Story of first meet

Title : Story of first meet

Author : halidalee (@HalidaNR)

Cast : Yoon Darin (OC) , Oh Sehun (EXO K)

Other Cast : find it in the story

Genre : Romance, Family

Length : Oneshoot

Rating : PG

 

Disclaimer : ff milik saya, OC milik saya juga. Oh Sehun milik Tuhan, Ortu, dan agencynya. Apabila ada kesamaan tokoh dan latar merupakan unsur ketidaksengajaan. Harap tidak copy paste. Hargai karya anak bangsa.

 

Note :

Hai semua ini ff pertamaku. Dari dulu selalu jadi reader dan sekarang pengen jadi penulisnya^^ Harap RCL ya, comment sangat dibutuhkan karena saya yang masih baru. Kritik dan saran sangat penting. And sorry for typo.

 

Pernah dipost di : https://m.facebook.com/notes/exo-fanfiction/member-story-of-first-meet-halidalee/602368663213855

 

FF ini sudah mengalami beberapa editan typos. Maaf jika masih ada typos berkeliaran.

 

 

 

 

Summary : “Inilah kisahku pertama bertemu dengannya. Kisah sedih yang kini telah menjadi kebahagiaan. “

 

 

***

 

 

 

 

 

AUTHOR POV

 

Di sebuah kompleks pemakaman daerah Seoul. Tampak seorang ayah dan anaknya yang membawa bunga mawar putih. Mereka menyusuri pemakaman hingga berhenti pada sebuah makam. Disana tertulis ” Kim Yoonji, mendiang eomma Darin dan istri Tuan Yoon.

 

“Eomma, apa kabar? Hari ini hari pertamaku masuk sekolah sebagai siswa SMA. Hari yang sangat aku tunggu. Aku sudah dewasa. Apa eomma senang? Aku merindukan eomma.” Terlihat genangan air pada matanya seraya meletakkan mawar putih itu.

 

“Sayang? Bagaimana kabarmu disana? Kau tau? Bisnisku berjalan lancar. Kami merindukanmu.” Bahkan Tuan Yoon pun tak kuasa menahan air matanya.

 

“Baiklah Darin, sepertinya sudah cukup. Kau tidak mau terlambat di hari pertamamu kan?” Tuan Yoon segera berdiri.

 

“Tentu saja tidak mau appa. Eomma aku pergi dulu ya.” Darin segera berdiri dan meninggalkan makam itu bersama ayahnya.

 

Di perjalanan ke sekolah Tuan Yoon selalu memberi nasihat pada putri satu-satunya itu. Agar Darin selalu menjaga perilaku dan kata-kata, tidak hanya di sekolah saja, namun di kehidupan sehari-hari juga.

 

10 menit akhirnya mereka sampai di sekolah Darin. SMA seni Anyang.

 

“Appa aku pergi dulu ya. Anyeong.” Pamit Darin sambil membungkukkan badan.

 

“Ne semoga hari mu menyenangkan. Kau pasti bisa melewati masa orientasi.” Mendengar semangat dari Appa nya Darin hanya tersenyum dan mengangguk.

 

 

DARIN POV

 

Haah akhirnya, aku SMA juga. Senang sekali rasanya. Semoga aku mendapat banyak teman di sini. Saat aku baru beberapa langkah memasuki halaman sekolah, kudengar seseorang memanggil namaku. Suaranya sangat familiar. Aku menoleh dan ternyata Yeri yang tadi memanggilku. Ya dia sahabatku dari SMP. Teman sebangku, dan kami selalu berbagi cerita. Entah itu penting atau tidak.

 

“Pengumuman untuk seluruh siswa baru harap berkumpul di halaman sekolah. Terimakasih.” Suara seseorang yang mungkin adalan petugas OSIS mulai berkumandang (?)

 

Aku dan Yeri segera berkumpul di tengah-tengah siswa siswi baru ini. Ya hari ini hari pertama masa orientasi. Dan syukurlah tidak disuruh berdandan aneh-aneh. Mungkin karena hari pertama hanya perkenalan.

 

“Darin lihat itu para petugas osis. Yang paling pojok kiri sangat tampan bukan?” Yeri mulai menunjukkan rasa kagumnya. Padahal menurutku dia biasa saja.

 

“Kau selalu saja berlebihan.”

 

“Aku tidak berlebihan Darin. Ini tandanya aku normal kan. Kau yang aneh. Kau sama sekali tidak ada tertarik dengan namja manapun. Aku jadi takut padamu.”

