Reflection (Chapter 2)

Reflection poster

Title                 : Reflection (Chapter 2)

Author             : Jung Ri Young

Main Cast        : Oh Sehun || Luhan || Zhang Yixing || Park Chanyeol

Genre              : Family, Brothership , Fantasy, School life

Rating             : General

Length             : Chaptered

Disclaimer       : All cast belong to God, parents and SMEnt.

Summary         : “Berjanjilah Luhan, berjanjilah pada eomma kau tidak akan melakukan itu lagi.”

Sebelumnya     : Chapter 1

Ampuni author yang plin-plan ini. Author lupa mencantumkan genre utama dari fanfic ini yaitu Fantasy /lol/ .Oke gitu aja happy reading J

.

.

Seperti yang sudah Yixing duga, Luhan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia juga memikirkan kejadian tadi, penasaran dengan orang yang memiliki wajah sama persis dengan orang yang duduk di sebelahnya saat ini. Walaupun sepenglihatan Yixing, mereka sedikit berbeda, tetapi secara keseluruhan mereka berdua bagai pinang dibelah dua.

.

-xoxo-

.

Jam istirahat belum berakhir, tetapi seorang siswa tak juga beranjak dari bangkunya. Matanya tak pernah absen memeriksa layar handphone, berharap benda mungil tersebut berdering atau setidaknya menerima pesan singkat.

Untuk kesekian kali ia mendesah, membuang nafas dengan keras pertanda kebosanannya telah mencapai titik puncak. Tangannya mulai sibuk mengetuk-ketukan pena yang sedari tadi ia genggam.

“Ehm..!!” Dehaman itu cukup keras menggema di kelas yang terbilang sepi. Otaknya tak perlu berpikir untuk mengenali si pemilik suara. Hidup bertetangga membuatnya hafal di luar kepala pada segala sesuatu tentang bocah ingusan yang kini bersandar di ambang pintu, menenggelamkan jari-jari tangan pada saku celana.

“Kupikir kau tidak datang.”

“Oh, tentu tidak, Park Chanyeol. Aku masih menghargai nyawaku. Eomma akan membunuhku jika aku tidak datang ke tempat sialan ini.”

“Dan seharusnya ahjumma menggantungmu saat ini karena kau baru menginjakkan kaki di sekolah pada jam istirahat. Bagus sekali, Oh Sehun!”

“Jangan asal bicara, Chanyeol-ah. Aku sudah datang sejak pagi.”

“Panggil aku hyung!” Bentak Chanyeol melotot.

Sehun menggelengkan kepala dramatis, “Tidak mungkin! aku satu angkatan denganmu, Yeollie.”

“Tetap saja aku lebih tua darimu! Jangan bertingkah kurang ajar, bocah!”

“Iya..iya.”

Sehun mengambil alih tempat duduk di samping Chanyeol, mempertemukan punggung dengan sandaran kursi. Matanya menelusuri tiap sudut ruang kelas sambil sesekali bersiul-siul.

“Sehun-ah…”

“Hmm?”

“Ah, tidak jadi.”

Sehun menghentikan aktivitas ‘pengamatan’nya. Menoleh ke arah Chanyeol dengan alis berkerut. Yang ia tahu, Chanyeol memiliki mulut yang bekerja lebih cepat dari otaknya, sehingga melihat ia berkata ragu-ragu seperti itu benar-benar aneh dan tidak biasa.

“Wae?”

Bukannya menjawab, hal yang dilakukan oleh lelaki itu adalah menggeleng-gelengkan kepala cepat. Sungguh Chanyeol seperti anak kecil yang menolak disuapi makanan.

“Kau aneh sekali!”

Percakapan mereka terhenti ketika para siswa mulai berhamburan memasuki kelas. Chanyeol buru-buru menegakkan posisi duduknya, kemudian memberi isyarat pada Sehun untuk keluar dan kembali ke kelasnya sendiri. Dengan malas Sehun beranjak. Meninggalkan Chanyeol yang diam-diam masih memperhatikan dengan intens sampai punggungnya menghilang di balik pintu.

