We Are One! We Are EXO! [Chapt. 1]

Untitled-1

Tittle               : We Are One, We Are EXO!

Author             : Ohmija

Genre               : Brothership, Friendship, Family, Life

Cast                 : All member EXO

Summary          : “Kau ingin jadi penyanyi, kan? Maka berjanjilah kau tidak akan melepaskan mimpimu. Tuhan telah memberikanmu kesempatan, jangan sia-siakan kesempatan itu.”

Ini hanya sebuah kisah tentang dua belas anak laki-laki yang tidak saling mengenal namun memiliki mimpi yang sama. Dipaksa menjadi musuh demi menggapai mimpi mereka. Mereka bertarung, saling menunjukkan kemampuan dan saling mengalahkan. Namun diatas segalanya, tanpa mereka sadari persahabatan dan kerja sama antara mereka terjalin begitu kuat.

Namun, pada akhirnya… hanya akan ada satu grup yang keluar sebagai pemenang.

We Are One, We Are EXO!

 

 

Seoul, 2006.

Seorang namja mungil itu duduk disofa ruang tamu dengan mata yang terus terfokus pada televisi. Wajahnya terlihat serius, memandangi beberapa orang laki-laki yang sedang bernyanyi dan menari.

“Ya, Kim Junmyeon, berhenti menonton televise. Cepat kerjakan PR mu.” Seorang namja lain berseru, melewati Junmyeon dan merebut remote televise dari tangannya.

Junmyeon langsung terlonjak, “Hyung! Aku sedang menonton!”

“Kau lupa? Oema dan appa bilang kau harus belajar selama mereka pergi! Menonton acara musik tidak akan membuatmu pintar!”

“Bisakah kau membiarkanku satu hari bebas? Setiap senin hingga sabtu, aku selalu mengerjakan PR dan belajar dengan baik. Hanya satu hari, bisakah kau membiarkanku melakukan yang aku suka?! Ini hari minggu!”

“Kenapa kau berteriak pada hyungmu!”kakaknya juga ikut kesal.

“Karena hyung selalu menggangguku! Aku hanya menonton acara musik, itu tidak akan membuatku bodoh. Aku suka menyanyi.”suara Junmyeon melunak, ada rasa menyesal di dalam hatinya setelah membentak kakak kandungnya barusan.

“Kau tidak akan bisa jadi penyanyi! Junmyeon, berhenti berpikir yang tidak-tidak. Daripada nantinya menyesal, sebaiknya kau melupakan keinginan konyolmu itu. Appa tidak akan mengijinkannya.”

“Itu bukan hanya sekedar keinginan konyol, hyung. Itu cita-citaku.”balas Junmyeon bersikeras.

“Aku hanya akan memperingatkanmu sekali lagi, appa tidak akan mengijinkanmu.”

“Kenapa? Apa anak dari seorang professor dan guru tidak boleh menjadi penyanyi?” suaranya mulai bergetar. “Apa salahnya jika aku menjadi penyanyi?”

“Junmyeon…” Hyungnya berusaha menenangkannya.

“Kenapa kalian tidak pernah mendukungku?! Harusnya kalian memberikanku kesempatan satu kali untuk membuktikannya.”

Junmyeon menghusap matanya dengan lengan baju, berusaha kuat menahan tangisnya lalu berbalik dan masuk ke dalam kamarnya. Suara bantingan pintu terdengar keras, membuat kakaknya hanya bisa menghela napas panjang. Percuma memperingatkannya, karena yang ia inginkan, hanya menjadi penyanyi.

***___***

Dia tau mungkin semua ini memang terkesan mustahil. Tapi, keinginannya untuk menjadi penyanyi sudah terlanjur kuat dan membuatnya sangat ingin menggapainya. Di tengah perjalanannya menuju tempat les piano, langkahnya terhenti saat matanya menatap kearah layar tinggi di tengah kota. Sedang menayangkan musik video dari grup band terkenal yang juga menjadi idola Junmyeon.

H.O.T. Jika saja bisa, ia sangat ingin seperti mereka. Bernyanyi dan menari bersama dengan orang-orang menyenangkan. Menghibur para fans dan mendengar teriakan-teriakan yang menyemangati namanya.

Sayangnya, angannya hanya tinggal angan. Latar belakang keluarganya yang mempunyai pendidikan yang kuat, harus memaksanya untuk melupakan mimpinya. Ayahnya adalah seorang professor di sebuah universitas terkenal, ibunya adalah seorang guru, dan kakaknya, dia adalah seorang mahasiswa teladan disalah satu Universitas terbaik di Seoul.

Latar belakang yang kuat itu juga membuatnya menjadi murid teladan sekaligus ketua kelas di salah satu SMP terbaik di Seoul. Setiap harinya, orang tua dan kakaknya tak henti-hentinya memperingatkannya untuk belajar. Tak henti-hentinya memberitahunya agar kelak, ia bisa menjadi seorang professor seperti ayahnya.

Junmyeon menunduk sembari menghela napas panjang. Mungkin benar, mimpinya akah berakhir disini. Mungkin benar, menjadi penyanyi adalah mimpi yang tidak akan terwujud. Dan dia… mungkin dia akan menyerah atas mimpi-mimpi itu.

