Graduation Gift

Graduation Gift

Author : @Chanminmaa

Title: Graduation Gift || Soundtrack: 95 Graduation – V & Jimin

Main Cast: Taehyung [BTS], Minky [OC] || Genre: Failed!Comedy, Fluff, Romance || Rating: G

Summary:

Because the best gift ever is you, Kim Taehyung

***

Minky tidak tahu apa yang sedang merasuki jalan pikirannya sehingga kata ‘iya’ bisa begitu mudah terlontar. Menyanggupi kemauan si gila Taehyung untuk pulang bersama? Astaga, yang benar saja.

“Bagaimana hasil pemotretan hari ini?” tanya gadis itu—setengah mengejek.

Taehyung hanya tertawa menanggapi, masih terfokus pada kamera di tangannya. Itu jelas bukan sebuah pertanyaan melainkan sindiran. Minky adalah objek utamanya selama seharian ini (dan juga hari-hari sebelumnya), model tetap yang bahkan tidak mendapatkan keuntungan apapun atas hobi konyolnya.

As usual, you’re beautiful sweetheart.

Inilah sifas asli seorang Kim Taehyung. Cheesy boy? Jangan ditanya.

Ugh, dasar casanova.” dengus Minky malas, berjalan cepat mendahului Taehyung.

Terkekeh pelan, sontak saja Taehyung tergesa menyamakan langkah. Membiarkan kamera digital miliknya mengantung di leher selagi jemarinya bekerja di bawah sana. Beringsut meraup satu tangan gadis itu, menggenggamnya lembut.

“Kuberi waktu 3 detik untuk melepasnya, Taetae.” ujar gadis itu datar.

Tidak perlu menoleh, Minky bahkan sudah bisa membaca apa yang ada di dalam pikiran namja itu. Kebiasaannya dalam bersikap benar-benar harus diubah. Mereka bukan sepasang kekasih, Taehyung tidak boleh terus menerus seperti ini.

“Tidak, tidak. 3 detik terlalu singkat. Beri aku waktu 30 menit.”

Baiklah, Minky menyesal telah mengiyakan ajakan Taehyung tadi. Sepertinya ‘pulang bersama’ bukan ide yang bagus. Terjebak dengan namja itu tentu akan berdampak buruk baginya. Terkena penyakit darah tinggi mendadak, misalnya?

“Tapi, sampai kapan kau mau mengikutiku?”

“Mengikuti?”

“Rumah kita berlawanan arah, ingat? Ini jalan menuju rumahku.”

Ayolah, ini bukan potongan adegan menyedihkan dari sebuah drama klasik dimana tokoh utama tiba-tiba mengalami amnesia ringan. Akan jauh lebih baik jika Taehyung bersedia membiarkan Minky pulang ke rumah secepatnya, bukan mengulur waktu dengan cara berhenti berjalan seperti ini.

“Kalau begitu aku ingin memastikan kau sampai di rumah dengan selamat.”

Minky bersumpah siapapun yang memberi gelar ulzzang pada Taehyung di sekolah pasti sangat bodoh. Apa gunanya memiliki wajah tampan dan selera fashion yang trendy kalau ternyata namja yang mereka idamkan rela merendahkan dirinya sendiri demi mengejar gadis lain yang jelas-jelas tidak menyukainya.

“Ya, terserah kau saja.” balas Minky sembari memutar bola matanya bosan.

Tidak ada gunanya berdebat dengan Taehyung. Itu semua hanya akan membuang-buang waktu, menguras tenaga.

Tersenyum lebar, ada jeda sepersekian detik sebelum namja itu beralih posisi. Entah sejak kapan—dan entah kenapa justru berlutut di hadapan Minky. Membuat gadis itu mengernyit heran.

Well, apalagi sekarang? Menyatakan cinta layaknya adegan di drama romantis murahan?

Sejenak melihat sekitar, setengah berjongkok gadis itu menepuk-nepuk pelan sepatunya yang tidak kotor. Kamuflase buatan.

