You’re My Everything [1/2]

youre-my-everything-cover

Author : Minrin (http://everlastingfiction.wordpress.com)

 

Judul: You’re My Everything

 

Main Cast :

Choi Sulli (f(x))

Cho Kyuhyun (SJ)

Oh Sehun (EXO-K)

Byun Baekhyun (EXO-K)

 

Support Cast :

Xi LuHan (EXO-M)

Kim Jonghyun (SHINee)

Suzy (Miss A)

Seohyun (GG)

 

Genre : Romance, Sad, Friendship

 

Rating : PG 13

 

Length : Twoshoot

 

A.N : Annyeong Readers, Please Read, Like and Comment it!

Enjoy ^^

***

Sulli POV

 

KRIIIIIIIING!!!!!!

 

“Aigoo… siapa yang berani-beraninya mengganggu mimpi indahku dengan Sehun oppa????”

 

“Aku!!! Waeyo???” ucap suara di sampingku yang tak lain adalah Eomma.

 

“Aish, Eomma 5 menit lagi.” ucapku sambil menutup kepalaku dengan selimut.

 

“Ini sudah jam 07.15 Sulli-ah! Kyuhyun sudah meninggalkanmu.”

 

“MWO??? Kenapa Eomma tidak membangunkanku dari tadi???” aku langsung membuka selimutku dan menyambar handuk di kursi tanpa menghiraukan ocehan Eommaku.

 

***

“Sulli-ah kau terlambat lagi?” Tanya Kyuhyun, teman sebangkuku sekaligus sahabatku sejak kecil.

 

“Hanya 5 menit.”

 

“Dasar.”

 

“Kau yang tidak mau menungguku.”

 

“Sudah kubilang akan kutunggu jika tidak lebih dari 20 menit. Biar kutebak. Kau mandi hanya 5 menit?”

 

“Ani. 3 menit.”

 

“Mwo?? Kau jorok sekali. Bagaimana mungkin aku mempunyai teman sepertimu?”

 

“Kau berlebihan Kyuhyun-ah. Bukankah sama saja kita mandi atau tidak, nanti juga kotor lagi. Kau tahu? Sebenarnya aku berencana tidak mandi pagi ini.”

 

“Haaah… terserah kau saja Choi Sulli-ssi.” itu kalimat terakhir yang diucapkannya sebelum guru matematika kami, Lee Seonsaengnim datang dan memulai pelajaran.

 

Kurasa kalian sudah tahu siapa namaku, jadi tidak perlu kuucapkan lagi. Aku yeoja yang mungkin belum bisa dibilang sebagai yeoja yang sebenarnya. Duduk di bangku kelas 2 Seoul Senior High School. Aku termasuk yeoja yang tomboy, cuek, ceroboh, tapi syukurlah Tuhan masih memberiku otak yang cukup berjalan dengan baik sehingga aku masih bisa mengikuti pelajaran walaupun tidak secara menyeluruh. -_-

 

Namja disampingku,Cho Kyuhyun. Oooh.. haruskah aku menyebutnya sebagai ‘Malaikat tak Bersayap’? dia sahabatku sejak kecil dan selalu membantuku dalam segala hal. Setidaknya aku masih punya ‘penangkal’ sifat cerobohku.

 

 

TUUUKK…

 

 

Kurasakan ada sesuatu tidak lain dan tidak bukan sebuah pensil yang menyentuh, ani lebih tepatnya memukul kepalaku. Aku menatap tangan yang memegang pensil itu yang tidak lain adalah Kyuhyun. Lupakan sebutan ‘Malaikat tak Bersayap’ itu!!!

 

Aku menatapnya tajam. Tapi ia malah melirik ke belakangku seperti memberi isyarat. Aku mengikuti arah pandangnya, dan kutemukan Lee seonsaengnim sedang menatap tajam ke arahku sambil mengetuk-ngetukan sepatunya.

 

“Choi Sulli. Absen 15. Rata-rata nilai mata pelajaran matematika 60. Kau tahu sudah berapa kali aku memanggilmu?”

