Edelweis (Chapter 9)

CIMG0155 - Copy(1)

Title                 : Edelweis (Chapter 9)

Author             : Jung Ri Young

Cast                 :-Oh Sehun

-Park Chanyeol

-Byun Baekhyun

-Kim Jongin

-Kim Yeejin (OC)

-Park Yoora (Chanyeol noona)

-Jung Ahra

Genre              : Family, Brothership, Romance, Little Comedy

Rating             : T

Length             : Chapter

Disclaimer       : Member EXO milik Tuhan, Orang tua dan SMEnt. Kecuali Baekhyun milik saya! kekeke

Summary         : “Mungkin sering terjadi hal-hal buruk menimpaku, tapi percayalah, kalian terbaik yang pernah ada dalam hidupku.”

Chapter sebelumnya : 1 , 2 , 3 , 4 , 5, 6, 7, 8

Tak jauh dari tempat itu, seseorang menyunggingkan senyum melihat mereka berdua. Ia bahagia, bersyukur pada takdir yang kembali membuka jalan untuk mereka. Sedangkan seseorang yang lain melihat pemandangan itu dari balik mobil yang terparkir dengan hati tercabik. Tangannya terkepal kuat, hingga tak terasa kuku-kuku panjangnya telah menancap sempurna melukai lapisan epidermis. Namun darah yang mengalir tak mampu mewakili perasaan hatinya saat ini. Perih.

.

-xoxo-

.

Van hitam melesat dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota Seoul. Melewati pepohonan yang terserak-serak akibat angin yang ditimbulkannya. Ia di sana, di balik kursi kemudi sambil mencengkramnya dengan kuat. Marah? tentu! Kecewa? pasti! Ia tak menyangka sahabatnya akan menikamnya dari belakang seperti ini. Begitu percayanya ia pada sosok Baekhyun sehingga kenyataan yang jelas-jelas dilihat dengan mata kepalanya sendiri masih tak mampu dicerna oleh otaknya.

Berpuluh-puluh panggilan masuk diabaikannya ketika ia membaca nama yang tertera.

Kim Yeejin

Ia tak tahu bagaimana harus bersikap ketika telah mengetahui kelakuan kekasihnya bersama Baekhyun, sahabatnya. Bahkan perasaan sayang yang selama ini ia banggakan seolah menguap begitu saja, lenyap bersama dengan kepercayaan yang mereka hancurkan.

.

-xoxo-

.

“Kau sudah gila, hyung!”

Jongin kembali memutar bola mata melihat Baekhyun yang masih tersenyum-senyum sendiri. Ini sudah hampir pukul sembilan malam, Chanyeol dan Sehun belum juga datang dan kini ia harus terjebak bersama makhluk bermata sipit yang menjadi semakin sipit karena sedari tadi tersenyum-senyum tidak jelas. Membuat Jongin bergidik ngeri.

“Yak! Jika hyung masih saja tersenyum-senyum seperti itu aku pergi!”

“Pergilah, kalau begitu.” Sahut Baekhyun santai.

“Mwo? Jadi kau mengusirku? Aissh..Jika tadi pagi aku tak berjanji berkumpul di tempat ini aku juga tak akan datang!” Seru Jongin sewot.

“Siapa yang mengusirmu? Bukankah kau sendiri yang berkata akan pergi?!!” Baekhyun menyambar tak kalah sewot. Mereka kemudian mendengus, mengalihkan tatapan dari satu sama lain. Sepertinya malam ini akan terjadi adu mulut yang panjang jika saja Sehun tak segera menerobos masuk ke dalam kamar Baekhyun.

“Sudah selesai berdebatnya? dasar anak-anak labil!”

“MWO??” Keduanya kini balik menatap Sehun galak. “Ingat, usiamu paling muda disini!” ucap Jongin mendahului. “Dan kau seharusnya lebih menghormati kami!” imbuh Baekhyun.

