Falling In Love Chap. 3

PicsArt_1403362847976

 

Author : gladiol

Length : Ficlet

Genre : Romance

Rating : General

Cast : EXO Member | Girl (You)

 

 

Aku akan menaklukkan ayahmu terlebih dahulu

Chen POV

Bosan. Andaikan saja hari ini aku tidak ada kuliah. Andaikan tidak ada kuliah, aku tidak mendapatkan tugas dari dosen. Andaikan tidak mendapatkan tugas, aku pasti bisa berkencan dengan gadis itu. Ah…kenapa semua itu hanya dilandasi dengan kata andaikan?

Sudah seharian ini aku bergelut dengan jadwal kuliahku yang semakin padat. Dari pagi hingga petang semua jadwal kulewati. Jangankan untuk makan siang, untuk bernafas saja rasanya sangat sesak. Kalau saja gadis itu tidak mengingatkanku soal makan mungkin aku akan berakhir di rumah sakit karena sering terlambat makan. Dan kalau saja dosenku wajahnya secantik gadis itu, aku rela kuliah setiap hari tanpa libur.

Kenapa? Kenapa semua hanya diawali dengan kata “andaikan” dan “kalau saja”?

‘Hei, kau sedang apa disana? Aku ada di kafe favoritmu sekarang.’

Begitulah isi pesan singkat yang baru saja kukirimkan kepada gadis itu. Jujur saja aku sangat tersiksa dengan semua ini. Namun aku juga tidak bisa melawan, semua ini demi masa depanku. Aku ingin mendapatkan masa depan yang terbaik agar aku dianggap pantas sebagai lelaki. Dan tentu saja dianggap pantas untuk mendampingi gadis itu menuju lembaran hidup yang baru. Kalau kalian ingin tahu, ayah gadis itu sangat galak. Bayangkan saja setiap aku bermain kerumahnya aku selalu ditanyai macam-macam. Bahkan aku harus membawa daftar nilaiku saat liburan semester telah tiba. Ayahnya bilang dia tidak ingin anaknya berteman dengan orang yang masa depannya suram.

Kalau ingin berteman saja aku harus memiliki nilai yang bagus bagaimana kalau aku ingin melamarnya? Ah…ternyata tidak hanya gadis itu saja yang menyiksaku dengan perasaan cinta, namun ayahnya yang galak itu juga menyiksaku.

Sore ini aku kembali disibukkan dengan tugas kuliah. Agar mengurangi rasa bosan, aku mengerjakannya di kafe favorit gadis itu. Kafe yang dia bilang memiliki kenangan bersama seseorang. Jujur aku cemburu namun aku sadar dengan statusku yang hanya sahabatnya.

Ponselku berbunyi menandakan ada pesan yang masuk.

‘Oppa, kau sudah makan? Aku akan menyusulmu kesana Oppa. Tunggu aku, ne?’

Aku tidak membalas pesannya dan kembali fokus ke hadapan laptopku. Menyelesaikan tugas yang membuat kepalaku serasa ingin pecah. Aku ingin tugas ini segera selesai sebelum gadis itu datang karena aku tidak ingin konsentrasiku terbagi.

Apa kalian tahu? Saat aku sedang mengerjakan tugas dan gadis itu ada disampingku, maka aku hanya akan memperhatikan gadis itu dan melupakan tugas yang harusnya kukerjakan. Walaupun gadis itu selalu mengingatkanku soal tugas, tapi tetap saja, dia lebih menarik dari pada tugas.

Setelah 15 menit aku menyelesaikan ketikanku soal laporan praktikum. Kurenggangkan sedikit badanku yang terasa kaku. Lega yang kurasakan akhirnya tugasku selesai dan sebentar lagi aku akan bertemu dengannya.

Dengan senyum yang tersungging di wajahku, aku menelfon gadis itu sekedar memastikan dia sudah sampai mana sekarang. Dia pun menjawab telfonku dan ternyata posisinya sekarang sudah dekat dengan kafe dimana aku berada.

Aku melihatnya. Tapi kenapa dia berpenampilan seperti itu? Dia sangat menyiksaku. Hanya dengan dress selutut warna putih tulang dan senyum yang selalu terpampang manis diwajahnya sudah cukup membuat jantungku berdegup kencang. Oh apakah aku jatuh cinta lagi padanya? Kenapa setiap bertemu dia selalu membuatku merasakan jatuh cinta kembali? Bagaimana jika nanti aku menjadi suaminya? Melihatnya setiap hari dalam berbagai busana dari bangun tidur sampai tidur kembali? Ah…tak bisa kubayangkan, pasti sangat indah. Astaga apa yang kupikirkan…

Kulambaikan tanganku dari dalam kafe karena tempat dudukku berhadapan langsung dengan jendela membuatku leluasa melihat keadaan diluar kafe. Dia dengan segera membuka pintu kafe dan masuk kedalamnya. Dengan sedikit berlari dia menghampiriku dengan senyuman manis itu.

Cantik…kuharap kau tidak memberikan hatimu kepada pria lain dan bersedia menungguku…

Kau tahu? Aku rela tersiksa seperti ini hanya demi dirimu…

Aku berjanji, aku akan segera menaklukkan hati ayahmu yang galak itu…

Dan aku akan menaklukkan hatimu…untuk menjadi bidadariku…

 

 

***

 

 

Bukalah pintunya dan kita masuki bersama

 

Chanyeol POV

Tinggi badannya yang hanya mencapai daguku. Rambutnya yang lembut dan tidak terlalu panjang. Kulitnya yang putih dan selembut sutra. Serta suaranya yang mengalun merdu. Semua itu hanya ada padanya. Gadis manis yang menyatakan cinta padaku beberapa hari yang lalu.