“Hanya sekedar mengingatkan, apa yang kau lakukan ini sangat memalukan. Jadi, cepat berdiri!” bisik Minky, sesaat menarik paksa lengan Taehyung agar ia bangun tapi namja itu buru-buru menepisnya.

“Dengarkan aku sebentar.”

Oh, ya ampun. Sebentar katanya? Kerumunan orang sudah mulai terbentuk dan namja itu masih bisa berkata, sebentar? Nekat sekali dia. Apa Taehyung lupa dimana tempat mereka berada sekarang? Meski sore hari, tetap saja jalanan ini lumayan ramai dengan pejalan kaki yang berlalu lalang.

Menghela nafas jengah, Minky tahu tidak ada yang bisa menghentikan Taehyung sekalipun dia mencobanya.

“Lupakan jika kau berniat memberiku bunga, aku sudah punya.” tandas gadis itu lemah, mengendik ringan ke arah rangkaian bunga di tangan kirinya.

Yap, hari ini adalah hari kelulusan mereka di sekolah menengah atas. Minky sudah menerima rangkaian bunga, Taehyung juga. Bahkan namja itu barusaja membuangnya asal sewaktu perjalanan pulang tadi.

“Bukan.”

“Jangan memberiku coklat, aku alergi dengan makanan itu. Lagipula aku tidak mau bertambah gendut.”

“Bukan.”

“Cincin? Ah, aku tidak suka perhiasan. Itu membuat jariku gatal dan tidak baik karena bisa mengundang kejahatan. Jadi simpan saja lagi.”

“Bukan.”

Menggeram kesal, Minky sungguh kehilangan kata-kata. Sial, ini kan bukan acara kuis tebak-tebakan seperti di televisi. Haruskah dia ikut gila dan meminta petunjuk pada semua kerumunan orang di sekitarnya? Pft, itu karena mereka persis layaknya penonton yang sedang menyaksikan pertunjukkan kedua orang idiot. Dirinya dan Taehyung.

“Lalu?”

Menyerah, Minky balik bertanya. Taehyung hanya mengulas cengiran lebar sementara kedua tangannya mengambil sesuatu di dalam ransel. Benda berbentuk persegi panjang menyembul keluar, terulur tepat di depan gadis itu.

“Buku?” tanya Minky tak percaya, sesaat membolak-balikkan benda bersampul kusam di tangannya—tidak menyangka akan hadiah terunik yang ia terima. Siapa sangka seorang ulzzang kaya raya hanya memberinya sebuah…buku bekas?

“Bukan sekedar buku biasa. Tapi ini Scrapbook!” ujar Taehyung, mendadak tampak begitu antusias sedangkan Minky tidak tahu harus bereaksi apa.

Minky pernah mendengar istilahnya, kalau tidak salah itu semacam buku yang bisa ditenpeli pernak pernik dan foto. Tapi satu hal yang masih tidak dia mengerti, yaitu…

“Dimana letak spesialnya?”

Serius girls, ini tidak lucu. Kim Taehyung—si ulzzang tampan nan kaya raya yang selama tiga tahun ini selalu mengemis cinta pada gadis bertubuh sedikit gempal (read: 70 kg) bernama Minky kini berani mempermalukan nama baik keluarganya dengan cara yang amat sangat tidak terhormat hanya karena sebuah kado berupa buku bekas. Miris, bukan?

Tergelak, Taehyung memberikan intruksi agar Minky segera membuka buku itu. Kelihatannya dia tidak mampu menjelaskan dan lebih memilih untuk tertawa terbahak-bahak tanpa alasan yang jelas. Gila.

 

Hi, sweetheart (づ ̄ ³ ̄)づ♥~*♥

 

“Apa ini? Emotic-nya menjijikkan.” komentar Minky begitu halaman awal terbuka. Sekejap matanya seakan sakit melihat berbagai jenis benda kecil yang menempel di sana, terlebih emoticon love ada dimana-mana. Ugh!

Tapi, tunggu…

Kedua alis Minky bertaut bingung. Satu tangannya menyibak lembar demi lembar halaman buku itu. Tidak percaya siapa gadis yang ia temukan di setiap foto yang tertempel rapi di masing-masing sisi halamannya.

