Tokyo’s Dream

Tokyo's Dream

Title : “Tokyo’s Dream”

Author : ANee (anee2809.wordpress.com)

Main Cast : Lee Jieun as Sakura . Do Kyungsoo as Haruo

Rating : T

Length : Oneshoot

Genre : Friendship, Family, Romance, Sad, Angst.

 

Disclaimer : Story is Mine! No Plagiarism!
Cast miliki Tuhan, saya hanya meminjam nama. Dan untuk kenyamanan membaca, readers bisa bayangin orang lain kok, misalnya bayangin bias atau orang yg readers suka. Yang diatas itu hanya rekomendasi saya.

 

Ini adalah SongFic pertama saya. Ternyata buat SongFic itu tidak semudah yang dibayangkan. Jadi tolong hargai karya saya yaa (dengan cara yg menurut readers baik). Hehe. Maaf jika ada banyak Typo(s) dan kesalahan-kesalahan lainnya.

 

Baiklah.. langsung saja!!!

.

.

~~Happy Reading~~

.

.

Tokyo. Dulu, kota ini bernama Edo. Tokyo merupakan ibu kota Jepang dan salah satu kota terbesar di Jepang. Disinilah tempat tinggalku, tanah kelahiranku. Tak sedikitpun langkah kuambil untuk meninggalkan kota dengan gedung-gedung pencakar langit yang menghiasnya ini.

Sakura hirahira mai orite ochite


Yureru omoi no take wo dakishimeta


Kimi to haru ni negai shi ano yume wa


Ima mo miete iru yo sakura mai chiru

 

[7 April 2000]

Saat ini aku sedang berada di sebuah taman, yang dihiasi banyak pohon sakura dengan kelopak bermekaran. Musim semi di bulan April. Faktanya, musim semi di Tokyo terjadi pada pertengahan bulan Maret hingga pertengahan bulan Juni, tapi bunga sakura baru menampakkan indahnya “bermekaran” pada awal bulan April.

Oiya, perkenalkan namaku Sakura. Bunga musim semi. Di taman ini, tepatnya di bawah naungan pohon sakura dengan bangku yang tengah ku duduki, aku sedang menunggu seseorang.

Kalian pasti terkejut jika kuberi tahu siapa namanya. Baiklah, tanpa membuat penasaran lagi.

Namanya adalah Haruo. Percaya atau tidak, “Haruo” bermakna musim semi. Hampir mirip denganku bukan? bedanya, dia adalah musimnya sedangkan aku adalah bunga di musim itu.

Mungkin aku terlalu berkhayal. Sebab aku selalu berpikir, dia adalah laki-laki yang telah Tuhan kirimkan untukku, yang akan mendampingi hidupku hingga nafas ini tak bersemayam dalam raga. Tapi aku memiliki alasan atas pemikiranku, aku selalu merasa mekar seperti bunga sakura saat di dekatnya. Aku merasa nyaman dan terlindungi ketika bersamanya. Mungkin itu hanya tanda-tanda biasa untuk kalian, tetapi tidak untukku. Sejak dulu, aku belum pernah merasakan hal demikian selain pada ayahku meskipun aku memiliki banyak teman laki-laki. Ia berbeda di mataku.

Khayalanku terhenti. Pandanganku menjadi gelap.

Huh? Mengapa tiba-tiba gelap?

Tapi..

Tangan ini.. Sentuhan ini.. Tak asing bagiku.

Lelaki spesial di hatiku. Tapi sayang, hubungan kami hanya sebatas sahabat.

Dan itulah yang membuatku sedikit ragu. Ia belum pernah mengutarakan perasaannya padaku. Mungkinkah cintaku hanya sepihak?

“Menunggu lama, Sakura?” Telapak tangan itu telah membebaskan mataku. Ia mulai berjalan dari belakang bangku, untuk duduk di sebelahku.

“Ah, tidak. Aku juga baru datang.” Kusunggingkan sebuah senyum untuk menutupi kegugupanku. Entahlah, padahal tak hanya sekali atau dua kali aku duduk bersebelahan dengannya. Tapi kali ini, jantungku berdetak tak normal.

