FF: The Wolf and not The Beauty (part 18)

The wolf and not the beauty

Tittle                          : The Wolf and not the beauty

Author                        : Ohmija

Cast                            : EXO

Genre                          : Fantasy, Friendship, Comedy, Action, School life

Summary                    : “terkadang, kita perlu mengatakan tentang kenyataan untuk menemukan jalan keluarnya. Bagaimana jika ternyata Kyungsoo adalah kunci dari semua masalah ini?”

Sehun menemukan Kai sedang duduk seorang diri diatas atap sekolah. Ia memeluk kedua lututnya sembari bersandar pada sandaran bangku. Pandangannya kosong, terus menatap kearah langit tanpa fokus. Kesadarannya seperti menghilang bahkan saat Sehun membuka pintu.

Dari bagaimana ekspresi yang dilihatnya, Sehun mengetahui jika pria berkulit gelap itu sedang memikirkan sesuatu. Dia mengerti. Terutama tentang perasaannya terhadap Kyungsoo saat ini.

“Kai.”panggil Sehun membuat Kai menoleh kaget. Dia terlihat sangat terkejut mengingat dia telah melarikan diri dari saudara sepupunya itu. “Disini banyak manusia, kau bisa membunuh mereka semua.”

Namun ternyata, dugaan Kai salah. Sehun berbicara dengan nada pelan sembari menjatuhkan diri disampingnya.

“Jika mau pergi, harusnya kau memberitahuku. Aku akan menemanimu.”

Kai menggigit bibir bawahnya kelu, “Aku takut kau tidak mengijinkanku.”

“Bukan tidak mengijinkan.” Sehun menghela napas panjang. “Aku hanya khawatir.”

“Walaupun aku merasa lapar sekalipun, aku tidak akan melukai Kyungsoo.” Dia menggeleng tegas. “Aku akan melindunginya.”

Sehun terdiam. Dia menatap sepasang bola mata hitam Kai dan menemukan keyakinan besar disana. Bagaimana bisa orang asing terasa begitu berarti dimatanya?

Hingga akhirnya, Sehun berdiri. Ia menggerakkan dagunya, memberi isyarat pada Kai.

“Ayo!”ajaknya. “Kita harus mencari Kris. Bukankah kita akan berburu lagi?”

Kai baru menyadari jika hari sudah malam dan sudah waktunya dia untuk mencari Leo dan ibu Kyungsoo. Hari berjalan tanpa terasa, seperti dia tidak sedang berpijak, terlalu asik dengan dunianya sendiri.

Keduanya sama-sama beranjak, sama-sama akan mencari Kris terlebih dahulu sebelum pergi ke Jeongseon. Murid-murid terlihat sudah berhamburan keluar kelas, tidak sedikit dari mereka yang terkejut saat melihat Sehun dan Kai muncul.

“Kapan kau muncul? Bukankah kau sakit?”tanya salah seorang murid.

Disampingnya, Sehun terus memegangi lengan Kai disertai dengan cengkraman. Takut jika saudaranya itu tiba-tiba melukai orang lain.

Kai sudah mulai berkeringat dingin, namun ia memaksa untuk tersenyum. “Aku… mencari Chanyeol.”kilahnya tergagap.

“Aku melihatnya sudah keluar kelas bersama Tao, Baekhyun dan Kyungsoo.”

“Kau melihat Kris?”Sehun ikut bertanya.

“Dia keluar bersama Suho.”

“Suho?” Kening Sehun berkerut. “Ah, oke. Thanks.”

Sehun menarik lengan Kai dan menyeretnya pergi dari sana secepat kilat. Menerobos kerumunan murid-murid dengan kewaspadaan hebat. Mereka terpaksa melakukannya karena mereka harus menemukan Kris secepat mungkin. Sudah tidak ada waktu lagi, sedikti takut jika Leo telah menghabisi nyawa ibu Kyungsoo.

