Reflection (Chapter 3)

Reflection poster

Title                 : Reflection (Chapter 3)

Author             : Jung Ri Young

Main Cast        : Oh Sehun || Luhan || Zhang Yixing || Park Chanyeol

Genre              : Family, Brothership , Fantasy, School life

Rating             : General

Length             : Chaptered

Disclaimer       : All cast belong to God, parents and SMEnt.

Summary         : “Justru orang yang berpura-pura kuatlah merupakan orang lemah yang sebenarnya. Bersembunyi di balik wajah tegar agar tidak terlihat rapuh. Apakah kau mau jadi salah satu dari mereka?”

.

Sebelumnya     : Chapter 1 , Chapter 2

.

.

.

Jarak mereka berdua semakin dekat, Luhan tak sedikitpun mengalihkan pandangann dari anak di depannya, takut dia akan menghilang seperti kemarin. Melihat wajahnya benar-benar membuat Luhan seperti sedang bercermin.

Di sisi lain, Sehun juga mengunci Luhan dengan pandangan yang sulit diartikan.Tatapannya tajam tak bersahabat. Seperti tersirat… kebencian.

.

-xoxo-

.

“K-kau?” Kata Luhan terbata. Ia benar-benar takjub pada visual yang terpapar di depannya.

Luhan mengerjap-ngerjapkan mata. Tangannya terangkat untuk menyentuh muka anak yang ia simpulkan bernama Sehun.

Plaaakkk!!

Tangan Sehun menampik uluran Luhan dengan kasar. Disusul dengan geraman rendah yang mengiringi tatapan sinisnya. Luhan tertenggun, tak menyangka ia akan mendapat perlakuan kasar seperti itu. Manik beningnya menatap dengan pandangan yang menyiratkan keheranan.

“Kemari kau.” Kata Kris membuyarkan kontak mata antara dua manusia bermuka sama tersebut. Kris menyeret Sehun entah kemana. Dan sekali lagi, Sehun melemparkan tatapan tajam sebelum tubuhnya menjauh bersama Kris.

“Ayo kita pergi.”

“Yixing-ah, kau lihat anak itu?” Kata Luhan tanpa mengalihkan pandangan pada punggung Sehun.

“Iya, aku melihatnya.”

“Menurutmu dia mirip denganku?”

“Kalian…sama persis.”

“Bagaimana bisa, Yixing? Apa ini hanya kebetulan?”

Ada jeda ketika Yixing memutuskan untuk mengangguk. “Mungkin saja. Bukankah di dunia ini kita memiliki kembaran? Walaupun itu entah dimana.”

.

-xoxo-

.

“Kau mengenal anak itu?” Kris membuka suara untuk pertama kalinya setelah mereka menghabiskan waktu tiga puluh menit di ruang kesiswaan.

Sehun masih terdiam. Seolah tak mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Kris. Tubuhnya dengan santai ia rebahkan pada sofa panjang yang biasa dipakai Kris untuk diskusi bersama teman-teman OSIS-nya.

“Jawab aku!” Seru Kris ketika ia melihat Sehun mulai menutup mata. Kris benar-benar kesal dengan sifat anak yang pernah menjadi teman kecilnya itu. Kris bukan tipe anak yang banyak bicara, tetapi jika berhadapan dengan Sehun, ia berubah seperti ahjumma yang tak bisa berhenti mengomel.

“Dia saudaraku, hyung.” Jawab Sehun masih menutup mata.

“Saudara? Saudara darimana?”

“Saudara kembarku.”

“Hmpt..” Kris hampir tertawa, “yang benar saja! aku tahu kau anak tunggal. Jangan mengelabuhi ku hanya karena muka kalian mirip, setan kecil!”

“Terserah kau.” Jawab Sehun acuh.

“Kau tak membimbing siswa baru, Kris?” Sebuah suara menginterupsi. Mereka mengalihkan pandangan pada sosok yang baru saja memasuki ruangan.

“Aku sedang membimbing siswa nakal ini.”

“Oh, hai Luhan. Kamu sakit? kenapa berbaring disitu?”

“Tidak. Aku hanya…lelah.”

“Berhenti mengelabuhinya. Dia bukan Luhan, Suho. Dia Sehun, anak nakal yang kuceritakan kemarin.”

“Aku bukan anak nakal.” gerutu Sehun pelan.