 

“Hey aku masih normal. Aku hanya belum menemukan namja yang membuatku tertarik saja.” Mendengar ucapanku Yeri hanya mengangguk. Semoga dia tidak mengatakan aku tidak normal lagi. Aku sudah bosan dengan kata-kata itu.

 

“Darin ada satu sunbae yang aku tidak respect.” Bisiknya padaku.

 

“Siapa?”

 

“Aku tidak tau.”

 

“Ya! Kau ini bilang ada yang kau tidak respect ternyata kau tidak tau.”

 

“Bukan begitu, aku tidak tau namanya. Kau lihat namja di sebelah namja yang kukagumi tadi?” Aku hanya mengangguk. Ya namja itu tidak menampilkan senyuman sedikit pun. Padahal yang lainnya tersenyum ramah.

 

“Sepertinya aku juga tidak respect dengannya Yeri-ya.”

 

Lalu salah satu sunbae mulai membacakan pembagian kelas. Syukurlah aku sekelas dengan Yeri. Kami pun berkumpul dengan barisan sesuai kelas masing masing. Aku dan Yeri langsung menuju barisan kelas 10-2, kelas baru kami.

 

Namun ada yang membuatku terkejut. Yang menunggu kelasku? Namja tanpa senyuman tadi? Ah tak apalah hanya tiga hari saja Darin. Dan jangan sesekali mencari masalah dengannya!

 

“Darin-ah, kenapa yang menunggu kelas kita ada namja tanpa senyum tadi? Ah biar sajalah yang penting ada namja yang membuatku kagum.” Dasar Yeri aneh. Tadi hampir merengek dan sekarang matanya malah berbinar-binar. Begitu tampannya kah orang yang Yeri kagumi? Ah biasa saja.

 

“Baiklah sekarang saatnya kalian ikuti sunbae yang menunggu kelas kalian. Saatnya berkumpul di kelas masing-masing.”

 

Kami -aku dan Yeri- dan siswa siswi lainnya mengikuti sunbae yang menunggu kelas kami. Sampai di kelas aku memilih bangku nomer dua dari depan dan Yeri segera duduk di sampingku.

 

“Baiklah sekarang saatnya berkenalan. Naneun Xi Luhan imnida dari kelas 11-2. Bangapseumnida.” Oh jadi namja yang ditaksir Yeri namanya Luhan. Dari namanya seperti bukan orang Korea.

 

“Apa ada pertanyaan?” Lanjutnya.

 

Dan saat itu juga Yeri langsung angkat tangan.

 

“Apa pertanyaanmu?” Ucapnya sambil tersenyum ramah. Bisa kujamin hati Yeri mulai meleleh. Aku sudah terlalu hafal dengannya jika orang yang ditaksirnya tersenyum padanya.

 

“Apa sunbae bukan orang Korea?” Fyuhh untung pertanyaan Yeri masih normal. Bagaimana jika dia bertanya apa Luhan sunbae sudah punya yeojachingu pasti ia akan terkena masalah.

 

“Ne, aku dari China.” Jawabnya tersenyum ramah. Kulihat Yeri hanya mengangguk tanda mengerti.

 

“Naneun Oh Sehun imnida dari kelas 11-2, bangapseumnida.” Well saat perkenalan pun ia hanya memasang muka datar. Baru kali ini aku bertemu orang yang sifatnya dingin.

 

“Hey Yeri dia begitu dingin ya tak ada ramah ramahnya sama sekali.” Bisikku pada Yeri. Namun sepertinya pendengaran Sehun begitu tajam. Ia langsung menatapku dengan tajam.

 

“Ya kau! Bilang apa kau tadi?” Oh sial sekali dia mendengar ucapanku! Bahkan sekarang dia sedang menunjukku tak lupa dengan tatapan tajamnya.

 

“Tidak ada.” Ucapku sedatar mungkin.

 

“Oh ya? Bukannya tadi kau bilang aku tidak ada ramahnya sama sekali, hah?!”

 

“Kau sendiri sudah tau kenapa masih bertanya.” Okay darahku mulai naik sekarang.

 

“Kau!”

 

“Apa? Kenyataannya begitu kan?”

 

“Akan kuberi pelajaran kau pulang sekolah nanti!”

 

“Silahkan.”

 

Perdebatan berhenti. Seisi kelas menatapku seolah berkata wow dia berani sekali. Kenapa harus takut? Dia kan juga manusia biasa seperti kita.

