[Sequel] Do Kyungsoo : The Story Begin (6) END

Do+Kyungsoo

Judul : [Sequel] Do Kyungsoo : The Story Begin (6-END)

 

Author : Lu_llama

 

Cast : Do Kyungsoo,Park Jiyeon

 

Lenght : Chapter

 

Rating : T

 

Cr poster : sujufanfictsworld.blogspot.com

 

 

 

Kyungsoo tidak ingin bertanya. Kyungsoo tidak ingin mendengar jawaban apapun, karena Kyungsoo sudah 17 tahun dan dia bukan orang bodoh yang tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti. Namun segalanya sudah nyata, dan itu artinya Kyungsoo sudah harus mengambil langkah. Berdiam diri bukan cara yang tepat. Sejak kejadian pagi tadi, Kyungsoo tidak henti-hentinya merutuk dalam hati. Apa yang telah kulakukan?

 

 

Namun, semua itu tidak lagi penting saat pagi tadi tiba-tiba saja Jiyeon melepaskan genggaman tangannya dan memilih berlalu meninggalkan Kyungsoo yang masih terdiam.

 

 

“Maaf Kyungsoo, aku ingin masuk kelas”

 

 

Gadis itu sukses membuat Kyungsoo kembali terusik.

 

 

Kyungsoo memilih membolos saat pelajaran matematika berlangsung. Ia menyendiri diatap sekolah. Menyibukan diri dengan apapun yang bisa menghilangkan kegelisahan hatinya. Bermain game diponselnya, tertidur, bangun, mendengar musik, tertidur, bangun lagi-dan Kyungsoo bosan akan hal itu. Bahkan  untuk menghilangkan rasa bosannya ia sempat mencoba berlari ditempat selama 10 menit. Entahlah, Kyungsoo merasa konyol.

 

 

Pria itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Pukul 9 pagi. Belum waktunya istirahat. Dan masih berjam-jam lagi untuk sekolah usai. Kyungsoo mendesah. Rasanya ia ingin sekali tertidur dikasur nyamannya. Atau mencari udara segar diluar sekolah. Terkadang Kyungsoo jenuh dengan sekolah. Belajar sampai larut adalah hal paling menyebalkan ketiga setelah Amber dan kebisingan. Menurutnya sekolah itu hanya formalitas. Tapi Kyungsoo tidak tau kenapa setiap ia terbangun dipagi hari, ia selalu mandi dan memakai seragam sekolah. Ya, itu adalah kebiasaan. Dan Kyungsoo juga tidak mengerti,  sejak kapan ia memperhatikan gadis susu itu. Yang lebih membuatnya merasa aneh adalah, kenapa ia selalu mendengar detak jantungnya saat melihat gadis itu tersenyum?

 

 

Kyungsoo memejamkan matanya. Menikmati semilir angin pagi yang berhembus diatap sekolah. Ia biarkan rambut hitamnya bergoyang tertiup angin. Kemudian ia mendesah. Dan entah sadar atau tidak saat ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu disana.

 

 

“Aku menunggumu diatap sekolah saat istirahat. Kau berhak memilih untuk datang atau tidak”

 

 

Dan ternyata Kyungsoo sadar sesadarnya saat ia menekan tombol send setelah sebelumnya mencantumkan kontak bertuliskan nama “Gadis Susu” disana.

 

 

 

* * *

 

 

Soal fisika nomor 3 itu baru akan Jiyeon kerjakan sebelum Amber tiba-tiba berseru heboh disebelahnya.

 

 

“Ji, apa kau benar-benar tidak mengerti apa maksud Kyungsoo?”

 

 

Jiyeon menghembuskan nafas kasar,ia taruh kembali pulpen putih kesayangannya dan menoleh kearah Amber dengan wajah datar.

 

 

“Kurasa dia menyukaimu” seru Amber lagi tanpa menoleh kearah Jiyeon. Tatapannya lurus kedepan dengan alis yang saling bertaut. Dalam pikirannya saat ini, Kyungsoo pasti tengah berperang dengan perasaannya sendiri. Amber mengenal Kyungsoo. Pria itu adalah seseorang yang tidak pernah mempedulikan hal-hal yang ia anggap tidak penting. Kyungsoo tidak pernah menunjukan perasaannya secara terang-terangan. Mau apapun yang terjadi, Kyungsoo selalu konsisten dengan wajah datarnya itu.

 

 

“Jangan bahas itu lagi” balas Jiyeon

 

 

Amber menoleh saat Jiyeon kembali sibuk dengan soalnya. “Ya! Kau ini pura-pura tidak mengerti atau memang bodoh?!”

 

 

“Selesaikan soalmu sebelum guru Jang kembali kekelas”

 

 

Satu cibiran Amber tunjukan pada Jiyeon. “Aku tidak peduli dengan soal itu. Sebentar lagi juga akan istirahat” gadis tomboy itu meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja. Ia mulai membuka salah satu permainan disana “Kurasa Si Pria Arca itu mulai mencair. Kau harus membuatnya mengungkapkan isi hatinya” seru Amber tersenyum lebar

 

 

Ucapan Amber barusan sukses membuat Jiyeon terdiam. Perasaannya mulai tak karuan. Tapi dia memang benar-benar tidak mengerti maksud ucapan Kyungsoo pagi tadi. Sampai saat ini, Jiyeon masih belum bisa melupakan genggaman tangan Kyungsoo. Tapi jika mengingat tatapan Kyungsoo yang terlalu dalam, itu membuatnya takut. Jiyeon terlalu segan jika harus membalas tatapannya.

 

 

Sekitar 10 menit kemudian, bel istirahat pun berbunyi. Jiyeon menutup buku tulisnya dan menoleh kearah Amber yang masih sibuk dengan game diponselnya.

 

 

“Kau tidak ingin istarahat?”

 

 

Amber terkesiap. Dia langsung menoleh kearah Jiyeon yang sudah berdiri dari duduknya. “Apa sudah bel?”

 

 

Jiyeon memutar kedua bolamatanya “apa kau tidak mendengarnya?”

 

 

Hanya gelengan kepala yang Amber berikan. Kemudian gadis tomboy itu berdiri dan meraih lengan Jiyeon. “Ayo” serunya bersemangat. Jiyeon hanya bisa berdecak kecil melihat tingkah sahabatnya itu.

 

 

 

Saat ini, mereka sudah berada dalam barisan. Mengantri untuk mendapatkan jatah makan siang. Jiyeon menghitung dalam hati. Urutan 12, batinnya. “Sekarang 10”. Sepertinya ia sudah benar-benar merasa lapar. Karena sedari tadi tidak hentinya berhitung dalam hati. Didepannya Amber sibuk mengitari pandangannya kesekeliling. Sedari tadi matanya terus bergerak kesegala arah, setiap sudut tak luput dari pandangannya. Tapi nyatanya, orang yang ia cari diepenjuru kafetaria yang luas ini tidak juga terlihat.

