Reflection (Chapter 5)

Reflection poster

Title                 : Reflection (Chapter 5)

Author             : Jung Ri Young

Main Cast        : Oh Sehun || Luhan || Zhang Yixing || Park Chanyeol

Genre              : Family, Brothership , Fantasy, School life

Rating             : General

Length             : Chaptered

Disclaimer       : All cast belong to God, parents and SMEnt.

Summary         : “Hukum aku, eomma. Hukum aku yang begitu jahat ini!”

 

.

Sebelumnya     : Chapter 1 , Chapter 2 , Chapter 3, Chapter 4

 

.Sehun kemudian berbalik untuk keluar, meninggalkan Luhan yang kini ganti tersenyum. bersamaan dengan itu, angin sepoi-sepoi menerpa keduanya. Sejuk..dan tenang.

.

.

“Sehuuun..” Luhan berlari kecil melihat lelaki tampan berjalan seorang diri di koridor. Ini pertama kali ia melihat ‘refleksi’ dirinya semenjak percakapan singkat mereka di rumah Kris kemarin.

Sehun menoleh, sedikit terperanjat melihat Luhan yang sangat antusias menyapanya. Ada rasa ingin mengacuhkan, seperti biasa. Namun melihat senyum yang terukir di wajah saudara kembarnya, ia mengurungkan niat itu.

“Oh..hei, rusa.” Balasnya, sedikit kaku.

Luhan terbelalak mendengar ucapan Sehun. “Mwo? Bagaimana kau tahu panggilan itu?”

Sehun tersenyum kecil sebelum menjawab. “Semua orang yang melihat matamu pasti akan menganggapmu seperti rusa. Dan namamu—“

“Yeah, namaku memiliki arti rusa. Itu yang mau kau katakan?” Tebaknya tepat sasaran. Sehun mengedikan bahu.

“Jadi, ada apa kau memanggilku?” Tanya Sehun kemudian, berusaha senormal mungkin.

Luhan terlihat berpikir sebelum menjawab. “Mm..bukankah kau bilang mau berteman denganku? kemarin?”

“Benarkah?” Sahutnya datar. Sorot mata Luhan meredup seketika. Apa Sehun tak sadar ketika mengatakannya?

“Hei, kenapa sedih seperti itu? Oh ayolah, aku hanya bercanda, rusa kecil.” Luhan mendongak, kembali berbinar-binar dan membuat Sehun semakin geli. “Kau lucu sekali, Jung Luhan.” Ujarnya tersenyum lebar. Luhan ikut tersenyum, merasa lega karena Sehun benar-benar mau berteman dengannya. Entahlah, ia sangat tertarik dengan anak bernama Oh Sehun ini tanpa sebab yang jelas. Bukan hanya karena wajah mereka yang mirip –atau bisa dibilang sama persis— namun bagi Luhan, Sehun seperti sebuah magnet. Magnet yang menariknya agar selalu mendekat. Dan ketika ia telah dekat, ia akan merasakan kenyamanan yang tak terelakan hingga membuatnya ingin merasakan lagi dan lagi.

“Apa kita harus makan siang bersama untuk merayakan pertemanan ini?” Tawar Luhan pelan-pelan. Sedikit mengantisipasi jika Sehun menolak.

“Haruskah?” Luhan mengangguk-anggukan kepala sembari melemparkan tatapan penuh harap. “Baiklah, ayo!” Jawab Sehun tak kalah semangat. Tanpa sadar tangannya meraih tangan Luhan agar mengikutinya menuju kantin. Luhan menaikan sudut bibir ke atas, membiarkan tubuhnya diseret oleh teman barunya. Ia tak percaya, benar-benar tak menyangka jika Sehun berubah drastis seperti ini.

Mereka tak terlalu beruntung, sepertinya. Seluruh meja kantin telah penuh dan tak ada ruang bagi mereka untuk duduk. Luhan mendesah, merasa kecewa karena ia pikir kebahagiaannya tak akan bertahan lama. Ia menatap Sehun tanpa semangat.

Namun Sehun seolah tak menghiraukan ekspresi Luhan yang sudah terlihat putus asa. Ia tetap berjalan menuju kedai itu untuk memesan makanan. Beberapa saat kemudian, ia kembali menghampiri Luhan lengkap dengan dua cup ramen yang telah tergenggam di tangan.

“Ayo..!” Ujarnya menggerakan kepala, mengisyaratkan Luhan untuk pergi dari tempat itu. Luhan sempat terpaku karena bingung, namun sedetik kemudian ia mengekor Sehun yang telah berjalan mendahuluinya. “Kau mau kemana?”

