I’m Sorry For Loving Him [Chapter 2]

ISFLH2

Author : gladiol

Length : Chaptered

Genre : Romance

Rating : General

Cast : Wufan | Min Young

Author’s Note : salam kenal reader…#bow. Panggil aja aku gladiol, 91 line. Sebelumnya aku mau ngucapin terima kasih buat admin yang udah bersedia posting ff-ku ini. Terima kasih juga buat reader yang udah bersedia baca dan kasih komentar. Maaf untuk poster yang sangat sederhana…hehehe. Cerita ini adalah kisah nyata yang aku tuangkan ke dalam ff. dan adegan di dalamnya cuma sebagian yang aku ingat. Sisanya lupa…hahaha.

Selamat membaca….

 

 

 

Oppa apa kau masih mengingatku?

Aku merindukanmu oppa..

Maaf aku lancang mencintaimu

Maafkan aku

 

Min Young POV

Dengan langkah pelan kutelusuri jalan menuju rumahku. Dengan pandangan kosong yang menatap lurus ke depan. Tubuhku seperti kehilangan jiwanya. Pandanganku mulai tak jelas karena selaput bening mulai menutupinya. Sekuat tenaga kutahan agar selaput bening itu tak jatuh membasahi pipiku.

Saat sampai di rumah appa sudah menunggu dan membukakan pintu untukku.

“Wufan sudah pulang?” Tanya appa sambil mengikutiku ke dalam rumah.

“Sudah, appa.” Sahutku tanpa menoleh, takut appa melihat mataku yang hampir mengeluarkan kristal beningnya.

“Ya sudah, tidurlah ini sudah malam.”

Ne, appa.” Sahutku singkat kemudian menutup pintu kamar.

Seketika tangisku pecah. Aku menahan isakan karena tak ingin mengganggu seisi rumah dengan tangisanku. Perlahan kunaiki ranjang dan kurebahkan tubuhku. Masih dengan menangis kuingat lagi kejadian beberapa jam yang lalu.

Aku merasa marah, marah terhadap diriku sendiri yang dengan mudahnya termakan sikap manis Wufan yang bahkan hanya menganggapku adiknya.

Aku merasa menyesal, entah apa yang kusesali, mungkin aku menyesali takdirku yang hanya bisa mencintai tanpa memiliki.

Aku merasa sedih, sedih karena mengetahui kenyataan kalau aku sudah kalah bahkan sebelum aku berperang.

Drrrrtt…ddrrrrtt…

‘Saeng, kau sudah sampai rumah kan?’ Pesan dari Wufan. Sedikit rasa senang yang kurasakan mengetahui ia mengkhawatirkanku.

‘Ne oppa, aku sudah di kamar. Tidurlah oppa, dan segera beri aku kabar kalau kau sudah sampai di rumah, ne?’ Balasku.

‘Ne, kau juga istirahatlah, ini sudah malam.’

Tak kubalas lagi pesan darinya. Aku sibuk meredam isakanku yang tak kunjung usai. Setelah satu jam kurasa puas menangisinya secara tak sadar mataku pun tertutup dan mulai memasuki alam mimpi.

 

***

 

Sudah berhari-hari semenjak pertemuan itu. Pertemuan yang membuatku merasakan sesak setiap waktu. Ingin aku berhenti untuk mencintainya namun hatiku menolak. Aku masih bergelut dengan perasaan yang seharusnya membuatku bahagia. Semua terasa sangat tidak adil untukku. Aku ingin dicintai. Bukan hanya mencintai. Harus berapa kali aku menangis agar dia bisa tahu betapa sakitnya aku. Haruskah aku berteriak didepan semua orang agar semua tahu perasaanku. Aku memang pengecut. Aku hanya bisa mengalah bahkan sebelum aku memperjuangkan hatiku sendiri. Ya…aku sudah kalah.

‘Oppa, bagaimana acara pertunanganmu?’