 

 

“Amber!”

 

 

Amber terkesiap mendengar pekikan Jiyeon. Ia menoleh dan makan siang miliknya sudah tersedia dihadapannya. Amber meringis kecil “Kamsahamnida” ujarnya pelan, kemudian ia menoleh kebelakang, menghadap Jiyeon dengan cengiran lebarnya.

 

 

Makan siang sudah ditangan, Jiyeon berjalan menghampiri Amber yang seolah kebingungan mencari tempat duduk. Padahal masih banyak kursi kosong di kafetaria itu.

 

 

“Kenapa? Ayo makan” ajak Jiyeon lebih dulu mengambil langkah.

 

 

Amber masih diam, kepalanya terus bergerak. Memastikan apakah seseorang yang ia tunggu akan menunjukan batang hidungnya. Namun, Amber menyerah pada detik detik kesepuluh ia berdiri. Ia memutuskan menghampiri Jiyeon yang tengah melahap makanannya.

 

 

“Ada apa denganmu?” Tanya Jiyeon begitu Amber duduk dihadapannya.

 

 

“Aku menunggu Luhan. Dia tidak ada” jawab Amber pelan “Aku ingin melihatnya” ujarnya lagi setelah menyuap sesendok nasi kedalam mulutnya.

 

 

Jiyeon hanya menghela nafasnya. Setelah itu suasana hening. Mereka sibuk dengan kegiatannya. Jika Jiyeon fokus pada makananya, Amber fokus pada pikirannya tentang Luhan. Sesekali matanya melirik pintu kafetaria. Berharap ia akan melihat Luhan disana.

 

 

Tidak lama dari itu, saat Amber tidak lagi fokus pada pintu kafetaria dan lebih memilih menikmati makan siangnya dengan lahap. Seseorang secara tiba-tiba duduk disebelahnya. Ia menoleh, dan tersedak setelahnya. Dia memang mengharapkan Luhan datang. Tapi dia tidak berharap agar Luhan duduk disebelahnya seperti ini.

 

 

Amber meneguk minumannya dan membuang pandangannya kearah lain. Dia terkejut akan situasi ini. Tapi diam-diam dia tersenyum senang. Sedang Luhan, pria itu dengan cueknya duduk disebelah Amber. Tidak ia pedulikan tatapan heran Jiyeon yang menatapnya tanpa kedip. Amber menatap Jiyeon yang juga tengah menatapnya. Kemudian mereka sama-sama memutar kepala mereka kesegala penjuru kafetaria. Dan ternyata tidak ada lagi kursi kosong. Sebuah kebetulan?

 

 

“Kau  yang kemarinkan?” Tanya Jiyeon disela makannya. Dia tidak ragu-ragu menanyakannya. Bahkan terkesan polos.

 

 

Luhan hanya melirik Jiyeon kemudian mengangguk pelan.

 

 

“Luhan-ssi apa kau anak dari pemilik coffeeshop yang merangkup sebagai pekerja disana?” Tanya Jiyeon lagi. Ia tidak menghiraukan tatapan kesal dari Amber.

 

 

“Tidak” jawab Luhan. Singkat.

 

 

Amber hanya memperhatikan dalam diam. Sikapnya seolah cuek dengan kehadiran Luhan disana. Padahal saat ini ia senang setengah mati.

 

 

“Lalu?”

 

 

“Aku hanya ingin melakukannya. Sesekali”

 

 

Jiyeon menganggukkan kepalanya mengerti. Kemudian ia menoleh kearah Amber. “Ahh ya, kami akan menjadi langganan di coffeeshop milikmu. Iyakan Amber?”

 

 

Amber menoleh kearah Luhan yang juga tengah menatapnya. Gadis tomboy itu tersenyum cuek. Seolah dia tidak tertarik sama sekali. Inilah cara Amber menyamarkan perasaannya.

 

 

* * *

 

 

“Demi Tuhan! Apa kau tau perasaanku saat ini?”

 

 

Sepanjang perjalanan menuju kelas Amber tidak henti-hentinya berseru senang. Disampingnya Jiyeon hanya tersenyum melihat kelakuan sahabatnya saat ini. Berbeda dengan sikapnya yang terlalu pasif dan selalu gugup jika menghadapi Kyungsoo, Amber justru terlihat cuek,  dia bisa mengontrol diri.

 

 

“Kenapa kau bisa setenang itu menghadapi Luhan?” Tanya Jiyeon begitu mereka tiba dikelas.

 

 

Amber duduk dikursinya dan menatap keluar jendela dengan senyum lebarnya “sebenarnya aku juga sangat gugup” ujarnya menoleh kearah Jiyeon “tapi entahlah…aku senang” serunya

 

 

Awalnya Jiyeon mengernyit namun setelah itu ia mengedikan bahunya.

 

 

15 menit kemudian guru Song masuk dan memulai pelajaran. Seluruh siswa hanya bisa menghela nafas panjang. Siap tidak siap  mereka harus larut dalam ceramah panjang guru Song. Membosankan.

 

 

Satu jam berlalu, mereka mulai jengah dengan guru Song yang masih mengoceh didepan kelas. Disaat yang lain sibuk menenggelamkan wajahnya diatas meja atau mengobrol mengabaikan pelajaran guru Song. Jiyeon memilih meraih ponsel yang berada didalam tasnya. Dia merasa ponselnya bergetar, dan terdapat satu pesan dari Park Chanyeol disana. Namun yang membuatnya mengernyit adalah satu pesan lagi dari…

 

 

Jiyeon mebolakan matanya saat melihat isi pesan tersebut.

 

 

“Aku menunggumu diatap sekolah saat istirahat. Kau berhak memilih untuk datang atau tidak”

 

 

Do Kyungsoo.

 

 

Dengan gerakan cepat ia beranjak dari duduknya meminta izin pada guru Song keluar kelas dan menghiraukan seruan Amber yang memanggil namanya.

 

 

Jiyeon terus berlari menulusuri koridor. Bahkan ia mengabaikan Chanyeol yang menyapanya saat tidak sengaja bertemu disana. Saat ini ia benar-benar hanya ingin sampai diatap secepatnya. Istirahat sudah berakhir satu jam yang lalu. Apa Kyungsoo masih menunggunya disana? Jiyeon merutuk diri sendiri yang sudah meningglakan begitu saja ponselnya didalam tas. Padahal biasanya dia tidak begitu.

 

 

Jiyeon terus melangkah dengan cepat. Dia juga tidak tau kenapa ia bisa seperti ini. Namun saat membaca pesan Kyungsoo, Jiyeon hanya tidak ingin Kyungsoo menganggapnya mengabaikannya. Jiyeon masih peduli terhadap Kyungsoo. Bahkan tidak pernah terpikir olehnya untuk melupakan Kyungsoo meskipun kata menyerah sempat singgah dipikarannya. Jiyeon tidak peduli akan hal apa yang membuat Kyungsoo yang memintanya datang. Ia hanya berpikir untuk sampai secepatnya.

