You Never Give Me a Chance Part 1

sesulli copy

Nama : @sehuhet
Judul Cerita : You Never Give Me a Chance
Tag : Oh Sehun, Choi Sulli, Kim Jongin, Jung Krystal, and other.
Genre : friendship, romance, sad (maybe)
Catatan Author : cerita ini murni buatan author sendiri, mohon jangan di copas. Dan author mohon maaf kalau ada yang tidak suka dengan castnya, sesungguhnya cerita ini hanya fiktif belaka.

Happy Reading~

***

Cuaca pagi ini terasa begitu dingin. Wajar saja megingat kalau sekarang sudah memasuki musim gugur yang berarti suhu sudah mulai meninggi.

Tetapi, dengan cuaca yang begitu dingin seperti sekarang pun, gadis cantik dengan rambut sebahunya yang sudah berantakan terkena angin, tidak terfikir untuk masuk kerumah dan mencari tempat hangat. Pipi gembul nya sudah mulai memerah begitu juga dengan bibir penuhnya yang kini sudah terasa dingin tidak sama sekali menggugahnya untuk ke dalam rumah.

Rasa menyengat dari udara saat ini masih belum sebanding dengan rasa sakit di hati nya. Masih belum sebanding dengan apa yang telah terjadi dengan dunia nya yang sudah jungkir balik seperti sekarang. Penyesalan memang selalu datang belakangan bukan? Dan saat sekaranglah gadis cantik ini merasa sangat menyesal.

Menyesal telah melanggar janjinya,

Menyesal telah jatuh hati dengan pria itu,

Menyesal telah membuat dirinya sendiri hidup dalam harapan palsu.

 

Tanpa sadar, kedua air mata itu sudah mengalir di kedua mata indahnya, membasahi kedua pipi chubby nya. Ia mengangkat kedua tangannya untuk menutupi wajahnya dan menangis tersedu-sedu. Sekeras apapun ia menahan rasa sakit itu, tetap saja ia tidak bisa lebih lama lagi menanggungnya sendirian.

“kenapa kau tega melakukan ini padaku…” ia terisak, “aku sudah mempercayaimu, aku bahkan sudah melanggar janjiku”

Janji untuk tidak akan pernah jatuh hati pada seorang dari dunia entertainer.

 

***

 

“Sulli-ya, besok eumma harus pegi keluar kota selama dua hari,” Sulli yang sedang sibuk dengan bukunya mengangkat kepalanya untuk melihat eumma nya yang sedang sibuk membereskan pakaiannya ke dalam koper. “eumma sudah bilang pada kakak sepupumu untuk datang dan menginap”

Sebelah alis Sulli terangkat, kakak sepupu? “siapa maksud eumma? Krystal?”

“hmm…” eumma nya bergumam, “Krystal akan menemanimu selama eumma pergi”

Sulli menghela nafas panjang. Kalau saja bisa, ia sangat ingin membantah ucapan eumma nya untuk tidak usah menyuruh Krystal menginap di rumahnya atau sampai harus menjaganya. Ia bukan lagi anak umur 5 tahun yang masih harus berada dalam pengawasan orangtuanya, ia sudah berumur 18 tahun, sudah cukup dewasa untuk menjaga dirinya sendiri.

Bukan hanya itu saja yang menjadi alasannya untuk tidak ingin Krystal untuk datang. Mungkin eumma nya berfikir kalau ia dan Krystal masih sangat dekat seperti saat mereka masih di sekolah dasar dulu, mengingat umur mereka yang setara, tapi ibu nya ini tidak tahu kalau semenjak menginjak bangku sekolah menengah atas tahun ketiga, hubungannya dengan Krystal sudah tidak sedekat dulu.

Hanya masalah sepele. Krystal menyukai seorang pria, salah satu teman sekelas Sulli. Sebagai saudara, tentu saja Sulli berniat untuk membantu, tapi Krystal sudah salah paham terlebih dahulu dengan berfikir kalau Sulli berniat untuk merebut pria itu. sejak saat itulah sampai sekarang hubungannya mulai renggang.

“tapi Sulli sudah besar eumma, tidak bisa kah kalau Sulli tinggal sendiri? tidak akan terjadi apa-apa dengan Sulli” ia mencoba memohon.