 

Aku berbalik menatap Kyuhyun, berharap ia bisa membantu. Tapi ia hanya mengangkat bahu dan memberiku tatapan molla-aku-tidak-menghitungnya.

 

Kubalikkan lagi badanku dan memandang wajah Lee seonsaengnim. “Mianhamnida, Seonsaengnim.”

 

“Keluar dari kelasku sekarang juga dan kau harus membersihkan toilet pulang sekolah nanti!”

 

“Ne.” tidak ada gunanya menolak. Dia pasti tetap menghukumku. Aku keluar dari kelas da berjalan menuju kantin. Lumayan. Kebetulan aku belum sarapan tadi pagi.

 

***

“Sehun! Ambil bolanya!”, mataku secara otomatis langsung menuju ke arah suara tadi berasal. Lapangan basket. Dia ada di sana. Bersyukurlah kembali, Choi Sulli, kantin berhadapan langsung dengan lapangan basket sehingga kau bisa menatapnya sepuasmu.

 

Oh Sehun. Namja keren yang setahun ini menyita perhatianku. Walaupun aku tomboy, aku masih NORMAL!!! Dia 2 tingkat di atasku, jadi dia Sunbae-ku. Dia sangat manis, murah senyum, dan sangat ramah.

 

Kulihat ia mengoper bolanya ke teman setimnya yang tidak lain adalah. Namja dingin dengan tatapan mematikannya. Aku membencinya. Ada alasan tertentu yang membuatku begitu membencinya. Aku heran kenapa Sehun sunbae bisa betah berteman dengan seorang Byun Baekhyun. Yeah.. Mereka memang berteman, bersahabat lebih tepatnya. Ditambah Kim Jonghyun atau Jjong, namja cuek dan fashionable lalu Xi LuHan, namja tinggi berwajah Chinese. Mereka berempat dianggap sebagai Flower Boy di Seoul Senior High School ini. Semua yeoja di sekolah ini sangat memuja mereka, termasuk aku. Aku mengidolakan mereka khususnya Oh Sehun tapi tidak dengan Byun Baekhyun. Sudah kubilang aku membencinya.

 

“Pantas saja kau betah di sini.” Sahut Kyuhyun yang kemudian menyambar gelas milkshakeku. Dia memang tahu aku menyukai Sehun sunbae.

 

“Kau lihat dia Kyuhyun-ah? Dia begitu mempesona bukan?”

 

“Ani. Aku masih normal Sulli-ah.”

 

“Aish! Kau benar-benar menyebalkan! Kau akan membantuku kan pulang sekolah nanti?” tanyaku sambil mengeluarkan puppy eyes-ku.

 

“Bantu apa?” tanyanya pura-pura tidak mengerti.

 

“Jangan pura-pura tidak mengerti. Tentu saja membantuku membersihkan toilet. Jebaaaalll…”

 

“Shireo!”

 

“Kyuhyunniee~~”

 

“Jangan memanggilku dengan nama itu!”

 

“Jebaaaalll…” rengekku.

 

“Geurae!”

 

“Gomawo naui saranghaneun chingu!!” ucapku sambil mencubit pipinya.

 

***

Baekhyun POV

 

Kuambil botol air yang diberikan LuHan lalu meneguknya sedikit. Basket memang jalan terbaik untuk menghilangkan stress.

 

“Oppa!!!” teriak yeoja-yeoja di kantin. Selalu saja.

 

Tunggu! Dia di sana. Sosok yang begitu aku rindukan. Dia duduk menghadap lapangan. Tidak lama temannya datang. Mereka terlihat begitu akrab. Kurasakan kepalaku memanas begitu melihatnya mencubit pipi namja itu. Aku merindukan mereka berdua.

 

Kurasakan sebuah tangan menepuk pundakku. “Ya! Apa yang kau lihat?” Tanya Jjong.

