You Never Give Me a Chance Part 4

sesulli copy

Nama : @sehuhet
Judul Cerita : You Never Give Me a Chance
Tag : Oh Sehun, Choi Sulli, Kim Jongin, Jung Krystal, and other.
Genre : friendship, romance, sad (maybe)
Catatan Author : cerita ini murni buatan author sendiri, mohon jangan di copas. Dan author mohon maaf kalau ada yang tidak suka dengan castnya, sesungguhnya cerita ini hanya fiktif belaka. Ditunggu komennya juga yaa, makasihh🙂

Happy Reading~

***

Selama menunggu kelas pertama Sulli selesai, Sehun memilih menunggu di halaman belkang kampus, karena tempat itu cukup sepi. Disana ada sebuah pohon besar yang sangat rindang yang sekarang sudah menjadi tempatnya beristirahat. Sebenarnya ia bisa saja langsung menelfon Sulli dan meminta gadis itu untuk datang padanya dan menjadi tour guide nya, tapi mengingat kalau mereka sedang bertengkar dan ia juga tidak memiliki nomor ponsel Sulli, alhasil ia hanya bisa menunggu saja. Tidak terlalu buruk juga menunggu Sulli, ia bisa memanfaatkan waktu nya beristirahat sebelum pulang kampus nanti ia harus kembali latihan untuk perform minggu depan.

Menjadi seorang calon idol tidak mudah untuknya, ia sudah menjadi trainee selama 5 tahun dan sekarang lah ia akan memulai debutnya. Selama 5 tahun itu, tidak ada sama sekali yang namanya mudah. Ia harus berusaha dan bersusah payah dalam melakukan apapun. Tahun pertama, ia harus menerima perlakuan kasar dari senior-senior nya yang mengatakan kalau wajah Sehun terlalu tampan yang membuat mereka takut kalah saing. Tahun kedua, Sehun mulai bisa menyesuaikan diri karena ia mulai bisa menunjukkan pada seniornya kalau ia hanya tidak bermodal wajah. Tahun ketiga, keempat dan kelima lah ia benar-benar memperdalam tekhnik dance nya yang membuatnya kini akhirnya bisa debut.

“kenapa kau haru menyusahkanku seperti ini Oh Sehun”

Mendengar suara wanita yang familiar di telinganya, Sehun membuka matanya dan menegakkan dirinya dari sandaran pohon. Ia mendongak dan menyerngitkan alis nya melihat Sulli, dengan tatapan tajam nya, sedang berdiri di hadapanya berkacak pinggang.

Apa yang di lakukannya disini?’ Sehun melirik jam tangannya dan kembali menatap Sulli. “bukankah seharus nya kau masih ada kelas?” tanyanya tidak terpengaruh sama sekali dengan tatapan Sulli yang seperti ingin membunuhnya.

“rector menelfonku dan memintaku untuk menjadi tourguide mu, aku tidak akan bertanya kenapa aku yang di pilih” ketus Sulli.

“aku yang memintanya, tapi aku berniat menunggu kelas pertama mu selesai baru nanti aku menghampirimu”

“sudah lah, aku malas berdebat denganmu. Sekarang berdiri dan aku akan menunjukkan setiap inci dari kampus ini”

Melihat Sulli sudah membalikkan tubuhnya, cepat-cepat Sehun berdiri dan menyusul nya. Selama mereka berkeliling, Sehun hanya diam saja mendengarkan Sulli menjelaskan ini itu padanya. Biarpun sedang bersamanya, Sulli sama sekali tidak menatapnya. Ia hanya mengatakan ini itu dengan datar dan tatapan kosong.

“Sulli-ya” Sehun menahan lengan Sulli. Gadis itu menghentikan langkahnya dan menatap Sehun dengan kedua alis terangkat. “kenapa kau membenci idol?”