Sungguh memalukan. Tidak, bukan dia yang memalukan. Tapi aku. Seharusnya sebagai lelaki, akulah yang harus menyatakan cinta terlebih dahulu bukannya gadis itu. Ah…andaikan aku bisa memiliki kekuatan Tao EXO dalam music videonya, pasti aku akan mengulangi pernyataan cinta beberapa hari yang lalu dan menukar posisinya dengan posisiku.

Ya…aku juga menyukai gadis itu, namun karena jadwal latihan basketku yang padat ditambah jadwal pertandingan aku belum memiliki waktu dan cara yang tepat untuk menyatakan cinta. Aku ini kan namja yang keren, tinggi, bertubuh atletis dan tentunya…ehem…tampan, jadi aku tidak ingin memakai cara yang biasa saja saat menyatakan cinta.

Namun apa yang terjadi? Tempo hari gadis itu malah rela menungguku hingga tengah malam untuk menyatakan cintanya padaku. Bahkan dia tidak meminta jawaban dan hanya sekedar ingin aku mengetahui perasaannya yang sudah ia pendam 3 tahun lalu saat kami masih mahasiswa baru.

Aku merasa kalah. Dia saja berani menyatakan cintanya sedangkan aku selalu mengulur waktu. Daritadi aku hanya berkeliling mengitari kamarku yang bernuansa basket. Memikirkan bagaimana cara aku menyatakan cintaku pada gadis itu dan membuat ia tersentuh kemudian menerimaku menjadi kekasihnya. Yah, meskipun ia juga menyukaiku tapi belum tentu ia akan menerimaku kan?

Berbagai macam strategi kupikirkan. Banyak saran yang diberikan oleh teman-temanku. Seperti memberikan bunga, namun kupikir bunga itu bisa layu dan aku tidak ingin cintaku juga ikut layu. Jika memberikan cokelat, cokelat itu akan habis jika dimakan, lalu apakah cintaku akan dimakan juga? Tidak mungkin juga aku memintanya menyimpan cokelat itu selamanya, nanti cokelat itu bisa jamuran, dan bagaimana jika cintaku juga ikut jamuran? Oke, salahkan otakku yang selalu berpikiran aneh. Lalu aku harus bagaimana?

Aku ini bukan playboy yang dengan mudahnya menyatakan cinta. Ya meskipun banyak gadis yang menyukaiku tapi aku tidak ingin memberikan harapan palsu pada mereka. Dan sekarang aku kebingungan sendiri kalau sudah seperti ini.

Masih bergulir detik-demi detik yang ditunjukkan jam dinding di kamarku. Masih kuputar juga otakku agar mendapatkan cara yang bisa menyentuh hatinya.

Aku lelah. Kuputuskan untuk merebahkan tubuh tinggiku dikasur berharap segera mendapatkan ide romantis untuk gadis pujaanku.

Setelah lama kurenungkan akhirnya kuputuskan untuk mengajaknya bertemu di halaman belakang gedung kesenian di kampusku. Penjaga gedung itu adalah tetanggaku jadi aku bisa meminjam kuncinya dengan jaminan tidak akan merusak fasilitasnya.

Kupersiapkan segala sesuatu yang aku butuhkan dengan dibantu oleh 2 orang temanku. Setelah semua siap segera kuhubungi gadis itu dan beruntung dia bersedia menemuiku.

Temanku segera bersembunyi di dua sisi berbeda untuk membantuku member kejutan untuk gadis itu.

Kudengar ketukan sepatu yang mendekat kearahku. Segera kubalikkan tubuh tegapku.

Aku melihatnya tersenyum. Senyumnya yang bisa menghipnotisku. Ah…aku harus fokus demi tujuan utamaku hari ini.

Dia semakin mendekat dan bertanya kenapa aku mengajaknya bertemu. Segera kukeluarkan kotak berwarna pink pastel dan dia menerimanya. Dibukanya kotak itu dengan kening berkerut seolah tidak mengerti maksudku.

Kuhirup nafas dalam-dalam guna mengurangi degup jantungku. Dia bertanya mengapa aku memberinya sebuah kunci. Sebelum penjelasanku kulontarkan untuknya, puluhan balon berbentuk hati dilepaskan dari dua sisi kami berdua. Ya, sepertinya perhitungan waktu kedua temanku yang bertugas melepaskan balon-balon itu sedikit meleset. Tapi itu tidak masalah. Karena gadis itu tampak terpana melihat balon-balon itu berterbangan di sekitar kami. Dan aku terpana melihat gadis itu ada dihadapanku saat ini.

Apa kau benar-benar tidak mengetahui maksudku, cantik?

Kuberikan kunci itu karena aku ingin membuka pintu hatimu…

Tidak hanya pintu hatimu namun pintu masa depan kita berdua…

Kumohon cantik, bukalah pintu itu dan kita lewati bersama…

Pintu menuju masa depan kita berdua…

 

***

TBC

 

Maaf kalau ada kesalahan dalam pengetikan ya reader…

Dimohon komentarnya…dan terima kasih sudah bersedia baca…

Iklan

One thought on “Falling In Love Chap. 3

  1. ParkJudit berkata:

    Astogeh, gue nge-fly dah pas baca yg Chanyeol. Lah gimana enggak, secara Chanyeol bias gua. -_- 😀 Hemeh, eksoh fix, abaikan aja.
    Next thor!! Lanjut buat versi member lain yg belom. Gua tunggu loh!
    Keep Writing Author!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s