 

“Apa uri Ice Prince mulai melirik salah satu fans kita?” lanjut LuHan.

 

“Apa yang kalian bicarakan? Aku tidak punya waktu untuk hal-hal seperti itu.”lanjutku.

 

Aku melangkah meninggalkan mereka dan berjalan menuju kelas. Kulihat Sehun masih sibuk dengan ponselnya. Apa lagi kalau bukan membalas semua pesan dari noona tercintanya yang tidak lain adalah kekasihnya itu. Diantara kami berempat memang hanya Sehun-lah yang sudah mempunyai kekasih, tanpa diketahui satupun penghuni sekolah ini tentunya selain aku, Jjong, dan LuHan.

Bodoh. Kenapa aku malah melewati kantin? Dengan beginikan aku malah melihat pemandangan yang menyesakkan untukku. Kulihat namja itu mengacak rambut yeoja itu.yeoja yang kurindukan. Choi Sulli.

 

***

Aku sedang berjalan menuju parkiran untuk mengambil motorku sebelum seorang yeoja berlari dengan memperhatikan ember yang dibawanya dan menabrakku. Aku tidak bisa menghindarinya, lalu reflek aku menarik tangannya dan memeluknya supaya tidak jatuh. Tapi sialnya ember itu terlempar ke atas dan airnya membasahi tubuh kami berdua.

 

Kutatap yeoja itu.Sulli. Dia langsung berdiri melepaskan pelukanku begitu tahu siapa yang memeluknya barusan.

 

“Gwaenchana?” tanyaku.

 

“Mmmm. Mianhae.”

 

Kulihat lecet di pergelangan tangannya. “Tanganmu…” belum selesai aku bicara dia sudah menyela.

 

“Ini. Bajumu basah. Aku yakin uang ini masih sisa jika hanya untuk melaundry 1 baju.” Ucapnya sambil memberikan beberapa lembar uang padaku. Setelah mengatakan itu, dia mengambil embernya dan pergi meninggalkanku.

 

Aku yang membuatnya menjadi seperti ini. Mianhae, Sulli -ah.

 

***

Sulli POV

 

Semua ini gara-gara Cho Kyuhyun! Kalau dia tidak cerewet menyuruhku untuk mengambil air, aku tidak akan bertemu namja terkutuk itu. Ini benar-benar memalukan.

 

Aku kembali dengan baju basah kuyup dan Kyuhyun malah menyambutku dengan tawa membahananya itu. Menyebalkan!

 

“Hentikan tawamu!” tapi ia masih tetap melanjutkan tawanya.

 

“Aku.. haha.. menyuruhmu…haha.. mengambil air. Bukan menggunakannya.. haha..untuk mandi.”ucapnya belum menghentikan tawanya.

 

Aku tidak menghiraukan omongannya dan memilih menyelesaikan hukumanku. Nanti juga dia berhenti sendiri.

 

***

Aku sedang duduk menghadap meja belajarku sambil mengerjakan tugas kimiaku. Kurasakan kantuk yang mulai menghantuiku. Kurasa sudah cukup belajarnya untuk hari ini.

 

Kuletakkan bukuku di samping laptopku dan tanpa sengaja menjatuhkan sebuah frame foto. Kuambil frame foto itu. Kenapa aku masih menyimpan foto ini? Tanganku beranjak untuk membuangnya ketika kudengar pintu balkon kamarku diketuk, siapa lagi kalau bukan Kyuhyun. Rumah kami memang bersebelahan begitu juga dengan kamar kami. Tidak jarang dia melompat ke balkonku atau sebaliknya. Kuletakkan kembali frame foto itu ke tempat semula dan beranjak untuk membuka pintu untuk Kyuhyun.

 

“Kenapa dengan wajahmu?” ucapnya sambil duduk di kursi balkonku.

 

Aku menggeleng lalu duduk di sampingnya.

 

“Kau mengingatnya lagi?”

 

Hening. Kubenamkan wajahku di antara kedua lututku.

