My Fate With You (Prolog)

My+Fate+With+You

Judul : My Fate With You (Prolog)

 

Author : Lu_llama

 

Cast : Oh Sehun(EXO), Kim Dahee(GLAM)

 

Genre : Family, Friendship, Sad

 

Rating : T

 

 

Warning :  AU! , Age manipulation

 

Summary : “aku mengenalnya, tapi kami seperti orang asing. Nama itu seolah menjadi titik lemahku. Membuatku tak sanggup untuk berlari atau bahkan melangkah mundur. Dia membuatku terpaku sejenak, sebelum akhirnya menerjangku hingga kedasar. Hanya dingin yang terlalu menyengat saat ia menatapku dalam hari itu. Tanpa kata, dia membuatku mengerti bahwa sebuah penolakan itu tergambar jelas diwajahnya”

 

 

Tidak ada yang akan tau takdir itu seperti apa. Tidak ada yang bisa kau lakukan selain menerima nasibmu. Kau bisa merubahnya kearah yang lebih baik. Akan seperti apa nasibmu itu tergantung pilihanmu. Menerima atau menolaknya. Tapi jodoh, adalah takdir Tuhan. Benarkan?

 

 

“Ini perintah! Kau harus mau menerimanya!”

 

 

“Kenapa aku harus menuruti kemauanmu?”

 

 

“Kau seharusnya sadar siapa dirimu. Hal seperti ini adalah keharusan. Kita keluarga terhormat. Aku tidak mungkin membiarkanmu memilih sembarang orang diluar sana”

 

 

“Terhormat? Kau tidak sadar perilakumu itu seperti apa?!”

 

 

“Tutup mulutmu!”

 

 

“Kenapa? Kau saja melakukan apapun sesuka hatimu, kenapa aku tidak bisa?! Kenapa kau bersikap seolah kau itu memperhatikanku?!”

 

 

“Karena kau adalah anakku! Aku tau yang mana yang terbaik untuk dirimu. Dunia ini tidak seperti yang kau bayangkan. Jika kau ikuti perintahku, mudah bagimu mendapatkan tempat tertinggi”

 

 

“Ya sangat mudah bagimu, Karena kau memiliki segalanya. Tapi kau harus tau, jika kekuasaan bukanlah segalanya. Mungkin itu sebabnya kau bisa dengan bebas mempermainkan orang diluar sana!”

 

 

“Jaga ucapanmu!”

 

 

“Orang sepertimu-yang bahkan tidak bisa menghargai orang lain, apa patut untuk dihargai?”

 

 

Sebuah keegoisan itu membuat semua menjadi lebih kelam. Saat yang paling menyedihkan itu adalah, saat sebuah kebersamaan selalu diisi dengan kebencian. Tak pernah terpencar kehangatan didalamnya. Yang ada hanya aura menegangkan yang setiap saat siap untuk menghancurkan secercah senyum kebahagiaan.

 

 

Hidup itu tidak selamanya indah, bahkan bagi sebagian orang mencari kebahagian itu tidaklah mudah. Jika saja tidak ada keegoisan, jika saja tidak ada hal seperti mempermainkan perasaan, maka semua pasti masih berjalan normal. Kekecewaan itu terlalu besar. Meruntuhkan kepercayaan yang selama ini terbangun. Sejak itu, hidup tidak lagi sama. Namun, semua yang terbina selama ini mampu membuatnya bertahan. Hati kecilnya masih mampu menerima. Karena ia tau, hubungan darah itu tak pernah bisa terputus.

 

 

* * *

 

“Ibu, apa yang harus kulakukan?”

 

 

Dia tau, tidak akan pernah ada jawaban dari orang yang dimaksud. Lirihan itu hanya akan menguap dan menghilang ditelan angin. Selama apapun ia memandangi foto itu, itu tidak mungkin bisa menjawab semua keluhan hatinya.

 

 

“Kenapa kau memintaku bertahan bahkan saat kau memilih menyerah dan berakhir pergi untuk selamanya?”

 

 

“Karena ibumu tau, kau orang yang kuat dan mampu bertahan”

 

 

Tatapan tajamnya itu mengarah pada seseorang yang muncul dibalik pintu, orang yang seharusnya ia panggil ibu itu kini menatapnya dengan senyuman.

 

 

“Ayahmu mengharapkan yang terbaik untukmu”

 

 

“Aku tidak butuh nasehatmu”

 

 

“Selama ini kau bertahan, karena ibumukan? Untuk kali ini, lakukanlah demi ayahmu.”

 

 

“Jangan pernah bersikap seolah kau mengenal diriku. Kau hanya orang asing bagiku”

 

 

Dinginnya malam menjadi satu-satunya saksi akan perbincangan itu. Hati itu masih diselimuti kebekuan. Tidak ada pancaran kehangatan untuk membalas seulas senyum manis yang selalu hadir diwajah wanita paruh baya itu.