***___***

“Junmyeon-ah, kami akan pergi ke acara amal, kau mau ikut?”tanya Kim Jung Hwan, teman sekelas Junmyeon.

Junmyeon menggeleng sambil terus memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, “Aku harus mengikuti les matematika. Sepertinya aku tidak bisa.”

“Benarkah? Ahh… disana juga ada festival menyanyi dan menari. Bukankah kau suka melihatnya?”ajak Jung Hwan lagi.

Junmyeong menghela napas panjang lalu menoleh kearah Jung Hwan dengan tatapan putus asa, “aku akan melupakannya.”

Mendengar itu, sontak Jung Hwan terkejut. “melupakannya?! Kau serius?!”

Junmyeon mengangguk lemah lalu menunduk.

“Kau selalu bilang padaku jika kau sangat ingin jadi penyanyi. Kau tidak boleh menyerah!” sahabatnya itu mencegah. “Permainan piano dan suaramu sangat bagus. Kau pasti lolos.”

Junmyeon tersenyum lirih, “sebaiknya aku meninggalkannya sekarang sebelum aku jatuh begitu dalam. Aku takut semakin tidak bisa melepaskan mimpi itu.”

“Kalau begitu jangan lepaskan!”balas Jung Hwan cepat membuat Junmyeon menatap kearahnya lekat-lekat. “Anggap ini adalah kesempatan terakhir. Jika setelah ini kau tetap ingin melupakan mimpimu, aku tidak akan memaksa lagi. Aku juga akan mendukungmu.”

“Jung Hwan, tapi–“

“Aku memintamu untuk kesempatan terakhir, Junmyeon. Ayolah… lagipula kau sudah cukup pintar dalam pelajaran matematika, kan? Kenapa masih harus belajar? Kepalamu bisa meledak jika terus-menerus memikirkan rumus-rumus itu.”seru Jung Hwan tersenyum, membuat Junmyeon juga tertawa.

“Baiklah. Tapi ini adalah kesempatan terakhir.”

Jung Hwan mengangguk mantap, “aku jamin kau tidak akan menyesal.”

***___***

Junmyeon sadar jika dia telah mengambil pilihan yang salah saat menyetujui ajakan Jung Hwan. Ia tau, perasaan ingin menggapai mimpi itu semakin menjadi-jadi. Semakin meledak-ledak. Tapi, ada sesuatu di hati kecilnya yang mendorongnya untuk datang. Ada bisikan kecil yang mengatakan jika dia benar-benar tidak akan menyesal.

Anak laki-laki berwajah tampan itu, terus berdiri seorang diri. Membiarkan teman-temannya yang berkeliling untuk melihat-lihat. Bukan tidak ingin bergabung, tapi dia lebih suka disini. Melihat ke depan, tepat kearah orang yang sedang bernyanyi.

Ia tersenyum tipis, “aku juga ingin sepertinya.”

Gumaman itu terdengar pelan. Bahkan hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. Namun, sepertinya Tuhan menganggap jika gumaman Junmyeon barusan adalah sebuah bentuk harapan yang ia sampaikan pada-Nya. Tuhan mendengarnya. Dan Dia menyetujuinya.

“Permisi…”

Junmyeon menoleh saat mendengar suara seseorang. Keningnya seketika berkerut melihat seorang wanita berpakaian hitam menghampirinya.

Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, menunjukkan sebuah kartu nama pada Junmyeon.

“Aku adalah salah satu staff SM Entertaiment. Apakah kau berniat untuk mengikuti audisi?”bisiknya.

Junmyeon terpaku, “Apa?”

“Aku tidak bercanda. Ayo ikut denganku.” Wanita itu menarik lengan Junmyeon yang sedari tadi hanya diam dan tidak menjawab. Ia terlalu terkejut untuk ini. Untuk menyadari kenyataan jika seseorang mengajaknya untuk mengikuti audisi.

***___***

JUNMYEON POV

“Apa ini yang kau harapkan Junmyeon?! Apa kau benar-benar ingin membuat nama baik keluargamu buruk hanya karena cita-cita konyolmu itu?!” Ayahku membentak lalu membanting buku hasil nilai ulanganku keatas meja.

“Appa, tapi aku hanya turun satu peringkat. Aku tetap berada di posisi tiga besar.”

“Turun satu peringkat berarti kau mulai kurang konsentrasi dalam pelajaranmu!” beliau kembali membentakku.

Yah, beginilah hidupku selama sebulan belakangan. Terus mendapat bentakan dan omelan karena menurutnya aku tidak bisa membagi waktu antara belajar dan latihan. Setelah ikut audisi waktu itu, aku diputuskan lolos dan menjadi SM Trainee.

Aku sangat senang. Benar-benar senang. Tapi tidak dengan keluargaku. Ayahku benar-benar marah saat mendengar hal itu. Dia hampir saja menyuruhku untuk berhenti namun aku bersikeras meyakinkannya jika hal ini tidak akan mengganggu sekolahku.

Berat memang. Aku harus menyiapkan diri untuk mengikuti ujian kelulusan, mengikuti berbagai les, dan harus latihan. Terkadang, aku ingin menyerah dan tidak kembali ke gedung itu lagi. Tapi, saat aku berada di dalam dan menunjukkan suaraku, entah mengapa aku ingin terus berada disini. Aku ingin berjuang karena ini adalah mimpiku. Aku harus bertahan sedikit lagi, walaupun terkadang terasa sakit.