Keluar dari koridor dan menuju halaman depan sekolah, Sehun dan Kai masih tidak menemukan Kris. Namun parahnya, mereka justru ditemukan oleh Chanyeol dan yang lain.

Sehun sudah menarik lengan Kai, hendak membawanya pergi. Tapi suara Chanyeol lebih dulu terdengar memanggil nama mereka.

“Kalian kemana saja, huh?”

Chanyeol masih berada di jalannya menghampiri mereka dan Kai bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang mengikuti dibelakangnya. Itu Kyungsoo. Yah, pria itu.

Detik itu juga, tubuh Kai seketika bergetar hebat membuat Sehun langsung menoleh dan mengetahui jika hasrat itu tengah bertarung melawan diri saudaranya. Kyungsoo semakin dekat dan itu adalah alasan kenapa Kai berubah menjadi seperti ini.

Kepalanya benar-benar terasa sakit, seperti sesuatu sedang menarik-narik seluruh sarafnya. Jantungnya berdebar-debar tidak terkendali dan mulai keluar keringat dingin dipelipisnya.

Ada sesuatu rasa yang perlahan mulai mengendalikan Kai, mulai menyuruhnya untuk pergi kesana. Harumnya darah keturunan terakhir pastor Solomon itu benar-benar menggoda indra penciumannya, seperti narkoba yang membuatnya frustasi jika tidak mendapatkannya.

“S-sehun…b-ba-wa aku…pergi…”

Dia mencengkram lengan Sehun kuat-kuat, masih berada diambang kesadarannya untuk tidak melukai Kyungsoo. Berusaha sekuat mungkin untuk melawan hasrat yang semakin lama semakin menyiksa dirinya.

Darah dan dagingnya… benar-benar menggiurkan. Terlihat sangat lezat dari daging mentah yang selalu Sehun berikan padanya. Dia butuh darahnya… dia ingin darahnya…

Kai semakin menggertakkan giginya kuat-kuat, kini sambil menjambak rambutnya. Masih mencoba menahan hasrat itu untuk mendominasi. Sehun memutar otak, dia tidak mungkin membawa Kaipergi dengan cara melompat tinggi,tapi jika tidak pergi, dia yakin saudaranya itu akan melukai Kyungsoo.

“Chanyeol!” Tiba-tiba Suho melompat ke depan Chanyeol, menghalangi jalannya. Sedangkan Kris juga muncul dari arah lain, dan dengan cepat menarik lengan Kai dan Sehun untuk pergi.

“Ayo kita pulang.”Suho masih berdiri didepan Chanyeol, menghalangi pandangannya.

“Suho, minggir. Tadi aku melihat Kai dan Sehun.” Chanyeol mendorong pundak Suho ke kanan, Namun tidak menemukan siapapun dibelakangnya.

“Kau bilang kau melihat Kai? Dimana dia?”suara Kyungsoo juga terdengar dari belakang. Dia ikut mencari-cari sosok Kai.

“Kai? Bukankah dia sedang sakit?” Suho berlagak tidak tau.

“Tidak. Aku melihatnya bersama Sehun tadi. Mereka berdiri disana.”

“Tidak mungkin. Mereka berdua sedang sakit.”Suho terus mengelak.

Ditempatnya, Kyungsoo menghela napas panjang, ia menunduk, “Aku rasa hari ini aku tidak akan menginap di rumahmu Chanyeol. Aku ingin pulang.”

“Jangan!” Suho melarang penuh penekanan, membuat teman-temannya menoleh kearahnya bingung. Ia sendiri terkejut, kemudian berusaha bersikap santai. “Bukankah Kai menyuruhmu untuk tinggal di rumah Chanyeol sementara waktu?”

“Aku ingin pulang Suho. Bagaimana jika ibuku ternyata ada di rumah?”

“Tidak! Tidak boleh!”

