Sulli bisa merasahan desahan nafas Sehun di wajahnya. Kedua mata mereka bertemu, dan baru Sulli sadari betapa indah kedua mata Sehun yang terlihat sinis, kedua alisnya yang mencuat seolah sedang marah, hidung mancungnya, bibir merahnya. Sekali lagi Sulli mengakui kalau Oh Sehun memang definisi pria sempurna.

“kenapa kau membenciku Sulli-ya?

Sulli mengerjapkan matanya teradar dari fikirannya, dan menjawab, “aku tidak membencimu, lepaskan aku Sehun-ssi

“Kenap.kau.membenciku?!” sehun mengulang kata-katanya, kali ini penuh dengan penekanan di setiap katanya. Merasakan dari deru nafas Sehun yang tidak teratur dan terburu-buru, Sulli tau kalau pria itu sedang dalam emosi yang cukup tinggi.

Kepala Sulli mendadak pusing menghadapinya. Oh Sehun yang begitu dekat dengannya, wajah mereka yang hanpir bersentuhan, cengraman kencang di kedua lengannya, membuat kepala Sulli tiba-tiba sakit. Ia memejamkan matanya mencoba untuk menenangkan fikirannya.

Dan dirasakannya cengkraman Sehun yang mulai melonggar dan tubuh Sehun yang mulai menjauh. Ia membuka matanya dan melihat tidak ada lagi emosi di wajah Sehun, berganti dengan raut kekhawatiran yang terpampang di wajah tampannya.

“Sulli-ya, gwenchana?

Sulli mencoba tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. Entah apa yang terjadi padanya, tapi ia merasa tiba-tiba saja tubuhnya melemah. Kalau saja Sehun tidak melingkarkan tangannya pada tubuh Sulli, pasti ia sudah terjerembab di lantai. Tubunya benar-benar lemah sekarang dan ia menyalahkan pra menstruasinya. Ini selalu terjadi di hari pertamanya datang bulan.

“hey, gwenchana? Ada apa denganmu?” Sehun bertanya dengan penuh ke khawatiran.

Sulli mendongakkan kepalanya menatap Sehun, “bisakah… bisakah kau membantuku ke ruang kesehatan? Aku merasa tidak enak badan”

“ingin ke rumah sakit?”

Sulli langsung menggelengkan kepalanya cepat mendengar ucapan Sehun. sakit seperti ini tentu saja tidak perlu sampai di bawa kerumah sakit. Istirahat sebentar pun keadaannya akan pulih kembali. “aniya, aku…ini… ini hari pertamaku datang bulan… jadi.. seperti gadis-gadis lain… aku akan merasa pusing dan tidak enak badan…” Sulli mengatakan itu dengan terbata-bata, ia menundukkan kepalanya dalam-dalam mencoba menyembunyikan pipi nya yang pasti sudah bersemu. Mengatakan hal seperti itu pada seorang pria tentu saja sangat memalukan.

“oh?” Sehun menatap Sulli dengan sebelah alis terangkat. Dan seperti mengerti apa yang dikatakan Sulli, Sehun hanya menganggukkan kepalanya canggung. “umm… apa.. kau bisa berjalan? Atau aku perlu menggendongmu?”

ani..ani.. aku masih bisa jalan sendiri”

“apa kau yakin?” tanya Sehun terlihat tidak yakin. Biarpun begitu, ia tetap memegangi bahu Sulli untuk membantunya berjalan. “apa wanita kalau sedang datang bulan selalu seperti ini? aku kira hanya akan tidak stabil saja emosinya”

“tidak semua, tergantung.”

“kenapa kau bisa selemah ini?” sehun menundukkan kepalanya mendatap Sulli. sebelah alisnya terangkat, terlihat tidak senang saat melihat wajah Sulli.

Ditatap seperti itu, Sulli hanya bisa tersenyum tipis dan bertanya, “kenapa kau menatapku seperti itu? aku tidak akan mati”

“tapi wajah mu sangat pucat”

“ini hanya sementara, nanti juga akan baik-baik saja” setelah mengatakan itu, Sulli merasa benar-benar lelah. Hari pertama datang bulannya selalu seperti ini. Saat SMA dulu, ia bahkan pernah tidak masuk sekolah karena hal ini. Ibunya sudah membawanya ke dokter dan tidak ada masalah yang serius, tapi tetap saja jika hal ini terus-terusan seperti ini ia merasa lelah menghadapinya.