“tidak bisa, eumma terlalu khawatir denganmu sayang,”

“tapi Krystal pasti sedang sibuk dengan tugas sekolahnya dan akan tidak sopan kalau Sulli menganggunya dengan mngajaknya menginap disini, belum lagi eumma yang membebaninya dengan harus menjaga Sulli” Sulli mencoba membantah. Ia melihat bibir eumma nya mulai terbuka untuk mengatakan sesuatu dan ia dengan cepat langsung memotongnya, “bukankah ada Jongin yang akan menjaga Sulli? eumma bisa percaya pada Jongin” ucapnya mencoba meyakinkan ibunya dengan menyebut nama Jongin. Seperti dugaannya, eumma nya terlihat sedang berfikir untuk menimbang.

Kim Jongin adalah sahabat Sulli yang paling dekat dengannya. Mereka sudah berteman sejak kedua nya masih sangat kecil. Rumah mereka yang bersebelah dan orangtua mereka yang juga menjalin persahabatan, tidak heran kalau Sulli dan Jongin juga menjadi sahabat. Jongin setahun lebih tua dari Sulli, itulah sebabnya Sulli selalu merasa nyaman jika berada di dekat Jongin, karena apapun yang terjadi, Jongin akan selalu ada untuknya dan melindunginya. Jongin merupakan sosok seorang kakak laki-laki untuk Sulli yang merupakan anak tunggal di keluarganya.

           

eumma memang sudah bilang pada So Ra untuk memeriksa keadaanmu, tapi tetap saja eumma ingin ada seseorang berada di rumah ini bersamamu Sulli-ya. Jongin seorang pria, jadi tidak mungkin eumma membiarkan untuk menginap bersamamu”

Sulli mendesah, mulai kehilangan semangat. “tapi Sulli akan baik-baik saja eumma, tidak perlu sampai Krystal harus menginap.”

“ada apa sebenarnya? Bukankah kalian dekat?” tanya Sooyoung menatap Sulli curiga.

“me-memang,” Sulli berdeham, mencoba mencari alasan, “tapi tetap saja tidak enak eumma, jarak sekolah Krystal dari rumah kita kan sangat jauh, bagaimana kalau sampai terlambat?”

“hmm, benar juga”

Sulli bersorak dalam hati, menatap eumma nya penuh harap untuk mengubah fikirannya dengan mengajak krystal menginap.

Please….

            “baiklah, sepertinya memang tidak efesien kalau Krystal harus menginap karena jarak rumah dari sekolah menjadi semakin jauh”

Yeah!!

            “tapi kau harus terus mengabari eumma setiap jam apa yang sedang kau lakukan dan dengan siapa. Eumma juga harus yakin kalau Jongin selalu bersamamu!”

Dengan senyum lebarnya Sulli menjawab, “baik eumma, Sulli akan melaksanakan apa yang eumma perintahkan. Khamsahamida” lalu memeluk Sooyoung dan menciumnya.

 

***

“besok eumma harus pergi ke luar kota, jadi sepertinya kau harus super ekstra untuk menjagaku.” Sulli membaringkan tubuhnya sementara ponselnya masih menempel di telinganya.

“apa? kenapa tiba-tiba? Apa Sooyoung eumma sudah mengatakannya pada eumma ku?”

Sulli mengerutkan keningnya mendengar respon dari Jongin. “eumma sudah mengatakannya pada So Ra eumma, ada apa memangnya?”

Berteman dengan Jongin sejak kecil, membuat keduanya terbiasa memanggil eumma pada orangtuanya satu sama lain. Tidak dipungkiri, Sulli pun sudah menganggap kalau So Ra adalah ibunya mengingat bagaimana wanita itu benar-benar menyayanginya dan menjaganya. begitu juga dengan Jongin yang mengaggap ibu Sulli sebagai ibunya.

Terdengar helaan nafas dari sebrang sana sebelum suara Jongin kembali terdengar. “sepertinya aku harus meminta izin pada eumma mu untuk membawamu bersamaku ke tempat latihan selama beberapa hari”

“apa? kenapa seperti itu? kalau memang kau harus latihan aku bisa dirumah sendiri”

“bukan itu Sulli-ya

“hm? Lalu?”

