FF: The Wolf and not The Beauty (part 19)

The wolf and not the beauty

 

Tittle                          : The Wolf and not the beauty

Author                        : Ohmija

Cast                            : EXO

Genre                          : Fantasy, Friendship, Comedy, Action, School life

Summary                    : Setelah ini, dia tau semuanya akan terbongkar. Setelah ini, dia tau semuanya akan mengetahui identirasnya yang sebenarnya

Kris dan Kai berpencar mencari Sehun. Pria berkulit putih itu menghilang, tidak ditemukan di manapun. Mungkin karena dia sangat marah atas tindakan Kai dan Kris yang menurutnya tidak sesuai kehendaknya.

Kris sudah mencarinya di hotel tempat tinggalnya namun dia tetap tidak ada. Kamarnya terlihat sangat rapi yang membuat Kris berpikir jika Sehun belum kembali ke tempat ini sejak kemarin.

Sedangkan Kai, dia menelusuri semua sudut kota. Mungkin saja Sehun sedang mencari angin atau sedang menyendiri. Beberapa saat kemudian, saat dia tidak menemukan Sehun dimanapun, akhirnya ia menjatuhkan diri disebuah kursi kayu di salah satu taman kota.

Kai menghela napas panjang, frustasi. Kini dia sangat mengkhawatirkan saudaranya itu. Dia bukanlah seorang jarski. Berkeliaran seorang diri di malam hari seperti ini, membuatnya takut jika Sehun mungkin saja melukai seseorang. Walaupun sudah sejak lama dia bisa menahan hasratnya, pemburu tetap saja pemburu.

“Kau dimana?”desah Kai menghela napas panjang, ia membungkuk sambil mengacak rambutnya.

“Kau bicara dengan siapa?”

Kai mengangkat wajah dan menoleh. Suho yang baru saja datang tersenyum sembari menjatuhkan diri di samping pria bertubuh tinggi itu.

“Sedang apa?”tanyanya lagi. “Mencari Sehun?”

Kai tidak langsung menjawab, Hanya diam selama beberapa saat namun matanya terus menatap kearah Suho. Tatapannya tajam, namun terasa teduh. Seperti biasa dia menatap seseorang. Dalam.

“Kau tidak takut denganku?”desisnya.

Suho membalas tatapan dingin Kai dengan senyuman, “tidak.” Ia menggeleng. “Kenapa aku harus takut padamu?”

“Bagaimana jika aku memakanmu?”tanya Kai lagi.

Suho tetap tersenyum, “bukankah kau sudah menjadi jarski? Kau tidak akan memakanku.”

“Jika aku belum menjadi jarski, apa kau akan takut padaku?”

“Tidak juga.”balas Suho cepat. Kemudian ia mengalihkan pandangan, menatap ke lurus ke depan. “Aku tidak pernah menganggapmu sebagai werewolf, Kai. Kau adalah sahabatku.”

“Suho…” seru Kai pelan. Suho menoleh. “Kau tidak akan memberitahu ini pada siapapun kan?” Ia menatap Suho serius. Sebuah tatapan permohonan agar calon ketua osis itu tidak menyebarkan tentang hal ini pada siapapun. Walaupun pada Chanyeol, Baekhyun atau Tao.

“Apa kau tidak mempervayaiku?”tanya Suho lirih.

“Bukan begitu. Tapi Sehun…” Kai menghela napas panjang lagi. “Suho… Sehun adalah keturunan terakhir klan-ku. Dia mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menyelesaikan masalah ini. Terkadang,dia memang bersikap ketus dan bertindak semaunya sendiri. Tapi aku mengerti, dia seperti itu karena dia mempunyai tanggung jawab yang besar.”

“Tapi aku benar-benar bisa menjaga rahasia ini. Aku bahkan ingin membantu kalian.”ucap Suho sungguu-sungguh. “Kai, kita sudah berteman cukup lama. Apa kau tidak mempercayaiku?”

Kai menatap Suho tanpa suara, sarat terima kasih. Ingatannya kembali dan identitasnya terbongkar, tapi dia tidak kehilangan sahabat. Diantara mereka, Suho memang yang paling bersikap dewasa, terkadang bertingkah seperti kakak laki-laki yang siap menampung semua keluh kesah mereka. Terutama si Huang Zitao, pria paling kekanak-kanakkan itu.