“Maaf tiba-tiba meminta bertemu, ada yang ingin aku bicarakan padamu.”

Oh~ perasaan berdebar itu semakin mendominasi.

“Tenang sakura.. Tenang..” bisikku dalam hati

“Sepertinya sangat penting. Tapi sebelumnya, bolehkah aku memberitahumu sebuah kabar baik?”

“Haha. Lakukan seperti biasa, kawan.”

Kawan? uh~ cukup membuat nafasku tercekat.

“Aku diterima di Todai! Tokyo University, Harou!” Seruku dengan gembira.

Tapi.. kenapa Haruo hanya diam?

“umm~ kau tidak senang ya? Kita akan satu kampus, kan?” Tanyaku hati-hati.

“Itulah yang ingin aku bicarakan padamu, Sakura. Tapi sebelumnya, selamat ya! Dan pastilah aku senang karena kau berhasil masuk di Unversitas impian kita. Kau memang gadis hebat.”

Aku sedikit takut dengan pernyataannya di awal, tapi aku tetap tersenyum menanggapi ucapan selamat serta pujiannya. Tak berniat membalas dengan kata. Aku tahu ia belum selesai bicara.

Terlihat dari helaan nafas dan raut wajahnya, ia seperti sedang tidak baik-baik saja. Oh ayolah~ aku sudah bertahun-tahun menjalani masa suka maupun duka bersamanya. Jika tingkahnya seperti ini, ia pasti sedang memikirkan hal berat.

“Sebelumnya aku minta maaf, tapi aku tidak akan melanjutkan study di Tokyo.”

Aku menoleh, memperlihatkan raut wajah terkejutku padanya. Dan memberikan sebuah tatapan yang bermakna -Mimpi kita?-

“Aku yakin kau kecewa. Mimpi kita adalah belajar bersama di Todai. Mengambil jurusan yang sama tentang seni. Tapi takdir berkata lain. Maafkan aku.” Ada raut penyesalan di wajah tampannya. Apakah aku harus marah?

Jelas aku ingin marah, tapi aku tak boleh egois. Mungkin ia memiliki alasan yang kuat.

“Kenapa berubah pikiran? Dan kau akan meninggalkan Tokyo? Berikan aku penjelasan.” Sebisa mungkin aku tak berkata keras. Wanita harus tetap lembut. Itulah yang selalu ibuku katakan.

Ia menggeser duduknya, menoleh padaku dan menggenggam tanganku.

“Ketahuilah.. Aku tak pernah berubah pikiran, aku selalu ingat mimpi kita. Tapi keadaan memaksaku melepas mimpi itu.”

Kulihat matanya berkaca-kaca. Dengan segera ia melepas genggamannya dan kembali pada posisi awal.

Kini ia menunduk, entah memperhatikan rumput dibawahnya ataukah sepatunya. Tapi yang jelas, ia ingin menutupi raut sedihnya dariku. Namun tak berhasil.

“Ayah memintaku untuk mengurus perusahaan yang berada di Osaka. Dan beliau telah mendaftarkanku di Osaka Univesity.”

Sejak tadi aku mencoba menampakkan wajah setenang mungkin, meskipun kini perasaan sedang kalut.

“Ayah memintaku untuk mengambil jurusan Engineering. Agar nantinya perusahaan disana juga terkelola dengan baik.”

Aku sudah tak bisa menahannya, air mataku lolos.

Kawan.. Pasti sangat berat melupakan sebuah impian yang sejak dulu diimpikan.

Dengan keberanian, aku menyentuh pundaknya. Memberikan sebuah kekuatan, sebagai sahabat.

“Aku tak kecewa walaupun kita tidak satu jalan kali ini. Tapi percayalah, orang tua tahu apa yang terbaik untuk putra-putrinya. Meskipun kita harus lebih dulu bersusah payah, tapi di masa yang akan datang, kita akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Sebab kerelaan orang tua adalah kerelaan Tuhan.”