Tanpa mengatakan apapun, dengan lengan Sehun yang melingkar di bahunya, Sulli merebahkan kepalanya yang kembali terasa pusing di pundak sehun. Ia benar-benar menyalahkan pra menstruasi nya karena lagi-lagi ia harus terlihat lemah di depan Sehun.

 

***

 

“hey, Sulli-ya, gwenchana?

Sulli membuka matanya perlahan dan melihat Luna sudah duduk di pinggir kasurnya. Ia menatap ruang kesehatan mencari Sehun. Setelah dilihatnya sepertinya pria itu tidak ada Sulli kembali memejamkan matanya.

Tentu saja Sehun tidak disini, memang nya ia siapa yang harus ditunggui? Sehun juga harus kuliah dan memiliki jadwal latihan yang padat daripada harus repot repot mengurusinya.

            “kau mencari Sehun? aku menyuruhnya pergi saat tahu kalau kau disini. Sehun lah yang menungguimu hampir 2 jam lebih selama kau tertidur”

Sulli membuka matanya dan menatap Lunah tidak percaya. “aku tertidur sampai dua jam lebih? Dan Sehun menungguiku? Jangan bercanda.” Ucapnya. Ia melirik jam dinding dan benar saja, sepertinya ia benar-benar tidur selama dua jam.

Seperti biasanya, setelah istirahat, tubuhnya akan mulai membaik, kepalanya tidak lagi pusing dan perutnya tidak lagi sesakit tadi.

“bagaimana kau bisa mengenal Sehun?” Luna bertanya dengan curiga.

“bagaimana kau bisa tahu aku disini?” Sulli yang menolak menjawab pertanyaan Luna justru balik bertanya.

molla, tadi aku merasa pusing dan berniat meminta obat, lalu aku melihat Sehun duduk ditempatku sekarang sedang bersandar pada dinding dan matanya terpejam. Saat aku melihat kau lah yang terbaring di kasur, tentu saja aku langsung panic dan membuatnya bangun” Luna menatap Sulli dengan cemberut, “setelah itu aku mengenalkan diri sebagai teman dekatmu dan dia menyuruhku untuk menjagamu karena setelah ini dia ada kelas”

“kau bilang tadi kaulah yang mengusirnya” desis Sulli. Ia membangunkan tubuhnya mencoba untuk duduk dan menyandarkan kepalanya pada sandaran tempat tidur.

“ah lupakan.” Gerutu Luna lalu gadis itu menyipitkan matanya menatap Sulli. “bagaimana kau mengenal Sehun? kalau tidak sedang amnesia, kau sangat benci dengan idol sepertinya”

“aku memang membencinya, Sehun lah yang terus mengangguku” gumam Sulli. “Luna-ya, bolehkah aku menginap dirumahmu sampai ibuku pulang? aku tidak mau tinggal satu dorm dengan Sehun dan teman teman trainee Jongin”

 

“boleh saja kau menginap dirumahku, tapi kan…. MWO??! kau tinggal satu dorm dengan Sehun?!”

Sulli mencibir Luna karena begitu lama memproses ucapannya. “ne, sementara eumma pergi, Jongin membawaku ikut bersamanya dan ternyata Sehun adalah adik dari pelatih trainee disana yang juga pemiliki dorm”

aigooo…. Kenapa justru orang sepertimu yang membenci idol selalu mendapat keberuntungan berada di sekeliling mereka.”

Sulli memutar kedua bola matanya mendengar ucapan Luna. Ia menoleh kearah meja di sampingnya saat ponselnya berdering. Sesaat ia hanya menatap ponselnya itu dengan alis menyerngit karena heran, bagaimana ponselnya bisa disana padahal tadi pagi itu ada di tasnya?

Tidak ingin terlalu memikirkannya, ia pun mengambil ponselnya itu dan menjawab sambungannya.

yoboseo?