“Suho…” Kai mendesah panjang. Sangat frustasi. “Sebenarnya, Sehun dan Luhan….”

Bunyi dering ponsel Suho menyeruak tiba-tiba, menghentikan kalimat penjelas yang ingin dikatakan oleh Kai. Kai langsung mengatupkan mulutnya sedangkan Suho meraih ponselnya dari saku seragam. Keningnya berkerut begitu membaca nama yang tertera dilayar ponselnya.

“Chanyeol?” Ia melirik Kai, lalu menekan tombol answer. “Ya? Ada apa Chanyeol?”

“Suho! Aku tidak menemukan Kyungsoo! Dia menghilang!” suara panik Chanyeol membuat Suho seketika tersentak. Matanya membulat lebar.

“Hah?! Apa kau bilang?!” Suho berdiri dari duduknya.

“Ada apa?”tanya Kai ikut panik.

“Aku tidak menemukannya di kelas saat kami keluar kelas. Sepertinya dia kembali ke rumahnya,”

“Kembali ke rumahnya?!”

Kai tau ada sesuatu yang sedang terjadi. Dan dia juga tau siapa yang sedang dibicarakan oleh Suho dan Chanyeol sekarang. Kai merampas ponsel yang ada ditangan Suho, bersamaan dengan rasa kepanikannya yang semakin menjadi-jadi.

“Dimana Kyungsoo, Chanyeol?!”

“Dia pulang. Aku yakin dia pulang!”

Pulang, Itu artinya Kyungsoo akan melewati gereja, Tidak ada siapapun di rumahnya, itu artinya dia akan sendirian. Sedangkan sampai saat ini, Leo belum bisa ditemukan. Membiarkan Kyungsoo sendirian, itu artinya mengundang Leo untuk datang.

Kai mengembalikan ponsel itu pada Suho, tanpa disadari disertai dorongan yang membuat Suho termundur ke belakang. Detik itu juga ia berlari kencang. Kesadarannya menghilang dan dia harus menemukan Kyungsoo sekarang.

Suho mengejar langkahnya, namun dia tau dia tidak akan bisa menyeimbangi lari Kai yang saat ini semakin cepat. Ia melihat Kai melompat tinggi menuju atap rumah penduduk didepan matanya, sama seperti saat dia melihat Kris waktu itu.

Bergerak cepat dan dalam hitungan detik menghilang begitu saja. Dia tidak terkejut lagi. Bahkan semakin menyadari jika sahabatnya itu memang benar-benar seorang werewolf.

Suho menghembuskan napas panjang, lalu melanjutkan langkahnya. Dia bilang dia akan membantu, dan dia harus membantu Kai mencari Kyungsoo. Yah, dia juga akan ke gereja itu.

***___***

Angin dingin menusuk tubuh semakin bisa dirasakan Kyungsoo menggigiti kulitnya. Ia merapatkan dirinya pada dinding, memperbesar jarak antara dirinya dan laki-laki menakutkan yang sedang berdiri didepannya.

“Siapa kau?”lirih Kyungsoo, tangan kanannya mencengkram helai kain putih di atas lantai. Ia berusaha menelan ketakutannya.

Leo menyunggingkan senyum menyeringai, ia menatap Kyungsoo seperti tikus kecil yang siap untuk disantapnya kapan saja. Dia terlihat lemah dan tidak berdaya.

“Sangat berbeda.”serunya, suaranya terdengar dingin di telinga Kyungsoo. “Benar-benar sangat berbeda.”

Kyungsoo tidak bersuara sama sekali. Tetap menatap takut kearah Leo dan berharap dia bisa melarikan diri dari sini secepatnya.

“Bagaimana bisa keturuan terakhir Solomon ternyata adalah orang yang tidak berguna seperti ini?” Dia tertawa pendek.

Dalam benaknya, Kyungsoo jadi bertanya-tanya tentang ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Leo. Keturunan terakhir pastor Solomon? Siapa? Bukankah cerita itu hanya isapan jempol belaka?

