Precious Metals (Chapter 2 : Paroxysm)

project

Title                 : Precious Metals (Chapter 2 : Paroxysm)

Author             : Jung Ri Young

Cast                 : EXO OT12

Genre              : Action, Brothership, Thriller, Adventure

Rating             : PG-13

Length             : Chaptered

Disclaimer       : Member EXO milik Tuhan, Orang tua dan SMEnt.

Summary         : Kehancuran Monocerus tinggal selangkah lagi jika saja Kris tidak salah memerintahkan orang. Semua terjadi begitu cepat. Perselisihan yang mereka ciptakan tanpa disadari telah memberi petunjuk pada kepolisian.

Chapter 1

.

-Precious Metals-

(Paroxysm)

.

(Previous…) Baekhyun mengangguk patuh. Itu memang tugasnya. Ialah yang selalu mengontrol keamanan Draconisius lewat layar monitor. Mengantisipasi jika polisi mengetahui pergerakan organisasi itu. Dan kini ia tahu, Kris benar-benar akan menghancurkan Monocerus lewat satu koper batang emas yang mereka perebutkan tadi malam.

.

-Precious Metals-

.

darr…darr…darr…

Suara tembakan itu tiga kali menggema di halaman belakang Dragon Manor. Tempat para anak buah Kris Wu biasa mengasah skill mereka agar semakin handal. Seorang lelaki berpostur tinggi yang menjadi ‘tersangka’ penembakan itu memicingkan mata untuk melihat ketepatan sasaran tembakannya.

Ia menyunggingkan senyum puas. Kemudian meletakan pistol dan melepas penutup telinga yang terpasang. Lelaki tampan bernama Sehun tersebut melirik arlojinya sesaat. Masih sore, belum saatnya ia keluar dari Manor untuk bebas berkeliaran sesuka hatinya. Ya, Kris melarangnya untuk menampakan diri di dunia luar jika hari belum gelap. Seolah takut jika anak buah kesayangannya itu terekspos dan mengancam ketenangannya. Kris tak mau mengambil resiko. Jadilah Sehun harus berdiam diri di dalam Manor sehari penuh. Tak ada rasa tak terima. Sehun malah berterimakasih pada larangan pemimpinnya –yang lambat laun ia anggap seperti ayahnya- itu. Dengan begitu, Sehun dapat melatih skillnya sepanjang hari yang menjadikannya petarung tangguh.

Sehun beranjak memasuki bagian dalam Dragon Manor. Berniat membersihkan diri lalu tidur agar nanti malam kembali segar untuk berpesta bersama Tao dan Baekhyun. Sedangkan di tempatnya. Lelaki beralis tebal yang tak lain adalah pemimpin Draconisius menatap punggung Sehun yang mulai menghilang. Ia sedari tadi memperhatikan aktivitas Sehun tanpa memperlihatkan diri. Membiarkan Sehun berlatih dengan bebas sedangkan ia berdiri di sudut bangunan dalam diam.

Ia melangkahkan kaki menuju lapangan tembak itu. Memeriksa dengan teliti apa yang telah Sehun lakukan. Perlahan, ia menemukan objek-objek yang menjadi sasaran tembak anak buahnya. Seekor burung mati kaku dan setangkai bunga terlepas dari batangnya. Kris mengakui bahwa Sehun tumbuh dengan baik seperti apa yang ia inginkan. Ia tersenyum dalam hati. Tapi tunggu— bukankah tadi anak itu tiga kali melepaskan peluru? Lalu di mana sasaran terakhirnya? Kris mengedarkan pandangan mencari jejak tembakan Sehun. Sedikit menajamkan penglihatan karena ia tak kunjung menemukannya. Beberapa saat kemudian, senyumnya benar-benar merekah ketika melihat sebuah peluru menancap di sebuah batang pohon. Merusak simbol unicorn yang mungkin sengaja Sehun ukir sebelum menembaknya. Simbol yang benar-benar ingin mereka hancurkan hingga tak tersisa. Monocerus.