 

 

Jiyeon melangkah menaiki tangga dengan cepat. Saat pintu itu sudah dekat ia langsung menerobosnya. Ia berjalan kedepan. Mengitari pandangannya dengan nafas yang memburu namun nihil,tidak ada seorang pun disana.

 

 

“Ku pikir kau tidak datang”

 

 

Jiyeon menoleh kebelakang dan terperanjat saat melihat Kyungsoo berdiri disana dengan wajah datarnya. Masih dengan nafasnya yang terengah, Jiyeon terdiam. Ia terpaku dan hanya menatap Kyungsoo dalam.

 

 

* * *

 

 

“Kupikir kau tidak datang”

 

 

Kyungsoo melihat gadis itu menoleh kearahnya terkejut. Nafas gadis itu memburu dengan sedikit keringat yang membasahi dahinya.

 

 

Pria itu berjalan mendekat. Dan berhenti 3 langkah dihadapan Jiyeon “sudah lewat satu jam”

 

 

“Aku tau” balas Jiyeon masih terus menatap Kyungsoo.

 

 

Kyungsoo berjalan maju. Dan saat ini ia berada beberapa langkah didepan Jiyeon. Pria itu berdiri membelakangi Jiyeon. Dia mendongak menatap langit selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali menoleh.

 

 

“Kenapa kau menghindar?”

 

 

Kyungsoo tidak dapat jawaban. Hingga detik berikutnya, sampai akhirnya ia putuskan untuk menghadap Jiyeon. Gadis itu masih diam.

 

 

“Bukankah kau bilang kau terusik?”

 

 

 

“Dan bukankah sudah kubilang tetaplah seperti itu?”

 

 

“Seperti apa? Aku tidak mengerti Kyungsoo. Aku tidak mengerti kenapa kau seperti ini”

 

 

 

Kyungsoo terdiam. Sebelum akhirnya membuang padangannya kearah lain.  “Aku hanya memintamu menjadi gadis susu seperti yang kukenal”

 

 

“Kenapa? Itu artinya aku harus selalu menjadi pengusikmu. Menjadi seseorang yang selalu menatapmu bahkan disaat kau tidak pernah menoleh terhadapku. Iya?!”

 

 

Kyungsoo tersentak mendengar penuturan gadis itu barusan. Pria itu tidak menyangka akan mendengar hal seperti ini.

 

 

“Benar” Jiyeon kembali membuka suaranya. “Aku menyukaimu” ujarnya “aku menyukaimu Kyungsoo. Aku sangat menyukaimu bahkan disaat aku tau kau tidak akan pernah menoleh kearahku” suaranya bergetar saat mengatakan itu. Wajah juga matanya terlihat memerah. Jiyeon sendiri tidak mengerti, kenapa ia bisa mengungkapkan semuanya dengan lantang. Jiyeon hanya merasa tertekan. Atau ia memang sudah tidak sanggup memendamnya?

 

 

Sedang Kyungsoo ia hanya bisa terdiam. Memperhatikan Jiyeon dengan perasaan gelisah.

 

 

“Kau bilang aku mengusikmu jika aku menyukaimu kan?! Dan sekarang kau memintaku untuk tetap seperti itu? Kau egois! Kau tau?” Sudah ada satu airmata yang menetes dipipi Jiyeon.

 

 

“Kenapa kau menyukaiku?” Setelah hening beberapa saat Suara Kyungsoo kembali terdengar. Masih datar namun ada kesan tertahan didalamnya.

 

 

Jiyeon mengernyit.  Bolamatanya beregerak kesegala arah sebelum akhirnya ia menunduk. “Aku tidak tau. Dan aku tidak pernah mencari alasan untuk itu. Yang ku tau hanya, aku menyukai seseorang yang saat itu lewat depan rumahku ketika musim semi datang. Aku menyukainya, yang setiap hari selalu berjalan dengan tenang disana” Jiyeon kembali menatap Kyungsoo dengan airmata yang kembali mengalir. “Harapanku saat itu adalah aku hanya ingin melihatnya. Setiap hari. Dalam setiap musim”

 

 

Kyungsoo tergugu. Dia tidak tau harus berkata apa. Dihadapannya gadis itu terlihat rapuh. Dan Kyungsoo benci akan hal itu.

 

 

Kyungsoo berbalik membelakngi Jiyeon. Dia menghela nafas panjang

“Bagaimana jika aku menyukaimu?” Ujarnya tertahan. Kyungsoo merasa saat ini matahari semakin terik. Suasana cerah disana terkesan kering.

 

 

Jiyeon terdiam mendengar penuturan Kyungsoo barusan. Ia menggeleng kecil dan menghapus kasar airmatanya yang menetes.

 

 

“Apa yang harus kulakukan?” Kyungsoo kembali berbalik. Ia melangkah maju mendekati Jiyeon. “Apa yang harus kulakukan?”

 

 

Satu langkah mundur dan tatapan bingung dari Jiyeon membuat Kyungsoo kembali mendesah. “Tinggallah disisiku”

 

 

Detik berikutnya suasana kembali hening. Mereka masih saling tatap. Tanpa kedipan mata dan suara, mereka membisu. Bahkan udara disekitar mereka rasanya membeku. Hembusan angin juga terasa samar. Waktu yang ada juga seolah terhenti menyaksikan sikap bisu dari dua orang yang berhadapan disana.

 

 

Kembali tersadar, pada detik entah keberapa, Jiyeon mengerjap “Apa maksudmu?” Tanyanya masih dengan disertai airmata yang menetes.

 

 

Dihadapannya tatapan lurus Kyungsoo belum berubah. Perlahan tangannya terulur kedepan. Menyentuh pipi putih itu dan menghapus jejak airmata disana. “Aku memintamu tinggal disisiku”

 

 

Jiyeon terpaku, namun tangannya juga terangkat menyentuh tangan Kyungsoo disana.

 

 

“Apa kau tidak mengerti?”

 

 

Jiyeon menggeleng “Aku tau” ujarnya pelan.

 

 

“Kuanggap itu sebagai jawaban”

 

 

Rasanya saat Kyungsoo menggenggam tangannya dan menariknya pergi darisana adalah seperti ia tengah mengerjakan soal kimia didepan kelas, sangat gugup. Atau bahkan lebih gugup daripada harus membacakan puisi didepan kelas juga saat ia harus ujian lisan pada mata pelajaran sejarah. Namun disisi lain, hal ini juga terasa manis melebihi manisnya susu coklat yang ia minum setiap hari. Lebih menyenangkan dibandingkan saat Jiyeon menikmati mekarnya bunga dimusim semi.