Untuk kali ini aku harus bijak. Sahabatku sedang membutuhkan dorongan.

Ia mulai mendongak dan menatapku. Kulihat pipinya sudah basah dengan air mata. Hatiku sungguh ngilu melihatnya.

Tanpa ragu tanganku terangkat, menangkup wajahnya. Kuhapus air mata berharga itu dengan ibu jariku. Padahal saat inipun aku juga menangis.

“Hei.. Anak laki-laki itu harus kuat. Kau tak malu padaku, hm?”

Bodoh. Jelas aku sedang menangis, kenapa masih saja tersenyum?

“Hiks” Satu isakan itu lolos sebelum akhirnya ia memelukku. Pelukan kesedihan. Pelukan perpisahan. Dan juga, pelukan persahabatan.

“Terimakasih. Aku tahu, kaulah teman terbaikku. Terimakasih sudah tidak marah karena aku melupakan impian kita. Terimakasih untuk selama ini. Aku beruntung telah ditakdirkan Tuhan untuk bertemu denganmu. Menjadi sahabatmu.”

Kuusap punggungnya lembut.

Tak apa hatimu terluka, Sakura. Asal ia bahagia dan meninggalkanmu tanpa beban. Relakan ia.. Jika Haruo jodohmu, ia pasti akan kembali.

“Kau ingat janji kita dulu? Memberi dukungan satu sama lain, apapun keputusannya. Meskipun awalnya keputusan kita adalah melanjutkan study bersama di Todai, tapi tidak masalah jika itu tidak menjadi keputusan akhir. Manusia hanya bisa berencana, Tuhanlah yang berhak memutuskan.”

Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir kami lagi. Membiarkan kehangatan melingkupi untuk beberapa saat.

Aku tahu kau kuat, Haruo.

Perlahan dekapannya terlepas. Jari-jari kami mulai menghapus air mata masing-masing.

Mengakhiri tangisan serta pertemuan dengan senyum. Ya, kali ini kami saling mengukir senyum. Walaupun tak bisa dipungkiri, tatapan sendu itu masih terpatri jelas di wajah kami.

“Ingin mengucap sebuah harapan?” suaranya memecah hening.

Hidup ini berawal dari sebuah harapan. Aku dan Haruo mempercayainya. Kami hidup dengan jutaan harapan yang sudah dan akan kami wujudkan. Entah itu untuk diri kami sendiri ataupun untuk seseorang, bahkan untuk dunia.

“Aku harap kau tak lupa padaku, mengirimiku surat setiap musim semi tiba. Kau harus selalu sehat dan yakinlah bahwa kau bisa melewati semuanya.”

“Aku akan berusaha. Tapi kenapa harus surat dan hanya di musim semi?”

“Aku tahu, aku pasti akan sangat merindukanmu. Tapi aku juga tahu kalau kita tidak akan sebebas dulu. Jadi jangan membuang waktu hanya untuk menghubungiku setiap hari. Dan kenapa musim semi, karena musim semi adalah musim kita. Kau mengerti maksudku kan, Haruo?”

Musim semi..

Musim dimana kita bertemu

Musim dimana kita mengucap janji persahabatan

Musim dimana kita mengukir impian

Dan musim dimana kita berpisah

“Ha ha. Kau selalu bisa membuatku kagum dengan kata-katamu. Baiklah, aku sangat mengerti nona Sakura!”

Ia tertawa lepas bahkan mencubit hidung mungilku ini dengan seenaknya. Tapi tak masalah, aku senang melihatnya tertawa tanpa beban seperti ini.

Oiya, aku hampir melupakan sesuatu.

“Ada harapan untukku?”

Tawanya berangsur hilang, namun senyum itu masih jelas tercetak di wajahnya. Manis.

“Aku ingin Sakura selalu menjaga mimpinya.”

“Huh? Hanya itu?”

“Ya. Hanya itu. Memangnya kau mau minta apa, nona?”