“Apa yang sedang kau bicarakan?” ia memberanikan diri untuk bertanya.

“Jadi kau tidak tau?”

Kyungsoo hanya diam, namun lewat sorot matanya, ia menanyakan banyak hal.

“Sepertinya kau benar-benar tidak tau.”seru Leo. “Apa pemimpin klan itu tidak memberitahunya? Atau guardianmu hanya bisa memperhatikanmu dari jauh?”

Kyungsoo tetap tidak menjawab apapun.

Leo bergerak maju, menghampiri Kyungsoo yang semakin merapatkan punggungnya pada dinding di belakang. Saat Leo berjongkok didepannya, ia membuang pandangan ke kanan, takut membalas tatapan Leo yang seakan bisa membunuhnya saat itu juga.

“Aku tidak mengenalmu, tolong lepaskan aku. Aku ingin pulang.”seru Kyungsoo hati-hati.

Leo mengulurkan tangan, dua jarinya menyentuh dagu Kyungsoo dan memaksanya untuk menghadapnya. Jantung Kyungsoo mulai berdebar-debar tak karuan. Ia takut. Sangat takut.

“Aku membutuhkan darahmu untuk hidup abadi…” ia memberikan jeda sesaat. “… Kyungsoo Solomon.”

Kyungsoo tersentak. Dia menggeleng sebagai bentuk pengelakan, “bukan, Kau salah orang. Aku Do Kyungsoo, aku bukan Kyungsoo Solomon.”

Leo tersenyum menyeringai, “Kau pasti tidak pernah menyadari jika selama ini ada seseorang yang mengawasimu.”serunya dingin, “Bukankah mereka terikat dengan sumpah? Lalu dimana para guardianmu sekarang? Kenapa membiarkanmu sendirian?”

“Aku bukan keturunan terakhir Solomon! Mnegerti?! Pergi dariku!” Kyungsoo mendorong tubuh Leo sekuat tenaga lalu bergegas pergi. Namun, dengan sigap dan gerakan samar, Leo sudah bangkit dan berdiri didepan Kyungsoo dengan tangan terulur dan mencekik leher Kyungsoo.

Kyungsoo bisa merasakan bagaimana tangan besar itu mampu menghentikan aliran darahnya dan menyumbat saluran pernapasannya. Dia menguap-nguap, mencari-cari udara sambil memukul-mukul tangan besar dan dingin itu agar melepaskan batang lehernya.

Mata tajam itu kini berubah menjadi merah menyala, penuh kobar api dan bara kebencian. Kyungsoo semakin menguap-nguap saat dirasakannya tubuhnya perlahan terangkat dan kedua kakinya terayun-ayun di udara.

“Argghh!”

Leo mengerang keras lalu membanting tubuh Kyungsoo ke lantai dengan kasar. Punggungnya berhasil menabrak pintu menuju menara gereja. Untuk seketika bisa dirasakan bagaimana pedihnya punggungnya setelah ia menabrak gembok besi besar yang mengunci pintu. Belum lagi rasa nyeri di lengan kanannya karena terjatuh lebih dulu dan menjadi tumpuan tubuhnya.

Kyungsoo meringis, ia memegangi lengan kanannya dan berusaha berdiri. Wajahnya nyaris pucat pasi, bibirnya memutih seakan tidak ada sedikitpun darah di dalam tubuhnya.

Dia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang dan siapa orang yang sedang berdiri didepannya ini. Dia tidak punya hubungan apapun dengan Solomon, bahkan tidak mengetahui tentang siapa pastor Solomon itu.

“Sudah ku bilang, aku bukan—“

Kembali, Leo mengulurkan tangannya lagi dan mencengkram kerah baju Kyungsoo, menarik pria mungil itu kearahnya. Kyungsoo terperangah.

“Sungguh! Aku bukan keturunan terakhir. Kau sudah… arrgh!”

Kyungsoo menjerit seketika begitu ujung kuku Leo menorah panjang di lengan kanannya, merobek seragamnya dan menembus ke kulitnya. Warna merah mulai keluar mengikuti bentuk garis dilengannya.