“Hey, Suho. Apa yang terjadi denganmu?”seru Tao bingung. “Jika dia ingin pulang, biarkan saja. Lagipula Kai tidak memberikan alasan yang jelas kenapa dia harus tinggal bersama Chanyeol.”

“Ibuku menghilang dan dia berjanji untuk menemukannya. Tapi, beberapa hari ini dia juga menghilang tanpa memberikan kabar apapun padaku. Aku ingin melapor polisi.”

“Aku mohon jangan.” Suho mengatupkan kedua telapak tangannya, memohon. “Kai pasti akan kembali secepat mungkin. Tunggullah sebentar lagi.”

“Suho, kenapa kau menjadi aneh?”sahut Baekhyun. “Ibunya menghilang, kita memang harus melapor polisi. Kenapa kita hanya menunggu Kai tanpa melakukan apapun?”

“Jika sampai besok dia belum juga kembali. Kau boleh melapor polisi. Sekarang, aku mohon bersabarlah dulu.” Suho terus memohon, meyakinkan teman-temannya, terutama Kyungsoo. Kris sudah menceritakan semuanya dan keberadaan Kyungsoo kini benar-benar sangat berbahaya.

Jika dia pulang ke rumah, tidak mustahil Leo akan datang dan memangsanya. Belum lagi, jika itu terjadi, semuanya akan terbongkar dan dia akan mengetahui semuanya.

“Malam ini, menginaplah di rumahku lagi.” Chanyeol akhirnya merangkul pundak Kyungsoo. “Ayo pulang.”

Suho menghela napas lega, kemudian mendongak keatas dan mendapati Kris, Sehun dan Kai yang juga menatapnya dari atas atap. Setelahnya, dia mengikuti langkah Chanyeol dan yang lain.

***___***

Rahang Sehun mengatup rapat, kedua tangannya mengepal disamping tubuh. “Jadi Suho juga sudah mengetahuinya?!”desisnya, dibelakang, Kris hanya menunduk pasrah. “Siapa lagi yang ingin kau beritahu, hah?!”

“Sehun, Suho adalah sahabatku, dia tidak mungkin memberitahu orang lain.” Kai coba membela.

“Siapa yang tau?!”teriak Sehun semakin berapi-api.

“Aku tidak bermaksud memberitahunya, dia mengetahuinya sendiri.”jelas Kris dengan nada pelan. “Suho tidak akan melakukannya, Sehun. Aku mempercayainya.”

Gigi Sehun masih menggertak, menahan kekesalannya. Dia sama sekali tidak menoleh ke belakang, bahkan untuk menatap wajah menyesal Kris yang begitu mendalam. Ada kekecewaan di dasar hatinya atas tindakan Kris yang dia pikir terlalu ceroboh.

Biar bagaimanapun, Suho adalah manusia dan dia sama sekali tidak mempunyai hubungan atas masalah ini. Dia tidak boleh mengetahuinya dan Kris tidak punya hak untuk memberitahu. Jika klan Rouler lain mengetahuinya, dia yakin Kris akan dijatuhi hukuman berat.

“Ayo pergi, Kai. Kita cari Leo dan selamatkan nyonya Do.”desis Sehun namun suara Kris berikutnya menghentikan langkahnya.

“Sehun.”cegahnya. “Aku akan membantu—“

“Menjauhlah dariku.”potong Sehun, membuat Kris dan Kai terperangah hebat. “Aku tidak ingin melihat wajahmu untuk sementara waktu.”

Kris menelan ludah pahit, “Sehun, tapi—“

“Aku bicara sebagai keturunan terakhir klan Rouler. Aku tidak bicara sebagai sahabatmu.”

Dan ucapan penuh ketegasan yang dilontarkan Sehun mengakhiri semuanya. Mampu membuat Kris seketika bungkam dan tidak mengeluarkan suara apapun lagi. Sedangkan Kai, karena masih berada di dalam tahap memulihkan kesadarannya, dia tidak bisa membantu banyak. Juga, dia sangat tau bagaimana kekeraskepalaan Sehun jika sudah mengatakan sebuah hal. Dia tidak akan bisa dibantah.

