SECOND ▬ CROOKED

CROOKED
Author  : SEN-SMIT

Tittle : SECOND ▬ CROOKED

Tag (Tokoh) : Tao, Juniel and Others.

Genre : Romance, Friendship, Hurts, etc.

Length : One-Shot

Note : “Ini hanya sebuah cerita karangan yang terinspirasi dari lagunya G-Dragon – Crooked. Selebihya murni bayangan saya. Kalau ada kesamaan kata, tokoh, dan jalan cerita, saya mohon maaf. Karena saya juga tidak bermaksud menjiplak karya anda yang memang merasa cerita ini sama dengan karya anda. Itu hanya ketidaksengajaan bila benar-benar terjadi. Saya terinspirasi dari lirik lagu CROOKED-nya G-Dragon.

 

Dan untuk cerita yang sebelumnya, LOVE FALLS. Itu juga di share di blog pribadi saya, idsnsmt.blogspot.com . Jadi cerita ini juga akan di share di blog pribadi saya. Terimakasih untuk OhMiJa yang udah share cerita ini dan juga semua yang udah baca cerita saya. Terimakasih.”

 

 

 

▓▓▓Crooked▬Start▓▓▓

 

Café ini tidak pernah berubah. Ini sudah tahun ke tiga dari hari dimana aku dan Juniel menjadi sepasang kekasih. Selama tiga tahun itu juga aku dan Juniel baik-baik saja. Banyak kisah yang sangat menyenangkan yang tak bisa aku ceritakan karena aku begitu bahagia.

 

Seperti biasa, aku, Chanyeol dan Kyungsoo selalu menyempatkan untuk berkumpul disini. Tapi lihatlah, kali ini Kyungsoo kembali terlambat. Entahlah, aku tidak tahu. Sudah beberapa kali acara berkumpul kami, Kyungsoo selalu terlambat. Dia bilang dia sibuk.

 

Sibuk apa? Artis saja bukan. Dia hanya penyanyi biasa dikota ini dan sudah setahun yang lalu memutuskan untuk berhenti bernyanyi dengan alasan dia ingin fokus dengan kuliahnya. Sebenarnya aku tidak setuju tapi aku mengerti keadaannya.

 

Tapi tidak dengan Chanyeol, si pria jangkung yang ternyata jago nge-rapp ini sempat marah tiga hari pada Kyungsooo sebelum akhirnya mengizinkannya walaupun masih dengan kesal. Ya menurutnya Kyungsoo tidak perlu berhenti bernyanyi jika hanya ingin fokus dengan kuliahnya. Dan akhirnya aku mengerti Chanyeol hanya tidak ingin kehilangan partner bernyanyi-nya.

 

“Itu dia Kyungsoo!”, seru Chanyeol tiba-tiba menunjuk kearah Kyungsoo yang baru saja membuka pintu café ini. Kyungsoo akhi-akhir ini selalu memakai pakaian serba hitam seperti orang yang sedang berduka cita saja. Dia juga selalu memakai hoodie-nya dan tak pernah mau melepasnya. Itu tidak keren.

 

“Maaf terlambat!”, Kyungsoo langsung duduk disebelah Chanyeol. Dia tidak pernah mau duduk disebelahku sejak aku memukulnya keras karena menggoda Juniel. Apa aku begitu menakutkan? Aku rasa pukulanku waktu itu tidak begitu keras .-.

 

“Semua orang juga tahu kau terlambat. Sebenarnya kau ini kenapa? Setiap kali kita ada pertemuan kau selalu saja terlambat. Bahkan kau tidak bisa kuhubungi selama satu minggu. Aku menyusul ke tempat kuliahmu dan teman sekelasmu bilang kau tidak masuk kelas satu minggu ini!”, akhirnya aku baru tahu kalau Chanyeol memang benar-benar tidak bisa diam. Kenapa dia begitu cerewet.

 

“Kau membolos?”, tanyaku melirik Kyungsoo. Dia hanya menggaruk kepalanya dan meringis.

 

“Em… aku tidak membolos. Hanya saja…”, lihatlah tigkah lakunya yang begitu gugup. Aku jadi merasa aneh dengan Kyungsoo. “Apa?”, tanyaku dan Chanyeol bersamaan.

 

“Aku akan memesan minuman dulu!”, kami hanya diam.

 

†† Crooked ††

 

“Apa?!!!”, aku dan Chanyeol berteriak dengan mata yang melotot kearah Kyungsoo. Kyungsoo menunduk dan dengan santai menikmati minumannya.

 

“Kau tidak bercanda kan? Kau sungguh-sungguh sedang training di SM?”, Tanya Chanyeol masih dengan wajah kagetnya. Kyungsoo hanya mengangguk. “Dan kau merahasiakannya dari kami? Kau benar-benar keterlaluan!”, Chanyeol langsung melipat kedua tangannya didepan dadanya.

 

“Aku tidak bermaksud merahasiakannya. Hanya saja aku harus mencari waktu yang tepat. Aku juga tidak mau memberitahu kalian lebih awal. Aku hanya takut, saat aku memberitahu pada kalian aku diajak bergabung oleh SM aku malah tidak jadi debut. Itu akan sangat memalukan. Jadi ku putuskan untuk memberitahu kalian saat aku akan debut.!”, Jelas Kyungsoo.