 

“Tidak ada gunanya kau mengingat hyung lagi.”

 

“Kenapa dia seenaknya saja pergi tanpa mengatakan apapun pada kita?”

 

-FLASHBACK-

 

“…,3,2,1. Siap atau tidak aku akan datang.” Teriak Kyuhyun.

 

Aku belum menemukan tempat yang tepat untuk bersembunyi. Kudengar suara Kyuhyun semakin mendekat dan kurasakan ada yang menarikku ke dalam semak-semak.

 

“Ssssttt…. Diamlah. Kalau tidak dia akan menemukan kita.” Bisik Baekhyun oppa sambil terus menggenggam tanganku.

 

Kyuhyun dan Baekhyun oppa. Dua orang terpenting setelah kedua orang tuaku.

 

“Baekhyun… Sulli… Kyuhyun… sudah sore, saatnya pulang.” Panggilan Eomma membuat kami terpaksa menghentikan permainan kami.

 

***

“MWO???” teriakku begitu appa memberitahu kepindahan Baekhyun oppa.

 

Aku langsung berlari keluar rumah menuju kediaman keluarga Byun yang terletak tepat di depan rumahku. Tapi terlambat. Begitu aku membuka pintu rumahku, mobil Baekhyun oppa sudah meninggalkan rumahnya tapi tidak menyurutkan keinginanku untuk mengejar mobilnya diikuti Kyuhyun di belakangku. Tapi yang dilakukan Kyuhyun bukan mengejar Baekhyun oppa melainkan menarikku untuk berhenti mengejar Baekhyun oppa.

 

“Hentikan Sulli-ah…” bisiknya sambil memelukku.

 

“Kenapa dia pergi Kyuhyun-ah?”

 

“Dia pasti punya alasan yang tepat untuk pergi. Tenanglah. Kau tidak sendiri. Masih ada orang tuamu dan… aku.”

 

-END OF FLASHBACK-

 

Itu alasannya. Alasan mengapa aku membenci Namja itu. Dengan seenaknya dia pergi dan setelah aku bisa melupakannya dia malah kembali muncul ke dalam kehidupanku dengan menjadi sunbaeku di sekolah. Air mataku menetes begitu kenangan 8 tahun yang lalu itu muncul lagi di otakku. Kurasakan Kyuhyun mendekat dan memelukku.

 

“Uljima… sudah kubilang kau tidak sendiri.”

 

“Aku membencinya Kyuhyun -ah.”

 

“Mmmm… Arra.” Ucapnya sambil mengelus rambutku.

 

“Sudah. Jangan menangis lagi. Seharusnya kau malu dengan gelarmu sebagai ‘Yeoja Tomboy Se-Asia Timur’. Lebih baik kau memikirkan bagaimana caranya untuk mendekati Oh Sehun.”

 

Aku melepaskan pelukannya dan memukul lengannya. Walaupun menyebalkan tapi itulah Oh Sehun. Caranya menghiburku memang selalu menyebalkan tapi aku menyukainya.

 

“Aku tidak segenit yeoja-yeoja itu! Lagipula aku hanya mengidolakannya. Tidak lebih.”

 

***

Kyuhyun POV

 

Aku masih bersabar menunggunnya. Kali ini kuampuni dia mengingat apa yang terjadi semalam. Memang tidak jarang terjadi hal seperti semalam. Sampai kapan dia akan mengingat namja itu? Dan kapan dia akan menyadari keberadaanku?

 

Aku menyukainya. Ani. Mencintainya. Mencintai sahabatku. Ya, memang benar yang orang katakan. Tidak ada persahabatan antara namja dan yeoja. Aku tahu jika aku menyukainya maka kemungkinan terbesar adalah persahabatan kita akan hancur. Maka dari itu aku tidak mengungkapkan perasaanku padanya.

 

Aku tahu semua tentangnya. Baik dan buruk sahabatku ini. Sehun, namja yang diidolakannya setahun belakangan ini. Hanya sebatas mengidolakan, tidak lebih.