“kau kan sudah tahu kalau aku adalah salah satu trainee di management korea,” Sulli menganggukkan kepalanya tetapi tidak mengatakan apapun, ia hanya diam dan membiarkan Jongin melanjutkan, “selama satu minggu ini, aku harus menginap di dorm untuk mengikuti latihan”

Sulli memajukan bibirnya mengingat kalau Jongin tidak mengabarinya beberapa hari ini. Ia juga tidak melihat Jongin, ia fikir kalau sahabatnya itu sedang sibuk dengan tugas kuliahnya, tapi baru diketahuinya kalau Jongin sibuk latihan.

Kalau mau jujur, sebenarnya ia benci kalau Jongin harus menjadi salah satu trainee di management korea, yang artinya suatu saat Jongin akan menjadi seorang entertainer yang dikelilingi oleh banyak orang.

Bukannya ia cemburu kalau Jongin akan dikelilingi banyak fans, terutama wanita, tapi ia tidak suka kalau Jongin harus menjadi salah satu entertainer. Ketenaran seperti itu membuat seseorang melupakan segalanya. Jongin akan hidup dalam sebuah kebohongan yang akan sering tercipta seiring dengan berjalannya waktu.

Semua orang pasti tahu bagaimana kelam nya dunia entertainer. Penuh dengan drama dan kebohongan. Dan Sulli tidak mau sahabat yang paling di banggakannya masuk ke dunia yang seperti itu.

“Sulli-ya,… hei, apa kau mendengarku?”

Sulli mengerjapkan matanya untuk beberapa saat sebelum kembali sadar. “huh?”

“ada apa? apa kau tidak mendengarkan aku?” suara Jongin terdengar kesal.

“maaf” hanya itu saja yang bisa terucap dari bibir Sulli.

“yasudah, sepertinya kau sudah mengantuk. Tidur lah, aku akan bicara pada Sooyoung eumma untuk meminta izini apakah aku boleh membawamu bersamaku ke dorm latihan”

“bagaimana kalau aku tidak mau?”

kenapa? Karena kau benci pada dunia entertainer?” Jongin tertawa hambar, wake up, baby. Ngga semua dunia entertainer itu seburuk apa yang kau fikirkan, saat aku lulus dan menjadi idol, aku akan menjadi salah satu entertainer dan mau tidak mau kau harus menerima kalau sahabatmu ini memasuki dunia yang kau benci”

“kalau begitu aku juga akan membencimu”

“kau pasti bercanda kan? itu tidak akan bisa.”

“kenapa tidak? Itu pilihanmu untuk menjadi seorang entertainer, dan itu pilihanku untuk membenci mereka”

“tapi kau menyayangiku Sulli-ya

Sulli tertawa keras sekali mendengar betapa percaya dirinya Jongin. Tapi memang tidak bisa di pungkiri, ia memang menyayangi Jongin. “memang, tapi aku tidak se sayang itu padamu untuk menerima mu menjadi seorang entertainer”

benarkah? Kau tidak akan cemburu pada fans ku kan?”

Sulli memutar kedua bola matanya, “oh god… apa untungnya untukku kalau aku cemburu pada fans mu?”

Jongin tertawa, “kau tidak suka berbagi, yang berarti kau tidak akan suka kalau harus membagi diriku dengan fans”

“simpan saja dalam kepalamu itu Kim Jongin.”

Jongin tertawa semakin kencang, “sudah malam, tidur lah Sulli-ya, aku akan meminta izini pada ibu mu”

Sulli mendengus, “hmm.. baiklah. Good night

“good night”

 

***

 

“Sulli-ya… bangun sayang, eumma harus berangkat”

Sulli mengerang, sebelum perlahan membuka matanya. “hmm? Sudah mau berangkat? Jam berapa ini?” ia bangun dan mendudukkan tubuhnya untuk bersandar di sandaran kasur nya.

“jam 6, eumma harus berangkat pagi. Nanti Jongin akan datang untuk menjemputmu”

“Jongin?”

“iya, semalam Jongin menelfon eumma untuk meminta izin membawamu ikut dengannya ke tempat latihannya, kamu harus siap-siap karena Jongin yang akan mengantarmu ke kampus”

Sulli menghela nafas panjang mendengar penjelasan ibu nya. ternyata Jongin tidak main-main ketika mengatakan akan membawanya ikut menginap di tempat latihannya. Ia ingin sekali membantah, selain benci berada di keliling calon-calon entertainer itu, Sulli juga khawatir kalau disana nanti apa yang harus dilakukannya sementara Jongin berlatih. Tapi dari pada harus meminta Krystal untuk datang menginap dirumahnya, mungkin lebih baik kalau ia ikut bersama Jongin.

