Edelweis (Chapter 8)

CIMG0155 - Copy(1)

Title                 : Edelweis (Chapter 8)

Author             : Jung Ri Young

Cast                 :-Oh Sehun

-Park Chanyeol

-Byun Baekhyun

-Kim Jongin

-Kim Yeejin (OC)

-Park Yoora (Chanyeol noona)

-Jung Ahra

Genre              : Family, Brothership, Romance, Little Comedy

Rating             : T

Length             : Chapter

Disclaimer       : Member EXO milik Tuhan, Orang tua dan SMEnt. Kecuali Baekhyun milik saya! kekeke

Summary         : “Kau pikir aku seburuk itu?!” || “Lebih, kurasa.” || “Kalian memang paling kompak jika bersekongkol membully-ku!”

 

Chapter sebelumnya : 1 , 2 , 3 , 4 , 5, 6, 7

.

.

Namja berkulit gelap itu mencerkam kerah kemeja biru yang Sehun kenakan. Wajahnya merah padam menahan emosi. Untuk pertama kali, ia melemparkan tatapan mengerikan beserta wajah dinginnya. “Jangan berani-berani menyakitinya, Oh Sehun. Atau akan ku hancurkan wajah tampanmu ini!” Desisnya tajam.

.

-xoxo-

.

Sehun merebahkan diri di atas rerumputan yang terhampar pada bagian belakang universitas. Tempat ini teduh, di kelilingi pepohonan rindang yang cukup untuk menghalau sinar matahari. Selain itu, suasana sepi menambah kenyamanan bagi siapapun yang mendatanginya. Hanya ada beberapa mahasiswa yang sibuk berkutat dengan pekerjaan kampus dan membutuhkan konsentrasi penuh.

Hamparan langit biru menjadi titik fokus iris coklat milik namja berkulit porselen tersebut. Namun titik fokus pikirannya tak lantas mengikuti. Ia terus meyakinkan diri bahwa ia sedang bermimpi. Sekaligus berharap agar segera bangun dan terbebas dari masalah yang kian berkecamuk, membuat kepalanya ingin meledak. Tapi sekeras apapun ia menolak, hati kecilnya tak mampu berkilah. Ia sadar benar bahwa ini bukan mimpi. Ditampah luka lebam di wajahnya yang berdenyut-denyut seolah memberi tanda bahwa semua ini nyata. Kenyataan yang membuatnya geram sekaligus sedih di waktu bersamaan.

Di liriknya benda kecil yang melilit pada tangan kiri. Sudah pukul empat sore. Ia melewatkan dua pertemuan kuliah beserta presentasi yang akan menentukan nilai semesternya. Dan kini seharusnya ia sedang bersiap untuk membuka rapat pertemuan organisasi yang ia pimpin. Persetan dengan semua itu. Hatinya sedang panas. Bahkan mungkin hanya akan semakin memanas jika bertemu dengan salah satu anggotanya.

“Beginikah cara seorang namja tampan menghabiskan waktu luang?”

Sehun menoleh tanpa merubah posisi. Mendapati seorang yeoja tengah mendekat lalu duduk di sampingnya. Yeoja itu menoleh ke arah kiri dan menunduk untuk dapat bertemu pandang.

“Kau datang?”

Yeoja itu mengangguk-angguk pelan. “Tapi sepertinya kedatanganku sia-sia. Pemimpin rapat tidak kompeten.” Sindirnya

“Mianhae, Ahra-ya. Aku sedang banyak pikiran. Kurasa aku tak sanggup memimpin rapat.”

“Hmm..gwenchana, sunbae. Tapi bolehkah aku bertanya mengapa wajahmu babak belur?”

Sehun tersenyum kecut. Mengalihkan pandangan kembali pada hamparan biru di atasnya.

“Aku bisa menjadi teman berbagi, jika sunbae mau.”

.

-xoxo-

.

Baekhyun POV

“Aku harus bagaimana lagi, Baekhyun? Dia diam saja. Dia hanya menangis dan tidak mau mengatakan apapun. Ya Tuhan, kepalaku ingin meledak.”

“Telingaku juga akan meledak jika kau terus-terusan mengoceh seperti itu, Park Chanyeol!” Aku menyambar sebal. Sudah berjam-jam dia berbicara tiada henti, mempertanyakan apa yang terjadi pada Yeejin hingga yeoja yang dicintainya –sekaligus kucintai- itu menangis sepanjang bersamanya.