 

“Darin kenapa kau mencari masalah huh. Minta maaflah cepat!” Aish minta maaf? Mau ditaruh dimana mukaku? Oke kuakui aku memang gengsi.

 

“Tidak.” Jawabku tegas.

 

“Terserah kau saja aku tidak mau ikut campur ya.”

 

 

***

 

Teet teet

 

Bel pulang bebunyi. Tandanya kegiatan MOS sudah selesai. Ah aku ingin menelusuri sekolah ini.

 

“Yeri, temani aku jalan-jalan mengelilingi sekolah ini ya? Aku ingin tau ruangan-ruangannya.”

 

Kulihat Yeri tampak berfikir lalu ekspresinya seperti ketakutan. Apa yang dia takutkan? Ayolah ini masih siang. Tidak ada hantu.

 

“Ee mian Darin-ah sepertinya aku tidak bisa.”

 

“Yaah yasudah. Aku sendiri saja. Kau langsung pulang?” Tanyaku padanya yang dibalas anggukan olehnya.

 

“Semoga kau berhasil menghadapinya ya. Anyeong.” Mwo? Menghadapi apa? Aku tidak ingat apapun. Yasudah lah aku jalan-jalan saja.

 

Saat aku sampai di taman belakang sekolah, aku takjub! Ini sungguh indah! Beruntung sekali saat ini sedang sepi, aku bisa menikmati taman ini dengan tenang. Tanpa ada suara. Ku pejamkan mataku untuk merasakan sejuknya udara di sini. Hingga sebuah deheman mengganggu ketenanganku.

 

“Eehemm”

 

Siapa sih tadi? Aish mengganggu saja! Kubuka mataku untuk melihat siapa yang baru saja menggangguku.

 

Omo! Sunbae tanpa senyum itu! Aish mengganggu saja! Bolehkah aku melepas sepatuku sekarang? Lalu melempar ke kepalanya agar timbul tonjolan berwarna merah di dahinya? Kebetulan sepatuku lumayan keras. Oke aku lebay tapi aku kesal jika aku sedang santai diganggu.

 

“Apa.” Tanyaku acuh. Yang ditanya justru bersmirk ria? Ayolah itu membuatku merasakan hal yang tidak enak.

 

“Kau tak ingat? Akan kuberi kau pelajaran!” Astaga! Jadi ini maksud Yeri aku harus menghadapinya sendiri? Kenapa aku bisa lupa? Apa IQ ku berkurang? O no!

 

Dia menarik tanganku secara paksa. Menggenggam ah ani mencengkeram dengan kuat. Bisa kujamin pergelangan tanganku akan memerah. Apa yang akan ia lakukan God? Help me!

 

“Apa yang kau lakukan hah? Lepaskan!” Aku mencoba melepas cengkeramannya. Tapi cengkeramannya sangat kuat. Aku tidak bisa. Baru kuingat kalau tenaga lelaki lebih besar dari perempuan. Dan masalahnya itu benar!

 

Dia menarikku ke toilet. Apa? Toilet! Oh tidak aku tidak mau masa depanku hancur di toilet! Apa aku pasrah? Tidak! Tapi kurasa aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku takut. Aku masih kelas 1 SMA dan parahnya ini hari pertama masuk.

 

Dia memasukkan ku ke dalam salah satu ruangan toilet. Lalu dia menutup pintunya. Oh tidak! Appa! Tolong anakmu! Eomma! Jika masa depanku dihancurkan olehnya, bolehkah aku ikut eomma? Aku ingin menangis. Tapi jika aku menangis mau ditaruh dimana mukaku?

 

“Apa yang k kau lakukan? Menjauh!” Aku terpojok dan dia semakin mendekat. Aku takut!

 

BYURRR

 

Aku disiram! DISIRAM pemirsa! Dan airnya dingin! Oke walaupun aku suka yang dingin-dingin tapi, ini di sekolah. Bagaimana aku akan pulang nanti? Masa iya seorang gadis cantik pulang sekolah dalam keadaan basah kuyup seperti ini? Hari ini tidak ada hujan dan cuaca juga cukup cerah. Aku tidak mau jadi bahan sorotan orang-orang.

 

Dia menyiramku lagi! Sungguh tega sekali Sehun sunbae! Ah ani aku tak sudi memanggilnya dengan embel-embel sunbae!