 

“Tetap saja kau keterlaluan merahasiakannya. Kau ini sahabat macam apa!.” Chanyeol tetap memalingkan wajahnya dari Kyungsoo, marah.

 

“Jadi, kalau begitu kau akan segera debut?”, Tanyaku setelah mengerti dengan ucapan Kyungsoo. Kyungsoo tersenyum bangga dan mengangguk. Keadaan Café memang sepi karena ini sudah terlalu malam. Jadi kurasa Kyungsoo cukup tenang sebagai seseorang yang akan segera menjadi selebriti.

 

“Iya, Tao. Hanya tinggal beberapa hari lagi aku akan debut solo dengan mini album pertamaku!”, Kyungsoo terlihat sangat bahagia. Aku juga ikut senang melihat Kyungsooo bisa melangkah lebih maju. Jadi dia selalu terlambat berkumpul hanya karena waktu pelatihannya sebagari seorang trainer di SM sangat lama.

 

Dia bahkan bercerita kalau seminggu terakhir ini dia benar-benar harus berlatih keras untuk mini albumnya yang pertama supaya menghasilkan yang terbaik.

 

Kyungsoo tidak memperdulikan Chanyeol yang marah. Dia terus bercerita tentang masa training-nya yang sebentar lagi akan berakhir. Dan pada akhirnya si jangkung ini malah ikut senang dengan semua cerita Kyungsoo. Chanyeol selalu saja butuh waktu untuk bisa mengerti Kyungsoo.

 

“Aku juga ingin membuat mantan pacarku menyesal telah memutuskanku. Jadi aku akan buktikan bahwa aku lebih baik dari yang dia kira. Aku akan membuktikannya!”.

 

Kurasa Kyungsoo benar-benar kesal dengan mantan pacarnya yang tiga tahun lalu mengakhiri hubungan mereka hanya karena Kyungsoo penyanyi jalanan. Hey dia bukan penyanyi jalanan. Dia benar-benar seorang penyanyi. Alasan itu benar-benar tidak masuk akal menurutku.

 

†† Crooked ††

 

Baru kali ini saja aku, Chanyeol dan Kyungsoo bertemu begitu lama. Ya, sekitar pukul dua pagi kami baru pulang. Beruntung café itu buka non-stop, kalau tidak… mungkin saja kami sudah diusir. Aku mengunci pintu dan langsung berbaring di sofa ruang tamu. Hari ini aku merasa ada yang kurang.

 

Aku membuka kunci layar ponselku dan melihat wajah Juniel yang kuatur jadi wallpaper. Dia sangat cantik dan lebih cantik saat aku melihat wajahya secara langsung. Dan…

 

Ya, itu lah yang kurang. Seharian ini aku tidak ada kabar dari Juniel. Bahkan tadi pagi aku tidak mendapat ucapan selamat pagi dari dia, padahal sesibuk apapun Juniel dengan kuliahnya dia tidak akan lupa mengucapkan selamat pagi padaku.

 

Kalaupun dia lupa, dia akan meneleponku saat malam harinya. Tapi… ini sudah pagi yang baru dan itu berarti Juniel benar-benar tidak mengabariku seharian kemarin.

 

Aku jadi khawatir dengan Juniel. Apa terjadi sesuatu yang buruk dengannya? Aku segera meneleponnya. Nomornya aktif tapi kenapa dia tidak mengangkat teleponku? Bodoh! Tentu saja, ini masih pukul dua dan Juniel pasti sedang tidur.

 

Aku menyimpan ponselku asal dan memejamkan mataku untuk tidur. Tapi rasanya sangat sulit, aku benar-benar tak bisa tidur saat otakku terus memikirkan Juniel yang tidak ada kabarnya. Aku bangkit dan menyalakan TV.

 

Sejak di café tadi aku juga merasa tidak enak. Aku merasa akan ada suatu hal yang tidak menyenangkan yang akan terjadi padaku. Aku langsung menepis pikiran itu.

 

“Ayolah Tao! Kenapa aku jadi seperti ini?”, aku mengacak rambutku, pusing.

 

†† Crooked ††

 

Sebenarnya aku malas untuk masuk kerja hari ini. Aku ingin sekali berlari ke rumah Juniel dan bertemu dengannya. Aku sudah mengirimnya pesan dan meneleponnya puluhan kali. Tapi tidak ada jawaban apapun dan teleponku tidak dia angkat. Terakhir kali aku menghubunginya, itu langsung ke mailbox. Menyebalkan.

 

Juniel… kau benar-benar membuatku gila hari ini. Kenapa kau tidak mengabariku seharian penuh? Apa aku berbuat salah padamu? Aku rasa tidak. Bahkan terakhir kali kita bertemu kau masih tersenyum, melambaikan tangan dan mengucapkan hati-hati padaku.

 

“Tao, antarkan pesanan ini! Ini alamatnya!”, Paman Seo meletakkan dua bungkus kue dan selembar alamat didepanku. Aku menatapnya malas.