Chanyeol mendudukan diri pada ranjang yang sedang ku tiduri. Kemudian berdiri mondar mandir sebelum duduk kembali. Begitu seterusnya hingga mataku serasa juling karena ikut memperhatikan tingkah bodohnya.

“Ya! duduk yang benar! Biarkan dia menenangkan diri. Jika dia mempercayaimu pasti nanti akan cerita dengan sendirinya.” Aku mencoba menenangkan.

“Bagaimana jika dia tetap tidak mau cerita?” Tanya Chanyeol was-was.

“Kalau begitu dia tidak mempercayaimu.” Sahutku santai.

Chanyeol mendelik dan hanya ku balas dengan cengiran jahil. “Byun Baekhyun kau sangat tidak membantu!” Umpatnya terang-terangan.

Aku semakin terkikik geli melihat wajahnya yang frustasi. Ku tepuk pelan punggung lebar itu. “Tenanglah, dia pasti baik-baik saja.”

“Kau yakin?”

“Hm.” Jawabku mantap. Sangat berkebalikan dengan hati kecilku.

“Jangan terlalu berlebihan, Chanyeol. Dia juga butuh privasi. Daripada kau terus pusing memikirkannya, lebih baik kita keluar. Kajja, ajak dongsaeng-dongsaeng juga!”

Chanyeol menatapku bimbang sebelum dia menganggukan kepala. “Aku pinjam jaketmu, kalau begitu.”

“Pilih sendiri di lemari.”

Aku ikut beranjak dari ranjang. Mematut diri di cermin sambil merapikan tatanan rambut yang sedikit acak-acakan.

“Sudah?” Tanyaku pada Chanyeol. Memilih jaket saja lama sekali. Toh tidak akan berpengaruh pada wajah bodohnya.

“Baek, ini apa?” Chanyeol berbalik menunjukan kotak coklat dalam genggamannya. Seketika mataku melebar.

“Jangan dibuka!!!” Aku buru-buru melompat ke sampingnya sambil meraih kotak tersebut. Jantungku berdegup kencang. Hampir saja ketahuan. Apa yang harus ku lakukan jika sampai dia membuka dan mendapati foto kekasihnya tergolek di atas edelweis kering yang telah kusimpan bertahun-tahun itu? Aku pasti mati!

“W-wae? Kau mengagetkanku saja!”

Aku hanya mampu membalas dengan cengiran sepolos mungkin. Sambil menenangkan jantung dan nafasku yang masih memburu.

“Ini rahasia, oke?”

“Cih! Kau bermain rahasia denganku? Kemarikan kotak itu. Aku ingin melihat rahasiamu.”

“Bodoh! Aku bilang ini rahasia. Sudah tentu kau tak boleh melihatnya.” Jawabku kesal.

Chanyeol tak sedikitpun mendengarkan. Ia masih berusaha menjangkau kotak kayu yang kupegang erat. “Minggir, Chanyeol! Aissh.”

“Ya..kau pelit sekali, sini lihat.”

“Andwae!”

“Sebentar saja, Baekhyun.”

“Big no! Aaaaah, jangan aaaa hahaha.”

“Haha, kau idiot. Kenapa malah tertawa?” Godanya tanpa dosa.

“Kau menggelitikiku, bodoh!”

Kami masih bergelut sampai tak sadar seseorang mengambil kotak kayu yang sedang kami perebutkan.

“Kalian rukun sekali, hyungdeul.” Seru Jongin santai. Ia merebahkan diri di ranjang sambil menimang-nimang kotak kayu milikku.

“Rukun kepalamu! Kau tak lihat dia menganiayaku?”

“Kemarikan benda itu, Jongin-ah. Aku ingin melihat rahasia Baekhyun.”

Alis Jongin terangkat. “Benarkah ada rahasia di dalam sini?”

Aku menggigit bibir bawah. Berebut dengan Chanyeol saja susah. Apalagi dengan orang ini? Sial!

Jongin mulai tersenyum jahil ke arahku. Membuat Jantungku berdebar tak menentu. Ia menyeringai, membuka pengait yang ada di antara wadah dan tutupnya.

“Jongin!” Aku berseru gugup.

“Wae hyung?”

“Jebal.”

