Flying

fly

| Title: Flying| Cast: Park Shin Jae ,Oh Sehun [EXO]| Genre: Romance, Marriage Life, Sad

|Soundtrack : Can You Feel Me by Melody Day| Scriptwriter: sellynaretuya

| Rating: General | Length: One shot |

 

 

Kau ingat kan ? cinta itu seperti angin. Tidak dapat dilihat namun dapat dirasakan. Jadi, jika kau benar benar mencintaiku, kau tidak boleh takut jika aku pergi, karena kau akan selalu merasakan diriku

 

.

.

.

 

Disini aku sekarang. Duduk termenung di kursi kerja. Meratapi tumpukan berkas yang seakan memanggil ku untuk segera kembali. Rasanya begitu berat untuk bangkit. Tatapan ku jatuh pada sebingkai foto dimana kami bertiga sedang bersantai di atas ranjang. Tersenyum bahagia dan ia memeluk pinggang ku hangat. Jun Su merangkak di perut ku sambil tertawa—menunjukan hanya satu gigi susu di tengah deretan gusi nya. Ku raih bingkai itu, mengamati senyumnya, matanya, tubuhnya yang dibalut kaos putih polos. Aku ingat benar. Hari itu Sehun baru pulang setelah dua minggu terbang.

Tidak. Ini salah. Aku salah. Tidak seharusnya seperti ini. Kami bukan satu lagi. Kami sudah berbeda. Setelah benar benar yakin, aku berdiri, menyimpan bingkai ini dalam box. Mencari barang barang yang berhubungan dengan nya. Menyimpan semuanya dalam box itu dan pergi pulang.

Ketika sampai, Jun Su sedang bermain air ludah diatas lantai, bergelung kesana kemari, merangkak dan seakan akan semuanya baik baik saja. Nona Jung, pengasuh Jun Su, menyambutku hangat dan mengatakan hari ini Jun Su bertingkah aneh. Katanya Jun Su lebih banyak tertawa dan melonjak-lonjak kan kaki semangat. Tidak seperti biasa. Bahkan katanya ia makan banyak sekali.

“Hey,” ku peluk anak ku dan mencium nya. “Ada apa dengan mu ?” ia berhenti tertawa, menatapku heran. “Apakah kau sedang merasa bahagia ?” ia tidak bergeming. Memiringkan kepalanya lalu kemudian tertawa lagi. Diam diam, ku ikuti arah tatap Jun Su. Seakan akan ada seseorang dibelakang ku. Namun disana tidak ada siapa siapa. “Jun Su pasti mengantuk, ayo tidur dengan Ibu,”

Ku rebahkan tubuh Jun Su dan memakaikan nya kaos kaki. Menyelimutinya di samping ku dan aku mulai mengeluarkan suara menenangkan agar Jun Su tertidur.

Alih alih tidur, Jun Su merubah posisi tidurnya berpaling dariku. Menghadap kepada tempat dimana Sehun tidur.

“Jun Su,” tiba tiba Jun Su tertawa geli. “Jun Su ?” aku mulai khawatir. Lalu kemudian Jun Su berguling kesana, dan tersenyum genit.

 

My seeping tears hurt more because it is you

 

Bayangan itu, Sehun sedang merengkuh tubuh Jun Su dan tidur bersama. Seakan akan ini memang benar nyata. Ku ulurkan tangan ku menyentuh Sehun yang sebenarnya disana hanya ada ranjang kosong. “Oh Sehun ? apa kau bisa mendengarku ?” dengan bersimbah air mata, ku pegang erat tangan Jun Su. Tawa Jun Su lenyap begitu melihatku menangis. “Kau disini ? bersama kita ?”

.

.

.

Sudah pukul dua malam, aku juga belum tertidur. Mataku perih dan panas—mungkin karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Rasanya mataku benar benar tebal dan berat. Jun Su sudah tidur pulas karena pelukan Sehun. Sekarang giliran ku untuk menunggu ia datang dan memeluk ku. Aku ingin tidur dalam pelukan nya. Tidak boleh hanya Jun Su. Sehun harus adil.