Begitulah isi pesan yang kukirim kepada Wufan oppa beberapa waktu yang lalu. Baru beberapa hari sejak pertemuan itu, aku sudah merindukannya. Semenjak hari itu juga air mataku seolah tak ingin berhenti mengalir. Aku hanya bisa memasang senyum palsu saat didepan orang tuaku dan berharap mereka tidak melihat bekas air mata di wajahku. Setiap malam aku selalu memasuki kamar dan beralasan ingin tidur lebih cepat hanya karena sudah merasa sesak dan ingin menangisi pria itu. Pria yang sudah mengambil hatiku.

‘Semua berjalan dengan lancar’

Hanya itu balasan yang aku dapat. Baru saja pesan darinya masuk ke handphoneku. Aku pasti sudah menganggunya. Dia pasti sedang melepas rindu bersama kekasihnya. Ah tidak, bukan kekasihnya lagi melainkan tunangannya. Sesak kembali kurasakan.

Wufan. Dia mudah sekali berubah-ubah. Sulit ditebak. Kadang dia sangat manja dan perhatian terhadapku. Kadang juga dia mengabaikanku seolah aku ini orang asing yang tidak penting untuk dia ketahui keadaannya. Namun aku sadar aku ini siapa, aku ini hanya dianggap sebagai adiknya, tidak lebih.

 

Author POV

Flashback

Suasana malam sangat sunyi. Hanya lantunan lagu sedih yang menemani Min Young merenungkan perasaannya. Dia merindukan Wufan. Ingin mendengarkan suaranya namun Min Young takut untuk memulai. Dengan sedikit memberanikan diri Min Young mengirimkan pesan singkat. Berharap Wufan membalas pesannya.

‘Oppa, apa kau sedang sibuk? Aku ingin menelfonmu’

Dengan sedikit berharap-harap cemas Min Young memandangi handphonenya. Hanya memandangi dan merenungkan kisah cintanya yang berawal dari hubungan telefon salah sambung. Tak berapa lama handphonenya bergetar menandakan ada panggilan masuk. Min Young tersenyum mengetahui siapa yang menelfonnya.

Yeobboseyo” Jawab Min Young riang.

Yeobboseyo, sedang apa saeng?” Suara rendah Wufan terdengar.

“Sedang mendengarkan lagu saja oppa, aku bosan. Apakah aku menganggumu?”

“Tentu saja tidak, oppa baru saja selesai kegiatan malam.” Jelas Wufan.

Eoh, bagaimana pekerjaan oppa? Lancar kan? Aku penasaran bagaimana keadaan di asrama oppa, pasti sangat berantakan.” Ejek Min Young sambil menahan tawa.

“Ya! Enak saja kau ini. Kau belum tahu saja keadaan kamar oppa disini. Kau pasti terkejut, bisa saja kan kamar oppa lebih rapi dari kamarmu.” Balas Wufan tak mau kalah.

“Mana mungkin, oppa? Aku tetap tidak percaya.” Jawab Min Young sambil tertawa.

“……”

Oppa?”

Oppa? Kau masih disana kan?”

Yeobboseyo?”

Min Young sedikit panik saat tak mendengar suara Wufan. Min Young kembali melihat layar handphonenya takut hubungan komunikasi mereka tiba-tiba terputus. Namun yang terlihat di bola mata cokelat Min Young adalah layar telefon genggam yang masih menunjukkan tanda panggilan Wufan kepada Min Young.

Terdiam. Hanya itu yang bisa Min Young lakukan, menunggu Wufan menjawabnya.

Yeobboseyo?” Suara Wufan kembali terdengar.

Oppa, ada apa? Kenapa tadi menghilang?” Tanya Min Young.

“Maaf saeng, sepertinya telefon kali ini kita lanjutkan lain waktu. Baru saja eonnimu mengirimi oppa pesan dan oppa harus menelfonnya. Sepertinya ada dua wanita yang merindukan suara oppa malam ini.” Wufan terkekeh sendiri karena kepercayaan dirinya.

“Percaya diri sekali kau oppa, ya sudah kalau begitu. Salam untuk eonni. Selamat malam.”

Min Young langsung menutup telefon dengan kesal. Tidak tahu lagi harus bagaimana. Hanya langit-langit kamar yang bisa ia pandangi. Kecewa dan cemburu, namun ia bisa apa? Tak pantas jika Min Young tiba-tiba meluapkan amarahnya. Bersyukur dia masih menyadari statusnya.

