Angel and Devil Part 1

Poster Angel and Devil

Title                 : Angel and Devil

Author             : Magnae Yehet

Main Cast        : Kai, Luhan and other EXO

Genre              : Brothership, Fantasy, Comedy (maybe)

Rating                         : T

Lenght             : Chaptered

Readers!!! Ini FF pertamaku lho? Jadi mohon reviewnya ne? Selain itu maklumi saja kalau nanti ada yang typo. Memang manusia tidak luput dari kesalahan. Oya, cerita ini Magnae Yehet itu terinspirasi sama cerita anime “Hell Girl”, “Naruto”, “Mirai Nikki” dan juga “MV MAMA”.

^^Happy Reading^^

 

Kegelapan yang saat ini tengah menyelimuti suasana malam yang kelam. Ditambah dengan suara-suara dari beberapa ekor burung gagak yang bertengger menghiasi suasana malam yang kelam dan mencekam itu.

Di suatu tempat terdengarlah suara bising dari pedang yang saling beradu. Perang? Ya. Di tempat itu sedang terjadi perang atau lebih tepatnya penyerangan. Karena disana sang kubu jahat tengah bertarung dengan 3 orang di rumah itu. Suara bising pedang itu pun menambah suasana menakutkan malam itu. Semua orang pun pasti tidak menginginkan perang. Karena hanya akan membawa penderitaan nantinya.

Perang yang berlandaskan ingin membunuh salah seorang diantara mereka karena ia dianggap sebagai malapetaka di masa depan. Artemis. Ya, nama dari kubu jahat itu adalah Artemis.

“Berikan putra manis kalian itu. Cepat!” ucap salah satu dari mereka

“Tidak akan kubiarkan kau mengambil putraku. Jika kalian berani lawan aku.” Ucap pria paruh baya yang diyakini sebagai ayah dari Luhan. Sang Manusia setengah Malaikat dari Surga.

“Cepat pergi Luhan. Selamatkan dirimu sekarang. Biar appa dan eommamu yang akan menghadang mereka. Cepat lari!” teriak appa Luhan

“Cepat pergi dari sini Luhan! Lari!” teriak dari seorang wanita paruh baya kepada namja manis berusia 22 tahun yang ternyata adalah ibunya.

“Ta-tapi eomma dan appa…”

Belum selesai ia merangkai kata-kata dari mulutnya, ibunya itu langsung memotongnya.

“Cepat pergi! Larilah nak! Eomma dan appa akan melindungimu dari penyerangan ini. Kau tahu? Target mereka adalah kau. Karena kau dianggap akan membawa masalah bagi rencana jahat mereka.”

“Aniyo. Aku tidak akan pergi tanpa eomma dan appa. Meskipun aku akan mati nantinya. Aku tidak peduli.”

“Luhan! Jangan bodoh. Cepat pergi nak. Selamatkan dirimu. Kau harus selamat apapun yang terjadi. Hanya kau bersama dengan ke-11 saudaramu yang lain yang bisa menghentikan mereka. Kau mempunyai kekuatan yang sangat besar.”

“Aniyo eomma! Shireo! Aku tidak mau meninggalkanmu dan appa.” Ucap Luhan dengan berderai air mata karena merasa kebahagiaannya akan hilang sebentar lagi. Ya. Kedua orang tuanya adalah sumber kebahagiannya.

Sang ibu pun langsung menghela nafas panjang. Mencoba bersabar menghadapi keteguhan putranya. Lalu ia pun menangkupkan wajah Luhan dengan kedua tangannya. Mencoba melihat kedua iris yang berbeda warna yaitu hijau dan biru milik putranya sambil menggenang air mata.

“Luhan, dengarkan ibu nak. Apa kau ingin melihat eomma dan appa bahagia?”

Luhan pun hanya mengangguk sebagai pernyataan setujunya.

“Kalau begitu, kau segera pergi dari sini. Lindungi dirimu dan segera cari sepupumu Jongin. Jangan khawatirkan kami ne? Jika kami mati pun, kami tidak akan langsung mati. Melainkan langsung berubah menjadi malaikat dan tinggal di surga.”

“Mwo? Apa yang eomma bicarakan? Bukankah eomma dan appa adalah manusia? Kenapa berubah menjadi malaikat? Dan kenapa aku harus mencari Jongin?”

“Kau tidak perlu tahu sekarang nak. Waktu yang akan menjelaskannya padamu nanti jika waktunya sudah tepat. Sekarang pergilah. Percayakan yang disini kepada appa dan eommamu ne? Dan berjanjilah kalau kau akan hidup bahagia nantinya bersama ke-11 saudaramu yang lain.”

“Dan lagi, ambilah buku ini. Dengan begitu, kau akan mendapatkan petunjuk tentang ke-11 saudaramu yang lain. Sekarang pergilah.”

“Baik eomma. Aku akan merindukan eomma dan appa.”

Luhan pun langsung berlari meninggalkan eomma dan appanya. Mencoba percaya kepada eomma dan appanya. Luhan terus berlari mencari tempat yang aman. Hanya dengan membawa diri sendiri dan buku sebagai pedomannya.

“Haah…haah…haah. Melelahkan sekali.”

Ucapnya sambil sesekali menyeka keringat yang mengucur deras dari keningnya dengan punggung tangannya.

“Aku lelah sekali. Kurasa aku akan istirahat terlebih dahulu.”

Luhan pun duduk sambil bersandar pada sebuah pohon. Mencoba menstabilkan nafasnya yang terengah-engah karena terus berlari. Dengan memeluk buku pemberian eommanya, Luhan pun tertidur disana.

Ditemani dengan suasana malam yang sunyi dan tenang. Ya. Biarkan untuk kali ini saja. Biarkan namja manis itu merasa tenang dalam tidur dan mimpi indahnya.

.

.

.

\(^_^)/

.

.

.

Di lain tempat.

Di tempat ini pun sama. Terjadi penyerangan yang dilakukan oleh Artemis. Hanya untuk membunuh salah seorang dari 3 orang itu. Karena ia akan menjadi masalah besar nantinya.

“Berikan bocah itu padaku. Maka, kalian akan kubiarkan hidup.”

“Kalau kau berani, lewati aku terlebih dahulu. Baru kau bisa mengambilnya.” Ucap pria paruh baya yang diketahui adalah ayah dari Jongin. Sang Manusia setengah Iblis dari Neraka.

