Reflection (Chapter 4)

Reflection poster

Title                 : Reflection (Chapter 4)

Author             : Jung Ri Young

Main Cast        : Oh Sehun || Luhan || Zhang Yixing || Park Chanyeol

Genre              : Family, Brothership , Fantasy, School life

Rating             : General

Length             : Chaptered

Disclaimer       : All cast belong to God, parents and SMEnt.

Summary         : “Wajah kita mirip” “Kita seperti saudara kembar” “Kupikir juga begitu.”

.

Sebelumnya     : Chapter 1 , Chapter 2 , Chapter 3

.

.

Senior itu mulai geram pada Luhan yang terus merengek. Ia mendorong keras tubuh Luhan hingga tersungkur ke lantai. Bersamaan dengan itu, Luhan mendengar bunyi nampan jatuh yang disusul teriakan histeris para penghuni kantin. Suasana mulai ricuh, membuat Luhan tak bisa melihat dengan jelas. Tetapi ia tahu bukan hanya dirinya yang terjatuh. Senior itu juga terpental. Terseret angin yang tiba-tiba datang dengan dahsyat.

.

.

.

Suasana kantin benar-benar ricuh setelah kejadian itu. Mereka mulai mengelilingi Luhan dan senior yang telah basah kuyup tersiram kuah kari yang dipegangnya sendiri. Ia menggeram, menatap Luhan penuh kebencian. Luhan sendiri bergetar di tempatnya. Ia tak tahu apa yang telah ia lakukan. Ia sendiri terjatuh, mana mungkin sempat mendorong orang lain hingga seperti itu?

“Luhan, Chanyeol, ayo pergi!” Seru Yixing yang datang entah dari mana. Ia menyeret keduanya sekaligus. Menjauh dari keramaian yang semakin menyesakkan.

“Aku..aku tidak melakukan apapun, Yixing. Sungguh..aku—“

“Tenanglah, Luhan. Aku mengenalmu dengan baik. Aku tahu kau tidak mungkin melakukannya.”

“Tapi kenapa dia terpental seperti itu?” Tanya Luhan takut sekaligus heran.

“Anginnya juga tiba-tiba sangat kencang!” Sahut Chanyeol.

Mereka terdiam cukup lama di ruang kelas 1B. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Berbagai argumen berkecamuk tapi tak ada satupun yang masuk akal bagi mereka.

Luhan kembali menatap bergantian dua orang yang telah menjadi sahabatnya itu. Seolah meminta bantuan atau setidaknya pendapat yang dapat diterima oleh otaknya yang sudah buntu. Tetapi, hanya gelengan yang ia dapatkan baik dari Chanyeol maupun Yixing.

Bel tanda masuk berbunyi. Chanyeol menarik tangan Luhan untuk segera bangkit dan kembali pada kelasnya sendiri. Mereka berpapasan dengan Sehun di ambang pintu.

“Oh Sehun.” Sapa Luhan ramah.

Ia menghentikan langkah dan memandang Sehun dengan mata berbinar. Sedangkan lelaki itu hanya menatap Luhan tanpa ekspresi.

“Ayo pergi, Luhan. Untuk apa menyapanya. Dia bahkan tak mempedulikanmu!” Sindir Chanyeol lebih pada lelaki di hadapan mereka.

.

-xoxo-

.

“Untuk sementara, wakil CEO akan menggantikan posisi tuan besar di perusahaan. Namun jabatan sementara itu tak bisa digantikan terlalu lama. Hanya satu bulan sesuai batas waktu yang tertera dalam peraturan perusahaan.”

“Lalu bagaimana jika suamiku belum pulih dalam jangka waktu satu bulan, sekretaris Kim? Kondisinya sangat parah. Bahkan ia belum tersadar, ia masih koma.”

“Itu yang saya khawatirkan, nyonya. Jika tuan besar tidak bisa kembali dalam jangka waktu tersebut, akan dilakukan pemilihan CEO baru agar perusahaan tetap berjalan. Dan setengah dari saham milik keluarga Jung harus terlebih dahulu di lelang sebelum pemilihan CEO dilaksanakan.”

Yoona terkejut. “Itu berarti…kepemilikan perusahaan..?”

“Benar nyonya, kepemilikan perusahaan tidak lagi berada pada genggaman keluarga Jung karena saham yang tersisa kurang dari lima puluh persen.”

