Something Hidden Part 1

something hidden

Author: SakuRaa (@_raraa84)

Title: Something Hidden (Chapter 1)

Cast:

-Byun Baekhyun (Baekhyun)

-Oh Sehun (Sehun)

-Kim Jongin (Kai)

-Park Chanyeol (Chanyeol)

-Do Kyungsoo (Kyungsoo)

-Kim Joon Myun (Suho)

Genre: Family, Brothership, Friendship, School Life.

Rating: General

Length: Chaptered

 

‘ketika ia remaja, ia akan bisa mengutarakan pendapatnya sendiri. Ia akan bisa memilih apa yang ingin dia pilih. Orang tua tak akan selamanya ada disamping anaknya, mereka juga harus menyadari itu’

 

==================

(diharapkan kalian membaca Teaser nya terlebih dahulu!)

https://koreadansaya.wordpress.com/2014/07/19/something-hidden-teaser/

 

=====

BackSound:

One Direction – The Story of My Life

 

Busan, 17 Mei 2012

 

Seorang pria baru saja duduk disalah satu kursi kereta Api yang dekat dengan jendela, Pantulan bayangannya terlihat jelas dari balik kaca Kereta Api yang ia tumpangi, sambil tersenyum lembut pria itu melambaikan tangannya berkali-kali pada seseorang diluar yang sedang menangis dan melakukan hal yang sama dengannya.

 

Tiba-tiba seseorang itu tersadar akan sesuatu kemudian mengayunkan tangannya agar pria didalam Kereta segera turun dan menemuinya sebentar.

 

Pria itu menghela napas dan turun, ia menghampiri seseorang yang kini sibuk mengorek isi tas dipundaknya.

 

“Ibu… ayolah, kereta ku akan berangkat sebentar lagi, ada apa?”

 

aissh, aku lupa memberimu ini” Ibu pemuda itu mengeluarkan sebuah kalung berliontin cincin emas putih dari dalam tasnya. Dan memberikannya pada pria yang ada dihadapannya.

 

“ibu, ini kalung peninggalan ayah, untuk apa diberikan padaku?” pria itu mengembalikan kalung dari tangannya. Tetapi Ibu setengah baya itu menolak.

 

“sudahlah Nak, anggap ini kalung keberuntunganmu disana, mengerti? Jika kau kekurangan uang untuk kehidupanmu sehari-hari, kau boleh menjual ini.”

 

“tapi..” Baekhyun menggeleng, tetapi wanita itu segera menyela.

 

Baekhyun, ibu tak pernah mau menjual cincin ini sesusah apapun keadaan kita, karena Ibu dan Ayah sudah memberikan cincin ini untuk masa depanmu…” wanita setengah baya itu menangis kembali sambil mengelus pundak anaknya. Pria itu hanya mengangguk sambil memeluk Ibunya untuk yang kesekian kalinya.

 

*

 

Baekhyun mengedarkan pandangannya kearah jendela disamping tempat duduknya. Kereta yang ia tumpangi ini akan membawanya ketempat… yah dia harap ketempat yang jauh lebih baik daripada desanya, Busan. Ketempat yang dipenuhi lampu-lampu kota dan gedung-gedung tinggi yang menjulang. Ketempat dimana dia akan meneruskan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi, SMA.

 

Baekhyun haruslah beruntung, karena ia mendapat beasiswa penuh untuk meneruskan sekolah di SMA Elite bernama Yongguk yang letaknya ditengah-tengah kota Seoul. Sekolah yang hanya berisi murid-murid pintar dan kaya. Tentu saja.

 

Mungkin Baekhyun bukan murid yang kaya, tetapi pasti dia murid yang pintar karena berhasil mendapat beasiswa itu.

 

Harusnya seperti itu.

 

*

Seoul, 18 Mei 2012.