 

 

Genggaman itu tidak juga lepas bahkan saat mereka berjalan menuruni tangga sampai dikoridor kelas yang sepi. Kyungsoo menoleh saat ia berada tidak jauh dari kelas yang Jiyeon tempati. Ia melepaskan genggamannya tanpa mengalihkan tatapannya dari Jiyeon

 

 

“Pelajaran olahraga akan dimulai satu jam lagi. Kutunggu dilapangan”

 

 

 

Jiyeon hanya terdiam tidak merespon perkataan Kyungsoo. Ia terus memperhatikan Kyungsoo yang sudah berjalan menjauh melewati kelasnya sendiri dan menghilang. Jiyeon tidak tau kenapa Kyungsoo tidak masuk kekelasnya dan tidak berniat mencari tau. Karena hal penting yang menjadi pertanyaan saat ini adalah

 

 

Ada apa dengan Kyungsoo?

Apa ini nyata?

 

 

Sesunguhnya ia tidak mengerti akan perubahan sikap Kyungsoo. Laki-laki itu sungguh pintar sekali menjungkir balikkan perasaannya. Namun satu hal yang harus Jiyeon pahami. Kini ia sudah menempati sisi kosong dari seorang Do Kyungsoo. Dan sepertinya cerita baru Jiyeon akan kembali dimulai.

 

 

* * *

 

 

Disaat yang lain melakukan pemanasan dengan serius ditengah lapangan, Jiyeon justru tidak berkonsentrasi sama sekali. Ia sibuk dengan kegiatannya mengamati lapangan. Kepalanya tidak henti bergerak, menoleh kesana kemari. Dari semua siswa dari kelas 2-1 dan 2-3 yang mendapat jam olahraga yang sama, satu orang yang selalu menarik perhatiannya tidak juga terlihat. Tatapannya kini teralih pada guru Kim yang baru saja datang-setelah tadi pergi selama 15 menit- dengan seorang siswa yang mengekor dibelakagnya.

 

 

Jiyeon mengerjap saat melihat Kyungso disana. Laki-laki itu masih memakai seragamnya lengkap tanpa menggantinya dengan seragam olahraga.

 

 

“Hari ini kalian akan bermain bola berpasangan. Selama permainan berlangsung kalian tidak boleh melepaskan genggaman tangan pasangan kalian” seru guru Kim “Dan aturannya adalah siswa perempuan kelas 2-1 akan berpasangan dengan siswa laki-laki dari kelas 2-3. Dan begitu sebaliknya” lanjut guru Kim yang dibalas seruan heboh oleh para muridnya.

 

 

Guru Kim terlihat menoleh kearah Kyungsoo “Dan kau berlari keliling lapangan sampai aku memintamu berhenti” ujarnya dengan menaikan volume suaranya.

 

 

Dan benar saja, saat ini tatapan heran dari seluruh murid disana mulai menhujani Kyungsoo. Sedang yang bersangkutan masih tetap menunjukan tatapan datarnya, meskipun dalam hati ia tidak berhenti merutuk “sial”

 

 

Seluruh siswa terlihat menikmati permainan. Tidak henti sorak sorai menambah suasana ramai pada lapangan itu. Beda halnya dengan Kyungsoo, yang harus terus berlari mengitari lapangan sedang yang lain asik bermain bola. Dan yang lebih parah adalah saat Kyungsoo tau Jiyeon dipasangkan dengan Chanyeol! Ugh, Kyungsoo tidak suka ini. Apalagi saat ia melihat sendiri bagaimana mereka berbagi tawa saat bekerja sama mengejar bola-dan jangan lupakan genggaman tangan itu. Kyungsoo menggeram dalam hati. Kenapa harus orang konyol itu?! Dan apa itu kenapa juga Si Gadis Susu tertawa lepas seperti itu? Ugh, harus berapa kali lagi Kyungsoo mendengus sebal?

 

 

Saat Kyungsoo sadar bahwa ia mendapat satu lirikan dari Jiyeon yang memandangynya kikuk, saat itu juga ia langsung membuang pandangannya kearah lain. Laki-laki itu terus saja berlari meskipun peluh terus saja menetes dari pelipisnya.

 

 

Permainan baru berhenti saat guru Kim meniupkan peluitnya dan memerintahkan para muridnya untuk istirahat. Tanpa menunggu banyak waktu mereka berlalu membubarkan diri, memilih mengistirahatkan badannya dipinggir lapangan. Sedang guru Kim berjalan kearah Kyungsoo yang masih saja berlari.

 

 

“Ya! Kau berhenti!”

 

 

Sontak Kyungsoo menghentikan larinya saat guru Kim menghampirinya.

 

 

“Akan ada hukuman lebih dari ini jika kau kembali mengulang kesalahanmu” ancam guru Kim sambil berlalu.

 

 

Kyungsoo yang masih terengah hanya memutar kedua bolamatanya. Kemudian ia berjalan menghampiri seorang murid perempuan yang duduk sendirian dipojok lapangan dengan ditemani sebotol minuman dingin. Kyungsoo sedikit mengernyit namun setelah itu ia beranjak mendekati sang gadis dan menduduki diri disebelahnya.

 

 

“Kau sendiri? Dimana Amber?”

 

 

Jiyeon yang masih meneguk minumannya itu menoleh terkejut kearah Kyungsoo. Ia menaikkan kedua alisnya bingung. “Dia pergi ketoilet” jawabnya terbata.

 

 

“Kau terlihat menikmati permainanmu”

 

 

“Eoh?” Jiyeon mengerjap baingung. Namun ia langsung menyadarinya saat pandangan Kyungsoo tertuju pada satu pria disana dan Jiyeon hanya bisa menggaruk belakang kepalanya setelah itu. “Ada apa denganmu? Kau dihukum?” Tanya Jiyeon mengalihkan pembicaraan

 

 

Kyungsoo meluruskan kedua kakinya dan menghela nafas pendek “Aku ketahuan membolos dikafetaria” ujarnya datar

 

 

“Kau sering melakukan itu?”

 

 

“Karena aku bosan”

 

 

Jiyeon hanya tersenyum kecil mendegar jawaban Kyungsoo. Kemudian ia meraih botol minumnya dan menyodorkannya dihadapan Kyungsoo.

 

 

Satu lirikan Kyungsoo berikan “Kau memberiku minuman sisa?” Tanyanya

 

 

“Eoh? Bu-bukan begitu. Yasudah kalau kau tidak mau”

 

 

Belum sempat Jiyeon menarik tangannya, Kyngsoo sudah lebih dulu mengambil botol minuman itu dan meneguknya sampai habis. Melihat itu, Jiyeon hanya bisa memandang dengan mata bulatnya.