 

“Eomma, aku berangkat.” Teriak Sulli membuyarkan lamunanku.

 

“Sudah?” tanyaku.

 

“Mmmm. Kita naik sepeda?” tanyanya dengan mulut penuh dengan roti selai coklat kesukaannya.

 

“Aish. Telan dulu makananmu. Ne. kita naik sepeda. Kajja! Cepat naik!”

 

“Let’s go to school!” teriaknya semangat.

 

Aku hanya tersenyum menanggapinya. Baguslah. Keadaannya sudah lebih baik dari semalam.

 

***

Syukurlah. Dia benar-benar sudah melupakan kejadian semalam. Dan saat pulang sekolah. Di luar dugaan kami bertemu dengan Sehun sunbae. Seperti biasa dia bersama teman-temannya. Xi LuHan, Kim Jonghyun, dan… Byun Baekhyun.

 

Tapi ada yang lain di sana. Jarang sekali ada wanita di antara mereka. Baiklah, mereka memang dikelilingi yeoja setiap saat tapi ini benar-benar langka. Mereka tidak pernah menghiraukan fans-fans mereka, hanya sebatas tersenyum, itupun hanya Sehun dan LuHan sunbae yang melakukannya.

 

Kulihat yeoja itu bergelayut mesra di lengan Sehun sunbae. Lalu pandanganku beralih pada yeoja di sampingku. Ia juga melihat ke arah para Flower Boy berada.

 

“Gwaenchana?” tanyaku khawatir. Seperti yang kita tahu, dia mengidolakan Oh Sehun.

 

“Wae? Sehun sunbae memang murah senyum.” Dia terlihat baik-baik saja. Tapi sedetik kemudian wajahnya berubah murung.

 

“Kyuhyun-ah kajja! Kita pulang.” Ucapnya sambil menarik tanganku.

 

Kulihat lagi ke arah para Flower Boy itu. Yeoja asing itu sudah beralih bergelayut di lengan Baekhyun hyung. Ciiih! Murahan sekali yeoja itu. Sebenarnya siapa dia? Yeojaching Baekhyun hyung atau Sehun sunbae? Dan kenapa Sulli malah terlihat tidak suka saat yeoja itu bermesraan dengan Baekhyun hyung? Apa mungkin… Aish! Hentikan pemikiran konyolmu itu Cho Kyuhyun! Tidak mungkin Sulli menyukai Baekhyun hyung.

 

***

Baekhyun POV

 

Hari ini Suzy noona, yeojacingu Minho datang ke sekolah. Aku tidak mengerti apa isi otak Oh Sehun. Apa dia ingin membuat seluruh yeoja menangis darah melihatnya memiliki yeojachingu?

 

“hunniee… ayo kita ke mall.. Ajak teman-temanmu juga.” rajuk Suzy noona sambil bergelayut di lengan Sehun. Apa dia bilang tadi? Hunnie? Panggilan kesayangan yang aneh.

 

“Aku dan Jjong mau-mau saja noona. Tapi tidak tahu dengan uri Ice Prince.” Ujar LuHan.

 

“Aish. Sudah kubilang jangan memanggilku dengan sebutan itu!” bentakku.

 

Aku memandang di seberang jalan dimana Sulli dan Kyuhyun berada. Aku merindukan mereka. Terlebih Sulli. Lamunanku buyar saat sebuah tangan bergelayut di lenganku. Suzy noona! Apa yang dia lakukan?

 

“Baekhyun-ah, ayolah. Ikutlah bersama kami.”

 

Kulihat Sulli dan Kyuhyun sudah menghilang dari tempat mereka tadi.

 

“Mianhae noona. Aku ada urusan. Kalian pergi saja, lain kali aku akan ikut. Aku pergi dulu. Jjong, aku titip motorku.” Kulempar kunci motorku asal, tidak peduli dengan nasib rambutnya yang terkena lemparan kunciku.

 

“Ya! Byun Baekhyun! Awas kau! Kau merusak tatanan rambutku!”

