MY PERFECT ALIEN Chapter 5

PicsArt_1398509300181

 

Nama : Oh jaesin

 

Judul cerita : MY PERFECT ALIEN

 

Cast: Oh Sehun (EXO), Yeo Junhee (OC)

 

Sub Cast : Lay (EXO ),     Jung guk (BTS),   Hwang Taesung(OC)

 

Genre : Romance fantacy

 

Ratting ; T

 

Length : Chapter

 

Catatan author : Ini ff fantasy pertama yang saya buat. ff ini terinspirasi dari drama ” you who come from the star “. tapi saya berani jamin ini benar benar akan berbeda dari drama itu. itu saja semoga para readers sekalian bisa memaklumi jika ada beberapa kesalahan dalam ff ini ^^

 

HAPPY READING^_^

 

Junhee hanya bisa diam mematung sambil menatap lekat sepatunya. Sepatu usang yang entah kenapa menjadi jauh lebih menarik dibanding namja tinggi di depannya.

Entah sudah berapa lama Junhee bertahan dengan posisi bodohnya itu, selapas kejadian di kelas tadi, ia dengan pasrahnya mengikuti langkah Sehun tanpa protes sedikitpun.

Oh, Junhee bahkan tak ingin membayangkan hal apa yang akan menimpanya jika dia memang berani melawan Sehun. lebih baik seperti ini, diam dan menunggu hal selanjutnya yang entah apa itu.

“ Yeo Junhee “

“ n-ne ?”

Junhee melonjak kaget bahkan hanya karna panggilan kecil dari Sehun. Mungkin diluaran sana para yoja akan bertingkah berlebihan atau mungkin bahkan berteriak histeris saat Sehun memanggil nama mereka, tapi tidak bagi Junhee. Baginya sapaan kecil Sehun tak jauh berbeda dari raungan harimau lapar.

“ kenapa gugup oh ?, aku hanya memanggilmu Junhee, tak… lebih ?”

Junhee lagi lagi menegang.. oh tidak, apa Sehun bilang tadi ? tak lebih ?. Dia memang bilang “tak lebih” tapi entah kenapa Junhee menangkap arti lain dari ucapan Sehun, Sehun seolah bertanya “apa aku memang harus melakukan sesuatu yang lebih ?“. Tolong bilang tidak ! karna Junhee tak ingin sampai itu terjadi

“ a-aniya “ Junhee sama sekali tak bisa menyembunyikan kegugupanya, entah kemana semua tenaga yang dikumpulkannya tadi saat dengan beraninya berbicara bahwa dia memang tak takut sama sekali dengan Sehun.

“ kau gugup ! jangan berb- “

“Sehun kumohon, tolong maafkan aku kali ini.. a-aku janji, aku tak akan bilang pada siapapun soalmu, kumohon Sehun “

Junhee benar benar sudah tak tahan lagi, dengan segenap tenaga yang masih tersisa di tubuhnya, Junhee memohon dengan sangat pada Sehun, memohon belas kasihan Oh Sehun.

“ memangnya ada apa denganku oh ?” Sehun hanya menyeringai kecil melihat betapa gugupnya Junhee dihadapannya. Dalam hati ia tertawa terbahak bahak melihat tingkah Junhee.

Sehun masih bisa membayangkan wajah Junhee saat dengan percaya dirinya yoja mungil itu mengatakan bahwa dia sama sekali tak takut dengan Sehun, tapi lihatlah sekarang.. Junhee merengek meminta maafnya ? hahahaha

Lain Sehun lain Junhee. Sementara Sehun sibuk dengan smirk-nya Junhee malah tertunduk lesu sambil menahan sesuatu yang akan segera keluar dari kedua matanya

“ Sehun ssi, aku mo- “

“ apa kau tak risih dengan bajumu itu oh ?”

Junhee yang lagi lagi berusaha memohon pada Sehun harus puas mendapat tatapan dingin (merendahkan) dari Sehun. sedetik kemudian Junhee mengarahkan pandangannya pada seragamnya sendiri.

Sehun benar, seragam bernodanya memang membuatnya cukup risih, kalian tentu masih ingatkan soal insiden di kantin waktu itu ? Junhee memang tak mengganti seragammnya dengan yang baru atau lebih tepat jika dibilang tak bisa mengganti seragamnya dengan yang baru. Oh ayolah, bagaimana bisa dia membeli seragam baru sedangkan mengganti seragam Sehun saja dia harus meminta bantuan dari managernya,

“ kau mengganti pakaianku yang kau rusak tapi pakaianmu sendiri malah tak kau ganti “

“ dasar bodoh “

Junhee marah. Ingin protes, tapi sekali lagi itu Sehun. Sehun si pria yang berkuasa atas hidupnya sekarang.