 

“Rasakan itu bodoh! Siapa suruh menantangku.” Setelah mengataiku dengan kata-kata ‘bodoh’ dia langsung pergi? Pergi? Apa dia tidak ada rasa menyesal? Bagaiman aku akan pulang? Jika aku memberi tau appa pasti dia akan khawatir. Yeri? Ah aku coba saja meminta Yeri mengantarku.

 

“Halo?” Ujar suara di seberang sana.

 

“Yeri-ya kau sibuk?”

 

“Tidak, ada apa?”

 

“Boleh aku minta tolong?”

 

“Boleh kok, minta tolong apa?” Ah terima kasih Yeri. Kau sahabatku yang terbaik.

 

“Jemput aku ya di sekolah.”

 

“Baiklah. Tunggu 5 menit di depan gerbang!”

 

“Oke gomawo Yeri-ya.”

 

Pip. Sambungan diputus. Ah syukurlah Yeri mau menolongku. Kalau tidak? Bisa bosan aku menunggu sampai baju kering lalu pulang.

 

AUTHOR POV

 

5 menit Darin menunggu sahabatnya -Yeri-, akhirnya tak sia-sia. Ia langsung masuk ke dalam mobil Yeri. Apa Yeri hanya diam? Tentu saja tidak. Ia terkejut melihat keadaan sahabatnya basah kuyup.

 

“Omo Darin-ah! Kenapa kau basah? Apa tadi hujan? Lalu kau bermain hujan-hujanan? Atau kau tercebur kolam? Sungai? Atau…”

 

Yeri menggantungkan kalimatnya. Dengan nada sedikit takut ia kembali melanjutkan kata-katanya yang putus di tengah jalan.

 

“Ini karena ulah sunbae tanpa senyum?”

 

Darin menghembuskan nafasnya. Keadaannya tampak kacau dan buruk sekali untuk seorang anak orang terpandang.

 

“Ne, ini ulah Sehun.”

 

“Kau tak apa? Makanya jangan cari masalah! Coba tadi kau meminta maaf padanya, pasti tak akan seperti ini.”

 

“Meminta maaf? Apa kau bercanda? Mau ditaruh dimana mukaku Yeri.”

 

“Ckckck gengsimu memang tinggi ya.”

 

 

***

 

10 menit berlalu akhirnya Darin sampai di kediamannya. Rumah mewah berpagar besi yang menjulang tinggi. Beruntung appanya masih kerja. Jadi tak ada yang tau keadaannya sekarang selain Yeri dan, Sehun.

 

Darin langsung memasuki kamar mandi. Tak mau jika dia masuk angin lalu sakit dan tak bisa mengikuti MOS besok.

 

Namun setelah selesai mandi bukannya rasa segar yang didapat justru malah flu menyerangnya.

 

“Mungkin karena basah tadi aku sedikit masuk angin dan flu. Lebih baik aku tidur saja.” Gadis itu pun langsung membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya.

 

 

***

 

Di lain sisi tampak seorang pria sedang duduk di tepi tempat tidurnya. Dari raut wajahnya terlihat kegelisahan.

 

“Bagaimana ini? Bagaimana jika Darin membenciku?” Pria itu -Sehun- mengacak rambutnya frustrasi.

 

Ia merasa bersalah, menyesal, ingin sekali ia meminta maaf pada Darin, namun kali ini ego nya yang menang.

 

“Mungkin lebih baik aku tidur sekarang.”

 

 

***

 

Kembali ke Darin, wajahnya tampak pucat. Sepertinya suhu badannya panas. Hingga seseorang mengetuk pintu kamarnya.

 

Tok tok tok

 

“Darin, kau di dalam?”

 

Tak ada jawaban.

 

“Darin?”

 

Lagi, tak ada jawaban.

 

“Kau tak apa nak?”

 

Sepertinya Tuan Yoon mulai khawatir. Lantas ia membuka pintu kamar Darin yang tidak dikunci. Ia terkejut melihat keadaan anaknya yang sepertinya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ia pun menghampirinya.

 

“Darin, kau kenapa nak?” Tuan Yoon menempelkan tangannya pada dahi anaknya.

 

Suhu tubuhnya panas. Wajahnya tampak pucat.

 

“Kita ke dokter ne?”

 

“Tidak perlu appa.” Kini Darin mulai bersuara. Walaupun suaranya sangat pelan dan terdengar parau.

 

“Kau harus ke dokter nak.” Tampak kekhawatiran pada raut wajah Tuan Yoon.