Yoona tertunduk lesu. Meratapi keadaan keluarganya yang semakin sulit. Ia ingin sekali membantu. Tapi bisa apa? Yoona bahkan tak mengerti sedikitpun tentang bisnis.

“Ada satu solusi yang bisa menyelamatkan perusahaan. Tapi saya rasa nyonya tak akan setuju.” Ucap sekretaris Kim kembali.

Yoona mendongak, menatap lurus penuh harap pada laki-laki yang duduk di seberangnya. “Katakan. Jika itu memang satu-satunya jalan untuk menyelamatkan perusahaan warisan keluarga Jung, aku pasti akan mempertimbangkan.”

“Perusahaan warisan ini tak akan berpindah tangan jika ahli waris mengambil alih. Dengan kata lain, tuan muda harus segera masuk mengisi kekosongan kepemimpinan.”

“Tidak mungkin!!!” Seru Yoona terbelalak. “Anakku masih terlalu muda. Ia bahkan baru mempelajari sedikit bisnis dari ayah dan mendiang kakeknya. Dia tidak akan siap!”

“Maafkan saya, nyonya. Tapi hanya itu cara yang tersisa.”

Yoona mengatupkan kedua tangan pada bibirnya. Seolah menahan isakan yang sebentar lagi pecah menjadi tangisan. Ia dilanda dilema, antara menyelamatkan perusahaan atau membiarkannya jatuh pada orang lain. Tetapi putranya masih terlalu kecil. Luhan memang sudah mengetahui seluk beluk dunia bisnis karena ia dipersiapkan untuk itu. Tapi ia tahu Luhan pasti belum siap jika harus memimpin perusahaan sekarang. Terlalu dini.

“Beri aku waktu untuk berbicara pada Luhan.”

.

-xoxo-

.

“Tunggu sampai akhir pekan, sayang. Kau bahkan belum genap seminggu berada di Seoul.”

“Tapi eomma, aku merindukanmu. Eomma tak rindu padaku, huh?”

Tanpa Sehun melihatpun dia tahu eomma sedang tersenyum di seberang sana. Ia sangat suka menggerutu seperti ini. Menggoda eomma yang telah berbaik hati membesarkannya penuh kasih sayang.

“Tentu saja eomma rindu anak eomma yang tampan ini. Baiklah, eomma akan berusaha mengunjungimu dalam waktu dekat. Jadi kau tak perlu pulang dan tetap bisa meneruskan sekolah.”

“Jangan!!” Seru Sehun sedikit menjerit. “Maksudku..biar aku saja yang pulang akhir pekan. Eomma tidak perlu repot-repot mengunjungiku ke Seoul. Iya..aku akan pulang akhir pekan saja, kalau begitu.”

Nyonya Oh kembali tersenyum mendengar perkataan Sehun. “Kau yakin?”

Sehun mengangguk-angguk mantap. Kemudian sadar bahwa eomma tak bisa melihatnya. “Iya eomma. Kau tidak boleh terlalu lelah. Aku yang akan pulang. Lagipula…” Sehun menggigit bibir sebelum meneruskan ucapannya “aku merindukan appa.” sambungnya lirih.

Ada rasa sakit ketika ia mengucapkan kalimat itu. Ia tahu eommanya pasti sudah berkaca-kaca bahkan mungkin meneteskan air mata di seberang sana. Tapi hatinya tak bisa berbohong. Ia memang merindukan appa. Lelaki yang secara tidak langsung telah memberikan ‘kehidupan’ untuknya. Lelaki yang saat ini telah berada di surga.

Sehun merebahkan diri setelah memutuskan panggilan dengan eommanya. Tangannya meraba dada sebelah kiri. Merasakan jantung yang berdetak dengan teratur di tempatnya. Disanalah ia dapat merasakan pengorbanan sang appa.

Sebutir air mata lolos dari manik bening milik Sehun. Ia masih tak bergeming, membiarkan kerinduan ini menyelimuti hati dan pikirannya. Hingga akhirnya ia terlelap masuk ke alam bawah sadar.

Nan bogoshippo, appa…..

.

-xoxo-

.