Penolakan itu membuat para Artemis ini geram. Ia pun mulai mengayunkan senjata tajam mereka. Dan terjadilah pertarungan hebat disana.

Sementara Jongin bersama ibunya hanya saling memeluk satu sama lain sambil berderai air mata.

“Jongin. Kau harus pergi nak. Percayakan yang terjadi disini kepada eomma dan appamu.” Ucap ibunya dengan suara yang parau

“Aniyo! Shireo! Aku tidak mau meninggalkan kalian. Bahkan jika harus mati sekalipun. Aku tidak peduli lagi. Aku hanya ingin bersama dengan kalian eomma, appa.” Ucap Jongin sambil terisak

“Jangan bodoh kau Kim Jong In!” bentak ibunya

“Dengarkan eomma.” Ucap ibunya dengan nada rendahnya sambil menangkupkan wajahnya mencoba melihat kedua iris Kai yang berwarna merah dan biru.

“Kau ingin appa dan eomma bahagia?”

Jongin pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia menyetujui perkataan ibunya.

“Kalau begitu pergilah nak. Dan segera cari sepupumu Luhan. Ketika bersamanya kau bisa bertemu dengan ke-11 saudaramu yang lain. Ingatlah bahwa kau adalah seorang Teleporter. Teleporter yang merupakan kunci dari 12 Penyelamat yang berasal dari Pohon Kehidupan bersama dengan sang Telekinesis.”

Kai pun mengambil foto yang diberikan eommanya. Kai melihat sebuah gambar dimana terdapat namja manis dengan iris yang berbeda warna juga (hijau dan biru) seperti miliknya tengah terenyum manis.

“Eomma? Matanya? Apakah ia adalah manusia setengah malaikat?”

“Ne. Namanya adalah Luhan dan juga ia adalah saudara sepupumu Jongin.”

“Eh? Saudara sepupuku? Bagaimana bisa?”

“Ne. Karena appanya Luhan adalah kakak dari appamu.”

“Bagaimana bisa malaikat dan iblis bersaudara?”

“Tentu bisa karena tergantung dari appa dan eomma milik appamu dan appanya Luhan.”

“Maksud eomma adalah harabeoji dan halmeoni?”

“Ne. Harabeoji mu adalah iblis sementara halmeoni mu adalah malaikat.”

“Begitu.”

“Jongin. Cepat pergi dari sini. Kau harus menemukan sepupumu Luhan.”

“Jika aku dan Luhan hyung bersatu maka?”

“Ne. Maka dari itu, kau harus bersatu dengannya. Dengan menggabungkan kekuatan penghuni atas malaikat dan penghuni bawah iblis, kalian bisa membuat perdamaian. Kalian berdua adalah kunci dari semua ini. Bisakah kau pergi untuk mencarinya dan mempercayakan kami yang terjadi disini?”

“Ba-baiklah eomma. Aku berjanji, aku akan membuat dunia ini meraih kedamian.”

“Kalau begitu, cepatlah pergi dengan menggunakan Teleportasimu.”

“Baik.”

WHUUSSSHH

Jongin pun menghilang dengan menggunakan teleportasinya. Menyisakan sekumpulan asap tipis dan senyuman bahagia milik ibunya.

BRUK

Jongin pun terjatuh di dekat sebuah pohon besar yang merupakan tempat peristirahatan Luhan. Disana sangat minim dengan penerangan jadi secara otomatis Jongin tidak bisa melihat dengan jelas. Digenggamnya terus foto itu sambil berjalan mendekati pohon besar itu.

“Kurasa, aku bisa beristirahat disini.”

Jongin pun langsung duduk sambil bersandar di pohon itu. Sambil digenggam eratnya foto yang diberikan oleh eommanya itu. Sampai akhirnya ia terlelap tidur dengan ditemani Luhan di sisi lainnya.

.

.

.

\(^_^)/

.

.

.

Pagi harinya.

Jongin dan Luhan pun sama-sama terbangun. Terbangun karena merasakan udara sejuk pagi hari ini. Akhirnya kedua orang ini pun meregangkan otot-ototnya yang kaku itu. Kemudian sama mengerjabkan lucu kedua kelopak matanya.

Keduanya pun berdiri berusaha untuk melanjutkan perjalanan untuk mencari ke-11 saudaranya yang lain.

Luhan pun berinisiatif berjalan ke arah kiri sementara Jongin ke arah kanan. Sampai akhirnya keduanya saling bertemu. Iris merah-biru milik Jongin bertemu dengan iris hijau-biru milik Luhan. Keduanya pun hanya menatap bingung satu sama lain. Mereka terus berada dalam posisi itu selama 1 jam lebih. Sampai akhirnya…

“KAU?!” teriak keduanya

“Apa benar kau Luhan hyung?” tanya Kai

“Eh? Jongin? Ini benar kau Jongin? Ah! Saudara sepupuku. Akhirnya aku bertemu denganmu.” Ucap Luhan

“Ne hyung. Lama kita tidak bertemu.”

Luhan dan Jongin pun langsung berpelukan. Berusaha melepas rindu karena mereka sudah lama tidak berjumpa. Setelah itu mereka melepaskan kembali pelukan mereka.

“Kau manusia setengah iblis Jongin? Terlihat dari warna matamu.” Ucap Luhan

“Ne. Kau benar. Lalu kau manusia setengah malaikat bukan hyung?”

“Mwo? Apa kau bilang? Manusia setengah malaikat? Tidak mungkin. Aku ini manusia asli Jongin.”

“Hm? Lalu kenapa warna matamu berbeda begitu? Hijau dan biru. Warna hijau itu melambangkan malaikat sementara biru itu melambangkan manusia. Jadi bisa disimpulkan kalau kau itu manusia setengah malaikat.”

“Ah! Aku tidak peduli. Tetapi bagaimana kau bisa ada disini?”

“Itu sebenarnya tadi malam aku bersama keluargaku diserang oleh Artemis hyung. Para Artemis itu bermaksud ingin membunuhku karena dianggap akan membawa bencana besar bagi Artemis. Lalu kau? Bagimana bisa kau ada disini?”

“Mwo? Jadi semalam kau diserang Artemis Jongin-ah?”

“Ne. Waeyo?”

“Semalam aku bersama keluargaku juga diserang oleh Artemis. Mereka juga bermaksud ingin membunuhku dengan alasan yang sama denganmu. Apa mungkin kau adalah?”

