Edelweis (Chapter 6)

CIMG0155 - Copy(1)

Title                 : Edelweis (Chapter 6)

Author             : Jung Ri Young

Cast                 :-Oh Sehun

-Park Chanyeol

-Byun Baekhyun

-Kim Jongin

-Kim Yeejin (OC)

-Park Yoora (Chanyeol noona)

-Jung Ahra

Genre              : Family, Brothership, Romance, Little Comedy

Rating             : T

Length             : Chapter

Disclaimer       : Member EXO milik Tuhan, Orang tua dan SMEnt. Kecuali Baekhyun milik saya! kekeke

Summary         : “Gwenchana, hyung. Jangan berterimakasih seperti itu. Kalian sudah ku anggap saudaraku sendiri.”

 

Chapter sebelumnya : 1 , 2 , 3 , 4 , 5

.

.

Otak Baekhyun seperti berhenti bekerja. Langkahnya terhenti tanpa ia sadari. Merasa ada orang lain di dekatnya, namja itu menoleh. Hati Baekhyun bagai tertusuk pisau untuk yang kedua kali ketika menyadari bahwa itu sahabatnya.

Seharusnya Baekhyun tahu ini akan terjadi. Seharusnya ia sudah menyiapkan hatinya jauh-jauh hari. Tapi kenyataannya ia tak sekuat itu. Perasaan sakit di dadanya memaksa air matanya menggenang. Bahkan ia tak mampu menahan lebih lama ketika namja tinggi itu dengan senyum lebar menyapanya.

“Annyeong, Baekhyun.”

.

-xoxo-

.

“C-Chanyeol?”

“Hmm, Baekhyun.”

Wajah itu masih tersenyum, tidak, lebih tepatnya menyeringai. Chanyeol menyeringai padanya seolah mengejeknya karena ia-lah yang memenangkan hati Yeejin. Baekhyun memejamkan mata, mencoba mengumpulkan kekuatan yang tiba-tiba menghilang begitu saja. Tangannya mengepal kuat menahan gejolak hatinya. Ia tak tahan, ia tak kuat lagi berdiri di situ.

Secepat kilat Baekhyun berbalik. Melupakan tujuan awalnya untuk memasuki kelas musik. Kakinya ia paksa bekerja lebih keras. Berjalan menuju manapun asal bisa menjauh dari mereka. Chanyeol dan Yeejin. Kenyataan bahwa mereka bermesraan membuat nafasnya tercekat. Bahkan setelah ia menghirup nafas dalam-dalam, udara tetap menolak mengisi paru-parunya.

Ia terengah, semakin menyadari bahwa tubuhnya membutuhkan oksigen. Tangannya meraba-raba dinding sekitar dan-

Buuukkk!!!

Tubuh Baekhyun terjatuh. Bersentuhan dengan lantai yang keras dan dingin membuat matanya perlahan terbuka. Ia mengerang.

“Errgghh.”

Tangan Baekhyun masih meraba-raba. Namun samar-samar telinganya menangkap suara kikikan. Semakin lebar ia membuka mata, semakin jelas suara itu. Pandangannya menangkap visual tinggi berdiri di dekatnya.

“Bhhahahahaa. Hyung kau- Hahahaha.”

“Eh? Jongin, Sehun?”

“Hahahaha, hyung kau lucu sekali.” Jongin masih terbahak-bahak. Sehun yang berdiri tak jauh darinya bahkan harus menutup mulut agar tidak ikut tertawa heboh sepertinya.

“Kau? Kenapa kau di sini? Di mana Chanyeol?”

Sungguh Baekhyun tak mengerti. Rasa sakit hati membuat otaknya buntu. Ia hanya memandang bingung pada dua dongsaengnya yang tiba-tiba menertawainya. Hingga kesadarannya pulih, Baekhyun paham bahwa ia tadi bermimpi.

“Ya! Apa yang kau tertawakan?!”

“Kau, hyung. Kau lucu sekali.” Jongin belum bisa berhenti tertawa.

Baekhyun menatap Jongin sebal. Setelah itu pandanganya beralih pada Sehun.

“Aniyo. Aku tidak ikut menertawakanmu.”

“Bohong, hyung. Bahkan tadi Sehun yang menjatuhkan tubuhmu ke lantai.”

“Ya! Hitam! Kau yang menyuruhku!”

“Tapi lihat, Sehun-ah. Lihat ekspresi Baekhyun hyung! Hahaha.”