Dia tak menghiraukan. Senyumnya semakin berkembang seolah aku adalah anak kecil yang asyik untuk di goda. Dengan gerakan perlahan ia mengangkat penutupnya.

Tidak boleh, dia tidak boleh tahu! “KAU BERHUTANG PADAKU TENTANG EOMMAMU, KIM JONGIN!!” Seruku kalap ketika dia mulai membuka benda sakral itu.

Terlambat!

Dia membukanya.

Dia melihatnya. Pasti!

Raut muka gelisahku sangat berbanding terbalik dengan muka datarnya. Aku menunggu, berusaha mengantisipasi kehebohan yang akan ditimbulkan.

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

“Tidak ada apa-apa.”

“MWO???” seruku dan Chanyeol bersamaan. Tidak mungkin. Jelas-jelas aku tak pernah memindahkan. Kenapa bisa tidak ada?

“Ya! Kau bilang ada rahasia. Dasar pembohong!” Hardik Chanyeol padaku. Aku sendiri bingung.

“Sudahlah, hyung. Daripada kalian memperebutkan sesuatu yang tidak jelas, lebih baik kita mencari makan di luar. Perutku sudah protes dari tadi.”

Chanyeol mengangguk setuju. “Hubungi Sehun, kalau begitu.”

Sedangkan aku masih diam tak mengerti. Apa kotak itu benar-benar kosong? Atau Jongin hanya berpura-pura?

“Baekhyun ayo!”

.

-xoxo-

.

“Mianhae, hyung. Aku sedang tidak enak badan. Lain kali saja aku ikut bersama kalian.”

“Begitu? Yasudah kau istirahat saja di rumah. Cepat sembuh, Sehunnie.”

Klik

“Sehun sakit?” Chanyeol bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan malam kota Seoul.

Aku mengangguk. “Bagaimana jika kita makan di tempat Sehun saja? Sekalian menemaninya. Dia pasti sangat bosan tidak bisa keluar.”

“Tapi kan dia butuh istirahat, hyung. Jika kesana kita hanya akan mengganggunya.”

“Hei, sejak kapan anak itu merasa terganggu oleh kita? Ayolah..kau tidak kasihan pada soulmate-mu itu?” Tanyaku heran.

“Baiklah kalau itu maumu, hyung. Ayo kita kesana.”

Aku tersenyum, lalu menyuruh Chanyeol untuk segera menuju rumah Sehun setelah membeli beberapa makanan. Dia pasti senang.

Rumah Sehun sepi, seperti biasa. Hanya ada Yoon ahjumma yang menyambut kedatangan kami. Chanyeol memberikan bungkusan makanan untuk dipindahkan ke piring agar bisa kami santap.

“Bawa saja nanti ke kamar Sehun, ahjumma.”

“Baik.”

Kami langsung menuju lantai dua. Membuka pintu kamar Sehun yang tak terkunci dan hanya menemukan gundukan selimut di atas ranjang. Chanyeol langsung melompat untuk tiduran sedangkan aku dan Jongin duduk di sofa.

“Kau tidur, Sehunnie?”

“Hmm” Jawabnya dari balik selimut.

“Kajja kita makan. Aku membawa spagetti kimchi dan beberapa hanwoo.”

“Kalian habiskan saja. Aku baru saja makan.”

“Ya! Kau tak menghargai usaha kami? Adik macam apa kau ini!” Chanyeol bersungut-sungut di sampingnya. Ia mnyingkap selimut yang membungkus tubuh panjang Sehun.

“Aissh!! Hyung aku mengantuk.”

“Sehun kenapa dengan wajahmu?” Seketika aku mendekatinya. Wajah tampannya berhiaskan lebam-lebam yang cukup parah. Ditambah kulit putih yang ia miliki memperjelas luka yang sepertinya masih baru.

Chanyeol dan Jongin ikut memperhatikan. “Kau berkelahi? Dengan siapa? mengapa tidak bercerita? Ya! Jika Yoora noona tahu aku pasti mati, tak dapat menjagamu dengan baik.”

“Kalau begitu jangan beritahu dia, oke?”

“Kalau begitu kau juga harus cerita, oke?”

“Hyuuung… kau licik sekali.”

Sehun kembali bergelung dengan selimutnya. Tak mempedulikan kami yang masih mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.

.

-xoxo-

.

Author POV

“Oppa tidur di sini?” Tanya Yeejin antusias pada seorang namja berkulit gelap yang baru datang. Ia memeluk Yeejin, kemudian mengusap kepalanya sebelum menjawab.