“ ini “ Sehun mengarahkan paper bag ditangannya pada Junhee “untukmu “

“ m-mwo ?”

Junhee menatap penuh tanda tanya paper bag ditangan Sehun yang di arahkan padanya. Apa maksudnya ? apa Sehun memintanya untuk memakai seragam itu ?. Junhee tahu pasti itu adalah papper bag yang diberikannya (hendak dilemparnya ) pada Sehun.

“ kubilang ini untukmu ! apa kau tak punya telinga ? atau apa perlu aku memberiatahumu dengan cara seperti dikelas tadi oh ?”

“ ti- tidak !”

Junhee seketika menegang saat mendengar Sehun yang bilang bahwa dia akan memberitahukannya dengan cara seperti di kelas tadi. Tidak ! jangan lagi !

“ a-ani itu.. ini.. ah itu “

“ bicaralah yang benar Junhee “

“ i-itu seragam namja “

“hhhh “ Sehun mendesah malas. Dia ini bodoh atau apa sih ? “ apa susahnya menukarnya dengan seragam yoja oh?”

“ tapi, i-itu seragam-mu Sehun “

“ apa aku kelihatan seperti orang yang butuh seragam ini ?”

Junhee bungkam. Perkataan Sehun selalu sukses membuatnya tak berkutik sama sekali. Sehun memang benar, dia memang tak butuh seragam itu. Bahkan jika Sehun mau dia bisa mengganti seragamnya dengan yang baru setiap hari

Junhee masih tetap bungkam, tak bergerak sedikitpun. Yoja mungil itu masih agak (sangat) takut bahkan hanya untuk menatap kedua iris mata Sehun.

“ t-tapi “

“ cepat ambil atau kau akan tahu akibatnya “ ancam Sehun. Sehun jengah, Junhee terlalu lamban dan bertele tele. Apa susahnya menerima seragam pemberiannya, kira kira begitulah pikiran Sehun.

“ a-arasso “ akhirnya Junhee menyerah. Junhee berpikir lebih baik meng-iyakan semua keinginan Sehun sekarang.

Setelahnya, Sehun segera berlalu pergi dari hadapan Junhee tanpa basa basi lagi. Junhee hanya bisa menatap heran Sehun, hanya itu ? apa dia tak berniat melakukan lebih ?- pikirnya

Hey, kenapa sekarang kau malah terkesan seperti mengharapkan Sehun melakukan sesuatu padanya. Kau memang bodoh Junhee hhhh

Junhee terus menatap punggung Sehun yang perlahan lahan mulai menghilang dari pandangannya, tapi..

“ Sehun ssi “ panggilnya

Walau bagaimanapun Junhee butuh penjelasan. Apa Sehun benar benar akan melepaskannya semudah ini ?. bukankan ini aneh ?

Sehun yang merasa namanya dipanggil menghentikan langkahnya sejenak tanpa berbalik melihat Junhee sama sekali.

“ apa kau serius seragam ini boleh buatku ? “ Sehun yang mendengarnya tak menjawab sedikitpun, terlalu malas untuk mengulang kata kata yang sudah berkali kali keluar dari mulutnya

Melihat Sehun yang tetap diam Junhee menyimpulkan satu hal, Sehun melepasnya ? entah apa alsannya, tapi Junhee cukup bersyukur jika itu memang benar

“ go-gmawo. Aku janji, aku tak akan memberitahu orang lain soalmu “ Junhee sedikit berteriak karna jaraknya dan Sehun yang memang sudah agak berjauhan.

Tak lama Sehun kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas

.

.

.

.

Sehun POV

Satu masalah selesai.

Aku sudah membuat keputusan untuk melepaskan Junhee kali ini. Dia tak tampak seperti seseorang yang akan membahayakanku nantinya, lagi pula sedikit memberinya pelajaran seperti tadi kurasa cukup.

Aku memang sudah tahu bahwa yoja bersuara cempreng itu tahu identitasku yang sebenarnya, itu semua karna salahnya sendiri berteriak teriak menyebut aku alien di taman belakang sekolah beberapa hari yang lalu.

Aku sekarang sedang berada dikoridor lantai satu. Kulihat para siswi yang menatapku dengan wajah sendu. Sedikit lucu buatku.

Mereka benar benar salah paham dengan apa yang kulakukan dengan pada Junhee tadi. Kalau dilihat sekilas siapapun pasti akan mengira aku memiliki hubungan yang lebih dengan Junhee. Tapi tentu saja itu tak benar, Junhee.. dia bukanlah tipeku.

Dan tentang seragam tadi, bukankah sudah kubilang padanya dari awal untuk tak perlu mengganti seragamku yang dirusaknya ? wajar bukan jika aku memberikan seragam itu padanya lagi ? aku tak punya maksud lain untuk itu.