“Kerja bagus, Oh Sehun!”

.

-Precious Metals-

.

“Jangan mengambil resiko, Suho. Jika memang pelakunya adalah mafia sekelas Kris Wu, kau tidak akan mungkin dapat melumpuhkannya seorang diri. Oke, mungkin kau bersama D.O, namun kalian sama-sama bertubuh kecil dan bahkan masih jauh jika harus dibandingkan den—“

Buggh!

D.O menyeruak di antara dua manusia yang sedang berdebat. Ia tadinya hanya ingin mendengarkan, meminta penjelasan mengapa dua polisi berbeda jabatan itu bertengkar terus menerus. Namun ketika namanya disebut-sebut, bahkan diremehkan seperti itu ia menjadi geram.

Suho terkejut melihat Chanyeol yang telah jatuh terjungkal akibat pukulan D.O yang tiba-tiba. Buru-buru ia mengulurkan tangan pada anak buahnya itu untuk membantu. Chanyeol berdiri sempoyongan, mengumpulkan kesadarannya dan mendorong D.O kesal.

“YA! APA YANG KAU LAKUKAN!!” teriaknya di depan muka D.O. Sedangkan lelaki bermata bulat itu hanya berkacak pinggang.

“Kupikir proporsi tubuhmu dan Kris Wu hampir sama. Jika aku saja bisa menjungkalkanmu dalam sekali pukulan, itu berarti masih ada kesempatan untukku melumpuhkannya dengan beberapa serangan bertubi-tubi.” sahutnya enteng.

Chanyeol melebarkan matanya, “Tapi Kris Wu seorang mafia! Kau tak akan mampu melawannya tanpa kehilangan anggota tubuh bahkan mungkin nyawamu, D.O!” elaknya menggebu-gebu.

“Dan jangan lupakan bahwa kau juga seorang agen kepolisian, Chanyeol! Kau seharusnya memiliki skill setara dengan mafia agar dapat menumpas kejahatan mereka! Bagaimana bisa penjahat di negara ini tertangkap jika saja anggota kepolisiannya sangat payah sepertimu?”

Suho tertawa pelan mendapati Chanyeol yang mati kutu. Baru kali ini ada orang yang mampu membungkam mulut besarnya. Chanyeol sendiri semakin mendelik, sangat kesal pada D.O yang telah mempermalukannya. Bahkan di hadapan Suho, atasan mereka. Ia kemudian mencatat dalam otaknya untuk membalas lelaki pendek itu suatu saat.

“Sudahlah, berhenti bertengkar dan kembali bertugas. Kalian membuang-buang waktu kita yang semakin terbatas ini.” ucap Suho menengahi. Ia mendorong keduanya untuk kembali ke meja masing-masing. Berharap mereka tak melanjutkan pertengkaran yang sangat tak penting ini.

.

-Precious Metals-

.

Baekhyun melenggang setelah dirasa penampilannya cukup oke. Kaos tanpa lengan bermotif gothic, ia padukan dengan jeans panjang warna hitam. Tak lupa beberapa aksesoris seperti gelang dan kalung rantai melengkapi penampilannya malam ini. Ia bersiul riang, melangkahkan kaki menuju kamar Sehun yang terletak tak jauh dari kamarnya sendiri.

“Whooaa” serunya membelalakan mata, ia melihat Sehun yang sedang bercermin, “kau mengganti warna rambutmu?” Sehun menatap bayangan lelaki bermata kecil itu lewat cermin di depannya. Sembari merapikan rambut, ia menyunggingkan senyum miring sebagai jawaban.

“Di mana Tao?” tanya Sehun kemudian. Sangat tidak berhubungan dengan topik yang sedang mereka bahas. Ia memperhatikan Baekhyun yang mengatupkan kedua tangan lalu meletakan di samping telinga kiri. Memberi isyarat bahwa orang yang ia tanyakan sedang tidur.