“Hmm.”

“Ah, senangnya. Kalau begitu tunggu sebentar. Aku siapkan kamar untuk oppa.”

“Eomma di mana?”

“Sudah tidur, oppa.” Serunya dari dalam.

Namja itu mengikuti Yeejin ke dalam kamarnya yang sedang di bersihkan. Ia duduk di sebuah kursi sambil memperhatikan adiknya bekerja.

“Sehun tak mengganggumu lagi?”

Yeejin menoleh. Mengembuskan nafas lalu menggeleng. “Bukankah oppa yang mengancamnya? Dia pasti tak akan melakukannya lagi.”

“Benarkah? Percaya diri sekali kau.”

“Tapi wajah oppa saat itu mengerikan sekali, sungguh.”

“Oh Sehun akan melakukan apapun jika dia merasa terganggu. Apalagi jika menyangkut sahabat-sahabatnya. Jadi kau jangan banyak ulah. Aku tak tega jika harus menghajarnya untuk kedua kali.”

Yeejin mengangguk-angguk paham. Tak berniat untuk membantah ucapan kakak kandungnya. Ia keluar sambil membawa selimut kotor yang tak terpakai. Meninggalkan namja itu untuk beristirahat.

.

-xoxo-

.

Baekhyun bersenandung mendengarkan musik yang menggema melalui headphonenya. Sesekali tersenyum ramah pada setiap orang yang ia kenal. Koridor kampus sudah mulai ramai. Tapi ia sama sekali belum melihat ketiga makhluk tiang listriknya.

“Apa mereka tak ada jadwal kuliah?”

Ia terus melangkahkan kaki. Berniat menuju ruang musik sambil menunggu jam kuliah dimulai. Masih sekitar dua puluh menit. Ia dapat bersantai sebentar.

Tak seperti yang Baekhyun duga, ruang musik ternyata masih ramai. Beberapa mahasiswa semester awal sedang di beri bimbingan oleh seorang dosen paruh baya. Baekhyun berdiri di seberang jendela. Ikut menyimak pelajaran yang telah ia kuasai dengan baik.

“Kebetulan kau datang, Byun Baekhyun.” Ucap dosen itu ketika kelas berakhir. Baekhyun menunduk hormat lalu menyunggingkan senyum ramah.

“Aku memiliki tugas untukmu.”

“Nde?” Baekhyun tak mengerti.

“Kau lihat hoobae-hoobaemu barusan? Mereka masih sangat payah dalam penyusunan aransemen lagu. Banyak yang masih harus diajarkan. Kau bisa membantuku mengajari mereka?”

“Naega?” Tunjuk Baekhyun pada diri sendiri. Dosen itu tersenyum, mengiyakan pertanyaannya dengan sebuah anggukan.

“Kau berbakat. Aku tahu kau bisa melakukannya.”

“Tapi..seongsaengnim..apa itu tidak apa-apa?”

“Hm.” Dosen itu kembali mengangguk. “Carilah referensi di perpustakaan untuk membantumu.”

.

-xoxo-

.

Baekhyun langsung melesat menuju perpustakaan. Ia sedikit gugup mendapatkan tugas seberat itu. Tetapi mau bagaimana lagi? Dosen sudah mempercayainya. Ia hanya bisa berusaha melakukan yang terbaik agar tidak mengecewakan.

Beberapa kali ia memilih buku. Menimbang-nimbang yang mana yang harus ia pinjam. Karena masih bimbang, ia memutuskan membaca sekilas isinya terlebih dahulu.

Langkah Baekhyun terhenti saat ia hendak menuju meja yang digunakan untuk membaca. Diantara mahasiswa yang sedang fokus menekuni bacaan, ia melihat seseorang yang cukup familiar. Baekhyun berfikir sejenak, kemudian memutuskan untuk tetap menuju tempat itu tanpa mempedulikan orang yang mungkin akan mengganggu konsentrasinya.

Benar saja, Baekhyun tak bisa berkonsentrasi walaupun ia telah berusaha keras. Ia menghela nafas panjang, menyerah, kemudian merapikan buku-buku yang telah berserakan di atas meja.

“Apa aku mengganggumu, oppa?”