.

.

.

.

Author POV

Orbis Planet, Garden of the time

Terlihat seorang namja dengan rambut blondenya sedang duduk dan memeperhatikan hamparan bunga didepannya, Bunga berwarna putih bersih dengan warna biru yang mengelilingi setiap kelopaknya. Bunga itu tampak bercahaya dalam kegelapan malam hingga membuat seisi taman terang bahkan tanpa penerangan sedikitpun. Hanya ada satu jenis bunga disini karna memang hanya bunga itulah yang bisa tumbuh disini, Garden of the time

Namja tadi kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan menuju sebuah kolam yang cukup besar tepat ditengah taman ini, disana ada bangunan putih semacam bungalou tanpa dinding yang dihubungkan dengan jembatan minimalis yang senada dengan bangunan yang dihubungkannya, hanya ada empat pilar besar yang menjadi penyangga disetiap sisi bangunan itu, berbagai ukiran ukiran rumit dimasing masing pilarnya semakin menambah kesan elegan disana. Karna letaknya yang berada tepat ditengah kolam otomatis membuat taman ini tampak jauh lebih indah dengan hamparan air kolam berwarna biru laut yang mengelilinginya, ditambah lagi dengan Bunga Bunga putih tadi yang mengelilingi sekeliling taman.

Mendongak sedikit keatas dapat dilihat dengan jelas langit malam yang benar benar bersih tanpa awan. Taman ini memang tak memiliki atap hingga memungkinkan pemandangan langit malam terlihat dengan sangat jelas.

“ Lay “

Namja tadi –Lay- membalikkan badannya karna merasa namanya dipanggil

“ ada apa ?” tanya-nya pada sosok yang berdiri tepat dipintu masuk taman ini.

“ yang mulia raja mengirimi-mu pesan lagi “

Lay tersenyum kecil mendengarnya “ bukankah sudah kukatakan berkali kali, aku tak akan keluar dari taman ini sampai saat itu tiba “ Lay tahu apa isi dari pesan itu, ini bukanlah pertama kalinya raja dari selatan mengirimkannya pesan untuk bertemu dengannya.

Tapi Lay selalu menolak hal itu. Lay selalu memberkan alasan yang sama setiap kali surat itu datang “ aku akan pergi jika memang saatnya tiba “

Tak perlu heran dengan Lay yang dengan beraninya tak menyanggupi keinginan dari seorang raja. Lay bukanlah seorang yang bisa diatur oleh raja, ia adalah seorang pendeta agung di taman indah tempanya berdiam sekarang.

Seorang pendeta agung sepertinya hanya dapat diperintah oleh satu orang, dia adalah pemilik taman ini, sang pengendali waktu.

“ tapi Lay, ini sudah keduapuluh kalinya raja Junhwa mengirim-mu surat , apa kau benar benar tak ingin mempertimbangkannya, lagi pula raja Junhwa adalah ayah da-“

“aku tahu raja Junhwa adalah ayah dari dewa Serin, tapi kau tahu bukan ? aku hanya dapat diperintah oleh dewa Serin sendri, aku tak menerima perintah dari ayahnya apalagi disaat aku sedang melakukan tugasku seperti sekarang ini Jung guk-ah

“ tapi bukankah bintang itu masih akan sangat lama bersinar ? butuh waktu cukup lama untuk yang mulia serin menguasai kekuatannya secara penuh, dan masih sangat lama hingga saat itu terjadi Lay“

“ kau memang benar, tapi aku akan tetap menunggu berapa lamapun itu disini. Itu tugasku, sebagai seorang pendeta agung aku tak akan meninggalkan tugasku, kau mengerti “

Jung guk tampak mendesah pasrah, Lay memang tak akan pernah meninggalkan taman ini sampai hal yang menjadi tugasnya disini selesai. Pemuda itu kemudian membungkuk hormat pada Lay dan segera membalikkan badannya meninggalkan pintu gerbang taman ini.

Lay hanya tersenyum kecil menanggapi tingkah Jung guk dan sedetik kemudian Lay kembali melanjutkan aktifitasnya berkeliling taman.

Disisi lain Jung guk melangkah dengan wajah yang ditekuk saat melewati lorong panjang menuju ruangan yang jauh lebih besar dibanding taman yang didatanginya tadi.

“ hhh… bagaimana ini ? masa aku harus bilang hal yang sama lagi pada pengawal itu ? Lay memang tak akan dapat masalah dengan menolak permintaan raja tapi aku” tunjuknya pada dirinya sendri “ aaaahhhh bagaimana kalau aku menerima hukuman nanti “

Jung guk semakin menekukkan wajahnya memikirkan nasib dirinya yang akan menerima hukuman dari raja. Meskipun hal itu memang terbilang mustahil karna mengingat raja Junhwa yang memang berhati lembut.