Sehun dan Kai pergi, meninggalkan Kris seorang diri diatas sekolah. Setelah Kai dan Sehun menghilang di pandangannya, Kris hanya menarik napas panjang dan menghembuskannya panjang-panjang juga. Dia memang bersalah tapi dia punya alasan melakukannya.

Tidak ada yang mengerti jika selama ini dia menanggung beban yang cukup berat. Sekarang, dia hanya membutuhkan seorang teman. Sehun dan Kai tidak bisa diandalkan karena pikiran mereka masih terlalu kekanak-kanakkan. Suho adalah satu-satunya yang bisa mengerti.

Pada akhirnya, Kris juga meninggalkan atap sekolah dan bergerak menuju rumah Chanyeol. Jika Sehun tidak mengijinkannya membantu mencari Leo, setidaknya dia bisa menjaga Kyungsoo dari jauh.

Menjatuhkan diri diatas sebuah atap rumah, Kris menatap lurus ke depan. Sama seperti kebiasaannya sejak dulu, dia akan duduk disana semalaman sambil menjaga Kyungsoo. Keadaan semakin lama semakin genting. Dia juga tidak menyangka bagaimana Leo bisa kembali dan menemukan mereka.

Yang jelas, mulai sekarang dia harus semakin membentuk sebuah pertahanan kuat. Karena peperangan, terlihat akan dimulai sebentar lagi.

***___***

Leo dan Lay membawa Chen, yang baru saja berubah menuju Jeongseon. Berhasil lolos dari kejaran Sehun dan Kai sekali lagi.

Leo berhasil membunuh beberapa orang di daerah pinggiran Seoul dan membawanya ke markas sebagai makanan untuk anak buahnya.

Ibu Kyungsoo telah sadar dan dia benar-benar terkejut mendapati sekelompok makhluk menjijikan sedang melumati jasad-jasad manusia dengan nikmat. Matanya membulat lebar, dan histerianya tidak mampu dibendung lagi.

Dia berteriak nyaring, membuat semua makhluk itu menoleh. Semakin histeris karena ternyata kedua tangannya terikat dan dia tidak bisa melarikan diri kemanapun. Leo berbalik, menghampiri ibu Kyungsoo dengan senyuman menyeringai yang sangat menakutkan.

Dia berjongkok didepan ibu Kyungsoo, lalu mendesis, “Maaf nyonya, tapi aku membutuhkanmu saat ini.”

“Siapa kau?! Apa yang kau inginkan dariku?! Leoaskan aku!”

Leo tersenyum, “Kau pasti mengetahui siapa aku…” serunya menggantung. “…nyonya Solomon.”

Ibu Kyungsoo terperangah hebat. Bahkan nyaris membeku dan tidak bisa membuka mulutnya sama sekali. Dia benar-benar terkejut. Bagaimana bisa sesuatu yang telah disimpannya selama ini kini terjadi?

Jika seseorang mengetahui tentang klan Solomon dan dia tidak bersikap dengan baik, itu artinya dia adalah klan Theiss. Menyusul fakta bahwa dia baru saja melihat makhluk-makhluk ini memakan jasad manusia. Tidak salah lagi, dia adalah klan Theiss.

“Menjauh dari anakku!”desis ibu Kyungsoo sarat ancaman yang mana membuat Leo tertawa.

“Kenapa tiba-tiba menyuruhku menjauhi Kyungsoo? Aku tidak bermaksud menyakitinya.”balasnya santai.

“JAUHI ANAKKU!”

“Hey, diam! Jangan membentak tuanku!” Lay menggertak ibu Kyungsoo. Namun Leo langsung memberikan perintah padanya untuk mundur. Lay menunduk, lalu berdiri sejajar bersama Chen dan yang lain.