Sehun tak menghiraukan protes kedua orang yang lebih tua darinya. Mendudukan diri lalu meraih ponsel dari saku celana. Ia terlihat fokus membaca pesan masuk sebelum kemudian tersenyum kecil. “Astaga, apa semua orang di sini sudah gila? Mengapa kalian suka sekali tersenyum-senyum sendiri seperti itu??” Jongin terlihat semakin sewot melihatnya. Baekhyun terkikik geli, seolah mengisyaratkan bahwa ‘aku tidak sendiri’.

“Wae..wae? Mana Yeollie hyung?”

Sehun mengalihkan pandangan dari ponsel, menatap keduanya bergantian. Ia melihat Jongin menggeleng, sedangkan Baekhyun mengedikkan bahu.

“Aiishh,, apa dia lupa?” gumamnya pada diri sendiri sambil membuka kontak ponselnya, ia mencari nama Chanyeol sebelum memencet tombol call.

“Mungkin dia bosan melihatmu.” sahut Baekhyun yang mendengar gerutuannya.

“Jangan bercanda, dia bahkan tak bisa jauh dariku.” balas Sehun santai.

“Percaya diri sekali.” Sehun mengedikan bahu, lalu membuang ponselnya sembarangan ke atas sofa kosong. “Tidak dijawab.”

Mereka kemudian berbincang tanpa Chanyeol. Bercengkrama seperti biasa tanpa menyadari seseorang sedang menyendiri berkilo-kilo meter jauhnya.

.

-xoxo-

.

Dingin. Keadaan itu yang dirasakan Chanyeol saat ini. Ia tak tahu dimana ia berada sekarang. Laju mobil membawanya ke sebuah pantai yang sudah tak berpengunjung jauh dari jantung ibukota. Pantai itu sepi, dan dingin. Sama seperti hatinya yang sedang mati rasa. Ah tidak, bukankah mati rasa berarti tak bisa merasakan apapun? Berarti ini bukan mati rasa, Ia bahkan bisa merasakan denyut-denyut menyakitkan di setiap detak jantungnya. Perih…menyesakan.

Ia merebahkan tubuh di atas dashboard mobil. Membiarkan pikirannya berkelana kemana-mana. Disini sepi, tak ada yang akan melihat sehingga ia bebas bahkan untuk menunjukan sisi terlemahnya sekalipun. Dan disitulah ia…mengalirkan kristal bening sebagai simbol kesedihan dan kekecewaannya. Entah untuk siapa sebenarnya semua itu. Ia sendiri tak yakin. Apakah untuk kekasih yang bermain di belakangnya, atau untuk sahabat yang telah menghianatinya. Yang jelas, ia benci keduanya. Ia benci mereka yang merusak kepercayaannya. Ia benci mereka yang menghancurkan kebahagiaannya. Terlebih, ia membenci dirinya sendiri yang terlalu naif tak dapat mempercayai bahwa mereka telah menyakitinya.

Chanyeol mencerkam kaleng soda yang telah kosong di genggamannya. Memejamkan mata sejenak sebelum menyadari ponselnya bergetar. Ia mengangkat benda itu, berfikir bahwa Yeejin yang kembali menghubunginya. Namun perkiraannya salah ketika samar-samar ia membaca tulisan ‘Oh Sehun’ yang muncul di layar.

Ia kembali menurunkan benda itu tanpa menjawab terlebih dahulu. Bukan, bukan karena kesadarannya yang tinggal separuh. Namun ia masih ingin sendiri. Menikmati sisa kesedihan yang masih menyelimuti.

Untuk apa menghubungiku, Sehun. Apa kau juga akan menyakitiku seperti mereka?

.

-xoxo-

.

“Noona…noona…”

Baekhyun menghampiri Yoora yang sedang berjalan menuju apartemen. Ia sengaja ingin menemui Chanyeol sehingga ia datang pagi-pagi ke tempat ini. Sebelum berangkat menuju kampus. Yoora berbalik, tersenyum melihat sahabat adiknya berjalan ke arahnya.