Dia hanya khawatir, meskipun raja Junhwa terkenal dengan kebaikan hatinya, tapi bisa sajakan karna kesal permintaannya ditolak berkali kali raja Junhwa akan marah ?

Tak lama, Jung guk merasakan dinding lorong yang sedang ditapakinya mengekuarkan sinar menyilaukan disana sini sepanjang lorong, sungguh indah.

Jung guk tampak menatap bingung dinding dinding itu, tapi dalam sedetik Jung guk sadar akan sesuatu.

“bi-bintang itu ? apa sekarang sudah saatnya ?” gumamnya pelan. Dan tanpa pikir panjang Jung guk segera berbalik arah kembali menuju taman yang belum lama ditinggalkannya.

Tak lama berlari Jung guk akhirnya sampai tepat didepan pintu gerbang taman itu, disana dapat dilihatnya dengan jelas Lay sedang menatap langit malam dengan wajah berseri

“ Lay, bintangnya “

“ Jung guk, bintang serin, bintang itu akhirnya bersinar “

Lay terus mendongak menatap langit malam, disana sebuah bintang bersinar dengan cerahnya menghias langit malam, bintang yang dinantikan Lay selama menjaga Garden of the time selama ini.

Orbis planet, Istana selatan

Seorang pria berjubah perang lengkap terlihat berlari dengat tergesa gesa saat melewati lorong panjang istana selatan, terlihat dengan jelas raut gembira diwajahnya

Tak lama pria itu berhenti tepat didepan sebuah pintu besar ,sambil membenahi pakaiannya yang sedikit berantakan karna aktifitas larinya tadi, pria tadi menstabilkan deru napasnya yang sangat memburu

“ yang mulia, hamba kepala battalion 1 melapor untuk menghadap yang mulia raja “

Pria tadi yang ternyata adalah seorang jendral perang sekaligus kepala battalion 1 berteriak keras dari balik pintu mengumumkan kedatangannya.

Dibalik pintu besar tadi terdapat ruangan besar dengan hiasan mewah dimana mana, pilar pilar besar nan kokoh semakin menambah kesan mewah ruangan ini, ditambah lagi dengan karpet merah panjang menjukur dengan indahnya dari pintu masuk utama menuju sebuah singgasana. Beberapa pengawal bertubuh tegap pun terlihat bersiaga disana.

Tak berapa lama selang jendral tadi berteriak pintu besar itu pun perlahan terbuka membuat sang jendral dengan segera berjalan masuk dan membungkukkan dirinya pada sosok yang tampak gagah dengan jubbah kerajaan dihapannya.

“ ada apa jendral Yoon ?” tanyanya

“ hamba datang kemari hendak melapor tentang bin- “

“ tak perlu seformal itu denganku yoon, katakanlah hal apa yang membuatmu datang dengan sangat tergesa gesa seperti ini “

“ yang mulia ?”

“ Junhwa, sudah kubilang panggil aku seperti itu, bukankah sudah kubilang untuk tak terlalu formal denganku. Cukup panggil aku dengan namaku atau kau mungkin bisa menambahkan kata raja didepannya “

Sosok tadi yang ternyata adalah raja Junhwa sendiri mengulum senyumnya melihat tingkah sahabat kecil sekaligus jendral perang kerajaannya itu.

Mendengarnya, jendral yoon menggaruk tengkuknya yang tak gatal mengingat dirinya yang selalu saja melupakan perintah raja yang satu itu.

“ begini Junhwa “ raja Junhwa tersenyum cerah mendengar namanya dipanngil, berbeda dengan jendral yoon yang merasa sangat aneh saat menyebut raja dengan nama aslinya

“ bintang serin, Junhwa “

Raja Junhwa yang mendengarnya segera berdiri dari singgasananya saat mendengar bintang serin disebut.

“ ada apa dengan bintang itu ? apa, apa sekarang sudah saatnya ?” tanyanya dengan wajah penuh harap

Jendral yoon mendongak menatap wajah penuh harap raja sekaligus sahabat kecilnya itu “ benar Junhwa, bintang itu, bintang itu sedang bersinar sekarang “ lanjutnya dengan senyum lebar disana

Kujelaskan sedikit tentang bintang serin, bintang serin adalah bintang yang dianggap sangat suci bagi orang planet orbis, “Serin” adalah nama salah satu dari dua dewa planet orbis. “Serin “ juga adalah nama putra mahkota kerajaan selatan yang juga dikenal sebagai “Sehun” dibumi sekarang.