 

Baekhyun merentangkan kedua tangannya dan meluruskan otot-ototnya perlahan. 9 jam perjalanan dari Busan ke Seoul sangat melelahkan, tentunya. Ia harus menghabiskan waktu selama itu untuk tidur dalam posisi duduk.

 

Ia menggeret kopernya keluar dari stasiun sambil melirik jam tangannya dan ternyata jam menunjukkan pukul 7.29 pagi.

 

Baekhyun begitu takjub dengan suasana stasiun kota Seoul. Pemandangan seperti ini pun sungguh berbeda dari stasiun dikampungnya, begitu kotor dan panas. Tetapi di stasiun ini, terang, bersih, dan sejuk.

 

Ketika langkah kakinya benar-benar keluar dari stasiun tadi, ia menghentikan langkahnya dan menghirup udara dalam-dalam. Ia duduk dibangku Halte depan stasiun dan meletakkan barangnya dibawah. Senyumnya tak pernah pudar dari wajah manisnya yang putih bersih. Ia memang bukan anak orang berada, tetapi ia selalu menjaga penampilannya agar tetap rapi dan enak dilihat.

 

“woaah, disini dingin sekali”

 

ia mengeratkan lengannya dan memeluk dirinya sendiri, menciptakan sedikit kehangatan, ia menoleh kekanan-kekiri dan ia pikir, orang-orang di sampingnya itu juga sedang menunggu Bus. ia harap sebentar lagi Bus akan lewat dan segera membawanya ke sekolah barunya itu.

 

1 menit

 

2 menit

 

Benar, tak berapa lama sebuah Bus tingkat berwarna Silver berhenti didepan Halte. Baekhyun sedikit lega dan segera mengangkat koper dan tas ranselnya kedalam bus.

 

anyyeong, apa bus ini melewati SMA Yongguk, Tuan?” Baekhyun membungkukkan badannya dan berbicara sopan. Sopir bus itu mengangguk,

 

“ya, masuklah.”

 

*

Baekhyun menurunkan kopernya dari dalam bus, setelah ia sampai dipintu Gerbang SMA Yongguk. Baekhyun sangat takjub karena tinggi pintu gerbang itu mungkin sekitar 3x dari tingginya saat ini.

 

Baekhyun melangkahkan kakinya pelan, ia mengedarkan pandangannya keseluruh SMA yang megah itu.

 

Taman yang luas nan hijau, 1 gedung kaca yang sangat tinggi, 2 gedung yang lebih kecil dari gedung pertama, dan terlihat beberapa atap berbentuk kubah dari pintu gerbang sekolah ini, mungkin itu gedung Olahraga. Tak lupa dipintu gerbang itu juga terukir tulisan, ‘SMA Yongguk’.

 

“woaah, ini seperti kompleks perumahan mewah” entah sadar atau tidak, Baekhyun menggumamkan kalimat itu.

 

Tiba-tiba seorang pria setengah baya dengan pakaian rapi berbentuk seragam menghampiri Baekhyun yang masih terdiam ditengah-tengah gerbang.

 

“permisi Tuan? Ada perlu apa ya?” ucap pria itu sambil mengamati Baekhyun dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rambut hitam yang tersisir rapi, jaket abu-abu tebal, ransel dipunggungnya, celana jeans yang warnanya memudar dan sepatu kets nya yang lusuh.

 

“oh, maaf pak, saya bakal murid beasiswa disini” Baekhyun mengeluarkan sebuah Map biru dari tas ranselnya, dan segera ia berikan pada pria setengah baya itu. Pria itu mengernyitkan dahinya heran, tapi kemudian menutup kembali Map itu.

 

“baiklah, jika demikian, silahkan anda ke Gedung utama disebelah sana, lalu—”

 

*

Baekhyun menuruti perintah bapak tadi yang ternyata adalah satpam disekolah ini. Ia berjalan sambil sesekali menoleh kanan-kiri menemukan tulisan ‘Office Room’ seperti kata bapak tua itu.