“Kau tidak akan pernah mengerti sudah berapa lama aku menunggu saat-saat seperti ini.”seru Leo setengah berbisik. “Saat akhirnya aku bisa meminum darah keturunan terakhir pastor Solomon dan mendapatkan hidup abadi. Juga… membalaskan dendam klanku pada klan sialan itu.”

Rahang ibu Kyungsoo mengatup rapat, ia mendongak, membalas tatapan Leo tanpa rasa takut sekalipun.

“Selamanya… Theiss memang akan selalu memburu Solomon. Aku sadar itu. Tapi… jangan lupa jika Rouler akan selalu datang untuk melindungi Solomon. Mereka sudah bersumpah dan aku percaya mereka akan melindungi anakku dari iblis seperti kalian.”

“HEY! TUTUP MULUTMU!”

“Chen, tenanglah.” Leo mengulurkan tangan, menahan amarah Chen lalu tersenyum singkat menatap ibu Kyungsoo. “Ingatlah, pada akhirnya… jarski tidak akan bisa menang melawan pemburu sesungguhnya.”

***___***

Kai dan Sehun menghabiskan malam di atas bukit provinsi Jeongseon dengan sikap siaga. Mata mereka terus melebar kesegala arah jika saja ada tanda-tanda yang terlihat dari klan Theiss.

Sehun terus berdiri didepan, sedangkan Kai kini terduduk diatas tanah sambil bersandar disebuah batu besar. Napasnya terengah-engah, dan dia mulai merasa lapar. Sudah dua botol morfin yang diminumnya, dan semua itu tidak berfungsi sama sekali untuk meredam hasrat itu. Wangi darah Kyungsoo sudah terlanjur dihirupnya dan melekat dalam ingatan.

Kenikmatan itu seperti menari-nari dan semakin mengundangnya untuk mencicipi. Sekarang dia mengerti, kenapa Sehun benar-benar melarangnya untuk berada dekat dengan Kyungsoo. Juga mengerti kenapa Leo dan Sehun selalu berubah seperti ‘hampir gila’ atas darah Kyungsoo.

Berbeda dengan jarski, pemburu sebenarnya memiliki hasrat yang masih ‘hidup’. Tidak akan bisa diredam jika hasrat itu merasa lapar. Dia mengerti, bagaimana penderitaan Sehun selama ini setelah dia berubah menjadi pemburu. Dia harus menahan lapar dan hasratnya sendiri, belum lagi terbebani dengan sumpah dan posisinya sebagai keturunan terakhir.

Tapi untungnya, dia tidak berubah menjadi klan Theiss. Dia masih mampu mengendalikan hasratnya untuk tidak memakan daging manusia dan tetap menjalani hidup dengan makan daging hewan.

“Kau kenapa?” Sehun berbalik, menghampiri Kai dan berjongkok didepannya.

“Mungkin sedang lapar.”desah Kai, berkeringat dingin.

Sehun mengulurkan tangannya, menyentuh kulit Kai dan mendapati suhu saudaranya itu yang benar-benar mencapai titik didih. Sangat panas.

“Malam terakhir, aku rasa ujian kali ini akan lebih beratdari biasanya. Bertahanlah.”

“Kenapa tubuhku terasa sangat panas?”

“Aku juga merasakannya saat aku sedang bertarung melawan hasratku. Tubuhmu akan menjadi panas karena kau sedang meredam hasrat itu.”

“Yeaah, sepertinya hasrat ini sangat kuat. Bahkan aku bisa merasakan bagaimana jantungku berdebar-debar.”

Sehun menatap Kai prihatin, wajahnya terlihat pucat. “Kau mau makan? Aku akan berburu di hutan.”

Kai menggeleng, “aku tidak apa-apa.”jawabnya. “Selama aku tidak berada dekat dengan Kyungsoo. Aku tdak apa-apa.”