“Ah~ Tidak. Baiklah, aku akan selalu menjaga mimpiku. Untuk orang tuaku dan juga untukmu.”

“Dan untuk dirimu.”

“Yap! Untuk kita semua.”

Perjalanan hidupku dimulai. Tanpa kehadirannya di sisiku.

.

.

Densha kara mieta no wa


Itsuka no omokage


Futari de kayotta haru no oohashi


Sotsugyou no toki ga kite


Kimi wa machi wo deta


Iroduku kawabe ni ano hi wo sagasu no

[19 April 2000]

Suasana musim semi semakin jelas terasa ketika bunga sakura berjatuhan. Terbang menari di udara. Di dalam gerbong kereta api aku bisa melihatnya. Melihat musim semi, melihat kenangan kita. Haruo & Sakura. Selamanya aku tak akan melupakannya.

Setelah pertemuan lalu di taman itu, aku meminta ijin Haruo untuk mengantarnya ke Osaka. Sedikit gila. Awalnya dia menolak, tapi dengan segala bujukanku, ia akhirnya bersedia. Dengan catatan, aku mengajak ayah.

Kenyataan yang membuatku bahagia, keluarga kami saling dekat dan akrab.

Kini aku dalam perjalanan pulang bersama ayah. Pejalanan dari Tokyo-Osaka-Tokyo kami tempuh dengan Shinkasen. Dan tadi aku hanya mengantar Haruo hingga stasiun Shin-Osaka (Osaka baru), karena tidak ada akses langsung Shinkasen dengan tujuan stasiun Osaka.

Warga Jepang lebih suka menggunakan Shinkasen dari pada pesawat terbang. Padahal jika menggunakan pesawat hanya menghabiskan waktu 1 jam, sedangkan dengan Shinkasen harus menghabiskan waktu 2 setengah jam lebih.

Yang menarik dari Shinkasen adalah kereta ini memiliki desain ruangan yang sangat mirip dengan pesawat terbang, hanya bedanya ruangan Shinkasen jauh lebih luas. Dan lagi, pembelian tiket Shinkasen lebih praktis daripada tiket pesawat.

Menikmati perjalanan yang bisa dibilang menyedihkan, karena aku harus berpisah dengan sahabatku. Haruo. Menyebut namanya membuatku teringat akan masa lalu. Dimana aku dan dia sejak kecil selalu bersama. Bermain di taman, di sungai, di atas jembatan, bahkan sepanjang jalan Tokyo menyimpan kisah serta canda tawa kami. Sungguh kenangan indah yang tak ingin aku lupakan, sedikit pun.

Aku dan dia tak pernah mau bersekolah di tempat berbeda. Kami selalu satu sekolah, meskipun kadang berbeda kelas. Tapi kami sangat menikmati masa-masa bersama kami selama ini.

Teringat janji kita saat kelulusan tiba, akan belajar di universitas dan jurusan yang sama. Namun kenyataannya, kau tidak akan satu Universitas denganku bahkan tidak satu kota lagi. Haruo meninggalkan kota Tokyo.

.

.

Sorezore no michi wo erabi


Futari wa haru wo oeta


Saki hokoru mirai wa


Atashi wo aserasete

 

[25 Juni 2000]

Musim semi berakhir. Musim panas siap menggantikannya dengan awal yang membawa hujan. Ya, setiap pergantian musim semi menuju musim panas selalu ada musim hujan (tsuyu). Setiap hari akan turun hujan, tapi tidak lebat. Hanya rintik-rintik.

Tak terasa, sudah dua bulan dia meninggalkan aku dan Tokyo. Jujur, aku rindu padanya. Berharap musim panas ini ia pulang. Namun harapanku seketika pupus, ketika ayahnya berkata bahwa Haruo akan fokus di Osaka selama empat tahun kedepan. Seperti yang ia katakan waktu lalu, ayahnya memintanya untuk mengurus perusahaan di Osaka.

Ayah dan ibunya mengajakku berlibur ke Osaka, tapi aku menolaknya.

Ku jaga rinduku untukmu. Menanti dirimu yang akan menjemputku. Suatu hari nanti.