 

“Practice Room… perpustakaan…” Baekhyun membaca satu-persatu petunjuk arah di hadapannya. Ini hari Minggu, pantas saja tak seorang pun yang ia lihat sedang berlalu-lalang disekitar sini. Tetapi kata Satpam itu, walaupun hari Minggu, di jam segini banyak murid yang sedang mengikuti kegiatan extrakulikuler, sehingga mereka masuk dalam ruangan masing-masing.

 

“ah, ini dia. Office Room.” Baekhyun segera mengikuti arah panah di papan itu. Ia berpikir, ini seperti lorong rumah sakit yang terdapat ruang lebar ditengah-tengah gedung, ditengah gedung juga dibiarkan tanpa atap, sehingga cahaya matahari dapat masuk dan memberikan kesan gedung itu sangat luas. Tengah-tengah gedung itu berisi tanaman-tanaman, rumput, dan beberapa bangku dari kayu.

 

*

“baekhyun-ssi, ingat. Setiap murid baru yang mendapat Beasiswa, masih harus menjalani program percobaan selama 6 Bulan sampai Ulangan tengah Semester tahun pertama. Jika dalam Ulangan tengah Semester itu anda mendapat 1 nilai saja yang kurang dari Rata-rata yang tertera, kami mohon maaf, beasiswa anda harus dicabut.” Baekhyun terperanggap, ia menghela napasnya panjang,

 

“em, 6 Bulan?” baekhyun berhenti memperhatikan kertas-kertas ditangannya dan menoleh pada guru perempuan dihadapannya itu.

 

“ya, murid beasiswa masih bisa merasakan semua fasilitas sekolah ini secara gratis, tetapi jika dalam 6 bulan itu, ia gagal, dan mendapat nilai jelek, ia harus keluar. Tapi jika nilainya tetap bagus sesuai rata-rata, ia akan tetap disini dan kami akan memberikan beasiswa penuh sampai ia lulus. Begitulah ketentuannya. Apa kau keberatan?” Jelas wanita itu.

 

Baekhyun seketika menggeleng, “tidak, tidak Seosangnim. Em kalau begitu, saya permisi dulu.” Wanita itu mengngguk, lalu Baekhyun bangkit dan membungkuk hormat.

 

*

Baekhyun keluar dari ruangan guru dengan banyak kertas-kertas ditangannya, ia masih menatap lurus kedepan, memikirkan apa yang dikatakan guru perempuan tadi. Ia menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya, ia lalu menatap kembali kertas-kertas itu, ada yang harus ditandatangani, diberi pas photo, diisi, dan banyak lagi perintah dari seorang guru perempuan yang memandu Baekhyun tadi.

 

“baiklah, ini pas photo 3×4, ini tandatangan, ini… Wow” tangannya berhenti membuka kertas baliknya ketika ia melihat kertas dengan judul ‘Kompetensi Dasar kelas X-XII Reguler Class & Billing Class’ yang sangat berbeda.

 

Untuk Reguler Class ditabel sebelah kiri sangat banyak dan rata-rata yang harus dicapai sangat tinggi.

 

Sedangkan, tabel sebelah kanan, untuk Billing Class, dengan kompetensi yang sama, tetapi nilai rata-rata yang standart. Sedangkan, murid Beasiswa seperti Baekhyun akan memasuki Reguler Class.

 

‘mengapa? Apakah sekolah ini sangat membedakan golongan?’

 

Baekhyun terus berjalan sambil menggeret kopernya dan membaca satu-persatu kertas ditangan kanannya. Tiba-tiba,

 

Bruuk

 

Baekhyun menabrak seseorang yang berjalan berseberangan dari arahnya, seluruh kertas-kertas ditangan Baekhyun pun berserakan dilantai dan dengan sigap seorang pria yang ditabrak Baekhyun tadi membungkukkan badannya sambil memunguti kertas-kertas itu.

