EXPECTATION YOU part 1

 

Expectation you (chapter 1 : Someone’s Come)

Author : gadisgem

Genre : Family, Romance, School Life

Length : Multichapter

Rate : PG-15

Main Cast :

  • EXO
  • Kim Jong Eeun

Disclaimer : cerita ini murni karya saya sendiri. mohon untuk tidak meng-copy ataupun plagiatian karya saya. Maaf apabila ada kesamaan nama, tempat, tokoh, dll.

happy reading🙂

Someone’s Come

Cuaca hari itu di Ibu Kota Korea Selatan-Seoul , awan mendung mendominasi di pertenghan musim semi. Sedikit menjengkelkan memang, musim dimana tumbuhan yang bermekaran memperindah kota dengan matahari yang hangat. Hari ini, matahari yang hangat itu hilang tertutup awan kelabu yang kapan saja siap meneteskan airnya ke kota itu.

Awan mendung itu membuat beberapa orang menjadi malas beraktivitas dan memilih untuk bergelung di tempat tidur tersayangnya. Terlebih lagi untuk orang yang dikategorikan tidak suka berativitas. Ahh ralat, mungkin bisa dibilang PEMALAS. Tolong garis digaris bawahi. Seorang pemalas suka sekali bermalas-malasan atau tidak suka melakukan apapun yang bukan keinginannya. Itu sudah pasti dan tidak mungkin bukan. Sama halnya dengan seorang wanita berumur 16 tahun- yang akan bertambah menjadi 17 tahun pada bulan Desember nanti –yang seharusnya pada saat ini masih berada di sekolahnya, lebih tepatnya di kelasnya mendengarkan gurunya menerangkan beberapa materi ang akan membuatnya pintar. Justru ia sekarang berada di kamar dengan earphone terpasang dengan manis di telinganya. Komik Naruto kesukaannya senantiasa memenuhi kedua tangannya. Seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya yang sudah tak rapi. Jas abu-abunya entah menghilang kemana. Semua kancing kemeja putihnya terlepas sehingga menampilkan gambar kaos putihnya yang, ya bisa dibilang abstrak. Rok abu-abunya kini digantikan celana panjang abu-abu yang sudah dipastikan itu bukan miliknya. Karena jika dilihat celana itu terlalu panjang dan kebesaran di kakinya yang mungil itu. Tampilan yang tidak pantas jika disebut seorang wanita, namun seorang pria.

Bola mata hitam pekat itu bergerak kekanan dan kekiri mengikuti dialog komik tersebut. Terkadang kikikan geli keluar dari bibirnya yang tipis itu ketika pemeran dalam komik tersebut bertingkah konyol. Kamar yang semula rapi kini terlihat acak-acakan. Komik berserakan dimana-mana. Bahkan sampah bukus makanan kini bertebaran. Kamar yang didominasi dengan warna putih-biru-warna kesukaan kakaknya-menjadi seperti kapal pecah. Ia tak memikirkan apa yang akan kakaknya lakukan jika tahu kini kamarnya sudah tek berbentuk lagi. Ohh okey, ini bukan kamarnya. Kamar kakanya, Kim Jong In. Yang ada dipikirannya sekarang adalah bersenang-senang.

Seorang pria berjalan tergesa-gesa memasuki rumahnya. Tas selempangnya masih setia menggantung di bahunya. Nafasnya terengah-engah. Matanya memerah. Keringat bercucuran di dahinya. Sudah dipastikan pria itu tengah menahan marahnya.

Ia melangkahkan kakinya menuju lantai dua, menuju kamarnya. Dibukanya dengan kasar pintu itu. Apa yang ia cari telah ia temukan. Seorang wanita yang seharusnya sekolah, kini ia temukan berada di kamarnya. Wanita itu tidak merasa terusik karena musik yang keluar dari earphonenya teramat kencang.

Pria itu melangkahkan kakinya lebar-lebar, tangannya terkepal. Mulutnya sudah siap mengeluarkan sumpah serampahnya. Di ambilnya earphone putih itu dengan kasar dan menarik telinga wanita itu keras-keras. Wanita itu memekik kesakitan dipandangnya pria itu dengan sengit.