Aku membanting tasku di atas meja membuat teman sebangkuku, mendongak kaget. Jung Hwan tetap menjadi sahabatku dan aku sangat berterima kasih karena dia mendukung mimpiku.

“Kenapa? Dimarahi lagi?”tanyanya sudah bisa menebak raut wajahku.

Aku mengangguk pelan, kemudian menjatuhkan diri disebelahnya. “Aah, rasanya berat sekali.”

“Berat bagaimana? Kau bisa melakukannya…”

“Aku hanya turun satu peringkat dan dimarahi. Padahal itu hanya hasil sementara. Entahlah.” Aku mengendikkan bahu. Sekarang, hanya bisa menghela napas panjang dan mengeluh pada Jung Hwan.

“Yang ku tau, kau adalah seorang yang jenius. Kau pasti bisa melakukan dua hal dalam waktu yang sama.” Ucapan Jung Hwan membuatku menoleh. “Buktikan pada ayahmu di kelulusan nanti. Kau bisa menjadi nomor satu dan membanggakannya.”

“Tidak mungkin. Bagaimana bisa aku melakukannya? Itu sangat sulit.”

“Apanya yang sulit? Jika untuk orang sepertiku, mungkin hal itu sangat sulit. Tapi untukmu? Junmyeon, kau adalah orang yang jenius. Kau pasti bisa melakukannya. Itu adalah satu-satunya cara agar ayahmu luluh dan mengijinkanmu.

Tuhan, terima kasih karena Kau telah memberiku sahabat seperti Jung Hwan. Dia selalu saja bisa menguatkanku saat aku rapuh. Dan memberi semangat saat aku ingin menyerah.

“Kau ingin jadi penyanyi, kan? Maka berjanjilah kau tidak akan melepaskan mimpimu. Tuhan telah memberikanmu kesempatan, jangan sia-siakan kesempatan itu.”

***___***

Author POV

2007 – Seoul

Musim panas akan datang dan hal itu mungkin berpengaruh pada temperamental Jongin yang menjadi mudah marah.

“Jadi mereka memukulmu lagi?!”desis Jongin saat melihat Taemin sepulang sekolah. “Ayo kembali ke sekolahmu, biar ku beri pelajaran mereka semua.” Ia menggandeng lengan Taemin namun Taemin buru-buru mencegah.

Ia menggeleng, “Jangan lakukan itu. Aku tidak apa-apa.”

“Tidak apa-apa bagaimana?! Mereka memukulmu.”

Taemin kembali menggeleng, “aku tidak apa-apa. Sungguh. Dan aku tidak ingin mencari masalah yang bisa membuatku dikeluarkan dari agency.”

Jongin menghela napas panjang, “Mereka iri padamu sehingga mereka melakukan semua ini. Lagipula, harusnya kau melawan. Aku yakin agency-mu tidak akan mengeluarkanmu. Semua ini bukan salahmu.”

Taemin tersenyum tipis, “aku sungguh tidak apa-apa. Jika kau melawan mereka untukku lagi, kau akan mendapat masalah dari noona-noona mu. Jangan membuat onar.”

“Aku hanya tidak mau kau terus-menerus di bully seperti ini.”

Taemin merangkul pundak Jongin lalu memperlihatkan senyuman lebarnya pada sahabatnya itu, “Terima kasih, Jongin. Tapi aku sungguh tidak apa-apa.”

“Benarkah?” Jongin menatap Taemin ragu.

“Tentu saja.”katanya yakin. “Ngomong-ngomong, kau bilang kau akan mengikuti audisi di SM Entertaiment? Kapan kau akan datang? Kau sudah menyiapkan semuanya kan?”

Jongin mengangguk mantap, “aku sudah mengikuti berbagai kelas menari, juga balet. Kali ini aku apsri diterima.”serunya. “Kau tau? Aku pasti bisa menjadi super star di kemudian hari.”serunya bangga. “Ayo bekerja keras bersama. Kelak, kita akan berada diatas panggung yang sama.”

***___***

Anak laki-laki itu terus berlari dan mencari tempat bersembunyi. Bahkan meninggalkan dokkbukkie-nya yang belum habis. Dia terus berlari, juga meninggalkan teman-temannya di belakang.

“Oema… aku dikejar orang asing. Oema…”gumamnya disela-sela larinya. “Ah, bagaimana ini?”

Mata mungilnya menangkap sebuah kotak kardus yang lumayan besar yang diletakkan disamping toko makanan. Dan akhirnya ia memutuskan untuk bersembunyi di dalam sana. Gila memang, tapi bagi anak kecil yang baru berusia 12 tahun, hal itu adalah hal natural yang keluar dari otaknya.

Ibunya selalu bilang, “jauhi orang asing. Jangan percaya pada mereka” dan hal itu tertancap mati dipikirannya. Dia tidak boleh bicara dengan orang asing. Apalagi seorang wanita yang tiba-tiba menghampirinya dan menawarinya untuk mengikuti audisi.

Audisi apa? Dia bahkan baru bisa menggambar sebuah rumah dan pohon satu minggu lalu.