Suara lembut itu terdengar di telinga Baekhyun. Membuat tangannya berhenti bergerak. Tapi sedetik kemudian ia melanjutkan pekerjaaan tanpa mempedulikan yeoja yang bertanya padanya.

Baekhyun hendak pergi ketika yeoja itu kembali membuka suara. “Kau menghindariku?”

Baekhyun berhenti namun masih memunggunginya. Ia hanya memalingkan wajah ke samping, tanpa benar-benar melihat wajah orang yang bicara di belakang sana. “Bukankah ini yang kau mau, Kim Yeejin?”

Yeejin tertenggun, tak menyangka Baekhyun akan bersikap sedingin ini. Ia tak lagi menahan mantan kekasihnya pergi. Hanya memandang lirih pada punggung yang pernah menjadi sandarannya itu menjauh dan hilang dari pandangan.

“Jangan menangis, Yeejin-ah. oppa benci kau menangis.” Bisik seorang namja yang sedari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan.

.

-xoxo-

.

“Hyung, dari mana saja kau? Aku mencarimu, tahu.”

“Wae? kau rindu tak melihatku sebentar saja?” Baekhyun tersenyum menggoda.

“Cih, percaya diri sekali! Tapi ngomong-ngomog itu apa yang kau bawa?”

“Buku.”

Sehun memutar bola matanya. “Aku tahu itu buku, tapi untuk apa?”

“Aku membantu seongsaengnim mengajar, mulai besok.”

“Jinjja? Ah, sayang sekali. Padahal aku ingin privat denganmu sepulang kuliah.”

Jawaban Sehun membuat Baekhyun menaikan alisnya sebelah. “Privat?”

“Aku ingin membuat lagu, hyung. Chanyeol hyung tak mau mengajariku.” Gerutunya.

“Apakah di jurusan bisnis ada tugas kuliah ‘membuat lagu’, eh?” Sindir Baekhyun.

“Apakah membuat lagu harus selalu menjadi tugas kuliah, huh?”

Sehun mengerucutkan bibir. Sepertinya hyungnya ini tak berbeda dengan yang satunya. Menyebalkan.

“Lalu untuk apa?”

“Err…”

“Kau ingin membuatnya untuk seseorang?”

“Ti..tidak.”

“Wae? apakah kau sedang salah tingkah?”

“Ya, hyung! itu kata-kataku saat mengintrogasimu dulu. Kau mau balas dendam?”

Kentara sekali Sehun sedang menyembunyikan kegugupannya dengan marah-marah tidak jelas. Baekhyun terkikik. Memandang Sehun dengan tatapan geli. Ia tahu persis siapa Sehun. Adik kecilnya itu bukan tipe anak yang gampang tertarik pada lawan jenis. Dan sekarang apa? Sehun jatuh cinta? Bahkan membayangkan saja membuatnya ingin tertawa.

“Berhenti berfikir yang tidak-tidak, hyung! Belum tentu itu cinta!”

“Siapa yang bilang itu cinta? Aku hanya bertanya apakah kau akan membuatnya untuk seseorang atau tidak.” Skakmat. Baekhyun benar-benar membuat darah mengalir ke pipi Sehun. Wajahnya memerah. Menahan malu akibat kesalahannya sendiri.

“Ada apa? hah? siapa yang jatuh cinta?” Tiba-tiba Chanyeol dan Jongin datang. Mereka langsung mendudukan diri dan bertanya dengan antusias mendengar topik ‘percintaan’ yang menurutnya menarik.

“Uri Sehunnie, tentu saja.”

“Mwo? ya, siapa? siapa yeoja yang tak beruntung itu?”

Sehun mendelik mendengar ucapan Chanyeol. “Kau pikir aku seburuk itu?!”

“Lebih, kurasa.” Sahut Jongin dari seberang.

“Kalian memang paling kompak jika bersekongkol membully-ku!”

“Hahaha, aigoo, uri Sehunnie lucu sekali. Ngomong-ngomong kami kesini untuk mengajakmu bermain basket. Bagaimana? Kau mau? Badanku hampir kaku karena lama tak berolahraga.” Baekhyun tahu persis pertanyaan itu hanya berlaku untuk Sehun. Jadi, ia tak merespon dan hanya memperhatikan mereka.

“Kau tak lihat di wajahku masih banyak luka? Shierro! Tak punya perasaan!”

“Jangan banyak berkilah, adik kecil. Bermain basket tidak memakai wajah. Tapi memakai kaki dan tangan. Jadi, tak ada alasan untuk menolak. Kajja!”