“Ikut saja, nanti kau tahu sendiri.”

Luhan tak lagi berusaha bertanya, ia menekan rasa penasarannya hingga mereka sampai di tempat tertinggi gedung ini. Ya, Sehun membawanya ke rooftop.

“Duduklah, mungkin ini akan sedikit kotor. Tapi percaya padaku, suasana di sini sangat nyaman. Aku jamin kau menyukainya.”

Luhan menurut, mendudukan diri di ujung rooftop tersebut. Kakinya dibiarkan mengayun-ayun bebas di udara. “Pemandangan dari sini indah sekali. Kau sering ke sini?” Tanya Luhan menghadap belakang. Sehun mengangguk. Duduk di kursi satu-satunya yang tersedia tepat di belakang Luhan.

“Ini..” Ucapnya menyodorkan satu cup ramen yang ia pegang. Mereka makan dalam diam. Menikmati pemandangan indah dan kebersamaan yang baru kali ini mereka rasakan. Luhan merasa sangat nyaman, di tengah beban perusahaan dan tugas sekolah yang terlalu berat, Sehun datang seolah meringankan semuanya. Ia merasa bahagia untuk alasan yang sangat sederhana.

Dibelakangnya, Sehun memandang lirih punggung Luhan. Ia tahu persis perasaan anak itu. Yang ia tak tahu justru perasaannya sendiri. Apakah ia tega mendekati Luhan untuk kepentingannya? Apakah ia sanggup menghancurkan Luhan yang bahkan sangat mempercayainya? Bodoh! Sehun mengumpat Luhan dalam hati. Kenapa saudaranya itu begitu polos? Kenapa saudaranya itu begitu mudah percaya pada dirinya yang bahkan memiliki seribu niat jahat? Tak terasa jari-jarinya mengepal kuat hingga cup ramen yang dipegangnya teremas kuat, menumpahkan kuah di dalamnya.

“Hey, ramenmu!” Seru Luhan yang terciprat sedikit kuah yang tumpah. Sehun tersentak lalu buru-buru menyeka. “Ah, maaf. Aku tak sengaja, Luhan.”

Luhan menggeleng, tersenyum pada Sehun. “Tak apa. Kau memikirkan apa? Sepertinya tadi kau melamun?” Pertanyaan Luhan membuat Sehun sedikit gelagapan mencari jawaban.

“Tidak. Hanya saja aku masih tak percaya kita akan berteman seperti ini.” Jawab Sehun akhirnya. Ia tak sepenuhnya berbohong, ia memang tak percaya jika mereka akhirnya berteman padahal niat awalnya hanya akan menghancurkan.

“Aku juga.” Luhan mengiyakan. “Aku pikir kau benar-benar membenciku. Kau selalu bersikap sinis dan kasar. Tapi anehnya, semua perlakuanmu tak pernah membuatku jera untuk mendekatimu. Entah untuk alasan apa, Sehun. Tapi, aku merasa kau sebenarnya orang baik. Dan aku selalu ingin berdekatan denganmu. Lebih tepatnya, hati kecilku.” Ungkapnya jujur.

Seperti ada percikan api yang meletup-letup ketika Sehun mendengar penuturan Luhan. Ia tersenyum—lebih tepatnya sedang menghibur hatinya yang sedang bergemuruh. Takdir mengejeknya, membiarkan Luhan membalas segala niat jahatnya dengan ketulusan. Dan lihat? apa dia masih mampu membenci saudara kembarnya seperti ini?

TIDAK! Sehun sepertinya tidak akan mampu melakukannya. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia masih tetap seorang anak yang memiliki kasih sayang. Terlebih jika itu kepada anak yang pernah berbagi rahim dengannya. Berbagi kehangatan dalam kandungan seorang Im Yoona.

“Luhan…”

“Hmm?”

“Maafkan aku..”

Ucapan Sehun yang sedikit berbisik itu mampu di dengar dengan jelas oleh Luhan yang duduk di depannya. Ia menoleh, kemudian beranjak mendekati Sehun.

“Sudah kubilang aku tidak apa-apa, Sehun. Jangan meminta maaf seperti itu. Cukup dengan kita berteman saja aku sudah sangat bersyukur.”

“Semua tidak sesederhana yang kau pikirkan, Luhan. Maafkan aku..maafkan aku…” batin Sehun masih berteriak-teriak merutuki kepicikannya sendiri.

“Ah, kau dengar bel berbunyi? Ayo turun.” ajak Luhan mengulurkan tangan.