Anak laki-laki itu terus membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Jantungnya berdegup-degup tak karuan. Bagaimana dia bisa pulang? Dia ingin pulang sekarang.

“Bagaimana ini? Aku ingin pipis.”gumamnya lagi meringis lalu mengacak rambutnya.

Beberapa saat berlalu. Dan dia rasa dia sudah terlalu lama bersembunyi di dalam kotak. Tidak ada siapapun yang menemukannya. Dia yakin jika wanita menakutkan itu sudah pergi.

Merasa yakin, akhirnya ia menjulurkan kepalanya. Mengintip dari balik penutup kardus dan tidak mendapati siapapun disana. Dia sudah tidak bisa menahannya dan ingin buang air kecil secepat mungkin. Hingga ia berdiri, dan melompat keluar dari dalam kardus.

Ia membenarkan tas ranselnya yang terlihat kebesaran dari tubuhnya sendiri kemudian berjalan dengan langkah-langkah cepat menuju rumah. Namun saat dia berbelok, wanita berbaju hitam itu ternyata sudah berada didepannya.

Anak kecil itu terkejut, ingin melarikan diri lagi namun lengannya lebih dulu disambar oleh wanita itu.

“Lepaskan aku! Lepaskan aku! Oemaa~~!” Anak kecil itu memberontak, hampir menangis.

“Adik kecil, tenanglah. Aku bukan orang jahat. Sungguh. Hey…” Wanita itu mencoba menenangkan Sehun. Dia membuka kacamata hitamnya, juga jas hitamnya agar anak kecil itu tidak merasa jika dia adalah seorang penjahat. “Lihat? Aku bukan penjahat. Aku hanya ingin menawarimu sesuatu.”

Anak kecil itu akhirnya tidak berontak lagi, menatap wanita yang ada didepannya dengan kening berkerut. “Ehh?”

“Siapa namamu?”tanya wanita itu selembut mungkin.

“Oh Sehun.”

“Aku Ahreum. Kau bisa memanggilku Ahreum noona.”

“Noona?” Sehun menatap Ahreum bingung. “Bukankah seharusnya aku memanggilmu ahjumma?”

“Apa? Ahjumma? Aku tidak setua itu.”balas Ahreum menahan-nahan kesabarannya. “Aku hanya ingin mengajakmu mengobrol sebentar. Bagaiman jika aku traktir… eumm… apa makanan kesukaanmu?”

Sehun masih memasang ekspresi aneh, jika dia sangat meragukan wanita yang ada didepannya itu, “eung… ddokbukkie…”jawabnya sepelan mungkin. Namun detik berikutnya dia menggeleng, “apa yang ahjumma inginkan sebenarnya? Jika ingin bicara, bicaralah sekarang. Aku harus pulang karena aku ingin pipis.”

Astaga anak ini…

Ahreum menarik napas panjang, jika saja bisa, rasanya dia ingin menendang anak ini jauh-jauh. “Aku ingin mengajakmu ikut audisi. Bagaimana?”

Salah satu alis Sehun terangkat naik, “Audisi?”

“Aku berasal dari SM Entertainment, sebuah agensi yang menerbitkan artis. Aku tertarik padamu jadi aku menawarimu ikut audisi.” Ahreum mengeluarkan selembar kertas dari dalam sakunya. “Berikan pada ibumu, jika kau tertarik, besok sore datanglah ke gedung SM Entertainment dan cari aku. Mengerti?”

Sehun tertegun menatap selembar kartu nama itu sesaat setelah Ahreum pergi. Audisi? Dia bahkan tidak bisa melakukan apapun. Dan.. apakah ibunya mengijinkannya?

***___***

April 2007, 22.30, Training Room, SM Entertainment.

“Junmyeon, kau tidak pulang? Bus terakhir adalah jam 11.” Kyuwan menepuk pundak Junmyeon yang masih larut dalam tariannya. Junmyeon terkejut, kemudian menoleh bingung.

“Jam berapa ini?”

“Sudah jam 22.30. Mau sampai kapan berada disini? Jika kau terus menari, kakimu akan putus.” Kyuwan tertawa, lalu berjalan ke depan, kearah sebuah meja dan mengambil jaket hitamnya.

“Hyung, kau akan pulang?”

Kyuwan tertawa lagi, “tentu saja tidak. Ingin minum sebentar bersama temanku. Kenapa? Kau mau ikut?” dia bercanda, walaupun ia tau Junmyeon masih dibawah umur untuk melakukannya.

Junmyeon menggeleng, “Hati-hati. Aku akan pulang saja.”

“Kau yakin? Sudah larut malam. Aku rasa kau akan terlambat naik bus terakhir.”

“Aku akan naik kereta. Lebih cepat dan sepertinya orang tuaku sudah menunggu.” Junmyeon juga mengambil jaketnya yang terlepas dan terjatuh diatas lantai saat dia menari. Ia bergegas meninggalkan ruangan, namun saat sampai di ambang pintu, pria tampan itu menoleh kembali. “Hyung, jika Sooman sonsengnim mengetahuinya, kau akan diberi hukuman. Jaga dirimu.” Ia memandang Kyuwan sungguh-sungguh sesaat sebelum akhirnya benar-benar pergi.