Flashback Off

 

Min Young’s house

‘Ya!! Kau masih sedih?’

Pesan baru saja masuk ke handphone Min Young. Dari Jung Se Hee, sahabatnya sejak dua tahun lalu yang sudah mengetahui kisah Min Young.

‘Aku tidak tahu Se Hee-ya. Baru saja aku mengiriminya pesan tapi dia membalas dengan sangat singkat. Aku pasti sudah menganggunya.’ Balas Min Young sambil menatap kosong layar televisi di depannya.

‘Benarkah? Kapan dia akan kembali bertugas?’ Balas Se Hee.

‘Aku tidak tahu Hee-ya, bahkan dia tidak menanyai kabarku. Kau tahu sendiri kan saat dia bersama kekasihnya aku akan dilupakan.’ Min Young mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.

‘Tenanglah sayang, jangan sedih. Tampilkan senyummu, aku tidak suka kau menangis. Tunggu aku, aku akan datang hari Sabtu nanti. Jemput aku di stasiun jam 10, ne?’ Min Young tersenyum membaca balasan dari Se Hee mengingat mereka tidak tinggal satu kota. Tempat tinggal Se Hee jaraknya dua jam dari rumah Min Young membuat mereka jarang bertemu.

‘Baiklah, aku tunggu di stasiun, aku merindukanmu.’ Se Hee tidak membalas lagi. Min Young kembali menatap televisi di depannya dengan tidak minat. Dengan langkah lambat dia memasuki kamarnya karena bulir bening dari matanya hampir menetes.

Min Young menutup pintu kamarnya dengan sedikit terisak takut suara tangisnya terdengar sampai keluar. Mencoba menahan isakan sambil mengingat masa-masa bertemunya dengan Wufan dan menangisinya sampai tertidur.

 

***

 

Wufan POV

At Naksan Beach

Aku berjalan di tepi pantai, sekedar melepas rindu pada tempat yang memiliki banyak kenangan dalam hidupku. Bagaimana tidak? Kampung halaman tempatku lahir tidak jauh dari pantai ini. Aku tersenyum mengingat masa kecilku yang sering kuhabiskan disini. Sampai aku harus meninggalkannya karena aku yang sudah beranjak dewasa dan bertanggung jawab terhadap profesiku sebagai tentara. Ya, aku meninggalkan semuanya disini. Kenanganku, orang tuaku, dan tentu saja kekasihku. Kekasih yang kukenal saat sekolah menengah atas. Dia seorang adik kelas yang sudah mencuri hatiku jauh sebelum aku mengenal gadis periang yang selalu membuatku rindu akan suaranya, Min Young.

Hatiku sedikit perih kala mengingat Min Young. Aku pikir aku akan tetap menganggapnya adik seperti saat sebelum bertemu dengannya. Namun aku salah, hatiku bergetar saat melihatnya tersenyum dengan mata yang berbinar di bandara siang itu. Aku masih mengingatnya. Aku masih mengingat saat pertama kali aku bertemu dengan gadis itu.

Lamunanku tentang Min Young hilang ketika aku menyadari ada sepasang tangan yang melingkari pinggangku dari belakang. Aku tersenyum dan membalikkan badanku. Tampak Yeon Ju yang sedang cemberut.

Oppa, kau menyebalkan sekali.”

Mwo? Aku ini tampan, bukan menyebalkan. Buktinya kau mau jadi kekasihku.” Godaku membuat pipinya bersemu merah.

“Apa yang kau lamunkan, oppa? Dari tadi aku memanggilmu tapi kau terus saja berjalan. Kau memikirkan siapa? Min Young?”

“Kau cemburu?” Aku balik bertanya.

“Sudah pasti oppa, siapa yang tidak cemburu jika setiap aku bekerja kau malah menghabiskan waktumu untuk menelfon Min Young. Aku merasa prioritasmu sekarang bukan aku tapi dia. Bahkan yang kau temui pertama kali saat kepulanganmu kemarin adalah Min Young.” Omel Yeon Ju padaku.

“Hey, jangan begitu, aku hanya menganggapnya adik, tidak lebih. Kekasihku hanya kau, Yeon Ju. Tidak ada yang lain, percayalah.”