“Saar matahari terbit nanti, kau akan berubah menjadi jarski sebenarnya. Kau boleh bertemu dengan Kyungsoo lagi.”

Kai mendongak, menatap Sehun. “Lalu bagaimana denganmu? Kau tidak mau menemui Kris?”

Ekspresi Sehun seketika berubah, dia menarik diri, membelakangi Kai. “Tidak perlu. Aku akan mencari Leo seorang diri mulai sekarang.”

“Apa kau tidak mempercayai Suho?”

“Aku tidak pernah mempercayai siapapun, kecuali dirimu, D.O dan Kris.”balasnya cepat. “Aku tidak akan pernah bisa.”

“Tapi Suho adalah—“

“Kai,”potong Sehun. “Entah kenapa, aku sudah tidak tertarik untuk menjalin persahabatan dengan orang lain lagi. Aku tidak bisa memberikan kepercayaanku dengan mudah. Aku tidak ingin kehilangan lagi.”

Dibelakangnya Kai terdiam. Berpikir jika semua ini tidak adil untuk Sehun. Sebenarnya, dia memiliki sahabat, tapi dia dipaksa untuk melupakannya. Dia tidak bisa mempercayai siapapun lagi karena sahabatnya sudah pergi. Dalam hatinya, ada perasaan ingin memberitahu Sehun namun juga merasa ragu.

***___***

Hasilnya masih sama. Sehun dan Kai tidak menemukan petunjuk apapun tentang keberadaan Leo. Mereka kembali ke Seoul dan datang ke sekolah namun masih tidak menghadiri kelas. Hanya duduk diatas atap tanpa diketahui oleh siapapun.

Kai berhasil melewati malam-malamnya dan kini dia telah berubah menjadi jarski. Dia sudah bisa bertemu dengan Kyungsoo tapi dia tetap tidak memiliki nyali. Apa yang harus dia katakan? Apa dia bisa mengatakan jika dia belum menemukan ibunya? Bagaimana jika dia kecewa?

“Apa aku harus memberitahu Kyungsoo yang sebenarnya?” Kai membuka suara.

“Tentang apa?”balas Sehun tanpa menoleh sedikitpun.

“Tentang identitas kita sebenarnya dan kemana ibunya menghilang.”

Kali ini Sehun menoleh, “jangan memancing amarahku seperti Kris.”

Kai mendesah panjang, “terkadang, kita perlu mengatakan tentang kenyataan untuk menemukan jalan keluarnya. Bagaimana jika ternyata Kyungsoo adalah kunci dari semua masalah ini?”

“Kunci? Maksudmu kunci untuk keuntunganmu sendiri?’desis Sehun dingin.

“Sehun, dengar! Aku sudah memikirkannya sejak semalam dan aku rasa Kyungsoo harus mengetahuinya. Kita tidak bisa membiarkannya menunggu terus-menerus. Sudah tiga hari dia menunggu dan kita belum juga mendapatkan hasil yang baik.”

“Berikan waktu sebentar lagi, aku pasti bisa menemukan Leo.”

“Sehun!” Kai mulai kehabisan kesabaran. “Bisakah kau berhenti bersikap keras kepala dan menerima pendapat orang lain?! Apa kau pikir aku senang melihat ekspresinya semalam? Dia benar-benar terlihat sedih,”

“Kau merasa seperti itu karena kau menganggapnya sebagai D.O! Ingat Kai, dia adalah Kyungsoo. Dia bukan kakakmu!”

Kai membuang napas keras, “Jangan pernah membahas tentang kakakku jika kau tidak mengetahui apapun!” rahangnya mengatup. “Apa kau tidak memiliki hati sama sekali, hah?! Kyungsoo harus mengetahuinya karena dia terlibat. Dia adalah keturunan terakhir Solomon dan dia adalah orang yang paling diincar! Dia memang memiliki kemiripan wajah dengan kakakku. Tapi, kau tidak akan pernah mengerti! Kau tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya kehilangan seorang kakak di depan matamu! Kau tidak akan mengerti!”