“ah, syukurlah kau sudah sadar, kau tidur lama sekali sampai – sampai aku mengira kalau kau sudah mati. Bagaimana keadaanmu?”

Sulli mengangkat sebelah alisnya bingung, ia menjauhkan ponselnya untuk melihat siapa yang menelfon dan hanya melihat nomor tidak di kenal terpampang di layar ponselnya. “ini siapa?”

“aih.. kau bahkan tidak mengenali suaraku.” Gerutu orang disebrang sana, “ini Oh Sehun,”

“eoh? Bagaimana kau mendapatkan nomorku?”

“menelfon langsung dari ponselmu, karena aku tau kau tidak akan memberikannya kalau aku meminta”

“memang,” Sulli membenarkan, “tapi setidaknya kau kembalikan lagi ponselku di tas dan bukannya menaruh sembarangan di atas meja.” Omelnya

Sehun tertawa, “mianhe, habis tadi aku bosan menungguimu jadi aku meminjam ponselmu untuk main game”

“aku tidak memintamu untuk menungguiku, disana ada dokter dan suster, Sehun-ssi, mereka akan menjagaku”

“aku hanya takut kau merindukanku saat bangun,” ucap Sehun terdengar polos, “kau pasti mencariku kan saat bangun tadi?”

aniya!” ucap Sulli cepat. Tentu saja ia tidak akan mengatakan pada Sehun kalau ia sebenarnya tadi sempat berharap kalau Sehun masih menungguinya saat ia sadar. Pria itu bisa besar kepala dan semakin menganggunya nanti.

“jujur saja lah Sulli-ya” ucap Sehun menggoda lalu tertawa kencang.

“jangan tertawa! Tidak ada yang lucu!” tukas Sulli kesal, ia mencibir Sehun ketika mendengar tawa pria itu justru semakin terdengar puas.

“apa kau akan melanjutkan kelasmu setelah ini? atau langsung pulang? aku akan mengantarmu”

“tidak perlu, Luna yang akan mengantarku nanti ke dorm untuk ambil baju dan kembali ke rumah Luna. Aku benar-benar akan pindah malam ini”

Hening sejenak. Sehun tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat sampai akhirnya pria itu menghela nafas panjang. “apa kau sudah mengatakannya pada Jongin? Apa kau yakin dia akan mengizinkanmu?”

molla, aku bisa bicara padanya nanti”

“oke, terserah padamu saja.” dan setelah mengatakan itu Sehun menutup sambungannya.

Sulli menaikkan sebelah alisnya bingung seraya menatap layar ponselnya. Ada apa dengan Sehun? sebentar-sebentar baik, sebentar-sebentar badmood. Sangat mudah berubah-ubah.

“Oh Sehun?”

Sulli mendongakkan kepalanya menatap Luna. “ouh? Ne, yang tadi itu Sehun-ssi

“dia tidak setuju kalau kau pindah ketempatku?”

Sulli mengangkat kedua bahunya acuh, “bukan urusannya, ini pilihanku”

Luna menatap Sulli dengan seius, “kau sudah bicara pada Jongin? Aku yakin dia tidak akan mengizinkanmu”

molla, untuk Jongin itu masalah nanti saja. kajja, kita harus masuk kelas berikutnya”

 

***

 

Sehun melempar asal tasnya di sofa tempat latihannya. Setelah kelas terakhirnya tadi ia langsung ke tempat latihan. Seharusnya hari ini ia tidak ada jadwal latihan, tapi emosinya sedang tidak stabil dan ia memilih untuk melampiaskannya dengan latihan.

Ia berdiri di depan cermin besar dihadapannya dan menatap dirinya lekat-lekat. Apa yang salah dengan dirinya? kenapa Sulli membencinya? Kenapa gadis itu menjauhinya seolah – olah ia adalah hama yang sangat menganggu?

“ada apa Sehunie? Kenapa wajahmu keruh seperti itu?”