Chanyeol menyeret tangan Sehun paksa. Diikuti Jongin yang tertawa di belakangnya. Mereka berjalan dengan kehebohan yang membuat seisi kantin memperhatikan.

Anak-anak idiot.

Batin Baekhyun yang sedari tadi memperhatikan punggung ketiga sahabatnya. Ia menggelengkan kepala lalu kembali menekuni bacaan yang sempat tertunda.

.

-xoxo-

.

Hampir satu jam berlalu. Namun Baekhyun masih mempertahankan posisi duduk di bangku kantin seorang diri. Wajahnya tertutup buku tebal yang sedari tadi ia tekuni. Mencerna baris demi baris untuk menambah wawasannya sebagai bekal bahan ajar esok hari.

“Sepertinya hari ini kita banyak bertemu.”

Suara itu terdengar di telinga Baekhyun, memecahkan konsentrasi yang susah payah ia bangun. Baekhyun mendesah. Sedikit mengutuk pada takdir yang selalu mempertemukan dengan yeoja yang ingin sekali ia lupakan.

“Bolehkah aku duduk disini? Ku rasa meja ini terlalu besar jika dipakai seorang diri.” Lanjut yeoja itu. Baekhyun hanya mengintip sekilas dari balik buku, kemudian mengangguk seadanya.

“Kau dingin sekali, oppa.”

“Makanlah, aku sedang berkonsentrasi.”

“Geurrae? Kau berkonsentrasi? Tanya Yeejin ragu.

Dan benar saja, Baekhyun tak sedang melakukan apa yang ia katakan padanya. Baekhyun sedang menggigit bibir bawah. Berusaha mengendalikan hati dan pikirannya yang selalu berkecamuk jika berdekatan dengan yeoja ini.

“Hari ini cerah sekali. Maukah kau menemaniku mengobrol di luar?”

“Aku sibuk, Kim Yeejin.” Sambar Baekhyun cepat.

“Hanya itu?”

Baekhyun membuang nafas panjang, kemudian nurunkan buku yang menutupi pandangannya sehingga ia dapat melihat wajah lawan bicaranya.

Cantik. Dia masih sama seperti dulu.

“Chanyeol akan berprasangka buruk jika melihatmu berdua denganku. Tidakkah kau memikirkan itu?”

“Chanyeol oppa sedang pergi bersama Jongin dan Sehun sunbae. Aku tahu betul.”

“Lalu? kau berniat bermain petak umpet dengannya?” Sahut Baekhyun memiringkan kepala.

Yeejin tak mempedulikan pertanyaan Baekhyun. Ia terus berucap. “Ada yang ingin ku katakan padamu, oppa. Sekali ini saja, ikutlah denganku.”

“Katakan di sini saja.”

“Tidak bisa. Tempat ini terlalu ramai. Aku hanya ingin berbicara empat mata.”

“Kalau begitu aku juga tidak bisa.” Sambar Baekhyun sambil kembali mengangkat bukunya.

“Baekhoney…jebal!”

Ada rasa sakit yang menyelimuti hatinya ketika Yeejin merengek sambil memanggilnya seperti itu. Panggilan sayang yang Yeejin tujukan padanya ketika mereka masih bersama. Panggilan sayang yang membuatnya tersipu karena di olok-olok teman-teman sekelasnya. Dan panggilan sayang yang sudah lama tak ia dengar. Lebih dari itu, ternyata Baekhyun rindu. Dia merindukan dipanggil seperti itu oleh orang yang paling ia cintai.

“Hanya sekali ini saja.” Putus Baekhyun akhirnya.

Yeejin tersenyum bahagia. Ia mendahului Baekhyun beranjak meninggalkan kantin, berjalan menuju taman belakang kampus yang cukup sepi.

Baekhyun yang menyadari arah tujuan Yeejin buru-buru menyambar tangan mantan kekasihnya itu. “Jangan ke arah situ.” Serunya.

“Wae?” Yeejin sedikit terkejut.

“Chanyeol berada di gedung olahraga indoor. Aku tidak mau dia melihat dan salah paham.”

Yeejin kemudian mengangguk. Membiarkan dirinya di tarik ke arah berlawanan oleh Baekhyun. Diam-diam, ia mengeratkan pegangan pada tangan namja yang sibuk mencari tempat yang tepat untuk mereka bicara.