Kris telah menebak reaksi Suho selanjutnya. Ia hanya mendesah melihat sahabatnya yang kini heboh meraba-raba muka Sehun. Memastikan bahwa ia mirip dengan Luhan.

“Kalian benar-benar…mirip.” Ucap Suho untuk yang kesekian kalinya. Sehun sampai bosan dan berusaha menampik tangan Suho yang masih menggerayangi mukanya.

“Singkirkan tanganmu ini, sunbaenim.”

“Panggil aku hyung. Aku sahabat dekat Kris.” Kata Suho antusias.

“Baiklah, hyung.”

.

-xoxo-

.

Luhan terlihat tak bersemangat ketika kembali pada kumpulan kelompoknya yang sedang mengikuti bimbingan dari para senior. Ia duduk dengan tenang di aula tanpa menghiraukan Chanyeol yang berusaha menarik perhatiannya. Ia penasaran, sangat penasaran dengan orang itu. Terlebih orang bernama Sehun itu seperti sangat membencinya. Apa salah Luhan? Kenapa dia kasar sekali?

Ketika jam makan siang, Yixing memberi tahu bahwa ia tak bisa menemani Luhan karena diberi tugas oleh senior. Luhan mendesah, semakin malas untuk ke kantin tanpa Yixing.

“Hei, kulihat kau diam saja? ada apa?” Sapa Chanyeol.

“Tidak ada apa-apa, Chanyeol-ah.”

“Kau mau ke kantin? Kajja kita makan siang bersama!” Serunya antusias.

“Tapi aku ma—”

 

“Ayolah.”

Chanyeol tak memberi kesempatan pada Luhan untuk menolak. Mereka akhirnya duduk dengan makan siang yang telah terhidang di meja. Berbeda dengan Chanyeol, Luhan sangat tidak berminat menyentuh makanannya. Ia hanya memandangi Chanyeol yang makan dengan sangat lahap.

“Jika kau makan seperti itu kau bisa tersendak.” Kata Luhan ngeri.

“Ma-kannl-lah Lu-hanm i-nmi en-nk”

Luhan tertawa kecil melihat Chanyeol yang kesulitan bicara sambil mengunyah makanan di mulutnya. “Kau lucu sekali.”

“Hehe, maaf.” kekeh Chanyeol malu-malu. Tiba-tiba ia melihat seseorang dari kejauhan. “Sehun! Oh Sehun! Sini!” Serunya heboh.

Luhan yang sedang sensitif dengan nama itu ikut mendongak. Berharap orang yang dipanggil Chanyeol adalah Sehun yang sama dengan orang yang dipikirkannya. Betapa bahagianya Luhan ketika melihat ‘refleksi dirinya’ berjalan ke arah kursi yang ia dan Chanyeol duduki. Hampir saja ia berjingkat jika saja ia tak melihat ekspresi Sehun yang tidak bersahabat. Sama seperti terakhir kali bertemu.

Terdengar suara bisik-bisik menggema di area kantin ketika Sehun mendudukan diri berhadapan dengan Luhan. Mayoritas dari mereka baru menyadari bahwa Jung Luhan memiliki ‘kembaran’. Chanyeol yang telah menunggu moment ini tersenyum puas karena dapat menyandingkan Sehun dan Luhan secara langsung. Berkali-kali ia menggeleng takjub. Sungguh kebetulan yang luar biasa.

“Sehun, kenalkan ini Luhan, teman sekelasku.” Kata Chanyeol bersemangat. Ia ingat bahwa dulu pernah berjanji pada Sehun untuk mengenalkannya.

Luhan bingung harus berkata apa melihat Sehun yang memandangnya dingin. Ia berkata dengan sangat hati-hati. “Hai..Aku Luhan.”

“Sehun. Oh Sehun.” Ucap Sehun dengan penekanan pada marganya sendiri.

“Kau di kelas mana? Aku mencarimu dari kemarin?”

“Untuk apa mencariku?” Jawabnya sinis.

Chanyeol yang tidak mengerti keadaan ini menginterupsi. “Sehun, ada apa denganmu?”

Sehun tak menjawab dan memilih beranjak begitu saja. Hal itu tentu membuat Luhan mendesah lemas. Selalu saja seperti ini jika bertemu.

“Maafkan temanku, Luhan.”

“Tidak apa-apa. Dia memang terlihat tidak menyukaiku.”

.

-xoxo-

.