 

“Cepatlah berangkat!”, seru paman Seo sambil berjalan kearah dapur. Kenapa toko kue kecil ini menerima pesanan? Kenapa juga aku harus bekerja disini? Bukankah lebih enak menjadi karyawan daripada menjadi pelayan?

 

Aku hanya berpikir aku tidak akan terlalu bosan disini karena melihat begitu banyak orang yang tersenyum memakan kue disini. Daripada seharian melihat tumpukkan berkas yang tidak sepenuhnya aku mengerti.

 

Akhirnya aku berangkat dengan lesu. Selama perjalanan pikiranku kosong. Juniel benar-benar membuatku hancur. Apa dia ingin membunuhku? Bisa saja aku mengalami kecelakaan mengendarai motor butut ini hanya karena memikirkan kabarnya.

 

Apa aku keterlaluan? Aku tidak peduli. Yang jelas aku gila karena Juniel. Aku sampai didepan rumah yang… ini sangat mewah. Kau tahu? Seperti dalam film-film, tapi ini nyata. Aku menekan bel yang ada disamping pagar berwarna hitam ini. Tak lama seorang… pembantu -mungkin- menghampiriku.

 

Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil. Kulirik kesamping dan menemukan Lamborghini putih yang benar-benar keren. Seorang satpam berlari membukakan pagar yang ada dihadapanku. Pemalas! dia tertidur sampai pembantu ini berlari kemari.

 

Aku memberikan bungkusan yang ku bawa pada pembantu itu dan berbalik pergi. Sekilas aku melihat seorang pria yang menyetir didalamnya bersama seorang gadis. Gadis itu terlihat seperti Juniel. Aku terdiam. Mobil itu sudah berlalu.

 

Oh ayolah, Tao! Tidak mungkin itu Juniel. Mungkin aku salah lihat. Aku terlalu memikirkannya sampai melihat semua orang seperti Juniel -_- aku benar-benar merindukannya.

 

†† Crooked ††

 

Aku baru pulang kerja sekitar jam 9 malam. Karena merasa bosan dirumah, aku pergi keluar tanpa tujuan. Hanya sekedar melepas rasa bosan. Berkunjung ke sebuah cafe untuk meminum kopi, pergi ke taman dan duduk diam.

 

Aku tidak merasa ingin tidur, kejadian tadi siang masih terbayang. Wajah gadis dalam mobil itu sangat mirip dengan Juniel. Tapi, itu tidak mungkin dia. Aku percaya jika dia tidak mungkin pergi dengan pria lain. Aku tahu dia bukan tipe orang yang suka bergaul dengan pria.

 

Hanya sekedar duduk ditaman, tapi aku tidak sadar jika ini sudah jam dua pagi. Ah, kenapa waktu berjalan begitu cepat? Aku kira ini baru jam dua belas malam?

 

Aku begitu kaget saat mendapati Juniel yang duduk manis diruang tamuku. Dia tersenyum manis kearahku. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang. Aku merasa lega melihatnya baik-baik saja. Tapi aku juga merasa kesal dan marah karena dia sudah hampir membuatku mati.

 

“Kenapa kau terus berdiri disitu? Kau tidak ingin memelukku? Kau tidak merindukanku, ya?”, Juniel memasang wajah cemberutnya. Cukup! Dia ingin aku terus mencubit pipinya apa?

 

Aku berjalan pelan dan langsung menariknya kepelukanku. Ah aku benar-benar merasa tenang sekarang. Banyak sekali yang ingin ku tanyakan padanya. Tapi…

 

“Kau baik-baik saja, kan?”, kalimat itulah yang akhirnya kutanyakan. Aku hanya mengkhawatirkan keadaannya. Juniel mencoba melepaskan pelukanku, mungkin dia kehabisan napas karena aku sadar aku memeluknya sangat erat.

 

“Lepaskan dulu pelukanmu, aku bisa mati!”, aku tidak melepaskannya aku hanya megurangi eratnya pelukanku. Juniel kembali berbicara, “Aku ingin melihat wajahmu, jadi lepaskan pelukanmu!”

 

Aku langsung melepaskan pelukanku dan menatapnya lekat-lekat.

 

“Seharian kemarin aku kacau karena tidak melihatmu.” Juniel memasang wajah sedihnya dan menatapku. Aku juga sama seperti Juniel. Bahkan aku gila tanpanya hanya dalam satu hari.

 

“Kenapa kau tidak bisa ku hubungi?”

 

“Aku lupa menyimpan ponselku dan kamarku benar-benar berantakan. Aku sudah menyuruh adikku untuk mencarinya. Dia adik yang baik.”

 

Aku baru saja akan bertanya lagi tapi Juniel langsung mendorongku kekamar dan menyuruhku mandi. Aku tahu aku berkeringat tapi aku tidak bau kan?

 

†† Crooked ††

 

Perasaanku tidak begitu enak. Entahlah, meskipun saat ini Juniel ada disampingku dan tangannya tak pernah lepas dari genggamanku. Juniel sudah menjelaskan semuanya.