“Ne. Aku sang Teleporter sekaligus si Manusia setengah Iblis. Lalu kau? Biar kutebak. Pasti kau adalah sang Telekinesis sekaligus si Manusia setengah Malaikat kan hyung?”

“Ne. Aku memang sang Telekinesis. Tetapi kenapa kau selalu menyebutku Manusia setengah Malaikat?”

“Tentu saja. Karena warna matamu mengatakan itu padaku.”

“Hm. Begitu. Lalu, bisa kau beri tahu alasannya kenapa kau selalu menyebutku sebagai Manusia setengah Malaikat?”

“Tentu saja hyung. Begini, appaku adalah seorang Iblis murni sementara eommaku adalah manusia. Warna mata appaku berwarna merah karena merah adalah lambang dari kaum Iblis. Begitu pun juga dirimu hyung. Pasti salah satu dari appa atau eommamu pasti ada yang matanya berwarna hijau kan?”

“Ehm. Coba aku ingat-ingat. Wah! Benar juga kau Jongin. Warna kedua mata appaku berwarna hijau. Apa itu disebut sebagai keturunan Malaikat murni?”

“Tentu saja. Lalu eommamu hyung?”

“Dia manusia. Karena warna kedua mata eommaku biru.”

“Hm. Begitu. Lalu, tugas kita apa saja hyung?”

“Tugas? Tentu saja mencari 10 orang yang lain lalu mengalahkan Artemis dan akhirnya mengibarkan bendera kedamaian. Ini aku ada buku profil mereka. Bukan foto tapi cuman kepribadian dan ciri-cirinya saja yang tertulis beserta dengan nama mereka.”

“Oe? Bagaimana bisa begitu? Menyebalkan.”

“Yah. Mau bagaimana lagi.”

Luhan pun membuka buku itu terlihat di salah satu halaman terdapat sebuah tulisan dan terdapat simbol menyerupai segitiga dengan gambar lingkaran di tengahnya mengenai

‘sang Penguasa Dimensi sekaligus Manusia setengah Iblis telah muncul. Ia terlihat memiliki kulit tan dan pastinya memiliki kedua mata yang berwarna merah dan biru. Ia sangat mudah terbawa emosi tetapi selalu bisa merubah emosi dan selalu memikirkan orang lain. Ia juga sangat dekat dengan Penguasa Pikiran dikarenakan Penguasa Pikiran adalah saudaranya. Ia akan sangat melindungi Penguasa Pikiran dari hal-hal yang berbau kejahatan atau lebih tepatnya overprotectiv kepada Penguasa Pikiran. Ia bernama Kim Jong In.’

Jongin pun sempat membaca itu.

“Oe? Ini tentang aku hyung?” tanya Jongin

“Ne. Begitulah. Lalu di halaman sebelahnya adalah milikku.”

Di halaman sebelahnya terdapat sebuah tulisan dan juga gambar simbol Telekinesis.

‘sang Penguasa Pikiran sekaligus Manusia setengah Malaikat telah muncul. Ia memiliki mata yang cantik seperti rusa dan pastinya memiliki kedua mata yang berwarna hijau dan biru. Ia sangat ramah namun saat dia marah, ia bisa saja menghancurkan dunia hanya dengan pikirannya. Ia sangat dipuja banyak gadis. Dan juga memiliki jiwa kepolosan seperti bayi yang baru saja lahir di dunia. Ia bernama Xi Lu Han.’

“Ini milikmu hyung?”

“Ne. Lalu kau bacalah yang ada di bawah. Ini.” Ucap Luhan sambil menunjuk pada bagian bawah

‘Dengan bersatunya Penghuni Atas dan Penghuni Bawah, maka dunia yang tengah menjerit menderita ini akan meraih kedamaian.’

“Penghuni Atas?” tanya Jongin

“Penghuni Bawah?” tanya Luhan

“Kurasa Penghuni Atas yang dimaksud adalah kau hyung. Bukankah kau ini manusia setengah malaikat? Dan malaikat merupakan Penghuni Atas bukan?”

“Ne. Kau benar Jongin. Lalu Penghuni Bawah yang dimaksud mungkin adalah kau Jongin-ah. Bukankah kau adalah manusia setengah iblis? Dan iblis adalah Penghuni Bawah bukan?”

“Ne. Kau benar hyung. Lalu, selanjutnya kita akan mencari siapa?”

“Nan molla. Kita tunggu saja petunjuk dari halaman selanjutnya. Kau sekolah tidak?”

“Eoh? Benar juga. Bagaimana ini hyung? Seragamku pasti sudah hancur semua.”

“Tenang saja.”

Luhan pun mulai konsentrasi menggunakan kekuatan Telekinesisnya. Cukup lama Luhan terdiam sambil memikirkan apa yang diinginkan. Akhirnya baju Jongin dan Luhan yang semula hanya setelan t-shirt dan jeans langsung berubah menjadi seragam blazer milik Jongin dan Luhan yang dulu dan juga tak lupa dengan tas yang dipenuhi dengan semua buku miliknya.

“Whoa! Hyung kau menakjubkan. Gomawo hyung. Lalu kau sendiri tidak sekolah?” ucap Kai

“Ne. Sekolah? Tentu saja. Lihat saja pakaianku sekarang.”

“Whoa! Sejak kapan kau sudah merubah pakaianmu hyung?”

“Tentu saja bersamaan dengan seragammu tadi. Sudah. Ayo kita berangkat.”

“Eitsss. Tunggu dulu hyung.” Ucap Jongin sambil mencekal tangan Luhan

“Mwo?”

“Kita teleportasi saja. Kajja.”

Luhan dan Jongin pun menghilang dan langsung sampai di sebuah gang sepi dekat sekolah Luhan dan Jongin. Luhan dan Jongin pun sebenarnya satu sekolah sama dengan 10 orang lainnya. Hanya saja mereka belum menemukan jati diri mereka masing-masing yang sebenarnya sebagai ke-12 legenda.

“Nah! Sudah sampai hyung. Eh? Kau punya nomor handphone hyung?”

“Eh? Nomor handphone? Tenang saja, aku sudah menuliskan nomor handphoneku di handphonemu. Dan di handphoneku juga sudah ada nomor handphonemu Jongin-ah.”

“Eh? Sejak kapan kau-”

Belum selesai Jongin bicara sudah langsung dipotong oleh Luhan.

“Tadi. Saat kita merubah pakaian kita. Sudahlah. Ayo masuk. Nanti istirahat, kau ke kantin. Nanti akan ku temui kau disana sambil mencari orang selanjutnya.”