“Oh, Baekhyunnie. Di mana Chanyeol?”

“Eh?” Baekhyun menghentikan langkah mendengar pertanyaan Yoora. Mengerutkan kening tak mengerti. Yoora yang menyadari perubahan pada wajah Baekhyun memicingkan mata. “Dia tak bersamamu?” tanya yeoja itu menyelidik.

“Mm…”

“Jangan coba-coba mencari alasan.” tandasnya membuat Baekhyun tersenyum kikuk.

“Bukan begitu maksudku, noona. Kau semakin sensitif saja.” Ucapnya menggoda. Yoora berdecak. Kemudian semakin berpura-pura kesal pada anak yang telah ia anggap seperti adiknya sendiri.

“Jadi..dimana tiang listrik itu?” Tanya Yoora kemudian.

“Aissh, noona ini. Tiang listrik begitu juga adikmu.” Baekhyun memprotes. Membuat keduanya tertawa. “Haha..Arra..arra..dimana adikku?” Ulangnya.

“Aku tak tahu. Semalam kami berkumpul di rumahku. Tapi Chanyeol tak datang. Kupikir kau mengurungnya.”

Yoora memutar bola mata. “Walau benar aku mengurungpun dia akan tetap kabur jika itu untuk pergi bersama kalian. Iya kan?”

Baekhyun tersenyum. Membenarkan pernyataan Yoora.

“Kalau begitu aku ke kampus dulu, noona. Siapa tahu dia sudah di sana.”

Yoora mengangguk. “Baiklah.”

Baekhyun kemudian melangkah menuju lift untuk keluar dari apartemen itu. Belum terlalu jauh, Yoora kembali memanggil. “Baekhyun..!!”

Baekhyun menoleh. “Pukul kepalanya untukku jika kau bertemu dengannya. Arrachi?”

“Haha..baiklah nyonya Kim.”

Yoora tertawa kecil mendapat jawaban dari Baekhyun. Mendengarnya memanggil seperti itu, ia jadi teringat kekasihnya. Ah, pasti dia sudah berada di kantornya sekarang. Dasar workaholic.

.

-xoxo-

.

Hari ini selasa, ia tahu persis ketiga sahabatnya tak ada jam kuliah hingga nanti siang. Dia sebenarnya juga sama. Namun saat ini Baekhyun harus tetap pergi ke kampus untuk menepati janjinya pada dosen musik untuk membantu para hoobae.

Baekhyun masuk ruang musik dengan jantung berdegup. Ia memang sudah sering menjadi sorotan, baik di kampus maupun di atas panggung jika membawakan lagu pada acara-acara tertentu. Tapi ia rasa kali ini berbeda. Ia akan berhadapan dengan para hoobae dan mengajarkan materi hingga mereka menguasai.

Bisik-bisik mulai terdengar ketika Baekhyun menghentikan langkah di depan mereka yang telah duduk rapi. Mereka tak tahu, tentu saja. Bahwa kali ini yang akan mengampu bukanlah dosen botak menyebalkan yang selalu membuat suasana perkuliahan membosankan. Tetapi Byun Baekhyun. Salah satu dari jajaran namja tampan yang kepopulerannya tak diragukan lagi. Namja yang selalu menjadi kebanggaan jurusan seni karena kemampuan suara dan bermusiknya yang akan membuat yang lain berdecak iri.

Tak sedikit yeoja yang menjerit tertahan ketika Baekhyun memperkenalkan diri. “Baiklah, kalian tentu sudah tahu siapa aku. Untuk kedepan, akulah yang akan membimbing kalian pada kelas aransemen ini. Jadi, mohon kerjasamanya, oke?” Kata Baekhyun tersenyum riang. Dalam hati ia merutuk geli. Bodoh! Perkenalan macam apa ini.