Bintang serin hanya bersinar dua kali dalam seribu tahun, pertama saat serin atau Sehun lahir kedunia, dan yang kedua saat serin atau Sehun menguasai sepenuhnya kekuatannya.

Raja Junhwa yang sudah mendapat kepastian soal bintang yang ditunggunya sudah bersinar segera berlari keluar daru ruangan tempatnya memerintah kerajaan selatan

Setelah berlari dengan kencangnya menelusuri lorong panjang menuju ruangannya raja Junhwa berhenti tepat disebuah balkon besar istana selatan, dapat dilihatnya langit malam yang terlihat begitu cerah dengan cahaya dari bintang serin yang amat terang.

Keadaan tak jauh berbeda terlihat diseluruh kerajaan selatan, semua rakyat tampak bersorak sorai gembira menyaksikan bintang serin dengan sinarnya dilangit malam.

Bintang yang mereka nantikan, bintang yang menjadi pertanda bahwa putra mahkota sekaligus dewa mereka dalam keadaan baik baik saja.

Orbis planet, Garden of the time

Lay terus menatap bintang serin yang sedang bersinar terang diangkasa, akhirnya bintang yang selama ini ditunggunya bersinar, Lay selalu membayangkan bagaimana wujud bintang serin sebenarnya, dan ternyata bintang serin jauh lebih indah dibanding semua bayangannya setelah mendengar dari ayahnya atau buku buku yang pernah dibacanya.

“ Lay “ Jung guk kembali memanggil Lay setelah beberapa saat lalu Lay tak kunjung mengindahkan panggilannya

“ Jung guk “ Lay tersenyum menapatap Jung guk

“ aku tahu, aku tahu, kau sudah mengulangnya berkali kali Lay, lagi pula aku melihatnya sendiri sekarang “ Jung guk tahu Lay pasti akan memberitahunya soal bintang serin yang bersinar lagi, kalau ia memang tak salah hitung tadi hampir saja menjadi yang kesepuluh kalinya Lay mengatakan padanya bahwa bintang serin telah bersinar

“sekarang kau sudah bisa menemui raja bukan ?”

Lay terkekeh kecil mendengar ucapan Jung guk “ hmm “ gumamnya kecil

“ yeay “ Jung guk berteriak gembira mendengar Lay yang akhirnya mau memenuhi panggilan raja ke istana.

“kau benar benar sangat bersemangat Jung guk. Apa istana semenarik itu sampai kau sangat gembira seperti sekarang ?. Ingatlah sekarang sedang perang “

“ hahahah, tentu saja aku senang, istana itu benar benar sangat indah, makanan juga sangat enak dan banyak disana, berbeda dengan disini, ah soal perang, aku tak takut soal itu, mereka tak akan berani macam macam dengan pendeta agung sepertimu, lagi pula ada Kai yang akan mengawal kita, jadi aku tak takut sama sekali “

Lay sekali lagi terkekek kecil mendengar ucapan Jung guk, ia menangkap satu hal penting dari semua ucpan Jung guk tadi, dia hanya ingin makan makanan istana !

“ baiklah, sekarang siapkan semuanya “

“ assa.. akhirnya aku bisa mencoba paka- “

“aahh dan kau Jung guk” Lay menunjuk Jung guk didepannya “ jangan coba coba mengganti jubahmu dengan pakaian biasa, aku tak akan mengijinkanmu keluar dari kuil ini jika kau berani mengganti pakaiannmu “

Jung guk mempoutkan bibirnya saat mendengar ucapan Lay. Sial, padahal Jung guk sangat ingin memakai pakaian yang belum lama dibelinya itu, tapi Lay seolah tahu dia akan memakai pakaian itu dan segera memberi larangan untuk memakainya

“ laaayy, ayolah, aku ingin memakai baju itu “ jungguk mengeluarkan jurus merayunya pada Lay “ kau lihat, pakaian ini ketinggalan jaman “ Jung guk memandang pakain kebesaran pendeta yang dikenakannya dengan wajah ditekuk lucu, pakaian putih dengan bordiran bordiran rumit disepanjang lengan pakaian dan sekeliling daerah leher baju, ditengahnya terdapat gambar bintang segi delapan yang benar benar nampak indah disana, ditambah lagi dengan jubah yang berwarna senada dengan pakaian yang dikenakannya. Elegan, semua orang akan setuju dengan itu, tapi Jung guk justru menganggap pakaian itu ketinggalan jaman

“tidak Jung guk ! kau akan ke istana, bukan kepasar malam, awas jika kau mengganti jubahmu dengan pakaian lain “ Lay hanya bisa tertawa dalam hati telihat tingkah jungguk yang kekanakan, ia adalah satu satunya pendeta bawahan Lay yang paling kekanakan, tapi Lay justru mengangkatnya untuk menjadi pendeta dikuil utama. Alasannya hanya agar anak kekanakan itu bisa sedikit lebih dewasa, tapi ini ? sifat kekanakannya justru makin bertambah…

“laaaayyy,, ayolah.. oh… oh “

“tidak Jung guk !”

