My Fate With You (Chapter 1)

My+Fate+With+You(1)

Judul : My Fate With You (Chapter 1)

 

Author : Lu_llama

 

Cast : Oh Sehun(EXO), Kim Dahee(GLAM)

 

Genre : Family, Friendship, Sad

 

Rating : T

 

Warning :  AU! , Age manipulation

 

Cr.poster : sujufanfictsworld.blogspot.com

 

 

Summary : Tidak ada senyum hangat yang menyertai janji suci itu. Bahkan saat orang-orang disana berseru gembira sesaat setelah cincin indah itu tersemat dijari manis sang wanita. Mereka masih tetap bungkam, sampai akhirnya sebuah seruan yang terdengar membuat mereka tegang dibuatnya.

 

 

Hanya butuh waktu singkat untuk mempersiapkan segalanya. Bagi keluarga terpandang seperti mereka, ini bukanlah hal yang sulit. Semua bisa dengan mudah untuk diatasi. Mereka juga tidak akan sembarangan membuat pesta mewah untuk sang pewaris. Hari dimana semua akan berlangsung, harus terlaksana dengan sempurna. Dan hari itu adalah hari ini.

 

 

Semua kemewahan sungguh terlihat. Nuansa putih nan elegan menjadi suasana indah yang mengagumkan mata. Bukan hanya itu para tamu yang hadir pun berbusana serba putih. Seakan menunjukan betapa sakral dan sucinya acara hari ini. Semua yang hadir disana bukan sembarang orang, mereka orang-orang terpandang yang terpilih menghadiri acara besar bagi sang penyelenggara. Mereka sungguh merasa terhormat.

 

 

Dengan balutan jas putih itu, sang pria- yang akan menjadi raja dalam acara ini- terlihat berdiri didepan podium. Membiarkannya menjadi titik pusat ditengah keramaian. Namun, dari sorot matanya yang dingin, ia tidak menunjukan ekspresi berarti. Padahal hari ini adalah hari penting untuknya. Mungkin bagi sebagian orang diluar sana yang menunggu hari besar seperti ini adalah sesuatu yang penting. Tapi baginya, ini sama sekali tidak berkesan. Bukan sesuatu yang patut dibanggakan. Bahkan kebahagiaan itu tidak ia harapkan.

 

 

Suara pintu yang terbuka, kini mengalihkan seluruh perhatian dari sosok pria tampan didepan sana kearah seorang wanita dengan balutan gaun indah nan elegan yang membuatnya terlihat terpukau. Bukan hanya karena gaunnya saja yang indah, tapi aura dari sang wanita membuatnya semakin terlihat cantik.  Mereka berseru kagum. Pengantin wanita yang berjalan perlahan dengan pendampingnya, sanggup membuat orang yang melihatnya terpesona. Tidak terkecuali sang pengantin pria yang berdiri didepan sana. Dibalik tatapan datarnya, ia sempat terpesona dengan pengantinnya itu. Namun, sepersekian detik setelahnya ia kembali menormalkan diri.

 

 

Sang wanita terus berjalan diringi dengan lantunan musik khas yang menenangkan. Dia terlihat menunduk, saat bayang-bayang kalimat itu mengusik pikirannya.

 

 

“Jadi kau pasrah dijadikan boneka oleh mereka?”

 

 

Gadis yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya itu tercekat. Seolah tertohok oleh ucapan menyakitkan itu. Dalam langkahnya, ia merasa berat. Rasanya ia ingin berlari sekarang juga. Menghilang bersama angin, atau mungkin lenyap ditelan waktu. Namun ia sadar, tidak ada yang bisa ia lakukan. Semua sudah didepan mata. Tangisan itu seakan tidak mampu ia tahan. Matanya terlihat berkaca-kaca, mungkin bagi sebagian orang itu adalah ungkapan kebahagian yang tak terbendung. Namun hanya sang wanita yang tau akan arti sebenarnya.

 

 

“Kau yakin bisa bertahan?”