Mereka mengangguk semangat mendengar perkataan Baekhyun. Tak peduli seberapa konyol ucapan perkenalannya barusan. Yang mereka tahu, mereka dapat berlama-lama menghabiskan waktu bersama namja yang sudah seperti idola itu. Bahkan dapat berkomunikasi lebih dekat dengan leluasa. Oh, bukankah itu sebuah jackpot?

Dan begitulah, kelas aransemen terasa menyenangkan dengan kehadiran namja kecil bermata sipit yang sangat tampan.

.

-xoxo-

.

Jongin memarkirkan mobil dengan santai setelah tiba di area kampus. Sudah terlambat sebetulnya. Namun ia tak berniat untuk terburu-buru mengejar waktu. Ia tahu, dosen mata kuliah hari ini sangat killer, jadi daripada datang terlambat lalu mendapat teguran dan sangsi yang memusingkan, lebih baik ia tak masuk sekalian.

Ia berjalan lambat-lambat menuju gedung kampus. Hanya untuk sekedar melihat-lihat dan menunggu jam kuliah selanjutnya. Perutnya masih terisi penuh, tentu saja. jadi ia tak berniat sedikitpun untuk menginjakan kaki ke dalam kantin.

Langkah Jongin terhenti ketika ia melihat seseorang merebahkan diri di atas rerumputan taman belakang gedung. Cukup jauh, namun ia tahu persis siapa orang itu hanya dengan sekali pandang. Ia memutuskan menghampirinya tanpa harus berfikir dua kali. Lagipula, ia penasaran kenapa orang itu malah bersantai-santai. Bukankah mata kuliah favoritnya sedang berlangsung?

“Sedang apa kau di sini?” Serunya heran.

“Tiduran, jika kau tak lihat.”

Jongin memutar bola mata, kemudian menjatuhkan tas lalu duduk di samping namja itu, di atas rerumputan. Matanya menelusuri lekuk wajah sahabatnya yang sedang memejamkan mata. Sedikit meringis, ia baru memperhatikan bahwa luka di wajah tampan itu memang cukup parah.

“Sehuuun.” Panggil Jongin pelan.

“Mm..” Jawabnya, masih menutup mata.

“Mianhae, wajahmu…pasti sakit sekali.” Sehun menoleh mendengar ucapan Jongin. Ada rasa menyesal yang tertangkap di telinganya. Ketika menatap wajahnya, Sehun semakin menemukan penyesalan dari raut wajahnya.

Sehun menarik diri dari rerumputan yang ia tiduri, kemudian duduk bersebelahan dengan Jongin. Ia mengedikan bahu, seolah memberi isyarat aku-tidak-apa-apa.

“Apa kau pikir aku selemah itu? Bahkan pukulanmu seperti seorang yeoja.”

Sehun nyengir lebar setelah mengatakan itu. Merasa puas karena berhasil meremehkan sahabatnya. Tetapi yang diremehkan tak merespon apapun. Tak seperti biasanya yang selalu marah-marah jika digoda sedikit saja. Jongin terdiam, semakin merasa bersalah kepada namja albino di sampingnya. Ia telah meragukan Sehun, ia telah berburuk sangka pada Sehun, bahkan ia telah menyakiti sahabatnya itu. Luka di wajahnya mungkin memang tak sesakit yang ia katakan tadi, namun ia tahu, pasti luka di hatinya lebih sakit. Karena yang memukul adalah dia, sahabatnya sendiri.

“Wae? Apa yang kau pikirkan? Kenapa diam, huh?” Sehun bertanya sambil merangkul pundak Jongin. Membuat namja berkulit gelap itu tersenyum. “Aku bahagia memiliki sahabat sepertimu.” Jawabnya tulus.

“Mwoya? kau bahagia memiliki sahabat sepertiku setelah memukulku, huh? Lalu selama ini?”