“tapi ini masih jam 6, eumma, Sulli baru ada kelas jam 8 nanti” ucapnya setengah menguap.

“setidaknya kamu menyiapkan barang-barang mu untuk menginap sayang, setelah pulang kampus nanti Jongin akan menjemputmu dan langsung pergi ke dorm nya”

Sulli memajukan bibirnya, “baiklah” ucapnya dan dengan masih setengah sadar ia turun dari kasur nya. “Ayo, Sulli kan harus mengantar eumma dulu,” ucapnya.

Sooyoung tersenyum seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak satu-satu nya itu dan berjalan mengikut Sulli keluar dari kamarnya.

Di depan pintu, Sooyoung mengecup pipi Sulli dan memeluk tubuh ramping anak perempuannya, “jaga dirimu sayang, jangan nakal dan jangan menyusahkan Jongin”

“tidak akan eumma, sejak kapan Sulli pernah menyusahkan Jongin” elak nya

Sooyoung mengacak-acak rambut Sulli. “setiap saat sedang bersama Jongin, pasti ada saja masalah yang anak ibu sebabkan!”

“sekarang Sulli sudah kuliah eumma, tidak mungk–”

“ingat siapa yang membuat tubuh Jongin basah semua dua hari yang lalu?” Sooyoung memotong ucapan Sulli yang akan mengelak.

“itu…itu salah Jongin sendiri kenapa begitu lemah saat Sulli mendorongnya ke danau”

aishh… masih saja mau mengelak! Pokoknya jangan nakal!” pesan Sooyoung

ne, Sulli tidak akan nakal” Sulli membalas dengan senyum.

“baiklah, eumma pergi dulu”

“hati-hati eumma,” ucap Sulli sekali lagi mengecup kedua pipi ibunya dan memeluknya.

 

Setelah dilihatnya mobil Sooyoung sudah jauh, Sulli kembali memasuki rumahnya. Ia berjalan menuju kamarnya untuk bersiap-siap mandi, lalu membereskan pakaiannya seperti yang di pesankan ibu nya tadi.

Baru saja Sulli akan memasuki kamar mandi, dering ponselnya menghentikan langkahnya. Ia berjalan menuju tempat tidur nya untuk menjawab ponsenya.

yoboseo?

“aku akan menjemputmu jam 7 nanti”

“hmmm…” Sulli bergumam malas, “Jongin-ah, apa tidak apa kalau aku menginap di dorm mu?”

“tidak apa, disana juga ada salah satu teman ku yang membawa adiknya. Jangan khawatir, di dorm ku tidak semuanya pria, ada sekitar 4 wanita yang juga sedang mengikuti latihan”

“tapi kau tahu kalau aku tidak mudah bergaul”

“omong kosong,” Sulli membuka mulutnya siap mengomeli Jongin, tapi sudah tersusul karena Jongin melanjutkan ucapannya, “tidak mudah bergaul tetapi hampir satu kampus tau siapa Choi Sulli”

Sulli memutar kedua bola matanya, “maksudku, aku tidak mudah bergaul dengan teman-temanmu yang calon entertainer itu”

“berhentilah kekanakan Sulli­-ya, tidak semua entertainer itu seburuk yang kau fikirkan.”

“terserah.” Ucap Sulli acuh, “aku mau mandi dulu, pintu rumah tidak di kunci, masuk saja kalau kau sudah sampai. bye” dan tanpa menunggu respon dari Jongin, Sulli memutuskan sambungannya dan melempar asal ponselnya ke atas tempat tidur.

Bukan tanpa alasan dia membenci orang-orang yang berasal dari dunia entertainer. Apa yang di lalui nya bersama ibu nya sudah cukup menjadikan pelajaran untuk tidak lagi mempercayai orang-orang yang hidup penuh dengan kebohongan itu.

Terserah apa yang akan dikatakan Jongin tentangnya, tapi pria itu tidak tahu sebab ia bersikap seperti ini. tidak ada yang tahu, selain ia dan ibunya.