 

 

“Kau menghabiskannya” ujar Jiyeon saat melihat botolnya sudah tak terisi.

 

 

“Kyungsoo” panggil Jiyeon pelan.

 

 

Kyungsoo menoleh, ia melihat Jiyeon tengah memperhatikan sekitar dengan tatapan ragu.

 

 

“Mereka memperhatikan kita”

 

 

Dan setelah itu baru Kyungsoo sadari bahwa mereka memang tengah menjadi pusat perhatian. Kyungsoo tidak mempedulikan tatapan itu justru ia terlihat cuek. Berbeda dengan Jiyeon yang kelihatan agak risih.

 

 

“Aku sudah terbiasa akan hal ini” ujar Kyungsoo.  Memang mengingat keberadaannya disekolah ini sebagai salah satu murid yang terpandang, membuat Kyungsoo tidak lagi perlu merasa risih. Karena apapun yang ia lakukan akan menjadi pusat perhatian. Padahal Kyungsoo benci akan hal itu.

 

 

Jiyeon hanya bisa tersenyum kecil sebelum akhirnya ia memilih menunduk untuk menutupi perasaannya.

 

 

“Dengan begini mereka akan tau dengan sendirinya”

 

 

 

Jiyeon mengangkat kepalanya dan menatap Kyungsoo yang juga tengah menatapnya “Kyungsoo, kau menganggapku apa?”

 

 

Raut datar Kyungsoo berubah samar. Ia memutar bolamatanya dan menatap lurus kedepan “menurutmu?”

 

 

“Aku…” Jiyeon tidak melanjutkan ucapannya. Dia justru terdiam, bingung untuk menjawab apa.

 

 

“Ya benar. Kau Park Jiyeon. Milikku” hingga akhirnya Kyungsoo membuka suara sambil terus menatap kedua manik mata Jiyeon. Dan tanpa diduga , laki-laki dingin itu memberikan seulas senyum tipis diakhir kalimatnya.

 

 

Melihat itu, Jiyeon tidak bisa berkutik hingga detik-detik berikutnya sampai akhirnya ia mengerjap sadar. “Aku melihatmu tesenyum”

 

 

Kyungsoo sedikit tersentak. Ia mengalihkan pandangannya kearah lain dan berdecak malas.

 

 

Jiyeon hanya tersenyum melihat tingkah Kyungsoo. Ternyata Kyungsoo bisa tersenyum, pikirnya. Dan dalam hati ia berharap agar ia bisa melihat senyum itu lagi. Lebih manis, tulus dan…

 

 

 

“Apa-apaan ini?!”

 

 

Suasana itu langsung berubah drastis saat seruan Amber terdengar diantara mereka.

 

 

“Jadi, kalian??” Amber bertanya bingung. Namun setelah itu ia berseru senang “Kita memiliki pasangan baru disini!!”

 

 

Dan bersamaan dengan itu, terdengar sorak sorai dari seluruh siswa lain. Ya, semua yang baru akan segara dimulai.

 

 

 

* * *

 

 

“Ayah…”

 

 

Seruan pelan itu tidak mendapat respon bahkan sudah dari setengah jam yang lalu. Nyatanya memang tidak mudah bagi Jiyeon untuk membujuk sang ayah. Jiyeon hanya minta agar sang ayah tidak mengantarnya melakukan pemeriksaan rutin giginya dan sebagai gantinya Kyungsoo yang akan mendampinginya. Apa ada yang salah? Tentu tidak. Jiyeon mengerti mungkin sang ayah hanya terlalu khawatir untuk melepasnya begitu saja.

 

 

“Ayah…” entah sudah rengekan yang keberapa saat Jiyeon melihat sang ayah menutup koran yang sedari tadi dibacanya guna mengalihkan perhatiannya dari Jiyeon.

 

 

“Aku tidak mengizinkanmu. Bagaimana jika terjadi sesuatu diluar sana?” Seru sang ayah dengan suara yang sedikit meninggi.

 

 

 

Jiyeon mendesah. “Omongan adalah doa ayah. Aku hanya ingin pergi memeriksakan gigiku, bukan ingin pergi jauh”

 

 

Ayah Jiyeon berdecak kemudian menatap wajah Jiyeon yang tertunduk “Kenapa kau memilih bersamanya, disaat ayah selalu setia mendampingimu?”

 

 

“Ayah tau, sebenarnya aku hanya tidak ingin terlalu bergantung pada ayah. Aku ingin seperti yang lain, menghirup udara luar dengan bebas tanpa beban”

 

 

“Jadi kau menganggap ayah sebagai bebanmu?”

 

 

Jiyeon mengangkat kepalnya dan menggeleng cepat “ayah tau bukan itu maksudku. Justru akulah beban bagi ayah. Ayah aku ingin kehidupan normalku” ujarnya sambil kembali menunduk

 

 

 

Tuan Park berdecak. Ia sebenarnya tidak tega melihat Jiyeon yang seperti ini “Kau tau kan ayah hanya terlalu khawatir padamu”

 

 

 

Gadis itu mengangkat kepalanya sambil menyunggingkan senyum kecil “Bukankah saat ini ayah sudah membiarkanku mengepakkan sayapku?” Ujarnya “secara tidak langsung ayah sudah membiarkanku terbang bebas dan mencari duniaku sendiri. Saat ayah memutuskan untuk membawaku kedunia luar itu artinya ayah sudah memberiku kesempatan”

 

 

“Jiyeon kau satu-satunya yang kupunya”

 

 

“Ayah jangan khawatir. Aku tidak akan membahayakan diriku sendiri. Aku masih ingin menghabiskan waktu bersama ayah. Aku tidak akan pernah meninggalkan ayah”

 

 

Sang ayah tidak menjawab. Pandangannya ia alihkan kemana matanya memandang. Dalam diam itu ia memikirkan semua ucapan Jiyeon. Jiyeon benar, saat keputusan untuk membawa Jiyeon kedunia luar, itu artinya ia sudah memberikan peluang besar bagi Jiyeon untuk menjalankan kehidupan normalnya. Mungkin ia hanya takut kehilangan, hingga tanpa sadar ia terlalu membatasi dunia putrinya itu. Wajar memang jika ia mengkhawatirkan Jiyeon yang notabene berbeda dengan anak lainnya. Perbedaan yang mungkin bisa saja melenyapkannya dari pandangan bahkan hanya dengan luka goresan kecil. Selama ini ia terlalu menganggap Jiyeon berharga bak porselen yang tak boleh tergores sedikitpun.

 

 

“Kau tau kan ayah sangat menyangimu?”

 

 

“Dan ayah tau kan kalau aku sangat menyukai Do Kyungsoo” jawab Jiyeon dengan senyum lebarnya.