“Kalian benar-benar dongsaeng kurang ajar. Pergi dari kamarkuuu!!!” Baekhyun berteriak kencang. Oke, ini berlebihan. Baekhyun lebih tepatnya malu ketimbang marah.

Bagaimana bisa ia bermimpi bodoh seperti itu? Ya Tuhan.

.

-xoxo-

.

Sepertinya berangkat ke kampus merupakan kesalahan fatal bagi Baekhyun. Ia tak henti-hentinya dijadikan bahan tertawaan oleh para sahabatnya. Bahkan rasa lapar itu sirna melihat mereka terbahak-bahak. Menyebalkan!

“Belum puaskah kalian tertawa?”

“Bhahahahaa.”

Baekhyun memutar bola mata. Perlahan matanya menelusuri wajah para sahabatnya. Mereka terlihat sangat bahagia. Entah mengapa melihat mereka tertawa lepas seperti itu membuat hatinya hangat. Chanyeol yang terlihat semakin idiot ketika tertawa sambil menepuk-nepuk tangannya, Sehun yang tetap terlihat tampan walau wajahnya mulai lelah tertawa, dan Jongin, ia adalah orang yang paling heboh menertawakannya. Diam-diam Baekhyun tersenyum. Ia bahagia seperti ini. Sepertinya Jongin dapat melupakan sejenak masalah keluarganya. Dan ia bersyukur itu karenanya. Karena mimpi bodohnya.

“Kalian, benar-benar.” Serunya sambil geleng-geleng kepala.

Sehun memegangi perutnya, sedikit meringis disea-sela tawanya. “Stop, hyung. Hentikan. Perutku sakit.”

“Siapa suruh menertawakanku, rasakan!”

“Itu karena kau bodoh.”

“Hahahaha.” Mereka memulai lagi. Oh astaga!

Baekhyun benar-benar sebal, ia beranjak dari kursinya. “Sudahlah, aku tidak ada jam kuliah setelah ini. Aku mau pulang.”

“Nado, Baek. Kajja kita jalan-jalan!”

“Aku ikut, hyungdeul.” Jongin buru-buru menyambar.

“Dan kau, Sehunnie?”

“Aniyo, hyung. Aku ada pertemuan organisasi.”

.

-xoxo-

.

Sehun mendesah menatap punggung tiga sahabatnya yang mulai menjauh. Kewajiban memaksa ia tak bisa bersenang-senang bersama mereka setiap saat. Sehun beranjak, melangkahkan kaki jenjangnya menuju ruang organisasi.

Masih tertalu awal ternyata karena ia tidak menemukan satu orangpun di sana. Sehun memilih duduk di sebelah jendela sambil memasang earphone di telingannya. Bibirnya mulai bersenandung.

“Oh? Ketua, kau sudah datang?”

“….”

“Sehun sunbae.”

“Ne?” Sehun berbalik, melepas benda yang menghalang pendengarannya.

“Ah, Jung Ahra kau mengagetkanku.”

Ahra meringis, merasa tidak enak telah berbicara keras. “Mianhaeyo.”

“Tapi kenapa kau sendirian? Dimana yang lain?”

“Mereka mungkin telat.”

Ahra sibuk menyiapkan bahan-bahan laporan ketika sebuah pertanyaan tiba-tiba melintas di kepalanya.

“Apa sebelumnya sunbae tahu tentang hubungan mereka? Yeejin dan Baekhyun sunbae.”

Sehun tersenyum.

“Jadi, orang yang selama ini Yeejin cintai?”

“Itu Baekhyun hyung, tentu saja.”

“Tapi sunbae, mengapa ia terlihat sangat bahagia ketika Chanyeol sunbae menyatakan cinta padanya? Bahkan seharian ini dia hanya berbicara tentang Park Chanyeol dan Park Chanyeol. Bukankah itu membingungkan?”

“Hah?”

“Aku sendiri tidak mengerti.” Gerutu Ahra pelan.

Sepanjang rapat berlangsung, otak Sehun tak berhenti memikirkan perkataan Ahra. Matanya melirik yeoja yang duduk di seberangnya. Anggota baru yang mengusik persahabatan mereka.

“Kim Yeejin, apa yang sebenarnya kau inginkan?”

.

-xoxo-

.

“Baekhyun palli!”

Chanyeol terlihat gemas pada namja kecil yang masih sibuk mengamati bunga-bunga segar yang berjejer rapi. Yoora sudah menunggu di jemput tetapi Baekhyun tidak kunjung beranjak.