Eomma, aku bertemu dengannya. Aku bertemu saudara yang telah merebut semua hakku. Saudara yang telah merampas semua yang seharusnya ia bagi denganku. Seperti yang kau tahu, eomma. Dia hidup dengan baik, dia hidup bergelimangan harta dan dia sangat bahagia. Eomma, aku membencinya. Aku benar-benar membencinya!

.

-xoxo-

.

“Apa maksud sikapmu tadi, Sehun-ah? Apakah Luhan bersalah padamu?”

“Sudahlah hyung, jangan membahasnya.”

“Tapi sukapmu kelewatan, tahu!”

“Hyung, diamlah.”

“Kau keterlaluan!”

“AKU BILANG DIAM, HYUNG!! KAU BAHKAN TIDAK TAHU APA-APA!!!”

Chanyeol terlonjak mendapat bentakan keras dari Sehun. Ia tidak menyangka Sehun berani berbicara seperti itu padanya. Apa yang salah? Ia hanya membenarkan sikap –yang menurutnya- keterlaluan itu. Sehun terlihat sangat membenci Luhan padahal Luhan adalah anak yang baik. Luhan bahkan terus terdiam pada sisa jam sekolah tadi siang. Sudah pasti itu gara-gara sikap Sehun yang sangat dingin padanya.

Chanyeol membanting pintu kamar mereka berdua. Meninggalkan Sehun bersama emosinya yang masih meluap-luap. Ia kesal dan tidak ingin berurusan dengan anak itu. Ia memilih duduk di beranda yang memperlihatkan taman samping rumah Kris yang indah.

“Kalian bertengkar?”

“Oh, Kris. Kau mendengar?”

“Sedikit. Apa yang terjadi dengan anak bandel itu?”

“Dia membuat temanku sedih. Sehun bersikap dingin dan temanku merasa Sehun membencinya. Padahal mereka tak saling kenal sebelumnya. Entah ada apa dengan anak itu.”

“Temanmu? Jung Luhan?”

“Iya.”

“Kau yakin mereka tak saling kenal sebelumnya?”

“Apa maksudmu, Kris? Kami baru pertama kali ke Seoul. Tentu saja mereka baru berkenalan tadi siang. Itupun jika bisa dibilang perkenalan.”

Kris mengangguk-angguk mendengar penuturan Chanyeol yang terdengar masih kesal. Ia bisa membayangkan bagaimana sikap Sehun pada Luhan. Pasti sama seperti waktu ia melihatnya. Dan mau tidak mau Kris jadi memikirkan kembali pengakuan Sehun tadi siang.

“Istirahatlah di kamar lain. Aku akan berbicara pada Sehun.” Kata Kris yang disusul anggukan persetujuan dari Chanyeol.

.

-xoxo-

.

Gemerlap malam kota Seoul terhampar di balik jendela ruangan nan megah. Keindahan yang dipadu dengan suasana sunyi tak lantas membuat pikiran Yunho tenang. Waktu telah menunjukan pukul satu dini hari. Namun ia masih mempertahankan posisinya bersandar di kursi kantornya. Yunho tak sedang menekuni pekerjaan. Tetapi, pulang juga bukan pilihan yang tepat saat ini. Yunho tahu seseorang mengikutinya setiap ia keluar dari perusahaannya sendiri. Maka dari itu, jika pekerjaannya selesai larut malam ia memilih tinggal di ruangan pribadi ini.

Beberapa saat setelah ia menghubungi sekretarisnya, terdengar ketukan pintu disusul oleh seorang lelaki seusia Yunho lengkap dengan secangkir kopi di tangannya.

“Ah, kau. Taruh saja di meja.”

“Baik, tuan.”

Sang sekretaris memandang iba pada atasan yang saat ini terlihat sangat lelah. Ia berfikir pasti Yunho sedang dalam masalah besar.

“Anda terlihat sangat lelah. Apakah tidak sebaiknya anda istirahat di rumah, tuan?”

Yunho mendesah. Ia memang lelah. Ia ingin pulang. Berkumpul dengan keluarga kecilnya dan berbagi kehangatan bersama mereka. Namun hati kecilnya selalu berteriak agar dia waspada dan berhati-hati.

“Tidak, sekretaris Kim. Ini sudah terlalu larut. Aku akan pulang besok pagi.”

“Baiklah kalau begitu. Hubungi saya jika anda membutuhkan sesuatu.”