 

Kemarin dia bangun kesiangan sampai mengacak kamarnya dan sama sekali tidak ingat ponselnya ada dimana karena kamarnya yang begitu berantakan. Pulang kuliah, dia hanya mengerjakan tugasnya dikamar sampai malam.

 

Dia habis-habisan minta maaf padaku karena dia kira aku marah. Padahal sudah ku bilang aku tidak marah dan memaklumi apa yang terjadi padanya. Tapi dia tetap merasa aku marah karena wajahku yang terlihat dingin. Mungkin aku lelah.

 

Sebagai permintaan maafnya, Juniel mengajakku ke taman tempat pertama kali kami bertemu. Aku mengiyakan saja. Karena memang aku juga ingin kesana.

 

Sejak duduk dibangku taman ini, aku dan Juniel tidak banyak berbicara. Aku hanya mengelus tangannya dan menikmati saat-saat berdua seperti ini.

 

“Juniel?”

 

“Ya?”

 

“Kau tahu? Tadi aku mengantarkan pesanan kue ke suatu tempat. Dan aku melihat seorang gadis sepertimu. Dia sangat mirip denganmu.” Ceritaku menatap tangannya yang sedang kuelus. Aku suka mengelus tangannya yang lembut.

 

“Benarkah? Itu tidak mungkin aku. Karena seharian tadi aku bersama ibuku ke acara temannya. Jam kuliahku sedang kosong. Dan sepulangnya dari acara teman ibu, aku langsung ke rumahmu.”

 

Aku merasa aneh dengan Juniel. Bukankah dia paling tidak suka menemani ibunya ke acara teman-temannya?

 

“Iya. Aku rasa aku benar-benar gila. Aku melihat semua orang seperti kau. Aku terlalu merindukanmu meskipun hanya satu hari tidak bertemu. Aku terus mengkhawatirkanmu karena kau tidak memberiku kabar. Lain kali jangan ceroboh.”

 

“Maafkan aku…” suaranya sangat pelan. Aku meliriknya.

 

Yaampun, kenapa suasananya sangat canggung seperti ini. “kenapa… jadi begitu canggung? Kau mau ice cream?” Tanpa menunggu jawabannya aku langsung menarik Juniel pergi. Tapi Juniel melepaskan peganganku, dia berhenti dan menatapku datar.

 

“kenapa? Kau tidak mau?”

 

“Apa kau begitu bodoh? Aku tau kau tidak menyelesaikan sekolah menengah atas mu. Tapi itu tidak berarti kau sagat bodoh kan, Tuan Huang?” Juniel menatapku seperti sedang meremehkan.

 

“… maksudmu?” aku hanya menatapnya tidak mengerti.

 

“Kau gila? Ini masih jam 3 pagi. Kita belum makan apa-apa dan kau sudah mengajakku membeli ice cream. Kau ingin aku sakit perut? Lagipula jam segini mana ada ice cream…”

 

“Oh begitu.” Aku berjalan kembali ke arahnya. Juniel menurunkan pundaknya, menghela napas. Aku memang tidak sepintar pacarku, hehe.

 

“aku ingin pulang!”

 

†† Crooked ††

 

Pintu rumahku terbuka dan menampakkan si manusia kerdil yang menyebalkan. Lihat! Dia tersenyum manis kearah kami. Juniel tersenyum kearah Kyungsoo dan melambaikan tangannya. Sedangkan aku dan Chanyeol memasang wajah masam karena benar-benar kesal menunggu dia.

 

Juniel merayakan ulang tahunnya yang ke-20. Tapi bukan perayaan dengan pesta besar, hanya meniup lilin dan memotong kue. Dan itu dirayakan dirumahku, dia juga membawa beberapa makanan.

 

Aku benar-benar kesal pada Kyungsoo. Dia membuatku dan Chanyeol mati kelaparan. Karena juniel tidak mau memulai acara ulang tahunnya -yang kecil kecilan ini- tanpa Kyungsoo.

 

Harusnya Juniel sudah meniup lilin dari jam 00:00 tadi, tapi karena Kyungsoo yang belum datang… semua itu terjadi tidak tepat waktu. Dia baru datang jam 00:53. Aku sudah memberitahu Juniel sebelumnya, mengajak Kyungsoo bukanlah hal yang menyenangkan untuk saat ini.

 

“Aku minta…,”

 

“Aku tidak akan memaafkanmu. Kau tau, Kyungsoo? Kau membuatku mati kelaparan. Juniel tidak mau memulainya tanpa kau. Dan dia juga tidak mengijinkan kami memakan makanan yang dia bawa.” Chanyeol memotong ucapan Kyungsoo dengan umpatan kesalnya. -Chanyeol tau Kyungsoo akan meminta maaf-

 

“Aku membelikan gitar dulu untukmu jadi aku telat datang kemari. Ini untukmu, Chanyeol!” Kyungsoo sedikit kesal menjelaskannya. Sedangkan Chanyeol langsung mengambil gitarnya dengan mata yang berbinar.

 

“Whoa… ini benar-benar keren.”