Sudah dua bulan pula aku menjalani dunia kampus. Di tahun pertama dan kedua di Todai dilalui di Komaba Campus. Dalam masa ini, mahasiswa belum terbagi kedalam jurusan, hanya dibagi menjadi mahasiswa sains atau sosial.

Musim panas. Kami pun memiliki kenangan di musim ini. Justru di musim panaslah kami menghabiskan waktu bersama, mengingat pelajar memiliki waktu libur musim panas pada awal bulan Agustus hingga akhir bulan September.

Hanaki Taikai atau yang dikenal dengan Festifal kembang api. Dulu, kami sering kesana bersama tapi sekarang aku hanya sendiri. Menikmati mekarnya bunga matahari pun sendiri. Aku belum bisa mengakrabkan diri dengan selain dirimu, Haruo.

Bukan berarti aku anti-sosial. Aku berbincang biasa dengan teman-teman di kampus, namun aku lebih suka sendirian di luar kampus. Semenjak tidak ada dirimu.

Selangkah mimpiku terwujud, meski aku belum memasuki jurusan Seni. Tapi aku merasa lebih beruntung darimu.

Aku justru khawatir padamu, apakah kau tertekan?. Kuharap kau bahagia dengan pilihan ayahmu dan menjalaninya sepenuh hati. Meski itu bukan mimpi awalmu, tapi aku yakin itu akan menjadi mimpi akhirmu.

.

.

Odakyuusen no mado ni


Kotoshi mo sakura ga utsuru


Kimi no koe ga kono mune ni


Kikoete kuru yo

Sakura hirahira mai orite ochite


Yureru omoi no take wo dakishimeta

 

Kimi to haru ni negai shi ano yume wa


Ima mo miete iru yo sakura mai chiru

 

Kaki kaketa tegami ni wa


“Genki de iru yo” to


Chiisa na uso wa misuka sareru ne

 

[20 Maret 2001]

Musim semi datang lagi. Dan surat yang kau janjikan itu datang tepat waktu. Aku bahagia, meski hanya sepucuk surat, namun dari surat itu aku tau satu hal. Haruo tak melupakan Sakura.

Hi nona Sakura!

Lihatlah, suratku datang untukmu. Aku menepati janjiku. Hehe.

Bagaimana kabarmu?

Aku disini sangat sehat, seperti yang kau harapkan.

Satu tahun tanpa gadis cerewet sepertimu ternyata membosankan. Apalagi aku harus tinggal di asrama sekarang.

Oiya, di Osaka University pada tahun pertama mahasiswa melalui perkuliahannya di Toyonaka Campus sebelum mulai tahun ketiga yang akan kami lalui di Suita Campus. Aku memiliki banyak kenalan. Bagaimana denganmu? Kuharap kau tak begitu menutup diri.

Baiklah, aku menunggu surat balasanmu nona Sakura. Ingat, jaga mimpimu! Dan bersemangatlah!”

 

Haruo

Di jendela kereta Odakyuu, bunga sakura terpantul. Saat aku membaca suratmu, aku seakan mendengar suaramu. Tanpa sadar air mataku jatuh. Aku menangis haru. Sedikit banyak rinduku terobati.

Mulai ku tulis surat balasan untuknya..

 

Hi Haruo, sahabatku!

Terimakasih telah menepati janjimu. Ku tunggu lagi suratmu di musim semi tahun depan. Tapi jika kau sibuk, jangan terlalu dipaksakan. Aku tidak akan marah. 🙂

Oiya, kabarku baik. Bahkan sangat baik. Aku menjalani hari-hari seperti biasa.

Aku pun merindukanmu, Haruo. Dulu aku memang jengkel karena kau yg selalu jail padaku, tapi sekarang hal itulah yg justru sangat aku rindukan darimu.