“A-aku? Kenapa hanya ada fotoku di sini?”

Berdecak sebal, sesaat Taehyung tersenyum simpul. Sebenarnya berapa IQ gadis itu, sih? Mengaku penggemar drama tapi berlagak polos ketika sedang berada langsung di scene seromantis ini.

“Maksudmu kau ingin melihat fotoku juga? Tenang saja, sweetheart. Kau bisa melihatnya di wedding album kita nanti.”

Bukan itu yang Minky pikirkan. Baiklah dia tahu kalau terkadang Taehyung memang suka membuat eksperimen aneh dan tidak masuk akal, Minky juga tahu kalau dia selalu menjadi objek foto percobaan namja itu. Tapi…ini semua sungguh di luar dugaan.

Hei! Apa apaan ini? Kenapa air matanya menetes? Sebaris kalimat cheesy yang tertulis di halaman terakhir buku itu jelas tidak ada bagus-bagusnya sama sekali.

 

I’ll take a picture of you in every moment, sweetheart

 

Tsk, kau merayuku di setiap kata yang terselip di sini.” cibir Minky, sejenak berusaha menetralkan degup jantung yang—yeah—kenapa benda itu jadi ikut-ikutan heboh?

“Mau kuberitahu sesuatu?”

Entahlah. Tidak ada peraturan yang mengharuskan Minky untuk mengangguk. Gadis itu bebas menggeleng jika ia mau, lagipula langit mulai mendung sementara dia harus pulang dan menyudahi lelucon Taehyung yang berusaha menahannya di tempat ini.

“Aku benci angka 100.” ujar Taehyung lirih, tatapannya berubah sendu ketika menatap gadis itu.

“Kenapa?”

Benar. Kenapa Kim Taehyung membenci angka 100? Tidak ada yang salah dengan angka itu. Kecuali jika dia memiliki trauma tersendiri akan nilai buruk di mata pelajaran kimia dan tidak pernah sekalipun mendapat nilai 100, sama seperti Minky.

Eumm, karena kau sudah menolakku sebanyak 99 kali, mungkin? Pokoknya aku tidak suka angka 100.”

Minky mendengus geli, “Alasan macam apa itu?”

99 kali tentu saja terlalu berlebihan. Tapi Minky tidak mengelak jika selama ini dia selalu menolak pernyataan cinta Taehyung. Catat! Minky selalu MENOLAK pernyataan cinta Taehyung (si ulzzang yang tampan dan kaya raya itu). Dunia pasti sudah terbalik.

“Menyedihkan sekali, bukan? Hah, maka dari itu jangan menolakku lagi.” ujar Taehyung dengan wajah memelas, membuat Minky tersenyum tanpa sadar.

“Kau seharusnya membenci angka 99, bodoh.” koreksi Minky, lalu mendorong pelan kepala Taehyung menggunakan telunjuknya seraya tertawa.

Tertawa? Apa Minky baru saja ‘tertawa’ karena Kim Taehyung?

OMG, sweetheart senyumanmu sepertinya mengalihkan duniaku. Tidak. Bukan senyumanmu saja, tapi semua yang ada padamu.”

Huekk!

Minky rasanya ingin muntah detik ini juga. Mungkin mata Taehyung perlu di bersihkan, mungkin mata Taehyung terkena rabun, mungkin mata Taehyung…buta? Hahaha. Namja itu bahkan tidak bisa membedakan mana gadis cantik dan mana gajah.

“You don’t even have any reason to love me.”

Eww, itu menyakitkan. Tentu. Minky sadar akan kekurangannya yang terlampau banyak, gadis itu mengakui fakta bahwa tak semestinya Kim Taehyung melakukan hal yang dapat membuatnya menyesal di kemudian hari. Taehyung pantas bersanding dengan gadis yang jauh lebih baik darinya, yang mempunyai wajah cantik dan tubuh langsing.

“Berapa banyak alasan yang kau butuhkan?” tanya Taehyung, raut wajahnya terlihat tidak suka. “Akan kusebutkan.”