Pintu ruangan tertutup dengan disusul dering ponsel yang tergeletak di meja. Yunho meraih benda kecil tersebut dan mendapati nama istrinya tertera di layar. Dia tersenyum kecil. Yoona pasti menunggunya.

“Hallo.”

“Kau tak pulang, yeobo?” Ucap suara di seberang tanpa basa-basi.

“Emm, sepertinya kau harus tidur sendiri malam ini. Mianhae, Yoona-ya.”

“Bukan itu yang ku permasalahkan. Tapi Luhan.”

Yunho mengerutkan dahi, “Ada apa dengan Luhan?”

“Anak kesayanganmu itu tidak ada di rumah. Aku tidak bisa menghubunginya. Bahkan Yixing juga tidak tahu dimana dia sekarang. Pulanglah dan bantu aku mencarinya, yeobo. Aku takut terjadi sesuatu dengannya.”

“Apa??!!” Yunho bangkit dari tempat duduknya. “Bagaimana bisa? Kau sudah menyuruh orang rumah mencarinya?”

“Sudah, yeobo. Tapi belum ada kabar dari mereka. Pulanglah, jebal!” Suara Yoona mulai bergetar. Kentara sekali ia sedang menahan tangis.

“Arraseo, aku pulang sekarang.”

.

-xoxo-

.

Sementara dari jendela kamar di lanta dua, Sehun dapat melihat dengan jelas seorang anak berdiri di seberang jalan. Anak itu mendongak, menatap tepat ke arah Sehun, sedangkan langit malam yang menyelimuti tempat itu tak lantas menghalangi penglihatannya. Sehun tahu siapa dia. Sehun tak mungkin salah. Dialah anak yang selama ini dicari sekaligus dibencinya. Dialah anak yang membuatnya hidup terasingkan bersama orang lain. Dan dialah orang yang membuatnya terpaksa meninggalkan marganya sendiri. Dia, saudara kembarnya. Kebencian Sehun kepada anak bernama Jung Luhan sudah tertanam sejak ia tahu kenyataan pahit itu. Bahkan kian menjamur ketika ia tahu keadaan Luhan. Hidup bahagia tanpa dirinya.

Luhan tersenyum lalu lambaikan tangan kepada Sehun, memberi isyarat agar Sehun turun menemuinya. Sehun tahu cepat atau lambat ia pasti akan berbicara tatap muka dengan Luhan. Bahkan tanpa Luhan menemuinya-pun, ia sendiri yang akan datang. Ia sudah merencanakan semua dengan matang, tapi bukan saat ini.

Sehun menutup jendela kamar dengan kasar. Kemudian merangkak ke atas ranjang seolah tak pernah melihat apapun di bawah sana. Ia memejamkan mata, meninggalkan saudaranya bersama angin malam yang menusuk ke dalam mimpi. Malam itu, Sehun tertidur pulas.

.

-xoxo-

.

Derap langkah menggema di lorong sepi menuju ruang yang bertuliskan ‘ICU’. Sejak ‘ditemukan’ oleh pekerja rumahnya, Luhan langsung di bawa ke tempat pesakitan ini. Bau anyir dan obat-obatan yang menusuk hidung terabaikan ketika ia melihat eommanya duduk di sebuah kursi tunggu sambil menunduk. Bahunya naik turun, menahan isakan yang terus keluar atas kesedihannya. Sedangkan beberapa pelayan setianya mengelilingi untuk menghibur dan terus menguatkannya.

“Eomma…”

Yoona mendongak, tak mampu lagi membendung kesedihan ketika melihat wajah polos putra tunggalnya. Ia meraih tubuh Luhan dalam pelukan. Menangis sejadi-jadinya di pundak anak yang masih tak mengerti keadaan ini.

Luhan hanya bisa membalas pelukan eommanya. Berharap itu bisa mengurangi kesedihan dan air mata yang telah tumpah. Ia tak tahu ada apa dengan eomma tetapi ia mengerti sesuatu yang besar telah terjadi sehingga membuat wanita yang paling disayanginya ini meneteskan air mata begitu banyak. Hingga keadaan sedikit tenang , pertanyaan-pertanyaan di benak Luhan mulai terjawab. Appa-nya kecelakaan. Appa-nya sekarat di dalam sana ketika ia ‘menghilang’ untuk menemui Sehun.