Kuperhatikan jari manis ku, dimana disana ada sebuah cincin emas bertuliskan ‘OH SEHUN’. Aku ingat benar bagaimana Sehun melamarku. Bagaimana ia menyatakan cintanya saat kami masih duduk di bangku sekolah. Dia cinta pertamaku.

Demi tuhan, aku sangat merindukan nya. Sehun sudah janji bahwa ia akan segera pulang setelah dua minggu pergi terbang. Katanya mengantarkan penumpang, menembus awan dan memastikan bahwa penerbangan benar benar aman itu lebih penting daripada nyawa nya sendiri. Sehun terlalu egois untuk tidak memikirkan bagaimana nasib istri dan anaknya. Kami benar benar membutuhkan nya.

Aku tersentak saat mendengar jendela kamar diketuk beberapa kali. Aku menoleh, sebuah bayangan berdiri tegap dibalik tirai. Anehnya aku tidak merasa takut, kaki ku tiba tiba membawa tubuh ini keluar balkon.

Senyum itu menyambut ku hangat.

“Hai, istri ku,” Sehun membungkuk seakan telah menyambut penonton di suatu konser musik. “Hey, apa kau menangis ?” ia mendekat. Meratapi wajahku yang mungkin terlihat menyedihkan. Tidak ada yang salah dengan Sehun. Ia memakai seragamnya rapi dan juga topi di kepalanya. Ia seorang pengemudi pesawat terbang yang hebat, gagah dan tampan. Dan ia suami ku. ada kebanggaan tersendiri dihatiku, namun apa yang harus kubanggakan sekarang ? sosok pahlawan itu sudah tiada. Ia sudah kalah di medan perang.

“Mana janji mu ?” tanya ku dingin setelah lama terdiam. Meskipun aku tidak yakin dia ini nyata atau hanya fatamorgana, aku berani menatapnya tajam dan marah. “Mana janji mu, Oh Sehun ? katanya kau akan pulang ?” aku menampis tangan nya yang hendak meraih wajahku. “Mana janjimu ? mana ? katanya kau tidak akan meninggalkan ku ?”

“Shin Jae,” lirih Sehun, melihatku menangis. “Mungkin,” katanya terpotong.

“Mana janji mu ? janji yang akan membawa kita kepada keluarga yang harmonis dengan Jun Su. Selalu bersama ?”

“Mungkin tuhan punya rencana lain untuk kau dan Jun Su.”

“Lalu ? kau bisa pergi dengan semudah itu ?”

Kematian ku adalah takdir. Bukan pilihan ku, bukan kemauan ku dan bukan keinginan mu juga, Shin Jae.” Aku tidak bisa bertahan, aku sudah menangis dan menjerit frustasi. “Ini semua diluar kendali ku.”

.

.

.

Sehun merengkuh tubuh Shin Jae, menenggelamkan hidungnya di pundak Shin Jae. Menghirup wangi gadis itu. Wanita yang sudah menemaninya sejak ia masih sekolah. Mereka selalu bersama. Namun apakah kebersamaan mereka bukan lah yang rencana terbaik hingga Tuhan memisahkan mereka dengan maut ketika Jun Su masih terlalu kecil untuk tidak menerima kasih sayang seorang Ayah ?

Sehun benar benar merindu. Merindukan seorang Kang Shin Jae. “Shin Jae,” lirih Sehun disela menciumi pundak Shin Jae. “Berjanjilah padaku ?”

“Aku tidak mau.”

“Eoh ?”

“Perjanjian hanya berakhir dengan sakit hati. Aku tidak mau.”

“Berjanji lah, hanya kepadaku. Untuk yang terakhir,” entahlah, rasanya ada ribuan pisau yang mencabik dada Shin Jae begitu mendengar kata kata Sehun yang seolah merupakan sebuah perpisahan. Ia benci ini. Shin Jae melepaskan pelukan Sehun dan menatap pria itu jengkel.

“Berjanjilah untuk jangan pernah merindukan ku,” Shin Jae menggeleng sebagai penolakan. “Lupakan aku.”

“Sehun ! hentikan !”