“Ck! anak bodoh! Apa dia lupa kita akan bersenang-senang malam ini?” cibirnya kesal.

Baekhyun tak langsung menjawab ucapan Sehun. Ia mendekat pada lelaki berambut blonde itu untuk merangkulnya. “Sudahlah, si mata panda itu memang selalu seenaknya sendiri. Ayo! Jangan buang-buang waktu.” ucapnya sembari menarik tubuh tinggi itu untuk keluar. Sehun tak menolak, membiarkan Baekhyun menyeretnya sambil sesekali tertawa karena lelucon masing-masing. Mereka keluar, menjelajah sudut-sudut kota sebagai penguasa malam. Menciptakan keonaran demi kepuasan semata. Tak ada yang sanggup melawan. Seorang Draconisius tetap melambungkan eksistensinya. Buas, dan berbahaya.

.

-Precious Metals-

.

“Sial! Itu meja kita!” Baekhyun menggeretakan kedua tangannya lalu berjalan angkuh ke arah segerombolan pemuda yang tengah duduk sebelum Sehun menariknya kembali. Ia menoleh, merasa kesal karena tindakannya di halangi, “kenapa?” ujarnya sedikit membentak. Sehun hanya menjawab dengan menggerakan dagu untuk menunjuk benda kecil yang berada di pojok kiri atas. Sebuah cctv.

“Ck!” decihnya kemudian. Ia memutar badan keluar dari kedai tersebut tanpa minat. Ia lapar, sebenarnya. Tetapi jika dipaksakan makan di tempat itu, ia pasti akan tersulut emosi karena meja favoritnya dipakai orang lain. Dan itu bukan tindakan bagus. Oh ayolah, mereka berencana untuk bersenang-senang malam ini. Jangan lupakan itu.

Mereka akhirnya menenggelamkan diri di sebuah bar. Berbaur dengan asap rokok dan anggur yang semakin membuat melayang. Kerlap-kerlip lampu dalam ruangan dan alunan musik disco yang menggema membuat mereka tak bisa menolak untuk ikut menghentak-hentakan kaki. Oh, ini baru pesta yang mereka inginkan. Menyenangkan.

.

-Precious Metals-

.

Tao menguap lebar ketika ia baru saja membuka mata. Segar, pikirnya. Ia berjalan gontai menuju wastafel untuk membasuh muka. Belum sempat menyalakan kran, matanya melebar sempurna melihat jam dinding di belakangnya yang terpantul lewat kaca. “Mati aku!” ucapnya setengah menjerit. Ia buru-buru keluar ruangan untuk mencari kedua temannya.

Kamar Sehun…kosong!

Kamar Baekhyun…kosong!

“Sial! Anak-anak setan itu meninggalkanku!” gerutunya sedikit geram.

“Apa yang kau lakukan, Zitao?” tiba-tiba suara berat terdengar ketika ia sedang mengumpat sendirian.

“T-tidak” jawabnya sedikit gugup.

Kris mengerutkan kening, “kau ditinggal mereka lagi?” selidiknya. Tao hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kris sangat hafal dengan kebiasaan anak buahnya, termasuk Tao yang suka sekali tidur dimanapun dan kapanpun.

“Sebaiknya kau ikut aku. Aku memiliki pekerjaan untukmu.” ucap Kris kembali sebelum melenggang pergi.

Tao tentu bingung dengan ucapan Bosnya itu. Pekerjaan? Oh, bukankah baru kemarin ia menyelesaikan misi merampok hasil selundupan Monocerus? dan hari ini ia diberikan pekerjaan lagi? Tao menggerutu dalam hati sembari mengikuti Kris berjalan. Sedikit kesal karena ia rasa Kris sangat tidak adil. Apa-apaan ini? Baekhyun dan Sehun bersenang-senang, ia malah diberi pekerjaan lagi!

