Edelweis (Chapter 7)

CIMG0155 - Copy(1)

Title                 : Edelweis (Chapter 7)

Author             : Jung Ri Young

Cast                 :-Oh Sehun

-Park Chanyeol

-Byun Baekhyun

-Kim Jongin

-Kim Yeejin (OC)

-Park Yoora (Chanyeol noona)

-Jung Ahra

Genre              : Family, Brothership, Romance, Little Comedy

Rating             : T

Length             : Chapter

Disclaimer       : Member EXO milik Tuhan, Orang tua dan SMEnt. Kecuali Baekhyun milik saya! kekeke

Summary         : “Kau bahkan meninggalkanku sebelum aku bisa mengucapkan kata ‘eomma’. Begitu tak berharganya-kah aku untukmu?”

 

.

Chapter sebelumnya : 1 , 2 , 3 , 4 , 5, 6

.

.

.

Baekhyun kini mengerti. Cinta tak pernah mudah jika hati ikut berperan. Ia menyesali perbuatannya di masalalu. Namun, ketika datang kesempatan untuk memperbaiki, ia kembali dihadapkan pada kenyataan sulit yang lain.

Tiba-tiba dia teringat percakapannya dengan Sehun beberapa hari yang lalu. Baekhyun dengan lantangnya mengatakan ia akan merelakan masalalunya bersama Chanyeol. Saat itu dia memang tulus, benar-benar tulus. Tapi sekali lagi hati Baekhyun berkhianat. Dalam lubuk hatinya masih tersimpan keegoisan. Ya, Baekhyun yakin itu adalah sebuah keegoisan ketika ia memantapkan hati untuk mengibarkan bendera perang. Ia akan bersaing, walau dengan sahabatnya sekalipun.

.

-xoxo-

.

Baekhyun POV

~Nae eureurong eureurong eureurong dae….. eureurong eureurong eureurong dae…..

Dering alarm mengusik pendengaranku. Memaksa mata –yang masih sangat mengantuk- ini untuk membuka. Tanpa melihat jam-pun aku tahu ini pukul sepuluh karena semalam aku memang telah mengatur waktu. Dengan malas kuseret tubuhku menuju kamar mandi. Membersihkan diri sebelum bersiap menghadiri acara pertunangan Yoora noona.

“Baekhyunnie kau sudah siap?” samar-samar kudengar suara eomma dari balik pintu.

Berani bertaruh pasti sebentar lagi aku dicecar omelan karena sama sekali belum siap. Untuk apa terburu-buru, sih? acaranya saja baru nanti sore.

Kubuka pintu kamar mandi dan mendapati eomma tengah berdiri di depan cermin. Eomma terlihat sangat anggun mengenakan gaun berwarna merah marun. Olesan make up mempertegas garis muka mungilnya yang beliau turunkan padaku.

“Kau dan appa sama saja, lebih lelet daripada wanita.” omelnya seperti yang telah ku duga.

“Bukankah acaranya dimulai pukul empat sore? eomma keterlaluan sekali menyuruhku bersiap sepagi ini.”

“Pagi katamu? ini sudah hampir jam sebelas, sayang. Eomma sudah tidak sabar bertemu dengan keluarga Kim. Dan keluarga Oh juga baru saja tiba katanya. Ya Tuhan, eomma benar-benar senang. Ini seperti reuni setelah beberapa tahun tak bertemu.”

“Iya..iya eomma. Keluarlah sebentar, aku akan bersiap.”

.

-xoxo-

.

“Whooa, kau lebih awal dariku ternyata.”

Sehun hanya melirikku tanpa minat. Kemudian mengisyaratkan dengan dagu untuk menunjuk ke arah orang tuanya yang sedang berkumpul bersama orang tua Jongin. Ah, pasti dia juga diseret sepertiku tadi.

“Orang tua memang seperti itu.” Komentarku sebelum menjatuhkan diri di sofa yang masih kosong.

“Setidaknya buang ekspresi itu dari mukamu, Sehun-ah. Kau terlihat sangat tidak bersahabat.”