.

-xoxo-

.

Baekhyun tak habis pikir mengapa ia mau menuruti permintaan Yeejin. Otak dan hatinya tak bisa bekerja sama. Di satu sisi otaknya masih memikirkan bahwa yeoja di sampingnya ini adalah kekasih Chanyeol, sahabatnya sendiri. Namun di sisi lain hatinya mengatakan berbeda. Ia menginginkan Yeejin. Ia masih sangat mencintainya. Tak peduli dengan yang lain.

Kenyataan bahwa mulut lebih berpihak pada hati ketimbang otaknya membuat ia sedikit menyesal. Tak seharusnya ia berada di sini. Duduk berdampingan dengan kekasih orang di bawah pohon rindang yang berada tak jauh dari area parkir.

Mereka masih belum berbicara. Hanya terdiam sambil masing-masing memandang lurus pada arah depan. Baekhyun tak berniat memulai percakapan. Ia hanya menunggu sampai Yeejin berbicara, kemudian selesai dan pergi. Setidaknya hanya itu yang bisa ia lakukan agar tak semakin merasa bersalah pada Chanyeol.

Lama. Mereka semakin tenggelam dalam dunia masing-masing tanpa sepatah katapun terdengar. Tanpa Baekhyun duga, tiba-tiba Yeejin menyandarkan kepala pada bahunya yang bebas. Membuat hatinya kembali berdegup tak beraturan. Namun sebisa mungkin ia tak bereaksi apapun pada perlakuan mantan kekasihnya itu. Baekhyun menutup mata. Mengendalikan perasaan yang kian berkecamuk ketika menyadari bahunya basah. Yeoja di sampingnya bergetar. Tangisnya tertahan dan hanya menyisakan suara isakan memilukan.

“Mianhae, oppa. Jeongmal mianhae..” Lirih Yeejin di sela tangisannya.

Baekhyun tak tahu harus menjawab apa. Lidahnya kelu. Ia memang telah di kecewakan. Tetapi bukankah ia patut mendapatkannya karena telah meninggalkan Yeejin dulu?

Yeejin makin terisak, membuat hatinya serasa di iris-iris. Ia tak tega mendengar senandung kesedihan itu lebih lama lagi. Tangannya terangkat merangkul bahu Yeejin. Menepuk-nepuk untuk meredakan tangis yang tak dapat ditahan. Sedangkan jemarinya yang bebas meraih wajah cantik itu. Menghapus air mata yang terlanjur tumpah seolah sedang berusaha menghapus kesedihan hatinya. Ia tak begitu mengerti mengapa Yeejin menangis sedemikian rupa. Tapi ia sekarang tahu. Yeejin masih mencintainya. Yeejin masih membutuhkannya sebagai sandaran. Dan itu membuat Baekhyun semakin ingin merengkuhnya dalam pelukan.

Uljima, Kim Yeejin. Saranghaeyo…

Tak jauh dari tempat itu, seseorang menyunggingkan senyum melihat mereka berdua. Ia bahagia, bersyukur pada takdir yang kembali membuka jalan untuk mereka. Sedangkan seseorang yang lain melihat pemandangan itu dari balik mobil yang terparkir dengan hati tercabik. Tangannya terkepal kuat, hingga tak terasa kuku-kuku panjangnya telah menancap sempurna melukai lapisan epidermis. Namun darah yang mengalir tak mampu mewakili perasaan hatinya saat ini. Perih.

.

.

.

-TBC-

 

 

Iklan

27 thoughts on “Edelweis (Chapter 8)

  1. Clarissa Tiara berkata:

    Daebak!!! Kira kira yee jin sama sapa ya ?
    Kakak kandung yeejin sapa sih , penasaran saya
    Ini ff kesukaan saya diwp ini seruu banget
    Persahabatan mereka gk putus kan Chingu ? Jangan sampe putus dong , yg ngeliat itu chanyeol ya ?
    Keep writing Thor , panjangin lagi yaa

    • JungRiYoung berkata:

      Ah, gomawo Clarissa :*
      sebenernya udah coba panjangin, eh ujung-ujungnya mentok segitu, apa daya.. /kemudian ditendang/
      next chapt mungkin udah jelas, tunggu saja kelanjutannya,, kekeke~

  2. Suharnila berkata:

    Daebak…,,pnasaran siapa kkak kandung yejin,,jongin kah??kan mereka marganya sama.
    Kira2 yejin bkal sma siapa thor,,n prsahabatan mereka ga akan rusak kan.
    Siapa 2 namja itu,thor…??,,pnasaran….!!!!