“Apa yang harus saya lakukan, Bos?” Tao bertanya penuh selidik. Sedikit khawatir jika tugasnya nanti berhadapan dengan Monocerus. Bukan, bukan karena dia takut. Tao hanya berpikir rasional, tak mungkin ia berhadapan dengan Monocerus jika ia seorang diri. Dan jangan lupakan fakta jika Monocerus masih murka akibat ulah mereka kemarin.

“Koper berisi emas yang kau bawa kemarin, di dalamnya terdapat alat deteksi yang cukup canggih. Baekhyun telah mematikan radar untuk sementara. Namun kita harus cepat menyingkirkannya sebelum alat itu kembali aktif dan polisi menemukan jejaknya.”

“Lalu, kenapa tidak kita musnahkan saja alat itu, Bos?” ucap Tao sedikit bingung. Apa susahnya? Mereka hanya perlu membakarnya hingga jaringan itu tidak berfungsi dan beres? jejak itu akan hilang.

“Menyusuplah ke markas Monocerus. Aku ingin jika alat ini kembali aktif, polisi akan menemukan jejaknya pada markas kuda bercula itu.”

Damn!! Tao benar-benar merutuk saat ini, tapi tentu saja ia hanya berani melakukannya dalam hati. Kris menyuruhnya ke markas Monocerus? Oh, ini bukan ide bagus Bos!

“Lakukan saat ini juga. Aku ingin semua beres tanpa jejak.” titahnya sembari menyerahkan benda kecil bulat yang Tao yakini sebagai alat pelacak.

Tao menerima itu lalu bergegas pergi meninggalkan Kris. Memeras otak bagaimana caranya ia dapat memasuki daerah paling terlarang itu. Ia menyambar revolver sebelum meloncat ke van hitam untuk menyambangi Monocerus.

.

-Precious Metals-

.

Enam puluh menit. Ya, tepat satu jam Tao tiba di daerah kekuasaan Monocerus. Ia memarkirkan van di tempat tersembunyi sebelum keluar untuk melaksanakan tugas. Tao menyambar jaket kulit hitam yang terdapat di jok belakang. Bukan karena malam ini dingin, namun tatto bergambar naga yang terukir di lengan kirinya harus disembunyikan untuk memudahkan aksinya. Ia juga memakai topi dan masker untuk menyempurnakan penampilan. Sekilas ia melirik spion.

“Wow, lihat! Kau cocok menjadi ninja, Zitao!” cibirnya pada diri sendiri. Sebenarnya ia sedang menghibur diri. Meyakinkan hati bahwa ini bukan malam terakhirnya di dunia. Mengingat sebentar lagi ia akan memasuki neraka.

Ya! aku pasti berhasil!

Ia memanjat sebatang pohon dan mengarahkan teropong mini pada sebuah bangunan kuno yang menjadi tempat sasarannya. Memastikan keadaan agar ia bisa menimbang-nimbang bagaimana ia akan menyusup nanti. Ia menghitung dalam hati—

  1. .empat..lima..

Lima???

Tao tertawa pelan mengetahui penjagaan tak seketat yang ia kira. “Hanya lima? Ah, jangan bercanda, Zhang Yixing. Markasmu sungguh menyedihkan!” gumamnya sambil meloncat turun.

Sreekk

“Arrggghh!!” Tao mengerang ketika sesuatu melukai pergelangan kakinya. Perih! Seseorang menyerangnya bahkan sebelum ia menginjakan kaki dengan sempurna di permukaan tanah. Tao bergulung menjauh. Mengatisipasi jika orang itu kembali menyerangnya. Segera ia berdiri sembari menyambar revolver di sakunya.

“Siapa kau?” ucap Tao menodongkan senjata. Orang itu mendecih sebagai jawaban “Ck! Seharusnya aku yang bertanya padamu. Siapa kau yang berani mengintai markas kami?!”

Tao tak menyahut lagi. Matanya fokus pada sosok yang hampir tak terlihat di kegelapan itu. Berjaga-jaga jika ia kembali menyerang. “Pergilah, sebelum belatiku melibas kepalamu.” ujarnya pelan.