Sehun menggapainya dan ikut bangkit. Menuruni puluhan anak tangga bersisian dengan saudara kembarnya.

.

-xoxo-

.

“Kau darimana? menghilang begitu saja!” Chanyeol menggerutu ketika memasuki ruang kelas. Ia tak bisa menahan kekesalannya ketika melihat Luhan telah duduk manis di bangkunya.

“Aku menghabiskan waktu di rooftop.”

“Hah?” Chanyeol mengangkat alisnya. Jelas saja ia bingung.

“Yeah, aku bersama Oh Sehun di sana.”

“HAH??” Luhan menjauhkan wajah dari Chanyeol ketika lelaki tinggi itu menganga tak percaya. Iya, Chanyeol mungkin benar-benar terkejut mendengar penuturan Luhan. Bahkan Luhan sendiri masih merasa ini seperti mimpi.

“Kami berteman mulai sekarang. Aneh bukan?”

“Ini kabar paling mengejutkan yang pernah aku dengar!”

“Aku sendiri tak percaya, Yeol. Tapi sudahlah. Toh aku bahagia.” Jawab Luhan mengedikan bahu. Ia kemudian fokus ke depan karena seongsaengnim telah memasuki kelas. Meninggalkan Chanyeol yang masih terperangah. Berbeda dengan Luhan, Chanyeol malah merasa janggal ketika Sehun dengan tiba-tiba mendekati Luhan untuk berteman. Ia curiga.

“Semoga ia benar-benar tulus berteman denganmu.” gumam Chanyeol menatap punggung Luhan.

.

-xoxo-

.

Seperti biasa, selepas pulang sekolah Luhan bergegas mengganti seragam dengan pakaian formal ala pekerja kantoran. Menyulap dirinya menjadi terlihat beberapa tahun lebih tua karena pakaiannya. Ia tak sedang memiliki proyek pekerjaan khusus, tetapi sebagai pengganti ayahnya, ia juga harus tetap pergi ke perusahaan untuk menunjukan kredibilitasnya.

Luhan melihat eommanya sedang mengupas apel di ruang tengah. Sembari berlari kecil menuruni anak tangga, tangannya terulur jahil di udara membuat sepotong apel itu tertarik seketika.

“JUNG LUHAN JANGAN BERMAIN-MAIN!” Teriakan Yoona seketika menggelegar disusul dengan tawa renyah anaknya. Ia mendelik sembari mengacungkan pisau pada Luhan.

“Arraseo eomma. Aku berangkat.”

Chu~

Bibir Luhan mendarat mulus di pipi Yoona. Membuat wanita berumur empat puluh tahunan itu sedikit melunak.

“Hati-hati di jalan. Dan lakukan yang terbaik.” ujarnya mengusap kepala Luhan. Luhan mengangguk.

“Pasti.”

.

-xoxo-

.

“Ahjumma?” Kris sedikit terkesiap mendapati wanita paruh baya berdiri di depan rumahnya. Wanita itu menoleh, tersenyum pada Kris lalu mengulurkan tangan untuk mengusap pipinya.

“Aigoo, kau sudah besar sekali, Kris!”

Kris menunduk untuk memudahkan wanita itu menjangkau wajahnya. Ia ikut tersenyum, mengusap tangan yang masih berada di pipinya. “Tentu saja, Ahjumma. Aku tumbuh dengan baik di sini.”

“Ah, benar. Kau hidup berkecukupan sekara—“

“Eommaaaa….”

Lelaki tinggi lainnya menyeruak di antara keduannya. Ia memeluk wanita itu seolah takut Kris merebutnya.

“Aigoo, Sehunnie. Apa yang kau lakukan? Tidak malu dilihat Kris, eh?”

Sehun tak menghiraukan cemoohan eommanya. Yang ia pikirkan sekarang hanya perasaan bahagia yang membuncah ketika tiba-tiba melihat eommanya berada di sini. Ia sedikit sebal sebenarnya, mengingat eommanya tak mengindahkan perkataannya untuk tidak menyusul ke Seoul. Tapi ia juga sangat merindukan wanita itu. Sehingga meruntuhkan semua kekesalannya.

“Kau berubah seperti anak TK jika sudah bersama ahjumma.” Kris tak tahan untuk tidak ikut mencemooh. Ia menggelengkan kepala.

“Aku merindukanmu, eomma.”

“Masuklah ahjumma. Kau pasti lelah setelah perjalanan panjang.”