“Sulit mempercayaimu oppa, kita menjalani hubungan jarak jauh. Bukankah sangat kecil kemungkinanmu untuk setia padaku?” Terdengar kesedihan dalam nada bicaranya.

Kuhentikan langkahku sambil memandangi matahari yang akan terbenam. Kutarik tangannya agar berdiri dihadapanku. Aku memandangi bola matanya dan terlihat jika ia merindukanku.

Kuambil sebuah kotak dalam kantung jaketku. Kubuka kotak itu dan tampaklah sepasang cincin sederhana namun manis. Kupasang cincin yang berukuran kecil di jari manis tangan kirinya. Lalu kugenggam dan kucium tangannya. Aku tersenyum melihat Yeon Ju yang menahan air matanya.

Oppa…”

“Pasangkan cincin itu dijariku.” Pintaku dan dengan segera Yeon Ju menurutinya.

“Mulai sekarang status kita bukan berpacaran lagi tapi bertunangan. Maafkan aku yang tidak bisa memberikan sebuah pesta yang mewah untuk merayakan pertunangan kita. Ini sebagai ikatan sementara agar kau percaya padaku bahwa hanya kau satu-satunya yang ada dihatiku. Aku akan segera berbicara dengan orang tua kita agar mereka merestui hubungan ini untuk berlanjut ke jenjang pernikahan. Maafkan aku yang tidak pernah ada disampingmu. Aku mencintaimu.”

Yeon Ju tidak kuasa menahan air matanya dan berhambur memelukku. Kuusap rambutnya agar tangisnya segera reda.

“Aku tidak membutuhkan pesta, gaun, kemewahan atau semua itu, oppa. Ini sudah cukup bagiku. Terima kasih. Aku juga mencintaimu.”

Kupeluk lagi sampai Yeon Ju tenang. Akupun duduk di tepi pantai berdampingan dengan Yeon Ju yang baru saja kurubah statusnya menjadi tunanganku. Kugenggam tangannya dan Yeon Ju menyandarkan kepalanya di bahuku. Kami memandangi matahari yang beranjak terbenam di ufuk barat. Kupejamkan mataku, aku bahagia namun ada sedikit kekosongan dalam hatiku.

‘Min Young, maafkan oppa’

 

***

 

Author POV

Terik matahari menemani Min Young menunggu sahabatnya di stasiun. Sudah 10 menit ia menunggu namun kereta yang membawa Jung Se Hee ke hadapannya tak juga datang. Sejujurnya ia tak suka menunggu namun rasa rindu terhadap sahabatnya merelakan Min Young mengalahkan egonya.

Suara pemberitahuan bergema di stasiun di sudut kota itu membuat Min Young menolehkan kepalanya ke arah utara, melihat kereta yang ditumpangi sahabatnya sudah tiba dan memasuki stasiun. Dengan sedikit berlari Min Young meghampiri Se Hee lalu memeluknya.

“Ya! Kau ini membuatku khawatir tahu. Tidak seharusnya kau menangisi pria itu.” Omel Se Hee membuat Min Young cemberut.

“Se Hee-ya, kau ini baru datang. Kau tidak merindukanku, eoh? Kenapa malah mengomeliku?”

“Aku juga merindukanmu, babo. Sudahlah, jangan sedih lagi, lebih baik kau temani aku jalan-jalan. Bagaimana?”

Ne, kajja.”

Min Young menggandeng Se Hee untuk segera keluar dari stasiun dan berjalan-jalan untuk menghilangkan kesedihan Min Young yang masih saja memikirkan Wufan. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berkeliling melihat pertokoan yang berjajar di kawasan Seoul.

Merasa lelah dan lapar Se Hee pun mengajak Min Young untuk beristirahat sambil memulihkan tenaga mereka di kafe kecil yang memiliki suasana nyaman.

“Min Young-ah, kau mencintainya?” Se Hee membuka percakapan sambil menunggu pesanan mereka.