“Hyung, bisakah kita tak usah mengikuti acara ini? Aku sangat lelah dan ingin beristirahat.”

“Kau cari mati?”

“Ayolah Baekhyun hyung. Hanya kita saja, toh masih ada Jongin dan Chanyeol hyung.”

“No way! jangan menggiringku ke neraka!”

Penolakan mentah-mentahku membuat bibirnya maju beberapa centi. Ingin sekali ku potong jika saja ada gunting di dekatku. Apa dia gila? Ini hari penting Yoora noona dan dia mau kabur? Sinting!

Beberapa jam berikutnya yang kami lakukan hanya menonton televisi sambil diselingi perbincangan-perbincangan ringan. Jongin dan Chanyeol ikut bergabung setelah berganti mengenakan pakaian formal. Hingga tepat pukul empat kami beranjak menuju ruang tengah yang telah disulap menjadi tempat mewah dengan berbagai macam hiasan di tiap sudutnya. Jujur saja nyawaku seperti masih tercecer karena terlalu lama menunggu. Aku benar-benar sudah bosan bahkan sebelum acara ini dimulai.

Acara inti akhirnya terlaksana setelah beberapa kata sambutan dari berbagai pihak bersangkutan. Kami bertepuk tangan sebagai tanda ucapan selamat pada dua insan yang telah terikat tali pertunangan. Wajah Yoora noona terlihat berseri disamping Joonmyun hyung yang tersenyum bahagia.

Orang-orang sibuk berbincang di sela sisa acara. Aku berpapasan dengan Jongin ketika hendak keluar rumah mewah ini. Mencari udara segar sesuai tuntutan paru-paruku yang sudah terasa sesak. “Aku tak melihat Chanyeol, ngomong-ngomong?”

“Dia di depan, menemui tamu.”

Tiba-tiba Sehun yang berjalan dari arah pintu keluar menyeretku kembali ke dalam. “Hyung bisakah kau menemaniku minum? Ayolah.”

“Ya, ya, ya! Jangan menyeretku seperti ini. Aissh!”

“Ini” Ucapnya seraya menyodorkan segelas wine ketika kami kembali ke tempat dimana Jongin berada.

Aku menerima gelas yang diberikan dengan mendengus. Sebesar apapun dia tumbuh tetap saja otaknya seperti anak kecil. Apapun kemauannya harus terturuti. Dan selalu aku yang terkena imbasnya karena ia tidak bisa bermanja-manja ria dengan Chanyeol maupun Jongin.

“Hallo saudara-saudaraku tercinta…”

Chanyeol muncul dengan senyum paling lebar yang pernah kulihat. Wajahnya mengeluarkan peluh tetapi tak dapat menyembunyikan ketampanan yang tercetak di sana. Ck, maafkan otakku yang berfikiran seperti itu, tetapi kulihat dia memang sedikit berbeda hari ini. Wajah bodohnya seakan sirna tatkala pakaian formal itu membalut tubuh jangkungnya. Melihat proporsi tubuh sempurna Chanyeol membuatku berdecak iri.

“Duduklah hyung, acara sudah hampir selesai, kan?” Kata Sehun menepuk-nepuk sofa kosong.

“Benar. Jangan terlalu lelah.” imbuh Jongin.

Chanyeol malah berbalik menuju pintu keluar. “Sebentar, aku bersama seseorang.”

“Shit!” Kudengar Sehun mengumpat pelan disampingku. Tangannya mencerkam gelas dengan keras. Aku mengikuti arah pandangannya dan menemukan sesuatu yang sama sekali tidak ku prediksi. Yah, apalagi jika bukan yeoja berlesung pipi yang kini tengah digandeng sahabatku. Kepalaku serasa ditenggelamkan pada sungai tak berdasar. Bernapas? Oh, tentu saja aku masih melakukannya walau itu hanya semakin menyakiti paru-paru di dalam sana. Baru semalam aku bertekad akan memintanya kembali. Dan esoknya aku sudah kalah telak. Permainan macam apa ini?