Leo tersenyum penuh kemenangan, sebentar lagi. Yah, sebentar lagi dia akan hidup abadi.

“Kyungsoo!”

Kai berlari kearah Leo dan Kyungsoo. Menyergap tubuh Leo yang membuat mereka berdua berguling di lantai. Kyungsoo berpindah tempat, ke samping lemari kayu dan bersembunyi disana.

Leo tersentak begitu menyadari siapa seseorang yang menyerangnya tadi. Kai!

Pada detik berikutnya, wajah Kai mengingatkannya dengan seseorang yang dulunya tidak pernah terpisah dengannya. Leo menoleh kebelakang, dia menatap Kyungsoo dengan mata terbelalak, baru menyadari jika Kyungsoo mengingatkannya dengan seseorang.

Mereka sama persis. Benar-benar sama persis.

Dia… seperti D.O!

“Menjauh darinya atau aku akan membunuhmu!”ancam Kai, dia berdiri berhadapan dengan Leo dengan sorot kebencian.

Untuk beberapa saat terpaku dalam keterperangahan hebat, Leo akhirnya tersenyum saat ia menatap Kai.

“Ini bukan karena sumpah, kan?”desis Leo dingin, ia menebak tepat.

“Jika kau pikir aku akan membiarkanmu melakukan hal yang sama dengan yang sudah kau lakukan pada kakakku, kau salah besar!”ancamnya. “Aku akan melindunginya!”

Memandangi keduanya, di samping lemari kayu, Kyungsoo hanya bisa meringis sambil menutup lukanya dengan telapak tangannya yang lain. Rasa pedih itu semakin menjalar-jalar, seperti mematikan saraf di lengan kanannya dan membuatnya mati rasa.

Darah merah terus mengucur deras dari lengannya, wajahnya memucat, dan dia merasa semakin lemas. Kyungsoo merosot ke lantai, kepalanya disandarkan pada lemari kayu dan dia mulai terbatuk-batuk.

Kucuran darah yang terus keluar menyebarkan bau yang harum dan mengundang hasrat Leo. Leo mengendus dalam, dirasakannya semakin lama hasratnya semakin menggurak dan tidak bisa ditahan lagi

Leo tidak bisa berpikir jernih, degupan jantungnya berdebar-debar dan dia menginginkan darah itu sekarang.

Ia mengerang keras, mengeluarkan taring tajam dan kuku-kuku panjangnya. Bola matanya berubah merah sesaat kemudian berlari ke depan, ingin menyergap Kyungsoo.

Kai menoleh ke belakang, dia mendapati Kyungsoo sedang kesakitan dan dia melihat darahnya sudah menetes ke lantai. Dia pernah merasakan bagaimana bau darah Kyungsoo seperti membuatnya hampir gila, dia pernah merasakan saat dia sangat menginginkan darah itu.

Ia berlari cepat, mengejar Leo dan segera mungkin menarik tubuhnya. Kai berhasil menarik jubah Leo dan membuatnya tersungkur ke belakang, menabrak beberapa kursi kayu dan menghancurkannya seketika.

Kai berjongkok didepan Kyungsoo, menatapnya penuh kekhawatiran. Ia segera melepas kemeja seragamnya, tidak mempunyai banyak waktu untuk membuka satu-persatu kancingnya sehingga ia membukanya secara paksa. Dia merobek kemeja putihnya menjadi untaian kain panjang dan mengikatkannya pada luka Kyungsoo.

“Siapa kau sebenarnya?”lirih Kyungsoo, mata teduhnya berkaca-kaca menatap Kai.

Kai mendongak, sorot matanya memancarkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya pada seseorang yang seharusnya tidak terlibat dalam situasi seperti ini. Dia tidak bisa mengatakan apapin, hanya bungkam sampai sebuah tendangan mendarat mulus di punggungnya.

“Argh!”

Kai mengerang kesakitan. Untuk seketika tulang punggungnya terasa seperti patah. Tidak hanya sampai disitu, Leo juga menarik kerah baju belakang kaus Kai dan memaksanya untuk berdiri. Setelah itu mendorong tubuhnya ke depan dan membenturkan kepalanya ke dinding dengan keras.