 

 

Sang ayah hanya bisa memutar kedua bolamatanya. Saat ini ia sadar, Jiyeon bukan gadis kecilnya lagi. Ia sudah berhak memulai dunia barunya. Meskipun begitu ia masih akan tetap terus menganggap Jiyeon sebagai gadis kecilnya.

 

 

* * *

 

 

Kyungsoo duduk diruang tunggu. Tidak ia hiraukan tatapan dari pengunjung lain. Dia merasa tidak ada yang salah dengan penampilannya.

 

 

“Dia manis ya?”

 

 

“Ya, dia tampan”

 

 

Ia juga sempat mencuri dengar perbincangan beberapa pengunjung diruang tunggu itu. Ia hanya bisa berdecak malas. Mungkin bagi sebagian orang pujian seperti itu akan membuatnya bangga. Tapi bagi Kyungsoo itu sama sekali tidak penting.

 

 

Sebagai seseorang yang tidak terbiasa menunggu tentu hal ini sangat membosankan. Padahal ia baru saja duduk disana 5 menit yang lalu. Tapi demi Jiyeon, Kyungsoo rela menjadi pusat perhatian disana? Ia bahkan berusaha mengabaikan ejekan Amber padanya saat melihat Kyungsoo berencana ingin pergi dengan mobil pribadinya.

 

 

“Kau akan berkencan dengan Jiyeon kan?” Tanya Amber pada Kyungsoo yang tengah mencari kunci mobilnya.

 

 

“Kalau iya, kenapa?” Jawab Kyungsoo tanpa menatap Amber. Ia juga kurang yakin jika menemani Jiyeon kedokter gigi bisa disebut sebagai kencan? Kyungsoo sedikit ragu akan hal-hal berbau seperti ini.

 

 

Amber berseru heboh bahkan ia sempat tertawa-dan rasanya Kyungsoo ingin menyumbal mulut gadis itu dan menendangnya jauh-jauh.

 

 

“Sudah sejauh mana hubunganmu?” Tanya Amber lagi sambil memainkan boneka rilakuma kecil ditangannya

 

 

“Menurutmu?”

 

 

“Kyungsoo apa yang membuatmu menyukai Jiyeon?”

 

 

Saat itu Kyungsoo sempat terdiam beberapa saat. Sebelum akhirnya menoleh kearah Amber yang tengah menatapnya sambil mengunyah permen karet.

 

 

“Apa aku harus punya alasan untuk itu?”

 

 

Yaa, apa Kyungsoo perlu alasan untuk menyukai seseorang? Selama ini, dia melihat Jiyeon sebagai gadis ceroboh, lugu dan polos. Namun seiring dengan berjalannya waktu senyum yang selama ini ia perhatikan secara samar itu mampu membuat hati bekunya menghangat.

 

 

“Kyungsoo?”

 

 

Kyungsoo mendongak dan melihat Jiyeon tengah berjalan kearahnya. Ya, dia sangat suka tatapan Jiyeon yang selama ini ia lihat. Terkesan polos. Dan Kyungsoo menikmati wajah cantik itu.

 

 

“Kenapa kau kemari?” Tanya Kyungsoo pada Jiyeon yang sudah duduk disebelahnya.

 

 

 

“Dokter Park ada urusan mendadak. Mereka menyuruhku menunggu 30 menit lagi”

 

 

Kyungsoo kembali menoleh kedepan. Dan tidak ada obrolan yang berlangsung selama beberapa detik itu. Sebelum akhirnya Jiyeon angkat suara.

 

 

“Terimakasih karena sudah mau menemaniku” ujar Jiyeon menunduk

 

 

Disampingnya, Kyungsoo tidak langsung menjawab. Ia justru terdiam dengan pandangan datarnya.

 

 

“Apa kau rutin melakukan ini?” Ujar Kyungsoo akhirnya sambil menoleh

 

 

“Sebagai seseorang penderita hemofilia, pemeriksaan gigi adalah keharusan”

 

 

“Kau sempat bertanya kenapa aku bisa tau tentang gelang itu?”

 

 

Jiyeon mengernyit sebelum akhirnya mengangguk.

 

 

“Hyungku juga penderita hemofilia” ujar Kyungsoo dengan tatapan menerawang.

 

 

Kedua alis Jiyeon terangkat naik “Benarkah?”. Dia tentu saja terkejut dengan cerita ini.

 

 

“Dia sudah meninggal dalam kecelakaan dan tidak lama dari itu, ibuku juga meninggal karena bunuh diri”

 

 

Jiyeon melihat adanya tatapan lain dari mata kelam Kyungsoo. Bukannya  tidak bersimpati, hanya saja Jiyeon tidak tau harus berkata apa. Dia mengerti perasaan Kyungsoo yang pasti sangat terluka.

 

 

“Apa hyungmu menderita hemofilia karena keturunan?” Tanya Jiyeon akhirnya.

 

 

“Entah. Aku tidak pernah tau. Dan tidak pernah mencari tau”

 

 

“Jika bukan, berarti kasusnya sama sepertiku” ujar Jiyeon pelan.

 

 

Kyungsoo menoleh menatap Jiyeon dengan alis menyatu “maksudnya?”

 

 

Gadis susu itu terlihat menghela nafas dan memainkan kakinya yang tergantung “Bisa saja seseorang mengidap hemofilia bukan karena faktor keturunan, tapi karena terjadi

kerusakan, perubahan, atau mutasi
pada gen yang mengatur produksi
faktor pembekuan darah. Ini terjadi
pada sekitar 30 persen penderita” ujar Jiyeon panjang lebar.

 

 

“Apa Hyungmu pernah mengeluh?” Tanya Jiyeon pada Kyungsoo yang masih diam

 

 

“Entah. Dari awal penyakitnya sengaja disembunyikan. Sampai akhirnya kecelakaan itu terjadi”

 

 

Menceritakan hal ini sama saja membuka kembali kenangan lama Kyungsoo. Kenangan pahit yang sedari lama ia kubur dalam-dalam.

 

 

“Hyungmu menyimpannya sendiri? Dia pasti orang yang hebat.” Ucap Jiyeon setelah keheningan menyelimuti mereka selama beberapa detik itu “Kau tau, Pengobatan penderita hemofilia itu berupa suntikan atau tranfusi juga terapi pemberian obat melalui injeksi. Baik obat maupun transfusi

harus diberikan pada penderita secara rutin setiap 7-10 hari” lanjutnya “kau bisa bayangkan bagaimana tegarnya mereka saat harus menjalani pengobatan itu selama hidupnya. Ahh dan itu tidak murah” Jiyeon mengakhiri kalimatnya dengan senyuman.

 

 

“Bagaimana denganmu?” Tanya Kyungsoo menatap lekat kedua mata Jiyeon

 

 

“Aku? Sebenarnya aku lelah. Aku bosan. Tapi aku masih harus hidup. Aku masih harus menemani ayahku. Aku ingin hidup karena aku memang harus hidup, sampai akhirnya waktuku habis” Jiyeon berusaha tertawa, meskipun ia tau sudah ada kristal bening yang terbendung yang siap untuk jatuh.