 

“Dan kau tidak membawa hadiah untukku?” Aku menatap Kyungsoo yang tengah menggaruk tengkuknya yang sudah pasti tidak gatal sama sekali. “Apa aku bisa memakan jatah makannya?” Tanyaku melirik Juniel yang diam disampingku.

 

Hey apa Kyungsoo berpikir karena aku sahabatnya yang sangat memahami dirinya saat dia terlambat dan tidak akan marah dengan mendengarkan semua alasannya, jadi dia tidak membelikan hadiah untukku?

 

Dia hanya memberikan gitar itu untuk membuat Chanyeol tidak marah. Aku tahu itu. Lagipula itu bukan gitar baru, sudah sejak lama dia membeli gitar itu dan karena dia tidak bisa menggunakannya jadi dia menyimpannya didalam sebuah peti -_-

 

“Disini aku yang sedang ulang tahun. Kenapa kau memberi mereka hadiah, oppa?” Juniel menatap Kyungsoo.

 

“Hey, sejak kapan kau memanggilnya seperti itu? Kau bahkan tidak pernah memanggilku seperti itu.”

 

“Memangnya kenapa? Bukankah kau sendiri yang menyuruhku untuk tidak memanggilmu dengan sebutan ‘oppa’ ? kau ini bagaimana sih…”

 

“Bisakah kalian berhenti membahas itu? Itu tidak penting sama sekali. Bagaimana jika sekarang kita mulai? Bukankah kau juga sudah lapar, tao?” Kyungsoo menengahi. Ya, sepertinya itu akan berlangsung lama pikir Kyungsoo. Kyungsoo tau aku dan Juniel selalu membesarkan sebuah hal kecil.

 

“Tidak! Bahkan sebelumnya kau tidak pernah memanggil mereka dengan sebutan seperti itu. Kau selalu memanggil Kyungsoo dengan namanya saja. Kau itu pacarku!”

 

“Lalu kenapa kalau aku ini pacarmu, huh? Itu tidak berarti kau berhak mengatur lidahku kan?” Jawab Juniel ketus.

 

“Karena kau pacarku jadi kau hanya boleh memanggil ‘oppa’ padaku. Tidak pada temanmu yang sudah jelas sebelumnya kau tidak memanggil mereka ‘oppa’. Terutama pada Kyungsoo.”

 

“kenapa? Ayolah tao, kau tidak ingin aku membuang jatah makanmu kan? Aku hanya memanggilnya ‘oppa’ dan itu tidak berarti apa-apa. Lagipula memang seharusnya begitu, dia seniorku.”

 

“Oh begitu? Buang saja makananku. Pokoknya aku tidak suka kau memanggilnya seperti itu. Aku juga seniormu.”

 

“Kau terlalu kekanak-kanakkan. Dan aku juga tidak suka.”

 

“kalau tidak suka kenapa kau mau jadi pacarku, huh?”

 

“Oh ya ampun… haruskah aku menjawab semua itu? Pertanyaan macam apa itu. Kyungsoo oppa, bisakah kau antarkan aku pulang sekarang?” Juniel membuang wajahnya dariku. Ah, bahkan dia tidak mau berhenti memanggil Kyungsoo dengan ‘oppa’.

 

Aku hanya perlu mendengar Juniel berhenti memanggilnya ‘oppa’ dan setelah itu aku tidak akan melanjutkan pembicaraan ini. Atau paling tidak dia mendiamkanku dengan berkata seperti ‘oppa, berhenti membicarakan ini. Aku tidak akan menyebut kyungsoo oppa lagi. Kita mulai acaranya’ . hanya seperti itu. Tapi kenapa dia lebih memilih pulang. Apa aku salah?

 

“Juniel… aku tidak ingin menghancurkan acaramu. Lebih baik kau segera memulainya. Abaikan saja yang tadi dan berhenti memanggilku ‘oppa’. Aku lebih senang kau memanggilku Kyungsoo.”

 

“Kau membela Tao? Baiklah aku pulang sendiri!” Juniel meraih tasnya dan segera berdiri.

 

“Aku tidak membela salah satu dari kalian. Aku hanya mengambil jalan yang baik.”

 

“Aku bisa mengantramu pulang jika kau mau.” Tawar Chanyeol begitu saja. Hahh, apa dia ingin ku penggal kepalanya? Aku masih menyimpan samurai milik pamanku. Tapi kyungsoo langsung memukul kepala Chanyeol dengan tas punggung yang sedang Kyungsoo pegang.

 

“Bisakah kau diam?!!” Titah Kyungsoo datar tapi penuh penekanan. Alih-alih kami sibuk memarahi Chanyeol, siapa yang tahu kalau Juniel sudah tidak ada disini.

 

Oh tidak, aku rasa aku menghancurkan perayaan ulang tahunnya. Aku hanya bercanda, aku hanya ingin bercanda dengannya. Bukan seperti ini.

 

“Kau kenapa? Kenapa kau diam? Kejar Juniel, bodoh!” Tiba-tiba Kyungsoo memukul lenganku pelan. Tanpa menjawabnya, aku langsung berlari keluar dan mengejar Juniel.