Dari kacar di depanya, Sehun menatap Chanyeol, salah satu teman latihannya, dan kembali mengalihkan pandangannya. Ia sedang tidak dalam mood baik sekarang. pembicaraan terakhirnya dengan Sulli benar-benar menjatuhkan mood nya. Ia sendiri tidak mengerti kenapa bisa seperti ini, sebelumnya tidak ada seorang wanitapun yang pernah membuatnya merasa seperti ini, tidak ada seorang wanita pun yang mencampur adukkan emosinya.

Alasan pertama mungkin Karena Sulli tidak tertarik padanya. Disaat banyak wanita di sekelilingnya memuja dan menyuakinya, Sulli justru membenci dan menjauhinya. Gadis itu selalu membuatnya merasa ingin dekat dan melindunginya.

Saat melihat Sulli menangis sendirian di tengah hujan deras kemarin, ia benar benar berharap bisa membaca fikiran orang, ia ingin menenangkan gadis itu dan pada akhirnya yang bisa ia lakukan hanya memeluknya. Ia ingin masuk kedalam kehidupan Sulli, ia ingin tahu apa yang membuat Sulli membenci nya, ia ingin tahu apa yang membuat Sulli membenci idol.

Apa Jongin tahu tentang hal ini? kemungkinan besar pria itu tahu. Mengingat bagaimana dekatnya mereka berdua, tentu saja Jongin tahu alasan Sulli membenci idol. Tapi satu yang pasti, ada yang Jongin tidak ketahui. Jongin tidak tahu alasan kenapa Sulli menangis malam itu, dan Sehun bertekad harus tahu alasannya. Ia ingin melindungi Sulli, ia ingin membuat gadis itu merasa nyaman dan bisa tersenyum bersamanya.

 

***

 

Latihan telah usai. Rasa lelah benar-benar menghampirinya sekarang. Saat latihan tadi, sepertinya ia terlalu mengerahkan tenaga nya untuk melampiaskan emosinya dan sekaranglah ia baru merasakan bagaimana tenaganya sudah terkuras habis. Sehun memilih menelfon Jongin untuk menjemputnya karena merasa benar-benar tidak sanggup menyetir. Tubuhnya sudah benar-benar remuk sekarang.

Tanpa melihat layar ponselnya, ia menekan tombol hijau dan memilih panggilan terakhirnya.

yoboseo, Jongin-ah, bisakah kau menjemputku di tempat latihan? Aku merasa sepertinya tubuhku akan hancur dan tidak bisa menyetir”

“aku bukan Jongin.”

Mendengar suara wanita di ponselnya, Sehun segela menjauhkan ponselnya dan menepuk jidat ketika dilihatnya nama Sulli lah yang terpampang disana. Seingatnya, panggilan terakhirnya tadi tertuju pada Jongin karena ia menanyakan tentang kakaknya, Wu yifan.

“ah.. mianhe, kalau begitu aku putus dulu sambungannya” Sehun sudah akan memutuskan sambungannya ketika suara Sulli memanggil namanya.

“Sehun-ssi?

Sehun tentu saja tidak jadi memutus sambungannya dan menjawab, “ne?

“Jongin sedang keluar diminta soesangnim menggantikannya lagi,” diam sejenak, lalu terdengar suara helaan nafas dan suara Sulli kembali terdengar, “umm… kau… euh… mau aku yang menjemputmu? Kirimkan saja alamat tempat latihanmu dan aku akan meminta Luna untuk kesana”

“huh?” kedua mata Sehun terbuka lebar tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Sulli menawarkan diri untuk membantunya? Jinjja? “apa… tidak apa??”

gwenchana, kau sepertinya sedang sangat lelah dan Jongin sedang tidak ada. hitung-hitung kau sering membantuku tidak ada salahnya kan kalau aku balas membantumu?”

“umm.. baiklah, aku akan mengirimkan alamat tempat latihanku. Gomawo Sulli-ya” setelah mengatakan itu Sehun memutuskan sambungannya dan mulai mengetikan alamat tempat latihannya lalu mengirimkannya pada Sulli.

Ia tdiak menyangka Sulli akan menawarkan bantuan padanya. Yah, ia pun tidak bisa menolak karena tubuhnya sedang tidak bisa di ajak kerjasama. Orang yang bisa membantunya hanya Jongin, karena Jongin lah satu-satu nya murid trainee kakaknya yang dekat dengannya. Ia bisa saja meminta hyung nya untuk menjemput, tapi kalau hyung nya saja sudah meminta Jongin untuk menggantikannya mengajar pastilah hyung nya itu memiliki urusan yang lebih penting.