Yoona mengusap puncak kepala Luhan yang berada di pangkuannya. Membelai dengan segenap kasih sayang. Sisa air mata masih menghiasi wajah anggunnya. Tapi ia tak lagi menangis. Ia berusaha tegar untuk anak semata wayangnya ini.

“Eomma masih menangisiku?”

Yoona menggeleng, tersenyum tulus walau tak dapat dilihat oleh Luhan. “Eomma pikir kau sudah tidur.”

“Bagaimana Luhan bisa tidur eomma? Hari esok begitu berat.”

Luhan menarik diri dari pangkuan eommanya. Ia terduduk menatap wanita itu. “Boleh Luhan bertanya sesuatu?”

Yoona mengeryitkan kening mendengar ucapan Luhan. “Apa?”

“Kenapa Luhan tak boleh melakukan ini…” tangan Luhan terulur, mengangkat gelas yang berada dua meter dari tempatnya. Secara nalar hal itu tidak mungkin. Tapi tidak bagi Luhan. Ia melakukannya dengan mudah, dengan mengandalkan kekuatan pikirannya.

Yoona meraih gelas yang semakin mendekat. Kemudian meletakan kembali di meja. “Telekinesis.” gumamnya. “Bagaimana dengan ini…”

Praaangg!!!!

Luhan terbelalak. Menoleh ke arah Yoona dan gelas yang telah hancur tersebut secara bergantian. Ia tak percaya. Jadi, eommanya juga—

“Kau tak pernah tahu, kan?” Kata Yoona tersenyum.

“Itu berarti, kekuatan ini?”

“Keturunan. Benar Luhan. Im haraboji memiliki kekuatan kinesis yang diturunkan pada anak cucunya. Eomma telah menduga kau memilikinya, tapi eomma tak tahu kalau kau sudah menyadari bahkan sering menggunakannya.” Luhan meringis mendengar ucapan eomma yang lebih menyerupai sindiran.

“Tapi kenapa eomma melarang?” Tanya Luhan polos.

“Kau tahu cerita kematian Im haraboji?” Yoona balik bertanya. Pertanyaan yang membuat Luhan tak enak hati untuk menjawab. Jadi ia memutuskan untuk sekedar mengangguk.

“Mereka mengatakan bahwa haraboji seorang penganut ilmu hitam. Mereka memfitnah haraboji sebagai dalang di balik kekacauan yang terjadi di tempat tinggal kami dahulu. Mereka….mereka membunuh haraboji dan halmoni di depan mata eomma sendiri.” Pengaduan Yoona yang begitu mengiris akhirnya ia dengar. Ia sendiri tertenggun. Tak menyangka cerita yang sesungguhnya seperti itu.

“Tapi…kenapa? Apa itu ada hubungannya dengan kekuatan kinesis yang haraboji miliki?”

Yoona mengangguk. “Ketika seorang pemilik kinesis tak bisa mengendalikan kekuatannya, itu akan menimbulkan kekacauan bahkan bencana. Kekuatan pikiran merupakan kekuatan yang sangat dahsyat, Luhan. Kau tak boleh bermain-main jika kau tak mau celaka.”

“Jadi, itu alasan eomma selalu mengurung diri jika sedang marah?”

“Mm.” Yoona mengangguk. “Eomma tak mau orang-orang terdekat eomma celaka.”

.

-xoxo-

.

Sehun berangkat sekolah seorang diri. Ia belum berdamai dengan Chanyeol. Namun ia tak berniat untuk meminta maaf terlebih dahulu. Kenapa harus dia yang minta maaf? Toh Chanyeol yang terlampau cerewet hingga menyulut emosinya yang sedang berada di ubun-ubun.

Ia melewati kelas 1A, seperti biasa. Hanya untuk memastikan matanya melihat seseorang di dalam sana. Namun hari ini Sehun tak menemukannya. Di mana dia? Apa dia tak berangkat?

“Mencari seseorang, Oh Sehun?”

Sehun terlonjak mendengar seseorang tiba-tiba berseru. Namun sedetik kemudian ia kembali pada ekspresi datar andalannya.

“Ck! Tak usah sok jual mahal seperti itu, anak nakal. Bukankah seharusnya kau meminta maaf padaku?” Sambungnya.

“Huh? Aku?”

Chanyeol mengangguk. Sebenarnya ia tak membutuhkan kata maaf dari sahabatnya yang keras kepala itu. Chanyeol sudah melupakan kekesalannya , ia hanya ingin menggoda Sehun.