 

“oh, maaf, maaf. Aku tidak melihatmu tadi, maaf.” Baekhyun menundukkan kepalanya berulang kali, Pria itu bangkit, dan membaca sekilas kertas-kertas Baekhyun dan memberikannya.

 

“tidak apa-apa.” Pria itu menatap lekat-lekat Baekhyun, tanpa Baekhyun sadari. Segera Baekhyun membungkukkan badannya sekali lagi dan berjalan melanjutkan langkahnya.

 

Setelah berlalu, pria itu memasang Headset di telinganya, dan menoleh kebelakang, kearah Baekhyun, menatap punggung Baekhyun sambil memiringkan kepalanya.

 

Byun Baekhyun…” gumamnya pelan.

 

 

*

 

Seorang gadis berjalan pelan sambil menggeret kopernya, kacamata hitamnya ia lepas dan terlihat sepasang manik mata oval berwarna coklat yang dipoles sedikit make-up.

 

Tak berapa lama, datang 2 pria setengah baya dengan pakaian rapi menghampiri gadis itu.

 

Anyyeong Nona-Hyun, selamat datang kembali di Korea” sapa salah satu pria itu, sedangkan pria yang lainnya segera meraih koper dan jas si gadis.

 

anyyeong Tuan-Kim. Apa ayah yang menyuruhmu menjeputku? Padahal aku sudah bilang tidak usah padanya.” Gadis itu tersenyum lembut, pria tua bernama Kim mengangguk. Ia langsung membukakan pintu mobil sport warna Merah dan menyuruh gadis itu masuk.

 

“tak apa Nona, itu memang kewajiban saya.” Gadis itu tersenyum, dan kemudian menatap lekat-lekat mobil yang ada dihadapannya, mobil ini masih baru, bahkan jok mobilnya masih ada yang dibungkus plastik.

 

Gadis itu menggeleng sambil tersenyum, “ini pasti mobil yang ayah belikan untukku!” dan pria setengah baya itu pun tertawa.

 

*

Ji Hyun

 

Aku turun dari mobil pribadiku. Walaupun aku belum pernah memakainya, tetapi ayahku sudah membelikan mobil ini jauh-jauh hari sebelum kepulanganku kembali dari Paris. Ia bahkan menelponku untuk menanyakan mobil apa yang aku suka. Tentu saja aku jawab ‘terserah’, karena aku memang tak punya pengalaman apapun tentang mobil atau sejenisnya. Tapi baiklah, aku harus mengakui, calon mobil ku ini sangat bagus dan mewah.

 

“Ayah!” aku masuk kedalam rumah, semua tampak sepi. Tatanan rumah tak jauh beda dari 4 tahun lalu setelah aku meninggalkan rumah ini. hanya warna cat saja yang dirubah menjadi warna krem, karena kupikir warna putih sudah lumayan tua untuk rumah ini. Kepala pengawal Kim dan pengawal ku yang lain kemudian masuk dan meletakkan koperku dikamar lantai 2.

 

“tuan besar mungkin sedang diruang kerjanya, Nona” ucap pembantu wanita yang sedang membawa kain pel dari belakang rumah. Aku tersenyum, lalu mengangguk. Aku bergegas untuk keruang kerja Ayahku disudut ruangan.

 

Ayahku memang tidak suka keramaian. Sehingga ruang kerjanya atau kamar tidurnya pun jauh dari halaman, ruang tengah, atau ruang tamu. Ia memilih membangun kamarnya lebih menjorok ke belakang.

 

Aku membuka knop pintu pelan. Suara decitan terdengar jelas sehingga seorang pria yang sedang duduk dikursi kerjanya didalam langsung menoleh kesumber suara.

 

“ayah!!” aku langsung menghambur dan memeluknya. Ia membalas pelukanku dan mengelus puncak kepalaku.