 

“Tidak perlu appa. Minum obat saja. Aku ingin di rumah appa.” Baiklah sepertinya Tuan Yoon menyerah.

 

“Baiklah jika itu maumu. Badanmu panas, appa ambilkan obat ne?”

 

“Ne appa.”

 

Tak butuh waktu lama, Tuan Yoon sudah kembali membawakan obat penurun panas.

 

Darin meminum obat itu. Berharap semoga besok pagi ia sudah dalam keadaan sehat. Walaupun sebenarnya ia tak terlalu yakin, mengingat kondisinya bisa dikatakan sedikit parah.

 

“Tidurlah, dan jangan paksaan dirimu.”

 

“Ne appa, gomawo.” Tuan Yoon hanya membalas dengan anggukan dan senyuman. Walaupun sebenarnya ia sangat khawatir pada putri semata wayangnya ini.

 

Tuan Yoon membenarkan posisi selimut Darin. Mengangkatnya hingga hanya menyisakan kepala dan lehernya saja.

 

“Beristirahatlah.” Ujar Tuan Darin lalu pergi keluar kamar anaknya.

 

 

***

 

Matahari tampak bersinar cerah pagi ini. Namun tidak untuk Darin. Wajahnya masih pucat. Namun ia tetap akan sekolah. Bisa dibilang ia sedang memaksakan diri. Benar-benar keras kepala.

 

Selesai mandi dan memakai seragamnya ia lantas merapikan rambutnya, memberi sedikit lip gloss pada bibirnya agar tak terlihat pucat.

 

Ia langsung turun ke ruang makan. Melakukan ritual yang sudah biasa ia lakukan setiap pagi, sarapan. Mengambil roti dan selai untuk energinya nanti. Lalu minum susu.

 

“Appa ayo berangkat. Pulang nanti aku bisa naik taksi.” Ucap Darin seraya mengenakan tas ranselnya dan berdiri dari kursi yang tadi ia duduki.

 

“Kau yakin? Wajahmu masih pucat.” Sepertinya Tuan Yoon pintar sekali menebak keadaan seseorang.

 

“Aku tidak apa-apa appa, ayo nanti terlambat.”

 

“Baiklah kajja.”

 

Merekapun berjalan bersama menuju mobil. Di perjalanan hanya hening. Hingga mereka sampai di Sekolah.

 

“Appa, aku pergi dulu ya. Anyeong.” Ujarnya segera mebuka pintu mobil.

 

“Ne semoga sekolahmu menyenangkan.”

 

Darin segera memasuki sekolahnya dan langsung melesat ke kelasnya. Tanpa ia sadari bahwa seseorang sedang memperhatikannya dari kejauhan.

 

“Syukurlah dia tidak apa-apa. Tapi wajahnya terlihat sedikit pucat. Apa dia sakit? Karena ku siram kemarin? Kenapa aku jahat sekali.” Ujar orang tersebut yang tak lain adalah Sehun.

 

“Kau kenapa Sehun-ah?” Tanya seseorang di samping Sehun, Kai.

 

“Tidak.” Jawabannya dingin. Kai hanya membalas dengan anggukan.

 

“Kulihat kau memperhatikan gadis yang kemarin bertengkar denganmu. Dan menggumam tidak jelas tadi.” Skak mat Sehun. Ternyata Luhan melihatnya. Sontak pernyataan Luhan membuatnya bingung harus menjawab apa.

 

“Mwo? Kau bertengkar dengan seorang gadis? Katakan padaku apa dia cantik? Yang mana orangnya? Jangan bilang kau menyukainya.” Dan pertanyaan bertubi-tubi keluar dari mulut Kai.

 

“Kai kenapa yang di otakmu hanya yeoja saja? Sesekali pikirkan pelajaran Kai, kau tidak malu nilaimu paling rendah diantara kami?” Dan sekarang Kyungsoo memulai aksi menceramahi Kai. Yang diceramahi hanya memasang muka masam.

 

 

***

 

Kegiatan MOS hari kedua telah dimulai sekitar satu jam yang lalu. Kegiatan kali ini adalah games. Siswa siswi baru diharuskan bermain game dengan kelompok yang sudah ditentukan. Masing-masing kelompok mempunyai satu buah apel yang akan ditempeli stiker bagi yang menang. Dan akan dilihat nanti siapa yang paling banyak akan diberi kebebasan menentukan hukuman apa saja untuk yang kalah.