 

 

“Ya, kau harus tetap hidup. Sampai kapanpun. Karena aku akan bersamamu”

 

 

* * *

 

 

Gadis itu berjalan sendiri dikoridor yang terlihat ramai. Rambutnya yang ia ikat satu kebelakang bergerak mengikuti irama langkahnya. Sesekali ia tersenyum membalas sapaan dari murid lain. Bukan tanpa alasan ia berjalan seorang diri disini, bukan karena Amber yang pulang lebih dulu, tapi lebih karena ia ingin menemui seseorang. Siapa lagi kalau bukan Kyungsoo. Setelah sebelumnya Kyungsoo mengirimnya pesan yang berisikan ajakan untuk pulang bersama.

 

 

Jiyeon berjalan sambil sesekali menunduk, memperhatikan langkah kakinya yang terbalut sepatu berwarna abu-abu itu. Sampai akhirnya sebuah sapaan khas dari seseorang membuatnya mendongak

 

 

“Hai Jiyeon!”

 

 

Jiyeon membalas sapaan Chanyeol dengan senyum manisnya.

 

 

“Kau mencari Kyungsoo?” Tanya Chanyeol

 

 

“Darimana kau tau?”

 

 

Chanyeol tersenyum lebar “Siapa yang tidak tau tentang hubunganmu dengan pria arca itu”

 

 

Jiyeon berusaha memaksakan senyumnya. Entah, ia merasa tidak enak pada Chanyeol “Chanyeol, aku-”

 

 

“Selamat atas hubunganmu” potong Chanyeol tiba-tiba “semoga kalian langgeng. Aku duluan” ujarnya sambil berlalu pergi darisana.

 

 

Sepeninggal Chanyeol, Jiyeon justru terdiam. Dia hanya menatap punggung Chanyeol sampai laki-laki itu menghilang dari pandangannya.

 

 

 

“Lihat siapa?”

 

 

Hingga akhirnya suara lain memaksanya kembali tersadar. Jiyeon berbalik dan melihat Kyungso sudah ada dihadapannya. Masih dengan tatapan datarnya. Entah kapan Jiyeon akan melihat ekspresi lain diwajah pria itu, selain hari kemarin.

 

 

“Ayo!”

 

 

Jiyeon hanya tersenyum saat melihat Kyungsoo berjalan mendahuluinya.

 

 

 

“Kyungsoo” panggil Jiyeon, ia berusaha mensejajarkan langkahnya dengan pria ini “Saat ini sudah masuk musim semi”

 

 

“Lalu?” Sahut Kyungsoo datar

 

 

“Aku suka musim semi”

 

 

“Kenapa?”

 

 

“Karena aku bisa bertemu denganmu”

 

 

Kyungsoo menghentikan langkahnya membuat Jiyeon berjengit heran “Apa?”

 

 

“Apa?” Tanya Jiyeon balik, tak mengerti

 

 

“Kenapa kau menyukai musim semi?”

 

 

“Karena aku bisa bertemu denganmu”

 

 

Kedua tangan Kyungsoo terulur, menelungkupkannya pada kedua pipi putih Jiyeon. Dia menekannya, sehingga bibir Jiyeon terlihat mengerucut dibuatnya. “Kau menyukaiku?”

 

 

Jiyeon hanya terdiam mendapat perlakuan mengejutkan dari Kyungsoo ini. Kemudian ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dan Jiyeon dibuat tersihir saat lagi-lagi mendapati pria arca itu tertawa pelan. Namun terlihat lepas.

 

 

Jiyeon kembali mengerjapkan matanya saat sadar ketika melihat Kyungsoo kembali berjalan. Ia kembali mengambil langkah dan berusaha menyusul Kyungsoo

 

 

“Kyungsoo, kau baru saja tertawa” serunya. Namun Kyungsoo tetap berjalan, tidak menggubrisnya sama sekali “Kyungsoo, jangan pernah melakukan itu lagi” dan kali ini ia melihat Kyungsoo berhenti melangkah

 

 

“Apa?” Tanya laki-laki itu

 

 

“Jangan tertawa seperti itu dihadapan orang lain kecuali didepanku”

 

 

“Kenapa?”

 

 

“Kau tau, kau terlihat sempurna. Akan banyak orang yang akan mengelilingimu nanti” ujar Jiyeon sambil menunduk

 

 

Dan Kyungsoo kembali tertawa “tentu saja. Hanya kau yang bisa membuatku seperti ini” gumamnya sambil kembali berjalan

 

 

“Kau bilang apa?”

 

 

“Tidak”

 

 

Mereka kembali berjalan beriringan dengan disertai tatapan kagum,iri, dan bingung dari seluruh siswa sekolah.

 

 

“Ada satu hal yang ingin kukatakan, aku hanya akan mengatakannya sekali” ujar Kyungsoo

 

 

“Apa?”

 

 

“Aku menyukaimu” ucap Kyungsoo cepat. Singkat. Padat.

 

 

Langkah kakinya terhenti, Jiyeon menoleh cepat kearah Kyungsoo. Kemudian, secercah senyuman manisnya, Jiyeon tunjukan pada Kyungsoo yang perlahan berubah menjadi tawa pelan saat melihat laki-laki itu kembali berjalan meninggalkannya dibelakang.

 

 

“Kyungsoo kenapa kau menyukaiku?” Jiyeon kembali membuka suaranya ditengah langkah mereka. Ia berusaha mensejajarkan langkahnya-lagi

 

 

Kyungsoo menoleh sekilas sebelum akhirnya kembali memandang lurus kedepan “Tidak ada alasan” jawabnya singkat.

 

 

“Kau mau tau kenapa aku menyukaimu?” Tanya Jiyeon.

 

 

Kyungsoo justru terdiam. Dia mensejajarkan langkahnya pada Jiyeon dan meraih tangan kanan gadis itu. Ia mengenggeamnya. Dan semua terasa sempurna saat Jiyeon membalas genggaman tangan Kyungsoo. Dan mereka berjalan beriringan dengan tangan yang saling bertaut.

 

 

“Karena kau Do Kyungsoo”

 

 

Mengenal Do Kyungsoo adalah sebuah keajaiban. Bisa berdiri disampingnya dan mengisi sisi kosong dari Kyungsoo adalah kesempatan. Kesempatan untuknya agar bisa mewujudkan sebuah harapan. Harapan untuknya terus berdiri dan melangkah. Sampai akhirnya hati itu tersambut. Perasaan yang mengalir itu kini sudah bermuara tepat pada sosok Do Kyungsoo

 

 

* * *

 

“Kau sengaja meninggalkan ponselmu lagi”

 

 

Belum sempat Amber membalikan badannya, sebuah tangan yang terulur membuatnya mendongak. Luhan disana dengan menunjukan sebuah ponsel hitam milik Amber.