“hyuuungggg “

“tidak ! “

“opppaaaa “

“yak ! kau menjijikan !”

Lay yang mendengar Jung guk terus merengek segera bergegas pergi dari taman tempatnya sekarang. Jung guk tentu tak akan menyerah begitu mudah, pendeta muda itu terus saja merengek pada Lay, oh ayolah ini kesempatan langka untuk ke istana, Jung guk tentu tak akan merelakan waktu berharganya diusik dengan pakaian ketinggalan jaman seperti yang dipakainya sekarang.

“laaayyy “ Jung guk terus merengek pada Lay yang mulai berjalan keluar dari taman,

“ tidak ! sekali kubilang tidak maka jawabannya akan tetap tidak !

“la-“ ucapan Jung guk sedikit terahlikan kearah taman begitu ia merasa ada yang ganjil disana “ LAAAAYYYYY !”

“hey, jangan berter-“

“Lay, bu-bunga Fir “

Lay membalikkan badannya “ kenapa dengan bu-“ mata Lay membulat sempurna saat melihat Bungan Fir yang putih bersih berubah warna menjadi merah darah

“ ke kereta sekarang ! kita pergi sekarang juga”

“ ta-tapi bunganya?”

“cepatlah !” Lay segera berlari menuju pintu keluar utama dikuil ini di ikuti Jung guk yang terus memanggil manggil namanya, wajah Lay menyiratkan ke khawatiran yang amat sangat disana

“ Dewa Serin “ lirihnya

.

.

.

.

.

Earth, SEOL IHS, Sehun Class

Susana kelas 2A tampak cukup tenang saat pelajaran kimia berlangsung. Para murid tampak serius mendengarkan penjelasan yang sedang guru Im bawakan. Berbeda dengan Sehun yang merasa cukup bosan sejak pelajaran kimia ini dimulai, pelajaran yang entah sudah berapa kali diulangnya selama hidup dibumi.

Karna itu Sehun sesekali mengalihkan pandangannya kearah jendela tepat disamping tempatnya duduk, dibawah sana terlihat jelas murid murid sedang melakukan pemanasan sebelum memulai pelajaran olahraga.

Tampak para siswa yang berlarian mengitari lapangan, dan ada beberapa diantaranya yang sedang melakukan berbagai gerakan warming up lainnya.

Perhatian Sehun kemudian beralih pada beberapa siswa yang terlihat sedang bersemangat bermain sepak bola, saling mengoper dan menggiring bola kesana kemari. Sehun memang cukup menyukai permainan dibumi yang satu ini. Sehun semakin menajamkan matanya saat melihat permainan dibawah sana semakin seru, terlihat seorang siswa dengan postur tubuh yang cukup tinggi tengah serius menggiring bola menuju gawang dengan dua orang disisi kiri dan kanannya yang terlihat berusaha keras merebut bola.

Karna memang keadaan yang tak memungkinkan karna dua orang yang setia menghadang jalannya, siswa jangkung itu kemudian menendang bola dengan cukup keras kedepannya, bola yang ditendangnya kemudian melaju dengan cepatnya kearah gawang.

Tepat saat bola itu hampir mendekati gawang Sehun merasa ada yang aneh dengan sekitarnya, entah dia memang salah atau memang suara guru Im yang tiba tiba saja tak terdengar lagi, merasa aneh Sehun mengalihkan pandangannya kedepan kelas, disana Sehun mendapati guru Im tengah terdiam dengan mulut terbuka dan tangan yang memegang mistar panjang yang mengarah kepapan tulis.

Sehun menautkan kedua alisnya bingung melihatnya, bukan hanya itu,sedetik kemudian Sehun sadar tak hanya guru Im, tapi seluruh murid dikelaspun terdiam tak bergerak sama sekali.

Sehun kemudian mengalihkan pandangannya kembali kearah lapangan tadi, dan hal yang sama pun terjadi disana, bola yang seharusnya sudah memasuki gawang tadi malah berhenti tepat beberapa saat sebelum tangan kipper menggapainya, tak hanya bola itu, semua siswa disana pun berdiri diam tak bergerak.

Sehun berdiri dari duduknya menyadari hal aneh yang sedang terjadi sekarang,bukan, Sehun bukan kaget karna keadaan ini, ini sudah biasa, Sehun memang bisa menghentikan waktu, yang menjadi masalahnya sekarang adalah Sehun sedang tak menghentikan waktu sama sekali, jadi bagaimana mungkin ini terjadi ?