Sudah setangah jam Sehun menunggu, dan selagi menunggu ia hanya bisa menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi untuk mengistirahatkan tubuhnya. Tenaganya benar-benar sudah terkuras habis.

Rencananya yang ingin istirahat penuh dengan meminta libur latihan hari ini justru berbalik membuat tubuh nya serasa akan hancur. Salahkan emosi nya yang mudah sekali tersulut hanya karena Sulli. Gadis itu benar-benar pintar mencampur adukkan emosinya, sampai Sehun sendiri tidak bisa mengendalikannya.

 

Tok. Tok.

 

Mendengar suara ketukan di kaca mobilnya Sehun menoleh dan menegakkan tubuhnya. Dilihatnya Sulli menyuruhnya membuka pintu dengan isyarat tangannya, lalu berbalik untuk bicara dengan temannya dan tidak lama kembali ke mobil Sehun yang sudah terbuka. Sulli langsung menduduki kursi kemudi dan mulai melajukan mobil Sehun.

Selama di perjalanan tidak ada yang membuka suara. Sehun yang memang sedang lelah tidak berencana membuka suara karena ia tahu kalau mereka berbicara akan berujung pada pertengkaran. Tubuh dan fikirannya sudah terlalu lelah untuk bertengkar.

“kau bilang hari ini sedang tidak ada jadwal latihan”

Akhirnya, setelah hampir setengah perjalanan, Sulli membua pembicaraan.

Sehun tanpa membuka kedua matanya hanya bisa menjawab seadanya, “sedang dalam mood buruk.”

“huh? Kau ini aneh,” ucap Sulli lalu tertawa hambar, “disaat mood sedang tidak baik, kebanyakan orang akan lebih memilih mengistirahatkan tubuhnya, tidak seperti mu yang justru menyiksa tubuhmu”

“menjadi dancer adalah mimpiku Sulli-ya,” ucap Sehun pelan, “saat sedang kesal, sedih, marah, aku akan lebih suka melampiaskannya dengan menari”

“hm.. suasana hatimu sedang tidak stabil kalau begitu,” ucap Sulli menyimpulkan, “apa kau sedang sedih?”

ani,

“kalau begitu kau sedang kesal,” lagi-lagi Sulli menyimpulkan. Malas menanggapi, Sehun hanya menjawa dengan gumaman saja.

Seperti tidak jera juga, Sulli kembali berucap, “apa yang membuatmu kesal?”

Oh Ya Tuhan! Tidak bisakah Sulli membiarkannya istirahat? Tidak bisa lihatkah gadis itu bagaimana lelahnya Sehun?

Mendengus kesal Sehun pun menjawab, “bukan urusanmu.”

“memang,” sahut Sulli santai, lalu tiba-tiba memberhentikan mobilnya.

Sehun yang sedari tadi memejamkan matanya –berharap bisa tidur dan mengistirajatkan dirinya- kini mmebuka matanya dan menghela nafas panjang ketika dilihatnya ternyata bukan dorm nya yang ada di hadapannya. Sebenarnya apa yang di fikirkan Sulli? bukannya membawa nya kembali dorm, gadis itu justru memberhentikan mobilnya di depan sebuah café.

Ia menolehkan kepalanya bermaksud untuk mengomel. Bibirnya yang sudah terbuka siap mengeluarkan protesnya langsung kembali bungkam ketika dilihatnya Sulli yang menatapnya serius. Sebelah alis Sehun terangkat melihat ekspresi Sulli yang sangat serius itu. ada apa dengan nya?

“kapan terakhir kau makan?”

Sehun semakin bingung dengan pertanyaan yang Sulli lontarkan, tapi ia tetap menjawab, “tadi… umm… saat sarapan sepertinya.” Seraya mengingat-ngingat kapan terakhir ia makan. Siang tadi ia sibuk menjaga Sulli dan saat pulang dari kampusnya Sehun tidak sempat makan dan langsung ke tempat latihan. “wae?