“Ani..ani..aku selalu bahagia memiliki sahabat sepertimu, Chanyeol hyung, dan Baekhyun hyung. Kalian bukan hanya sekedar sahabatku. Tapi kalian saudara-saudaraku. Mungkin sering terjadi hal-hal buruk menimpaku, tapi percayalah, kalian terbaik yang pernah ada dalam hidupku.”

Sehun tersenyum geli mendengar ucapan sahabatnya yang mendadak melow. Ia tak percaya, seorang Kim Jongin yang terkenal angkuh bisa berkata semanis ini. “Apa kau salah makan tadi pagi?”

“YA! Aku sedang serius, bisakah kau tidak menangapinya dengan bercanda?! Aisshh jinjja!!”

“Hahaha..baiklah, baiklah. Kau juga sahabat terbaik yang pernah kumiliki, Kim Jongin.”

.

-xoxo-

.

Chanyeol berdiri di depan pintu apartemennya sendiri. Jarinya terulur, berusaha mengkombinasikan angka-angka yang menjadi akses masuk ruangan itu. Sekali, dua kali, dia merutuk kesal. Sudah berulang kali ia memasukan angka yang menurutnya benar. Namun selalu saja gagal dan hanya menghasilkan bunyi biipp tak berarti. Chanyeol menendang pintu kasar, sangat kesal pada benda sialan itu yang tak kunjung mau dibuka. Apa dia salah? Tidak mungkin, ia mengingat di luar kepala deretan angka yang telah lama di gunakan sebagai kode akses pintu masuk apartemennya.

Sekali lagi ia mencoba. Berusaha berkonsentrasi memencet pelan tombol-tombol tersebut sambil mengeja dalam hati.

Biipp

“Arrgghh!!!”

Erangan kekesalan tak dapat lagi ia tahan ketika nada itu kembali terdengar. Ia sudah sangat lelah dan ingin beristirahat, namun daun pintu bisa diajak kompromi.

“Tidak bisa masuk, Park Chanyeol?”

  1. Suara orang yang benar-benar sedang di hindarinya terdengar. Membuatnya kembali mengerang –juga merutuk-, namun ia hanya berani melakukannya dalam hati.

Chanyeol menegakan tubuh, berbalik, dan mendapati Yoora tengah berkacak pinggang di hadapannya. Wajahnya terlihat garang, dengan gerakan santai ia melipat kedua tangan di depan dada. Matanya terus mengawasi dengan tatapan berbahaya. “Dari mana saja kau?” Cecarnya tanpa basa-basi.

“Noona, apa kau mengganti password? buka pintunya, noona. Aku ingin istirahat.”

“Aku bertanya kau dari mana, Park Chanyeol!” Yoora kembali bertanya tanpa menggubris perkataan adiknya.

“Aku..tidur di rumah Sehun.”

“Gotjimal!” Sahutnya cepat. “Bahkan Sehun dan Jongin semalam tidur di rumah Baekhyun. Kau mau membodohiku, hah? Sudah mulai berani berbohong padaku?!”

“Aiisshh..jinjja! Kau mengawasiku? Aku sudah besar, noona. Bahkan tinggiku sudah melebihimu saat ini!”

“Benar, tapi otakmu masih tak lebih tinggi dari lututku! Sekali lagi ku tanya, darimana kau? Apa yang terjadi?”

Chanyeol hanya mendengus mendengar noona-nya yang terus mengomel. Ia tak berniat menjawab. Tubuhnya sangat lelah dan berdebat dengan Yoora hanya akan menguras sisa tenaga yang ia miliki.

“Baiklah , jika memang tak mau bercerita. Kau memang tak pernah mempercayaiku sebagai teman berbagi. Kau hanya menganggapku sebagai kakak bawel yang selalu memarahimu, bukan begitu? Tapi asal kau tahu, Chanyeollie, aku benar-benar mengkhawatirkanmu. Aku hanya memilikimu dan aku tak mau terjadi apa-apa padamu. Apa itu berlebihan?”