“Yeejin?” ucap Jongin heran. Sepertinya ia sama sepertiku yang tidak mengetahui kehadirannya.

“Yap, dan mulai sekarang kau dapat memanggilnya ‘kekasih Park Chanyeol’”

-DEG-

Kurasakan ada benda tak kasat mata menghujam sumber kehidupan yang memompa darah dalam tubuhku. Sakit.

“Whoaa, selamat Chanyeollie. Kau berbakat memikat wanita cantik.” Ucapku mengikuti Jongin yang terlebih dulu memberi selamat. Tak lupa kutarik sudut bibir ke atas untuk menyembunyikan kekecewaan yang muncul di hatiku.

Aku menoleh ke arah Sehun yang masih terdiam. Kutatap matanya dengan pandangan paling memelas yang bisa ku ekspresikan.

Sehun, kenapa tak kau katakan ini dari awal.

Seketika sikap anehnya masuk akal di otakku. Aku meruntuk dalam hati. menyesal karena tak peka pada usahanya. Padahal beberapa kali dia menjauhkanku agar tidak menemui keadaan ini.

“Hyung, bisakah kita tak usah mengikuti acara ini? Aku sangat lelah dan ingin beristirahat.”

Katakan dengan benar bahwa kau tidak ingin aku melihatnya. Maka saat itu aku akan menurutimu untuk tak mengikuti acara ini.

“Ayolah Baekhyun hyung. Hanya kita saja, toh masih ada Jongin dan Chanyeol hyung.”

Kau benar, Sehun. masih ada Jongin dan Chanyeol, serta yeoja yang kini memaksa hatiku merasakan lara.

“Hyung bisakah kau menemaniku minum? Ayolah.”

Seharusnya kau menyeretku lebih jauh dari tempat ini. Oh Sehun apa yang harus aku lakukan sekarang?

Aku mengalihkan pandangan ketika kurasa ada sesuatu yang menggenang di pelupuk mata. Tidak, aku tidak boleh lemah. Yeejin tidak berpacaran dengan orang lain. Dia bersama Park Chanyeol, sahabatku sendiri. Chanyeol pasti akan membuatnya bahagia. Tak ada alasan untukku menagisi sesuatu yang bahkan bukan milikku. Mungkin inilah cara tuhan membantuku. Melalui Chanyeol yang akan membahagiakan orang yang paling kusayangi.

.

-xoxo-

.

Sudah dua hari setelah pertunangan Yoora noona. Dua hari itu pula aku memilih berdiam diri di dalam kamar. Bergelung dengan selimut tebal tanpa rasa bosan. Baik Chanyeol, Jongin maupun Sehun tak ada yang meghubungiku. Ini memang akhir pekan dan kami tak ada jadwal –kecuali Sehun- untuk ke kampus.

~drett..drett..drett~

Ini ke empat kalinya handphoneku bergetar sejak aku membuka mata. Aku tahu seseorang menelephone, tetapi rasa malas lebih mendominasi sehingga aku memilih mengabaikannya.

~drett..drett..drett~ lima.

~drett..drett..drett~ enam.

~drett..drett..drett~ tujuh.

Aku mengacak rambut frustasi. Berjalan menghampiri meja belajar untuk meraih handphone. Segala sumpah serapah telah bergentayangan di otakku dan siap terlontar pada siapapun yang mengganggu ketenanganku ini.

Mataku langsung terbuka lebar ketika melihat nama yang tertera pada layar. Buru-buru kuraih benda berukuran empat inchi tersebut dan mengusap layarnya.

“Yeoboseyo?”

“….”

“Jeongmallyo? Khamsahamnida, ahjussi.”

Segera ku berlari menuju kamar mandi. Membasuh tubuh dengan cepat sebelum berkendara. Saking terburu-burunya aku hanya sempat memakai t-shirt polo tanpa aksesoris apapun. Bahkan aku lupa mengenakan jam tangan hitam yang selalu ku andalkan untuk memeriksa waktu dimanapun aku berada. Kulirik spion untuk terakhir kali sebelum turun. Sial! Berantakan sekali penampilanku.