“Berjanjilah,” Sehun menggenggam tangan Shin Jae dan menciumnya. “Jangan khawatir, aku akan selalu bersama mu. Tidak perlu rindukan aku. Aku selalu dekat dengan mu,”

“Sehun.” Geram Shin Jae. Gadis itu tidak menyukai kata kata berlebihan apalagi kata kata seperti itu. Membuatnya sakit.

“Kau tahu ?” Sehun membawa tubuh Shin Jae dalam pelukan nya dan merengkuh pinggang Shin Jae dari belakang. “Aku bukan pergi. Aku hanya sekedar tak terlihat, layaknya angin,” ia menyandarkan dagu nya pada pundak Shin Jae. Sesekali mengecup pipi istrinya. Sehun membawa Shin Jae menghadap salju salju yang turun. Ngomong ngomong hari ini adalah hujan salju pertama di musim dingin. Dulu, mereka berdua selalu pergi keluar rumah bersama dan membuat boneka salju sebagai perayaan awal natal. Setiap tahun. Hanya berdua.

“Kau ingat kan ? cinta itu seperti angin. Tidak dapat dilihat namun dapat dirasakan. Jadi, jika kau benar benar mencintaiku, kau tidak boleh takut jika aku pergi, karena kau akan selalu merasakan ku dihati mu,” Shin Jae menggeleng.

“Aku tidak mau kehilangan mu, Oh Sehun, itu menakutkan,” katanya dengan bersimbah air mata. Ia mencoba menahan isakan tangisnya namun tidak bisa. Tangan Shin Jae menggenggam kuat tangan Sehun, seakan tak mau membiarkan siapa pun membawa pria itu pergi.

“Hey, hey, dengarkan aku,” Sehun membalik tubuh Shin Jae menghadapnya. “Apa yang kau takutkan ? heum ?” Shin Jae mencari mata Sehun, menatapnya ketakutan.

“Aku, aku—“ Shin Jae membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Sehun, tanpa Sehun yang bagaikan sosok Ayah baginya, bisa juga sebagai sosok kakak, suami, teman, sahabat dan ayah bagi Jun Su. Ini cukup berat bagi Shin Jae yang sudah bersama sejak kecil. “Aku takut aku jadi gila, aku takut aku akan gantung diri karena terlalu merindukan mu, aku takut akan membunuh Jun Su sebagai Ibu sakit jiwa, aku takut akan—“ Shin Jae tidak tahan. Nafasnya tercekat di lehernya, mencekik nya hingga tak sanggup berkata lagi. “Aku takut…” tangisnya pecah. Sehun segera mendekap gadis itu.

 

Anything you say would make my heart overwhelmed.

When our breaths face each other.

Tears would flow.

Where are you looking? I’m right here

 

“Ssst, tidak perlu takut, aku selalu bersama mu, jangan takut sayang,” Katanya sambil mencium kening Shin Jae. “Kau gadis yang kuat. Ingat kan ? kau pernah menangkap seorang perampok dulu ?” Shin Jae tidak bergeming. Ia hanya menikmati kehangatan tubuh Sehun dan menggeleng.

“Jangan pergi.” Kata itu keluar dari mulut Shin Jae. “Jangan tinggalkan aku,” Sehun sadar gadis itu masih menangis. “Jangan tinggalkan aku juga Jun Su, jangan pergi…”

“Aku tidak akan pergi. Aku milikmu sepenuhnya.” Sehun menuntun tubuh Shin Jae dan merebahkan gadis itu.

“Waktunya tidur,”

“Kau mau kemana ?”

“Aku tidak kemana mana,” Sehun merebahkan dirinya disamping Jun Su.

“Kau akan tidur disini kan ?”

“Tentu.”

“Apakah kau akan meninggalkan kami setelah aku tidur ?” Sehun terkekeh.

“Tidak, tidurlah.” Alih alih tidur, Shin Jae hanya menatap Sehun. Mengawasi pria itu dan seolah akan menghukum Sehun jika pria itu kabur dari pandangan nya. seakan tahu dengan isi pikiran Shin Jae, Sehun meraih tangan Shin Jae dan menciumnya. “Tidur.” Dan dengan enggan, Shin Jae menutup matanya.