“YAKKK!!! APPEUDA!!” jeritnya

“sakit kau bilang?!” pria itu mengencangkan tarikan tangannya. Sang wanita menjerit lebih keras lagi. Bahkan kini air mulai menggenang di sudut matanya.

appo oppa, kumohon lepaskan. Aku salah. Lepaskanlah, kau mau telingaku lepas. Lalu kau akan dicap sebagai orang yang telah memutuskan telinga adiknya sendiri gara-gara adiknya membolos sekolah. Kau mau itu terjadi, eoh?” wanita itu menatapnya dengan wajah yang memelas. Pria itu sedikit mematung dan memikirkan kembali ucapan adiknya itu. Wanita itu tersenyum licik ketika pria itu memikirkan ucapannya. Dasar bodoh

Secara perlahan tangan itu melepaskan tarikannya. Wanita itu mengusap-usap telingannya yang memerah. Pria itu menarik kursi yang ada di dekatnya lalu mendudukinya. Tangannya terlipat didadanya dengan mata yang mengintimidasi wanita yang ada didepannya.

“Sekarang ceritakan kenapa kau membolos sekolah hari ini” tanya pria itu tegas. Wanita itu menatap pria itu, atau lebih tepat kakaknya-Kim Jong In sekilas lalu mengambil komiknya kembali membacanya. Jong In merasa diacuhkan tidak terima dengan tingkah adiknya itu.

“YA Kim Jong Eun. Anak terakhir dari pasangan Kim Byul Han dan Kang Ha Eul. Apa kau tak menganggapku ada di sini? Yak, jawab aku. Apa sekarang yang ada di dunia mu hanya komik-komik ini??” tanya nya sengit.

“eoh” jawabnya singkat. Ia menutup komiknya lalu beralih menatap Jong In. “darimana kau tau aku membolos?” lanjutnya.

Jong In mengambil smartphone putih di tas selempangnya. Tangannya dengan lincah menggerakknya di atas ponsel pintar itu. Lalu menunjukkannya ke Jong Eun. Sebuah pesan dari seseorang terlihat diponsel itu

From : Oh Sehun

Hyeong, apa Jong Eun sedang bersamamu? Aku tak melihatnya setelah istirahat berakhir. Bahkan tasnya masih dikelas? Apa dia sakit?

Sial kau Oh Sehun. Jong Eun mendesis kesal. Ia lupa kakaknya punya mata-mata disekolahnya. Ia merutuki dirinya sendiri kenapa sampai lupa dengan point penting itu.

“sekarang, katakan alasanmu kenapa kau membolos” Jong In duduk di hadapannya masih dengan tangan yang terlipat. Jong Eun melirik kebeberapa sudut yang ada di kamar itu yang terpenting jangan sampai ia menatap mata kakaknya. Kebiasaan yang selalu ia lakukan ketika mencari alasan.

“kau tahu seseorang pasti mengalami yang namanya kebosanan. Ya mungkin aku sedang mengalaminya. Dan orang yang sedang merasa kebosanan harus mencari yang namanya kesenangan. Inilah kesenanganku, dengan membaca komik kebosananku pun akan hilang” Jong In menghela nafasnya dengan kasar.

Tangannya yang terlipat kini mencubit pipi adiknya yang tirus itu. “tapikan tidak harus membolos kau bisa membawa komikmu dari rumah dan membacanya disekolah. Tidak harus membolos sekolah. Lagi pula di sekolahmukan ada perpustakaan bacalah disana. Pasti lebih nyaman” jong eun melepas cubitan kakaknya lalu memegang pipinya.

“aku tidak mau membaca komik di sekolah. Semua murid memang membaca buku, tapi bukan komik. Kebanyakan dari mereka membaca buku astronomi. Aku ingin dimana aku membaca komik lalu tertawa dengan lepas.”

“kau kan bisa membacanya di taman sekolah. Kenapa kau bodoh sekali. Aigoo”

“aku bukan tipe orang yang mellow yang tiap kali merasa bosan lalu mencari kesenangan di taman dengan melihat orang-orang yang bergandengan tangan dengan mesranya. Heuhh, tidak akan pernah. Itu hanya akan merusak mataku yang masih polos ini. Jika tidak pasti akan termenung dan merutiki nasibnya. Kenapa aku ditakdirkan hidup dengan dua orang kakak yang teramat bodoh ini”

JTAKKK

Satu pukulah mendarat di kepala Jong eun dengan mulus. Jong in lah yang melakukannya. Mulutnya terkatup, matanya menatap tajam. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa adiknya mengatai dirinya bodoh.