Kai langsung mengulurkan tangannya dan menapakkan kedua telapak tangannya ke dinding untuk menahan benturan itu. Lalu sekuat tenaga mendorong tubuhnya ke belakang dan berputar, ia berhasil memukul Leo tepat diwajahnya dan memberikan tendangan keras.

Suho turun dari bus yang ditumpanginya dan langsung berlari kencang menuju rumah Kyungsoo. Dia tidak bisa menghubungi Kris dan dia gagal menemukannya dimanapun. Mungkin dia masih tidak mengetahui jika Kyungsoo sedang berada dalam bahaya dan terus mencari Sehun.

Bodohnya, dia meninggalkan teman-temannya dan pulang lebih dulu untuk menemui Kai. Dia sudah berjanji untuk membantu mereka, tapi dia justru melupakan jika Kyungsoo adalah yang terpenting.

Dia adalah titik pusat diantara tiga orang itu dan titik vital dari semua masalah ini. Harusnya dia menjaganya, tidak meninggalkannya pada Chanyeol yang tidak mengetahui apapun. Jika terjadi sesuatu pada Kyungsoo, apa yang akan dia katakan pada Kris nanti? Bodoh!

Langkah Suho terhenti saat dia melihat pintu gereja yang dilewatinya terbuka. Dia membatalkan niatnya untuk pergi ke rumah Kyungsoo. Suho membungkuk, melewati garis pembatas polisi dan berdiri dibelakang daun pintu, mengintip ke dalam.

Matanya sontak membulat saat dilihatnya perkelahian yang terjadi di dalam gereja. Kai sedang berkelahi dengan seseorang, yang sudah dipastikan Suho adalah musuh mereka. Kris pernah memberitahunya, dia adalah Leo, kakak Luhan sekaligus klan Theiss.

“Apa dia benar-benar Leo?”gumamnya seorang diri.

“Astaga!”

Suho tiba-tiba menoleh kebelakang dengan keterperangahan hebat begitu didengarnya suara jeritan seseorang dibelakangnya. Chanyeol, Baekhyun dan Tao sudah berdiri dibelakangnya tanpa dia sadari. Dan juga… mereka telah melihat perkelahian yang terjadi didalam.

“A-apa yang kalian lakukan disini?” Suho tergagap namun ketiganya tidak acuh sama sekali. Mereka terus menatap ke depan dengan mata terbelalak.

“Kai!”

Tiba-tiba Tao menerobos masuk saat melihat tubuh Kai dibanting dengan keras dan menabrak kursi-kursi kayu. Dia berlari ke dalam, menghampiri Kai membuat pria itu seketika terkejut.

Suho, Chanyeol dan Baekhyun tak kalah terkejut melihat tindakan berbahaya yang dilakukan Tap barusan. Bodoh! Yang dihadapi Kau bukanlah manusia!

“Tao, jangan!” Kai berusaha mencegah, dia mencoba berdiri dengan susah payah.

Suho, Chanyeol dan Baekhyun ikut memasuki gereja itu dan menghampiri Kai yan g sudah tersungkur. Mereka membantunya berdiri.

“Suho, beritahu Tao, Jangan. Berbahaya.”lirih Kai, memegangi dadanya yang terasa sesak.

Saat Chanyeol dan Baekhyun menoleh, mereka nyaris tidak percaya dengan apa yang mereka lihat sekarang.

Baekhyun menutup mulutnya, “astaga… makhluk macam apa ini..”

Begitu menatap Kai kembali, mata Chanyeol menangkap jari-jari Kai yang kini ditumbuhi dengan kuku panjang dan tajam. Pria tinggi itu memandangi sahabatnya dari atas kepala sampai kaki lalu memandangnya kembali.

Dalam diam, banyak pertanyaan yang ingin dilontarkannya namun ini bukanlah waktu yang tepat. Mereka semua berada dalam bahaya.

“Zitao, lari dari sana!”teriak Chanyeol memperingatkan Tao.

“Aku melihat Kyungsoo! Dia disana! Cepat tolong dia!”balas Tao, tanpa gentar berdiri berhadapan dengan Leo. “Jangan coba menyakiti temanku!”desisnya dingin.