Sehun bangkit, ikut kesal dan menatap Kai dengan tatapan dingin. “Aku adalah keturunan terakhir dan kau tidak bisa membantah ucapanku!”

“Tidak perduli kau adalah keturunan terakhir atau bukan, tapi aku sudah berjanji untuk tidak membuatnya bersedih lagi. Aku akan melindunginya!” Kai berteriak didepan wajah Sehun, tanpa rasa takut sedikitpun. Berikutnya,nadanya merendah. “Walaupun atas perintahmu, atau tidak…”

Dia menabrak pundak Sehun dengan pundaknya, berjalan pergi meninggalkan pria tinggi itu dalam keterdiaman hebat. Apa yang telah dia lakukan? Apa dia tidak merasa jika D.O sangat berarti? Kenapa dia seperti membenci Kyungsoo?

Sehun terduduk diatas kursi kayu, kepalanya tertunduk dalam bercampur rasa penyesalan hebat. Saat dia memejamkan mata, dia bisa melihat bayangan wajah D.O dengan jelas. Apa selama ini D.O tidak berarti?

Tapi… bukankah D.O dan Kyungsoo berbeda? D.O adalah saudaranya, sedangkan Kyungsoo hanya seseorang yang harus dia jaga atas sumpahnya. Kenapa harus menggunakan hati untuk melindunginya?

“Sehun?”

Ada suara yang menyelinap masuk saat dia masih terpejam. Ada perasaan aneh yang ikut menyelinap ke dalam hatinya. Dia seperti merasa tidak asing dengan suara ini, dan suara itu terngiang-ngiang di dalam pikirannya tanpa visual.

Pertanyaan baru kini tercipta, atas siapa pemilik suara itu. Dan atas alasan kenapa dia sangat ingin mendengarnya terus-menerus. Perasaan ini aneh, tapi dia seperti terikat dengan hal itu.

Saat dia membuka mata, dia menemukan sosok Luhan duduk disampingnya. Untuk sesaat terpaku dengan wajah itu. Dia membeku.

“Luhan…” dia berseru tanpa sadar. Dia merasa seperti memiliki sebuah kenangan, namun saat mencoba mengingat kenangan itu, tiba-tiba saja semuanya berubah menjadi gelap. Dia tidak melihat apapun. Sama sekali.

“Kau tidak apa-apa? Apa yang kau lakukan disini?”

Sehun mengerjap beberapa kali saat kesadarannya kembali. Kemudian memasang ekspresi ketus seperti biasa.

“Mau apa kau kemari?”desisnya dingin.

“Kenapa kau tidak masuk kelas?”

“Bukan urusanmu.”

“Kyungsoo sepertinya kesepian karena beberapa hari ini kau tidak hadir.” Namun Luhan terus berseru.

Sehun menarik napas panjang, “ada apa denganmu? Kenapa kau terus menggangguku, hah?!”

“Aku? Mengganggu?” Luhan menunjuk dirinya sendiri. “Aku hanya ingin berteman. Sungguh.”

“Bisakah kau memilih teman lain selain aku? Aku tidak menyukaimu.”

“Kenapa? Apa aku pernah melakukan kesalahan?”

Sehun berdecak malas, kemudian bangkit meninggalkan Luhan. Dia tidak ingin meladeni pria menyebalkan itu lagi.

Namun di belakangnya, Luhan langsung berteriak. “Jika aku mempunyai kesalahan, tolong maafkan aku!”serunya. “Aku sendiri tidak mengerti, tapi aku ingin berteman!”

Sehun tidak menoleh sama sekali. Kemudian melanjutkan langkahnya pergi.

***___***

“Kai! Kai!” Kris menghampiri Kai yang tengah tertidur diatas dahan pohon besar yang tumbuh disamping kelas Kyungsoo. Napasnya terengah dan wajahnya terlihat panik. “Beberapa orang menghilang secara misterius di daerah Gyeongju!”