“Aku tidak tahu Se Hee-ya. Saat aku bertemu dengannya aku merasa senang, aku gugup namun aku juga tidak ingin dia hilang dari pandanganku. Sudah satu minggu sejak pertemuan itu namun aku masih merasakan saat-saat aku melihatnya pergi dari hadapanku. Entah kenapa aku merasakan sesak Hee-ya.”

“Itu hal yang wajar menurutku.” Kata Se Hee datar.

“Apa maksudmu?” Tanya Min Young tidak mengerti.

Mereka mengalihkan pandangan kepada pelayan kafe yang membawakan pesanannya. Setelah mengucapkan terima kasih Se Hee segera melanjutkan perkataannya.

“Kau seperti ini karena Yeon Ju eonni tidak menyukaimu. Kau jadi memiliki rasa bersaing dengannya. Secara tidak sadar kau dan dia berkompetisi untuk menunjukkan siapa yang lebih baik di mata Wufan oppa. Secara tidak sadar pula kau memiliki rasa ingin merebut Wufan oppa dari kekasihnya itu.” Jelas Se Hee sambil memakan pastanya.

“Tapi aku tidak bermaksud merebutnya Hee-ya. Aku tidak bermaksud menghancurkan hubungan mereka. Kau tahu kan aku bukan orang seperti itu?” Jawab Min Young meyakinkan Se Hee.

“Aku tahu Young-ah, aku sangat tahu seperti apa dirimu. Hanya saja aku merasa ini sifat alami seorang wanita yang muncul untuk memperjuangkan hatinya. Lain halnya jika Yeon Ju eonni menyambutmu dengan baik, kau pasti tidak akan tega menyakitinya dengan mengukir nama Wufan oppa di dalam hatimu.”

Min Young merenung mendengar ucapan Se Hee yang ia akui kebenarannya.

“Ya! Jangan melamun, cepat habiskan makananmu dan antar aku kembali ke stasiun.” Lanjut Se Hee.

Flashback on

Sudah satu jam Wufan menelfon Min Young padahal Min Young sudah protes karena mengantuk dan Wufan masih tidak ingin memutuskan telefonnya.

Oppa, sampai kapan kau mengangguku, eoh? Aku mengantuk, oppa.” Protes Min Young.

“Sebentar saeng, oppa masih merindukan suaramu.” Goda Wufan.

“Ya! Dasar laki-laki suka mengobral gombalan seenaknya.” Omel Min Young untuk menutupi kegugupannya.

Ne? Bukankah kaum wanita suka digombali?”

“Tidak untukku oppa, kau salah besar.” Bantah Min Young.

“Benarkah? Oppa yakin pipimu sudah memerah sekarang. Akui saja, kau suka kan digombali oleh oppa?” Wufan masih saja menggoda Min Young.

“Ya! Oppa, sudahlah jangan menggodaku terus. Ingat statusmu yang sudah memiliki kekasih. Aku takut eonni salah paham.”

Oppa sudah menjelaskan hubungan kita yang hanya berstatus kakak dan adik, saeng. Jangan khawatir.” Jelas Wufan.

“Benarkah? Eonni tidak marah?”

“Dia tidak marah tapi dia cemburu padamu.”

“Berarti eonni tidak menyukaiku, oppa. Buktinya dia cemburu padahal kita tidak ada hubungan lebih dari kakak adik.” Jelas Min Young.

“Tenang saja, oppa sudah menjelaskan padanya kalau oppa ini setia.” Jelas Wufan membuat Min Young patah hati menyadari tidak ada kesempatan untuknya.

Flashback off

 

***

 

Setelah membersihkan diri Min Young merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Min Young tersenyum mengingat hari ini banyak kegilaan yang terjadi saat ia berjalan-jalan dengan Se Hee. Ya, sahabatnya yang satu itu memang sangat mengerti Min Young. Baru saja Min Young akan memejamkan matanya namun suara nada dering handphone menghentikannya.

Min Young mengamati kotak tipis berwarna hitam yang menjadi alat komunikasinya tersebut. Sedikit kaget melihat layar handphonenya. Baru saja Min Young menerima pesan.

Dari Wufan.

 

***

 

TBC

 

Maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan dan alur ceritanya yang gak jelas..hehe. ditunggu komentarnya ya reader.. terima kasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s