Mengenai kampus, semoga kau betah ya! Dan jika mulai merasa tertekan, setidaknya jadikan keersamaan bersama teman-temanmu itu sebagai alasan untuk tetap bertahan. Dan jangan khawatir, aku memiliki banyak teman disini. Karena di periode awal, mahasiswa sains dan sosial berbaur di Komaba Campus. Sehingga kami mengetahui satu sama lain.

Aku akan menunggumu 🙂

 

Sakura

.

.

Meguri yuku kono machi mo


Haru wo ukeirete


Kotoshi moa no hana ga tsubomi wo hiraku

 

Kimi ga inai hibi wo koete


Atashi mo otona ni natteiku


Kouyatte subete wasurete iku no ka na


“Hontou ni suki dattanda”


Sakura ni te wo nobasu


Kono omoi ga ima haru ni tsutsumarete iku yo

 

[30 Maret 2002]

Waktu begitu cepat berlalu, aku sudah melalui hari tanpamu selama dua tahun ini. Tanpa kusadari, kini usiaku semakin matang dan dewasa. Perlahan meninggalkan kebiasaan di masa Menengah Atas yang terbilang masih kekanak-kanakan.

Di Tokyo, musim semi kembali tiba. Bahkan sudah berlangsung selama dua minggu. Suratmu pun sudah datang. Tapi aku harus menunda waktu untuk membalasnya. Aku sibuk mempersiapkan sebuah festifal di kampus. Sebuah festifal yang akan diadakan bulan Mei mendatang yang biasa disebut Go-Gatsu-Sai.

Tidak hanya itu, aku harus berlatih tari Flamenggo untuk festifal itu.

 

Nona Sakura, bagaimana kabarmu? Kesibukan kampus dan perusahaan membuatku sedikit lelah. Tapi jangan khawatir, aku tidak akan sakit.

Kau masih menjaga mimpimu, bukan? Ah~ aku tidak akan lelah mengingatkannya padamu. Itu adalah wujud sesalku karena tak bisa menepati mimpi kita bersama. Maaf, tapi aku sungguh belum rela melepasnya.

Jaga dirimu baik-baik. Dan tetap tunggu aku. 2 tahun lagi! yeay~ 😀

 

Haruo

[30 Mei 2002]

Ini masih musim semi. Tapi festifal Go-Gatsu-Sai telah berakhir. Saatnya aku membalas surat Haruo.

Aku merasa bersalah telah membuatnya menunggu lama. Maafkan aku.

Kesibukanku pun membuatku jarang mengenang masa-masa indah bersamanya lagi. Akankah aku melupakan segalanya?

Tidak akan. Aku memiliki alasan untuk terus mengingatnya. Aku menyukainya. Aku mencintainya. Do’aku tak pernah putus untuknya. Sampai saat ini, cintaku dibungkus oleh musim semi. Dimiliki oleh Haruo.

 

 

 

Haruo, maafkan aku. Bulan lalu aku sungguh sibuk untuk sebuah festifal kampus. Ditambah aku mengikuti kegiatan di luar kuliah, dan dalam festifal itu club ku harus menampilkan sesuatu. Aku dan teman-teman berlatih keras untuk penampilan terbaik. Dan kami berhasil!

Jangan pernah berpikir aku melupakanmu. Itu tidak akan pernah terjadi, karena hatiku akan selalu mengingatmu.

Dan lagi, kau jangan terlalu lelah! Istirahatlah yg cukup. Kau tahu kan apa yg akan kulakukan padamu jika kau sampai sakit?!

2 tahun lagi. Aku masih menunggumu 🙂 SEMANGAT!! Jadikan apa yang kau lalui sekarang sebagai mimpimu, perlahan kau akan terlepas dari jerat mimpi masa lalu. Meskipun mimpi itu tak akan pernah kau lupakan, jangan biarkan ia menjadi bayang-bayang masa depanmu.

 

Sakura Ai Haruo

.

.