Tao menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan. Tak perlu waktu lama, ia melompat kembali ke dalam van sebelum orang itu benar-benar menyerang. Dari suaranya, ia sudah tahu siapa yang ia hadapi. Ah, ini bukan malam keberuntungannya!

Ia mengendarai van tersebut pelan. Sembari tangannya memijit layar handphone untuk menghubungi seseorang.

“Ya! Di mana kau?”

.

-Precious Metals-

.

“Perkuat penjagaan di sebelah utara! Seseorang mengintai Mansion!” Luhan menggemakan suaranya hingga seluruh penjaga Mansion mendengarnya. Oh, ralat. Bukan hanya penjaga, Lay dan ketiga anak buahnya juga segera menghampiri setelah mendengar suara menggelegar tersebut.

“Apa yang terjadi?” tanya Lay tenang, berbanding terbalik dengan wajah Luhan yang menegang.

“Penyusup!” Luhan menyahut cepat. Membuat ketiga kaki tangannya ikut menegang. Penyusup? Astaga, apa mereka harus berperang lagi malam ini?

“Aku telah memasang alat pelacak pada van yang ia kendarai. Pergilah melacaknya, Kai. Dan kau Chen, Xiumin, awasi Mansion seketat mungkin.”

Mereka bergegas setelah mendapat perintah dari Luhan. Berpencar menjalankan tugas masing-masing. Sedangkan dua pemimpin Monocerus itu tetap terdiam di tempatnya. Melemparkan pandangan satu sama lain seolah sedang beradu argumen lewat tatapan mata. Lama, mereka benar-benar memikirkan situasi apa yang sedang mereka hadapi hingga Lay kemudian membuka suara.

“Kepolisian?” tanya Lay menyuarakan pikirannya. Luhan memiringkan kepala. Menimbang-nimbang tebakan rekannya.

“Sepertinya bukan, Lay. Dia seorang diri.” jawabnya.

“Lalu?”

“Draconisius?” Luhan menjawab bimbang. Ia sedikit ragu, sebenarnya.

“Tsk, tidak mungkin.”

Luhan mengangguk sekilas. Benar. Bodoh sekali jika itu memang Draconisius. Apa mereka tak tahu seberapa besar dendam Monocerus pada kubu naga itu?

Berbeda dengan mereka, Kai berkali-kali mengumpat di dalam jeep. Ia terpaksa mencari koneksi karena sistem dalam Mansion tak berfungsi. Ia ingat, Luhan mematahkan seluruh sistem jaringan di dalam Mansion tepat sebelum rencana penyelundupan dilakukan. Hal itu untuk mengantisipasi bila kepolisian mengetahui pergerakan mereka. Dan sekarang apa? Luhan menyuruhnya melacak seseorang? Oh. Demi tanduk unicorn! Kai ingin sekali meneriaki lelaki berwajah cantik tersebut!

“Luhan kau brengsek!”

.

-Precious Metals-

.

Sehun keluar dari hingar-bingar musik disco ketika dirasakan handphonenya bergetar. Ia memeriksa layar dan menemukan nama Tao di sana.

“Ya! Di mana kau?”

Sehun menjauhkan benda itu dari telinganya ketika mendengar teriakan di seberang.

“Sorry man! Kau tidur jadi aku hanya pergi bersama Baekhyun.” ucapnya menenangkan Tao. Ia tahu persis, orang itu pasti akan mencecarnya habis-habisan karena ia dan Baekhyun meninggalkannya.

“Oh please, Sehun! Ada yang lebih penting dari sekedar meninggalkanku. Kau dimana? Sepertinya aku dalam bahaya!”

“Tunggu—ada apa? Kenapa kau panik seperti itu?” Sehun sedikit panik mendengar nada bicara Tao yang tegang. Sesuatu yang tidak beres telah terjadi, pikirnya.

“Aku tertangkap basah sedang mengintai Monocerus. Tak tanggung-tanggung, Luhan yang memergokiku!”