Tak mungkin ada pengendali waktu lain selain Sehun di bumi, dan Sehun yakin itu. Sehun tampak berpikir keras sebelum akhirnya tersadar akan satu hal

“kalungku ?”

.

.

.

.

.

Sehun melangkah dengan cepat kelantai atas menuju kamarnya. Keadaan ini ? tidak salah lagi, pasti terjadi sesuatu dengan kalungku.- gumamnya

Setelah menyadari hal aneh yang terjadi beberapa saat yang lalu Sehun segera berteleportasi menuju rumah secepatnya, Sehun harus memastikan kalau kalung itu baik baik saja ditempatnya.

Tak lama,Sehun akhirnya sampai dikamarnya, didobraknya pintu kamar dengan cepat dan segera berlari menuju sebuah ruangan besar berisi pakaian Sehun yang tak jauh dari tempat tidurnya

Dari kejauhan dapat terlihat jelas cahaya dari dalam ruangan itu, tak salah lagi memang terjadi sesuatu dengan kalung milik Sehun itu. Sehun dengan segera bergegas mengambilnya dan benar saja kalung dengan liontin berbentuk jam bundar kecil dengan ukiran ukiran rumit disekitarnya itu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan mata.

“ ada apa ini ?“

Sehun berujar dengan khawatirnya melihat kondisi kalungnya yang baru pertama kalinya dilihat bercahaya seperti ini.

Mungkin kalian pikir kekhawatiran Sehun berlebihan, tapi jika tahu kalung apa itu sebenarnya kalian tentu tak akan heran dengan keadaan Sehun sekarang.

Kalung itu, kalung yang lahir bersamaan dengan pengendali waktu, penanda bahwa Sehun memang adalah keturunan dari sang dewa waktu planet orbis. Kalung itu bisa dibilang adalah sumber kekuatan Sehun, tidak hanya itu saja kalung itu juga memiliki setengah dari nyawa Sehun, jadi wajar bukan jika Sehun khawatir akan kalung itu.

Sehun memandang lekat kalung miliknya itu tanpa niat sedikitpun menyentuhnya, Sehun tak merasakan sesuatu yang aneh dengan tubuhnya, hal itu juga berarti tak terjadi apa apa dengan kalung itu, tapi tetap saja Sehun benar benar bingung bagaimana bisa kalung itu mengelurkan cahaya seperti sekarang. Bahkan jika Sehun memang tak salah kira kalung itulah yang membuat waktu berhenti sekarang.

.

.

.

.

.

Sehun POV

Aku kembali keaktifitasku sebelumnya, menatap dengan bosan papan tulis dengan pelajaran yang pastinya sudah kuhafal diluar kepala.

Aku memang sudah kembali kesekolah setelah dari rumah tadi, aku tak ingat berapa lama kalungku mengeluarkan cahaya yang entah apa maksudnya. Kalung itu, aku masih sangat ingat saat Lay bilang bahwa aku harus menjaganya dengan baik.

Aku tahu pasti kalung itu, kalung milik dewa serin yang lahir bersamaku, kalung yang menjadi sumber kekuatan sekaligus setengah dari nyawa yang aku miliki.

Aku terus sibuk dengan lamunanku hingga tak menyadari kalau ternyata bel istirahat telah berbunyi.

Hhhhh

Aku hanya bisa mendesah pasrah jika begini, ini semua benar benar membingungkan, seandainya saja aku bisa lebih memperhatikan saat Lay menjelaskan semua tentang dewa serin aku pasti tak akan bingung seperti ini.

Author POV

Sehun terus saja sibuk dengan pemikirannya soal apa yang baru menimpanya barusan, namun itu tak lama. Sehun memutuskan untuk keluar kelas menenangkan pikirannnya, atap sekolah mungkin tempat yang cocok sekarang.

Tak butuh waktu lama untuk menuju atap sekolah, Sehun segera mencari tempat yang agak teduh sambil menikmati semilir angin siang ini, Sehun tahu tak perlu ada yang dikhawatirkannya dengan kejadian tadi, kalung itu baik baik saja dan itu juga berarti dirinya akan baik baik saja. Tapi tetap saja hal itu membuat kapala Sehun dipenuhi tanda tanya besar.

Kenapa kalung itu bersinar seperti tadi ?

Apa sinar itu punya arti tertentu ?

Atau sinar itu adalah pertanda dari sesuatu ?

Entah pertanyaan pertanyaan itu akan terjawab atau tidak, Sehun tak begitu paham soal hal seperti ini, hanya Lay..