 

***

 

“aku akan mengantarmu ke kampus dulu dan kembali ke dorm. Tas mu yang berisi pakaian tinggal saja di mobil”

“hmm..” Sulli hanya merespon dengan gumaman. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangannya dan menatap keluar jendela. Bukan maksudnya untuk menghindar dari Jongin. Tapi suasana hati nya saat ini memang sedang tidak baik. Selesai mandi tadi, Sulli mendapat panggilan dari salah satu teman kampusnya, Seohyun, untuk menggantikannya sementara selama Soehyun sedang di luar kota. Ia diminta menjadi anggota journalis kampus yang harus mewawancarai salah satu trainee, Oh Sehun.

Kalau bisa, sebenarnya Sulli ingin menolak. Ia sangat malas kalau harus berhungan dengan Oh Sehun. selain karena alasan ia benci entertainer, Sulli merasa kesal karena teman-temannya yang sudah membicarakan Sehun bahkan sebelum pria itu menjadi orang terkenal. Tapi berhubung Sulli sudah sering di bantu oleh Soehyun, jadi tidak ada salah nya kalau ia membantu.

“hei, ada apa denganmu? Apa kau marah padaku?”

Sulli mengerjapkan kedua matanya dan menoleh menatap Jongin. “hm? Ani, aku tidak marah padamu” sahutnya lalu kembali menghadapkan tatapannya keluar jendela.

“aku minta maaf kalau ucapanku membuatmu kesal”

“bukan salahmu Jongi-ah, aku tidak marah padamu” ucap Sulli tanpa mengalihkan tatapannya.

Dan ketika mobil Jongin berhenti di depan kampusnya, tanpa mengatakan apapun Sulli keluar dari mobil Jongin. Baru saja ia akan memasuki gerbang kampusnya, lengannya ditarik dan punggungnya sudah menabrak mobil.

“aakh! Appo…” lirihnya. Ia mengangkat kepalanya untuk memarahi Jongin yang sudah kasar padanya, dan terhenti ketika melihat wajah serius dari Jongin. “yak! Appo Jongin-ah” omel nya berusaha melepaskan diri.

“ada apa?” tanya Jongin dingin.

Sulli mengangkat sebelah alisnya, “apa nya yang ada apa?! kau ini kenapa sih, lepas!”

“katakan padaku ada apa!” Jongin membentak.

Sulli yang di perlakukan seperti ini mulai kesal. Dengan kasar ia mendorong tubuh Jongin membuatnya mundur beberapa langkah. “kalau kau kira aku marah padamu karena ucapan mu pagi tadi, itu sama sekali bukan! Aku memiliki masalahku sendiri Jongin-ah, dan tidak semuanya harus aku cerita kan padamu!”

Setelah mengatakan itu, Sulli mengambil tas nya yang jatuh dan berjalan melewati Jongin begitu saja. ia benar-benar tidak mengerti kenapa Jongin bersiksap seperti ini. Mereka memang sering bertengkar karena membahas tentang bagaimana Sulli begitu membenci dunia entertainer. Tapi itu tidak seperti pertengkarang yang berlebihan, mereka bertengkar tetapi tidak benar-benar bertengkar. Mungkin memang salah Sulli karena bersikap diam seolah-olah sikapnya itu ada hubungannya dengan pertengkaran kecil mereka pagi tadi, jadi Jongin salah mengatikannya. Tapi bukan berarti Jongin bisa seenaknya berbuat kasar padanya dan membentaknya seperti itu.

“Sulli-ya, mianhe..

Sulli menoleh dan mendapati Jongin sudah berdiri tepat di sampingnya. Ia mencoba tersenyum dan menjawab, “gwenchana, ini salahku karena bersikap seperti tadi jadi kau salah mengartikan”

Baru saja Sulli akan melanjutkan langkahnya, lengannya sudah di tarik. “apa punggungmu baik-baik saja? sepertinya tadi aku mendorongmu cukup keras”

Sulli menepis tangannya, “gwenchana, pergi lah Kim Jongin, aku bisa terlambat masuk kelas” dan tanpa menunggu respon dari Jongin, Sulli berjalan menuju kelas nya.

 

***

 

“Sulli­-ya! angkat ponselmu!”

Sulli yang sedang sibuk menatap ke arah lapangan langsung mengerjapkan matanya dan menoleh. Ditatapnya Luna dengan sebelah alis terangkat.