“APA??!” tenggorokan Sehun nyaris tercekik mendengar penuturan temannya. “Bodoh! Bagaimana bisa? Untuk apa kau mengintai unicorn itu? Kau tak tahu mereka sedang murka pada kita??!!”

“SALAHKAN KRIS YANG MENYURUHKU BERGERAK SENDIRIAN, OH SEHUN!”

Kembali Sehun menjauhkan handphonenya dari telinga. Tadi Tao bilang apa? Kris menyuruhnya bergerak?

“A..apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa Kris menyuruhmu ke markas itu, hah? Jawab aku, Zitao!”

“Nanti saja kuceritakan padamu. Temui aku di tempat biasa. Sekarang!”

  1. Tao memutuskan panggilan sepihak.

“Aiishh! anak ini.” gerutu Sehun sembari mengantongi kembali handphonenya. Ia bergegas pergi ke tempat yang dimaksud. Persetan dengan Baekhyun. Lelaki mata keranjang itu pasti sedang menggoda gadis-gadis di dalam sana.

.

-Precious Metals-

.

“Ya! Apa yang terjadi? huh?” Sehun tak ingin basa-basi ketika sampai di sebuah jembatan yang cukup sepi. Ia buru-buru menghampiri Tao yang sedang berjongkok di sebelah van hitamnya.

“Kris menyuruhku memasang ini di markas Monocerus.” jawabnya menyerahkan benda kecil bulat yang sedari tadi ia genggam.

“Bukankah ini alat pelacak?”

“Yeah, alat itu di temukan bersama emas-emas yang kita rampas kemarin.” sahut Tao. Ia berjalan tertatih memasuki van.

“Kenapa dengan kakimu?” tanya Sehun yang mengekor.

Tao memegang kembali luka yang baru saja ia perban dengan sobekan kaosnya sendiri. “Luhan mengenalkanku dengan belatinya.”

“Hmmpp” hampir saja Sehun terbahak jika saja ia tak melihat ekspresi Tao yang begitu jengkel. Ia buru-buru mendekap mulut. Yah, ia mengerti perasaannya. Dua kali Tao dicundangi oleh Luhan dengan senjatanya tanpa bisa membalas.

“Kau bisa membalasnya suatu saat, man! Jangan khawatir.” akhirnya hanya kata penghibur itu yang ia lontarkan agar lelaki di sampingnya itu tak murka.

Tao mendengus. Membalas Luhan? Oh, itu sudah berada dalam daftar teratas dendamnya. Tak perlu diperingatkan lagi, Sehun!

“Bantu aku. Bantu aku membereskan pekerjaan ini, Hun.”

Sehun mencibir. “Sudah ku duga!”

“Oh, ayolah. Kau tahu kakiku terluka. Dan yeah, mereka bukan kelompok kelas teri yang biasa ku kalahkan dengan sekali tembak.” kilahnya kemudian.

“Ck! Kupikir malam ini aku akan bersenang-senang. Minggir, biar aku menyetir!”

Tao meringis lebar mendengar persetujuan implisit dari rekannya. “Sehun, kau yang terbaik!”

.

-Precious Metals-

.

“Apa ini?” Chanyeol bergumam sendiri di apartemennya ketika membuka laptop. Jaringan yang ia awasi berkedip-kedip. Memberi respon atas pantauannya dua hari belakangan. Ia segera mengecek. Mencerna apa yang terjadi.

“Huh?” matanya seketika melebar menyadari keadaan ini. Ia menyambar telepon rumah untuk menghubungi seseorang.

“Yeob…”

“Suho! aku menemukannya! aku menemukan pergerakan di organisasi itu!”

“A..apa? cepat bergerak sebelum jejak itu hilang! Kita harus mempertahankan bukti radar itu untuk menangkap mereka!”

Klik~

“Aiish, kau memerintah seenaknya! Baiklah-baiklah. Yeoboseyo? Datanglah ke kantor. Bawa semua anak buahmu!”