Namun sedetik kemudian ia membuka matanya lagi dan disana—masih ada Sehun. Hatinya tiba tiba merasa ketakutan yang luar biasa. Namun senyum hangat itu seakan menyadarkan nya bahwa Sehun tidak akan pergi kemana-mana. Shin Jae yakin. Ralat. Ia mencoba yakin bahwa jika Sehun pergi, ia akan selalu merasa keberadaan Sehun di sekitarnya. Karena Shin Jae, mencintai nya.

.

.

.

Terdengar kegaduhan di lantai bawah, suara suara lagu bayi dan juga teriakan tidak jelas dari Jun Su. Nona Jung terdengar sedikit berlebihan menyanyikan lagu kesukaan Jun Su. Shin Jae tersenyum kecil. Ia berjalan membuka almari dan memakai pakaian kerjanya. Tidak sengaja melihat gantungan pakaian seragam. Seragam seorang pilot berwarna biru tua dipadu dengan jas biru kehitaman, topi milik Sehun tersimpan rapi di dalam sana. Setelah mengumpulkan kekuatan, Shin Jae dengan ragu ragu meraih gantungan pakaian itu. Aroma maskulin pria itu langsung menyeruak masuk kedalam indra penciuman Shin Jae. Sebuah perasaan menyiksa dan juga gelombang kerinduan langsung menyerang hati Shin Jae.

“Sehun,” lirih wanita itu melihat sosok tegap di depan nya. Pria itu tersenyum tulus. Tangan mungil Shin Jae meraih lengan kekar Sehun lalu naik keatas hinga ke dada pria itu. Merapikan seragam nya. kemudian meraih kerah Sehun dan membenarkan dasi suaminya. “Kau benar, kau tidak pergi.” Kata Shin Jae tersenyum pahit. Lagi. Pelukan hangat itu kembali merengkuh tubuhnya. Anehnya, Sehun yang ini tidak bicara sama sekali. Hanya tersenyum tulus.

 

The face that is there when I turn my head is you so it hurts more

 

Tiba tiba sosok itu menghilang layaknya angin, Shin Jae merasa begitu kecewa. Namun bisa merasakan pelukan suaminya itupun sudah sangat bersyukur. Ia pergi ke lantai bawah. Sarapan bersama anak nya. Jun Su.

 

Are my hopes too high for my heart to reach you ?

.

.

.

1 years later…

Hari natal yang ditunggu tunggu pun datang. Keluarga besar Shin Jae sedang berkumpul di ruang keluarga. Dengan pohon natal yang besar di tengah ruangan, para cucu dan ponakan ponakan sibuk menghiasnya dengan lonceng emas, kapas kapas sebagai salju dan lain lain. Nenek dan Kakek Jun Su sedang berkompromi bagaimana dengan rencana liburan nya. sedangkan Shin Jae sibuk bermain dengan Jun Su di depan tungku. Para bibi sedang membuat kue jahe di dapur. Tiba tiba bel rumah berbunyi, menandakan seorang tamu datang. Shin Jae segera membuka nya. aneh. Tidak ada siapa siapa. Tapi ada sebuah kotak berukuran sedang di depan pintu masuk.

 

SELAMAT NATAL !

Aku mencintai mu. Eh jangan lupa. Aku juga mencintai Jun Su ku.

Suami mu tersayang.

 

Shin Jae bertaut heran. “Sehun ?” ia tersenyum senang walaupun ini aneh. Ia membawa masuk kado itu.

“Kado dari siapa nak ?” tanya Kakek. Shin Jae hanya tersenyum aneh.

“Rahasia !” lalu ia berlari menghampiri Jun Su dan membuka kado bersama—yeah meskipun Jun Su kurang baik diajak kerja sama, ia hanya bermain ludah dan merobek kado itu dengan tangan yang basah.

Sebuah piyama kembar.

Konyol ?

Warna nya kuning.

Dan lebih parah. Gambar nya angry birds.

“Dasar Sehun !” jerit Shin Jae. Dan sejak itulah Shin Jae benar benar yakin Sehun selalu bersama mereka. Ia tidak mau membuang air matanya lagi. Jun Su tidak boleh ikut sedih. Dan hingga saat ini, perasaan nya, cinta nya dan rasa sayang nya tak pernah pudar untuk Sehun. Karena kata selamanya sudah terukir mantap di hati Shin Jae untuk Sehun.