Sakura hirahira mai orite ochite


Yureru omoi no take wo daki yoseta


Kimi ga kureshi tsuyoki ano kotoba wa


Ima mo mune ni nokoru sakura mai yuku

 

Sakura hirahira mai orite ochite


Yureru omoi no take wo dakishimeta


Tooki haru ni yumemi shi ano hibi wa


Sora ni kiete iku yo

 

[1 April 2003]

Kini aku sudah menginjak tahun ketiga dalam menempuh study di Todai, saatnya fokus pada jurusan. Jurusan Seni. Jurusan impianku bersama Haruo. Tapi itu dulu. Sekarang, jalan kami berbeda.

Ketika aku merasa lelah dengan kehidupan, aku ingat kata-kata penyemangatmu. Aku harus menjaga mimpiku. Aku melakukannya, Haruo.

Tahun ini suratnya tak kunjung datang. Sepertinya ia bertambah sibuk. Tapi aku tak boleh menyerah. Aku akan menunggunya. Mungkin terlambat tiba.

Saat aku sedang berkutik dengan tugas kampus, ibu mengetuk pintu kamarku. Raut wajahnya terlihat sedih. Aku berharap tak ada kabar buruk kali ini.

Ibu menghampiriku di tepi ranjang, mengusap rambutku lembut. Aku hanya diam.

Apa yang terjadi?

“Sakura, kau harus tabah sayang.” Air mata ibu lolos begitu saja. Aku semakin tak mengerti.

“Ada apa ibu? Apa yang terjadi?” Entah kenapa suaraku menjadi bergetar. Firasat buruk menyelimuti pikiranku.

“Haruo- hiks.”

“Haruo? Ada apa dengan Haruo, ibu. Katakan padaku!” Air mata mulai membasahi pipiku. Aku bertanya dengan tak sabar pada ibu. Hatiku kalut.

“Haruo sudah tiada.”

Detik itu juga tangisku pecah. Ku peluk tubuh ibu dengan erat. Aku terpukul. Inikah alasan suratmu tak kunjung datang?

Musim semi sungguh menjadi musim perpisahan kami.

Ibu bilang, Haruo meninggal karena kecelakaan mobil, saat ia pulang larut setelah lembur di perusahaan. Kantuk menguasainya, hingga mobilnya keluar jalur dan truk besar berhasil menghantam mobil serta merenggut nyawanya. Tragis.

[2 April 2003]

Aku datang saat acara pemakamannya. Air mataku belum kering, bahkan sekarang mataku sudah sangat sembab akibat semalam aku tak berhenti menangis.

Hatiku seakan teriris samurai tajam, melihat sahabat yang sangat kucintai terbujur kaku di dalam peti mati. Aku tak pernah membayangkannya.

“Haruo.. Bangunlah, aku datang.” Dengan suara parau aku memanggilnya. Orang-orang yang hadir melihatku dengan iba.

Ibuku pun seperti tak sanggup melihat keadaanku, beliau hanya mampu menangis dalam pelukan ayah.

“Kau bilang aku harus menunggumu. Dan aku benar-benar menunggumu kembali sampai sekarang. Tapi kenapa justru kau diam?”

Biarlah aku dianggap gila karena bicara pada orang yang jelas-jelas sudah tiada. Tapi asal kalian tahu, hatiku sakit. Ini seperti mimpi. Bahkan aku berharap ini hanya mimpi.

“Sayang, Haruo sudah bahagia di surga. Jangan membuatnya bersedih. Biarkan ia tenang.” Itu suara ibu Haruo. Aku tahu, beliau pasti lebih terpukul dibandingkan aku.

“Tapi aku menunggunya untuk kembali dalam keadaan sehat, bukan dalam keadaan pucat seperti itu, Bu.” Aku bersandar pada bahunya. Dengan tegar ia menopang dan menenangkanku dengan sentuhan serta kata-kata. Menenangkan.

Aku sudah menanggapnya seperti ibuku sendiri sejak dulu.

“Haruo menyayangimu, sayang. Jangan biarkan ia pergi dalam keadaan bersedih karena melihat air matamu. Ibu percaya, sakura adalah gadis tegar.” Meski parau, suara itu tetap terdengar lembut.

“Hiks.” Tapi aku hanya sanggup membalasnya dengan isakan.