 

 

Ia tidak tau apa yang harus ia perbuat setelah mengambil keputusan itu. Sebuah keputusan terberat dalam hidupnya. Ia tidak berani untuk menolak. Ya, ia akan mencoba bertahan. Bertahan dari segala keburukan yang mungkin akan mengahampirinya. Hidupnya belum berakhir, tapi kenapa ia merasa hidupnya dipermainkan. Hari yang berlalu, tidak sanggup membuatnya berubah atau setidaknya merubah waktunya. Waktu yang menurutnya tidak pernah mengerti keadaannya. Waktu yang tidak pernah memberikannya kesempatan untuk bicara.

 

 

Kini dua orang itu saling berdiri berhadapan. Tidak ada senyum, tidak ada tatapan penuh kasih sayang. Yang ada hanya aura dingin dan kaku dari masing-masing tatapan itu.

 

 

“Aku bersedia”

 

 

“Aku bersedia”

 

 

Tidak ada senyum hangat yang menyertai janji suci itu. Bahkan saat orang-orang disana berseru gembira sesaat setelah cincin indah itu tersemat dijari manis sang wanita. Mereka masih tetap bungkam, sampai akhirnya sebuah seruan yang terdengar membuat mereka tegang dibuatnya.

 

 

“Cium dia”

 

 

Mereka masih terdiam. Sampai sang pendeta berdehem kecil melihat kecanggungan nan kaku yang begitu terpancar. Sang wanita menunduk. Mencoba menghela nafas saat dirasa sesak yang menyerangnya tiba-tiba. Dia mencoba berusaha untuk tenang meskipun detak jantungnya bertalu diluar batas normal. Sang pria tidak terlihat menunjukan ekspresi apapun. Namun dalam lubuk hatinya,ia mendesah berat. Seruan itu benar-benar membuatnya jengah. Entah sadar atau tidak saat tiba-tiba ia mengangkat wajah sang wanita dan mengecup ujung bibirnya sekilas.

 

 

Sang pria menarik diri, setelah sepersekian detik berlalu. Ia menatap sang wanita yang kini tengah membeku. Terkejut? Tentu saja. Bahkan ia sendiri tidak mengerti  kenapa sampai bisa melakukan itu. Perlahan, tatapannya menelusuri setiap inci wajah perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya itu. Bibir itu, bibir yang sudah ia tinggalkan jejak disana, sampai akhirnya matanya bertemu pandang pada wanitanya. Dia tidak yakin dengan sorot mata itu, karena tidak bisa tergambarkan dengan jelas.

 

 

Mereka saling tatap, tanpa ada yang tau makna dibalik tatapan itu. Membiarkan penontot kembali bersorak dibuatnya.

 

 

* * *

 

 

“Luhan hyung, apa ada yang salah dari pernikahan ini?”

 

 

“Apa maksudmu?”

 

 

Pria itu mengarahkan tatapannya pada pengantin baru yang berdiri disana dengan menyipit, membuat matanya yang kecil itu semakin mengecil “Mereka terlihat tidak menikmati. Wajah mereka tidak menunjukan kebahagiaan”

 

 

“Ya! Byun Baekhyun, apa kau lupa bahwa wajah Sehun itu memang seperti itu?”

 

 

Baekhyun sedikit meringis, kemudian meneguk minumannya sampai habis “Ahh kau benar-tapi bagaimana dengan mempelai wanitanya? Dia juga berekspresi sama dengan Sehun”

 

 

Memang jika ditelisik lagi, wajah dari kedua mempelai itu terlihat jauh dari raut bahagia. Senyumpun tak terlihat. Kaku. Itulah yang terlihat.

 

 

“Sudahlah, lebih baik kita beri mereka selamat” sergah Luhan mengambil langkah.

 

 

“Ya! Oh Sehun”

 

 

Kedua mempelai itu menoleh pada dua pria yang tengah berjalan kearah mereka.

 

 

“Selamat! Wahh kau sudah dewasa” ucap Luhan dengan senyum manisnya. Kemudian ia memberi salam pada wanita yang berdiri disebelah Sehun “Selamat, nona Kim Dahee” ujarnya.

 

 

Dahee menunduk kecil dan bergumam terimakasih. Ia melirik sekilas kearah Sehun yang masih diam dengan wajah dinginnya.