Leo menatap lurus kearah Tao, pria tinggi dengan tubuh tegap itu lumayan juga. Mempunyai keberanian walaupun sudah mengetahui makhluk seperti apa yang sedang dihadapinya itu.

Dengan gerakan cepat, Leo melompat tinggi dan menyergap tubuh Tao seketika. Kuku-kuku tajamnya kembali merobek perut Tao dengan lima besetan.

Tao menjerit nyaring, memberikan tendangan pada Leo untuk melepaskan cengkramannya. Ia termundur dan dengan cepat Chanyeol menangkap tubuhnya.

“Tao!”

“Brengsek!” Kai memaki kesal. Tenaganya sudah mulai habis. Dia menghadapi seorang pemburu dalam posisi belum menyantap apapun sejak tadi. Tenaganya terkuras. Sangat terkuras. Leo begitu kuat sedangkan dia sudah mulai melemah.

Tapi, di ruangan ini, hanya dia satu-satunya harapan terakhir. Jika dia menyerah, Leo akan membunuh semua teman-temannya juga Kyungsoo.

Kai mendorong tubuh Suho pelan, mencoba melepaskan tangan Suho yang sejak tadi memegangu lengannya. Tertatih-tatih, berjalan ke depan menggunakan ujung kursi kayu sebagai penyanggah tubuhnya.

“Arrrggghhh!” Kai menjerit nyaring.

Ini untuk Tao dan Kyungsoo. Dia mencoba menyerang Leo namun justru mendapat tendangan di perutnya. Kai kembali termundur, Ia menutup mata. Inilah akhirnya. Dia akan melakukan kesalahan lagi.

Dia sudah benar-benar lemah dan menyerah. Dia terlalu lelah untuk melawan lagi. Saat membuka mata, dia melihat Leo yang akan menyerangnya lagi.

Pasrah. Hanya itu yang bisa dia lakukan. Jika ini adalah akhirnya, dia harap dia bisa bertemu dengan D.O dan dia berharap seseorang datang untuk melindungi Kyungsoo.

BRAKK

Tiba-tiba seseorang datang, dengan gerakan cepat mengangkat tubuh Leo dan membuangnya ke dinding. Masih secepat bayangan, dia melompat tinggi dan menginjak perut Leo hingga darah hitam menyembur dari mulutnya.

Pemandangan yang amat menjijikan itu, terjadi tepat didepan mereka. Yang melihat, hanya bisa berdiri terpaku dengan napas tertahan. Terlebih lagi saat melihat siapa yang sedang melawan Leo saat ini.

Seseorang… yang mereka kenal sebagai adik yang dingin namun lucu. Kini berubah menjadi begitu menakutkan dengan mata merah menyala, taring yang tajam dan kuku-kuku yang panjang. Kulit putih susunya terlihat sangat pucat sekarang dan dia benar-bnar sangat menakutkan.

“Sehun…”lirih Kai.

Sehun seperti buta. Dan dia juga tuli. Dia bertarung dengan Leo sebagai pemburu dan pemburu. Bukan sebagai jarski. Dibandingkan jarski, kekuatan Sehun memang jauh lebih kuat walaupun selama ini dia hanya memakan daging hewan, Tapi, tetap saja… didalam tubuhnya mengalir darah pemburu Leo yang seperti bisa membakar emosinya dan menciptakan tenaga hebat yang terjadang susah untuk dikendalikan.

Leo sudah tidak berdaya ditangan Sehun namun Sehun sepertinya tidak ingin berhenti untuk menghajarnya. Dia mengangkat satu kayu panjang dengan kedua tangan dan melemparkannya tepat ditubuh Leo. Setelahnya, mengambil satu batang kayu yang berujung runcing dan bersiap untuk menancapkannya pada tubuh iblis itu.

Melihat itu, memaksa dirinya Leo berdiri. Dia memukul wajah Sehun dan menendangnya hingga ia termundur lalu terbang menabrak kaca gereja. Dia pergi melarikan diri.