Gemuruh dalam hatinya kian berlipat ketika ia mengetahui bahwa Appa kecelakaan saat sedang mencarinya. Ini salahnya. Ini karena kecerobohannya pergi tanpa memberi tahu siapapun dan membuat cemas. Padahal kepergiannya tak membuahkan hasil sama sekali. Dan kini ia harus membayarnya dengan penyesalan.

Appa mianhae…

.

-xoxo-

.

“Kau bisa beristirahat di UKS untuk menenangkan pikiran, Luhan.”

Luhan mendesah, membuka pintu mobil yang telah berhenti di depan sekolahnya. “Aku baik-baik saja, Yixing. Jangan khawatir.”

“Begitu? Tapi aku rasa tidak. Berita tentang tuan besar telah tersebar luas. Pasti pihak sekolah juga akan memaklumimu.” Jawab Yixing. Ia mengikuti Luhan yang telah mendahuluinya.

“Aku tidak mau terlihat lemah.”

“Justru orang yang berpura-pura kuatlah merupakan orang lemah yang sebenarnya. Bersembunyi di balik wajah tegar agar tidak terlihat rapuh. Apakah kau mau jadi salah satu dari mereka?”

Luhan tertenggun. Berbalik menatap Yixing yang sedang memandangnya iba. “Benarkah ini kau, Zang Yixing?” Kemudian tersenyum.

“Luuuhhaaaann…..”

Chanyeol menginterupsi obrolan mereka berdua. Kemudian merangkul pundak Luhan dengan tampang ceria seperti biasa.

“Teman barumu seperti seorang idiot.” Bisik Yixing di telinga Luhan. Luhan terkikik geli mendengar Yixing yang menjadi penggerutu setelah melihat Chanyeol.

“Ya..ya..ya! Aku mendengarnya, manusia es!” Chanyeol memprotes.

Yixing tak menghiraukan perkataan Chanyeol dan ikut menepuk bahu Luhan. “Baiklah, sepertinya aku sudah tak perlu menemanimu sampai kelas. Park Chanyeol tolong jaga tuan mudaku ini.”

“Tak perlu disuruh aku juga akan menjaganya. Dia temanku yang paling baik!” Sahut Chanyeol cepat.

Mereka berpisah menuju kelas masing-masing. Setelah memperhatikan agak lama, Chanyeol menemukan mata Luhan yang sedikit sembab. “Matamu sembab.”

Luhan mendongak, kemudian tersenyum tipis sebelum menjawab, “Yeah, aku terlalu banyak menangis semalam.”

“Jadi, berita itu benar?”

“Seperti yang kau lihat.” Jawab Luhan mengedikan bahu.

.

-xoxo-

.

Hari ini melelahkan. Setidaknya begitu bagi Luhan. Pikirannya tidak bisa fokus dan senior mereka banyak memberikan tugas-tugas konyol yang sama sekali tidak ia mengerti. Ditambah perutnya yang meraung-raung karena ia tak sempat sarapan di pagi hari. Luhan menggembungkan pipi. Menunggu antrian makanan di kantin sekolah yang penuh pada jam-jam istirahat ini. Ia hampir tak mempedulikan Chanyeol yang terus saja mengoceh mengomentari apapun yang ia anggap menarik.

Setelah hampir sepuluh menit, akhirnya mereka berdua mendapat nampan berisi paket makan siang lengkap. Luhan dan Chanyeol berbalik, mengedarkan pandangan mencari tempat kosong yang bisa mereka duduki. Sampai ia tak sadar ada orang yang berdiri di depannya. Orang itu menarik nampan Luhan dengan kasar. Membuat makan siangnya berpindah tangan. Luhan terkejut.

“Hei, itu makan siangku! Kenapa kau ambil?” Protesnya.

Chanyeol yang melihat juga tak kalah sewot. “Apa yang kau lakukan pada temanku, senior?”

“Ini untukku, kau..mengantrilah lagi jika masih ingin makan.”

“Tidak bisa. Aku su—”

“Kenapa tidak bisa?! Kau berani padaku? Aku seniormu!!!”

Nyali Luhan menciut mendapat bentakan dari orang yang lebih besar darinya. Ia takut. Tapi ia juga lapar.

Luhan berusaha menjangkau makanan yang masih dipegang seniornya. Ia harus berjinjit karena nampan itu diangkat ke atas oleh tangan seniornya yang lebih panjang.