“Jongin!” Seruku ketika memasuki rumahnya. Sepi sekali. Apa tidak ada orang di rumah besar ini?

Kulangkahkan kaki menaiki anak tangga. Kemudian membuka kamar yang kutahu dengan baik sebagai kamar Jongin.

“Ya! Masih tidur?”

“Hmm..ada apa, hyung? kau menggangguku saja.” Jawabnya tanpa dosa sambil menutup mata. Apa dia tak tahu bagaimana terburu-burunya aku tadi? Menyebalkan.

Kutarik selimut yang masih membungkus tubuh besarnya. Tetapi itu sangat sulit karena tenagaku yang kalah telak dengannya. Alhasil malah kami berdua bergulung-gulung saling menarik selimut dengan brutal.

“Kau mau tahu kabar eomma-mu apa tidak!!” Akhirnya bentakan keras keluar juga dari mulutku. Sia-sia saja rasanya berlaku baik. Membuang-buang waktu!

Ucapanku bagai mantra yang sangat ampuh untuk membangunkan si tukang tidur ini. Dia terlonjak dan langsung mencerkam kuat kedua bahuku. “Kau menemukannya, hyung? eomma? dimana?”

“Sabar, hitam. Kau menyakitiku!”

“Ya! hyung, katakan dimana eomma sekarang. Palli!”

“Makanya diam dulu, ish!” sahutku sewot. “Mereka menemukan alamat baru eomma-mu. Ini.” Aku menyodorkan pesan yang baru saja dikirim oleh teman appa.

“Temani aku ke tempat itu, hyung!”

.

-xoxo-

.

Entah dosa apa yang ku perbuat di masa lalu sehingga Tuhan mengirimkanku sahabat semenyebalkan ini. Baru tadi dia menyeretku untuk menemaninya. Setelah sampai dia malah mendorong-dorongku untuk menemui eomma-ya. Sedangkan dia? dia bahkan tidak berani untuk sekedar turun apalagi bertemu eomma-nya sendiri. Ampun!

“Permisi.” Sapaku sopan setelah memasuki sebuah pekarangan rumah mungil. Wanita yang sedang berkutat merawat bunga menoleh.

“Apakah anda nyonya Shin?” Sambungku menyebutkan marga eomma Jongin. Aku belum tahu apakah ini orangnya atau bukan. Tetapi melihat wajahnya sekilas mengingatkanku pada namja pengecut yang saat ini bersembunyi di dalam mobil sana.

Seperti harapanku, wanita itu mengangguk. “Anda siapa?”

“Engh…” Aku menggaruk tengkuk kebingungan. Apa yang harus aku katakan?

“Anak muda?”

“Ah, maaf nyonya. Nama saya Baekhyun. Bisakah anda ikut saya sebentar? Ada yang ingin bertemu dengan anda.” Hanya itu kata-kata yang terlintas di otakku. Sedetik kemudian aku merutuk. Pasti eomma Jongin menganggapku orang jahat yang akan macam-macam padanya.

Nyonya Shin memandangku dengan tatapan menyelidik. Wajah tegasnya yang menyiratkan kecurigaan membuatku sedikit salah tingkah. “Maaf nak, Apa aku terlihat seperti orang yang mudah mempercayai sesuatu?” Jawabnya tegas. Sial!

Nyonya Shin kembali menekuni pekerjaannya. Memunggungi dan mulai mengabaikanku. “Tapi nyonya, in..”

“Jika tidak ada keperluan lain silahkan anda pergi dari tempat ini.”

“Nde?”

“Jangan mengganggu pekerjaanku, anak muda.”

Hampir saja aku mengumpat jika saja aku tak ingat siapa wanita yang berdiri di depanku itu. Dia mengusirku? Kim Jongin kau harus membayarnya!