 

 

“Kau itu anakku. Sampai kapanpun itu masih akan tetap sama”

 

 

“Kenapa kau masih bertahan? Kenapa kau memilih tinggal disaat anak kandungmu saja memilih menjauh?”

 

 

“Aku memiliki tanggung jawab atas ibumu untuk menjagamu”

 

 

“Menggelikan, bagaimana bisa ibu percaya padamu yang sudah merebut suaminya sendiri!”

 

 

* * *

 

 

“Kenapa kau menerima perjodohan ini?”

 

 

“Aku tidak punya jawaban untuk itu”

 

 

“Tidak masuk akal”

 

 

“Menurutku, tidak ada gunanya untuk menolak. Mereka yang memegang kendali”

 

 

 

“Jadi kau pasrah dijadikan boneka oleh mereka?”

 

 

 

Dua orang yang saling kenal itu memang seperti orang asing. Jika bisa dibilang kenalpun, hanya sebatas tau wajah saja. Mereka tidak pernah berteman, mereka tidak pernah dekat bahkan sekedar bertegur sapapun tidak. Berada disatu sekolah yang sama bahkan sampai jenjang universitas, nyatanya tidak pernah membuat mereka untuk saling mengenal. Mereka terlalu asing, tidak terlalu mempedulikan sekitar, selalu melihat kedepan, tidak pernah menoleh bahkan menengok kebelakang. Kendati begitu wajah sang pria terlalu membekas bagi sang wanita.

 

 

Sang pria yang terkenal akan sikap dinginnya itu, saat ini berusia 26 tahun. Sudah cukup matang untuk usia dewasa. Dia baru menyelesaikan S2-nya di University of London setelah sebelumnya menematkan S1-nya di Universitas Tokyo, Jepang. Dia pria yang tidak bisa ditebak, sifat dinginnya terkadang membuat orang yang berada disekitarnya menciut. Dia tidak suka musim dingin-bertolak belakang dengan sifatnya- Dia tipe orang yang tidak akan mudah untuk mempercayai orang lain.

 

 

Sang wanita juga berusia 26 tahun. Dia juga menyelesaikan pendidikan S-1 nya di universitas Tokyo. Dia orang yang tertutup. Tidak terlalu suka keramain juga kebisingan. Dia jarang tersenyum. Cenderung mengasingkan diri. Dia jarang berada dirumah dan lebih memilih perpustakaan atau tempat yang tidak terlalu ramai untuk bersantai. Jika ada dirumah, ia lebih banyak mengahabiskan waktu didalam kamar.

 

 

“Menurutku ini tidak lebih dari sebuah permainan, nona Kim”

 

 

“Terserah. Tapi bagiku, ini bukan sebuah lelucon”

 

 

“Sepertinya kau memang sudah siap menjadi bagian dari keluarga Oh”

 

 

“Menurutmu?”

 

 

“Konyol. Kau yakin bisa bertahan?”

 

 

* * *

 

 

Ini tidak terlalu mengejutkan. Sebagai seseorang yang selalu tunduk, sudah sepatutnya aku mengikuti permain nasib. Keharusan yang mereka tekankan padaku, membuatku lelah untu menolak. Membuatku bosan untuk berucap. Setiap sanggahan yang terlontar tidak lebih berarti dari sebuah batu kerikil kecil. Aku bukan menyerah, aku hanya mencoba pasrah. Aku bukannya tidak marah tapi aku mengalah. Bagiku hal paling sulit adalah ketika aku mencoba untuk ‘bicara’.Jika kali ini keharusan itu harus kujalani, maka akan aku terima. Aku terlalu lelah mengeluh. Sungguh.

 

 

“Kau harus menerimanya. Bukankah aku sudah mengizinkanmu menggeluti dunia konyolmu itu”

 

 

“Menjadi designer bukan hal konyol”

 

 

“Terserah. Aku tidak peduli. Yang harus kau lakukan sekarang hanya ikuti aturanku”

 

 

Seperti biasa. Aku tidak bisa membantah. Setiap penekanan yang kudengar, membuatku hanya bisa menjerit tertahan. Aku tidak ingin lari. Bukan, bukan karena aku tidak bisa. Hanya saja, aku terlalu lelah untuk melangkah. Tidak ada tempat untukku bersandar. Miris.

 

 

“Menikahlah dengannya”

 

 

Menikah? Terlepas dari siap atau tidaknya hal itu-aku sudah pasti harus menerima. Bukan hal menakutkan bukan? Tapi kenapa detik itu juga saat nama seseorang itu terdengar, aku merasa duniaku seolah berputar. Memaksaku untuk menyadari bahwa dunia nyataku tidak akan lagi sama.