 

 

“Hey! Luhan hyung, dia bukan nona Kim lagi. Tapi nona Oh.” Kini Baekhyun ikut mengulurkan tangannya. “Ahh Dahee-ssi, kurasa kau telah mencuri first kiss dari seorang Oh Sehun” guraunya sambil terkekeh.

 

 

Sehun mulai bereaksi. Ia mendaratkan tatapan mematikannya pada Baekhyun yang mengalihkan tatapannya-seolah tidak terjadi apapun. Dahee hanya melihat itu dalam diam. Dia kembali melirik sekilas kearah Sehun. Dahee tidak ingin membahas masalah itu. Tapi kenapa, ia begitu terkejut saat mengetahui kenyataannya. Dia? First Kiss Sehun? Lupakan. Itu bukan hal yang patut untuk dibanggakan-mungkin?

 

 

“Dahee-ssi. Kau harus sabar menghadapi pria seperti Oh Sehun. Dia memang terlihat dingin, tapi sebenarnya ia rapuh didalam”

 

 

Sehun mendengus. Dahee terpaku. Kenapa ia harus mendengar itu dari Luhan? Dahee memang tidak mengenal Sehun. Ia hanya memperhatikan Sehun dari jauh saat itu. Ya, dia tidak mengenal Sehun. Atau lebih tepatnya, jika dikatakan kalau ia tidak bisa mengerti sikap Sehun.

 

 

Sebenarnya, Dahee tidak terlalu mengenal dua orang pria dihadapannya ini. Dia tidak mengenal siapa Baekhyun-dan tidak berniat untuk mengenalnya. Yang ia tau hanya bahwa Luhan adalah Sunbae disekolahnya dulu. Seseorang yang juga sahabat Sehun bersama dengan Kim Kai. Tidak ada yang tidak mengenal mereka disekolah. Ohh,ya, dimana Kim Kai?

 

 

“Selamat Oh Sehun”

 

 

Entah itu tulus atau tidak. Sehun tidak peduli akan hal itu. Ia bahkan tidak yakin bahwa kehadiran orang yang baru saja mengucapkan selamat itu diinginkan olehnya. Hanya tatapan tajam yang ia berikan kala, Kim Kai menunjukan senyum seringainya.

 

 

“Aku tidak menyangka kau akan mendahuluiku”

 

 

Dahee merasa, suasana berubah semakin kaku saat seseorang tiba-tiba muncul dihadapan mereka. Seseorang yang Dahee tau sebagai Kim Kai. Dia mengerutkan kening saat melihat dua orang yang dia tau bersahabat itu saling melemparkan tatapan tajam. Bahkan Baekhyun dan Luhan yang sedari tadi tidak henti menebar senyum kini diam membeku.

 

 

“Aku tidak butuh selamat darimu” desis Sehun tajam. Ia tidak menatap lawan bicaranya saat mengatakan itu.

 

 

Kai tersenyum miring. Kemudian ia melirik kearah Dahee yang juga tengah menatapnya “Selamat Dahee-ssi” ujarnya sambil mengulurkan tangannya.

 

 

Sebagai seseorang yang tau akan sopan santun, Dahee tentu akan membalas uluran tangan itu. Namun ia dibuat tersentak kaget, saat tiba-tiba Sehun menahan uluran tanganya.

 

 

“Jangan menyentuhnya” ujarnya menatap tajam kearah Kai.

 

 

Kai tertawa mendengus. Ia berjalan beberapa langkah mendekati Sehun, namun Luhan menahannya mendekat “Kai, kau haus? Kau ingin mainum? Ayo ikut aku” Luhan merangkul pundak Kai dan menggiringnya pergi dari sana. Ia mencoba menyelamatkan situasi menegangkan ini “Ayo Baek”

 

 

Dahee tidak mengerti situasi ini. Ia menoleh kearah Sehun yang menatap lurus kedepan. Namun, mulutnya tidak juga berucap. Dibalik tatapan datarnya pada Sehun, terselip perasaan bingung yang tak kentara.