“Oe? Ne hyung. Kajja.”

Jongin dan Luhan pun berjalan beriringan memasuki sekolah mereka. SMU Seoul. Luhan yang merupakan siswa tingkat ke-3 langsung berlari menuju kelasnya meninggalkan Jongin yang sudah terlebih dahulu memasuki kelasnya. Jongin adalah siswa tingkat pertama. Jadi bisa dipastikan bahwa ia adalah hoobae Luhan sekaligus adik sepupu Luhan.

.

.

.

\(^_^)/

.

.

.

Di kantin.

Jongin pun duduk di salah satu kursi di kantin itu. Melihat aktifitas apa saja yang dilakukan para murid SMU Seoul di kantin itu sambil menunggu kedatangan Luhan.

“Wa! Luhan hyung!” panggil Jongin sambil melambaikan tangannya

“Eoh? Jongin-ah!” ucap Luhan sambil melambaikan tangannya dan berjalan menuju tempat yang di duduki Jongin sambil membawa buku yang bertuliskan EXO di halaman depannya.

“Kenapa kau lama sekali eoh? Luhan hyung?”

“Mianhae. Tadi itu pelajarannya Park Sonsaengnim jadi sudah dipastikan harus disiplin dan harus tepat pada waktunya istirahat.”

“Ya! Ya! Ya! Kalau begitu, buka halaman selanjutnya hyung.”

“Ne. Tunggu sebentar.”

Luhan membuka buku tersebut. Dilihatnya halaman yang menceritakan tentang dirinya dan Jongin. Kemudian Luhan membuka halaman selanjutnya. Disana tertulis sebuah kalimat dan sebuah gambar yang merupakan simbol dari Earth.

‘sang Penguasa Bumi telah muncul. Ia memiliki mata yang bulat dan mempunyai bagian putih yang sangat luas. Ia memiliki tubuh yang kecil. Lebih muda dari Penghuni Atas dan lebih tua dari Penghuni Bawah. Ia bernama Do Kyung Soo.’

“Mwo? Apa benar itu petunjuknya hyung?”

“Tentu saja. Tapi rasanya sedikit aneh. Benar bukan?”

“Ne. Kau benar hyung. Sebentar, di tulisan itu tertulis jika si Penguasa Bumi itu memiliki tubuh yang kecil? Pastinya tidak akan sekuat aku kalau begitu.”

“Ya! Jongin! Kau jangan pernah meremehkan kekuatan Penguasa Bumi. Biarpun tubuhnya kecil tapi ia bisa membuatmu hancur seketika hanya dengan satu pukulannya. Dan yang lebih parah lagi, jika ia marah ia bisa membuat gempa di seluruh Korea.”

“Whoa! Apakah semengerikan itu hyung?”

“Tentu saja.”

“Hyung halaman selanjutnya sudah ada tulisannya dan ada simbol Scorpion disini.”

“Wa! Kau benar.”

‘sang Penguasa Petir telah muncul. Ia memiliki suara yang sangat keras seperti petir. Ia sepantaran dengan sang Penguasa Bumi. Ia memiliki hati yang teguh dan tidak mudah mengubah pendiriannya. Ia bernama Kim Jong Dae.’

Luhan dan Jongin pun memikirkan seseorang yang bernama Do Kyung Soo dan Kim Jong Dae. Apakah ada seseorang di sekolah mereka yang bernama seperti mereka berdua? Seketika mereka langsung membulatkan kedua mata mereka.

“Jongin-ah? Bukankah teman sekelasmu ada yang bernama Do Kyung Soo?”

“Ne. Kau benar hyung. Biar Do Kyung Soo aku yang urus lalu Kim Jong Dae hyung?”

“Tenang saja. Dia satu klub vokal bersamaku Jongin. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kau percayakan Kim Jong Dae padaku.”

“Oh! Begitu. Kalau begitu, kita bergerak sekarang hyung. Nanti kita bertemu lagi disini.”

“Baiklah.”

.

.

.

\(^_^)/

.

.

.

Di kelas Jongin.

Jongin pun melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Mencoba mengurangi sedikit waktu untuk segera menemui seseorang yang bernama Do Kyung Soo. Akhirnya Jongin pun sampai di depan kelasnya.

“Hey! Disini ada yang bernama Do Kyung Soo?” tanya Jongin kepada seluruh penghuni di kelas itu

“Ne. Itu aku.” Ucap salah seorang namja yang memiliki perawakan tubuh lebih kecil dari Jongin dan memiliki mata bulat.

“Eoh? Ne. Bisakah kau ikut aku sebentar?”

“Hm? Baiklah.”

D.O pun melangkahkan kakinya keluar kelas menuju Jongin yang sedang berdiri di depan kelas. Lalu setelah sampai di depan Jongin, ia langsung menggandeng tangan D.O dan menariknya ke kantin.

“Hey! Kita mau kemana?”

“Kita ke kantin. Lebih baik ku panggil kau D.O atau Dio atau Kyungsoo?”

“Hm? Kyungsoo saja. Lalu kau sendiri?”

“Baiklah. Aku Jongin. Kim Jong In. Panggil saja Jongin.”

“Oh! Baiklah.”

Setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara mereka berdua. Hanya suara dari sepatu mereka yang terdengar.

.

.

.

\(^_^)/

.

.

.

Di Ruangan Latihan Klub Vokal.

Luhan pun sudah sampai di depan ruangan latihan klub vokal. Ia hanya berdiri sambil melihat tulisan yang terpampang begitu jelas jika ini adalah ruangan latihan klub vokal.

Cklek! Krieet!

Luhan pun membuka pintu tersebut dan tampaklah disana hanya ada satu orang namja yang sedang bernyanyi dengan menggunakan piano. Suaranya yang begitu merdu dan keras sekeras petir pun mendominasi ruangan ini.

Luhan tersenyum menikmati alunan lagu ini. Tampak sangat bangga dengan hoobaenya tersebut. Ya. Ia adalah Kim Jong Dae yang merupakan hoobae Luhan karena ia saat ini merupakan siswa tingkat kedua.

“Jongdae?” panggil Luhan

“Eoh? Luhan hyung. Ada apa hyung?” tanya Jongdae

“Bisakah kau ikut aku sebentar?”

“Eh? Kemana hyung?”

“Ke kantin. Kajja.”

“Eoh? Ne.”