Kyuwan adalah sesama trainee sepertinya, hanya saja dia sebulan lebih awal diterima di SM daripada Junmyeon. Junmyeon menghormatinya dengan sungguh-sungguh, karena walaupun terkadang dia suka melanggar peraturan, dia adalah seorang kakak yang baik dan perhatian. Juga, dia adalah orang pertama yang Junmyeon kenal setelah masuk agensi ini.

Saat dia sudah berada di lobby utama, tanpa sengaja Junmyeon bertemu dengan Taemin, dia tidak mengenalnya, hanya mengetahui jika dia akan debut secepatnya. Tanggalnya sudah ditetapkan dan dia dengar, bersama dengan empat orang lainnya, dia akan debut sebagai boyband baru SM di pertengahan tahun depan.

Ada rasa iri yang sebenarnya mengganjal di hati Junmyeon saat ia melihat Taemin. Di tahun ini, dia baru menempati bangku kelas 1 SMP dan dia akan debut sebentar lagi. Sedangkan dirinya, dia adalah murid kelas 1 SMU yang tidak tau kapan akan debut. Bahkan belum ada perencanaan apapun dari pihak agensi tentang masa depannya.

Setelah Taemin berlalu, berikutnya ia mendengar suara langkah seseorang. Ia mengadahkan kepalanya dan melihat Taeyeon dan Miyoung sedang menuruni anak-anak tangga. Junmyeon juga tidak mengenal mereka dengan baik, hanya saja dia tau jika dua orang wanita cantik itu akan debut tahun ini sebagai girl group baru.

Aaah, kenapa banyak sekali yang akan debut?

“Annyeonghaseo…” Junmyeon membungkuk sopan saat Taeyeon dan Miyoung berlalu didepannya. Keduanya menoleh, juga melakukan hal yang sama pada Junmyeon.

“Cepatlah kembali ke rumah. Ini sudah malam.” Taeyeon memperingatkan.

“Baik.” Junmyeon hanya tersenyum singkat sambil mengangguk.

Helaan napasnya terdengar panjang dan berat. Untuk seketika membuatnya menghentikan niatnya kembali ke rumah. Melihat para trainee yang akan debut semakin membuatnya iri dan ingin melakukan hal yang sama.

Dia bergerak maju, menaiki anak tangga lagi dan menuju ruang pelatihan. Dia ingin latihan sekeras mungkin karena dia pikir, dia masih cukup payah dalam hal menari. Tubuhnya masih terlihat kaku dan dia belum bisa menguasai koreografi yang diberikan oleh sang pelatih.

Berdiri didepan cermin, Junmyeon menatap bayangan dirinya sungguh-sungguh lalu bergumam pelan menyemangati dirinya sendiri.

“Junmyeon, kau juga harus bisa seperti mereka.”

Dia melepas jaketnya, mengeluarkan ponselnya dan memilih sebuah lagu dari sana. Lalu meletakkan ponselnya diatas sebuah meja dan mulai berlatih lagi.

***___***

Late Night, 02.00 a.m, SM Building

Junmyeon tergeletak di atas lantai dengan kedua tangan dan kaki terentang lebar. Keringatnya bercucuran deras, bahkan membuat kausnya menjadi basah.

“Aku lelah.”keluhnya, meletakkan salah satu lengannya diatas kening.

Sejak tadi terus melatih tariannya, akhirnya Junmyeon menyerah karena kedua kakinya terasa ingin patah. Pinggangnya juga sudah terasa ngilu dan berteriak untuk tidak menari lagi. Dia benar-benar lelah.

Memejamkan mata selama 10 menit, akhirnya ia memaksa dirinya untuk bangkit. Walaupun dia ingin sekali tidur, tapi dia tidak mungkin melakukannya disini. Dia mempunyai kelas pagi ini jadi dia harus cepat kembali ke rumah dan istirahat.

Menyeret langkahnya paksa, Junmyeon keluar dari ruang latihan dan menuruni anak-anak tangga.

Tiba-tiba derap langkah seseorang terdengar membuat Junmyeon seketika menoleh keatas. Seniornya, Donghae dan Heechul yang merupakan member Super Junior terlihat menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Bahkan mereka tidak memperdulikan Junmyeon yang membungkuk dan menyapa keduanya.

“Kami segera kesana. Tunggu kami.” Donghae berbicara dengan seseorang disebrang telepon sambil menangis, disebelahnya, Heechul terus menenangkannya.

Junmyeon menatap keduanya dengan kening berkerut. Sepertinya sesuatu buruk sedang terjadi. Walaupun tidak mengenal semua seniornya, tapi dia tau jika Donghae dan Heechul adalah orang yang ramah jika dia menyapanya.

“Apa yang sedang terjadi?”gumamnya seorang diri lalu pulang ke rumah.

***___***

April 2007, Changsha, China.

Suara tepuk tangan terus bergemuruh riuh menyemangati seorang pria mungil berwajah imut yang akan tampil sebentar lagi. Parasnya yang tampan dan pembawanannya yang selalu sopan, mengundang rasa keingintahuan siapapun yang melihatnya.

Namanya Zhang Yixing, umurnya masih 16 tahun. Sejak beberapa tahun lalu dikenal sebagai artis cilik di Changsha. Tidak jarang wajahnya terlihat dilayar kaca saat mengisi beberapa acara, membuatnya memiliki banyak penggemar sekarang. Penggemarnya bahkan membuat forum di situs Baidu dan terkadang membahas tentang Yixing bersama-sama.