“Jebal, berikan padaku. Aku sudah sangat lapar!”

Senior itu mulai geram pada Luhan yang terus merengek. Ia mendorong keras tubuh Luhan hingga tersungkur ke lantai. Bersamaan dengan itu, Luhan mendengar bunyi nampan jatuh yang disusul teriakan histeris para penghuni kantin. Suasana mulai ricuh, membuat Luhan tak bisa melihat dengan jelas. Tetapi ia tahu bukan hanya dirinya yang terjatuh. Senior itu juga terpental. Terseret angin yang tiba-tiba datang dengan dahsyat.

.

.

.

-TBC-

28 thoughts on “Reflection (Chapter 3)

  1. Hilma berkata:

    hua, makin penasaran nih sama lanjutannya..
    keren, daebak!!
    itu pasti angin sehun…
    ditunggu kelanjutannya chingu.. ^^

  2. Dini berkata:

    Seruuuuu😀 sayang bgt kalo Sehun benci terus sama Luhan😦 ya semoga kedepannya Sehun ga benci terus sama Luhan🙂
    aakk, itu yg terakhir pasti Sehun kan ? Dia pake kekuatannya ??? untuk nolong Luhan ?? kkkk
    next chap hwaiting ya authornim ^_^

  3. Nelly berkata:

    Sehun ksian yah😦 tp jgn jdika sehun org jht donk thor
    .
    .
    Btw, itu sehun beneran kelainan jatung? Kok dia mrh2 gk kumat ya xD

  4. snowpearly berkata:

    wahhhhhh, masalah apa sih sehun sama luhan? kok dia benci sama luhannnn? kasian luhan, gak tau apa2 T.T itu sehun kan yg nolong luhan? pake kekuatannya? semoga sehun ga lama2 benci luhan yaa

  5. ElizElfishy berkata:

    Sehun kok bisa tahu jati dirinya ya. Tau deh. Itu kekuatan angin Sehun kan? Sehun Diam-diam juga perhatian ma Luhan, tapi gengsi.🙂

  6. Ade Zeni Anggraeni - Fanfiction Park Jiyeon ♥ EXO berkata:

    wooaaaah sehun udah tau luhan kembarannya, dan benci luhan.

    itu pasti angin sehun.

    daebakk! ceritanya semakin seru, lanjut thor lanjut😀

  7. xoxotaem berkata:

    Daebakk thoorr~ lanjut2 thorr suka banget sm ff hunhan kayak ginii.. Pasti itu angin dari sehun kan? /tebak2 berhadiah,hahaa/ btw mian baru comment dichapter ini hehe

  8. Shin Seul Gi_99HunHan shipper berkata:

    Oh jd hun ffa uda tau ttg han ffa..tf jngan bnci han ffa dong hunie ffa kn hanie ffa ga tau af”,yg zlah kn nenek’y hunhan ffa..kn.?it hunie ffa bkn yg nl0ng??next dtnggu bgt.dbk cayoo^^

  9. rachmaoctavia berkata:

    daebak !makin penasaaran euy sama kelanjutannya ,disini sehun sedikit jahat banget😀 itu angin dari sehun kan ya? ah ditunggu kelanjutannya thor ^^ keep fighting🙂 ^^

  10. AsihHaeHun berkata:

    loh?.. angin??.. kok bisa manusia ngluarin angin?.. #bisa_kalokentut #plakk.. ini kan bukan mv mama.. kok bisa ngluarin angin?.. jgn2 ortu yoona emang punya kekuatan sihir, trus sehun jadi bisa kek begitu..

  11. Byul berkata:

    Woaaahhhhh,,,daebakkk (y)
    AKU PADAMU THOR xD

    Jung Ri Young-ssi,,anda author kedua setelah Oh Mija-ssi yg ff’ya ane tunggu-tunggu kelanjutannya >_<

    Serasa bisa ngerasain gimana kebencian sehun sma luhan.. mungkin klo itu nyata dan itu terjadi sma ane,ane mungkin pasti bersikap sma kayak sehun!!
    Aisssshhhhh,,emosi kao inget nenek sehun sma luhan :3
    Siapa ya yg sering ngikutin yunho? Apa ada yg benci sma dia?

    Next chapnya jangan lama-lama yahhh? Jebaaallll😉
    AKU MENUNGGUMU THOR :*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s