 

 

Oh Sehun.

 

 

Nama itu seolah menjadi titik lemahku. Membuatku tak sanggup untuk berlari atau bahkan melangkah mundur. Dia membuatku terpaku sejenak, sebelum akhirnya menerjangku hingga kedasar. Hanya dingin yang terlalu menyengat saat ia menatapku dalam hari itu. Tanpa kata, dia membuatku mengerti bahwa sebuah penolakan itu tergambar jelas diwajahnya.

 

 

Oh Sehun

 

 

Aku mengenalnya. Tapi kami seperti orang asing. Aku tau Oh Sehun. Satu sekolah saat dibangku menengah nyatanya tidak membuat kami berteman. Bahkan 4 tahun lamanya berada di satu universitas yang sama, tidak mengubah apapun. Kami masih asing. Tidak pernah ingin mengenal dan dikenal. Dia, Oh Sehun tidak pernah asing dimata orang lain. Setiap orang yang mengenalnya pasti tidak pernah lepas dari komentar-komentar seperti

 

 

“Oh Sehun? Si chaebol yang tampan itu?”

 

 

“Sehun itu tidak mudah untuk bergaul. Jangan coba dekati dia jika kau takut dengan aura dinginnya”

 

 

“Jika kau menyukai Oh Sehun, percuma saja. Dia tidak akan menyambutmu”

 

 

“Kau beruntung jika bisa membuat Sehun dekat denganmu”

 

 

Kadang aku berpikir, itu sesuatu yang patut dibanggakan atau malah sebaliknya? Setiap kali berpapasan dengannya, aku hanya disuguhkan dengan raut dingin juga tatapannya yang kelam. Dia tidak pernah menoleh. Terlalu angkuh mungkin?

Dan aku juga tidak pernah tau, kenapa tanpa sadar aku selalu memperhatikannya dalam diam. Dalam kebisuan itu, aku tidak pernah berniat untuk mencoba mendekatinya. Maka dari itu, aku dan dia terlalu asing untuk ukaran orang yang saling kenal.

 

 

Namun, mungkin saja istilah asing itu lebih berlaku lagi untuknya. Karena bagiku, Sehun memang orang asing tapi perasaanku mengenalnya dengan baik

 

 

* * *

 

 

“Tidak apakan jika aku mengucapkan selamat padamu lebih awal?”

 

 

Dalam suasana sepi itu, tidak ada seorangpun yang mengeluarkan suaranya. Hingga akhirnya suara orang itulah yang menjadi pemecah keheningan yang ada.

 

 

Ruang makan itu selalu hening. Tidak pernah ada tawa atau senyum hangat yang terlihat. Suasananya teramat menegangkan, hingga hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang saling beradu. Mungkin seekor semutpun akan enggan untuk bergabung.

 

 

“Kai” tegur sang nyonya besar. Ia terlalu takut jika harus mendengar perdebatan yang seolah tak pernah absen dirumahnya.

 

 

“Kenapa bu, niatku kan baik”

 

 

“Aku bahkan tidak butuh niat baikmu” kini anggota termuda dalam keluarga itu membuka suaranya. Ia tidak melirik sedikitpun pada lawan bicara, bahkan sedari tadi tatapan dinginnya hanya terpaku pada makanan yang tersaji.

 

 

Sang sulung mendengus. Dia mengangkat salah satu ujung bibirnya keatas.

“Kau benar-benar tidak sopan Oh Sehun” ucapnya tenang

 

 

Melihat itu sang kepala keluarga mengambil nafas dalam. Ia Menghentikan makannya dan menatap keluarganya secara bergantian.

 

 

“Jangan rusak acara makan malam keluarga ini” desisnya. “Kai, datanglah saat upacara pernikahan”

 

 

“Akan kuusahakan, demi adikku tercinta”

 

 

Bersamaan dengan kalimat terakhir itu, suasana semakin menegang. Tatapan dingin itu begitu terpancar jelas.

 

 

TBC

 

 

Bagaimana? Tertarik? Kalo banyak respon ntar aku lanjut. Oh ya, aku pangen nanya nih, ini romancenya pengen dibikin married life, apa perjodohan pertunagan biasa? Rencananya sihh aku emang pengen bikin married life 😀

Okee, Komen ajaaa..

Paiipaiii, 😀

 

Iklan

10 thoughts on “My Fate With You (Prolog)

  1. XingXingGe berkata:

    Married life keren jg thor.
    Pasti seru atau justru sepi?
    Penasaran deh pokoknya. Gimana rumah tangga 2 org yg sama-sama pendiam?
    Lanjut thor! (^_^)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s