.

.

.

Sehun, apa cita cita mu ?

Aku ingin terbang. Mengantarkan semua orang kepada tempat tujuan mereka dengan selamat

Kau yakin ?

Kenapa tidak ?

Aku tidak suka.

Kenapa ?

Aku takut.

Takut ?

Apakah kau tidak takut ? tidak takut kah engkau jika saja suatu saat awan awan dan ruang hampa itu akan menjatuhkan mu ?

Kenapa harus takut ? tuhan punya takdir untuk kita. Mati ataupun hidup ditentukan oleh nya. Bukan karena cita cita kita

 

Shin Jae, mau kah kau jadi pacar ku ?

Apa !?

 

Kang Shin Jae, aku Oh Sehun anak dari Oh Jung Su, menyatakan bahwa benar benar mencintai mu dan berjanji akan menyerahkan hidup ku kepada mu. Mau kan kau bersama ku hingga aku bertemu maut ? mau kah kau mendampingi ku ? menikah lah dengan ku ?

 

I love you, antarkan penumpang dengan selamat kapten Oh Sehun !

 

Berjanjilah untuk jangan pernah merindukan ku

 

Kau ingat kan ? cinta itu seperti angin. Tidak dapat dilihat namun dapat dirasakan. Jadi, jika kau benar benar mencintaiku, kau tidak boleh takut jika aku pergi, karena kau akan selalu merasakan ku dihati mu

.

.

.

 

Can you feel me?
I keep thinking of you and covering my mouth in pain
Can you hear these tears?

20 thoughts on “Flying

  1. Park Arthieyeoll berkata:

    ndx tau kenapa, aku nangis baca ni ff chingu..😥
    sedih banget ceritanya..😥
    anak mereka masih kecil, tp mereka udah harus berpisah karna maut..😥
    ndx bisa aku bayangkan gmn sedihnya shin jae..😥

    selalu berkarya ya chingu.. keep writing.. annyeong..😉

  2. gladiollu berkata:

    Huaaaa nangiiiss..author hebat bisa bikin ff yg kerasa banget feelnya
    Jadi kebayang sehun pake baju pilot pasti ganteng bnget..hoho
    Ditunggu ff yg lainnya author..

  3. jungdongae berkata:

    kereeennnnnnnnnnnnnnnn…………
    aku nangis baca ini..
    apalagi di kalimat-kalimat terakhir…
    ngga bakalan bisa nahan kristal bening ini untuk mengalir, sampai akhirnya jatuh mengenai laptop dan menghancurkan settingannya.. #oke..ini..terlalu..lebay

    tapi serius, feelnya dapet dan ngga bisa ngehentiin tangisan ini sampai suara gledek nyamber..
    ditunggu karya yang lain… hwaiting.. ( ^.^)9

  4. Nunu^^ @Nurul_Hunie berkata:

    Hadeuuhh sesek navas…!!!
    DAEBAK dari awal cerita feelnya udah ngena bgt.

    Sehun jadi pilot(?) bayanginnya aja udah merinding…pokoknya keren dah imajinasinya WOW…

    Buat author-nim terus berkarya ya, aku tunggu karya yang lainnya..

  5. achi berkata:

    Authorniiiim pls ga ada yg lebih sedih dr ini kah? Huaaaa ini abis sahur gini bercucuran air mata/? keren feelnya dapet bgt dan ngebayangin gmana kehidupan rl seorang captain yg berkeluarga trs kasusnya begitu aaaaa pokoknya daebaaakkkk ;A;

  6. Nayoung berkata:

    Abis saur lgsg baca ff ini. Eh jd laper lg. Sangking kebawa sama feelnya.
    Kkk. . .
    Walaupun raga mereka trpisah, tp mreka ttp brsatu. :’)

  7. natt berkata:

    Sumpah dah ini ff oneshot tapi udah kebawa banget feelnyaaaaa >< author leren bangettttttttt aku suka ceritanyaa, tapi sedih bngeeet😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s