Suara napas Sehun yang terengah-engah terdengar jelas diantara keheningan itu. Sehun membuang kayu yang sedang dipegangnya kemudian menoleh. Setelah ini, dia tau semuanya akan terbongkar. Setelah ini, dia tau semuanya akan mengetahui identirasnya yang sebenarnya.

Derap langkahnya terdengar satu-satu saat dia menghampiri Kai yang tersungkur. Yang lain bungkam. Mengatupkan mulut rapat-rapat saat Sehun mendekat bercampur rasa takut yang begitu besar karena bisa dilihat bagaimana marahnya ekspresi Sehun sekarang.

Dia berdiri didepan Kai yang tersungkur, tatapannya lurus, penuh kemarahan.

“Makanlah sesuatu jika kau ingin bertarung. Apa kau mau mati?”desisnya dingin semakin membuat suasana menjadi hening.

Kemudian, ia berbalik ke belakang. Tidak memperdulikan tatapan teman-temannya da nterus berjalan kearah Kyungsoo. Didepan pria mungil itu, dia berlutut.

“Sehun, jangan menyakitinya!”teriak Kai, dia berusaha bangun ingin menghentikan Sehun mengingat darah Kyungsoo menetes di lantai tadi. “Sehun!”

Suho dan Baekhyun bergerak, membantu Kai berdiri dan membopongnya berjalan. Sehun hanya diam, dia menatap Kyungsoo yang juga sedang menatap kearahnya sekarang.

“S-siapa kau?” Ia meringis menahan sakit. “S-siapa aku?”

Sehun menelan ludah begitu dilihatnya beningan air mata terjatuh di pipi Kyungsoo. Di hatinya, ia juga merasakan rasa sakit yang tiba-tiba menghantam dadanay keras. Begitu menyesal, harusnya dia tidak pergi. Harusnya dia melindungi Kyungsoo.

“Maafkan aku…”lirih Sehun menunduk. “Tolong maafkan aku…”

“Sehun!” Kai melepaskan cekalan Baekhyun dan Suho kemudian mencoba berjalan seorang diri. Dia duduk disamping saudaranya itu, didepan Kyungsoo. Terkejut saat didapatinya saudaranya itu tengah menangis. “Sehun…”lirih Kai menghusap pundaknya.

“Semua ini terjadi karena aku. Kau terluka, ibumu menghilang dan Kai yang kembali mengingat dirinya. Semuanya karena aku. Tolong jangan marah dan tolong maafkan aku. Tuan… aku mohon maafkan aku…”

Sehun menangis sambil tertunduk dalam. Diraihnya kedua tangan Kyungsoo dan digenggamnya erat-erat. Kyungsoo memejamkan matanya kuat-kuat. Perlahan, semuanya mulai terungkap.

***___***

Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi saat mereka akhirnya tiba di kamar hotel Sehun. Baekhyun sedang mengobati lengan Kyungsoo,Suho juga sedang mengobati luka Kai dan Chanyeol mengobati luka di perut Tao.

Sehun duduk menyendiri di dekat kaca besar kamarnya, menatap keluar dengan tatapan kosong. Kota Seoul masih sangat terang, terlihat indah dari sini.

Sehun meneguk ludahnya dan menghapus air matanya yang mulai merembes dengan lengan baju. Dia lelah. Sangat lelah. Perasaan kosong ini seperti menyiksanya dan dia membutuhkan pegangan.

Dia tidak ingin menjadi keturunan terakhir. Bisakah dia berhenti? Bisakah kepemimpinan ini dipindah tangankan? Bisakah dia lepas dari semua masalah ini?

Mereka bilang yang termuda akan menjadi pemimpin yang kuat, tapi mereka tidak pernah mengetahui jika yang termuda memiliki hati yang paling rapuh.

Sehun berdiri, diraihnya jaket tebalnya dan bergegas meninggalkan kamar hotel.

“Kau mau kemana?”tanya Kai.

“Istirahatlah dan makan daging yang ada di kulkasku. Aku akan keluar.”jawab Sehun tanpa menoleh.

Kai tidak mengatakan apapun lagi karena Suho juga menahan lengannya untuk mencegahnya. Emosi Sehun sedang tidak stabil sekarang dan sepertinya dia membutuhkan waktu. Dia pasti shock karena semua orang kini mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Seperti yang dikatakan Kai tadi, dia mempunyai tanggung jawab yang sangat berat.