 

 

* * *

 

 

Selama perjalanan itu, tidak ada yang berbeda. Suasana itu masih terlihat kaku. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

 

 

Cincin yang tersemat itu adalah bukti.  Pakaian yang mereka kenakan saat ini adalah saksi dari menyatunya mereka berdua. Janji dihadapan Tuhan itu bukan permainan. Mereka sudah terikat didepan Tuhan. Lalu akan seperti apa semuanya berlanjut? Sungguh pertanyaan itu patut di pertimbangkan. Untuk dua orang yang sama-sama memiliki hati beku itu, bisakah mereka bertahan?Bertahan dalam kehidupan asing yang mengharuskan mereka untuk tetap bersama. Mereka bahkan tidak mengenal dengan baik. Mereka bahkan terlalu dingin untuk memulai suatu hubungan.

 

 

“Ayo masuk”

 

 

Nyonya besar itu menggiring sang wanita masuk. Mengenggam tangannya seolah tidak mau melepasnya. Dia biarkan tatapan kaku yang Dahee tunjukan. Tak luput juga, ia berikan perintah pada para pelayan untuk membawakan barang milik anggota baru keluarga mereka itu.

 

 

Saat tepat didepan tangga, ia lepaskan genggamannya. “Istirahatlah”  Seulas senyum ia berikan sesaat sebelum, membiarkan sang menantu menempati kamar barunya.

 

 

Dahee menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat pada ibu barunya itu. Namun, ia masih belum bisa menunjukan senyum lebarnya. Mungkin masih terlalu asing. Meskipun waktu 3 bulan untuk mengenal sudah terlewati, tapi tetap saja. Baginya untuk menerima suasana baru maupun orang baru bukanlah hal yang mudah. Dan lihatlah Oh Sehun, ia masih belum bisa ‘berkomunikasi’ dengan baik dengannya. Selain karena Sehun yang terlalu dingin-dan Dahee pernah menganggapnya pria angkuh- ia juga masih harus menyesuaikan diri.

 

 

“Kau mengenalku?”

 

 

Kini mereka hanya berdua didalam kamar Sehun. Kamar dengan harum lemon yang menguar itu, sanggup membuat Dahee terkagum. Ruangan itu sungguh besar. Dengan nuansa kelabu sebagai warna penghias. Semua tersusun rapi. Ada pintu yang menghubungkan langsung dengan balkon luar. Bagi wanita yang sangat menyukai ketenangan. Rasanya nuansa kamar ini sangat cocok bagi Dahee. Tapi nyamankah ia, jika harus bersama diruangan ini dengan aura dingin yang membekukan udara sekitar?

 

 

“Apa jika aku berkata ya, kau akan percaya?”

 

 

Ucapan yang terrdengar tenang ditelinganya, membuat Sehun mendengus. Ia berjalan kearah pintu kaca yang menghubungkan dengan balkon luar kamar. Ia membukanya, dan seketika hembusan angin malam yang dingin menerpa tubuh tingginya.

 

 

“Apa yang kau harapkan dari pernikahan ini?”

 

 

Dahee menghela nafas pelan. Ia mencoba menahan aura dingin yang semakin mencekam “Bagaimana denganmu?”

 

 

“Aku bahkan tidak tertarik sama sekali” Sehun menoleh. Mereka saling menatap selama beberapa detik. Sebelum akhirnya Sehun mengambil langkah. Mendekat kearah Dahee dengan tatapan dinginnya.

 

 

“Hanya perlu mengikuti permainan kan?”

 

 

Dahee mengalihkan tatapannya pada sebuah koper besar miliknya. Melangkah pelan melewati Sehun, sambil bergumam “Aku ingin mandi”

 

 

Sehun sadar, jika saat ini hidupnya akan berubah. Ia bukan seseorang yang masih sendiri. Tapi bukan berarti ia akan menjadi orang yang berbeda. Dan wanita itu, Sehun ragu apakah ia bisa menjalani perannya dengan baik? Mereka tidak saling kenal. Entah seperti apa suatu hal yang ia anggap sebagai permainan ini akan berlanjut.