Klik~

Seolah dendam, Chanyeol juga memutus panggilan sepihak pada D.O bahkan sebelum orang yang ia hubungi itu menyuarakan sesuatu. Yeaah, bukan hanya Suho yang bisa melakukannya!

“Apa yang terjadi, Yeol?” tanya D.O ketika mereka bertemu di markas kepolisian. D.O sepertinya sangat kesal karena rekannya memerintahkan ia mengumpulkan pasukan bahkan tanpa tahu apa-apa. Chanyeol tersenyum lebar, menampilkan deretan gigi putih yang menjadi kebanggaannya.

“Kau sudah mengumpulkan pasukan? Ah, kerja bagus kawan!” ucapnya sembari menepuk pundak D.O. Lelaki itu kemudian menepisnya dengan wajah datar “kau membuatku seperti idiot yang berteriak-teriak mengumpulkan pasukan tanpa sebab! ada apa? jawab aku, Tuan Park!”

“Kalian siap? Ayo tunggu apa lagi?” Suho yang telah dibekali persenjataan lengkap menginterupsi.

“Tunggu—ini ada apa? kita mau kemana?” D.O semakin frustasi karena tak mendapat jawaban apapun.

“Eh?” Suho menatap heran D.O kemudian melemparkan death glare pada Chanyeol. “Jangan bercanda Park! Jelaskan pada kolegamu!”

“Hehe, tentu..tentu..”

.

-Precious Metals-

.

“Benar-benar!” Untuk kesekian kalinya Baekhyun menggerutu seorang diri. Ia menyusuri jalanan seperti seorang anak yang terpisah dari ibunya di pasar-pasar tradisional. Oh lihat! Bahkan Baekhyun adalah bagian dari komplotan mafia yang paling ditakuti. Apa yang membuatnya seolah kehilangan arah tujuan seperti ini?

Ya. tentu saja itu karena si bodoh Sehun meninggalkannya seorang diri di dalam bar beberapa jam yang lalu. Ia pikir temannya itu hanya akan menerima panggilan untuk beberapa saat. Namun setelah beberapa jam menunggu, Sehun tak kunjung kembali.

“Kemana anak itu? Aish!!” Baekhyun merutuk saat tak berhasil menghubunginya–lagi.

Ia sudah menyusuri jalanan hampir satu jam lamanya. Mendatangi tempat-tempat yang mungkin didatangi oleh Sehun. Tetapi sepertinya ia sia-sia.

Baekhyun memasukan koin sebelum sebuah kaleng soda berdentang menggelinding dari tempatnya. Ia haus, sedikit demi sedikit meneguk minuman itu sembari kakinya melangkah lebih santai tanpa tujuan yang pasti. “Ah, aku sudah lelah.”

Katakan saja Baekhyun sedang beruntung malam ini. Ia menemukan taman dengan beberapa bangku yang bisa ia duduki -mengingat ini sudah tengah malam-. Tanpa pikir panjang ia melangkah menghampiri sebelum kakinya semakin kesemutan.

Dan bersyukurlah Baekhyun karena Kris melatih ketajaman matanya dengan intens. Ia bahkan bisa melihat siluet tiang listrik dengan rambut pirang yang sedikit mencolok diterpa sinar rembulan. Ia merasa lega bercampur kesal mendapati temannya itu ternyata berada di sini. Lega karena Sehun baik-baik saja, kesal karena ia teringat bocah itu meninggalkannya sehingga membuat ia harus berjalan sendirian seperti orang gila di tengah malam seperti ini.

Baekhyun menghampiri dan—

Plaakk!!

Yeah, satu pukulan pada bagian belakang kepala berambut pirang itu sukses ia luncurkan, membuat lelaki itu berdiri membalikan badan.

“MWO??” keduannya mendelik bersama melihat satu sama lain.

