FF: The Wolf and not The Beauty (part 17)

 

Tittle                          : The Wolf and not the beauty

Author                        : Ohmija

Cast                            : EXO

Genre                          : Fantasy, Friendship, Comedy, Action, School life

Summary                    : “Jika perbedaan itu menjadi alasan untuk mereka, lalu bagaimana dengan kita? Kita juga berbeda, tapi kau bisa mempercayaiku. Bukankah hal itu sama saja?”

 

 

 

“Jika aku adalah werewolf, aku pasti sudah membunuhmu sekarang.” Kris menatap Suho lurus dengan mata tajamnya. Ia mendesis dingin membuat Suho seketika menelan ludah. “Aku pasti sudah menggigitmu dan memakan dagingmu. Atau mengubahmu menjadi sepertiku.”

Suho termundur ke belakang saat Kris mulai bergerak maju kearahnya.

“K-kau, pasti punya alasan tentang itu.”

“Alasan apa?” Kris masih melangkah maju.

“M-mungkin, kau tidak mau semua orang mengetahui identitasmu karena kau memiliki sebuah misi.”

Mata Kris melebar samar, langkahnya seketika terhenti dan dia menjadi terpaku di tempatnya. Kenapa semua tebakannya selalu benar? Si jenius yang sangat menyukai sejarah ternyata mampu membuka identitasnya dengan begitu jelas.

Dari matanya, Kris mampu menangkap keyakinan besar yang berasal dari diri Suho. Dia menatap sepasang mata itu. Dalam. Dan dia sama sekali tidak menyangka jika pria mungil yang sedang menatapnya itu adalah orang yang pertama kali berhasil mengetahui identitasnya.

“Kris,”panggil Suho lagi. Suaranya nyaris tak terdengar. “Katakan padaku yang sebenarnya.”

Kris tersenyum sinis, berusaha bersikap tenang. “Kenapa kau sangat ingin tau?”

Suho menelan ludah sekali lagi. Kedua tangannya mengepal kuat disamping tubuh. “Karena sejak dulu Kai adalah sahabatku.”jelasnya. “Dan sekarang… kau dan Sehun juga sahabatku.”

Berdiri dalam satu garis lurus dan dipisahkan dengan jarak beberapa meter. Ditempatnya Kris mengangkat tangan kanannya, ia membuka kancing lengan kemejanya dan memperlihatkan sebuah tanda pada Suho. Tanda berwarna hitam berbentuk naga bersayap yang tercetak di balik pergelangan tangannya.

“Yah, aku adalah Verdun.”

***___***

“Ayo kita kembali.” Sehun berdiri dari duduknya kemudian menatap kearah Kai. “Sebentar lagi kau pasti lapar. Ayo kembali untuk makan dan minum morfin. Morfin yang ku bawa sudah hampir habis.”

“Tapi kita belum menemukan Leo.” Kai menggeleng.

“Kita lanjutkan nanti malam. Kau harus melewati dua malam lagi sebelum benar-benar menjadi jarski. Hal itu bukanlah hal yang mudah.”

“Tapi aku sudah bisa melewati satu malam.”elak Kai tetap enggan beranjak dari duduknya.

“Itu hanya awal. Semakin lama hasratmu akan semakin membesar. Ayo pulang.”

“Sehun, tapi—“

“Bisakah kau menurutiku?!”desis Sehun nyaris membentak. “Kris sudah kembali ke Seoul lebih dulu. Kita juga harus pulang.”

Kai menatap wajah Sehun sesaat. Di wajah dinginnya, dia hanya menemukan ekspresi kekhawatiran. Sepasang mata tajamnya benar-benar terlihat teduh saat memandangnya.

Apa kembali menjadi werewolf itu begini berbahaya? Kenapa dia tidak terlihat bahagia sama sekali?

Hingga akhirnya, Kai menuruti kemauan Sehun. Ia dan saudaranya itu berlari cepat dan melewati atap-atap rumah untuk pulang.

***___***

Kening Luhan berkerut saat ia tidak mendapati Lay setelah ia masuk kelas. Ia menjatuhkan tas ranselnya, kemudian menoleh kearah Xiumin dan Chen yang duduk didepannya.

“Kemana Lay?”tanyanya.