 

 

* * *

 

 

Kini Dahee terdiam dipinggir ranjang. Setelah selesai makan malam beberapa menit lalu, ia memutuskan kembali kekamar. Ia merasa mengantuk. Tubuhnya amat lelah. Dan tak lama dari itu, Sehun menyusul. Pria itu langsung menjatuhkan diri disofa dan berkutat dengan laptopnya. Sudah hampir 30 menit berlalu dan mereka masih terdiam. Seolah tidak melihat satu sama lain. Sebenarnya Dahee mencoba untuk terlelap, sesaat sebelum Sehun datang dan membuatnya kembali kaku. Maka ia putuskan untuk kembali terjaga dengan ditemani sebuah buku yang ia temukan disudut kamar Sehun.

 

 

Sesekali manik matanya melirik kearah Sehun. Dan beberapa kali juga pria itu terlihat menguap. “Tidurlah jika kau sudah mengantuk”

 

 

Satu lirikan Sehun tujukan untuk Dahee. Wanita itu terlihat beranjak dan mengembalikan buku yang sedari tadi ia baca. Sehun tidak melihat jelas bagaimana ekspresi wanita itu saat ini. Ia tutup laptopnya, saat melihat Dahee berjalan menuju kamar mandi. Ia menghela nafas dan beranjak dari sofa menuju tempat tidurnya. Ia mulai merebahkan diri disana.

 

 

Melihat itu, Dahee yang baru keluar dari kamar mandi hanya bisa menatap ragu. Benar juga, tidak ada yang salah jika sepasang suami istri tidur dalam satu ranjang. Tapi, tetap saja ia tidak terbiasa dengan hal itu. Tiba-tiba perasaan gelisah menghampirinya. Dan entah sejak kapan, jantungnya bertalu keras seperti ini?

 

 

“Apa kau akan tetap mematung seperti itu?” Suara Sehun menginterupsi lamunannya. “Kau tidak keberatankan jika berbagi ranjang denganku?”

 

 

Dahee mendesah dalam hati. Ia buang semua keraguannya, perlahan ia ikut merebahkan diri disamping Sehun. Menarik selimutnya dan memejamkan mata. Ia harap, malam ini tidak berlalu dengan panjang.

 

 

* * *

 

 

Sehun bangun lebih awal hari ini. Dan ia baru sadar, jika ia mengambil cuti untuk beberapa hari kedepan. Sehun menghela nafas pendek, kemudian menoleh pada seseorang yang masih terlelep disebelahnya. Sejenak, ia menatap Dahee dalam diam. Menelusuri setiap inci wajahnya. Matanya yang terpejam menimbulkan aura menenangkan dan-Sehun baru menyadari jika wanita itu memiliki pipi bulat yang chubby.

 

 

Tatapannya berakhir pada bibir Dahee dan seketika kejadian kemarin kembali berputar diotaknya. Sehun memutar kedua bolamatanya dan kembali mendesah. Ia beranjak dan berjalan kearah jendela kamar yang jika dibuka akan langsung menampilkan pintu kaca penghubung  untuk balkon kamarnya. Namun, tangannya yang terulur untuk membuka gorden tiba-tiba tertahan diudara. Dia menoleh kearah Dahee yang masih tertidur. Sejurus kemudian entah kenapa ia membatalkan niatnya. Laki-laki tinggi itu langsung melangkah kearah kamar mandi.

 

 

Ia membasuh wajahnya cepat, sesaat sesudah menggosok gigi. Selama beberapa detik itu, ia memperhatikan wajahnya didepan cermin. Seolah memperhatikan tetesan demi tetesan air yang mengalir dari wajahnya.

 

 

“Apa yang harus kulakan?” Sehun menunduk. Membiarkan keran air itu mengalir terus tanpa ia hiraukan. Entah apa maksud dari perkataannya itu. Untuk apa ia menanyakan itu, jika sudah tau bahwa tidak ada yang bisa menjawab pertanyaannya? Banyak kegelisahan dihatinya saat ini. Masalah dengan sang ayah yang terus memanas juga masalah pernikahannya yang tiba-tiba. Tentu saja, tidak dengan mudah dapat ia terima begitu saja. Keterpaksaan juga penekanan yang mengekangnya adalah satu hal yang mendominasi hidupnya.

 

 

Dengan satu tarikan nafas panjang, Sehun kembali keluar dari kamar mandi. Dan ia masih melihat Dahee tertidur lelah.  Sudahlah biarkan saja wanita ini. Mungkin dia kelelahan. Dan-ohh tunggu dulu, sikap itu bukan sebuah kepedulian dari seorang Oh Sehun. Melainkan hanya masalah perasaannya saja yang terlalu tidak peduli akan hal semacam ini.