Tidak berbeda dengan hari ini, Yixing mengikuti perlombaan menyanyi di salah satu acara stasiun TV. Dia muncul sebagai remaja tampan yang bisa melakukan apapun. Menari atau memparodikan sesuatu.

“Dengan siapa kau datang kemari?”tanya seorang MC sebelum Yixing menyanyi.

“Aku datang sendiri. Tapi keluargaku menontonku di rumah.”

“Benarkah? Karena keluargamu sedang menonton, maukah kau mengirim pesan untuk mereka? Seperti…sesuatu yang ingin kau katakan.”

Yixing terlihat berpikir sejenak, sesaat kemudian berseru, “nenek, aku akan memenangkan perlombaannya.”serunya tersenyum lebar, memperlihatkan lesung pipinya yang dalam.

“Kenapa hanya nenek yang kau kirimi pesan?”

“Karena aku ingin memenangkan perlombaannya untuk nenekku.”jawabnya polos.

“Jika kau menang, uangnya akan kau gunakan seperti apa?”tanya MC lagi.

“Untuk membawa nenek berobat.”serunya tanpa memerlukan waktu untuk berpikir. “Nenekku sedang sakit, aku ingin membelikan obat agar nenek bisa sembuh.”

***___***

April 2007, Seoul, Korea.

“Junmyeon! Hey! Junmyeon!”Hyera mengguncang tubuh Junmyeon yang tengah tertidur pulas diatas meja kelasnya.

Junmyeon menggeliat, matanya masih menyipit saat dia menemukan perempuan mungil itu menjatuhkan diri dihadapannya.

“Ku dengar terjadi kecelakaan pada Kyuhyun oppa. Benarkah?”

“Hmm?” Junmyeon hanya bergumam,kesadarannya belum kembali.

“Bangunlah. Jawab pertanyaanku dulu. Apa yang terjadi dengan Kyuhyun oppa?”

Junmyeon mengerjap beberapa kali kemudian menatap Hyera bingung, “memangnya apa yang terjadi?”

“Issh, ku dengar dari kelas perempuan yang ada disebelah kelasku, dia mengalami kecelakaan mobil tadi pagi.”

Detik itu juga mata Junmyeon langsung terbuka lebar, tubuhnya menegak seketika, “Hah?!”

Hyera mengagguk, “terjadi keelakaan setelah dia pulang dari Sukira tadi malam. Apakah itu benar? Padahal aku mulai menyukainya, aku harap tidak ada yang terjadi padanya. Aish, aku ingin segera pulang dan menonton berita.”rutuk murid perempuan itu, menendang-nendang kakinya ke lantai.

“Jadi karena itu Donghae dan Heechul sunvaenim mengabaikanku tadi pagi?”dia bergumam sendiri.

“Ehh? Kau mengetahuinya?”

Junmyeon menggeleng, “Tidak. Aku tidak tau.”lirihnya.

“Junmyeon, tolong bantu aku. Katakan pada Kyuhyun oppa jika aku akan mendoakannya. Aku harap dia baik-baik saja. Bisakah? Oeh?

***___***

April, 2007, ChangSha, China.

“Ibuu! Nenek!” Yixing seketika berlari setelah turun dari bus menuju rumahnya. Senyumnya mengembang lebar, dan dia berlari benar-benar sangat cepat. “Ibuuu! Neneeeek!”

Mendengar suara anak laki-lakinya dari luar rumah, ibu Yixing yang sudah menunggunya daritadi berdiri dan berlari ke depan.

“Ibuu!”

Yixing melompat dan memeluk ibunya erat-erat. Tetesan bening keluar, dan merembes di pundak ibunya. Membuat ibunya seketika mengatupkan mulutnya rapat dan menelan kembali pertanyaannya yang ingin ia sampaikan pada Yixing.

“Sebentar lagi mimpiku akan tercapai, bu. Aku akan menjadi penyanyi.”

Ibunya mematung bingung, Yixing melepaskan pelukannya, ia mendongak menatap ibunya sambil menghusap air matanya yang jatuh.

“Bu, aku akan berusaha keras. Aku akan ke Korea.”

***___***

April, 2007, 8:00 P.M KST, SM Building.

Junmyeon keluar dari taksi yang di tumpanginya dan berjalan menuju SM Building. Dia menurunkan topi yang dipakainya, dan setengah menunduk memasuki gedung yang sudah dipadati oleh ELF –sebutan fans Super Junior-. Tidak heran, mereka pasti menunggu kepastian kabar Kyuhyun.

Junmyeon semakin berjalan menunduk, saat harus melewati banyak fans yang kebanyakan sedang menangis di depan gedung.Tidak sedikit juga dari mereka yang membawa banner untuk menyemangati Kyuhyun.

Melihat itu, Junmyeon tersenyum haru. Diantara seluruh memberSuper Junior, Kyuhyun adalah orang yang paling dekat dengannya. Dia sering memberikan nasihat dan terkadang mereka keluar bersama.