“Aku tidak jadi ikut, Chanyeol-ah. Aku akan menunggumu di sini.”

“Ya! Jinjja! Kenapa tidak kau katakan dari tadi? Merepotkan!”

Pintu apartemen Chanyeol tertutup. Baekhyun menoleh sejenak kemudian kembali memandangi bunga-bunga di depannya. Bunga yang akan menghiasi acara pertunangan Joonmyun dan Yoora.

“Ah, sudah pasti mawar. Bunga kesukaan Yoora noona.” Gumamnya ketika ia menyadari bahwa bunga mawar lebih mendominasi dibanding yang lain.

Baekhyun mulai memilah-milah, mencari tahu bunga apa saja yang mereka beli. Hingga matanya menangkap sebuket bunga berwarna putih berada tersebunyi di antara mawar dan lavender. Tangannya spontan memungut bunga itu dan berbisik.

“Edelweis.”

Ya, bunga di genggamannya adalah bunga edelweis. Bunga yang kata orang melambangkan suatu keabadian. Ia ingat, seorang yeoja pernah menjelaskan filosofi edelweis padanya.

.

Flashback

.

“Tarraa.. Oppa, lihat apa yang aku bawa.”

“Bunga?” Gumam Baekhyun.

Ia mendongak, menatap bingung orang yang tiba-tiba menyodorkan seikat bunga padanya. Bukankah aneh jika ada seorang yeoja memberi bunga? Itu terbalik, kan?

Baekhyun masih belum bereaksi hingga akhirnya yeoja tersebut memilih untuk duduk, bersampingan dengan Baekhyun.

“Mwoya, oppa. Kenapa ekspresimu seperti itu? Kau tidak senang?”

“Ani, gomawo chagi. Aku baru tahu kau menyukai hal-hal semacam ini.”

“Aku mendapatkannya ketika mendaki bersama teman-teman. Lihat, oppa, bunga ini sangat cantik, bukan?”

“Mwo? Kau mendaki hanya untuk mendapatkan bunga seperti ini?” Tanya Baekhyun tak percaya.

Pletaakk!!!

Jitakan menyakitkan tersebut mulus mendarat di kepala Baekhyun. Yeoja itu mendelik, sangat kesal dengan kekasihnya.

“Tentu saja! ini bunga edelweis, oppa. Hanya tumbuh di ketinggian tertentu. Jangan bilang kau tidak tahu?”

Baekhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Hehe, mianhae. Aku sungguh tidak tahu.”

Yeejin memutar bola mata. Oke, dia harus sabar dengan kekasihnya yang serba tidak tahu apa-apa. Baekhyun hanya tahu tentang musik dan dirinya. Yah, setidaknya Yeejin bersyukur Baekhyun memahaminya.

“Oppa tahu? Edelweis merupakan simbol keabadian. Mereka hanya tumbuh di tempat-tempat tertentu yang sulit dijangkau. Aku harus berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya, karena aku ingin memberikannya padamu.”

“Aku?”

Yeejin mengangguk, menerawang.

“Aku ingin oppa tahu, bahwa aku akan selalu berusaha menjaga cinta kita. Mempertahankannya hingga keabadian. Karena aku ingin kebersamaan kita seperti edelweis, indah dan abadi.”

.

Flashback end

.

“Kim Yeejin kau sudah berusaha.” Bisik Baekhyun.

Ia menyeka matanya yang tiba-tiba basah. Edelweis, bunga itu menjadi bunga favorit Baekhyun sejak hari itu. Bahkan ia masih menyimpan edelweis pemberian Yeejin dalam sebuah kotak kayu di kamarnya. Warnanya sudah berubah coklat dan mengering, tapi Baekhyun tak pernah membuangnya. Baekhyun masih memegang kata-kata Yeejin. Ia masih mengharapkan kebersamaan yang indah dan abadi.

“Aku pulang.”

Suara itu terdengar dengan diikuti visual Chanyeol dan Yoora. Baekhyun tersenyum ke arah mereka.

“Oh? Baekhyunnie disini? Kebetulan sekali, bantu Chanyeol memindahkan bunga-bunga ini ke rumah Jongin. Kau tidak keberatan, kan?”

“Tentu saja, noona. Aku akan membantu.”

“Gomawo.”

.

-xoxo-

.

“Kenapa sebelumnya bunga-bunga ini tak langsung di bawa kerumah Jongin?”

“Itu karena aku yang membelinya, Baek.”