Hari pertama masuk sekolah memang bukan hari yang memberatkan. Mereka dibebaskan untuk melihat-lihat lingkungan sekolah sebelum mengikuti masa orientasi tiga hari kedepan. Jadi beginilah kegiatan di ruang kelas seusai waktu istirahat, duduk mencatat apa saja yang mereka butuhkan selama masa orientasi mendatang.

Semua murid terlihat tenang di tempat masing-masing. Tak terkecuali dengan Chanyeol. Namun sepertinya ia tak berniat mencatat. Matanya enggan beralih pada teman yang duduk di kursi paling depan.

Ia hampir tak mempercayai penglihatannya ketika pertama kali melihat orang itu. Jung Luhan, yang konon merupakan putra konglomerat tersohor memiliki wajah yang sama persis dengan orang yang ia kenal dengan baik. Bahkan ia hampir merangkulnya jika saja orang-orang tak bersikap takzim kala berpapasan dengannya. Sungguh sulit dipercaya. Ia mengenal Sehun sejak kecil. Ia yakin Sehun tidak mempunyai saudara. Tetapi tiba-tiba muncul seseorang yang memiliki wajah sama persis dengannya. Bahkan ia seorang putra konglomerat terkenal. Oh, kemana saja Chanyeol selama ini?

Untuk kesekian kali Chanyeol menggeleng tak percaya. Ia semakin terlihat bodoh ketika memandangi Luhan tanpa berkedip.

“Bahkan dari belakang mereka sangat mirip.” Gumamnya takjub.

.

-xoxo-

.

Yixing menutup pintu setelah Luhan memasuki mobil. Kemudian ia membuka pintu dan mendudukan diri di kursi belakang. Mereka memang belum cukup umur untuk mengantongi SIM sehingga masih bergantung pada sopir pribadi keluarga Jung.

“Bagaimana jika kita mampir membeli peralatan orientasi?” Tanya Luhan menghadap belakang.

Yixing mengangguk sebagai tanda persetujuan. Ia kemudian merogoh tas dan mendapati buku catatannya. Memeriksa apa saja yang dibutuhkan untuk kegiatan esok.

“Sepertinya kita harus ke departement store itu.” Ucapnya sambil menunjuk salah satu gedung di seberang jalan.

Mobil terparkir mulus sebelum Luhan dan Yixing turun. Menjejakan kaki pada tempat perbelanjaan yang cukup ramai. Yixing menimbang-nimbang apa yang harus ia beli terlebih dahulu, sedangkan mata Luhan langsung tertuju pada area bertuliskan ‘Book Store’. Tanpa ragu ia melangkah meninggalkan Yixing yang hanya menatapnya. Ia tahu obsesi Luhan pada ilmu pengetahuan sehingga hal seperti ini sudah biasa. Alih-alih mengikuti tuan mudanya, ia lebih memilih berjalan ke arah lain mencari keperluan orientasi untuk dirinya dan Luhan.

 

Luhan POV

Kios buku selalu menjadi tempat paling menarik. Bagiku, tenggelam diantara rak-rak buku tebal merupakan kesenangan tersendiri yang tak pernah ku lewatkan setiap hari. Walaupun appa telah menyediakan fasilitas perpustakaan pribadi di rumah, melihat jajaran buku seperti ini tetap menggelitik tanganku untuk menghampiri dan membuka lembar demi lembarnya.

Aku mulai menyusuri Mini Book Store tersebut. Jarak antara rak satu dengan rak lain tidak begitu renggang sehingga aku harus berjalan pelan-pelan agar tidak mengganggu orang lain yang sedang melihat-lihat buku. Mataku tertuju pada jajaran buku mitologi. Ketika hendak mengambilnya, kurasakan pantat seseorang menubruk bagian belakang tubuhku. Membuatku terdorong ke depan dan menabrak rak dengan bunyi cukup keras.

Brraaakk!!!

“Akh..” Aku mengerang pelan, merasakan sakit pada pergelangan tangan yang ku jadikan tumpuan.

“Maaf, aku minta maaf.”