Chen terlihat mengangkat bahunya, sedangkan Xiumin bersikap tak perduli. “Mungkin terlambat.”

“Dia bilang dia akan datang pagi-pagi untuk latihan bola. Pertandingan selanjutnya akan berlangsung sebentar lagi.”

“Tapi aku tidak melihatnya sama sekali.”

“Apa mungkin dia berada di lapangan bola?”

“Kau bisa melihatnya dari jendela kelas, kan? Lapangan sepak bola terlihat dari sini.”seru Xiumin, matanya tidak juga beralih dari buku yang dibacanya.

Luhan mengangguk, bergerak menuju jendela kelas sambil menjulurkan kepalanya disana. Lapangan bola terlihat dari sini, tapi dia tidak menemukan siapapun. Lapangan bola terlihat sepi dan sedikit tertutupi oleh kabut pagi. Musim dingin masih ada namun sebentar lagi akan pergi.

“Kemana Lay?” Luhan bertanya dengan dirinya sendiri, sesaat kemudian segera mungkin menutup jendela kelas karena dirasakannya udara pagi begitu menggigit tubuh.

Saat ia berbalik, langkahnya terhenti karena matanya menangkap sosok Kyungsoo sedang berjalan menuju kearahnya. Berhadapan, melihat Luhan, Kyungsoo langsung menunduk dalam-dalam.

“Maaf, tapi aku ingin duduk.”

Luhan hanya memandang Kyungsoo sesaat, kemudian bergeser memberikan ruang untuk Kyungsoo dan berjalan menuju tempatnya sendiri.

Kyungsoo menghela napas lega, namun terbesit kebingungan dalam hatinya. Tidak seperti biasanya Luhan membiarkannya begitu saja. Dia bahkan tidak berkata apapun ataupun memukulnya. Apa yang terjadi dengannya?

“Kyungsoo!” tiba-tiba Chanyeol muncul. Memasuki kelasnya tanpa keraguan apapun. “Sudah mengetahui keberadaan Kai?” Ia menjatuhkan diri di kursi yang ada didepan Kyungsoo, menghadap padanya. Mengabaikan seluruh pasang mata yang seketika terarah lurus padanya.

Kyungsoo terkejut. Ia memandang sekitar lalu mengakhirinya pada wajah Chanyeol.

“Chanyeol.”bisiknya sepelan mungkin. “Sebaiknya kita bicarakan hal ini di luar. Ayo.”

Chanyeol menyadari situasi yang tengah terjadi namun dia tetap berusaha bersikap tenang. Toh, dia hanya mencari Kyungsoo. Bukan mencari masalah apapun.

“Hey, Park Chanyeol!” Chen berdiri dari kursinya.

“Chen, sudahlah. Aisshh..” Luhan mencoba mencegah namun Chen tidak mendengar suaranya. Ia terus berjalan kearah Chanyeol.

“Bagaimana bisa kau masuk seenaknya kemari?!”desisnya sinis. “Kau pikir kau diperbolehkan melakukan itu?!”

“Kenapa aku tidak boleh melakukannya? Aku hanya menghampiri Kyungsoo.”

“Apakah itu adalah alibimu untuk mencari masalah?”

“Chen, hentikan. Bel akan berbunyi sebentar lagi.” Luhan menarik lengan Chen ke belakang.

“Ku dengar ibumu menghilang di gereja itu. Apakah nenek moyangmu menculiknya dan memakannya?” Chen masih mengejek. Menatap Kyungsoo dengan senyum menyeringainya. “Kyungsoo Solomon. Nama itu cukup cocok.”

“Aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan pastor Solomon! Cerita itu hanya kebohongan!” balas Kyungsoo setengah membentak. “Jangan membuat lelucon tentang ibuku!”

“Kau bahkan berani membentakku sekarang?!” Chen mengulurkan tangannya, hendak mencengkram kerah baju Kyungsoo namun ditepis oleh Chanyeol. Pria tinggi itu berdiri berhadapan sembari melemparkan tatapan kebencian pada Chen.

“Kau pikir siapa dirimu? Jangan pernah melakukan apapun pada Kyungsoo. Mengerti?!”

Chen tertawa mendengus, “Cih, jadi ini yang disebut cinta segitiga antara pasangan homoseksual?”