“Jinjja? Kau?” Baekhyun memandang tak percaya pada bunga-bunga yang berada di kursi belakang. Ia tahu jiwa seni Chanyeol sangat buruk, jadi memilih bunga untuk acara pertunangan bukan sesuatu yang dapat tiang listrik itu lakukan dengan baik.

“Tentu saja tidak sendiri. Yeejin membantuku.”

“Oh.”

Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Baekhyun. Yeejin? Bersama Chanyeol?

“Kau tahu, Baek? Dia mempunyai selera yang tinggi. Bahkan memilih bunga sebanyak itu hanya menghabiskan waktu tiga puluh menit. Dan bunga berwarna putih yang tadi kau pegang-“

“Itu bunga kesukaannya?”

“Eh? Bagaimana kau tahu?”

Baekhyun menyesali mulutnya yang tidak bisa dikontrol. Diam-diam ia merutuk dalam hati.

“Hanya menebak.”

Chanyeol mengangguk. “Kau berbakat menjadi peramal, sobat.”

Mereka tersenyum, tenggelam pada pikiran masing-masing. Chanyeol membayangkan senyum manis yeoja berlesung pipi itu dengan perasaan membuncah. Bahagia, tentu saja. Di sisi lain hati Baekhyun serasa diremas-remas. Ini menyakitkan.

.

-xoxo-

.

“Aigoo, hyung, kenapa mawar semua?”

“Diamlah dan cepat bantu kami mengerjakannya, atau calon kakak iparmu akan mengamuk.”

Jongin mendengus sebal.

Mereka kini berada di ruangan yang penuh dengan tumpukan bunga. Berkutat menciptakan rangkaian-rangkaian indah. Tak perlu heran mengapa mereka rela melakukan ini. Yoora memang terkadang memiliki sifat yang tak kalah ajaib dengan Chanyeol.

.

Flashback

“Hanya tinggal merangkai bunga untuk menghias ruangan ini, oppa.”

“Benar, aku akan menyuruh para pelayan untuk mengerjakannya.”

Yoora menahan ketika Joonmyun hendak memanggil pelayan rumah. Sejenak melirik namja-namja muda yang sedang bermalas-malasan di depan televisi.

“Aku ingin adik-adikku melakukannya untukku. Semacam hadiah pertunangan mungkin?”

Jongin, Chanyeol, dan Baekhyun lantas menoleh, mendapat firasat buruk.

“Begitu? Baiklah, Jongin, tolong rangkai bunga-bunga itu untuk noona.” Perintah Joonmyun.

Chanyeol dan Baekhyun berhighfive, merasa bebas dari perintah. Mereka menyeringai pada Jongin yang memasang muka cemberut.

“Bukan berarti kalian tidak membantu, Chanyeol, Baekhyun.”

Kini giliran Jongin yang meyeringai.

Flashback end

.

Rangkaian demi rangkaian mulai terbentuk. Chanyeol memperhatikan Baekhyun yang bekerja dalam diam. Ia terlihat fokus memadukan beraneka jenis mawar dengan warna yang berbeda. Chanyeol sedikit heran mengapa Baekhyun tidak memadukannya dengan bunga lain yang ada. Toh masih ada lavender, lily , dan tulip?

“Kau berbakat.”

Baekhyun mendongak, tersenyum lalu kembali pada pekerjaannya.

“Hyung, kenapa kau malah membuat buket bunga? Kau pikir ini acara pernikahan?”

“Protes saja terus, dari tadi kau banyak bicara, sama sekali tak membantu!”

Sehun berbalik menatap Jongin, menampakan wajah menyesal yang sengaja dibuat-buat. “Aku ingin sekali membantu, Jongin-ah, tapi kau tahu sendiri hidungku alergi pada serbuk bunga. Eottokkhe? Aku sungguh menyesal.”

Chanyeol harus melemparkan death glare agar Sehun diam. Ia menyesal mengundangnya tanpa memikirkan bahwa Sehun alergi pada serbuk bunga. Ditambah suasana hati Jongin sedang dalam keadaan yang tidak baik, sehingga mempertemukan mereka hanya akan membuat bencana.

Mereka selesai tepat waktu makan malam. Sehun dan Baekhyun terpaksa tiggal karena Nyonya Kim telah membuatkan berbagai hidangan. Jadi di sinilah mereka sekarang, duduk berjejer mengelilingi meja makan besar milik keluarga Kim. Kata-kata formalitas seperti ‘selamat makan’ beberapa kali terlontar sebelum suasana benar-benar hening, sibuk dengan mangkuk masing-masing.