“Apa perlu ku adukan pada Oh ahjumma bahwa anak kebanggaannya ini semakin kurang ajar pada orang yang lebih tua?”

“Kau pikir kau setua apa, huh? Beraninya mengadu!” Gerutu Sehun. Chanyeol tersenyum geli melihat ekspresi sahabatnya yang terlihat kesal. Ia kemudian merangkul Sehun untuk kembali menggodanya.

“Jadi kau benar-benar tak mau meminta maaf?” Ancamnya sambil menusuk-nusuk pinggang Sehun hingga berjengit.

“Yak! Hyung, jangan gelitiki aku!”

“Kalau begitu minta maaf.” Ucap Chanyeol tanpa menghentikan aktivitasnya.

“Hyuung..haha..arraseo arraseo. Aku minta maaf, puas?”

Chanyeol nyengir lebar. “Sangat!”

“Ngomong-ngomong, kau sendirian?”

Pertanyaaan Sehun membuat Chanyeol mengeryit. “Tentu saja, apa kau berharap aku bersama seseorang?”

“Tidak, hanya saja—“

“Hei…Luhan!” Sehun menelan kembali ucapannya ketika Chanyeol menyerukan sebuah nama. Ia menoleh, mengikuti arah pandang Chanyeol dan menemukan ‘refleksi’ dirinya sedang berjalan bersama teman sekelasnya, Yixing.

“Oh, Hai Chanyeol, hai…Sehun.” Luhan menjawab dengan senyum sedikit dipaksakan.

“Ada apa dengan raut wajahmu? Kau sakit?” Tanya Chanyeol menemukan Luhan yang tidak bersemangat hari ini. Luhan hanya menggeleng lemah.

“Biarkan Luhan beristirahat hari ini, Chanyeol. Dia harus mempersiapkan diri masuk perusahaan nanti siang.” Yixing yang sedari tadi diam angkat bicara.

“Perusahaan? Untuk apa? Apa dia…?” Chanyeol menelan ludah sebelum melanjutkan pertanyaannya. Tak percaya jika yang akan ia ucapkan nanti itu benar. Namun Yixing mengangguk.

“Dia akan mengambil alih posisi tuan besar.”

Mata mereka melebar, bukan hanya Chanyeol, Sehun juga ikut terperanjat mendengar penuturan Yixing.

“Sudahlah, Yixing. Jangan bahas itu lagi. Aku akan masuk ke dalam kelas, bye.” Lambaian tangan Luhan mengakhiri percakapan sebelum ia menghilang ke dalam ruang 1A. Mereka tak lagi bicara, Yixing juga melenggang menyisakan dua bersahabat yang masih terdiam.

“Kau kenapa? Apa kau juga mengkhawatirkan Luhan sepertiku?”

Sehun menoleh mendapat pertanyaan menyelidik dari Chanyeol. Wajahnya masih datar. “Lupakan..” Sahutnya sambil melangkah pergi.

.

-xoxo-

.

Sehun tak berniat kembali ke ruang kelasnya. Hari ini mata pelajaran pertama di mulai, namun ia tak mau repot-repot mengikuti ketika hatinya tak berkenan mengikuti. Ia masih seperti dulu, melakukan apapun yang ia suka tanpa peduli kekacauan yang ditimbulkan. Persetan dengan guru-guru yang akan menegurnya, persetan dengan Kris yang akan menghajarnya. Ia hanya sedang ingin sendiri.

Langkah kaki membawa Sehun menuju loteng sekolah. Sepi, tempat ini jarang terjamah karena letaknya yang berada di puncak gedung. Ia mendudukan diri di atas kursi usang, membiarkan seragamnya menyentuh debu yang sedikit tebal.

Kau bukan anak kandung eomma, Sehun. Tapi percayalah, eomma dan appa menyayangimu seperti darah daging eomma sendiri

Pengusaha terkenal yang kau lihat beritanya di televisi, itu..dia…orangtuamu

Sehun, jangan menangis sayang, walau mereka menyia-nyiakanmu, kami tak akan melakukannya

Ya, dia saudara kembarmu

Angin berhembus begitu kencang seiring perasaan bergemuruh di hati Sehun. Kilasan-kilasan masalalu bagai film yang diputar secara acak di kepalanya. Sedih, marah, kecewa, semuanya terangkum menciptakan gejolak yang berimbas pada udara yang bergerak kencang di sekitarnya.