 

 

Mata Sehun bergerak menelusuri tempat tidurnya saat ia mendengar getaran ponsel. Ia mendekat dan meraih ponselnya. Nama “Kris Wu” kini terpampang dilayar ponsel.

 

 

“Hyung?” Ucapnya saat telepon itu ia angkat.

 

 

“Ya! Sehun!” Orang disebarang sana berseru senang. Membuat satu tarikan senyum kecil dibibir Sehun.

 

 

“Ada apa hyung? Bukankah kau bilang kau akan kembali keSeoul?” Sehun memberi satu lirikan pada Dahee. Takut wanita itu tertanggu mungkin? Entahlah

 

 

Aku sudah berada di Seoul. Aku bahkan sudah tiba di hotel”

 

 

“Kenapa kau tidak memberitauku?” Tanya Sehun

 

 

Pria diseberang sana tertawa kecil “maaf, ponselku hilang. Aku baru bisa menghubungimu sekarang”

 

 

“Dimana hotelmu? Aku akan kesana siang nanti”

 

 

“Akan aku kirimkan alamat juga nomor kamarku. Aku sedang mandi saat ini. Ohh ya, jangan lupa bawakan aku makanan saat kemari. Bye!”

 

 

Sambungan telepon itu terputus. Ada senyuman kecil dibibir Sehun saat ini.  Dia sudah lama tidak bertemu dengan orang yang dipanggil ‘hyung’ olehnya itu.

 

 

Sehun melirik jam dinding dikamarnya. Pukul 8. Ia memutuskan untuk turun dan sarapan. Perutnya butuh asupan saat ini.

 

 

 

15 menit sepeninggal Sehun, wanita yang masih terbaring ditempat tidur itu mulai mengerjapkan matanya saat  sinar matahari mulai menyusup lewat celah jendela. Suara kicau burung, juga harum khas suasana dipagi hari menusuk indra penciumannya. Saat mata itu benar-benar terjaga, ia mulai mengitari pandangannya keseluruh kamar.  Ia terdiam sejenak sesaat sebelum menyadari bahwa ia berada dikamar orang lain saat ini. Bukan mimpi, pikirnya.

 

 

Matanya melirik sisi kosong disebelahnya-yang semalam ditempati oleh Sehun. Dia mengernyit saat tidak melihat Sehun disana. Pandangannya ia alihkan pada jam dinding  kamar yang terletak disisi kanannya. Sejusrus kemudian, ia tersentak kaget saat waktu menunjukan pukul 8.15. Dahee menghela nafas. Ia beranjak dari tidurnya dan segera menuju kamar mandi.

 

 

Tak henti ia merutuk. Apa kesan buruk akan menimpa dirinya, karena ia bangun terlambat hari ini? Hari pertamanya menjadi anggota baru keluarga Oh? Apa yang akan ia lakukan hari ini sebagai orang baru?

 

 

Dahee keluar kamar tepat pukul 9 pagi. Mungkin ritual mandinya yang lama, memang harus dikurangi. Ia berjalan menuruni tangga menuju lantai satu.  Tidak henti, matanya menilisik keadaan rumah mewah ini. Ia berhenti saat berada diundakan tangga terakhir, ketika melihat Sehun lewat dihadapannya. Laki-laki itu hanya menatapnya sekilas dan kembali berlalu.

 

 

“Oeh? Dahee?”

 

 

Dahee mendongak dan mendapati ibu Sehun tengah tersenyum kearahnya.

 

 

“Kau sudah bangun?”

 

 

Masih dengan tatapan datarnya Dahee menunduk kecil “Maaf aku-”

 

 

“Tidak apa-apa. Kau pasti lelah. Ayo, kau belum sarapan kan?”