 

†† Crooked ††

 

Aku melihat Juniel berdiri didepan pagar rumahnya. Dia hanya diam disana. Entahlah, tapi aku merasa dia begitu menyedihkan.

 

Aku lega dia tidak menghilang. Aku berjalan mendekati Juniel dan langsung memeluknya dari belakang. Aku merasakannya, dia kaget. Juniel mencoba untuk melepaskan pelukanku, tapi aku menahannya.

 

“Lepaskan aku, Tao!”

 

“Lepaskan!”

 

“Aku bilang lepaskan!”

 

“Singkirkan tanganmu… oppa!”

 

Dan kalimat terakhirnya bergetar. Apa dia menangis? Aku langsung melepaskan pelukanku dan membalikkan tubuh Juniel untuk menghadapku.

 

“Kenapa kau menangis? Apa karena aku? Juniel, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Tadi itu aku hanya bercanda. Aku hanya ingin bercanda, bukan mengacaukan acaramu. Tapi kau…”

 

“Lebih baik kau pulang sekarang!”

 

“Kau marah padaku?”

 

“Tidak.”

 

“Kalau begitu ayo kembali dan rayakan ulang tahunmu. Kyungsoo dan Chanyeol pasti menunggumu.”

 

“Aku tidak mau. Lebih baik kau pulang. Aku lelah.”

 

“Aku tidak akan pulang jika tidak bersamamu.”

 

“kenapa?”

 

“Karena kita ini sepasang kekasih. Dan aku harus bisa membuat kekasihku tidak marah dan bahagia. Aku tidak akan pulang sebelum membuatmu senang.”

 

“Kalau begitu kita akhiri saja semuanya. Kita akhiri hubungan ini dan kau bisa pulang tanpa harus membuatku bahagia terlebih dulu.” Juniel berbalik dan membuka pagar rumahnya.

 

Aku menatap punggungnya sementara pikiranku masih mencerna apa yang baru saja dia katakan. Aku baru saja mengerti perkataannya setelah punggung Juniel menghilang dibalik pintu rumahnya yang bercat biru itu.

 

“Apa? Kau hanya bercanda kan, Juniel?”

 

Aku mengerjapkan mataku dan langsung menelepon Juniel. Sial! Kenapa dia mematikan ponselnya.

 

“Juniel! Kau hanya bercanda kan?” Aku berteriak dan berharap Juniel mendengarnya lalu keluar dan memberitahuku kalau semua itu hanya lelucon yang dibuat untuk membuat sebuah kejutan untukku.

 

Tapi harapan itu sepertinya tak akan pernah terwujud. Juniel sama sekali tidak keluar. Bahkan lampu kamarnya langsung dia matikan saat aku selesai berteriak.

 

†† Crooked ††

 

Kyungsoo sudah mulai sibuk dengan kegiatannya menjadi seorang artis. Chanyeol sibuk dengan kuliahnya yang sudah mulai memasuki ujian. Dan aku, aku sibuk dengan kisah cintaku yang begitu pahit.

 

Aku baru saja sadar kalau apa yang Juniel katakan waktu itu memang serius. Dia bahkan tak pernah bisa ku temui. Ponselnya tidak pernah aktif, atau mungkin dia memang mengganti nomornya.

 

Aku tidak mengerti. Kenapa Juniel ingin hubungan kami berakhir. Apa hanya karena masalah waktu itu. Sudah ku jelaskan aku hanya bercanda.

 

Lagipula aku tau Juniel adalah orang yang dewasa. Dia tidak mungkin mengakhiri hubungan ini hanya karena masalah spele seperti itu. Banyak pertengkaran yang kami lewati dan bahkan lebih dari masalah kemarin. Tapi kami selalu berakhir dengan tertawa.

 

Aku berhenti bekerja di toko kue Paman Seo dari seminggu yang lalu. Dan aku hanya menyibukkan diriku dalam seminggu ini untuk melatih wushu-ku kembali.

 

Aku hanya melampiaskan luka hatiku. Memukul dinding kamar lebih sering ku lakukan saat malam hari. Aku merasa lebih nyaman setelahnya.

 

Malam ini aku sengaja berkunjung ke cafe yang biasa aku, Chanyeol dan Kyungsoo kunjungi. Aku memesan coklat panas dan mulai mengingat semua yang pernah terjadi di cafe ini tentang aku, Chanyeol, Kyungsoo dan… Juniel.

 

Coklat panas sudah dingin dan aku tidak berniat meminumnya. Aku mulai berpikir untuk kembali ke China dan…

 

Untuk apa aku ke China? Menghindar dari Juniel? Aku bukan pengecut. Lalu untuk apa aku kembali kesana? Mencari orang tuaku? Bahkan belum tentu mereka mengenaliku atau bahkan ingin mengakuiku sebagai anak mereka.

 

Mungkin juga sekarang mereka sudah mempunyai keluarga masing-masing.

 

Ah tentu saja, aku pergi ke China karena aku merindukan tanah kelahiranku? Bukankah begitu? Ya, aku memang sudah lama tidak kesana.

 

Aku akan pergi ke China besok dan… aku pergi untuk liburan. Aku ingin melupakan semua masalah yang terjadi disini. Ya, aku akan mencoba melupakannya.