Sehun mengatupkan kedua matanya, berusaha mengontrol emosi agar tak menimbulkan hembusan angin yang lebih kencang. Ia sadar benar, jika dibiarkan, angin ciptaannya itu akan menimbulkan bencana yang menggemparkan.

Lambat laun keadaan sekitar mulai normal, ia menghembuskan nafas panjang sebagai wujud rasa lega.

“Berani membolos?”

Damn! Suara itu membuatnya mengutuk dalam hati. Namun ia masih mempertahankan posisi tanpa susah payah menjawab.

“Yak! Jangan pura-pura tidur seperti itu! Dasar anak nakal!” Sebuah tangan mendarat di telinganya lalu menariknya hingga Sehun berdiri.

“Hyung..yak! Appo!” Jeritnya kesal. “Lagipula siapa yang berpura-pura tidur. Aku hanya ingin mengistirahatkan pikiran.” gerutunya.

Kris yang masih mengenakan pakaian olahraga lengkap mendelik mendengar jawaban Sehun yang sangat santai. “Untuk apa diistirahatkan? Bahkan kau tak pernah menggunakan otakmu sekalipun. Dasar bodoh!”

“Yak! Kau mengataiku dua kali di waktu bersamaan. Tega sekali!”

“Wae? Kau memang nakal, bodoh, dan sulit di atur.”

Sehun manyun mendengar umpatan Kris yang sudah sangat sering ia dengar. “Tapi, bagaimana kau bisa tahu aku disini? Jangan-jangan kau stalkerku, hyung?”

Jitakan keras mendarat di kepalanya ketika Sehun menyelesaikan kalimat itu. Membuatnya kembali berteriak kesal. “Yak!”

”Kau tak sadar tempat ini terlihat sangat jelas dari lapangan basket, huh? Nah, sudah kubilang kau ini bodoh. Cepat masuk ke kelasmu, asah otak tumpulmu itu.”

“Hyuung.. kau menghinaku sangat berlebihan. Shierro! Aku marah padamu!” Sehu memalingkan wajah sambil melipat tangannya. Membuat Kris memutar bola mata.

Kris meraih handphonenya, kemudian bersiap menelephone seseorang. “Baiklah kalau begitu. Lebih baik aku beri tahu Oh ahjumma saja.” Ucapnya santai namun syarat ancaman.

“Arraseo..arraseo.” Sahut Sehun cepat. Ia memang tak suka jika eomma tahu sikap buruknya di luar. Jadi, ia memutuskan mengikuti perintah Kis agar tak diadukan. “Kau dan Chanyeol sama saja. Beraninya mengadu!” Gerutunya sambil berlalu.

“Panggil dia hyung!”

.

-xoxo-

.

Suasana perusahaan milik keluarga Jung terlihat berbeda dari biasanya. Para pemegang saham yang tak pernah muncul sebelumnya terlihat berbondong-bondong menuju ruang pertemuan. Mereka tegang, menantikan pemimpin baru yang diketahui masih sangat muda. Bahkan usianya belum genap tujuh belas tahun.

“Tenang Luhan. Kau bisa.” Batin Luhan ketika menginjakkan kaki di dalam gedung yang menjadi simbol kejayaan keluarganya. Penampilannya saat ini sangat berbeda dengan dengan penampilan saat ia berada di lingkungan sekolah. Luhan mengenakan kemeja berwarna putih, dipadu dengan jas hitam yang menambah kesan elegan pada dirinya. Sementara untuk celana, ia hanya memakai jeans hitam yang tidak terlalu ketat agar tetap menampilkan dirinya yang masih remaja.

“Kau siap?” Tanya Yoona di sampingnya. Luhan menoleh, lalu mengangguk sebagai pertanda kesiapannya.

.

-xoxo-

.

Pertemuan berjalan lancar. Luhan menghembuskan nafas lega setelah berjam-jam merasakan sesak akibat tekanan yang ia dapatkan dari kolega appanya yang kurang berkenan jika pimpinan diambil alih olehnya, anak yang masih sangat belia. Namun mati-matian Luhan meyakinkan hingga mereka perlahan percaya dan mau memberikan kesempatan untuknya membuktikan diri.