“Haruo bilang, kau bukan gadis cengeng. Ia selalu memujimu di depan ibu. Dan wajahnya berseri setiap bercerita tentangmu. Haruo akan bahagia jika kau bahagia. Maka sekarang, hapus air matamu dan tunjukkan senyum cantikmu padanya. Senyum yang selalu membuatnya jatuh cinta.”

Aku terkejut dengan kalimat terakhir ibu Haruo, tapi tak memberi reaksi apa-apa.

Aku pun berabjak dari pelukan ibu Harou. Lantas melakukan apa yang beliau tadi katakan. Menghapus air mata dan tersenyum untuk Haruo.

.

.

Sakura hirahira mai orite ochite


Haru no sono mukou he to aruki dasu


Kimi to haru ni chikai shi kono yume wo tsuyoku


Mune ni daite sakura mai chiru

 

[19 Mei 2004]

Sudah 1 tahun lebih ia pergi meninggalkanku. Tidak untuk ke Osaka, tapi ke tempat yang lebih jauh. Yang tak bisa aku jangkau selama hidupku. Terkecuali jika aku mati nantinya.

Haruo, ini adalah tahun ke-empat setelah kau bilang akan meninggalkan Tokyo. Masihkah kau ingat?

.

.

Setelah pemakaman itu, Ibu Haruo memberiku sebuah surat. Surat dengan desain bunga sakura. Surat Haruo untuk Sakura. Untukku.

Malamnya aku membaca surat itu. Dan air mataku terjatuh lagi. Isi surat itu membuat hatiku perih. Penyataan cinta yang seharusnya membuat pipiku bersemu merah karena tersipu. Namun keadaan membuatnya berbeda, tidak hanya pipiku yang bersemu merah tapi seluruh wajahku. Ya, wajahku memerah karena terus menangis. Sesuatu yg kuimpikan tapi harus rela kulupakan ketika aku terbangun dan sadar bahwa ia telah tiada.

Sakura, surat ketigaku datang. Kali ini ibu yang memberikannya padamu, kan? Aku sengaja membuat kejutan untukmu. Tapi kau tak terkejut ya? Ya sudah.. :p

Lewat surat ini, aku ingin mengungkapkan sesuatu padamu. Sesuatu yang kupendam bertahun-tahun lamanya. Kuharap kau tak marah. Dan jika kau marah, tolong katakan padaku jangan sampai kau hanya diam.

  1. . Kau tahu sendiri jika aku bukan laki-laki yang romantis.

Seharusnya aku menyatakannya di bawah pohon sakura yang dipenuhi bunga bermekar indah. Tapi aku berubah pikiran, aku ingin mengutarakan perasaanku secepatnya lewat surat ini.

 

HARUO MENCINTAI SAKURA

 

Maukah kau menjadi sakura yang hanya dimiliki oleh musim semi?

Itu adalah surat ketiga dan terakhir dari Haruo untukku. Aku tak akan pernah melupakannya. Tak akan melupakan ungkapan perasaannya padaku. Karena ternyata cintaku tak sepihak. Dia juga mencintaiku. Aku senang, aku tersenyum, meski aku tak berhenti menangis.

Aku tak menyaka, hari-hariku di musim semi menjadi jauh dari yang ku impikan selama ini. Kau benar-benar pergi, Haruo. Terbang menghilang menuju langit bersama kelopak bunga sakura yang meninggalkan ranting.

Ini menyakitkan, tapi aku harus percaya bahwa kau telah bahagia di Surga. Aku tak akan mengkhawatirkanmu lagi. Kau tak akan pernah merasa lelah, sakit, bahkan kau tak perlu melupakan mimpimu.

Aku disini akan selalu menjadi Sakura untuk Haruo. Sakura untuk musim semi.

Berjalan kedepan menuju apapun yang menungguku di musim semi mendatang. Akan kujaga mimpiku seperti janjiku padamu.

Aishiteru, Haruo.

-END-

Terimakasih telah meluangkan waktunya untuk membaca. 🙂

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s