Kris meninggalkan Sehun bersama Oh ahjumma di ruang tamu. Membiarkan ibu dan anak itu saling bercengkrama melepas rindu. Sehun masih saja bergelayut manja di lengan eommanya walau mereka sudah duduk bersisihan.

“Bagaimana sekolahmu, nak?”

“Biasa saja. Semua berjalan membosankan.” Jawab Sehun acuh.

“Kau tidak membuat onar kan?” Tanya Oh ahjumma curiga. Ia melirik putranya.

Sehun bergegas mengangkat kepala. Memandang eommanya dengan bibir yang telah dimajukan dengan sengaja. “Apa eomma pikir aku pembuat onar? Aku anak baik-baik, eomma!” Jawabnya sebal.

Oh ahjumma tertawa pelan mendapati Sehun yang bersungut-sungut. Menurutnya, Sehun terlihat menggemaskan jika sedang sebal seperti itu.

“Keutchi..anak eomma bukan anak nakal. Tidak seperti dulu waktu masih di Busan.”

“Eomma!!!”

Oh ahjumma tertawa semakin keras setelah puas menggoda Sehun. Ia mencubit pipi putranya. Gemas sekali pada Sehun yang sedang menggembungkan pipinya. Ia benar-benar tak habis pikir. Anak yang selalu membuat onar di sekolah hingga membuatnya sering di panggil wali kelas itu masih saja bersikap begitu kekanakan jika bersamanya.

“Aku bertemu dengannya, eomma.”

Sehun tiba-tiba berbisik pelan, membuat Oh ahjumma berhenti tertawa.

“Siapa?” Tanyanya ketika mendapati wajah Sehun berubah serius.

“Jung Luhan.”

Oh ahjumma tak langsung membalas ucapan Sehun. Ia memandang wajah putranya lama. Mencari tahu perasaan Sehun lewat ekspresi yang ditampilkan. Wanita itu tak bisa menerka-nerka. Sehun bukan tipe orang yang mudah ditebak. Tetapi ia tahu, anak di sampingnya ini mengucapkan nama saudaranya dengan perasaan sakit yang terpendam.

“Apa dia sudah tahu kebenarannya?”

Oh ahjumma bertanya hati-hati. Sehun menggeleng.

“Sudah pasti. Mereka tak akan membiarkan anak itu mengetahuinya. Bahkan eomma tak yakin jika Jung Yunho dan istrinya sudah tahu.” gumamnya kemudian.

“Aku membencinya eomma. Sangat membencinya.” Sehun berkata sambil merebahkan punggungnya pada sandaran sofa. Ia menengadah. “Tetapi…aku lebih membenci diriku sendiri karena telah membencinya. Dia sangat baik padaku. Bagaimana bisa aku masih saja menyimpan dendam dengannya yang tak tahu apa-apa? Hukum aku, eomma. Hukum aku yang begitu jahat ini!”

Oh ahjumma mendekap mulutnya sembari menahan tangis. Ia tak tahu harus berkata apa. Sehun benar, Luhan tak berhak mendapat kebencian karena dia tak tahu apa-apa. Tetapi, Sehun juga telah menderita selama ini. anak itu hidup kekurangan dengannya yang hanya mantan perawat dengan gaji minimum. Sedangkan saudara kembarnya hidup bergelimangan harta bersama orang tua kandungnya.

“Sehunnie, uljima…” Ia mendekap tubuh Sehun yang telah meneteskan air mata. Ia tahu, batin Sehun pasti sangat tersiksa dengan keadaan ini.

.

-xoxo-

.

Yoona berjalan di atas hamparan rerumputan basah. Sejauh mata memandang, hanya warna hijau segar yang dapat dijangkau korneanya. Luas, Yoona merasa tempat ini merupakan padang rumput besar tak berujung. Ia menoleh ke kanan kiri, merasa asing dengan tempat itu. Samar-samar, matanya melihat seseorang mendekat.

Seorang anak yang sudah tidak asing lagi baginya, berjalan ke arahnya untuk mempersempit jarak di antara mereka. Yoona mengamati lekat, tak mengalihkan pandangan sedikitpun dari anak di depannya. Wajah itu, Yoona merasa sangat familiar dengan wajah itu. Ketika melihatnya, otak Yoona langsung menyebut satu nama. Jung Luhan. Putra tunggalnya sendiri. Bukan, anak itu bukan Jung Luhan. Namun wajah itu mengingatkannya pada sosok Jung Luhan. Walau ia tahu persis, anak di depannya itu bukanlah Jung Luhan.