“bukan urusanmu Sehun-ssi, kajja, tinggal satu gedung lagi dan aku akan mengikuti kelas selanjutnya”

“tapi kau sudah tidak ada kelas lagi, karena hari ini jadwalmu sampai jam 2, dan sekarang sudah hampir jam 3”

Sulli menghela nafas, “aku masih harus ke ruang jurnalistik untuk mengedit beberapa data wawancaraku denganmu. Temanku masih belum kembali, jadi aku harus segera menyelesaikannya dan memberikan padanya”

“oh.” Sehun merespon singkat, “sampai jam berapa? Aku bisa menunggumu”

aniyo! Aku tau kau pasti sibuk setelah ini Sehun-ssi,

“lalu bagaimana nanti kau kembali ke dorm? Bukankah Jongin tidak bisa menjemputmu?”

“sehun-ssi” Sulli mendesis, dari ekspresi wajahnya, sepertinya ia mulai kesal. “aku bukan lagi gadis berumur 10 tahun yang harus selalu di jaga, aku sudah 18 tahun dan aku bisa mandiri. Di sana ada bus atau taxi yang bisa aku gunakan untuk pulang, jadi tidak perlu khawatir”

“aku tidak khawatir padamu,” ucap Sehun polos, “tapi Jongin pasti khawatir”

Sulli memutar kedua bola matanya dan berjalan mendahului Sehun seraya bergumam, “whatever.

 

***

 

Sudah sekitar lima belas menit yang lalu suara ponsel itu berdering, tetapi tidak menggetarkan gadis yang kini sedang tertidur dengan kedua tangannya terlipat diatas meja. Pekerjaan nya mengedit beberapa data untuk menggantikan temannya sepertinya membuatnya begitu kelelahan sampai-sampai tanpa sadar ia tertidur.

Dering ponsel kembali terdengar dan kali ini berhasil membangunkannya. Ia mengerjapkan kedua matanya dan menatap sekeliling. Betapa kagetnya ia ketika melihat ruangan sudah gelap hanya ada penerangan dari lampu di mejanya. Sepertinya ia sudah tertidur telalu lama.

Ketika ia menemukan ponselnya segera ia menjawab sambungannya.

yoboseo?

“dimana kau Sulli-ya?! tidak tahu kah kau ini sudah pukul berapa?! Aku sudah menelfonmu ratusan kali!”

Sulli menjauhkan ponselnya dari telinganya ketika suara Jongin yang membentaknya terdengar. setelah dirasanya suara Jongin mulai mereda, ia kembali mendekatkan ponselnya. “mianhe, aku akan segera pulang sekarang” ucap Sulli. Dengan tergesa-gesa ia membereskan barang-barangnya dan segera keluar dari ruang jurnalistik.

Ia menghela nafas panjang ketika sepertinya keberuntungan tidak berpihak padanya. Sekarang sudah pukul 10 malam dan hujan turun dengan derasnya. Ia benar-benar terjebak.

“dimana kau?” suara Jongin kembali terdengar.

“di kampus,” Sulli menjawab setengah berbisik. Ia tahu Jongin sangat panic sekarang. Ia tidak akan menyalahkannya saat tiba dirumah nanti Jongin memarahinya habis-habisan. Ini memang salahnya karena tidak mengabarinya sebelumnya. “bisakah kau menjemputku? Disini hujan”

tunggu saja, Sehun sedang dalam perjalanan menuju kesana!”

Sulli memejamkan matanya menahan rasa kesal yang datang begitu saja. Kenapa selalu Oh sehun dan Oh Sehun?! bukankah Jongin tahu bagaimana ia tidak menyukai seorang idol? Ia memang tidak membenci Sehun, tapi ia membenci pekerjaannya. Ia tahu menjadi idol memang tidak mudah, ia menyaksikan sendiri bagaimana susahnya orang yang begitu ia cintai berusaha untuk menjadi entertainer, dan begitu semua itu terwujud, semua nya berubah. Semua kebohongan datang perlahan, dan menghancurkan ia dan ibu nya.