Luna dengan wajah cemberutnya menggunakan dagunya kearah ponselnya yang sejak tadi berdering. “ponsel mu, aku tidak bisa makan kalau ponselmu berisik seperti itu”

Sulli melirik ponselnya dan melihat nama Jongin tertera di layarnya. Ia menghela nafas panjang sebelum menggeser tombol merah untuk me reject panggilan Jongin. Tidak heran kalau pria itu menelfonnya sekarang, Jongin selalu tahu jadwal kelas Sulli.

Selama dua jam kedepan Sulli tidak ada kelas, sebab itu ia memilih ke kantin dengan Luna. Ia tidak lapar, tapi melihat bagaimana Luna lahap memakan makan siangnya, tidak salah ia mengajak Luna ke sini.

Sementara Luna asik makan, Sulli lebih tertarik melihat pria-pria yang sedang asik bermain bola. Tidak perduli umur mereka yang sudah tidak lagi 10 tahun, para pria itu asik bermain dengan penuh tawa layaknya anak kecil. Itulah sebabnya Sulli menyukai pria yang sedang bermain bola, mereka lebih terlihat natural ketika sedang menggiring, mengoper, dan menendang.

“kau memperhatikan siapa Sulli-ya? jangan bilang kau memperhatikan Luhan sunbae?

“hmm?” Sulli menoleh menatap Luna dan mengangkat kedua alisnya. “apa maksudmu?”

Luna menagngkat bahu nya, “sejak tadi Luhan sunbae terus memperhatikanmu”

Sulli menolehkankan kepalanya kembali menatap lapangan untuk mencari sosok Luhan, dan benar saja, ketika kedua matanya menemukan sosok Luhan, tatapan mereka langsung beradu. Luhan tersenyum manis padanya, dan mau tidak mau membuat Sulli ikut tersenyum dan cepat-cepat mengalihkan perhatiannya.

“sepertinya Luhan sunbae menyukaimu Sulli-ya, tidak hanya kali ini saja aku melihatnya sedang menatapmu. Aku sering memergokinya sedang menatapmu ketika kita sedang duduk-duduk seperti ini”

“jangan asal bicara kau Luna-ya

Luna mengngkat bahunya acuh, “terserah,” lalu tatapannya berubah tajam, “angkat ponsel mu atau aku akan melemparnya ke tempat sampah. Aku pusing mendengar tiap menit ponselmu berdering!”

“ahh… mianhe..” ucap Sulli cepat-cepat mengangkat ponselnya. Jongin tidak akan menyerah kalau ia belum menjawab panggilannya.

yoboseo?

“aku tahu kau sedang tidak ada kelas sekarang”

            “memanng”

“kenapa tidak langsung menjawab telfon ku? apa kau tidak tahu betapa khawatirnya aku?”

Sulli menjauhkan ponselnya dan menatap sinis seolah-olah ponselnya itu adalah Jongin. “maaf Kim Jongin, aku memang sedang tidak ada kelas, tapi bukan berarti aku harus 24 jam bisa menjawab telfonmu!”

benarkah?apa yang sedang kau lakukan kalau begitu? ”

“bukan urusanmu.” Sahut Sulli dingin.

“Sulli-ya! Lihat, sepertinya Luhan berjalan kearahmu!” Sulli menoleh dan benar saja, ia melihat Luhan sedang berjalan kearahnya.

“siapa Luhan?”

Sulli yang baru sadar masih terhubung dengan Jongin langsung menjawab cepat, “bukan siapa-siapa,” ia tidak mau semakin membuat Jongin khawatir. sifat yang paling Sulli benci dan suka pada saat yang sama adalah ketika Jongin bersikap sangat protektif padanya. kalau sudah membicarakan seorang pria, Jongin akan menyakan macam-macam, bahkan mungkin nekad menghampiri pria yang mencoba mendekati Sulli.

“jangan bohong.”

“aihh! Terserah, sudahlah Jongin. Masalah pertengkaran tadi kita bicarakan saat bertemu nanti saja”

anyeonghaseo, kau Sulli kan?”

Sulli mendongakkan kepalanya menatap Luhan yang sudah berdiri di hadapannya dan cepat-cepat mematikan ponselnya. “oh, aneyong sunbae-nim

Sulli merutuki dirinya sendiri karena kurang cepat memutuskan sambungan telfonnya dengan Jongin. Ia yakin Jongin sudah mendengar suara Luhan yang menyapanya dan tidak diragukan lagi, saat Jongin menjemput nanti pria itu akan memberikannya bannyak pertanyaan tanpa henti.