“Eomma membuat ayam goreng kesukaanmu, makan yang banyak, Jongin-ah.”

Jongin tersenyum, mengangguk pada wanita paruh baya di sampingnya. Nyonya Kim kemudian menuangkan air minum pada gelas Jongin yang separuh kosong. Tanpa disadari perhatian itu menusuk hatinya. Itu bukan kali pertama Nyonya Kim memberi perhatian lebih pada Jongin. Namun kali ini terasa berbeda karena ia telah mengetahui status yang sebenarnya.

Tenggorokan Jongin mulai tercekat. Dia adalah wanita sempurna. Dia adalah sosok eomma yang sempurna. Tetapi mengapa takdir mengkhianatinya?

“Eomma, apakah jika saat ini aku hidup bersamamu, kau akan memperlakukanku seperti ini pula? Seperti dia yang begitu menyayangiku?”

Jongin merasakan air mata mulai menggenangi pelupuknya. Ia berpaling ke samping kiri, menyembunyikan wajah dari orang yang paling ia sayangi. Ia tidak mau eomma mengetahui kesedihannya, ia tidak ingin eomma ikut menangis bersamanya. Dan yang paling ia takutkan, ia tidak ingin eomma tahu bahwa Jongin sudah mengetahui kenyataanya. Jongin tidak ingin eomma menjaga jarak dengannya.

Jongin merasakan genggaman hangat pada tangan kirinya. Ia mendongak, menemukan seulas senyum teduh seorang sahabat. Ia tahu Sehun sedang memberi kekuatan. Sehun, orang yang selalu bertengkar dengannya karena hal-hal kecil. Orang yang selalu meneriaki dan diteriakinya setiap hari. Orang yang dengan cepat bisa menyulut emosinya. Nyatanya, orang menyebalkan itulah yang selalu bisa mengerti apapun keadaan Jongin.

.

-xoxo-

.

“Terimakasih eomonim, makan malamnya sungguh lezat.”

“Sama-sama Sehunnie, jangan pernah sungkan.”

Sehun dan Baekhyun memutuskan pulang ke rumah masing-masing. Tidak dengan Chanyeol tentu saja, karena ia harus menemani Yoora sampai hari pertunangan tiba. Mereka berbagi mobil karena Baekhyun kemari bersama Chanyeol, mau tidak mau ia harus pulang menumpang pada Sehun.

“Sehun-ah, STOOOOPP!!!”

Mereka terdorong ke depan seiring Sehun menginjak rem dalam-dalam. Ia menoleh samping, menatap Baekhyun dengan ekspresi sebal.

“Ya!! Hyung mengagetkanku!”

“Mian, mianhae. Keunde, apa kau melihat buket bunga yang ku rangkai tadi? Perasaan tadi aku membawanya? Aissh, dimana benda itu?”

Sehun memutar bola mata, hanya karena buket bunga? “Kau melupakannya saat makan malam hyung, bukankah tadi kau letakkan di meja?”

“Ah benar! Ayo berbalik!”

“Mworago? Kita sudah setengah jalan. Aku tidak mau menghabiskan waktu hanya untuk mengambil benda sialan itu!”

“Sehunnie, jebal!”

Sehun membuang muka. Menghindari tatapan memelas Baekhyun. Hyungnya merengek, mulai beraegyo, dan ia sadar tak akan bisa menolaknya.

.

-xoxo-

.

“Gomawo, Sehunnie.”

“Berhenti beraegyo! Kau bukan anak kecil, hyung!”

Baekhyun tersenyum lebar, memamerkan eye smile andalannya. Ia tahu benar sifat Sehun. Adik kecilnya itu tak akan bisa menolak aegyonya. Dan terbukti, kini buket bunga mawar karangan Baekhyun sudah tergenggam manis di tangan.

Sekali lagi Sehun melirik, berdecak tak percaya. “Sepenting itukah gumpalan mawar ini untukmu?”

“Gumpalan katamu? Aku merangkainya susah payah, tahu!” Baekhyun sewot.

“Lantas mengapa kau membawanya? Bukankah itu untuk pertunangan noona?!” Sahut Sehun tak kalah sewot.

“Itu…aku..”

“Wae?” Sehun mengangkat alis curiga, memperhatikan gerak gerik Baekhyun yang mendadak aneh. “ Apa kau sedang salah tingkah?”

“Tidak.”

“Kau membuatnya untuk seseorang?”