Ia ingin sekali mengomeli Jongin karena sepertinya pria itu mencoba membuatnya dekat dengan Sehun, entah dengan maksud apa. Tapi sekarang ia tidak punya pilihan lain selain hanya diam menurut.

“baiklah,” ucapnya lalu segera mematikan sambungannya. Mood nya menjadi benar-benar jelek sekarang, dan tentu saja tidak perlu lagi semakin menambah mood jeleknya dengan omelan-omelan dari Jongin.

 

Selama dua puluh menit, Sulli hanya bisa berdiam diri menunggu Sehun datang menjemputnya. Tatapannya kosong menatap hujan yang turun dengan derasnya. Ia bahkan tidak mengindahkan percikan-percikan air hujan yang mengenai wajah dan tubuhnya hingga mmebuatnya hampir basah.

Fikirannya kembali ke masa masa dimana ia merasa begitu bahagia, merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang kakak, dan merasakan bagaimana hangatnya pelukan seorang ayah.

Tanpa di sadarinya, setitik air mata jatuh dari kedua matanya dan saat itulah ia tidak bisa menahan isak tangisnya. Sekian tahun menahannya dan sekaranglah ia bisa melepaskan rasa sakitnya.

Tiap kali hujan turun, itu akan mengingatkannya pada masa-masa saat dirinya tertawa bahagia bermain air bersama kakaknya, ia akan merasakan bagaimana dulu ia berada di gendongan kakaknya. Ia merindukan semua kenangan itu, kenangan yang ia coba untuk musnahkan.

yak! Sulli-ya, kenapa kau menangis? Wae?

Mendengar suara Sehun, dengan terburu-buru Sulli menghapus kedua air matanya. “dimana mobil mu Sehun-ssi?” tanya Sulli.Biarpun ia mencoba terdengar biasa saja, tapi suaranya terdengar begitu parau saat mengucapkannya.

“hey, ada apa?” suara Sehun melembut.

Sulli sudah ingin membantah sebelum, tanpa disangka-sangka, tiba-tiba saja Sehun menarik tubuhnya dan memeluknya erat. “gwenchana, menangislah, tidak perlu ditahan” bisiknya.

Dan entah kenapa, hanya mendengar suara Sehun berbisik seperti itu, Sulli merasa cukup tenang dan kembali menangis, benar-benar menangis. Sebelumnya, di depan Jongin pun ia tidak pernah mau menunjukkan sisi lemahnya. Ia bukan tipe gadis yang akan membagi masalahnya dengan orang lain, Sulli lebih memilih untuk menyimpan semua masalahnya seorang diri. Tapi kenapa hanya dengan mendengar Sehun, orang yang seharusnya ia benci, mencoba menenangnya, itu membuat Sulli merasa seperti ia harus membagi masalahnya dengan orang lain?

“menangislah Sulli-ya, menangislah” ucap Sehun lembut. Tangannya mengelus-elus lembut punggung dan puncak kepala Sulli. Sekali lagi, perlakuan Sehun yang seperti itu, membuatnya semakin nyaman dan menangis semakin kencang.

 

***

 

gomawo Sehun-ssi, maaf sudah merepotkanmu” ucap Sulli seraya membuka pintu mobil, sebelum ia keluar dari mobil, ia berbalik menatap Sehun dan tersenyum, “tolong jangan katakan pada Jongin aku menangis seperti tadi” ucapnya setengah memohon.

wae?

Sulli menggelengkan kepalanya dan kembali tersenyum, kali ini senyum sedih yang ia tunjukkan. “Jongin sudah cukup lelah dengan masalahnya sendiri, aku tidak ingin menambah bebannya”

“tapi itulah tugas seorang sahabat, terlebih Jongin menganggapmu sebagai adiknya. Ia pasti sangat khawatir padamu Sull-ya

“kau tidak mengerti Oh Sehun,” ucap Sulli, nada suaranya berubah dingin, “aku sudah menjadi beban nya selama ini, Jongin selalu menjagaku dan menyayangiku bahkan saat aku sering membuatnya kesal. Aku hanya tidak ingin membuatnya semakin khawatir tentangku”

Sehun diam sejenak. Kedua matanya menatap lekat wajah Sulli seolah mencoba membaca fikiran Sulli.