Setelah beberapa kali memohon dengan tampang sememelas mungkin, akhirnya beliau setuju untuk menemui ‘orang asing’ yang ingin bertemu dengannya. Beliau bersedia menunggu di dalam rumah sedangkan aku buru-buru kembali ke mobil yang terparkir lumayan jauh dari tempat ini.

“Keluar.”

“Bagaimana, hyung? Kau bertemu dengan eommaku?”

Pletaakk!!

“Ya! kenapa malah menjitakku?”

“Eommamu keras kepala sekali! Pantas anaknya seperti ini!”

“Jinjja? Kau bicara banyak dengannya?”

“Keluarlah, kajja, kau lihat sendiri.”

“Aaah, chakkamman hyung. Aku belum siap.” Jongin merajuk manja. Ingin sekali aku mencekiknya. Wajah garang yang beraegyo itu menjijikan kan?

Susah payah membujuk eommanya susah payah juga menyeret anaknya. Aku benar-benar membuang tenaga sebelum membawa Kkamjong sialan ini ke rumah mungil milik nyonya Shin.

“Nyonya kau di dalam?” Seruku dari ambang pintu.

Nyonya Shin keluar tanpa sarung tangan kebun yang tadi dipakainya untuk merawat tanaman. Ia tersenyum sebelum wajahnya berubah ketika melihat namja di sampingku. Sedangkan genggaman Jongin pada tanganku semakin mengerat. Tubuhnya bergetar.

“J-Jong..in??” Kata itu dengan susah payah keluar dari mulut nyonya Shin yang buru-buru dibekapnya sendiri. Ia terlihat sangat terkejut melihat anak yang telah lama berpisah kini berdiri di hadapannya.

“Jongin…benarkah ini kau, nak?”

Jongin terpaku melihat eomma-nya berjalan ke arahnya sembari menangis. Ia mengangguk pelan.

“Jongin, Kim Jongin anakku. Ini eomma.” Nyonya Shin menghampiri.

Jongin masih mempertahankan posisi ketika nyonya Shin mendekapnya erat. Ia ikut terisak. Membiarkan kesedihan mendominasi sehingga kristal-kristal bening dengan suka rela jatuh bebas dari matanya. Wajah angkuh yang selalu terpasang sehari-hari kian terhapus bersama air mata yang mengalir tiada habisnya.

“Kau bahkan meninggalkanku sebelum aku bisa mengucapkan kata ‘eomma’. Begitu tak berharganya-kah aku untukmu?”

.

-xoxo-

.

Mereka berkumpul. Nyonya Shin dan kedua putranya. Joonmyun hyung berulang kali mengucapkan terimakasih yang membuatku sedikit kikuk. Jelas sekali ia sangat bahagia. Bukankah ia berharap pernikahannya nanti di hadiri oleh eomma kandungnya? Dan sepertinya harapan Joonmyun hyung tersebut benar-benar terlaksana.

Sehun dan Chanyeol datang ke kantor Joonmyun hyung bersama Yoora noona. Membuatku bisa bernafas lebih lega karena tak harus terus terjebak di dalam ‘pertemuan keluarga’ ini. Mereka langsung mengucapkan salam pada orang yang akan menjadi bagian dari keluarga mereka.

“Kau hebat, Baek.” Seru Chanyeol sembari duduk di sebelahku.

Aku hanya membalas cengiran lebarnya dengan senyum seadanya. Jujur, aku masih merasa sakit hati jika mengingat kejadian di malam pertunangan Joonmyun hyung kemarin.

“Bagaimana jika kita makan bersama nanti malam? Aku akan memasak untuk kita semua.” Tawar Yoora noona antusias.

Kami mengangguk setuju.

“Benar. Eomma harus mencoba masakan calon istriku. Dia sangat pandai membuat makanan enak.”

“Masak yang banyak noona. Ah, aku jadi lapar!” Sehun mengelus perut dengan ekspresi berlebihan yang membuat kami semua tertawa.

.

-xoxo-

.