Jongdae pun perlahan berjalan mendekati Luhan yang berada di dekat pintu. Lalu setelah keluar, Luhan langsung menggandeng tangan Jongdae dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya tetap memegang buku itu. Luhan membawa Jongdae lari ke kantin.

“Hyung? Kenapa kita berlari? Apakah ada yang mengejar kita?” tanya Jongdae

“Tidak. Hanya saja aku sedang ada janji dengan dongsaengku di kantin maka dari itu kita harus cepat Jongdae-ya.”

“Oe? Tapi kenapa harus bersamaku?”

“Karena ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Tunggu saja dan dengarkan apa yang aku dan dongsaengku bicarakan nanti.”

“Hm. Baiklah hyung. Tapi nama dongsaengmu siapa hyung?”

“Kim Jong In. Ia siswa tingkat pertama.”

“Oh! Begi-”

“Jangan banyak bicara dulu. Nanti saja untuk pertanyaannya.”

“Hm. Baiklah hyung.”

Sepanjang perjalanan Luhan dan Jongdae pun tidak ada lagi yang mengeluarkan suara. Hanya suara decitan sepatu mereka yang beradu bersama petak lantai yang terdengar.

.

.

.

\(^_^)/

.

.

.

Di kantin.

Jongin dan Kyungsoo pun sudah sampai di tempat Jongin dan Luhan tadi. Tapi Jongin pun hanya mendengus kesal karena ia harus menunggu lagi kedatangan hyungnya bersama seseorang bernama Kim Jong Dae.

“Jongin?” panggil Kyungsoo

“Hm?”

“Apa yang kita lakukan disini?”

“Tunggu saja. Nanti akan kuceritakan bersama dengan hyungku.”

“Hyungmu? Jadi kau ada janji untuk bertemu dengan hyungmu? Disini?”

“Hm.”

“Kenapa harus bersamaku?”

“Diam. Nanti saja pertanyaannya.”

“Hm? Baiklah. Tapi siapa nama hyungmu?”

“Luhan. Luhan hyung. Itu namanya. Ia siswa tingkat akhir.”

“Oe? Luhan hyung? Yang mempunyai wajah tampan sekaligus cantik itu? Yang mempunyai warna mata yang berbeda yaitu hijau dan biru itu?”

“Ne.”

“Oh! Lalu kenapa warna matamu sedikit berbeda dengan hyungmu itu?”

“Itu karena dia bukan hyung kandungku. Tetapi ia adalah saudara sepupuku.”

“Oh! Lalu kau tinggal dengan siapa sekarang?”

“Dengan Luhan hyung. Karena ia adalah keluargaku satu-satunya sekarang.”

“Satu-satunya? Bukankah kau masih punya orang tua?”

“Tidak. Aku sudah tidak punya orang tua. Semalam kedua orang tuaku dan orang tua Luhan hyung dibunuh. Mereka mengorbankan nyawa mereka demi aku dan Luhan hyung.”

“Oe? Dibunuh? Mianhaeyo Jongin. Aku tidak bermaksud.”

“Ne. Tidak apa-apa. Maka dari itu, aku sedikit khawatir dan menjadi overprotectif padanya karena aku tidak mau kehilangan orang yang paling kusayangi apalagi jika itu adalah keluargaku sendiri. Aku tidak mau. Karena itu aku akan melakukan apapun untuk melindungi Luhan hyung.”

“Ne.”

Setelah itu Jongin dan Kyungsoo pun terdiam. Tidak ada yang berbicara satu kata pun. Mereka hanya menunggu kedatangan Luhan.

“Jongin!” panggil Luhan sambil melambaikan tangannya

“Luhan hyung!” ucap Jongin yang juga melambaikan tangannya

Luhan dan Jongdae datang menghampiri Jongin dan Kyungsoo.

“Kenapa kau lama sekali eoh? Apa kau bertemu dengan Park Sonsaengnim lagi?” cerca Jongin

“Ya! Kenapa kau memarahiku? Kau tahu? Aku harus mencari Jongdae di ruang latihan klub vokal. Apa kau tahu seberapa jauhnya ruangan itu dengan kantin?”

“Lalu mana orang yang bernama Kim Jong Dae itu hyung?”

“Apa kau tidak melihatnya eoh? Ia ada disampingku. Dan juga panggil dia hyung Jongin. Ia siswa tingkat kedua.”

Jongin pun menolehkan ke sebelah Luhan dan terlihat namja bernama Kim Jong Dae yang tersenyum manis melihat pertengkaran Luhan dan Jongin.

“Oe? Jongdae hyung?” tanya Kyungsoo

“Wah! Ada Kyungsoo.” Teriak Jongdae sambil memeluk Kyungsoo

Sementara Luhan dan Kai pun hanya bisa menutup telinga mereka. Supaya bisa aman dari teriakan Jongdae yang berbahaya itu.

“Ya! Jongdae hyung! Tidak bisakah kau kecilkan sedikit volume suaramu? Bisa-bisa nanti aku kehilangan pendengaranku.” Ucap Jongin sambil menggosok-gosok telinganya

“Hehehe. Mianhaeyo ne Jongin-ah?”

“Jadi apa yang akan kalian bicarakan Jongin? Luhan hyung?” tanya Kyungsoo yang akhirnya membuat Luhan, Jongin dan Jongdae menatap Kyungsoo.

“Eoh? Ne hyung. Kyungsoo benar.” Ucap Jongdae

“Kalian berdua saudara sepupu bukan?” tanya Luhan

“Eoh? Bagaimana kau tahu hyung?” tanya Kyungsoo

“Nanti saja penjelasannya. Jongin-ah? Kurasa kau yang melanjutkan.”

“Baiklah hyung. Jadi Kyungsoo, apa kau memiliki tanda seperti semut atau apalah itu di sekitar tanganmu?”

“Eh? Bagaimana kau tahu?”

“Lalu Jongdae hyung, apa kau memiliki tanda seperti kalajengking?”

“Eh? Ne. Aku punya. Lalu kenapa?”

“Luhan hyung. Bagianmu.”

“Baiklah. Akan kubuka buku yang dari tadi kubawa.”

Luhan pun membuka buku tersebut dan terlihatlah ada halaman yang menceritakan tentang Luhan dan Kai. Luhan menunjuk pada simbol segitiga yang mana merupakan milik Jongin.