Dia juga tau bagaimana susahnya perjuangan Kyuhyun untuk diterima sebagai member Super Junior. Mengingat dia menerima banyak kebencian dari fans yang menganggap bahwa Super Junior selamanya adalah 12 orang. Tapi melihat hal yang terjadi didepannya sekarang, membuatnya terharu. Kyuhyun harus tau ini, jika dia juga memiliki banyak fans yang mendukungnya. Juga memiliki hyung yang sangat mengkhawatirkannya.

Dia pernah bilang, selama dia masuk di dalam grup dan tinggal di dorm, hanya Donghae dan Ryeowook yang bersikap baik padanya, selebihnya, mereka meganggap Kyuhyun seperti tidak terlihat. Tapi tadi pagi, walaupun tidak menangis seperti Donghae, Junmyeon tau jika Heechul juga merasakan kekhawatiran mendalam. Terlihat dari bagaimana pucatnya wajahnya dan matanya yang kehilangan fokus.

“Junmyeon!” tiba-tiba seseorang memanggil Junmyeon. Ia menoleh, seorang perempuan berlari kearahnya.

Junmyeon menatap perempuan itu dengan kening berkerut.

“Kau Junmyeon kan?”

Junmyeon tersenyum sambil mengangguk, “aku Kim Junmyeon.”

“Aaah syukurlah. Aku pikir mereka membohongiku.”

“Ada apa?”

Perempuan itu tersenyum lebar, “aku sering melihatmu masuk dan keluar dari tempat ini dan aku pikir kau pasti seorang Trainee. Selama beberapa minggu ini aku mencaritau namamu, dan akhirnya aku mengetahuinya.”

“Kau mencaritau namaku?” Junmyeon bertanya takjub. “Kenapa tidak bertanya langsung padaku?”ia tersenyum lagi.

“Aku malu.”jawab perempuan itu, rona merah menyelimuti kedua pipinya. Kemudian, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya pada Junmyeon. “Aku adalah fansmu. Namaku Jung Suyoong. Walaupun saat ini bukan musim dingin, aku harap kau mau memakainya.”

Junmyeon mengerjap beberapa kali, masih mencoba menyadarkan dirinya jika ini bukanlah mimpi. Dia memiliki fans? Benarkah? Dia bahkan memberinya sebuah hoodie.

“Benarkah ini untukku?” Junmyeon masih terperangah.

Perempuan itu mengangguk.

“bagaimana ini? Aku merasa tidak pantas menerimanya, tapi terima kasih. Aku pasti akan memakainya. Benar-benar terima kasih.” Junmyeon membungkuk sopan, terharu.

“Aku akan menunggumu disini sampai kau pulang.”

Junmyeon langsung menggeleng, “jangan. Seorang wanita tidak baik berada disini hingga larut malam. Sebaiknya kau pulang karena kita bisa bertemu lagi besok. Aku sungguh terharu atas perlakuanmu terhadapku. Aku berjanji aku akan bekerja keras dan debut secepatnya. Terima kasih.”

Perempuan itu mengangguk-anggukan kepalanya senang.

“Ayo aku antar mencari taksi. Sepertinya kita seumuran, sebaiknya gunakan bahasa banmal.”

Junmyeon dan perempuan itu berjalan bersama menuju ujung jalan.

“Apa tidak apa-apa?” perempuan itu terlihat ragu.

“Tentu saja tidak. Bukankah sekarang kita adalah teman?”

Junmyeon mengulurkan tangannya, menghentikan sebuah taksi yang lewat. Dia menoleh pada perempuan itu.

“Dimana rumahmu?”

“Daejeon. Aku tinggal di Daejeon.”

“Tolong antarkan dia ke Daejeon, pak supir.”pinta Junmyeon pada supir taksi, dia juga memberikan beberapa lembar uang padanya.

“Tidak perlu. Kau tidak perlu membayarkan biaya taksinya.” Suyoong mengibaskan kedua tangannya, canggung.

“Tidak apa-apa. Ini bahkan tidak seberapa. Pulanglah dengan hati-hati.”

Junmyeon masih berdiri di pinggir jalan hingga taksi yang ditumpangi Suyoong menghilang. Setelahnya, dia berbalik dan berjalan kembali memasuki gedung.

Dia melirik arlojinya dan langsung berlari saat jarum jam sudah menunjukkan 15 menit menit sebelum latihan menari di mulai. Dia menaiki anak-anak tangga dengan cepat dan menuju ruang latihan. Sesampainya, dugaannya ternyata salah, hanya ada satu orang di ruang latihan dan dia terlihat asing.

“Annyeonghaseo…” seorang anak laki-laki menyapa Junmyeon saat menyadari kehadirannya.

Junmyeon balas membungkuk, kikuk.

“Kau siapa?”

“Aku adalah trainee baru disini. Namaku adalah Kim Jongin.”

TBC

38 thoughts on “We Are One! We Are EXO! [Chapt. 1]

  1. ElizElfishy berkata:

    Ehm,,,ini menceritakan fakta” member Exo sbelum debut ya? Menarik.
    Yess,,, ada oppadeul SuJu di sini, meskipun bukan cast utama. Tapi tk apalahh. Hehe. ditunggu lanjutannya thor.