 

Sungguh, aku sangat merindukan masa-masa kebersamaanku dengan ayahku. Walau dia termasuk orang yang sibuk, tetapi ia tak pernah absen untuk mengambil hasil Raportku, ia selalu menunda jadwal Meetingnya jika aku ingin jalan-jalan bersama. Ia tak pernah lupa jika ada hari Minggu atau libur.

 

“JiHyun, ayah sangat merindukanmu, sayang” suara berat itu. Suara bass itu, aku sangat merindukannya.

 

“aku juga sangaat merindukanmu, ayah.” Tak terasa aku menangis. Menangis bahagia pastinya.

 

Masa-masa sulit 4 tahun lalu itu sangat membuat ayahku dan aku tersiksa.

 

Aku tak mau berpisah seperti dulu lagi, aku tak mau berpisah dengan orang yang kusayangi lagi.

 

Aku melepas pelukanku pada ayahku, “Ayah, mengapa kau membelikanku mobil mewah seperti itu, huh? Itu pasti sangat mahal, ayah. Mobil seperti yang ayah belikan padaku waktu di Paris, itu saja sudah cukup. Tidakkah ayah ingat masa-masa sulit kita 4 tahun yang lalu?”

 

Aku mengerucutkan bibirku sambil melipat kedua tangan didepan dada. Ayahku tersenyum geli, umurku sudah 15 tahun tapi aku masih sama seperti dulu. Selalu bersikap manja pada ayah.

 

Salah sendiri dia selalu memanjakanku sejak kecil?

 

“itu hadiah untukmu, sayang. Dan … ayah janji, tidak akan membawamu kemasa-masa sulit seperti itu lagi, oke?”

 

Ji Hyun POV End

 

*

Kai mengetuk pelan pintu ruangan kerja ayahnya. Ia berharap-harap cemas walaupun wajah tenangnya tetap ia tunjukkan didepan karyawan-karyawan perusahaan ayahnya ketika ia lewat tadi.

 

Ayah Kai memang seorang pemilik perusahaan paling kaya di Seoul, perusahaannya mencakup semua bidang dikota Seoul, dan jika ia sudah memanggil Kai untuk keruangannya, berarti ada hal yang sangat penting untuk dibahas. Karena mereka memang jarang berinteraksi, tetapi Kai sangat menghormati Ayahnya, yah karena Ayahnya lah satu-satunya keluarganya. Begitulah menurut Kai.

 

“masuklah.” Ucap pria tua yang sedang memasukkan buku-buku kedalam rak buku yang hampir memenuhi ruangan lebar itu.

 

Kai mengangguk, segera ia duduk di sofa sebelah barat ruangan. Pria tua itu kemudian berjalan dengan bantuan tongkat disebelah kanan tangannya. Umurnya sudah tua tetapi ia harus terus mengelola perusahaan sebesar ini. Ia juga tak jarang memakai kursi roda jika ada Meeting diluar kota.

 

“bagaimana dengan sekolah yang kemarin kau kunjungi?” pria itu menuangkan air panas kedalam 2 gelas kopi dihadapannya. Walaupun Kai anak kandungnya, ia selalu berbicara formal dan bersikap seperti kepada rekan bisnisnya sendiri.

 

“cukup bagus. Memangnya ada apa, ayah?” Kai menerima segelas kopi dari tangan Ayahnya. Lalu meletakkannya pada meja didepannya.

 

“itu calon sekolahmu nanti” pria tua itu tersenyum sambil menyeduh kopi dan memutar-mutarkan gelasnya.

 

Kai menoleh cepat, matanya membulat sempurna, ia begitu terkejut karena Ayahnya tak pernah membahas akan melanjutkan sekolah dimana Kai nanti. Tetapi tiba-tiba ayahnya memutuskan hal dengan sepihak seperti ini.