Sulli sendiri di tatap seperti itu hanya bisa menatap Sehun dengan bertanya-tanya. Selama beberapa saat tidak ada yang mengatakan apapun, mereka hanya saling tatap satu sama lain sampai akhirnya Sehun membuka suaranya.

“bisakah besok kita bicara? Kau mungkin tidak menceritakan masalah ini pada Jongin, tapi kau bisa bicara padaku Sulli-ya

Sulli tersentak mendengar ucapan Sehun lalu tersenyum tipis. Mereka baru mengenal satu sama lain baru 24 jam, dan itupun tidak cukup baik karena mereka seringkali adu mulut. Tapi kenapa Sehun bisa sepeduli ini? dan bagaimana bisa Sulli juga merasa senyaman ini dan dengan mudahnya menganggukkan kepalanya tanda setuju?

“bagus,” ucap Sehun setelah mendapat persetujuan dari Sulli, “besok kau tidak ada kelas bukan? karena aku baru, besok hari pertama ku memulai kelas, dan bagaimana kalau kau ikut denganku? Hitung-hitung kembali menjadi tourguide ku?”

Sulli berfikir sejenak. Besok ia memang tidak ada kelas, tapi ia memang berencana akan ke kampus untuk menyerahkan data-data yang Soehyun minta karena besok gadis itu mulai kembali ke kampus. Selain itu, ia juga merindukan Luna, karena hari ini ia tidak bisa bertemu sahabatnya itu. Jadi tidak ada salahnya bukan kalau ia menerima tawaran Sehun?

Ia pun akhirnya menganggukkan kepalanya, “baiklah,” ucapnya dan tersenyum, kali ini senyum tulus yang ia berikan pada Sehun, “gomawo Sehun-ssi, good night

 

***

 

Seperti yang sudah Sulli perkirakan. Saat ia sampai di lantai atas, ia melihat Jongin sudah berdiri di depan kamarnya dengan tangan di lipat di depan dada. Dengan perasaan sedikit was-was, takut Jongin memperhatikan kedua matanya yang terlihat bengep, Sulli berjalan mendekat.

“sebenarnya apa yang kau lalukan sampai harus pulang selarut ini?! beruntung Sehun sedang berada di dekat kampus jadi aku bisa memintainya tolong untuk menjemputmu!”

“ini sudah jam 10 malam Sulli-ya, sedangkan aku tahu hari ini kelasmu berakhir sampai pukul 2. Aku sudah menelfonmu ratusan kali dan selalu terhubung dengan pesan suara, apa yang kau lakukan sebenarnya?! Aku mengkhawatirkanmu!”

Sulli menundukkan kepalanya mendengar omelan Jongin. Seperti janji nya tadi, ia tidak akan membantah. Ini memang salahnya karena tidak memberitahu Jongin terlebih dahulu kalau ia harus melakukan beberapa kerjaan.

mianhe,” bisiknya, “ini salahku tidak mengabarimu lebih awal. Seohyun memintaiku tolong untuk mengerjakan tugas journalistic kampus. Saat sedang mengerjakannya tadi tanpa sadar aku tertdidur dan baru bangun saat mendengar panggilanmu” Sulli mencoba memberi penjelasan.

Jongin diam sesaat sebelum akhirnya membuang nafas dengan kasar. Tanpa disangka, Jongin yang tadi penuh emosi memarahi Sulli, kini mulai melembut dan menepuk puncak kepala Sulli. “sudahalah,” ucapnya, “lain kali jangan diulang lagi. kau harus terus mengabariku apapun yang terjadi, aku hanya tidak mau terjadi apapun padamu Sulli-ya

Sulli mendongakkan kepalanya menatap Jongin, kedua matanya hampir kembali mengeluarkan airmata lagi. Tidak ingin Jongin melihatnya, Sulli langsung berhambur memeluk Jongin.