  2. Tiikaa berkata:

    Ceritanya seru eon..
    Menceritakan hal2 tntang member exo dri mrka blum debut..
    Kerennnn…
    Klanjutannya aku tunggu ya eon

  3. Arsilver berkata:

    DEMI MUKA GANTENG JUNMYUN AKU SELALU BERHARAP MIJA EONNIE BIKIN FF KAYA GINI DAN TERNYATA TUHAN MENDENGARKAN DO’A KU (?) ;A; AAAAA GATAU HARUS BILANG APALAGI, EONNIE AKU MENCINTAIMU (?)

  4. indahtentiana berkata:

    akh aku suka banget eon . benner2 diambil dari kisah nyata . yaaah jadinya harus bersabar baekhyun nakalan jadi member terakhir yg di bahas -_- secara dia member dgn masa trainee paling singkat -_- . semangat eonn !!!

  5. nina berkata:

    eonnie bikin ini dari sebelum jadi trainee trs jadi trainee sampe debut iia😀
    ini bro ship selain exo’s series iia eon
    johhaaaaaaa >.<
    pas bagian anak kecil yg lari2 dan meninggalkan dobbokkie aku tau klo itu pasti sehun hahaha
    member lain akan muncul satu per satu iia🙂

  6. misaki berkata:

    kayaknya cerita seru eonni, disini diceritain kisahnya exo sebelum debut yaa.
    next part kutunggu, jangan lama-lama yaa eonni hehehe~

  7. JungRiYoung berkata:

    ini real lifenya exo astaga aku berasa ngeliat film tentang mereka dari awal sebelum debut masa…
    daebak lanjutkan🙂

  8. layers berkata:

    T^T aku udh baca…. tp sebenarnya cmn pengen nanyain sesuatu….
    the tree house nya mana??udh lama nunggu nih yg chap 13 season 2.. T^T aku penggemar thor lho…
    hehehe….. buruan di posting yak… bhayyy

  9. youngra berkata:

    wwaahh daebak… sehun’a lucu,,ternyata sehun bener” evil….perjuangan junmyeon jdi inspirasi untukku…aku terharu sma cerita lay..
    lanjut thor..^^ fighting~

  10. lidya berkata:

    aaaah baru baca 1 chapter tapi langsung sukaaa.. niceee ga sabar nunggu trainee lain nya muncul ^^b good job

  11. Ade Zeni Anggraeni - Fanfiction Park Jiyeon ♥ EXO berkata:

    Ini terasa nyata, mengingat bagaimana sulitnya perjuangan mereka untuk debut aku merasa sakit saat banyak orang yang masih menghina EXO T_T
    Mengingat begitu banyak yang terjadi menimpa EXO akhir-akhir ini, aku hanya berharap EXO selalu baik-baik saja, dimana-pun dan kapanpun.

    Author, ayo lanjutkan ff ini dan jangan lama-lama🙂 SEAMANGAT😉🙂

  12. littlecheonsasss berkata:

    Lanjut!! Penuturannya kerasa manis banget, hehehe.. disini kebanyakan part Suho ya? Atau memang Suho tokoh utamanya?

    Hihihi Sehun lucu banget :3. Kekeke~
    Tapi kok tadi di awal ada tulisan ‘dipaksa menjadi musuh’? Maksudnya apa unnie?

    Jelaskan di chapter selanjutnya ya ^_^

  13. HyeRa Hoshikawa Rei berkata:

    FF nya berasa nyata >.<
    Semua d ambil dari fakta yang beredar😀
    d mulai dari member EXO, Super Junior dan debut nya para idol S.M.🙂
    Suka suka suka (y) (y) (y)
    Main cast nya Joon Myun nih, sayangkuuuuuu~~~❤
    Kek nya karena Joon Myun member terlama😀
    Ada Kai, ntar nyusul Lay😀
    d tunggu part selanjutnya thor~😀
    Nice story,😀

  14. rizka berkata:

    wahh daebak suka bgt nih ff nya !!^^ menceritakan mreka sblum debut dan itu pun hampir persis sama faktanya
    pkoknya ditunggu nextny thor🙂

    #keep writing thor !^^

  15. jelsa berkata:

    Wahh, ff nya seru.. nyeritain perjalanan para member exo dari awal yaa. Sehun lucu banget, masa harus sembunyi-sembunyi dulu. Wkwkwk😀
    Ditunggu chapter selanjutnya…
    Jangan lama-lama ya thor😀

  16. Dini berkata:

    aaaa new ff yaaa
    unnie kerennn….
    semua ff unni ga ada yg aku ga suka dh kaya nya … kkkk
    berdasarkn real life ya ini..nyeritain perjalanan EXO member dari trainee sampai debut, pasti bakal banyak suka duka nya, siap sedia tisu deh hihi
    Suka semangat Jumyeon oppa… ahh ini patut dicontoh^^ dan kepolosan sehun bikin ketawa sendiri😀
    Keep writing ya unnie Mija … Semangat semangat next chapter nya^^

  17. Jung Han Ni berkata:

    ini seru banget, aku suka banget >< aku terharu sama perjuanganya junmyeon
    dan itu sehun polos bgt ya, lucu😄
    keep writing eon!

  18. RMD berkata:

    Keren bgt Thor FF nya. Author bener-bener pinter dalam menggambarkan fakta EXO ketika trainee dalam bentuk FF!! Izin baca next chap nee ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s