Mendadak Yoora berkaca-kaca ketika mengucapkan kalimat itu. Chanyeol tertengun, merasa bersalah telah membuat khawatir yeoja yang menjadi satu-satunya anggota keluarga yang tersisa. Ia tak tahu begitu besar kasih sayang Yoora padanya, hingga hal-hal terkecilpun tak pernah luput dari perhatiannya. Namun apa balasannya pada yeoja itu? Bahkan ia telah melukai perasaannya, membuatnya menangis. Bodoh. Ia merasa dirinya sangat bodoh.

“N-noona. Mian.. Mianhae..” Bisiknya, ia menarik tubuh kakaknya ke dalam pelukan. Berusaha menguapkan kesedihannya

.

-xoxo-

.

“Ada apa sebenarnya, Chanyeollie? dan ini, kenapa telapak tanganmu terluka seperti ini, huh?” Yoora bertanya sambil memasangkan plester pada telapak tangan adiknya. Ia berusaha tak memakai emosinya kembali, ia ingin menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.

Sebenarnya, tanpa bertanyapun Yoora sudah tahu, ada bekas cetakan kuku yang di tekan pada luka itu. Khas Chanyeol jika sedang kehilangan kendali. Tapi ia masih tak mengerti, kejadian apa yang membuat adiknya semarah itu hingga kuku-kuku panjangnya merobek lapisan epidermis di tangan kanannya. Pasti sangat menjengkelkan hingga ia melakukan itu.

“Tadi pagi, Baekhyun kesini, mencarimu.” Sambungnya ketika tak mendapatkan jawaban.

Chanyeol mendengus pelan. Membuat Yoora mengerutkan kening. “Wae? kau bertengkar dengannya?”

Chanyeol menggeleng, namun raut mukanya tak bisa berbohong, dari wajah itu Yoora seolah bisa membaca tulisan ‘iya’.

Ia kemudian tersenyum, membereskan kotak p3k untuk dikembalikan pada tempatnya. Setelah itu, ia beranjak.

“Mm..” Ia membalikan tubuh sejenak. “Selesaikan masalahmu dengan baik, Park Chanyeol. Jangan jadi pecundang. Kalian telah berteman sejak kecil, bukankah seharusnya kalian sudah saling memahami satu sama lain?” lalu ia benar-benar pergi. Meninggalkan Chanyeol yang merenung di tempatnya.

Kau benar, noona. Kami seharusnya saling memahami. Kami seharusnya saling mengerti. Namun kenapa Baekhyun berkhianat? Kenapa noona? Bisakah kau menjelaskan padaku?

.

-xoxo-

.

Baekhyun menggeliat usai membubarkan kelas aransemen. Lega, ia merasa sangat bebas setelah berjam-jam bicara tanpa henti menjelaskan materi. Belum lagi ia harus menanggapi pertanyaan-pertanyaan para hoobaenya yang tidak mengerti dengan apa yang telah diterangkan. Hari ini ia memang tak memakai alat musik sebagai pendukung, ia benar-benar menerangkan dasar-dasar dan teknik aransemen terlebih dahulu hingga nanti hoobaenya siap untuk mencoba mengaplikasikannya.

Ia menguap, merasakan kantuk menggelayut disusul perutnya yang mengeluarkan bunyi protes. Sudah hampir waktu makan siang. Ah, pantas saja. Ia mengelus sebentar perut kosongnya lalu beranjak. Setidaknya ia bisa makan siang sambil bersantai, sekalian mencari sahabat-sahabat tiang listriknya. Mereka sudah datang, mungkin.

Katakanlah Baekhyun sedang beruntung. Matanya langsung menemukan dua orang berkulit kontras sedang duduk di meja favorite mereka. Tengah berbicara sembari sesekali menyesap minuman berwarna. Jus buah, sepertinya.

Mereka berbicara sangat serius, hingga tak menyadari keberadaan Baekhyun yang kian mendekat lengkap bersama nampan berisi makan siang di tangan kanan. Baekhyun mengerutkan kening, merasa janggal dengan keduanya. Lamat-lamat ia dapat mendengar potongan-potongan kalimat yang terlontar satu sama lain.