“kau pikir kau itu tidak bodoh. Kau bahkan lebih bodoh dari kami!!” Jong eun tersenyum sinis.

“benarkah? Jika memang aku bodoh, mungkin aku sekarang masih di tingkat 1 High school bukan tingkat 3 High school bersama teman pucatmu itu. Dan aku rasa setelah aku lulus dan kuliah aku lah yang pertama kali diwisuda” Jong in sedikit terdiam. Ia baru ingat jika adiknya mengikuti kelas akselerasi dua kali, sehingga ia kini berada di tingkat 3.

“haisshh, kau itu memang pintar sekali berkilat. Sudahlah berdebat dengan mu tidak akan ada habisnya. Kau akan ku laporkan ke Jong dae hyeong dan Joon myun hyeong agar kau dihukum” Jong In beranjak dari duduknya. Kakinya terangkat menjauh dari Jong eun. Sedikit lagi ia sampai di depan pintu, sebuah suara terdengar.

“kau tau pasti apa yang ada di balik lemari, tempat tidur, bawah meja dan yang pasti di dalam tas mu itu. Apa yang akan terjadi jika Jong dae oppa dan Joon myun oppa tahu? Ini pasti akan lebih menarik, iya kan. Oppa?” Jong eun mengacungkan sebuah majalah dengan gambar yang tidak pantas ia dan anak-anak dibawah umurnya melihatnya. Jong in dengan secepat kilat menarik majalah itu dan menyimpannya di balik punggungnya. Keringat dingin bercucuran. Wajahnya pucat. Matanya melirik kesana kemari persis seperti maling yang tertangkap basah. Melihat Jong In yang seperti itu, Jong eun tersenyum licik.

“apa kau masih mau mengatakannya? Jika kau mengatakan kepada mereka jika aku membolos, itu sangat mudah untuk ku. Aku juga akan mengatakan kepada mereka, apa yang telah kau lihat selama ini. Kita akan impas”

geu..geuraeyo. joha, aku tak akan mengatakan kepada mereka jika kau membolos hari ini. Asalkan kau juga tak mengatakan tentangku kepada mereka”

“oke. Deal” tangan itu saling berjabat tangan tanda menyetujui kesepakatan. Jong in dan Jong eun segera membereskan semua sampah dan komik-komik yang berantakan. Komik-komik itu ia simpan di rak buku yang sudah di siapkan Jong eun untuk menyimpan komik-komik miliknya. Ya, dua rak buku isi komik itu bukan milik Kim Jong In, melainkan Kim Jong Eun. Entahlah Jong In sendiri tidak tahu mengapa Jong eun menyimpan komik-komiknya di kamarnya. Jong eun pernah mengatakan ‘karena aku suka kamarmu’. Setelah tahu alasannya Jong in meminta Jong eun untuk pindah kekamarnya. Namun ia tidak mau. Ia menyukai kamarnya sendiri walaupun komik kesayangannya berada di kamar orang lain.

Pernah suatu hari Jong in tidak sengaja membuat salah satu komiknya robek terbelah menjadi dua. Dan alhasil dirinya menjadi korban kemarahan kakaknya. Jong eun dengan sengaja memfitnahnya telah mengintipnya yang sedang mandi. Jong in pun dihukum membersihkan halaman depan rumah selama 1 minggu. Dan juga uang jajannya dipotong 30%. Itu adalah hari yang sangat sial bagi Jong in. dan ia berjanji tak akan pernah melupakannya.

Rumah di kawasan distrik Gyeonggi-do memang terlihat sederhana dan mewah. Rumah 2 tingkat dengan halaman depan yang luas dan kolam renang dibelakangnya dihuni oleh tiga orang pria dan satu orang wanita. Mereka adalah Kim Joon Myun, Kim Jong Dae, Kim Jong In dan Kim Jong Eun. Mereka bukanlah saudara kandung satu ibu dan satu ayah. Hanya Jong bersaudara lah yang satu ayah dan satu ibu.

Lantai satu berisi 1 kamar tidur dengan kamar mandi. Ruang keluarga dan ruang tamu. Dapur dan kamar mandi terpisah. Ada halaman yang luas di depan rumah dan kolam renang di belakang rumah. Sedangkan di lantai dua hanya ada 3 kamar tidur.