 

†† Crooked ††

 

Ini sudah jam 2 pagi. Kenapa? Sebelum Juniel masuk dalam kehidupanku. Aku bahkan lebih suka sendirian dijalan yang sepi dan menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan sampai matahari terbit, lalu aku akan pulang dan tidur sampai malam.

 

Tapi kenapa? Sekarang terasa berbeda. Aku bahkan merasa ini bukanlah kebiasaanku. Memang begitu.

 

“ARGHHH!!!”, aku berteriak karena begitu pusing. Kepalaku benar-benar sakit hanya karena memikirkan semua ini. Beberapa pasang mata menoleh ke arahku.

 

Aku bukan orang gila. Aku baik-baik saja. Tapi aku tidak peduli mereka terus memperhatikanku. Aku melihat ke sekelilingku. Dan…

 

Aku menangkap sepasang kekasih yang berjalan beriringan sambil tertawa. Aku mengingat Juniel kembali. Dulu kami juga seperti itu.

 

Apa-apan ini? Apakah tuhan sedang membuatku mengingat semuanya. Membuatku kembali merasakan luka.

 

Pasangan itu sekarang ada dihadapanku. Tapi tanpa alasan aku langsung mendorong kuat pundak sang pria. Aku hanya berpikir mereka sedang meledekku. Aku marah.

 

“Hey! Apa yang kau lakukan?!!!” Bertanya? Bukan, itu lebih terdengar seperti bentakan. Tentu saja, dia pasti kesal dan marah karena aku mendorongnya begitu saja.

 

Kenal saja tidak. Salah? Salah apa dia padaku. Sudah jelas dia salah karena memamerkan kemesraan mereka dihadapanku. Didepanku yang sudah jelas sedang benar-benar patah hati.

 

Ku perhatikan si gadis yang terlihat kesal dan membantu kekasihnya yang jatuh. Pengecut, dia bahkan terjatuh saat aku hanya mendorongnya.

 

“Kau cari mati denganku, huh?!!!” Pria itu mendorong balik pundakku. Aku tidak mempedulikannya.

 

Aku tersenyum melihat gadis itu, dia benar-benar seperti Juniel. Saat aku jatuh karena tersandung di taman ini sekitar jam 2 pagi, Juniel juga membantuku untuk bangun.

 

Aku menggapai lengan gadis itu dan tersenyum ke arahya.dia langsung menghempaskan tanganku dengan kesal dan pria itu menyembunyikan si gadis dibelakang punggungnya.

 

“Dia gadisku! Jadi kau tidak boleh menyentuhnya!”

 

“Huh? Gadismu? Kalian bahkan tidak punya cincin pasangan!” Ujarku meremehkan.

 

“Kau benar-benar ingin ku hajar rupanya.” Pria itu maju mendekatiku dengan wajah yang memerah. Aku hanya menatapnya santai.

 

“Sudah! Lebih baik kita pergi, oppa. Biarkan orang gila itu berbicara semaunya!” Gadis itu menarik si pria untuk menjauhiku.

 

“Hey gadis jelek. Kau tidak tau apa yang ku alami. Suatu saat, ah tidak. Akan ku do’akan kau supaya mengalami hal sepertiku dalam waktu dekat ini. Kau juga akan melakukan apa yang ku lakukan saat ini jika kau mengalami apa yang kualami sekarang.” Racauku.

 

Gadis itu hanya menatapku tak mengerti dan kembali berjalan. Aku tak mengerti, siapa yang sedang mengendalikan lidahku.

 

Aku hanya berpikir do’a orang yang terluka akan segera dikabulkan (?) Pasangan itu lalu pergi dari hadapanku dengan bergandengan kembali. Aku menatap mereka.

 

Saat itu aku tersadar bahwa aku benar-benar sudah kehilangan Juniel. Kenapa? Bukankah Juniel memintaku untuk tidak meninggalkannya. Tapi sekarang justru dia yang meninggalkanku.

 

Aku tertawa dengan pemikiranku sendiri.

 

Aku menengadahkan kepalaku melihat ke atas langit. Mereka sangat indah tidak seperti hatiku yang benar-benar buruk.

 

†† Crooked ††

 

Ini China. Tanah kelahiranku. Aku terus berjalan mengikuti jalanan yang kupijak. Setelah turun dari bandara tadi aku hanya berjalan kaki dengan sebuah tas punggung yang berisi sepasang pakaian dan sebotol minuman.

 

Aku sibuk mendengarkan sebuah lagu milik g-dragon yang berjudul crooked. Lirik lagu itu benar-benar mewakili perasaanku dan bahkan sama dengan kisah hidupku.

 

Sekarang aku harus kemana? Hotel? Uangku tidak akan cukup.

Lebih baik aku pergi ke restoran dan mengisi perutku terlebih dahulu.

 

“Tao!!”

 

Aku baru saja akan masuk ke sebuah restoran saat sebuah suara memanggilku. Itu suara yang sangat familiar. Dan memang benar, itu Kyungsoo. Aku hanya memasang wajah datarku. Saat-saat seperti ini dia bahkan sibuk dengan pekerjaannya tanpa ingin menanyakan kabarku.