“Simbol segitiga ini adalah milik Jongin yang disebut Teleportasi sementara yang satunya ini adalah simbol milikku yang disebut Telekinesis.”

Luhan pun membuka halaman selanjutnya. Halaman yang menceritakan Kyungsoo dan Jongdae.

“Lalu simbol seperti semut ini adalah milikmu bukan Kyungsoo?” tanya Luhan

“Ne hyung.”

“Lalu simbol kalajengking ini adalah milikmu kan Jongdae-yah?”

“Ne hyung. Tetapi maksudnya apa?”

“Kalau begitu, kalian pegang dulu buku ini. Baca dari halaman yang menceritakanku dengan Jongin lalu baca milik kalian sendiri.”

Jongdae dan Kyungsoo pun membaca halaman Jongin dan Luhan. Lalu setelah itu halaman Kyungsoo dan Jongdae. Setelah membaca kedua halaman itu, seketika kedua mata Kyungsoo dan Jongdae terbelalak kaget.

Kemudian Jongdae dan Kyungsoo menutup buku itu lalu menyerahkannya kepada Luhan. Luhan dan Jongin yang menerimanya hanya tersenyum manis.

“Jadi kalian berdua adalah?” tanya Kyungsoo

“Ne. Aku adalah manusia setengah malaikat dan Jongin adalah manusia setengah iblis.” Ucap Luhan

“Lalu aku dan Kyungsoo?” tanya Jongdae

“Ne. Kita berempat adalah ke-12 legenda. Kekuatanku adalah teleportasi yaitu bisa menghilang kemana saja dan dimensi mana saja hanya dalam hitungan beberapa detik selain itu aku juga bisa memanggil dewa neraka. Lalu Luhan hyung kekuatannya adalah telekinesis yaitu ia bisa menggerakkan benda apa saja bahkan seluruh dunia ini hanya dengan pikirannya selain itu ia juga bisa memanggil Dewi Kehidupan dan Dewa Kematian.” Terang Jongin

“Lalu kau Kyungsoo. Kekuatanmu adalah tanah. Jadi kau bisa mengendalikan tanah sesuka hatimu. Sementara kau Jongdae. Kekuatanmu adalah petir.” Jelas Luhan

“Jadi begitu hyung?” tanya Jongdae

“Ne. Waeyo? Tetapi kalian tidak diperbolehkan menggunakan kekuatan ini di depan manusia.” Ucap Luhan

“Waeyo hyung?” tanya Kyungsoo

“Karena jika mereka melihatnya nanti kita dikira orang gila.” Ucap Jongin

“Ya! Jongin! Tidak bisakah kau serius?” ucap Kyungsoo

“Tidak Kyungsoo-ya. Alasan yang sebenarnya kami juga tidak tahu. Tapi alasan yang diucapkan Jongin tadi ada benarnya juga.” Ucap Luhan

“Lalu Jongin-ah? Kalian berdua tinggal dimana?” tanya Jongdae

“Nan molla hyung. Kami berdua sudah tidak punya tempat tinggal. Semalam keluargaku dan keluarga Luhan hyung diserang oleh kelompok Artemis. Bahkan mereka membunuh kedua orang tua kita hyung.”

“Mwo? Apa itu benar Luhannie hyung?” tanya Jongdae

“Ne. Itu semua benar Jongdae-yah. Semuanya sudah hilang. Hanya Jongin yang kupunya saat ini. Ia keluargaku satu-satunya. Aku ingin balas dendam dengan Artemis itu.”

“Kalau begitu, kami juga pasti ikut. Benarkan Jongdae hyung?” tanya Kyungsoo

“Tentu saja. Karena kami ingin membalaskan dendam kedua orang tua kami. Sekaligus mencari keluarga baru bersama kalian. Bolehkah hyung?”

“Tentu saja boleh. Benarkan Jongin-ah?” tanya Luhan

“Ne.”

“Lalu sekarang kalian akan tinggal dimana Luhannie hyung?” tanya Kyungsoo

“Entahlah. Aku pun tak tahu.”

“Kalau begitu tinggal saja dengan kami berdua hyung.” Ucap Kyungsoo

“Kalian berdua? Memangnya orang tua kalian dimana?” tanya Jongin

“Mereka sudah meninggal semua. Mereka dibunuh oleh Artemis juga hyung. Jadi aku tinggal serumah dengan Jongdae hyung.”

“Bagaimana Luhan hyung?” tanya Jongdae

“Baiklah. Kita akan tinggal sementara bersama kalian. Nanti setelah kita punya uang sendiri. Kita akan membeli rumah. Benarkan Jongin-ah?” tanya Luhan

“Ne. Aku setuju saja hyung. Yang penting aku selalu bersamamu. Aku tidak ingin kau meninggalkanku hyung. Kau keluargaku satu-satunya.” Ucap Jongin sambil memeluk Luhan dan membenamkan wajahnya di leher Luhan.

“Ne. Kau juga Jongin-ah. Jangan pernah tinggalkan aku. Kau adalah keluargaku satu-satunya sekarang.” Ucap Luhan sambil mengelus-elus puncak kepala Jongin

“Wah! Luhan hyung. Bel masuk berbunyi. Jongin? Kajja kita masuk ke kelas kita.” Ajak Kyungsoo

“Ne. Kajja. Aku ke kelas dulu ne Luhan hyung?”

“Ne. Kau tidak ke kelas Jongdae?”

“Ne? Oh! Tentu saja hyung. Lalu kau sendiri?”

“Kau lupa jika aku siswa tingkat akhir? Aku sudah hampir ujian kelulusan. Jadi pelajaranku tiap harinya cuma 2 pelajaran. Aku tunggu di halaman depan ne?”

“Chakkaman hyung. Aku minta nomor ponselmu hyung. Bolehkah?”

“Tidak usah.”

“Waeyo?”

“Karena aku sudah memasukkan nomor ponselku dan Jongin ke ponsel Kyungsoo dan kau Jongdae-yah.”

“Eh? Kapan kalian memasukkannya? Perasaan dari tadi kau tidak memegang ponselku ataupun Kyungsoo.”

“Tadi. Waktu kalian membaca buku itu. Aku sudah memasukkannya disana dengan menggunakan kekuatan pikiranku.”

“Whoa! Kau hebat hyung. Kalau begitu, aku ke kelas ne hyung? Kau akan menunggu dimana?”

“Di halaman depan. Sudah masuk kelas sana.”

“Ne. Sampai jumpa hyung.”