Detik itu juga, Kai langsung membuka matanyadan bangkit. “Apa?!”

“Aku yakin ini adalah perbuatan Leo! Dia pasti sedang mencari makanan.”

“Apa dia benar-benar ingin berperang? Perlahan-lahan, dia melakukannya secara terang-terangan.”

“Dia pasti membentuk sebuah sekutu!”

Kai terdiam, berpikir sejenak. “Lalu? Kau sudah memberitahu Sehun?”

Kris menggeleng, “Aku tidak menemukannya diatap sekolah.”

“Ayo kita cari dia. Dia harus mengetahui tentang hal ini.”

***___***

Luhan kembali ke kelas dengan langkah gontai. Beberapa hari ini juga tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi dalam dirinya. Kenapa dia menjadi begitu baik pada Sehun? Padalah pria tinggi itu sudah berkali-kali bersikap ketus. Kenapa dia ingin berteman?

Dia tidak menyadari jika ikatan batin mereka dimasa lalu masih terjalin kuat dan kini kembali meyerebak. Sikap Luhan yang menyebalkan pada akhirnya luluh setelah kedatangan Sehun.

Berhari-hari dia memikirkannya namun dia sama sekali tidak menemukan jawaban apapun. Dia merasa buntu.

Hari ini,dua orang di kelas itu merasa sama sekali tidak bersemangat. Chen dan Lay tidak hadir sehingga Luhan hanya bersama si pendiam Xiumin. Tidak banyak yang mereka katakan, Luhan karena sedang merasa gelisah, sedangkan Xiumin memang seperti itu.

Disudut kelas, Kyungsoo juga tidak fokus dengan apa yang dia lakukan. Seperti kehilangan kesadaran. Ibunya menghilang dan Kai juga menghilang. Dia tidak mendapat kepastian apapun.

***___***

Malam harinya, setelah pulang sekolah, Kyungsoo kembali ke rumahnya tanpa diketahui Chanyeol dan yang lain. Dia sudah mendengar tentang berita itu dan firasatnya memburuk. Kejadian itu sama seperti kejadian ibunya. Ibunya tiba-tiba menghilang dan tidak ditemukan.

Tanpa rasa takut sedikitpun, dia menuju gereja tua itu dan mencari bukti-bukti yang mungkin tertinggal disana. Masih mengingat jelas jika tetangganya mengatakan bahwa dia melihat sekelebat bayangan hitam terbang diatas atap gereja. Mustahil memang, tapi rasa penasarannya harus segera diakhiri.

Dia membuka pintu gereja seorang diri, menggunakan senter ponselnya untuk mnerangi jalannya. Pandangannya menyapu keseluruh ruangan, kakinya berjalan ke semua sudut.

Hingga tiba di dalam ruangan yang menghubungkan dengan tangga menuju keatas menara, tiba-tiba matanya menangkap sesuatu. Untaian kain putih terjatuh diatas tanah, menjuntai seperti sebuah robekan. Yang dia ingat, terakhir kali dia melihat ibunya sedang memakai baju berwarna putih.

“Astaga!”

Kyungsoo menutup mulutnya detik itu juga saat dia menyadari sesuatu. Bersamaan dengan pintu gereja yang tiba-tiba terbanting dan tertutup rapat. Kyungsoo terkejut, sontak menoleh ke belakang.

Sekelebat bayangan hitam muncul, perlahan-lahan berjalan maju dan terlihat semakin jelas. Wajahnya putih pucat dan parasnya yang tinggi besar. Kyungsoo bisa meyakinkan jika sosok yang dilihatnya ini benar-benar sangat menakutkan. Terlebih lagi saat dia tersenyum menyeringai.

“Akhirnya aku menemukanmu… Kyungsoo Solomon.”

TBC

53 thoughts on “FF: The Wolf and not The Beauty (part 18)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s