 

Aku berlari tanpa menghiraukannya. Aku harus mengejar mereka.

 

Sudah cukup dengan kesalahpahaman yang terjadi selama ini. Aku ingin meluruskan semuanya.

 

Aku melihat mereka di ujung pertigaan. Kyuhyun menuntun sepedanya sedangkan Sulli berjalan di sampingnya sambil menendang-nendang kerikil.

 

“Choi Sulli! Cho Kyuhyun!” teriakku saat jarak di antara kami tinggal 5 meter.

 

Mereka menoleh. Terlihat terkejut setelah mengetahui siapa yang memanggil mereka.

 

“Kajja. Kita pulang Kyuhyun-ah.” Kudengar suara Sulli yang mengajak Kyuhyun pulang.

 

“Chankamman!” aku melangkah mendekati mereka.

 

“Ada yang ingin kukatakan pada kalian.”

 

“Tidak ada yang perlu dibicarakan, sunbae.” Ujar Sulli dingin.

 

Sulli mulai duduk di boncengan sepeda itu lalu Kyuhyun mulai mengayuhnya tanpa menghiraukan panggilanku.

 

***

Aku akan menyelesaikannya malam ini. Di sinilah aku berada, di depan rumah Sulli. Di bawah sini aku bisa memandang kamar Sulli juga kamar Kyuhyun. Kuperhatikan rumah mereka dari dalam mobil. Terlihat sepi. Aku keluar dari mobil dan bermaksud ingin mengetuk pintu rumah Sulli. Tapi aku melihatnya muncul dari ujung jalan di sana. Dia membawa bungkusan, sepertinya dia baru saja dari minimarket.

 

“Annyeong, Sulli-ah.” Sapaku ramah.

 

***

Sulli POV

 

“Neo??”

 

“Apa yang kau lakukan?” lanjutku.

 

“Mengunjungi teman lama.”

 

“Aku tidak peduli dengan temanmu itu. Jangan berdiam diri di depan rumahku. Tunggulah temanmu di tempat lain.” Ucapku dingin.

 

“Dengarkan penjelasanku.” Aku tidak menghiraukannya dan berjalan masuk ke dalam rumah sebelum dia mencengkram tanganku mengakibatkan bungkusan belanjaan pesanan Eomma terjatuh.

 

“Lepaskan!” dia semakin menguatkan cengkramannya dan menarikku ke dalam mobilnya.

 

“Diam! Dengarkan apa yang akan aku katakan! Dan jangan berbicara sebelum aku selesai bicara!”

 

“Aku ingin menyelesaikan kesalahpahaman ini. Kau harus tahu kenapa aku pergi 8 tahun yang lalu.” Lanjutnya.

 

“Karena kau tidak mau berteman denganku dan Kyuhyun” Aku menyela pembicaraannya.

 

“Sudah kubilang jangan menyela.” Dia berhenti sejenak untuk mengambil nafas lalu menghembuskannya perlahan.

 

“Orang tuaku bercerai. Appa pergi meninggalkan Eomma dan aku. Setelah itu Eomma memilih untuk pindah ke Incheon dan tinggal bersama Halmeoni. Aku tidak memberitahu kalian berdua karena Eomma tidak memberiku waktu untuk menemui kalian. Eomma benar-benar ingin melupakan semua tentang Appa, termasuk Seoul. Eomma tidak memberikan sedikitpun celah untukku menemui kalian.”

 

Wajahnya terlihat lelah.

 

“Aku selalu menunggu. Menunggu sampai Eomma bisa melupakan Appa. Sampai 3 tahun yang lalu Eomma mulai membuka lembaran baru lagi. Ia bahkan bersedia dipindahtugaskan di Seoul. Dan aku meminta untuk masuk ke Seoul Senior High School karena sekolah itu adalah sekolah impianmu saat kecil. Aku yakin akan bertemu denganmu dan Kyuhyun di sana.”

TO BE CONTINUED..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s