Kubalikkan badan dan mendapati seorang lelaki seusiaku membungkukkan badan berkali-kali. Melihat kepanikannya membuatku tersenyum geli.

“Tidak apa-apa.”

“Eh? Kau?”

Dia memasang ekspresi kaget yang sangat kentara. Melihat seragam yang dikenakan, samar-samar aku ingat dia adalah teman sekelasku. Jadi tanpa ragu ku ulurkan tangan padanya.

“Hai, kita satu kelas kan? aku Luhan, Jung Luhan.”

Tak seperti orang lain yang sangat antusias padaku, dia terlihat sangat sangsi menjabat tangan yang ku ulurkan. Beberapa kali ia berkedip-kedip sebelum membalas ucapanku.

“Park Chanyeol. Senang berkenalan denganmu, Luhan.” Ucapnya ragu-ragu.

Chanyeol mengangguk setuju ketika kutawarkan makan siang bersama. Jadwal yang masih terbatas membuat para siswa baru tak sampai waktu makan siang di sekolah. Diam-diam aku bersyukur karena dapat mengobrol dengannya lebih lama. Berbeda kelas dengan Yixing membuatku sedikit kerepotan dalam mencari teman dan ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh ku sia-siakan agar bisa mendapat teman baru. Ngomong-ngomong tentang Yixing, dimana makhluk es itu berada sekarang? Ah entahlah.

“Kau tinggal di mana?” Aku mencoba memulai percakapan di sela-sela kegiatan makan siang kami.

“Busan.”

Jawabannya sontak membuatku hampir menyemburkan minuman yang baru saja ku teguk. “Mwooo?? Busan? Bagaimana bisa kau sekolah di sini? Bukankah jarak Busan ke Seoul cukup jauh?”

Ia mengedikan bahu, membuatku semakin heran.

“Tentu saja aku tidak pulang pergi ke Busan setiap hari, teman. Untuk sementara aku menumpang di tempat kenalan kami. Rumahnya tak jauh dari sini.”

“Lantas orang tuamu?”

“Aku dan Sehun bukan berasal dari keluarga berada sepertimu, Luhan. Mendapat tawaran sekolah gratis merupakan kesempatan emas yang tidak boleh kami sia-siakan. Walaupun konsekwensinya harus berpisah dengan keluarga untuk sementara.”

“Ah, maaf. Aku tak bermaksud menyinggungmu.”

 

Chanyeol POV

Kulihat Luhan menggigit bibir bawah. Matanya seolah memancarkan rasa bersalah. Aku berdecak dalam hati, anak ini sugguh polos. Mengenalnya lebih dekat membuatku sedikit banyak dapat melihat perbedaan dirinya dengan Sehun. Luhan memiliki sifat yang sangat lembut, sesuatu yang sama sekali tidak dimiliki oleh si setan Sehun. Sedangkan wajahnya, walaupun sangat mirip tetapi ternyata wajah Luhan jauh lebih manis daripada Sehun yang cenderung manly dan tampan. Mereka berbeda, tapi perbedaan itu benar-benar tipis dan nyaris tersamarkan.

Kulirik jam tangan yang terbelit di lengan kiri, sudah hampir satu jam sejak Sehun meninggalkanku di kios buku. Kenapa dia belum menghubungiku? Apa dia belum kembali? Cih kemana sebenarnya setan kecil itu?

“Kau ada janji dengan seseorang?” Tiba-tiba Luhan bertanya.

“Tidak, aku hanya menunggu Sehun. Tadi kami kesini bersama tapi dia pergi begitu saja.”

“Dari tadi kau menyebut-nyebut Sehun. Siapa Sehun?”

Sehun adalah orang bodoh yang sebentar lagi akan menggemparkan sekolah ketika orang menyadari kemiripannya denganmu Luhan! Oke, tentu saja aku hanya membatin.

“Dia tetangga sekaligus temanku.”

“Satu sekolah dengan kita juga?”

Aku mengangguk.

Dari apa yang aku lihat, Luhan bukan tipe anak yang pandai bergaul. Dia berkali-kali mengingatkanku untuk menemaninya ketika berada di sekolah besok. Seolah takut akan terintimidasi dan dikucilkan. Hey, bukankah dia telah mencuri perhatian penghuni sekolah sejak awal? kenapa begitu khawatir?