 

Di lapangan basket yang cukup panas, di sini lah kegiatan game itu berlangsung. Dengan cuaca yang lumayan terik.

 

“Darin-ah kau tidak apa-apa? Kau pucat. Sebaiknya kau izin saja ke UKS.” Tanya Yeri, memang benar yang dikatakannya bahwa Darin terlihat pucat.

 

“Aku baik-baik saja Yeri-ya.” Sebenarnya Yeri ingin sekali berkata pada petugas osis bahwa Darin sedang sakit, namun ia mengurangkan niatnya mengingat Darin memang keras kepala.

 

Games dimulai. Darin terlihat sangat lemas. Tak seperti Darin yang biasanya selalu lincah. Tanpa ia tahu bahwa seseorang di depannya sedang memperhatikan gerak-geriknya. Orang tersebut tampak khawatir pada Darin.

 

‘Kenapa dia memaksakan diri sekali? Bagaimana kalau dia pingsan?’ Batin Sehun, orang yang dari tadi memperhatikan Darin.

 

Seperti apa yang baru saja Ia katakan dalam hati, ia mendengar seseorang berteriak bahwa ada orang pingsan. Dan benar saja dugaan Sehun, orang itu adalah Darin. Gadis yang berhasil membuatnya tidak bisa tidur nyenyak semalam.

 

Entah dorongan dari mana, ia mulai mengangkat Darin, menggendongnya menuju ruang Kesehatan. Tanpa memperdulikan harga dirinya. Karena yang ia rasa adalah gadis ini sakit karena kelakuannya kemarin. Tanpa mempedulikan orang-orang yang menatapnya dengan heran.

 

Ia membaringkan Darin di sebuah ranjang di ruang kesehatan. Rasa bersalah mulai menghinggapinya sekarang. Ia duduk pada sebuah kursi di sebelah Darin. Entah kerasukan jin apa, Sehun menggenggam tangan Darin. Hingga kantuk mulai menyerang dan ia memejamkan matanya.

 

 

***

 

Darin bangun dari pingsannya. Terlihat sedikit kebingungan pada raut wajahnya. Dan merasakan hal aneh pada tangannya. Setelah melihat ada apa dengan tangannya ia membulatkan matanya.

 

‘Bagaimana ia ada disini? Dan kenapa menggenggam tanganku? Sebenarnya apa yang terjadi padaku?’ Pertanyaan itulah yang terus berputar di otaknya.

 

Perlahan ia mencoba melepaskan tangannya yang digenggam Sehun agar tak membangunkannya. Tapi sepertinya Dewi Fortuna sedang tak berpihak padanya. Sehun terbangun.

 

“Kau sudah bangun?” Tanya Sehun dengan tampang ala orang baru bangun tidur.

 

“Belum. Kalau kau sudah tau kenapa masih bertanya?” Sehun terkekeh melihat tingkah hoobaenya yang satu ini. Darin hanya mempoutkan bibirnya lalu hendak pergi meninggalkan ruang kesehatan.

 

Sebuah tangan kekar menahan tangannya. Kalian pasti sudah tau kan itu tangan siapa. Benar itu tangan Sehun.

 

“Kau mau kemana?”

 

“Kembali ke kelas.” Jawab Darin datar.

 

“Sekolah sudah berakhir satu jam yang lalu.” Mendengar pernyataan Sehun Darin pun membulatkan matanya. Melirik ke jam yang terlingkar pada pergelangan tangannya. Memang benar! Sekolah sudah berakhir!

 

“Yasudah aku mau pulang. Terima kasih sudah menjagaku dan mengambilkan tasku.”

 

“Mau ku antar?” Darin berpikir sejenak. Sebenarnya ia malas naik taksi. Takut jika ia pingsan di dalam taksi lalu supir taksinya macam-macam padanya.

 

“Kau terlalu lama berpikirnya, sudahlah ayo aku antar pulang.” Ujar Sehun sambil menggenggam tangan Darin.

 

Darin hanya mengekor di belakang Sehun sambil melihat pergelangan tangannya yang digenggam Sehun. Baru kali ini tangannya digenggam seorang namja. Jantungnya pun mulai berdetak tak karuan. Begitu pula dengan Sehun, baru kali ini pula ia menggenggam tangan seorang yeoja. Jantungnya juga berdetak tak karuan.