“–aku juga tak bisa percaya saat pertama kali mengetahuinya, Sehun. Tapi setelah eomma menceritakan dengan detail, aku mulai percaya.”

“Tapi..haah!” Sehun membuang nafas keras, frustasi “sungguh, apakah ini hanya suatu kebetulan? atau ini yang disebut takdir?”

Jongin menggeleng. “Entahlah. Yang jelas, saat ini aku hanya ingin melindunginya. Aku hanya ingin melakukan tugasku sebagai seorang kakak. Walaupun terlambat, aku tetap akan melakukannya. Hanya itu yang bisa ku berikan padanya, Sehun. Hanya sedikit perlindungan atas masalah yang melibatkan dia, kau, Chanyeol dan Baekhyun hyung. Jadi kumohon, jangan perkeruh keadaan. Yeejin juga sangat menderita.”

Baekhyun terperanjat mendengar penuturan langsung dari Jongin. Menggeleng, ia tak percaya. Jadi bagaimana? Bagaimana bisa Yeejin tiba-tiba menjadi adik Jongin? Sejak kapan mereka berhubungan darah kalau jelas-jelas Yeejin adalah seorang anak tunggal? Oh, ayolah, Jangan lupakan fakta bahwa Baekhyun adalah mantan kekasihnya, ia tahu persis dari cerita-cerita Yeejin selama mereka berpacaran dulu.

“Tidak mungkin, ini tidak mungkin!”

Sehun dan Jongin mengangguk lesu, sedetik kemudian mereka mendelik lalu menoleh ke belakang dengan gerakan cepat. “MWOO????”

.

.

.

-TBC-

 

Yeheeett! lagi-lagi tbc , bodo amat :p /ditendang/ ini ff abal tinggal satu chapter lagi kok. Author mohon kritik sarannya biar cepet-cepet menamatkan dan gak bikin Baekyeol shipper semakin berkoar-koar emosi gara-gara cerita edelweis serta seorang Kim Yeejin yang sangat labil, kekeke~

Oh iya, disini ada yang bisa bikin poster dan mau membantu author? kalo ada comment ya, butuh seseorang untuk membuat poster di ff baru author. Udah coba bikin sendiri, tapi hasilnya? kkaebsoooong /ala baekhyun/

Sekali lagi thanks buat readernim yang masih setia /emang ada?/ and don’t be silent reader, please. Reader yang baik akan selalu menghargai karya yang dibacanya J

Annyeong~😀

24 thoughts on “Edelweis (Chapter 9)

  1. Azizah amatu zikrah berkata:

    Ck ck ck daebak thor ! Suka bgt ama ffnya, kereen. Aku masi pnasran kok di kotak kayu itu gak ada isinya ya? Aku gak tau hanya author dan tuhanlah yg tau. Next chapter nya ditunggu bgt nih thor. Nextnya jgn lama lama ya thor plisss *muka melas* keep writing thor !

  2. Clarissa Tiara berkata:

    Thor Nae manggil author eon aja , y soalnya eonlebihtua #plakk hehehe Nae line 02 Wkwkwk
    Demi apa eonn ini ff Daebak !!!! Ternyata jongin kakaknya yeejin Be gimana bisa ,
    Saya berubah pikirannn , mending yeejin kgk sama siapa siapa dah , mending dia mati aja #ditabokyeejin
    Soalnya liat dia lama lama kesel tuh orang sdh menyakiti duobaekyeol
    AKU TAK TERIMAAA
    YEEJINN MATI SAJA LOOO #mianlagisarap+emosi
    JANGAN GANGGU BAEKYEOLLLku

    Lanjut eoon ditunggu , lanjutanyaaa
    Plisss panjanginnn eon#buingbuing
    Apa saya ya yg baca kecepatan
    Bodo lah yg penting yeejin ora sama siapa siapa …