‘bodoh! Bodoh! Bodoh!’

            “jangan memanggilku sunbae, aku merasa sangat tua” ucap Luhan dan tanpa diminta langsung duduk di hadapan Sulli.

“ah.. um… baiklah Luhan….ssi

Luhan memiringkan kepalanya seolah menimbang dan berkata, “itu lebih baik” seraya tersenyum manis.

Hening selama beberapa saat, Sulli sibuk dengan fikirannya yang tertuju pada Jongin. Kalau sampai dalam waktu 10 menit Jongin tidak menelfon balik, itu berarti pria itu sedang dalam perjalanan menuju kampusnya dan yang berarti itu pertanda buruk. Tanpa mengatakan apapun, Sulli beranjak dari tampatnya dan menelfon Jongin.

Dering pertama,

Dering kedua,

Dering ketiga,

Sulli mulai menggigit bibir bawahnya kebiasaan buruknya kalau sedang panic. Dan ia menghela nafas lega ketika pada dering ke lima Jongin mengangkat sambungannya.

“Jongin-ah, kau ada dimana sekarang? ” tanpa mengucap ‘halo’ terlebih dahulu Sulli langsung bertanya.

“di mobil, dalam perjalanan menuju kampusmu”

Andweeee. Sulli mengerang dalam hati. “umm… andwae! Sekarang kembali ke dorm mu untuk latihan, dan aku akan menjelaskan”

wae?

“kau tidak bisa selalu datang seperti ini kalau sudah membahas tentang pria yang ingin mendekatiku Jongin-ah, sekarang menepi dulu dan aku akan menjelaskan”

Sulli menunggu beberapa saat, meyakinkan kalau Jongin benar-benar sudah menepi.

“sekarang jelaskan.”

Menghela nafas panjang, Sulli mulai menjelaskan. “Luhan itu senior ku di kampus, aku pun baru mengenalnya hari ini. Luhan-ssi tiba-tiba menghampiri meja ku dan ternyata mengetahui namaku. Hanya itu saja, tidak ada yang lain. Sekarang kau bisa kembali dengan tenang ke dorm mu”

“bagaimana dia bisa tahu nama mu?”

Oh god…

            “aku juga tidak tahu Jongin-ah! lagi pula, bukankah kau sendiri yang bilang kalau hampir satu kampus mengenaliku, mungkin saja Luhan­­-ssi salah satunya”

tapi dia sudah berani menghampirimu, pasti senior mu itu suka padamu”

“ah! mungkin saja! benar katamu, Luhan bisa saja menyukaiku,” Sulli mendesah, “dan itu bukan urusanmu Jongin­-ah, siapapun pria yang menyukaiku atau mencoba mendekatiku itu bukan urusanmu.”

“oh tentu saja menjadi urusanku, kau adikku Sulli-ya, aku hanya ingin adikku mendapatkan pria baik yang tidak akan mempermainkamu dan menyakiti hatimu”

Oh yeah… I’m his little sister again, dan disaat seperti ini, Jongin akan benar-benar bersikap protektif padanya. “Jongin-ah dengar. aku menyayangimu, kau tentu tahu itu, tapi percayalah padaku kalau saat-saat sekarang ini aku belum memikirkan seorang pria manapun. Jadi kau tidak perlu terlalu khawatir tentangku, okay?”

I can’t promise. Aku hanya mengkhawatirkanmu”

ne, arraso.. tapi aku berjanji padamu, saat aku benar-benar menemukan pria yang menarik hatiku, aku akan mengatakannya padamu dan kau bebas untuk mengintrogasinya.”

Diam sesaat, yakso?

Sulli menganggukan kepalanya, sesaat ia sadar kalau Jongin tidak bisa melihatnya, ia pun menjawab, “yakso”

 

***

 

Iklan

3 thoughts on “You Never Give Me a Chance Part 1

  1. seolri berkata:

    salam kena author aq hunlli shipper,suka bgt ma hunlli…ff nya jg daebak…tp dipart ini lum kluar ya karakter sehunnya…ditunggu next chapnya…semangat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s