 

 

* * *

 

 

Dahee memperhatikan dalam diam lembar demi lembar album foto yang ibu Sehun tunjukan padanya. Setelah menemaninya makan, ibu Sehun mengajak Dahee mengobrol diruang tengah. Dahee sempat menanyakan keberadaan ayah Sehun, yang sudah berangkat kerja pagi tadi. Disana terdapat sebuah rak buku yang isinya lumayan banyak. Saat itu, Dahee tertarik dengan sebuah benda bersampul biru tua yang ternyata adalah sebuah album foto. Matanya terus terarah pada gambar-gambar yang didominasi oleh foto Oh Sehun itu. Mulai dari Sehun bayi, sampai dengan Sehun memakai seragam Sekolah yang sama dengan yang ia miliki dirumah.

 

 

Namun, matanya berhenti bergerak saat melihat salah satu foto. Disana terdapat Sehun juga ayahnya dan seorang  wanita yang Dahee tidak tau itu siapa.

 

 

“Ini siapa?” Tanya Dahee pada sang ibu yang menatapnya masih dengan senyuman.

 

 

“Dia ibu kandung Sehun. Foto ini diambil saat Sehun masih berusia 14 tahun”

 

 

Raut wajah Dahee seketika berubah, meskipun tidak terlalu kentara. Ia mengernyit pertanda bingung dengan apa yang didengarnya barusan.

 

 

“Kau belum tau jika aku bukan ibu kandung Sehun?” Tanya sang ibu. Dahee diam sebagai jawaban.

 

 

Tangan ibu Sehun kembali membuka lembaran album foto sampai dihalaman terakhir. “Kau lihat ini?” Ia menunjuk kesalah satu foto dari sekian banyak foto Sehun yang mengenakan seragam SMA. Difoto itu terdapat 3 orang pria. Satu pria yang berdiri disebelah kanan tersenyum lebar, yang Dahee tau adalah Luhan. Pria yang disebelah kiri hanya tersenyum seadanya, dan itu adalah Kim Kai. Dan pria ditengah dengan wajah datarnya, Oh Sehun.

 

 

Ibu Sehun menoleh kearah Dahee dengan alis yang terangkat “Bukankah kau satu sekolah dengan mereka?”

 

 

Sorot mata Dahee terlihat menerawang “Ya, yang ku tau mereka bersahabat. Tapi aku tidak mengenal mereka”

 

 

Ibu Sehun mengernyit “Aku masih tidak mengerti” ucap Ibu Sehun

 

 

Dahee menoleh, kemudian dia menunduk “mereka yang terkenal, tapi aku tidak berniat untuk mengenal”

 

 

 

Ibu Sehun terlihat mengangguk, meskipun masih bingung dengan pernyataan barusan namun ia mencoba tersenyum “Aku adalah ibu kandung Kim Kai”

 

 

Dahee tidak tau harus berekspresi seperti apa. Ini memang mengejutkan. Tapi bukankah ia tidak tau banyak tentang keluarga Oh?

 

 

“Kau tau tentang pertengkaran mereka?”

 

 

Ada sorot kebingungan yang terpancar diwajah Dahee, sebelum akhirnya ia menggeleng kecil.

 

 

“Kai dan Sehun memang sahabat baik…..sebelum aku dan ayah Sehun menikah”

 

TBC

 

Chapter satu selesai sampe disini dulu.. kalau masih penasaran dan pengen dilanjut, komen aja…😉

 

Paiii Paiii~

 

8 thoughts on “My Fate With You (Chapter 1)

  1. daebaektae berkata:

    ehh?? ibu nya kai nikah sama ayah nya sehun?
    terus mereka berdua bertengkar? apa sih maksudnya? penasaran banget. oh ya, tadi aku nemuin beberapa typo, ga banyak kok. okelah. lanjut ya! fighting!

  2. Ludeer berkata:

    Dan jjang, sesuai janji.
    Dari mulai prolog banyak mister² yang bikin penasaran. Dari pada nyesel ga baca minding di lanjutin ok ini 대박이다

  3. Ludeer berkata:

    Dan jjang, sesuai janji.
    Dari mulai prolog banyak mister² yang bikin penasaran. Dari pada nyesel ga baca minding di lanjutin ok ini bagus

  4. HR_Dahee94 berkata:

    Tiba2 aja kangen sama sehun dahee, jadi baca ulang ff ini untuk yang kesekian kali, tetep ga pernah bosen. Ini ff bikin baper

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s