Anak yang sangat mirip dengan Luhan itu kini telah berdiri tepat di hadapannya. Menyisakan jarak hanya satu langkah dengan Yoona. Tangannya terulur, mencoba meraih permukaan kulit Yoona. Namun anak itu seperti bayangan yang tak dapat menjangkau maupun di jangkau. Tangannya menembus tanpa memberikan efek apapun bagi Yoona.

Ada rasa sakit ketika anak itu masih saja gagal meraih Yoona. Ia merasa iba, merasa ingin membiarkan tubuhnya dijangkau oleh anak laki-laki itu. Namun Yoona tak bisa berbuat apapun. Ia terdiam. Menatap prihatin mata anak di depannya yang sudah berkaca-kaca. Lamat-lamat, Yoona mendengar anak itu berbicara dengan gemetar.

“Eomma….”

Dan anak itu menghilang bersama angin yang menghanyutkan visualnya.

Yoona tersentak ketika kesadaran kembali menguasai dirinya. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar, mendapati suaminya masih terbaring dan anaknya yang juga terlelap di sofa panjang. Sedangkan dirinya tadi ketiduran di samping tubuh Yunho. Masih dalam posisi terduduk.

Yoona termenung, memikirkan mimpi yang beberapa hari terakhir ini selalu saja sama. Ia bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya siapa anak laki-laki itu? Mengapa dia sangat mirip dengan Luhan? Dan—mengapa anak itu memanggilnya eomma? Mungkin Yoona seperti orang bodoh yang terlalu memikirkan sebuah mimpi. Ya, Yoona tahu mimpi hanyalah bunga tidur. Bukan sesuatu yang nyata. Namun, mimpinya kali ini terasa berbeda. Ia berkali-kali memimpikan hal yang sama untuk beberapa waktu. Seolah mimpi itu adalah petunjuk dan akan selalu kembali karena Yoona tak mampu mengartikannya.

Yoona menghela nafas panjang, merasa bodoh karena pikirannya semakin bebal. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Bukan waktunya kini memikirkan mimpi. Ia memiliki Yunho yang harus di prioritaskan. Suaminya itu belum sadar, bahkan kesehatannya semakin menurun tiap harinya. Dan itu bukanlah sesuatu yang bagus baik untuk Yoona maupun untuk putranya, Luhan.

.

.

.

-TBC-

18 thoughts on “Reflection (Chapter 5)

  1. Clarissa Tiara berkata:

    SUMPAH!!!#teriakpaketoa . Eon aku suka bener part ini , panjanginnn eonn plissss
    Ini ff Bikin aku gregetan……. Banget….. , kapan Yoona sadarrr
    Apa yg bakal terjadi sama hunhan nanti , gilaa eonn aku senyum” sendiri waktu baca part Hunhan
    Eonn lanjutnya panjangin eaaa , dan ditunggu lo Edelweisnya , Keep Hwaiting eon #tebarlove
    Neomujohaa sma semua ff eon🙂❤

  2. Ade Zeni Anggraeni - Fanfiction Park Jiyeon ♥ EXO berkata:

    yaampun thor, cepet banget TBC rasanya. Ini karena saking asyiknya baca.😀

    Kasian banget Sehun, dia sangat merasakan sakit saat berjuang melawan rasa bencinya, padahal dia benar2 anak baik T_T

    Lanjut ya thor, jangan lama-lama😀

  3. Desyehet berkata:

    Sehun jgn benci luhan!! Benci nenek-kakek nya ajaaa!! Mereka yg udah memisaaahkan/?
    Bagus ceritanya, ada telekinesis sama pengendali angin nya juga hehe. Next chapter thorrr di tunggu ^^

  4. Hanna berkata:

    AAAAAAA pen banget tau gimana reaksi yoong ama yunho pas tau sehun adad disituuu! sama reaksi lulu pas tau thehun itu thaudala kandungnya #mendadakcadel

    NEXT ^^

  5. vivi-chan berkata:

    KYAAA!!!! luhan oppa tulus banget! lg seru2nya malah ketemu TBC. . ih nyebelin banget nget nget!
    eonni. . . . ditunggu chapter selanjutnya ya. . trz di panjangin lagi ceritanya. kalo menurutku chapter ini kependekan., hwaitting eonni v@.@

  6. deomi berkata:

    wowowow ff ini daebak!
    duh semoga yunho cepet sadar thor biar luhan gak jatuh miskin. soalnya sehun biar ngerasain jd orkay hahah
    trus yoona juga cepet dipertemukan ama sehun
    happy ending plissss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s