Acara makan malam dan berkumpul bersama keluarga Jongin di apartemen Yoora noona membuatku kerepotan di pagi hari. Ini hari senin dan yeah, jadwal kuliah padat dan aku masih mengantuk pastinya. Aku menyetir sambil menggenggam satu cup kopi yang masih mengepul di tangan kiri. Sesekali ku seruput minuman panas tersebut tanpa mengalihkan pandangan pada jalanan kota Seoul yang cukup padat.

~drett…drett..drett..~

Handphoneku bergetar di saku kiri. Ish, mengganggu saja. Aku harus mencengkram cup kopi dengan gigiku agar tanganku bebas meraih benda sialan itu. Kulihat layar untuk memastikan siapa yang memanggil.

Manusia tiang listrik

Huh? Pagi-pagi sudah mengganggu!

Kupasang headsheet dan memindahkan kembali cup kopi yang menyumpal mulutku agar bisa menjawabnya. “Oh, Chanyeol-ah. Wae geurrae?”

“YA! BAEKHYUN, NEO OEDIGA??!!”

Suara besar Chanyeol menggema di telingaku yang langsung berdenging. Demi tuhan, aku ingin menyobek mulutnya saat ini.

“Ya! Kenapa berteriak! telingaku sakit, bodoh! Aku sudah hampir sampai kampus, ada apa?”

“Mwoo?? Kau bodoh , idiot, pendek, menyebalkan—”

“Ya..ya..ya! sekali lagi mengataiku, ku matikan handphoneku!”

“KAU BERJANJI MENJEMPUTKU HARI INI BYUN BAEKHYUN!” Chanyeol berteriak kembali.

Astaga! Refleks ku injak rem dalam-dalam menyadari kelalaianku sendiri. “Mian..Mianhae Chanyeol-ah, aku lupa.” Kataku buru-buru sambil memutar balik mobil. “Lagian kau tidak mengingatkanku tadi pagi.”

“Sudah salah masih berkilah. Dasar mata kecil!”

“Kau telinga besar!”

“Kau tidak bertanggung jawab!”

Klik~

Aku mendesah menyadari panggilan yang telah terputus.

Kau juga tidak bertanggung jawab atas sakit yang kurasakan saat ini, Chanyeol-ah.

.

-xoxo-

.

Author POV

Seberapapun mereka berdebat. Sekesal apapun mereka pada satu sama lain, tetap saja mereka tak dapat terpisahkan. Sudah menjadi kebiasaan, justru jika salah satu tidak ada malah mereka akan merasa ganjil dan tidak lengkap.

“Jongin di mana?” Tanya Baekhyun karena Sehun datang sendiri. Mereka sedang bersantai di ruang musik. Tempat yang sudah seperti markas sendiri bagi Baekhyun.

“Dia mengunjungi eommanya. Mungkin sebentar lagi datang. Kami ada presentasi, tak mungkin dia membolos lagi.” Sahut Sehun yang langsung mendudukan diri di kursi sebelah Chanyeol.

“Jongin terlihat sangat bahagia.” Chanyeol menerawang.

Baekhyun mengangguk “Yeah, tentu saja. Aku juga turut merasakan kebahagiaannya.”

Pintu ruangan kembali terbuka. Sepertinya Kim Jongin memang panjang umur.

“Ah, itu di— Eh? Yeejin? Mencari Chanyeol hyung pasti?”

Yeejin tersenyum.

“Ada apa. Chagi?”

“Oppa bisa temani aku ke rumah Ahra? Ada sesuatu yang harus ku ambil. Dia tidak berangkat.”

“Kenapa tidak berangkat? Apa Ahra sakit?” Tanya Sehun buru-buru.

“Molla, sunbae. Dia hanya menyuruhku ke rumahnya.”

Sehun menggerutu. “Huh? Bagaimana bisa tidak tahu? kau kan temannya.”

“Ya..kenapa jadi menyalahkan kekasihku? Kau kan bisa menghubunginya sendiri.” Sahut Chanyeol kesal. “Tunggulah di depan, Chagi. Aku akan membereskan barang-barangku sebentar.”