 

“ada apa?”

 

“Kenapa kau berbicara seperti itu? Tentu saja aku memanggilmu karena aku mengenalmu dan kita sudah lama tak bertemu. Bagaimana bisa kau ada disini?”

 

Ohya, tentu saja. Kyungsoo tidak tahu aku pergi ke China dia bahkan juga belum tau kalau aku dan Juniel sudah berakhir.

 

“Hanya liburan.”

 

“Tanpa Juniel? Kau tidak takut dia marah?”

 

“Takut? Untuk apa? Kami tidak punya hubungan apapun.”

 

“Apa? Kau bercanda?”

 

“Kau pernah melihatku bercanda dengan wajah serius? Bunuh aku jika aku bercanda.”

 

“Ba-bagaimana bisa?”

 

“Kenapa kau tidak tanya pada Juniel saja? Dia bahkan memutuskanku tanpa alasan yang masuk akal. Sudahlah mungkin dia memang tidak tulus mencintaiku. Biarkan ini berakhir.”

 

“Tao… aku benar-benar minta maaf.”

 

“Untuk apa?” aku tersenyum miris mendengar perkataan itu. Aku sudah mengerti tanpa harus bertanya untuk apa dia meminta maaf.

 

“Aku tidak ada disampingmu saat kau benar-benar dalam keadaan…”

 

“Kau tidak bersalah. Jadi tidak perlu meminta maaf. Aku juga sudah terbiasa sendiri. Tanpa harus kau menemaniku saat aku terluka, aku akan baik-baik saja. Jadi biarkan aku sendiri.” Aku mengatakan apa yang aku pikirkan dan apa yang aku rasakan. Semua itu memang benar.

 

Aku melangkah kembali. Aku jadi tidak berniat makan.

 

“Tao!”

 

“Apa lagi?” aku menoleh melihat Kyungsoo yang terdiam menatapku dengan tatapan aneh. Aku tidak suka itu.

 

“Sudahlah. Urus saja karirmu. Aku akan menyusulmu untuk bersinar didunia musik. Aku juga akan membuktikan pada mantanku. Sama sepertimu. Aku baik-baik saja tanpa dia. Aku bisa berdiri tanpa dia. Aku bisa lebih baik dari apa yang dia pikirkan. Dan aku akan membuat dia menyesal sudah mengakhiri semuanya. Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku sudah terbiasa sendiri.”

 

“Tapi…”

 

“apa?”

 

“kau tidak malu pada dunia?”

 

“Malu apa? Kenapa aku harus malu pada dunia? Aku bahkan punya bakat yang baik dalam hal menari.”

 

“Bukan, bukan itu. Aku tau kau sangat pandai menari. Tapi…” Kyungsoo menatapku, aku memicingkan mataku. “Apa kau tidak malu dengan celana tidur yang kau pakai? Atau dengan sandal rumahmu?”

 

Aku membulatkan mata. “kau jangan bercanda? Aku bisa memukulmu lebih keras kali ini.” Kyungsoo hanya menggeleng dan perlahan aku menurunkan pandanganku ke bawah.

 

Oh yaampun. Kenapa aku lupa menggantinya, aku terlalu terburu-buru tadi pagi karena jadwal penerbangan yang benar-benar pagi. Sedangkan aku tidak terbiasa bangun pagi.

 

Arghh, pantas saja banyak orang yang mamperhatikanku dari tadi. Sekarang aku benar-benar malu dan tak bisa mengangkat kepalaku untuk melihat sekelilingnya. Aku melihat sepasang sepatu dihadapanku. Maksudku, itu kaki Kyungsoo. Dia sudah berdiri didepanku sekarang.

 

“Bisakah kau meminjamkan sepatu atau uang? Aku hanya membawa sepasang pakaian dalam tasku.”

 

“Tentu.” Kyungsoo menepuk pundakku pelan dan langsung tertawa.

 

“DIAM!!!”

 

“Kau terlalu lucu, Tao. Haha..”

 

“Diam atau aku akan menghajarmu!!!” Tapi… kau tau Kyungsoo? Dia tidak akan pernah berhenti menertawakanku bahkan saat aku mengancamnya seperti tadi -_-

 

“Aku juga tidak akan meminjamkanmu sepatu atau uang jika kau menghajarku. Aku juga bisa mengancammu, Huang Zi Tao! Haha…” Kyungsoo melanjutkan aksi tertawanya.

 

Aku? Aku hanya memasang wajah datarku dengan terus menundukkan kepala. Ku dengar Kyungsoo sudah berhenti tertawa.

 

“Tapi, ku dengar pihak SM akan mengadakan audisi untuk membuat boyband baru!” Ujar Kyungsoo dengan nada seriusnya. Aku langsung menengadahkan kepalaku.

 

“Apa hari baruku sudah dimulai?”

 

▓▓▓CROOKED-THE END▓▓▓

 

 

 

 

 

▓▓▓NEXT▬THAT XX▓▓▓

 

2 thoughts on “SECOND ▬ CROOKED

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s