.

-xoxo-

.

Sehun muncul hanya selang beberapa menit setelah Luhan pamit pulang. Ia mendelik melihat banyaknya sisa makanan di meja tempatku duduk.

“Ya! Kau menghamburkan uang!”

Aku tidak meresponnya. Memberi isyarat padanya dengan dagu agar ia duduk. “Makanlah, kapan lagi kita bisa menikmati hidangan enak dan gratis seperti ini.”

“Gratis? Kau pikir tempat ini milik nenek moyangmu? Sebentar lagi kau pasti akan ditendang karena tak mampu membayar!”

“Ck! Diamlah! Ini sudah dibayar.” Kataku santai. Aku tahu dia pasti bertanya-tanya. “Tadi aku bertemu dengn teman sekelasku, dia mengajakku makan dan membayar semua ini.”

“Jinjja? Dia pasti orang kaya.”

Aku mengangguk mantap. “Kau sudah dengar putra konglomerat terkenal yang masuk sekolah kita? Nah, dia orangnya.”

“Whoa, kau berteman dengan konglomerat, hyung. Kau bisa memanfaatkannya kalau begitu!” Ucapnya tanpa otak. Kujitak kepalanya dengan gemas. Licik sekali dia.

“Dia anak yang sangat baik, Sehun-ah. Lain kali aku kenalkan.”

“Cih, aku tak berniat kenalan dengan sesama lelaki, hyung.”

.

-xoxo-

.

Kediaman keluarga Jung terlihat sangat lengang. Yoona berjalan menghampiri kamar Luhan. Suaminya tak dapat ikut makan malam bersama jadi ia berniat mengajak putra semata wayangnya makan di luar. Yoona pikir itu menyenangkan menikmati gemerlap kota Seoul di malam hari. Apalagi bersama buah hati tercinta.

Yoona mengetuk kamar Luhan pelan. Sekali, dua kali, tak ada jawaban dari dalam. Ia memutuskan membuka pintu yang ternyata tak dikunci itu. Mata Yoona terbelalak melihat apa yang sedang dilakukan Luhan. Senyumnya seketika pudar bersama dengan airmata yang tiba-tiba lolos begitu saja dari tempatnya.

“Tidak,ini tidak boleh terjadi. Jangan lakukan itu Luhan, jebal!” Jerit Yoona dalam hati. Ia masih nenggeleng-geleng tak percaya.

“L-Luhan.”

Luhan tersentak. Buku yang sedang ia mainkan jatuh berdebum begitu saja. Jantungnya berpacu kencang melihat eommanya berdiri di ambang pintu. Eomma melihat, eomma menangkap basah dirinya.

“Apa yang kau lakukan, nak?” Seru Yoona menghampiri putranya. Luhan mendongak, menampilkan mata rusa yang membuat wajah polosnya semakin polos. Ia tak berani mengucap satu katapun. Ia takut eomma memarahinya.

Ketakutan Luhan berubah menjadi tanda tanya besar ketika tiba-tiba Yoona memeluknya erat. Eomma tidak memarahinya seperti apa yang ia duga. Eomma menangis tersedu, memeluknya seolah Luhan adalah benda rapuh yang harus dijaga.

Dengan keberanian yang dia kumpulkan Luhan membuka suara. “Eomma..”

“Berjanjilah Luhan, berjanjilah pada eomma kau tidak akan melakukan itu lagi.” Kata Yoona di sela tangisnya.

“Kenapa eomma? Itu hanya…”

“Jebal Luhannie! Berjanjilah pada eomma dan lupakan semua tentang itu. Kau harus tumbuh menjadi anak normal. Kau tidak boleh melakukannya karena…” Yoona tak sanggup meneruskan kata-katanya. Ia takut, sangat takut.

“Karena apa eomma? Luhan tidak mengerti?”

“Karena eomma tidak mau kehilangan orang yang eomma sayang untuk kedua kalinya.” Bisik Yoona lirih.