Ia mendesah panjang, masih bersandar di kursinya seorang diri, hingga dirasakan handphonenya bergetar.

From : Chanyeol

Hei, tuan muda. Kau berhasil?

Ayo kita mengerjakan tugas!

Kau tak lupa tugas kelompok

yang diberikan seongsaengnim, kan?

Luhan menepuk keningnya. Kemudian beranjak dari tempat duduk menuju parkiran. Tubuhnya sangat lelah, menuntut untuk beristirahat. Tetapi ia juga memiliki kewajiban yang lain. Mulai sekarang ia tak bisa bersantai lagi. Ia harus bekerja ekstra keras agar pekerjaan maupun sekolahnya tak terbengkalai.

To : Chanyeol

Tunggu aku sebentar lagi

sepuluh menit aku menjemputmu

Luhan memejamkan mata setelah membalas pesan Chanyeol. Membiarkan sopir mengemudi menuju rumah Kris sedangkan ia memutuskan untuk beristirahat sejenak. Sepuluh menit, setidaknya itu bisa mengurangi rasa lelahnya.

.

-xoxo-

.

“Whooaa kau sampai juga di tempat ini.” Seru Chanyeol ketika mendapati Luhan telah berdiri menunggunya di teras. Luhan tersenyum.

“Kita akan mengerjakan tugas ini di mana?” Sambungnya.

“Err,,terserah kau saja.”

“Bagaimana jika kita mencari café yang tidak terlalu ramai? Kau belum makan malam, kan?”

Luhan mengangguk-angguk setuju. Chanyeol benar, ia belum makan dan saat ini perutnya mulai meraung-raung.

“Kajja!” Ajak Chanyeol menyambar tangan Luhan.

“Tunggu.” Tahannya. “Kau membiarkanku memakai pakaian seperti ini sementara kau berdandan sangat keren?”

Chanyeol meringis menyadari kelalaiannya. “Kau mau berganti pakaian? masuklah ke kamarku.”

Luhan kemudian memasuki rumah Kris. Besar dan bertabur barang-barang mewah, namun kemewahan itu masih tak sebanding dengan kemegahan rumahnya sendiri. Luhan berhenti, ia mengangguk mengerti ketika Chanyeol memberi kode yang mengisyaratkan ‘ini kamarku’. Tanpa basa-basi, ia memasuki kamar sahabatnya itu lalu mengunci dari dalam.

Luhan membuka tas ransel yang berisi pakaian gantinya. Secepat mungkin ia menukar dengan baju yang lebih santai. Tak lupa ia mematut diri di cermin yang tersedia sebelum keluar menemui Chanyeol kembali.

Cklek

Luhan menoleh bersamaan dengan Sehun yang terlonjak ketika keluar dari kamar mandi yang berada pada ruangan itu. Keduanya terkejut mendapati satu sama lain. Hingga menyisakan jeda beberapa detik sebelum Luhan membuka suara.

“M-maaf, aku tak tahu kau ada di dalam.”

Sehun tak menghiraukan ucapan Luhan. Ia membuka pintu lemari dan mengenakan baju seolah tak ada siapapun di ruangan itu. Setelah selesai berpakaian, ia mendekat ke sisi Luhan untuk ikut bercermin.

Luhan hanya memandang segala aktivitas Sehun tanpa berani berucap lagi. Sehun membencinya, ia tahu.Tapi ia tidak tahu alasan apa yang membuat anak berwajah sama itu begitu membencinya.

“Wajah kita mirip.” Kata Sehun tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari cermin.

Luhan mengikuti apa yang Sehun lakukan. Memandangi wajah mereka bergantian dengan perasaan heran bercampur senang. Ini pertama kali Sehun berbicara padanya tanpa kebencian. Ini pertama kali Sehun menatap matanya –walau lewat pantulan cermin- tanpa tatapan tajam yang mengintimidasi.

“Kita seperti..saudara kembar.” Sahut Luhan asal. Sedetik kemudian ia menyesali ucapannya ketika melihat perubahan pada raut wajah Sehun.

Sehun tersenyum getir. “Kupikir juga begitu.”

“Sehun…aku kira kau membenciku.”