Hhhhh

Sehun lagi lagi mendesah pasrah saat mengingat Lay. Lay adalah sahabat sekaligus pendeta agung-nya. Jika ada Lay Sehun pasti tak akan pusing seperti sekarang. Lay tahu banyak hal, Sehun bahkan tak ingat apa ada pertanyaannya yang tak bisa dijawab oleh Lay ? seingatnya Lay selalu menjawab semuanya dengan benar benar rinci. Lay memang sangat cerdas.

Merasa bosan dengan posisi tidurnya, Sehun kemudian melangkah menuju tepi atap sekolah, tentu saja disana ada pembatas, Sehun bisa melihat dengan jelas semua murid dibawah sana, berkeliaran kesana kemari entah menuju kekantin atau hanya sekedar duduk duduk ditaman.

Lay kembali mengedarkan pandangannya, dapat dilihatnya seorang siswa yang tampak sedang bertanya tanya pada siswa disekitarnya, Sehun tentu bisa mendengar semua yang siswa itu ucapkan. Sangat jelas bagi Sehun saat siswa itu bertanya dimana dia bisa menemukan ruang kepala sekolah.

“ murid baru ?”

.

.

.

.

.

Setelah setengah jam berlalu, pelajaran kembali berlangsung, kelas Sehun pun sedang menunggu guru yang agak terlambat datang siang ini. Para siswa sibuk mengobrol tak jelas membuat Sehun frustasi karna kebisingan disekitarnya.

“selamat siang anak anak “

Sehun mendongak menatap sumber suara, guru kang datang. Manik matanya menangkap sesuatu yang lain setelah guru itu masuk, seorang siswa dengan seragam yang sama dengannya,

“dia ?” Sehun menautkan alis melihat siswa itu. Sehun kenal dengan wajah itu, wajah murid yang dilihatnya dari atap sekolah tadi “rupanya murid baru dikelas ini “ lanjutnya

“kalian akan mendapat satu lagi murid baru dikelas ini “

Para siswa mulai berbisik bisik melihat siswa yang akan menjadi teman mereka ini, dengan rambut yang sedikit dicat coklat, mata bulat dan pipi chuby. Dibanding tampan, siswa yang satu ini lebih bisa disebut manis.

Guru Kang kemudian memberi isyarat pada murid baru itu untuk memperkenalkan dirinya.

“ perkenalkan, namaku Hwang taesung, aku mungkin lebih tua dua tahun dibanding kalian karna aku sempat dirawat dirumah sakit selama dua tahun, harap bantuannya “

Sehun menatap siswa yang baru masuk itu dengan tatapan penuh arti, tampak sedang berpikir, entah kenapa Sehun sedikit merasa familiar dengan wajah siswa itu.

“ nah, kau bisa menduduki bang-“

Sehun menatap gurunya heran, tunggu ! ini ! jangan bilang waktunya behenti lagi ! Sehun segera mengarahkan tanganya pada saku celananya dan benar saja kalungnya kembali bersinar terang,

“sebenarnya ada apa dengan kalung ini “ tanyanya memandang kalungnya yang kembali bersinar terang entah apa maksudnya.

Kalungnya kembali bereaksi aneh entah karna apa. kalung itu masih baik baik saja sejak terakhir Sehun mengambilnya dari rumahnya, dan sekarang kalung itu kembali bersinar, sebenarnya ada apa ? ada apa dengan kalung itu ?

.

.

.

.

.

.

TBC

 

Gimana ? ini udah cukup panjang kan ? hehe, author gak nyangka ada yang sadar kalau chap kemaren rada pendek. Di chap ini author lebih focus ke planetnya Sehun, ini awal buat conflick di ff ini . Semoga readers sekalian pada suka.. N kalau ada saran atau kritik bilang aja, author terima semuanya.. semua komen kalian selalu buat author smangat buat lanjutin ff ini ^^ …. Oh ya author line 96, kemaren kan ada yang nanya author line brapa.. sekarang udah tahu kan.

Dan tak lupa ucapan makasih buat Oh mija Noona karna udah mau publish ff ini^^ Gomawo noonaaaa ^^

 

5 thoughts on “MY PERFECT ALIEN Chapter 5

  1. p.by berkata:

    Ok ini bkin aku penasaran sm kekuatan kalung itu sm hubungan sehun n junhee..oh thor next chap jgn lama2 di publish nya ya..
    Keep writing n fighting thor..

  2. Anna berkata:

    pertanda apa kalungnya Sehun bersinar? buruk? baik?
    makin penasaraaaan. ditunggu chapter selanjutnya, jangan lama-lama ya🙂

  3. Vivi Kkaebsong berkata:

    Thor cepetan dong Next.nya jngn lama2
    jngn bikin orng penasaran trus…..kira2 itu prtnda apa…ahh Next ajj deh thor
    jngn lama2 ya😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s