Mata Luhan mengerjap. Ia tak mengerti dengan ucapan eomma. Tetapi ia tidak berusaha bertanya lebih jauh. Ia memilih mendekap eommanya yang masih tersedu. Baru kali ini Luhan melihat eomma menangisinya, dan Luhan tidak suka.

“Baiklah eomma.”

.

-xoxo-

.

Malam itu Luhan tak bisa memejamkan mata barang sejenak. Ia masih tidak mengerti mengapa eomma memaksanya berjanji seperti itu. Memangnya kenapa? Bukankah itu anugrah? Bahkan Luhan sudah sering bermain-main dengan kemampuan pikirannya sejak ia masih sekolah dasar. Tanpa sepengetahuan orang lain tentu saja.

Luhan menoleh ke arah buku yang masih tergolek di lantai, menatapnya intens hingga buku tersebut bergerak-gerak dengan sendirinya. Tangan Luhan terulur mengendalikan buku yang mulai terangkat. Luhan tak perlu menyentuhnya, ia hanya perlu memerintahkan lewat pikiran. Sejenak kemudian buku tersebut kembali terjatuh. Luhan menggeleng-geleng, memutuskan koneksi pikiran sehingga benda itu tak lagi dalam kendalinya. Ia sudah berjanji. Ia tidak akan melakukannya lagi demi eomma.

.

-xoxo-

.

“Siswa baru sebelah sini…siswa baru mohon berkumpul disini…”

Seorang koordinator lapangan menyerukan kalimat itu berkali-kali. Memberi arahan pada siswa baru yang mulai berdatangan. Hari ini masa orientasi di mulai. Sebuah acara yang bertujuan untuk adaptasi bagi para siswa kelas satu. Sedangkan bagi para panitia orientasi, ini adalah ajang bersenang-senang karena dapat berbaur dengan anak-anak baru yang masih lugu dan polos. Tak jarang dari mereka mengerjainya hanya untuk hiburan semata.

Chanyeol melambai-lambaikan tangan pada Luhan. Ia berusaha menepati janji untuk menjadi temannya di sekolah. Dengan cengiran lebar ia menyambut Luhan yang datang menghampirinya.

“Sudah lama?”

“Tidak, aku juga baru saja datang.”

“Oh, tunggu sebentar aku akan menaruh tas ke kelas.”

“Kajja, kutemani.”

Mereka berjalan beriringan. Membuat Chanyeol sekali lagi menemukan perbedaan antara Luhan dengan Sehun. Luhan lebih pendek darinya. Itu artinya tinggi Luhan dan Sehun tidak sama karena Sehun sama tinggi dengannya. Langkah mereka terhenti ketika berpapasan dengan senior di ujung koridor. Senior itu memakai blazer yang berbeda dengan siswa pada umumnya yang menandakan ia adalah anggota panitia orientasi. Luhan buru-buru menunduk sopan, sedangkan Chanyeol malah melambai-lambai dengan riangnya.

“Oh Kris..Hai..!!”

Anak yang dipanggil Kris tersebut tidak membalas. Ia mematung sambil menatap tajam pada mereka berdua. Sikap dinginnya mengingatkan Luhan pada temannya sendiri, Yixing.

“Ck! Kau sombong sekali ketika di sekolah.” Sambung Chanyeol.

Kris sedikit bereaksi. “Kegiatan orientasi akan segera dimulai, cepatlah berkumpul di lapangan. Dan kau, jangan coba-coba membolos lagi!” Ucapnya sarkatis menunjuk Luhan.

Tentu saja Luhan bingung. Ini baru hari kedua ia menginjakan kaki di sekolah dan hei! Luhan bukan tipe anak yang hobi membolos. Bahkan memikirkannya saja tidak pernah. Ia ingin memprotes tapi tak punya nyali saat menatap mata tajam Kris.

“Dari mana kau mengenal dia?” Tanya Luhan setelah mereka melanjutkan perjalanan menuju kelas.

“Kris? Aku tinggal di rumahnya.”

“Dia sedikit…menakutkan.” Kata Luhan jujur. Dia memang sedikit takut melihat muka garang berhias alis tebal milik Kris.