 

 

“Aku-”

 

 

“Jika kau meninggalkannya dihalte seperti ini, kau tidak akan mendapatkan ponselmu kembali”

 

 

Amber meraih ponselnya dengan wajah kesal. “Aku tidak sengaja meninggalkannya” gumamnya

 

 

“Kau” panggil Luhan

 

 

“Apa?”

 

 

“Bukankah kau akan menjadi pelanggan dicoffeeshopku?”

 

 

Alis Amber bertaut heran. “Yeaa” jawabnya asal

 

 

“Ayo”

 

 

Amber kembali menatap heran pada Luhan “kemana?”

 

 

“Kita ketempatku”

 

FIN

 

Haii, akhirnya nyampe juga dichapter terakhir. Maaf ya kalau endingnya gak sesuai, aneh dan jelek. Aku mentok disitu….😦 hehehe

 

Makasih yag udah ngikutin dari awal. Dan makasih banyak buat para reader yang sudah meluangkan wkt utk komen. Sungguh komentar kalian adalah penyemangatku../peluk reader satu2/

 

Okee sampai jumpa di cerita selanjutnya…🙂 have a nice day!!

 

24 thoughts on “[Sequel] Do Kyungsoo : The Story Begin (6) END

  1. Desy berkata:

    Sweet kyungsoo ^^ *flowering*
    bagus ceritanya, maaf baru komen di ending ceritanya ,hehehe
    Lanjut cerita lain thor.Fighting!!!

  2. Ade Zeni Anggraeni - Fanfiction Park Jiyeon ♥ EXO berkata:

    Kereeeen aku suka tapi kenapa udah keburu end aja. padahal masih pengen baca, lanjutkan karyamu thor perbanyak ff Jiyeon-EXO lagi🙂

  3. iineey berkata:

    Daebakkkk bagus deh ff nya endingnya juga ok walaupun sebenernya aku masih pengen baca,
    Aku suka alur nya yg terkesan tidak ada konflik tp ttp menarik, mngkn sebenernya konfliknya itu ada di perasaan kyungsoo dan jiyeon sendiri
    kyungsoo berubah dan itu semua karena jiyeon kkkk
    thorrrr buatin ff jiyeon exo lagi yaa

  4. MyLovely Wulan berkata:

    D A E B A K !
    Suka suka suka~ ~ ~ akhr.a kyungsoo nyatain prsaan.a jgaa, wlwpun btuh wktu utk brperang dgn perasaan.a dn susah payah mengatakn.a.. Tp kata2 kyungsoo utk meminta jiyi jd kekasih.a it maniss skali *menurutku*

    lucu deh ngebygin wajah kesal kyungsoo yg jealous liat chanyeol dket2 ma jiyi hhihihi

    udh end? Pdhal masih pngen baca hehe~
    KyungYeon ending.a maniss deh.. Bkin envy

    d tnggu ff JiXo
    lain.aa

  5. intanawalur0712 berkata:

    aaakkk! Kyungsoo sweet :3 Yang awalnya dia cuek-cuek ngeselin sekarang berubah jadi cuek-cuek manis nge-gemesin-cium Kyungsoo-.Aku suka endingnya,walaupun Jiyeon-nya penyakitan tapi ceritanya tetep gak terlalu berlebihan dan Jiyeon tetep hidup sampe akhir cerita,aku sukaaaaaaaa ^^ Amber-Luhan semoga jadi pasangan selanjutnya,hihihihihi.

    keep writing author-nim!

  6. chandra aryanti dewi berkata:

    Yaaah udah end aja ga kerasa ya huhu :<
    Awalnya pas liat chapter ini aku aga waswas. Aku kira endingnya si jiyeon nya bakal mati gitu tp untung aja ngga. Soalnya bosen jg ya cerita angst ky gitu aga klise. Aku suka ff kyungsoo-jiyeon ini beneran deh :")

    Ff mu itu ga berbelit konflik yg kompleks tp…. gatau knp dr awal chapter aja aku ttp penasaran sm ff ini. Ceritq mengalir apa adanya, dannn mungkin yg membuat menarik itu karakter si kyungsoo sama jiyeon nya yg unik :3

    Biasamya d ff lain aku liat, karakter di ff nya itu ga pernah konsisten. Kaya bentar2 humoris bentar2 pendiem. Tp kamu ttp pertahankan kyungsoo dgn sikap dingin nya dan jiyeon dgn sikap polosnya :3

  7. djeany berkata:

    coba kalau chanyeol gak deketin jiyeon,mgkin kyungsoo gak sadar udah cinta ama jiyeon.akhirnya penantiaan jiyi terbalaskan..

  8. rusakecil berkata:

    Udah END ya:’) swear ya thor ceritanya manis banget^^ konfliknya gak terlalu rumit tapi feelnya dapet(y) banyak-banyak bikin ff jiyeon-exo ya thor.Jiayou!

  9. ParkJudit berkata:

    Mian baru komen,😀
    Udh end? Belom puas cuma 6chapter, tp ga tahan juga lama2.
    Horrrreee, Chanyeol ama D.O ga ada konflik nya. ^^)9
    Senyum2 sendiri baca scene bagian Jiyeon-KyungSoo.
    Aahhh pacar gua, bikim geregetan sikapnya,😄
    Suka suka suka suka suka suka suka~~~~~~~
    Ditunggu karya selanjutnya ya~~~~😉😀

  10. kiki chan berkata:

    pasangan kaku dingin polos manis. sukaaaa..
    btw sebenernya aku aga was2 lho baca ff ini khawatir sad ending gegara jiyeonnya sakit hemofili. tp baguslah enggaa ^^

    btw thor kl perempuan pengidap hemofili punya anak,pas melahirkan dia bakal meninggal dong? kl iya sedih bgt deh kl misal cerita ini berlanjut trs jiyinya bisa meninggal. hiks2

  11. Kaiyeon jjang berkata:

    Aku suka, aku sukaaaaaaaaaa.. daebakk thorr.. jangan bosen2 buat bikin ff yg castnya jiyeon exo ya thorr i like it..

  12. Herna Dwi Agustina berkata:

    akhir’y kyungyeon bsa bersama juga, meski cara kyungsoo menyatakan perasaan’y pda jiyeon sedikit aneh, hehehehehe…. tpi aku suka & seneng mereka bhgia. ^^
    thanks yah author buat cerita ff’y keren aku bnr2 suka pkk’y, trus berkarya yah… semangat😀

  13. Helvina berkata:

    huaaaaa….
    udah end!!!
    gak rala udah end!!!
    Keep writing yy, untuk authornim…
    semangat untuk karya lainnya!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s