“Ya! Jangan suka menebak seenaknya!”

Sehun berdecak, memandang hyungnya dengan senyum mengejek. “Pikiranmu sangat mudah dibaca, hyung.”

Baekhyun menunduk, memperhatikan buket mawar hasil karyanya.

“Aku ingin memberikan padanya.”

“Sudah ku duga.” Sahut Sehun. “Bagaimana dengan Chanyeol hyung?”

.

-xoxo-

.

Dia berbaring seorang diri. Merasakan setiap detik berjalan begitu lambat. Bola matanya menelusuri tiap sudut ruang yang ia sebut sebagai kamar.

Masalalu kini membayang dalam ingatannya. Menyisakan serpihan-serpihan lara yang tak pernah ia duga sebelumnya. Dia bersalah, tentu saja. Namun mengapa hatinya kini berkhianat bahkan pada titik dimana dia seharusnya bersikap tegar?

Baekhyun mendengus, menertawakan takdir yang seakan mencoba bermain-main dengan hidupnya. Ia pikir ini karma. Balasan dari apa yang pernah ia lakukan pada seorang yeoja di masa lalu. Seperti inikah perasaan patah hati? Lantas, sesakit inikah rasa yang harus yeoja itu tanggung selepas ia mencampakkannya dulu?

Baekhyun kini mengerti. Cinta tak pernah mudah jika hati ikut berperan. Ia menyesali perbuatannya di masalalu. Namun, ketika datang kesempatan untuk memperbaiki, ia kembali dihadapkan pada kenyataan sulit yang lain.

Tiba-tiba dia teringat percakapannya dengan Sehun beberapa hari yang lalu. Baekhyun dengan lantangnya mengatakan ia akan merelakan masalalunya bersama Chanyeol. Saat itu dia memang tulus, benar-benar tulus. Tapi sekali lagi hati Baekhyun berkhianat. Dalam lubuk hatinya masih tersimpan keegoisan. Ya, Baekhyun yakin itu adalah sebuah keegoisan ketika ia memantapkan hati untuk mengibarkan bendera perang. Ia akan bersaing, walau dengan sahabatnya sekalipun.

.

.

.

-TBC-

Iklan

19 thoughts on “Edelweis (Chapter 6)

  1. bintang dwi ananda berkata:

    akkk bnyk sekai momentnya!!! aigooo uri sehunnie pinter bgt nebak deh kkkkk~~~~ nexttt!!!!!! pnsrn.sm.kainyaaaa:’)))))

  2. indahtentiana berkata:

    edelweis edelweis edelweis . ini adalah ff freelance yg paling aku tunggu di koreadansaya ini !!!!! akhirnya dipoaat juga . haduduh itu baekhyun mau ngibarin bendera peperangan tuh ceritanya sama chanyeol . maunya sih jangan. digituin . tapi kalo gaada konfliknya gak seru juga sih . tapi jangan nistakan baekhyun jebaaaal . kita kan sama2 baekhyun shipper ^^ /digamparauthor.
    next chap ditunggu chinguuuuuuu :*

  3. ParkJudit berkata:

    Huah~~ Jadi, Baekhyun mau nyaingin Chanyeol? Lah, berarti bakal terjadi kindlik setelah ini! Huah~~ >\\\\\\:(

    Yeejin! Kalo BaekYeol gua berantem gegara elu! Awas lu ya, gua jejelin pake golok ntar! 😡

    Hehe, sorry thor emosian. Abis gua kesel ama Yeejin! 😡 BTW next thor! Jan lama2! Ni ff Jjang bener! (y) Keep Writing Author! :*

  4. ParkJudit berkata:

    Kindlik itu mksd ny konflik. 😀
    Gua benci super duper benci ama yg namanya KIM YEEJIN dunia akherat! Gua kagak suka ama ntu cewek! YEEJIN! I’ll Kill you! 😡

    Sorry emosian

  5. Suharnila berkata:

    Ahhhh..seru thor,,yejin buat baekhyun ja ya.
    Sayang bnget low smpek persahabatan mereka pecah karna cinta.
    Next ya thor,,jngan lma2 n panjangin dong …..

  6. In Soo berkata:

    huuuueeee,,, makin bertmbah chapternya smakin sedih critanya,, jongin-ah jgan menangis ne,, aku ada untuk mu #pppllllaaakkk

    aku jadi ngrti skarang,,, sbnrnya baekhyun tidak pernah trgantikan d hatinya,,, hehehehe

    d tunggu chaper slanjutnya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s