Untuk kali ini, ia mulai sedikit sadar. Tidak apa ia tidak bisa merasakan lagi pelukan hangat milik kakak dan ayahnya. Tapi setidaknya, kini ia memiliki Jongin yang akan selalu melindunginya dan menyayanginya lebih dari kakak dan ayahnya lakukan. Betapa bersyukurnya Sulli memiliki Jongin dihidupnya, pria yang selalu sabar dengan apa yang sudah Sulli lakukan meskipun kadang membuat Jongin kesal.

mianhe….” Ucap Sulli, suaranya sedikit tersedar oleh isak tangisnya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi dengannya, karena sepertinya hari ini ia sangat melakonis. “aku janji tidak akan mengulanginya lagi”

“hey, kenapa kau malah menangis?” ucap Jongin lembut. Ia mengecup puncak kepala Sulli dan menyandarkan pipinya di kepala Sulli.

“aku menangis karena aku terlalu menyayangimu”

Jongin terkekeh pelan, lalu mengeratkan pelukannya. “aku juga menyayangimu Sulli­-ya

 

***

 

 

Setelah mematikan mesin mobil dan menguncinya, Sehun masuk ke dorm. Saat ia melewati tangga, tanpa disangka-sangka, ia justru menaiki tangga itu bukannya hanya berjalan lurus menuju kamarnya di lantai bawah. Ia merasa ingin memastikan kalau Sulli sudah di kamarnya dan istirahat.

Saat ia mulai menaiki tangga, samar-samar ia mendengar suara di lantai atas. Awalnya terdengar sebuah omelan, dan tidak lama hanya suara gumaman-gumaman yang tertangkap oleh telinganya. Dan ketika kakinya sampai di anak tangga terakhir, kedua matanya menatap sosok Jongin yang sedang mengecup puncak kepala Sulli dan memeluk gadis itu erat.

Di saat seperti ini, Sehun mempertanyakan sebenarnya bagaimana hubungan Jongin dengan Sulli. Memang keduanya mengatakan kalau mereka hanya sahabat yang sudah menganggap sebagai keluarga satu sama lain. Tapi melihat bagaimana Jongin mengkhawatirkan Sulli, dan bagaimana pria itu memeluk Sulli. Sehun bisa melihat ke posessif an dari pelukan itu seolah-olah Jongin tidak mau melepaskan Sulli dan membiarkan siapapun mengambilnya.

Apa seorang sahabat wajar bersikap seperti itu?

Wajar saja.

Tapi, apa iya seorang sahabat harus se posessiv itu?

Tentu saja, mereka sudah mengenal satu sama lain sejak kecil.

Sehun tersentak ketika merasa seolah hati dan fikirannya sedang beradu. Hatinya mempertanyakan bagaimana sebenarnya perasaan Jongin pada Sulli, sedangkan fikirannya yang menjawab dengan cukup beralasan.

Memang wajar kalau Jongin bersikap seperti itu. Sejak kecil mereka sudah bersama dan Jongin merasa bertanggung jawab dengan apa yang terjadi pada Sulli. Jadi, kalau sudah tahu sepert itu, kenapa ia masih mempertanyakan bagaimana hubungan mereka berdua?

“aish… molla.” Sehun bergumam pada dirinya sendiri, lalu kembali turun ke lantai bawah menuju kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya. Latihannya hari ini cukup menguras tenaga dan karena itu lah tubuhnya membutuhkan kenyamanan dari kasur empuknya.

 

***

 

 

3 thoughts on “You Never Give Me a Chance Part 4

  1. claudya han berkata:

    Memang agak membingungkan sikap jongin lbh dr sekedar sahabat,dia mampu menggantikan ayah dn kakak bwt sulli,tp smp kapan?? Penasaran apa mungkin diantara mereka tdk ada cinta??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s