Tak ada orang tua didalam rumah itu. Hanya merekaber empat. Orang tua Joonmyun berada di Busan mengurus perusahaannya yang ada disana. Sedangkan orang tua Jong bersaudara berada di Jepang. Mereka baru pindah 3 tahun yang lalu. Mereka menitipkan Jong bersaudara kepada Joonmyun. Mereka tak ingin anak-anaknya pindah-pindah sekolah mengingat betapa sibuknya mereka mengurusi perusahaan yang sedang berkembang.

Kim Joon Myun. Saudara sepupu Jong bersaudara. Seorang pria dengan tinggi rata-rata orang Korea. kini ia berkuliah di Annyang University mengambil jurusan kedokteran. Mengingat pekerjaan orang tuanya sebagai pengelola rumah sakit Seoul, ia ingin melanjutkan perjuangan orang tuanya membangun rumah sakit Seoul. Seorang pria yang religius. Tipikal orang yang lembut namun terkadang tegas dengan orang-orang yang ia sayangi. Ia selalu menganggap dirinya seorang ayah ketika tahu dirinya dititipi tiga orang adik dari pamannya. dari situlah ia berubah menjadi protektif kepada tiga adiknya terlebih lagi Jong eun, karena ia satu-satunya perempuan di antara mereka.

Kim Jong Dae. Anak pertama dari Jong bersaudara. Pemilik suara emas dan senyumnya yang menawan. Ia berkuliah di Kyunghee Universiy mengambil jurusan musik. Seorang yang merasa memiliki beban berat ketika tahu orang tuanya pindah dan mengurusi kedua adiknya. Karena ia adalah anak pertama, ia lah yang harus mengurus segala keprluan adiknya. Namun setelah tahu ia tinggal bersama saudaranya yang lebih tua darinya. Beban yang ia pikul sedikit berkurang. Walaupun tidak begitu banyak yang berkurang, setidaknya ada orang yang membantunya dalam mengurus kedua adiknya yang bisa dibilang nakal.

Kim Jong In. anak kedua dari Jong bersaudara. Berkulit tan dan tingginya melibihi Jongdae sang kakak. Ia baru saja lulus dari high school dan masuk universitas Kyunghee dan mengambil jurusan yang sama dengan Jongdae. Seorang pria yang akan bertengkar dengan Jongeun kapanpun dan dimanapun jika mereka bertemu. Hal itu yang terkadang membuat kepala Joonmyun dan Jongdae seakan pecah, karena tiada hari tanpa ribut di rumah itu. Namun, karena keributan itu rumah menjadi tidak sepi dan membuat kedua kakaknya betah dirumah.

Terakhir, Kim Jong Eun. Satu-satunya wanita di antara mereka ber-empat. Rambutnya yang sebahu dan selalu acak-acakan dan pakaian yang selalu ia pakai tak pernah rapi, membuat orang berpikir dua kali jika dia itu seorang wanita. Mempunya dua orang kakak laki-laki mempengaruhi pertumbuhannya. Sewaktu kecil Jongeun hanya bermain bersama kedua kakak laki-lakinya. Mungkin karena keterbiasaannya bersama kedua kakaknya ia meniru segala yang kedua kakaknya lakukan. Dan itu berdampak pada saat dirinya dewasa. Ia berkelakuan seperti seorang pria.

********

Kini kamar itu terlihat lebih sepi. Seragam yang dikenakan Jongeun sudah terganti dengan kaus putihnya dan celana panjang longgar. Rambut coklatnya yang terikat dengan asal kini ia biarkan tergerai. Namun masih dengan kegiatannya. Membaca komik.

Jongin sendiri sedang duduk menghadap meja belajarnya. Mengerjakan skripsinya. Terkadang ia mengerang kesal mengingat susahnya membuat skripsi. Ujung pulpennya pun menjadi korban kekesalannya. Jongeun yang melihatnya mendengus kesal. Ia menutup komiknya lalu berjalan menuju Jongin.

“apa yang kau lakukan?” tanya Jongeun

“aku sedang berenang” ketusnya. “kau tidak lihat aku sedang mengerjakan skripsiku” lanjutnya dengan emosi.

Jongeun hanya melihat apa yang sedari tadi kakaknya tulis. Hanya beberapa kalimat dan itu membuatnya pusing serasa dunia akan terbelah menjadi dua.