Jongdae pun langsung berlari meninggalkan Luhan dan menuju ke kelasnya. Sementara Luhan yang melihatnya pun hanya tersenyum sambil meninggalkan kantin yang telah sepi itu menuju ke halaman depan.

.

.

.

\(^_^)/

.

.

.

Di lain tempat.

Terlihat seorang pria dengan wajah yang tampan nan rupawan tengah duduk di singgasananya. Sambil memperlihatkan seringai yang menakutkan. Dengan kulit putih pucat dan juga otak kriminalnya, ia menyeringai menatap bahwa si Teleporter dan Telekinesis telah menemukan Earth dan Lightning. Ia bernama Kyuhyun. Pemimpin Artemis.

Lalu di sebelahnya terdapat pria yang tak kalah tampan dari Kyuhyun. Memiliki tinggi yang melebih Kyuhyun. Ia bernama Minho. Adik dari Kyuhyun.

“Kyuhyun hyung? Bagaimana? Si Teleport dan Kinesis sudah menemukan Earth dan Lightning.”

“Tenang saja. Jangan terburu-buru Minho. Kita tunggu saja rencana apa yang akan kulakukan nanti.”

“Baiklah hyung. Kau memang hyung yang paling pintar.”

“Tentu saja.”

“Tapi hyung?”

“Tapi apa?”

“Bukankah saat ini kita melawan Penghuni Atas dan Penghuni Bawah? Lalu kita bukankah hanya manusia yang berada di tengah-tengah mereka? Bagaimana kita bisa mengalahkan mereka?”

“Tenang saja. Mereka semua bukan sepenuhnya Penghuni Atas dan Penghuni Bawah. Mereka semua itu adalah manusia sama seperti kita namun mereka dan kita itu mempunyai kelebihan seperti kekuatan ini.”

“Eh? Apa maksudmu hyung?”

“Yang merupakan Penghuni Atas dan Bawah itu hanya dua orang yaitu si Teleport dan Kinesis lalu 10 orang yang lain adalah manusia seperti kita. Jadi kita hanya perlu membunuh mereka berdua. Dengan begitu kesempatan 10 orang yang lain untuk mengibarkan kedamaian akan hilang karena diantara mereka semua si Teleport dan Kinesis adalah yang terbesar kekuatannya.”

“Hm. Jadi begitu hyung.”

“Ne. Kalau begitu, kita tunggu saat mereka bertemu dengan salah satu dari leader mereka. Baru setelah itu kita serang mereka.”

“Wah! Kau pintar hyung.”

“Tentu saja.”

.

.

.

\(^_^)/

.

.

.

SMU Seoul.

Jongin, Kyungsoo dan juga Jongdae berjalan bersama menuju ke halaman depan. Setelah sampai pun kedua mata Jongin langsung mencari sosok Luhan. Hyung kesayangannya sekaligus satu-satunya keluarga yang ia miliki.

“Luhan hyung!” panggil Jongin sambil berlari

“Hey! Jongin-ah! Kyungsoo-ya! Jongdae-ya!”

“Hyung.” Ucap Jongin sambil memeluk Luhan dengan erat berharap sesuatu yang buruk itu tidak akan mengambil hyungnya itu.

“Waeyo Jongin-ah?” tanya Luhan sambil mengelus-elus surai Jongin

“Tak apa. Hanya saja aku rindu dengan hyung.”

Luhan pun hanya memasang senyum manis sementara Jongdae dan Kyungsoo hanya geleng-geleng kepala menyaksikan drama ini.

“Kajja kita pulang Luhan hyung. Jongin-ah.” Ucap Jongdae

“Ne. Kajja.”

Akhirnya ke-4 legenda itu pun pulang ke rumah milik Jongdae dan Kyungsoo yang cukup mewah dan besar itu.

Sesampainya mereka di rumah Jongdae dan Kyungsoo, Jongin langsung menarik Luhan menuju salah satu kamar yang akan ditempati mereka berdua.

PLETAK

Luhan memukul kepala Jongin sementara Jongin pun langsung memasang wajah cemberut karena sudah dipukul kepalanya.

“Ya! Hyung kenapa kau memukulku eoh?”

“Tentu saja karena kau tidak sopan.”

“Tidak sopan kenapa?”

“Kau lupa eoh?”

“Ne. Waeyo?”

“Ya! Jongin! Kenapa kau langsung masuk saja tadi?” tanya Luhan

“Biarin. Aku sudah izin tadi sama Jongdae hyung sewaktu di sekolah. Jadi tidak perlu lagi izin.”

“Tapi itu tidak sopan Jongin.”

“Ne. Lain kali aku akan izin di depan mata hyung.”

“Luhan hyung. Tidak apa. Jongin sudah minta izin padaku tadi. Jadi tak apa.” Ucap Jongdae dan disambut anggukan oleh Kyungsoo

“Maklumi saja ne Jongdae-ya? Kyungsoo-ya? Jongin memang kadang-kadang kekanak-kanakannya kambuh.”

“Dikira aku penyakitan begitu?”

“Eh? Kenapa kau merasa tersindir seperti itu? Bukankah jika kau kekanak-kanakan kau bisa minta apa saja dengan hyungmu?”

“Eh? Benar juga ya? Hehehe.”

“Sudah hyung. Ayo kita makan.”

“Hm. Kajja Jongin-ah.”

.

.

.\(^_^)/

.

.

.

Malam harinya di ruang tamu rumah Jongdae dan Kyungsoo.

“Luhan hyung? Jadi selanjutnya, kita harus mencari siapa?” tanya Jongdae

“Ne hyung. Kita harus mencari siapa?” tanya Kyungsoo

Luhan pun membuka buku tersebut menampilkan halaman Luhan dan Jongin kemudian Luhan pun membalikkan halamannya dan akhirnya menampilkan halaman Jongdae dan Kyungsoo. Lalu Luhan pun membuka halaman selanjutnya. Disana pun sudah terdapat tulisan dan juga gambar water drop.

“Hyung, ada tulisannya.” Ucap Jongin

“Ne. Kau benar Jongin-ah.”

Luhan pun mengangkat buku itu dan dibacanya dengan keras tulisan itu.

‘sang Penguasa Air telah muncul. Ia adalah orang yang sangat tenang dan berjiwa besar karena ia seorang pemimpin. Ia sangat ramah. Ia bisa menjadi orang yang lembut selembut embun di pagi hari dan juga ia bisa menjadi kuat sekuat ombak besar. Ia bernama Kim Joon Myeon.’