 

Mereka masuk ke mobil Sehun. Di perjalanan hanya hening yang menyelimuti keadaan mereka. Sungguh Sehun benci keadaan seperti ini. Ia ingin mebuka suara tapi tak tau topik apa yang harus dibicarakan. Hingga ia memberanikan diri untuk mebuka suara.

 

“Mianhae..”

 

Darin hanya diam sambil menatap Sehun dengan mengerutkan keningnya pertanda ia tak mengerti. Oh gadis itu memiliki IQ 137 kenapa ia jadi mudah lupa sekarang?

 

“Mianhae untuk yang kemarin.” Akhirnya Darin mengerti juga apa maksud Sehun. Tapi ia masih diam.

 

“Kurasa karenaku kau jadi sakit.” Darin tak menyangka bahwa seorang Sehun yang terlihat sedingin es batu puluhan kilo ternyata bisa juga minta maaf.

 

‘Apa dia sungguhan?’ Hanya itu yang kini ada dalam benaknya. Takut kalau ia akan diberi pelajaran lagi olehnya dengan kata lain ini hanya tak tiknya.

 

“Apa kau sungguhan?” Mendengar pertanyaan Darin, Sehun menoleh sekilas lalu kembali memfokuskan pandangannya ke jalan. Jika ia terus menatap Darin bisa-bisa mereka tak akan selamat.

 

“Apa aku terlihat bohong?”

 

“Mana aku tau. Pandanganmu kan ke jalan. Aku tidak bisa melihat apa-apa.” Sehun seketika memelankan laju mobilnya dan berhenti di pinggir jalan. Menatap Darin agar ia bisa tau bahwa dirinya sedang tidak berbohong.

 

“Darin, aku minta maaf ne.” Ujarnya dengan senyum tulus.

 

Darin terpaku. Mata Sehun bertemu pandang dengan matanya. Hampir saja ia lupa akan niatnya mencari kebohongan di mata Sehun. Namun hasilnya nihil.

 

Bisa dipastikan Jantung Darin sedang berpacu sangat cepat sekarang. Ia tak mengerti kenapa dirinya bisa seperti ini. Takut kalau Sehun mendengar detak jantungnya lalu menertawakannya.

 

Bagaimana dengan Sehun? Sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama dengan Darin.

 

“Baiklah aku memaafkanmu sunbae.” Sehun bernafas lega mendengarnya.

 

“Gomawo.” Senyum tulus terpampang indah di wajah Sehun. Membuat Darin terpana. Tidak bisa ia pungkiri bahwa Sehun memang tampan. Pantas saja banyak yeoja yang mengejarnya.

 

“Ne cheonma.” Darin ikut tersenyum. Senyum yang entah kenapa bagi Sehun adalah senyum favoritnya sekarang. Ia pun melajukan mobilnya kembali.

 

Tidak membutuhkan waktu lama, mobilnya telah sampai di kediaman Darin.

 

“Sunbae gomawo ne.” Ucapnya seraya melepas sabuk pengaman.

 

“Ne cheonma.” Balas Sehun sambil memperlihatkan senyum indahnya.

 

Sehun terus memperhatikan Darin hingga sosok itu sudah menghilang di balik pintu. Ia tersenyum, sedikit lega rasanya masalah kemarin tidak berkepanjangan. Ia pun melajukan mobilnya untuk pulang ke rumahnya.

 

 

***

 

Hari demi hari selanjutnya hubungan mereka semakin membaik. Banyak sekali yeoja -fans Sehun- yang iri pada Darin

 

Hingga pada saat Sehun dan Darin sedang duduk di taman belakang sekolah. Angin yang berhembus cukup kencang membuat debu masuk ke mata Darin.

 

“Kau tidak apa-apa? Ada apa dengan matamu?” Tanya Sehun. Yang ditanya hanya menaikkan bahunya pertanda ia juga tak tahu sambil mengucek matanya.

 

“Sepertinya kau kelilipan. Jangan dikucek nanti tambah parah. Sini biar kutiup.” Ujar Sehun dan langsung mengarahkan tubuh Darin menghadapnya.

 

Ia meniup mata Darin. Tanpa mereka ketahui bahwa seseorang tengah memperhatikan mereka dan mengabadikan momen tersebut dengan kameranya.

 

“Nah bagaimana?”

 

“Mmm sudah lebih baik gomawo sunbae.”

 

 

***

 

Esoknya saat Darin baru saja tiba di sekolahnya. Banyak yeoja yang adalah fans Sehun menatapnya sinis. Ia juga tak mengerti kenapa mereka menatapnya seperti itu.