“pergi dari sini. Kau menghancurkan konsentrasiku.” Tangan Jongin melambai lambai tanda mengusir Jong eun. Jongeun yang merasa di usir pun pergi dari kamar Jongin. Jongin merasa ada yang aneh dengan adiknya itu. Tidak biasanya ia dengan mudah diusir. Biasanya ia akan berteriak keras baru ia akan pergi. Namun kali ini tidak, ia hanya mengangguk dan pergi. Jongin menggelengkan kepalanya berusaha mengilangkan pikiran itu dan kembali berkonsentrasi mengerjakan skripsi yang baru ia buat.

********

Jongeun melangkahkan kakinya dengan sentai menuju dapur. Mengambil beberapa makanan lalu ia bawa ke ruang keluarga untuk menemaninya menonton TV. Belum sempatia menyalakan TV bel pintu rumah berbunyi menandakan ada seseorang yang bertamu. Dipencetnya tombol yang ada di layar intercom. Ada empat orang pria berwajah asing disana.

nuguya?” tanya Jongeun

“benarkah ini rumah Kim Suho?” tanya salah satu dari mereka yang bertubuh paling tinggi. Jong eun mengernyitkan dahinya tanda ia bingung. Setahunya tidak ada orang yang bernama Kim Suho. Ada tetangganya yang bernama Suho. Tapi dia Han Suho bukan Kim Suho. Dan Han Suho Juga masih bayi, bahkan baru lahir 1 bulan yang lalu.

“maaf sepertinya anda salah alamat. Tidak ada yang bernama Kim Suho dirumah ini”

“tapi alamat yang tertuliskan disini menunjukkan ini alamat rumahnya Kim Suho” kini si mata hitam yang angkat bicara.

Jongeun memutar bola matanya. Ia rasa percakapan ini tidak ada untungnya jika diteruskan. Ia hanya akan kehilangan waktu bersantainya.

“tetap saja tidak ada yang bernama Kim Suho dirumah ini. Lebih baik kalian mencari rumah yang lain. Permisi”

“tung..” belum selesai bicara Jongeun sudah mematikan layar intercomnya dan melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Nonton TV

“siapa yang datang?” tanya Jongin

Jongeun memumar kepalanya mencari sumber suara itu berasal. Disanalah Jongin, di tangga dengan tangan yang ia masukkan ke kantung celana. Bergaya sok cool.

“seseorang yang salah alamat” kripik kentang itu berhasil masuk ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya perlahan. Takut tersedak. Jongin merebahkan dirinya di samping Jongeun. Menghilangkan penatnya.

“memang siapa yang ia cari?” tanya Jongin lagi. Masih dengan mengunyah kripik kentang dan mata yang terfokuskan ke arah TV.

“seseorang yang bernama Kim Suho” mata Jong In membulat seketika. Ia mengguncangkan bahu Jongeun hingga krpik kentang yang ada di tangannya jatuh.

“mwo!!? Kim..KIM SUHO?” dengan segera Jongin berlari kearah pintu dan membukanya. Jongeun sendiri masih bingung dengan tingkah kakaknya. Berbagai macam pertanyaan muncul diotaknya. Siapa Kim Suho. Kenapa Jongin seperti itu. Apa Ia mengenalnya. Mungkin seperti itulah gambaran pertanyaan dari Jongeun.

Tak lama kemudian. Jongin beserta keempat pria itu masuk. Dan mereka terlihat akrab sekali. Terlebih lagi Jongin merangkul salah satu dari mereka.

hyeong, lama sekali tidak bertemu. Aku sangat merindukanmu hyeong

nado KAI” mwo kai

Jongeun menatapnya bingung. Bahkan kini ia menghiraukan suara TV yang seakan menjerit-jerit meminta perhatiannya.

“ya, bukankah sudah kukatakan. Disini tidak ada yang bernama Kim Suho. Dan apalagi itu? KAI? Ya Jongin-ah. Sejak kapan kau mengganti namamu menjadi KAI. Nama apa itu. Singkat sekali.” Ucap Jongeun

Seorang pria yang dirangkul Jongin dan juga mungkin menurut Jongeun lebih muda dari mereka karena wajahnya yang imut mendekatinya. Tersenyum lalu mengusap kepalanya.