Dan tanpa disangkanya, Sulli justru tersenyum manis seraya menepukkan tangannya dengan antusias. “bagus,” ucapnya lalu membuka pintu mobil. “aku juga belum makan sejak sarapan tadi dan perutku sudah protes untuk diisi, temani aku makan ya?”

“hah?” Sehun membuka bibirnya dan kembali menyandarkan kepalanya pada sandarakan kursi.

jebbaalll

Kalau sudah memohon seperti itu, apa yang bisa Sehun lakukan? Menolaknya? Hah, jangan bodoh. Sudah baik-baik Sulli ingin mengantarnya, tentu saja ia tidak akan menolak. Melihat dari gerak-gerik Sulli, sepertinya gadis itu sedang dalam mood baik.

Setelah menghela nafas panjang akhirnya Sehun meganggukkan kepalanya dan menjawab, “baiklah”

 

***

 

“kau ingin pesan apa Sehun-ssi?” tanpa menatap Sehun, Sulli bertanya sementara dirinya sibuk melihat-lihat daftar menu.

Ketika Sulli tidak mendengar ada jawaban, ia menurunkan menu nya dan menatap Sehun. Ternyata pria itu sedang menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam, sepertinya tertidur. Tidak ingin menganggu, Sulli pun bergumam sendiri. “kalau begitu, biarkan aku menyarankan makanan terenak disini,”

Setelah memanggil pelayan dan mengatakan pesanannya, Sulli yang merasa bosan hanya bisa sibuk menatap sekelilingnya. Suasana café cukup ramai, ada beberapa pasangan dan segerombolan anak anak seumurannya yang sibuk bercakap satu sama lain. Tanpa sadar, Sulli tersenyum melihat pemandangan itu. Saat tidak sesibuk sekarang, ia dan Jongin sering sekali datang ke café dan berbincang-bincang, entah apapun yang mereka bincangkan akan membuat keduanya lupa waktu.

Sekarang jangankan makan bersama, untuk bertemu pun mereka sulit. Jongin yang mulai sibuk dengan latihannya dan Sulli yang sibuk dengan tugas kuliahnya mebuat mereka sulit untuk bertemu. Jujur saja, ia sangat merindukan saat-saat kebersamaan mereka dulu. Kalau ditanya apa Sulli setuju dengan pilihan Jongin untuk menjadi idol, tentu saja jawabannya tidak. Tapi Sulli tidak bisa menjadi egois dengan menghalangi Jongin. Menjadi seorang dancer dan di kenal banyak orang adalah mimpi Jongin sejak kecil. Tidak mungkin hanya dengan ke egoisannya Sulli melarang Jongin untuk mewujudkan mimpinya bukan?

Sekarang mungkin Sulli masih bisa menerima Jongin sebagai sahabatnya. Tapi ia tidak bisa berjanji kedepannya akan seperti apa. Saudaranya yang berbagi darah dengannya saja bisa meninggalkannya, bukannya tidak mungkin Jongin juga akan melakukan hal yang sama bukan?

Dua kali sudah cukup ia ditinggal oleh orang-orang ia sayangi dan ia tidak mau lagi merasakan bagaimana sakitnya ditinggalkan. Saat ditinggalkan appa dan oppa nya dulu adalah perasaan paling menyiksanya, dan sebentar lagi ia harus bersiap merasakannya lagi saat Jongin sudah benar-benar menjadi idol. Dan setelah itu, tidak ada lagi perasaan kehilangan yang akan ia rasakan. Sulli benar-benar akan menjauhi orang-orang dari dunia entertainer.

Sulli menggelangkan kepalanya mencoba menghilangkan fikiran-fikirannya yang tiba-tiba mulai membuat dadanya sesak. Untuk mengalihkan fikirannya, Sulli kembali menatap seisi café, dan saat melihat sosok orang yang sangat di kenalnya, tatapan Sulli berhenti.

Apa yang dilakukannya disini? Dan sejak kapan Jongin mulai dekat dengan wanita?

 

***

4 thoughts on “You Never Give Me a Chance Part 5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s