  3. bintang dwi ananda berkata:

    jongin kk kandung yejin kan? hahhhh jgn smp mrk musuhan ne? sehun kok ngga mrh dipukul jongin? ahh msh bnyk puzzle yg blm ketutup!!!!! next ditunggu^^

  4. XingXingGe berkata:

    Tao. Kakak kandung yeejin itu Tao ya?
    Adoh. Klo Chanyeol yg lht mrk berduaan bakal berantakan ini.
    Kasihan. Terakhirny pasti ad yg tersakiti.
    Tapi aku tetap penasaran nih.
    Lanjut ya thor 😀

  5. indahtentiana berkata:

    aduh siapa sih kakak kandungnya yejin itu -_- . oh iya author line brp ? biar lbih akrab gitu . kan s
    sma2 punyanya Baekhyun . wkwkwk . btw aku sebel sama yeejin deh . sumpah . aku kira yg nonjok sehun itu kai . eh trnyaata kakaknya . itu yg liat chanyeolkah ? . next chap jangan laamaa yaaaaa :*

    • JungRiYoung berkata:

      author 94 line, satu angkatan ama Sehun, satu kelas (?) dulu sekolahnya, wkw /kemudian dilibas angin topan/
      Kalo indah line brpa?
      ah..ini cerita semakin bikin bingung ya..tunggu chapt selanjutnya aja, oke 😀

      • indahtentiana berkata:

        uwaaaaahh jadi aku panggil eonni ajadeh ya ???? hhee . aku line 97 eon . satu angkatan sama jungkook waktu smp tapi smanya beda karna aku harus balik k indonesia /mimpi ketinggian/ .
        hehe . eonni harus inget ya sama aku ! kan kita sama2 berbagi baekhyun . wkwkwk

  6. ParkJudit berkata:

    MAU LU APAAN YEEJIN?! KESEL GUA AMA LU!! KEMAREN BAEKHYUN YG LU SIKSA, SEKARANG YEOL! LU PUNYA OTAK KAGAK SIH?! KAMPRET LU JADI CEWEK!

    Hemeh, kesel ama si yeejin, itu yg di mobil pasti yeol, yg senyum bahagia itu pasti kakak nya si yeejin!

    Next thor! Daebak ni cerita, tp rada2 bikin gua kesel. -_- Hwaiting thor 😉

    • JungRiYoung berkata:

      demi apa Judit aku selalu ketawa guling2 kalo baca komenmu :3 😀 wkw
      next udah jelas deh dan semoga ga bikin kesel lagi, hehe

  7. Chanchan_Hwang berkata:

    kakak yeejin itu siapa??? hitam!!?? nugu???
    yeejin itu mempermainkan BaekYeol apa hanya suka Baek
    Baek terhanyut sama Yeejin
    yang seneng itu kakaknya yeejin
    yang marah siapa??? yeollie??

    yeejin sama baek sihh aku seneng tp nasib yeol??
    aku gregetan sama yeejin
    ya Allah!!!

  8. Chanchan_Hwang berkata:

    kakak yeejin itu siapa??? hitam!!?? nugu???
    yeejin itu mempermainkan BaekYeol apa hanya suka Baek
    Baek terhanyut sama Yeejin
    yang seneng itu kakaknya yeejin?
    yang marah siapa??? yeollie??

    yeejin sama baek sihh aku seneng kalo yeejin hanya suka baek tp nasib yeol??
    aku gregetan sama yeejin
    dia mau apaan???!!!! mempermainkan BaekYeol apa hanya suka Baek???!!!!!
    kalo dia hanya suka Baek kenapa Yeol di sangkut pautin!!!!!! mending yeejin di telen bumi aja thor!! HAHAHA
    ya Allah!!!

  9. littlecheonsasss berkata:

    Aduh lama banget baru aku komentarin -_-. Maaf thor quota habis jadi baru bisa comment :3

    Kakaknya Yeejin siapa sih? Tao? Tapi marga Tao kan Huang..

    Dan aku rasa yang memandang dengan senyum bahagia itu Sehun, sedangkan yang di parkiran itu Chanyeol. Semoga benar 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s