“Baiklah.”

Yeejin pergi meninggalkan ruangan tanpa sedikitpun menoleh pada namja di sebelah kekasihnya.

“Hyungdeul, aku juga harus pergi. Kelas sebentar lagi dimulai.” Kata Sehun. Ketika berjalan menuju pintu, samar-samar masih bisa mendengar suara berat Chanyeol. “Baek, aku pinjam mobilmu.”

Sehun hanya bisa menggelengkan kepala.

.

-xoxo-

.

“Kim Yeejin!!”

Suara panggilan yang lebih menyerupai bentakan membuat yeoja berponi itu menoleh. Alisnya berkerut melihat namja yang mendekatinya. Berjalan di koridor yang telah sepi dengan gerakan cukup santai.

Yeejin kaget bukan main ketika ia diseret paksa menuju tempat yang jarang dilalui oleh penghuni kampus. Tubuhnya terdorong membuat punggungnya terasa sakit. Belum lagi bekas cengkraman di pergelangan tangan yang sangat erat. Ia meringis.

“Aku tidak mengerti peran apa yang sedang kau mainkan. Tapi kumohon berhentilah. Menjauh dari kehidupan kedua hyungku yang telah kau bodohi!”

“S-sunbae, apa maksudmu?”

“KAU TAHU BENAR APA MAKSUDKU!” Bentak Sehun kesal. Emosinya kian meluap hingga tak dapat terkontrol lagi. Sehun menatap lurus manik yeoja yang sedang ketakutan di depannya. Ada rasa iba, ketika menyadari butiran air mata mulai menggenang. Tetapi rasa kesalnya jauh lebih mendominasi.

Yeejin mencoba mencari jalan untuk pergi dari hadapan Sehun. Hatinya berkecamuk. Ia ketakutan, ia ingin menangis diperlakukan seperti ini. Bahkan air matanya mulai tumpah ketika Sehun kembali mencerkam erat tangannya.

“Mau kemana? Urusan kita belum selesai.”

“Ini urusanku dengan mereka, Sehun sunbaenim. Lepaskan aku, jebal!”

“Urusan mereka urusanku juga. Apa kau tak tahu? Hah?” Ucap Sehun semakin kesal. Tangannya berganti mencerkam kedua bahu Yeejin, kemudian mendorong punggung yeoja itu hingga menabrak keras tembok di belakangnya.

Yeejin meringis, terisak dengan keras diperlakukan sekasar ini. Hingga tiba-tiba cengkraman di pundaknya terlepas ketika seseorang membalikan tubuh Sehun.

Buukk!!!

Kejadian itu begitu cepat hingga Yeejin hanya mampu terperangah melihat tubuh Sehun yang sudah tersungkur di lantai. Sehun mendapat pukulan keras. Bibirnya pecah dan mulai mengeluarkan cairan asin berwarna merah.

Namja berkulit gelap itu mencerkam kerah kemeja biru yang Sehun kenakan. Wajahnya merah padam menahan emosi. Untuk pertama kali, ia melemparkan tatapan mengerikan beserta wajah dinginnya. “Jangan berani-berani menyakitinya, Oh Sehun. Atau akan ku hancurkan wajah tampanmu ini!” Desisnya tajam.

.

.

.

-TBC-

.

Huuah akhirnya selesai juga chapter 7. Ini chapter paling melelahkan dan paling lama yang author bikin. Sejak berita Baekyeon dating author langsung speechless dan ngerasa berat banget mau lanjut nulis tentang BabyBaek! huhu, ada yang sama poteknya kaya authorkah? Untung aja waktu itu udah selesai chapter 6. Parahnya lagi author malah nulis ff lain yang juga di publish disini /lol/ tambah bikin lama proses penulisan Edelweisnya. Tapi author sangat-sangat berterimakasih pada acara H*ppy C*mp yang tayang kemarin. Banyak nangkep Baekyeol moment sehingga ff ini dapat terselesaikan. /nyengir kuda/

Terakhir thanks to all reader-nim yang masih setia sama Edelweis /bow/ Komen-komen di chapter sebelumnya selalu author baca dan itu juga salah satu faktor yang bikin author tetep lanjut nulis ff ini.