Pertanyaan polos itu membuat Sehun kembali tersenyum. Kali ini lebih tulus. “Begitu?”

Luhan mengangguk. Namun ia tak mendapati jawaban lagi dari anak di sebelahnya. Mereka kemudian terdiam, cukup lama. Hanya untuk memandangi satu sama lain. Ada rasa hangat ketika mereka sedekat itu. Dan mereka menyukainya.

Beberapa saat kemudian Sehun beranjak. Berjalan menuju pintu meninggalkan Luhan seorang diri. Ia sempat menoleh kembali sebelum benar-benar keluar. “Kuharap bisnis keluargamu selalu sukses. Dan…mari kita berteman.” Ucap Sehun sembari tersenyum. Luhan mengerjap-ngerjapkan mata tak percaya. Pendengarannya mungkin bermasalah. Tapi melihat Sehun tersenyum tulus, buru-buru ia mengangguk.

Sehun kemudian berbalik untuk keluar, meninggalkan Luhan yang kini ganti tersenyum. bersamaan dengan itu, angin sepoi-sepoi menerpa keduanya. Sejuk..dan tenang.

.

.

.

-TBC-

27 thoughts on “Reflection (Chapter 4)

  1. @ElizElfishy berkata:

    Ehm ternyata Sehun udah sembuh ya? Syukur deh. Jantung yg ada di tubuh Sehun itu pengorbanan appa angkatnya kan? Semoga persaudaraan HunHan cepat bersatu deh. Suka liat sikapnya Chanyeol dan Kris. Heheh. Yixing……kesan polosmu hilang disini, tp tk apa, aku tetap suka Lay. Haha

  2. xoxotaem berkata:

    kereeenn thoorr~ ayoo lanjuttttt, eh tapi kenapa tiba2 sehun jadi baik sama luhan?? duh semakin penasaran sama ceritanya ><

  3. Hilma berkata:

    makin seru aja ceritanya.. daebak!!
    jadi sehun udh tahu kekuatannya…
    gak sabar nunggu kelanjutannya..
    next chaptet chingu.. ^^

  4. Byul berkata:

    TBC? BENERAN ITU TBC??? Woahhhhh,,TBCnya cantik bangett! Pengen deh nyuruh om sooman buat makan itu TBC :3

    Lagi asik baca,malah ketemu TBC 😦 AKOH BENCI TBC 😥 😥

    Chapter yg ini keren thor 😀 tpi kenapa sehun tiba2 jdi baik sma luhan? sehun beneran baik kan? gak pura2 kan? iya kan? iya donkk??

    Thor,chapter selanjutnya lebih panjang ye 🙂
    Peliiissssss.. Buiiinngg buuiiingggg ^_^

  5. Ade Zeni Anggraeni - Fanfiction Park Jiyeon ♥ EXO berkata:

    seru nih…. sedikit aneh sehun tiba-tiba baik ke Luhan.

    jangan lama-lama thor oke ? aku tunggu pokoknya.

    Author SEMANGAT 🙂

  6. ramon berkata:

    sehun kalau tenang langsung ada angin sepoi-sepoi asik~ Temenannya yang tulus yang sehunaaaaa jangan jahatin lulu kasiaaaaan

  7. byun_baekgu berkata:

    .makin seru crita.ny. . hehe aph tdk ad baekhyun thor, ,biasa.ny kalau di sini ad chanyeol pzty di sana ad baekhyun. . kekeke #abaikan fighting buat author, , I’m waiting chapter

  8. Shin Seul Gi_99HunHan shipper berkata:

    Wohoo baekan jgga th 2h ffa..zneng dh,,.dbk,mzh nymbg ma mama yagh??ouh jd tau hun ffa uda ggga zkit..mga yunho ffa&yona nni jga bza ktmu ma hun ffa.amin.next dtnggu.cayoo^^

  9. Desyehet berkata:

    Keren keren keren!!! Akhirnya mereka berdua -sehun, luhan- berteman.. Semoga cepet tau deh kalo mereka itu saudara kembar yang di pisahkan/?
    Next chapternya selalu di tunggu~^^

  10. amel berkata:

    jadi sehun juga punya kekuatan kayak luhan? waaa…
    aigoo..sehun kesambet apa ngajakin luan temenan? bukannya dia benci sama luhan? kemajuan sehun.. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s