 

“Darin! Darin-ah!” Suara Yeri tiba-tiba mengejutkan Darin.

 

“Kau mengagetkanku saja. Ada apa Yeri-ya?”

 

“Lihat apa yang ada di mading!” Ucapnya dan langsung menarik Darin ke mading.

 

Begitu mereka tiba di mading, semua pasang mata menatap Darin sinis. Hingga Darin berhasil melihat apa yang ada di mading. Foto dirinya dan Sehun kemarin yang tampak seperti berciuman.

 

“Apa-apaan ini.” Darin langsung mengambil foto itu dan menyobeknya. Ia hendak kembali ke kelasnya namun seseorang menahannya. Yeoja yang entah siapa namanya.

 

“Hey Yoon Darin, gadis tidak tau diri!” Perkataan yang keluar dari mulut yeoja yang menghadang Darin membuatnya sedikit emosi.

 

“Apa kau bilang! Aku bukan gadis seperti itu!” Balas Darin dengan suara yang sedikit tinggi.

 

“Beraninya kau berciuman dengan Sehun! Rasakan ini!”

 

PLAKK

 

Sebuah tamparan mendarat dengan mulus di pipi Darin. Darin hanya diam. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa tak akan mencari masalah.

 

“Ini karena kau sudah berani mendekatinya juga!”

 

BUGH!

 

Bogem mentah mendarat mulus di pipi kanan Darin hingga mengeluarkan cairan berwarna merah kental.

 

“Satu lagi untukmu!”

 

Yeoja itu siap untuk menampar atau mungkin memukul wajah Darin. Namun sebuah tangan menahannya.

 

“S Sehun..” Yeoja itu berkata terbata-bata. Tak menyangka bahwa Sehun akan datang.

 

“Kau dikeluarkan!” Ucap Sehun dengan nada tinggi. Emosinya mulai naik.

 

“Mwo? Apa hakmu mengeluarkanku seenaknya!” Yeoja itu tak terima.

 

“Tentu saja, aku pemilik sekolah ini.” Perkataan Sehun membuat yeoja tadi membelalakkan matanya. Yeoja itu menangis.

 

“Bagi kalian yang mengganggu Darin, akan berurusan denganku. Bahkan aku tidak segan-segan mengeluarkan kalian. Karena dia yeojachinguku! Dan foto itu, kami tidak berciuman. Aku hanya meniup matanya yang kemasukan debu.”

 

Perkataan Sehun berhasil membuat fans-fans Sehun tampak sedih. Sekaligus takut karena Sehun bisa mengeluarkan mereka.

 

“Darin, kajja kita ke UKS, kita harus obati lukamu.”

 

 

***

 

Setelah kejadian itu tak ada seorang pun berani mengganggu Darin lagi. Bahkan mereka sudah benar-benar menjalin hubungan.

 

“Ah jadi begitu ceritanya. Awal mula eomma dan appa bertemu sampai pacaran. ” -Serin- ucap anak itu sambil mengangguk.

 

“Appa, kenapa appa jahat sekali menyiram eomma sampai sakit.” Ujar seorang anak lainnya di sebelah Serin, Sejoon namanya.

 

“Appamu masih labil jadi ya begitu.” Ujar Darin terkekeh.

 

Bagaimana dengan orang yang dibicarakan -Sehun-? Dia hanya memasang muka masam karena menjadi korban pembullyan oleh istri dan anaknya.

 

“Baiklah sekarang sudah malam, saatnya tidur. Besok kita akan jalan-jalan.” Ujar Darin.

 

“Jinja? Yeay siap komandan.” Ucap Sejoon sambil melakukan hormat. Melihat tingkah anaknya Darin dan Sehun hanya tersenyum.

 

“Jja, kita bersenang-senang besok.” Ujar Sehun. Akhirnya ia mulai ceria (?)

 

Akhirnya kedua anak itu pun menuju kamar mereka. Begitu pula dengan Darin dan Sehun.

 

 

“Inilah kisahku pertama bertemu dengannya. Kisah sedih yang kini telah menjadi kebahagiaan. “

 

 

 

 

END

 

 

Huaa gimana ffnya? Jelek kah? Ga nyambung kah? Harap maklum yaa saya kan masih junior hehehe. Untuk typo apabila ada saya mohon maaf karena saya juga manusia biasa. RCL sangat dibutuhkan dan gomawo sudah membaca. *Bow bareng sehun

2 thoughts on “Story of first meet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s