Sekian dan sampai jumpa di chapter selanjutnya~ /ditendang reader/

17 thoughts on “Edelweis (Chapter 7)

  1. Clarissa Tiara berkata:

    OMG!!!! Ini cerita apa banget dahhh
    Ntuh makhluk berkulit gelap siapa , knapa mukul sehun ?? Kan kaciaan
    Yeejinnya sama baek aja jgan SMA yeol , tapi persahabatannya gk putus ss kan ?
    Fighting dong , sama saya juga potek denger BaekYeon Thor😦🙂

  2. indahtentiana berkata:

    jonginkan yang mukul sehun ? omo ! seneng liat sehun kayak gitu . rada kesel sama yeejin sok2an gak nganggep baekhyun gitu . sedih banget baekhyun diginiin . serasa baekhyun jadi maincastnya dan bikin aku seneng banget . sini abang baek samaa aku aja kalo ga di anggep sama yeejin . cupcup . hehe . nextnya jangan lama2 yaaaa . aku nunggu banget nih ^^

  3. Hilma berkata:

    kenapa sehun dipukul, kan kasihan…
    ih, namja berkulit gelap? jongin kah?
    pokoknya, yeejin sama baekhyun aja..
    ditunggu kelanjutannya chingu.. ^^

  4. bintang dwi ananda berkata:

    jongin? ngga deh ahhh-,-
    tao? masa? ahhh sumpah penasaran lanjut yaaaaaaaa jeballlllllllll jgn lama2:”

  5. In Soo berkata:

    oh migod,, jongin kah yg mukul sehun??
    jangan smpk hancur donk persahabatannya😦

    d tunggu chap slanjutnya ya🙂
    update cpt ya,,,🙂

  6. ParkJudit berkata:

    Hayo~~ Siapa itu yg mukul si Sehun. Jongin kah ? Tp, kurasa tidak mungkin, toh apa alasan nya mukulin si Sehun ? Hmm~, cerita ini membuatku semakin penasaran saja.😀
    Yeejin, Yeejin, Kim Yee Jin. Kim Yeejin. Bisa gak sih satu chapterrrrrrrrrrr aja ga ada nama KIM YEEJIN!
    Sumpah ga suka bener dah sama dia, mainin BaekYeol gua. Emg baekyeol gua salah apaan sama dia!
    Di mainin kek gitu! Arghhhhhhhh, pokok nya gua BENCI yg namanya KIM YEEJIN!😡

    Next ya thor, plis akhirnya Yeejin ga jadi sama siapa2 aja. -_-
    Eneg dah gua sma tu cewek.😡

  7. Chanchan_Hwang berkata:

    namja berkulit gelap? jongin? kayaknya gk mungkin, apa hubungannya sama yeejin? kayaknya tao??? kalo iya apa hubungannya
    awalnya aku maunya Baek sama Yeejin dr pd sama Yeollie
    tapi yeejin gak banget deh, kesel
    mendingan BaekYeol gak usah sama Yeejin dan cari yang baru :3
    soalnya yeejin itu maunya apaan sih???
    sehun kasihan, padahal sehun bener😀

    • ParkJudit berkata:

      Setuju sma kamu! (Y)
      Akhirny yeejin cri yg baru aja ga ush sma BaekYeol! Ga jrlad maunya apaan, setuju sma Sehun yeejin itu cuma mau mainin BaekYeol!

  8. Mrs. Yehet berkata:

    tuh yang mukul honey sehun siapa ? gelap ? jongin ? ah molla..
    jangan disakitin dong sehunnya,, kan kacian
    tapi lebih kasian lagi baekhyun yg skit hati gara gara yeejin..
    yaudah nunggu chapter selanjutnya ya~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s