“kau pasti Jongeun kan? Wah kau sudah besar sekali. Aku tak menyangka sekarang tinggimu sebahuku.” Pria itu tersenyum masih mengusap kepalanya. Jongeun menepis tangannya. Ia merasa itu bukanlah hal yang sopan. Mengusap kepala orang yang tidak mengenalnya.

“memangnya kau siapa? Berani sekali kau memegang kepalaku bahkan mengusap kepalaku. Anak raja pun tak akan ku perbolehkan memegang kelapaku dan mengusapnya” ketus Jongeun

JTTAKKK

“auuu, appo” jongeun mengusap kepalanya sayang. Kepalanya kini menjadi korban kekerasan Jongin.

“jaga bicaramu itu. Mereka lebih tua darimu. Siapa yang mengajarimu berkata seperti itu. Sekarang cepat minta maaf” ke-empat orang itu terkekeh melihat tingkah mereka berdua.

“kau. Siapa lagi memang” yang tadinya hanya kekehan sekarang menjadi suara tawa yang menggelegar setelah mendengar jawaban Jongeun. Jongin menjadi lebih kesal dan mencoba memukulnya lagi.

“hei, sudahlah. Kami kemari bukan untuk melihat kalian bertengkar. Tapi, ingin bertemu Suho” si pria tinggi berujar

“iya dimana Suho?” salah satu si imut, mata hitam, dan tinggi itu mulai mengelurakan suaranya.

“ahh mian hyeong. Joonmyun hyeong belum pulang. Biasanya jam segini ia ada di rumah sakitnya. Aku akan mingirim pesan”

“ahh, sepertinya kami datang terlalu cepat” ucap si tinggi

“tidak hyeong. Hyeong bisa istirahat disini. Pakailah kamarku, Jongdae hyeong atau Joonmyun hyeong untuk istirahat”

“ahhh, tidak apa-apa kami disini saja. Ehh, dimana Jongeun?” tanya si imut. Mungkin mereka terlalu larut dalam pembicaraan sehingga tidak menyadari Jongeun yang sudah meninggalkan ruangan itu.

“mungkin dia ada di dapur. Jam segini pasti ia lapar. Sebentar akan ku panggilkan dia” jongin beranjak dari duduknya dan mencari Jongeun

Tanpa menunggu lama Jongin datang dengan menggandeng tangan kanan Jongeun, agar dia tidak kabur. Wajah Jongeun sedikit kusut. Ralat, bukan sedikit tapi memang kusut. Ya, Jongin mengganggunya yang sedang makan kari ramyeon makanan kesukaannya.

“perkenalkan dirimu?” suruh jongin

“bukankah pria itu sudah mengenalku?” tanya Jongeun tangannya yang bebas menunjuk si imut.

“eshhh, jangan tunjuk-tunjuk. Kau tidak sopan sekali. Perkenalkan saja dirimu”

“Kim Jongeun”

“singkat sekali”

“annyeong naneun Kim Jongeun. Seorang wanita malang yang harus hidup dikelilingi orang-orang bodoh dan-“

“ya!! Perkenalan macam apa itu?!” Jongin berkacak pinggang. Tanda bahwa ia sedang kesal.

“ya, jangan mulai lagi. Aku Zhang Yi Xing. Kau bisa memanggilku Lay” si diam-Lay.

“namaku Kris. Dan bermata hitam itu Huang Zi Tao. Kau bisa memanggilnya Tao” si tinggi-Kris menunjuk seorang pria yang ada di sampingnya. Si mata hitam. Satu kata yang ada dalam otak Jongeun untuk orang yang bernama Tao. Seram.

Si imut mulai mendekatinya. Untuk mengantisipasi kepalanya Jongeun sudah melindungi kepalanya dengan menutupnya dengan kedua tangannya. Namun sasarannya kini bukan kepala. Namun pipinya.

“aku Luhan. Xi Luhan. Senang bertemu denganmu lagi adik kecil.”pria itu tersenyum kembali. Seolah senyum tak pernah menghilang dari bibirnya itu. Tangan itu mencubit pipinya. “kau manis sekali” lanjutnya.

Jongeun masih diam mematung. Yang dipikirannya saat ini. Ia harus menjauhi pria yang bernama Xi Luhan, karena dengan tidak sopannya untuk yang kedua kalinya ia memegang pipiku bahkan mencubitnya.