“Seperti itu katanya. Tunggu, Kim Joon Myeon. Rasanya aku pernah mendengar nama itu. Tapi dimana?” ucap Luhan

“Mwo? Dimana hyung?” tanya Jongin

“Ah! Ia teman sekelasku Jongin-ah. Tapi dia biasa dipanggil Suho dan juga ia punya hyung meskipun hanya sepupu bernama Kim Min Seok atau Xiumin.”

“Mwo? Teman sekelasmu?” tanya Kyungsoo dan Jongdae

“Ne. Kalau begitu, biar Kim Joon Myeon aku yang urus.”

“Baiklah. Kita lihat halaman sebelahnya.” Ucap Luhan

“Ada tulisan di halaman sebelahnya. Dan juga ada lambang snowflake.” Ucap Kyungsoo

Kyungsoo mengambil buku itu lalu kemudian bergantian ia yang membaca tulisan itu dengan suara yang lantang.

‘sang Penguasa Es telah muncul. Ia adalah orang yang sangat tegar dan juga ia tidak pernah menunjukkan ekspresi sedih kepada semua orang namun jauh di dalam hatinya ia adalah orang yang sangat rapuh serapuh es. Disaat yang lain menangis dan kemudian menunjukkannya pada yang lain, ia tidak. Ia tidak menunjukkan air mata itu namun jauh dilubuk hatinya ia sudah hancur berkeping-keping seperti es yang dihancurkan. Ia bernama Kim Min Seok.’

“Mwo? Jadi mereka berdua adalah sang legenda?” tanya Jongin

“Kalau begitu biar mereka berdua aku yang urus. Lalu halaman selanjutnya Kyungsoo-ya.” ucap Luhan

“Baik. Tapi Jongdae hyung kau yang baca ne?”

“Ne.”

Halaman selanjutnya. Disana terdapat 2 simbol dan juga 2 tulisan yang tentunya berbeda. Simbol pertama yaitu seperti sebuah gambaran cahaya yang bersinar dan yang kedua berbentuk seperti kepala kuda.

“Jongdae hyung? Ini kau yang baca.”

“Ne. Baik Kyungsoo-ya.”

Jongdae pun mengambil buku itu lalu membacanya.

‘sang Penguasa Cahaya telah muncul. Ia adalah orang yang sangat ceria dan selalu membuat orang yang berada di dekatnya merasakan kebahagiaan. Ia mempunyai aura yang sangat cerah secerah cahaya yang terlihat di wajahnya. Ia bernama Byun Baek Hyun.’

“Byun Baek Hyun? Aku rasa aku pernah mendengar nama ini. Tapi dimana ne?” ucap Jongdae

“Bukankah Baekhyun itu temanmu di klub vokal? Dan juga setingkat denganmu Jongdae.” Ucap Luhan

“Wah! Iya hyung. Bagaimana aku bisa lupa? Baiklah. Biar Baekhyun aku yang urus. Lalu tulisan ke-2.”

‘sang Penguasa Kehidupan telah muncul. Ia memiliki kepribadian yang hampir sama dengan Penguasa Es. Hanya saja ia memiliki tambahan jiwa pengorbanan yang sangat besar. Ia akan berani melakukan apapun untuk orang yang dia sayang seperti keluarga bahkan dengan mengorbankan nyawanya ia akan melakukannya demi kebahagiaan orang itu. Ia bernama Zhang Yi Xing.’

“Zhang Yi Xing?” tanya Luhan

“Wah! Aku tahu hyung. Ia setingkat denganmu Luhannie hyung. Ia biasa dipanggil Lay. Ia juga satu klub dance bersamaku.” Ucap Jongin

“Wah! Kebetulan sekali ne?” ucap Kyungsoo

“Ne. Kalau begitu, biar Lay hyung aku yang urus. Kemudian Baekhyun hyung akan diurus oleh Jongdae hyung dan Kyungsoo, lalu Xiumin hyung dan Suho hyung biar Luhannie hyung yang urus. Bagaimana?” tanya Jongin

“Sepertinya tidak buruk. Baiklah. Sudah dipastikan dengan tugas masing-masing. Tapi apa kita bisa menggunakan kekuatan kita?” Ucap Kyungsoo

“Tentu saja bisa. Tapi jangan sekarang. Nanti kita dicurigai lagi kalau pusat gempa itu terjadi disini Kyungsoo.” Ucap Jongin

“Kalau begitu kita harus segera tidur. Supaya besok bangun pagi dan bisa cepat-cepat mencari mereka. Kajja.” Ajak Luhan

“Ah! Luhan hyung ini. Kalau masalah dengan tidur kau pasti bersungguh-sungguh.” Ejek Jongin

“Ya! Kalau tidak tidur bagaimana mau sehat? Sudah aku tidur dulu ne Jongin-ah? Jongdae-ya? Kyungsoo-ya? Jaljayo.” Ucap Luhan yang kemudian berjalan menuju kamarnya dan Jongin

“Ya! Hyung! Tunggu aku.” Ucap Jongin sambil berlari menyusul Luhan

“Kalau begitu kita juga harus tidur. Kajja Kyungsoo-ya.” ajak Jongdae

“Ne hyung.”

Akhirnya mereka berempat pun tidur dengan tenang malam itu di rumah Jongdae dan Kyungsoo.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6 thoughts on “Angel and Devil Part 1

  1. Shin Seul Gi_99HunHan shipper berkata:

    Emg kaihan ffa bza bgun fagi tnfa dibngunin??#ditabok mama#wah ga fgel th tataf”an kaihan ffa?1 jm lg..altemiz it zfa zieh?mkzd’y it mhluk af xo tinggal ditengah”?xlo mnzia ngfain fke fngen ngbunuh kaihan ffa?mzuh 12 legenda kah?bku’y hebaat bgt bza dha nama’y it uda dizenzuz yah?#ditendang zemut#..nemuin 12 lgnda’y jga kya’y mudah bgt#aflg yg lg k0men ini ,mudah bgt tgl bca ajah#dimakan angza*..tf knf milih kai ffa yg jd ibliz,ntal hun ffa jd ibliz jga yah dzni?huaaaa nae namfyeon#laf inguz#…mzh fda kangen yah ma mv ‘mama’..fdhl now uda jman’y moonlight dkk loh..tf ga fa” zieh,.dtnggu next,gmwo to ff’a.cayoo^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s