“Sudahlah, ayo kita pu—”

Belum sempat Minky menyelesaikan ucapannya, Taehyung dengan cepat sudah menyahut buku yang berada di tangan kanannya, menuliskan sesuatu di sela halaman terakhir.

Someone always be prettier, but I don’t care

Because, they never be you!!!

 

Damn it! Minky, bisakah kau tidak mendengarkan apa kata orang lain?!” teriak Taehyung—mengacak rambutnya frustasi. Minky mengambil alih buku itu dari Taehyung, membaca deretan kalimat yang syukurlah tidak cheesy. Ya, tidak cheesy memang tapi yang ini lebih parah.

“Apa tawaran itu masih berlaku?” tanya Minky tiba-tiba.

Taehyung menautkan sebelah alisnya bingung, “Tawaran? Tawaran apa?”

“Menjadi kekasihmu, apalagi?”

Jangan salahkan jika keadaan berubah total. Kalimat tadi bagaikan mantra ajaib yang seolah mampu menjawab keraguan Minky selama ini tentang namja itu. Taehyung berhasil membuktikannya, dia memberikan jawaban sempurna dan tak ada alasan bagi Minky untuk terus membohongi perasaannya sendiri.

“Selera humormu lumayan meningkat. Itu lucu, sweetheart.”

“Aku serius.”

“Kau sangat serius?”

“Aku sangat serius.”

“Kau sangat sangat serius?”

“Aku sangat sangat serius.”

“Kau sangat sangat sangat serius?”

“Aku sangat sangat sangat serius. Asdfghjkl, Taehyung! Sebenarnya kau mau jadi kekasihku atau tidak?!” geram Minky tidak sabaran. Lama kelamaan ini persis seperti percakapan dungu antara Spongebob dan Patrick.

Sekarang giliran Taehyung yang dibuat tak bisa berkutik. Namja itu masih terpaku menatap Minky selama beberapa menit, sampai-sampai Minky menguap menunggu balasan jawaban darinya.

“Waktu habis, aku menagih jawabanmu.”

Astaga, itu kan seharusnya dialog Taehyung. Bagaimana mungkin seorang gadis bersikap seagresif ini?

Beranjak berdiri, Taehyung menghambur ke pelukan Minky—sedikit kesulitan karena badan Minky yang sedikit gempal (read: 70 kg) itu tergolong melebar, tidak bisa terengkuh seluruhnya.

Yes, I’ll sweetheart!” seru Taehyung lantang, “Tidak usah ditanyakan lagi. Aku mau! Jangankan kekasih, menjadi ayah dari anak-anakmu pun aku tidak akan menolak!”

“Taehyung?”

“Ya?”

“Aku butuh kantung muntah.”

.

.

.

Di sisi lain, kerumunan orang yang terlupakan itu ternyata masih setia menonton pertunjukan drama absurd dari Minky dan Taehyung. Memandang aneh kedua pasangan gila yang sudah menggelar acara tidak penting di tengah jalan hingga menghalangi siapapun yang mau lewat. Berpelukan mesra seakan dunia ini hanya milik berdua, mengabaikan semua yang ada di sekitar.

“Mereka tidak cocok.” celetuk bocah laki-laki pada sang ibu di sampingnya, “Tapi, aku suka ending yang bahagia.”

.

.

.

“Memelukmu membuatku nyaman sweetheart, senyaman saat memeluk bantal.”

He is weird, of course.

Taehyung tidak menuntut agar Minky sempurna atau mendekati sempurna. Gadis itu cukup menjadi dirinya sendiri tanpa perlu mengubah apapun yang ada. Saling melengkapi kekurangan masing-masing, dan percaya satu sama lain. Bukankah itu mudah?

“Kau tahu hadiah terbaik apa yang pernah ada?” tanya Minky pelan, sesaat balas memeluk Taehyung.

Scrapbook yang kuberikan?”

Eumm, lebih tepatnya si pembuat Scrapbook.”

**FIN**

2 thoughts on “Graduation Gift

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s