“apa sudah selesai. Kurasa kari ramyeon-ku sudah mengembang sekarang.” Dengan wajah bersungut-sungut. Jong kembali kedapur

“ya Jongin-ah. Kau apakan dia?”tanya Tao

molla, mungkin dia memang ditakdirkan seperti itu. Biarkan saja. Hei, apa yang akan kalian lakukan di Seoul?”

“kami….”

********

Waktu cepat berlalu matahari yang bangun namun tertutupi awan kini tergantikan dengan bulan yang terbangun. Keempat orang itu masih dirumah itu. Bahkan kata Jongin mereka akan menginap disini untuk sementara. Memangnya mereka akan tidur dimana?

Jongin juga sudah menceritakan siapa mereka. Mereka adalah teman-teman Suho atau Junmyun. Mereka juga teman-teman Jongdae dan Jongin. Mereka ditemukan karena musik. Mereka berada dalam satu club musik. Bahkan tidak hanya mereka ber-tujuh. Baekhyun si cerewet, Chanyeol yang tidak bisa diam, Kyungsoo si mata bulat, Minseok yang tidak bisa berhenti makan, bahkan Sehun si kulit albino teman satu kelasnya pun satu club musik dengan mereka. Mereka pikir mereka boyband, banyak sekali. Itulah isi dari otak Jongeun untuk sekarang ini.

Oh, bukan. Mereka bukan teman-teman Jongeun. Mereka teman kakak-kakaknya. Ia mengenal mereka, karena mereka sering datang ke rumah itu hanya sekedar bermain. Atau mungkin mengganggunya.

Bahkan mereka mempunyai nama panggilan sendiri. Seperti Joonmyun yang menjadi Suho, Jongdae-Chen, Jongin-Kai, Kyungsoo-Dio, Yi Xing-Lay, Minseok-Xiumin. Demi orang tuanya yang sedang di Jepang, bahkan nama itu terdengar konyol di telinganya. Dan juga, pria yang bernama Luhan itu agak mirip dengan Sehun.

Berbicara tentang Sehun. Jongeun menjadi kesal sendiri. Gara-gara pria itu telinganya hampir saja putus karena tangan jahanam Jongin. Bahkan pria itu mengantarkan tasnya. Untung saja Jongin yang bertemu dengan Sehun. Jika saja Jongdae ataupun Joonmyun mungkin ia sekarang sudah dihalaman belakang memebrsihkan kolam dari daun-daun kering. Lihat saja kau Oh Sehun.

CEKLEK

Pintu coklat itu terbuka menampilkan seorang pria yang masih mengenakan jas putihnya layaknya seorang dokter. Pria itu tersenyum dan mendekat. Direngkuhnya kepala itu lalu mengusapnya pelan.

“bagaimana keadaaan mu? Apa kau tertidur di kelas lagi?” tanya pria itu. Ia dudukkan tubuhnya di atas tempat tidur itu, tepat di hadapan Jongeun.

Jongeun tersenyum dan menjawab “yahh, sedikit. Hanya 3 jam” bohongnya. Pria itu menghela nafas sebentar. Mengedarkan matanya lalu kembali menatap Jongeun.

mian Jongeun-ah, penyakit insomniamu sudah akut. Susah sekali menghilangkannya. Oppa hanya bisa membantumu dengan obat tidur”

“tak apa. Yang penting aku masih bisa tidur. Yahh, walaupun dibantu dengan obat tidur” Jongeun tersenyum lalu memeluknya. “ini bukan salahmu oppa. Insomnia-ku menjadi akut bukan karenamu, ini kehendak Tuhan” pria itu-Joonmyun membalas pelukannya lalu mengusap bahu kecil itu.

“cha, ayo kebawah. Semua sudah menunggu untuk makan malam. Bahkan Jongdae dan Lay sudah memasakkan makan malam untuk kita. Kajja”

“ahh, tunggu oppa. Apa orang-orang itu akan menginap dirumah ini?” tanya Jongeun.

“nanti aku beritahu. Kita makan saja terlebih dahulu”

********

Didapur. Tidak terlihat seperti biasanya. Terlihat lebih ramai. Biasanya Jongdae yang selalu memasak, Jongin duduk dimeja makan memainkan ponselnya sedangkan Joonmyun duduk dengan santai sambil menyeduh the pahitnya.