Benar sekali. Baekhyun salah orang dan sialnya orang tersebut adalah lelaki berkulit gelap yang sepertinya sedang memiliki dendam spesial pada dirinya. Kim Kai—kalau tidak salah namanya.

Kreekk!

Bunyi revolver terdengar disusul dengan senyum miring penuh kemenangan dari Kai. Baekhyun membeku di tempatnya, menatap nanar pada benda yang ditodongkan tepat di depan mukanya. Tarik kembali semua argumen yang menyatakan Baekhyun sedang beruntung dan harus bersyukur malam ini. Nyatanya, ia sedang sangat sial ketika menyadari tak bisa berkutik sama sekali. Ia tak membawa revolver untuk setidaknya beradu tembak sebelum nyawanya dilibas oleh lelaki di depannya ini. Ia hanya membawa pisau lipat di sakunya untuk berjaga-jaga. Catat! seorang Draconisius hanya membawa pisau lipat! Oh Kris, apa kabar organisasimu?!

“Kita bertemu lagi, Byun Baekhyun!” ucap Kai dengan nada ramah yang dibuat-buat.

“Tak usah berbasa-basi, kau memuakkan!”

Kai tertawa mengejek mendengar Baekhyun yang masih saja sok angkuh. “Yeah, aku tak suka terburu-buru. Karena membuatmu mati pelan-pelan itu lebih menyenangkan.” bisiknya sembari memutari tubuh Baekhyun.

“Aku tak takut denganmu, brengsek!” nada Baekhyun spontan meninggi.

“Aku bahkan tak membawa senjata. Matilah aku jika Kai menarik pelatuknya” sesal Baekhyun dalam hati.

“Benarkah? tapi sepertinya tubuhmu mulai menegang, kawan.”

“Cih! untuk apa? aku bahkan ragu kau bisa menggunakan senjata di tanganmu itu!”

“Astaga Baekhyun! Kau benar-benar cari mati malam ini” sesalnya untuk kedua kali.

Benar saja, Kai menghentikan langkahnya yang sedang memutari tubuh Baekhyun. Giginya gemeretak, menahan emosi akibat ucapan lelaki bertubuh kecil di hadapannya dan—

darr—

Timah panas berhasil keluar disusul dengan senyum mengejek yang terukir di bibirnya.

to be continue…

17 thoughts on “Precious Metals (Chapter 2 : Paroxysm)

  1. Anna berkata:

    wah makin keren, dan makin menegangkan ceritanya.penasaran banget gimana kelanjutannya. ditunggu chapter berikutnya🙂
    apa Baekhyun sudah berakhir?

  2. BabyHun berkata:

    q ngerasa bakal ada apa gitu ma sehun?.. ia seperti.. ah gimana ngomongnya.. kan disini ia anak yg dibuang, atau jgn2 orang tuanya.. siapa gtu… #duhguengomongapalagi,,
    pliss deh tao, narsis nye gk ilang.. liat spion kumat deh.. -_-
    baekhyun dibilang mata keranjang?
    ngebayangin baekhyun jalan2 kaya anak ilang lucu juga,🙂 itu baek gk bisa mbedain warna kulit kali y jadi gk bedain mana putih mana item? #peacebangKAI :-d
    itu baek mati? jgn dongggg…. ditunggu bgt kelanjutannya🙂

  3. jelsa berkata:

    Aaaaa udah chap 2. Aduh ketinggalan nih. Ah maaf yaa eon telat komen. Aduh gak bisa ngomong apa-apa lagi.
    Intinya aku pengen tetep komen.
    #plakk.. ngotot
    Aaaaak makin seru aja eon. Ceritanya makin keren.. pokoknya is the best deh.🙂

    Sekali lagi maaf yaa eon, telat komen..🙂

  4. wikapratiwi8wp berkata:

    daebak eon….huhuhu dan sekali lagi…aku bilang mianhae…karena baru menemukan ff ini…aku menyukai harry potter walau tidak terlalu over..dan ditambah lagi ini ff dimain cast oleh exo….ckckck daebak!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s