    Ya sudah saya akhiri dulu pidato yg tak bermakna ini
    Bye bye eon Keep Writing ye lopyouu #ditendangeon😀

    • JungRiYoung berkata:

      kyaaa,, sabar saeng sabar jangan emosi /pukpuk/
      thanks udah sudi review setiap chapternya, insyaallah besok chapt terakhir rada panjang dikit, dikit tapi loh yaa , kekeke~ /kemudian ditendang/

  3. Hilma berkata:

    MWO.. jadi yeejin adik jongin?? bagaimana bisa…
    bener-bener gak bisa ditebak ceritanya…
    pdhal aku seneng baekhyun dket lagi sama yeejin…
    ditunggu next chapternya chingu.. ^^

  4. Suharnila berkata:

    Hyaa…ternyata bner oppa nya yejin itu jongin yg mkul sehun.
    Makin seru nih ceritanya,,iya nih knapa yejin labil gtu,,sbenernya siapa yg mau dia plih??,baekhyun or chanyeol.,,pi aku dkungnya yejin sma baekhyun ja ya author.

    • JungRiYoung berkata:

      mungkin yeejin punya maksud lain *eh*
      semoga besok chap akhir bisa memuaskan rasa penasarannya, gomawo udh review😀

  5. In Soo berkata:

    haaaaahhhhh,, kau salah paham chanyeol oppa,,,
    jgan salahkan baekhyun, huhuhu😦
    jadi bener klo yejin itu adiknya jongin??? huuaa dunia emang sempit,,

    d tunggu chap dpn ya🙂

  6. bintang dwi ananda berkata:

    aigooooo authorrre kurang panjangggg!!!!!!!!!! next cptcptcpt kkkkkkk~~~~~ penasarannnnnn bgt!!!!!

  7. sayaka berkata:

    Authornim aku masih bingung sebenarnya main cast cewek sama cowoknya siapa? Di tulis cast cowok pertamanya itu Sehun dan cast ceweknya pertama Yeejin. Tapi sampai sekarang nggak ada penjelasan atau adegan SeJin momment antara hubungan Yeejin sama Sehun. Aku jadi bingung, sorry kalau banyak nanya. Fighting authornim

  8. indahtentiana berkata:

    akhirnya dinext jugaaaaaaaaa . sedikit kurang seru gaada brantemnya baekyeol . wkwkwk . lagi 1 chapter ? omoooo . pnasaran endnya gmn . eonni kamu bikin aku bingung . trnyata jongin kakaknya yeejin -_- . mau poster eon ? aku sih ga bisa buat . tapi nyaranin aja request d highschoolgraphics disana bagus2 artnya

  9. Chanchan_Hwang berkata:

    astaga jinjja!!! jongin kakak yejin?? huaaa
    kasihan chanyeol ini jg bukan salah baek
    tp…baek jg salah sihh dia terlalu terhanyut
    dan jg thor
    awalnya aku kasihan sama baek sekarang sama yeol
    aku jg kesel sama yejin!!
    huaa~~~ katanya yejin menderita? menderita apa??
    kayaknya yejin lebih suka byun dr pada park
    trs selama ini yeol di anggap apa??
    huaa poor yeollie

  10. ParkJudit berkata:

    TBC? Itu beneran TBC?! Huh~
    Beneran nih satu chap lgi? Alhamdulillah~
    Beneran dah gua benci banget sma ntu makhluk yg bernama Kim Yeejin -_-
    Bikin kesel arrrrggghhh… Nappeun yeoja -_-
    Ohhhh jadi itu yg mukulin Sehun, Kai~
    Ya, pemirsah misteri mulai terkuak *apa dah -_-
    Kalo kritikan gua sih thor Yeejin nya terlalu bikin kesel -_-
    Tapi, sumpah daebbak ni cerita.
    Next ya, jan lamaa2! Gua benci nunggu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s