 

“tapi Ayah, bagaiman—”

 

“kau belum mendaftar kesana kan? Jadi tidak ada alasan untukmu menolak sekolah itu. Aku yang akan mengurus semuanya nanti.” Pria itu bangkit, dan kembali duduk dikursi kerjanya. Kai hanya menunduk dalam, ia tak akan mungkin bisa menolak permintaan ayahnya, apapun itu.

 

“oh ya, dan ambil seragam-mu secepatnya. Aku sudah memesan untukmu” Kai hanya mengangguk, dan bangkit, ia mengambil jasnya dan membungkuk pada ayahnya.

 

Ia sebenarnya kecewa, sungguh. Tapi ia bisa apa?

 

*

Kai menghentakkan tangannya pada stir mobil Mercendes hitam yang ia bawa. Nafasnya naik turun tak sempurna, bahkan ia sesekali mendengar mobil disebelah atau dibelakangnya membunyikan klakson mobil mereka karena Kai mengemudi tidak benar.

 

Ia tak mungkin menolak ayahnya. Ia tak mungkin menolak perintah ayahnya. Ia tidak mungkin mengatakan ‘tak mau’ pada ayahnya.

Dari kecil, Kai selalu menurut apa yang diinginkan ayahnya, apa yang diaturkan ayahnya untuk Kai. ia tak pernah menolak. Sampai sekarangpun juga begitu,

 

 

tetapi bagaimanapun bayi akan tumbuh menjadi anak, anak akan tumbuh menjadi remaja, dan ketika ia remaja, ia akan bisa mengutarakan pendapatnya sendiri. Ia akan bisa memilih apa yang ingin dia pilih. Orang tua tak akan selamanya ada disamping anaknya, mereka juga harus menyadari itu.

 

 

 

 

*TBC*

 

The Story Begin Here! Di sekolah mereka yang baru itu lah mereka memulai semuanya!

 

Oke oke. Gimana? Ini bahasanya, letak kata-kata nya udah diperbarui :v (namanya juga Mega Project :v apalah)

 

Ini sebenernya masih Prolog, belum apa-apa, Cast-cast selanjutnya juga baru muncul Chapter 2 atau 3 (bertahap lah ya-_-)

Diharapkan memberikan Comment, like atau sebangsanya. Itu sangat membantu oke?

 

Comment dan saran tetap ditunggu, Bye.

@_raraa84

20 thoughts on “Something Hidden Part 1

  1. Desyehet berkata:

    Yg tabrakan sama baekhyun itu kai ya???
    Bagus thorrr… Emmm aku bingung mau ksh saran apa, orang udh bagus&keren kok hehe
    Next chapter di tunguu ^^

  2. Hilma berkata:

    siapa yang tabrakan sama bakhyun itu? sehun kah..
    wah penasaran sama kelanjutannya..
    ditunggu next chapternya chingu… ^^

  3. In Soo berkata:

    aku masih bingung,, masih chap 1 ,, yg lain blm nongol,,, hahahahaha
    yp bnr2 pnsaran nih sma lanjutannya,,

    d tnggu chap dpn,,🙂

  4. byun dilla berkata:

    jujur ya thor, aku msih belum paham sma jln ceritanya walaupun udah baca teasernya :-3
    tapi udah bagus kok thor, di tunggu chap selanjutnya ya thor dan apdetnya jangan lama”🙂

    FIGHTING…..#^_^

  5. kyuRiani18 berkata:

    Di tunggu ya chapter slanjutnya trus sehun blm muncul dichapter ini..kok critanya singkat banget yaa,,semoga next chapnya lebih panjang dikit pnsaran sm konflik2 yg muncul nnt..fighting

  6. Novaa berkata:

    Kayaknya sehun kali yang yang nabrak baekhyun itu? Iya sih ini masih prolog, pendek bangeet😦
    Tapi thor yang bikin penasaran mereka di umur 15 udah pada bawa mobi sendiri?
    Lanjut baca yaaa😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s