“Yeah, dia memang terlihat galak, tetapi sebenarnya dia orang baik. Kris yang meminta orang tuanya untuk menyekolahkan aku dan Sehun. Dulu kami bertetangga di Busan. Tetapi dia pindah ke Seoul setelah bisnis keluarganya sukses.”

Luhan mengangguk-angguk mendengar penjelasan Chanyeol. Yeah, mungkin istilah ‘jangan melihat buku dari covernya’ cocok untuk Kris jika memang begitu keadaannnya.

.

-xoxo-

.

“Butuh bantuan?” Yixing menghampiri Luhan yang sedang berkutat dengan pot-pot bunga. Ia diperintah merapikannya karena kepergok berbincang dengan Chanyeol saat panitia sedang menjelaskan beberapa hal penting. Berbeda dengan Yixing, Chanyeol ternyata sangat cerewet hingga Luhan kewalahan menanggapinya. Chanyeol langsung diseret membersihkan kamar mandi, sedangkan Luhan, disinilah dia sekarang. Kerepotan berkutat dengan tanah lembab.

“Tidak perlu, Yixing. Aku bisa melakukannya.”

Yixing tidak menghiraukan kata-kata Luhan. Tangannya mulai menyentuh pot-pot di depannya dengan cekatan. Yixing tahu Luhan tak pernah melakukan hal seperti ini. Ia tak tega membiarkannya.

Hanya butuh beberapa menit pekerjaan itu telah selesai. Mata Luhan berbinar melihat bunga-bunga telah berjajar rapi pada tempatnya. Kemudian ia tersenyum sebagai tanda terimakasih pada teman di sebelahnya.

“Kau berulah lagi?”

Sebuah suara dingin menginterupsi mereka berdua. Disusul dengan visual tinggi menjulang yang membuat tubuhnya semakin terlihat angkuh berwibawa. Baik Luhan maupun Yixing masih membeku. Tak berani menjawab pertanyaan sarkatis yang ia lontarkan.

“Sudah kubilang jangan bertindak macam-macam. Kau masih siswa baru, Oh Sehun!” Desisnya tajam.

“M-Maaf?” Tanya Luhan tak mengerti. Sejak pertama kali bertemu, seniornya itu memang sudah bersikap aneh padanya. Dan sekarang ia memanggil siapa? Oh Sehun? Semakin aneh saja!

“Buang jauh-jauh ekspresi polos itu. Sangat tidak cocok dengan sifatmu!” Sambungnya.

“Kau sepertinya salah orang, senior. Dia bukan orang yang namanya kau sebutkan tadi. Dia bernama Luhan.” Kata Yixing mencoba memberi pengertian. Sedangkan Luhan masih menatap takut-takut dengan mata rusanya.

“Maksudmu?” Jawab senior itu. Dia berjalan menghampiri Luhan dengan ekspresi bingung.

“Kris hyung! Kau salah orang. Cih, memalukan sekali!” Teriak seseorang dari kejauhan. Mereka bertiga menoleh pada sumber suara. Seorang siswa bersedekap sambil bersandar pada salah satu pilar gedung dengan santai. Kris terbelalak menyadari orang yang memanggilnya. Sehun? Jadi anak di depannya itu siapa?

Mengabaikan Kris yang masih terbengong-bengong, Luhan berjalan menghampiri Sehun. Kali ini ia harus berhasil. Anak itu benar-benar membuatnya penasaran. Luhan berusaha mencarinya di antara para siswa baru sejak tadi pagi, tetapi dia tidak pernah terlihat. Bahkan Luhan sudah memutuskan bahwa orang yang memiliki wajah sama persis dengannya hanya halusinasi jika saja ia tak muncul sekarang. Jarak mereka berdua semakin dekat, Luhan tak sedikitpun mengalihkan pandangann dari anak di depannya takut dia akan menghilang seperti kemarin. Melihat wajahnya benar-benar membuat Luhan seperti sedang bercermin.

Di sisi lain, Sehun juga mengunci Luhan dengan pandangan yang sulit diartikan.Tatapannya tajam tak bersahabat. Seperti tersirat… kebencian.