Namun kini berbeda. Didapur itu ada Jongdae dan Lay yang membantunya memasak. Jongin dan Tao sedang bermain Playstation di ruang keluarga dengan Luhan yang menyemangati mereka. Kris terlihat keluar dari kamar mandi dengan menggosok-gosokkan handuk kecil di kepalanya untuk mengeringkan rambut blonde-nya itu. Sedangkan Joonmyun pria itu ada di depannya, menuntunnya menuju ruang makan.

“cha!! Makan malam sudah siap!!” teriak Jongdae.

Tanpa menunggu waktu lama. Kursi-kursi kosong itu sudah dipenuhi oleh manusia-manusia yang haus akan kata MAKAN. Jongeun duduk diantara Jongdae dan Luhan. Sedangkan didepannya Jongin yang bersebelahan dengan Tao dan Lay. Di kursi tengah ada Joonmyun dan Kris.

Joonmyun selaku pemilik rumah memimpin berdoa sebelum makan. Selesai berdoa acara makanpun berlangsung. Jongeun menerima nasi yang telah diambilkan oleh Jongdae. Baginya Jongdae adalah ibu dan Joonmyun seorang ayah. Sedangkan Jongin, eumm saudara yang selalu menindasnya.

Selama acara makan berlangsung. Luhan selalu memperhatikan cara makan Jongeun. Cara wanita itu memisahkan sayur-sayur dipiringnya. Cara tangan kiri itu menyuapkan nasi kedalam mulutnya. Dan juga kelemahannya dalam menggunakan sumpit.

Jongeun-ah, makan sayuran mu. Jangan kau sisihkan seperti itu.” Jongdae berujar. Pria itu mengambilkan sayur untuk Jongeun lalu meletakkannya di piring itu. Jongeun mendengus kesal.

oppa aku tidak suka sayur. Kenapa kau mengambilkannya untukku?” jongeun kembali menyisihkan sayur itu.

Jongeun-ah, sayur itu baik untuk tubuhmu. Kau tidak akan mudah sakit jika makan sayur. Makanlah. Sayur tak akan membunuhmu” kali Joonmyun yang berusaha membujuknya.

Dengan sedikit terpksa Jongeun menyuapkan sayur itu dengan nasinya. Sayur itu terasa enak dilidahnya tapi kata hatinya berkata lain. Walaupun enak, namun tubuhnya selalu menolak benda berwarna hijau itu masuk kedalam tubuhnya. Memang aku kambing

“ya Chen-ah. Apa dari dulu adik kecil ini tak suka sayur? Bahkan dia masih kidal” ujar pria yang duduk disebelah kiri Jongeun-Luhan. Jongdae atau Chen menganggukkan kepalanya. Jongeun menatap heran pria yang ada di sebelah kirinya.

“bagaimana kau tahu tentangku? Hei apa kau stalker?” Jongin yang duduk tepat di depannya melempar sedok bersih itu ke arah Jongeun.

“kau pikir kau itu seorang artis sampai-sampi Luhan hyeon menjadi stalker mu? You wish” Jongeun menggeram kesal dan beranjak untuk membalas Jongin.

“hei hentikan ini di meja makan.” Jongeun yang akan membalas Jongin mengurungkan niatnya setelah mendengar perintah Joonmyun. Pria itu menatap kesal kedua adiknya yang nakal itu. Tiada hari tanpa bertengkar.

“aku ingin memberikan pengumuman. Berhubung kamar ini hanya ada 4. Maka Tao akan tidur di kamarku, Lay di kamar Jongdae, Luhan hyeongi dan Kris hyeong di kamar Jongin. Jongin kau tidur satu kamar dengan Jongeun”

oppa/hyeong”

oppa, apa kau bercanda? Oppa tahu sendiri dengkurannya sangat keras sekali. Aku tidak bisa tidur jika berisik seperti itu” protes Jongeun

“ya!!

geumanhaera!!” Joonmyun mulai naik pitam melihat tingkah Jongeun dan Jongin. “keputusan sudah bulat. Tidak ada penolakan. Lagipula ini tak akan lama” lanjutnya

Jongeun dan Jongin hanya bisa menghela nafasnya.Jongeun rasa ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang. Ia harap semua akan berjalan dengan lancar.

T.B.C

One thought on “EXPECTATION YOU part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s