Saat dia menoleh, tubuhnya seketika membeku.

Disampingnya, dalam jarak teramat dekat, terbaring seseorang yang telah menjadi korban atas segala sesuatunya. Seseorang yang sebenarnya tidak tahu-menahu tentang masalah ini. Seseorang yang harusnya tidak bertanggung jawab atas segalanya namun diseret paksa untuk masuk ke dalam lingakaran ini. Kemiripan wajahnya dan nenek moyangnya di masa lalu adalah masalah utama.

Tanpa dia sadari, dia adalah titik pusat masalah dan dia adalah tuan dari mereka. Sumpah itu sangat mengikat dan mereka harus melindunginya mati-matian.

Kai menatap sepasang kelopak mata yang tertutup itu dalam rasa bersalah. Ia menelan ludah. Sekuat tenaganya, dia akan melindungi orang itu kan? Sebisanya,dia akan menjaganya dan tidak akan membiarkan dia kehilangan lagi.

Jahat memang. Namun menempatkan Kyungsoo sebagai pengganti D.O dihatinya membuat rasa sakit dihatinya sedikit meredam. Dia sudah tidak bisa melihat D.O namun dia masih memiliki Kyungsoo. Dia bisa melihat Kyungsoo kapan saja, menghidupkan kembali sosok D.O yang sudah lama mati di dalam hati Kai.

Saat kelopak mata itu terbuka, untuk pertama kalinya, mata itu menangkap sosok Kai. Mereka saling tatap. Kai membiarkan Kyungsoo dan teman-temannya menatap dirinya yang sebenarnya. Transparan dan tanpa topeng.

Saat ini, untuk pertama kalinya dia memperlihatkan sosoknya yang sebenarnya. Rapuh dan membutuhkan pegangan. Tidak ada lagi Kai si pembuat onar, namun kini hanyalah Kai, seorang adik yang sangat merindukan kakaknya.

“Aku bukan Kim Kai. Aku adalah Kai Rouler.”serunya pelan. “Kau bukan Do Kyungsoo. Kau adalah Kyungsoo Solomon.”lanjutnya. Kini dia menunduk. “Aku adalah werewolf dan kau adalah keturunan terakhir pastor Solomon.”

Kyungsoo memejamkan kedua matanya kuat-kuat, bersamaan dengan rembesan air mata yang mulai keluar.

“Entah. Aku sendiri tidak tau sudah berapa aku hidup. Seratus tahun.. dua ratus tahun.. atau bahkan lebih.”jelasnya. “Aku bahkan ada saat klan Theiss mengincar pastor Solomon.”

“Kai.. kau…”

“Aku tidak tau. Chanyeol. Aku juga baru mengingat siapa diriku karena aku mengalami depresi setelah kematian D.O.”

“Siapa D.O?”tanya Baekhyun menelan ludah.

“Kakakku. Dia kakakku.”

TBC

 

 

 

 

 

60 thoughts on “FF: The Wolf and not The Beauty (part 19)

  1. Shizu Zhou berkata:

    Kris lg kencan y? kok g muncul2 -_-
    wuah… terharu tingkat nasional, author saya nitip abang Suho y, tolong jgn dirubah jd were wolf atw vampire, pokoke bang Suho jgn smpek digigit yow🙂
    keep fighting🙂 Next😀
    Jg bwt FF Daddys best friend~nya saya tunggu klanjutannya.

  2. Kim Nana berkata:

    Aduuuuuuuuuh semakin sedih aja deh nih cerita. Semoga aja akhirnya Happy ya thor. Ngomong” kris kmna? Kok gk muncul?

  3. sehunbee berkata:

    Sehun pernah gigit Leo, ‘kan ya? Makannya di jadi pemburu…

    Ga heran kalau Leo kewalahan ngelawan Sehun…

    Setiap kali baca FF kk udah kaya nonton film ya, semua adegan action-nya begitu rinci jadi mudah dibayangin dan di pahami…#keren

    regards,

    Sehun’Bee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s