.

.

.

-TBC-

Iklan

29 thoughts on “Reflection (Chapter 2)

  1. Hilma berkata:

    makin seru aja niih cerita…
    luhan punya kekuatan? apakah sehun jga?
    terus kenapa luhan dilarang gunain kekuatannya??
    wah, makin penasaran aja..
    ditunggu kelanjutannya chingu.. ^^

  2. Cicil berkata:

    Tunggu deh, berarti si sehun yang suka bolos ini punya penyakit jantung??? Kaciaaann hun hun ;_;
    Ceritanya menarikkk, antara real life sama fantasty. Lanjuttt terus yaaàaa

  3. Ade Zeni Anggraeni - Fanfiction Park Jiyeon ♥ EXO berkata:

    Wooow daebakk!!! Auhtor berhasil membuat aku penasaran, Luhan juga punya kemampuan. Berasa kurang panjang, lanjut thor jangan lama-lama 🙂

    SEMANGAT 🙂

  4. Shin Seul Gi_99HunHan shipper berkata:

    Waah uda ktmu face to face yah??yah hunie ffa ga boleh bnci d0ng kn hanie ffa cma liat mka handzome ffa yg mlif bgt..!kekuatan?wahh mzh dha hbngan nh ma ‘mama’…ax mzh kezel dh ma nenek’y hunhan ffa yg jhatt bgt..zfa yg ngadofzi hunie ffa??tz fenyakit hunie ffa mzh adha kn?next dtnggu yah..cayoo dbk dbk dbk^^

  5. Dini berkata:

    suka suka… aku selalu suka yg bergenre fantasy ^^
    berhubung aku baru ketemu ff ini lgsg di chap2 (dan tadipun aku lngsng baca chap satunya karena ada linknya di atas) jadi mianhe authornim aku komennya sekaligus disini aja yaaa 😀
    Sehun ko kaya yg benci sama Luhan ya? gara2 apa coba?:(
    aahhh Sehun punya penyakit, nanti nya jangan di sad ending-in ya author 😦 hehe
    next chap hwaiting^^

  6. Risha berkata:

    Wiiiii Luhan punya kekuatan gt ya? Ah keren pasti! Sehun kenapa benci sama Luhan??? Penasaran cuyyy, next chapter ditunggu yap 🙂

  7. ElizElfishy berkata:

    Luhan punya kekuatan, berarti Sehun juga donk. Yixing kau memang yg terbaik. (hehehe). Lucu deh pas baca bagian Kris salah orang. Mana ngomongnya udah PD banget lagi. D’tunggu next chapternya thor.

  8. sharymyname berkata:

    omooooooooooooo,,,,,, aku suka aku suka aku suka
    kalo yang genre friendship brothership aku paling suka sama HunHan atau BaekYeol…. feelnya dapat banget
    keep writing yahh

  9. littlecheonsasss berkata:

    Maaf baru komentar sekarang author-nim :3. Kemarin gak sempat karena banyak FF lain.. dan waktu chapter 1 keluar aku gak baca, baru sekarang bacanya.

    Kok Luhan punya kekuatan sih? Dapat darimana? Kenapa gak dibolehkan sama YoonA? Penasaran

    Sehun jangan jangan tau soal dia dibuang oleh q
    orang tuanya. Makanya dia mandang Luhan dengan penuh kebencian.

    Lanjut ya thor ^_^

  10. phi berkata:

    ayoooo donk di lanjut… penasaran banget sama luhan dan sehunnnn kyaaaaaaaa!!!!!!!!! luhan punya kekuatan…. duh sehun gimana sama penyakit jantungnya?????? fighting authorrr-nim ^^

  11. cikara berkata:

    makin seru aja Thor,jadi penasaran ko kayanya sehun benci sama luhan,apa dia udah tau luhan itu sodaranya,pokanya jangan lama- lama ya 🙂

  12. amelia berkata:

    tersirat kebencian?
    emng sehun udah tau tentang dia sama luhan yng ternyata satu kluarga?
    aduh aku jadi penasaran thorrr..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s