Chanyeol tersenyum sinis, “Bahkan mulutmu terdengar seperti perempuan. Mulai besok, pakailah rok ke sekolah. Kau lebih cocok memakainya.”

Chen mendesis kesal, “apa maksudmu?!”

“Membuat dan menyebarkan gossip yang tidak-tidak, bukankah hal itu adalah hal-hal yang dilakukan oleh wanita?”ujar Chanyeol santai. “Kau tidak pernah merasakan bagaimana persahabatan yang sebenarnya jadi kau selalu menganggap kedekatan dua orang laki-laki adalah hubungan yang salah. Lalu? Apa bedanya dirimu dengan dia?” Chanyeol menunjuk Luhan. “Dan berhenti bersikap kekanakkan karena cerita bodoh itu. Kau bahkan tidak mengetahui apapun tentang gereja dan pastor itu. Juga… jangan menjadikan penderitaan orang lain seperti lelucon. Hal itu membuatmu tidak terlihat seperti manusia normal.”

Chanyeol menyelesaikan ucapannya dengan senyuman walaupun ia mendapat tatapan tajam dari Chen. Ia tau, pria itu pasti sedang kesal. Bahkan dari matanya saja terlihat jika dia sedang terbakar di dalam.

Chanyeol menoleh ke belakang, menatap Kyungsoo. “Istirahat nanti, pergilah ke kelasku. Kita bicara lagi.”

***___***

Guru sedang tidak mengajar namun Suho sama sekali tidak berminat mengikuti teman-temannya yang sedang membuat keributan. Beberapa orang sedang bernyanyi dibagian belakang karena Jihyuk membawa gitarnya.

Dibagian tepi, murid laki-laki lebih suka bermain game yang mereka bawa. Sedangkan murid perempuan mulai membenarkan make up mereka sambil bergosip tentang artis-artis yang mereka sukai.

“Menurutmu, apa hilangnya ibu Kyungsoo berhubungan dengan Kai? Dia bahkan tidak menghadiri kelas hari ini.” Tao memulai pembicaraan setelah cukup lama diam

Suho mengendikkan kedua bahunya, “tidak tau.”

“Sikap Kai akhir-akhir ini menjadi aneh. Kenapa dia menyuruh kita untuk melindungi Kyungsoo? Itu sebabnya beberapa hari ini, dia terpaksa menginap di rumah Chanyeol. Apa Kai takut Kyungsoo juga diculik seperti ibunya? Lalu? Apa Kai menghilang karena sedang mencari orang yang menculik ibu Kyungsoo? Tapi, apa mungkin? Kai tidak akan bisa mencarinya seorang diri kan, Suho?” Tao menoleh kearah Suho namun justru mendapati jika teman sebangkunya itu sedang fokus kearah lain. Dia… menatap Kris?

“Suho.” Tao menyenggol siku Suho dengan sikunya.

Suho mengerjap kaget, “Yah Tao. Mungkin Dia dan Sehun sedang sakit.”

“Kenapa kau menatap Kris?”

“Ha? Aku tidak menatapnya.” Dia menggeleng cepat.

“Apa ada yang terjadi?” Tao tetap bertanya.

“Tidak Tao. Aku tidak apa-apa.”

Ditempatnya, Kris menoleh samar dari bahunya. Ia mendengar percakapan dua orang itu. Dan dia tidak tau apa yang harus dia lakukan pada Suho.

Berpikir sejenak, akhirnya ia berdiri dari duduknya. Menghampiri meja Suho dan berseru, “Suho, punya waktu? Aku ingin bicara.”

***___***

Sehun kembali dari supermarket terdekat setelah membeli banyak daging untuk dirinya juga Kai. Sengaja meninggalkan Kai di kamar hotel karena membawanya hanya akan membahayakan nyawa masyarakat sekitar. Kai masih belum terbiasa dengan kondisinya sekarang, bahkan dia harus bertarung melawan hasratnya yang mulai kembali di perjalanan menuju kamar hotel tadi pagi.

“Pernah membayangkan kau akan memakan daging mentah lagi?”tanya Sehun, sedikit tertawa sembari menghidangkan piring berisi daging sapi mentah dan kaki babi.

“Jadi ini alasannya kenapa kau sama sekali tidak menyukai sayuran?”

“Aku karnivora, aku tidak makan sayur.” Sehun tersenyum singkat, mulai memakan daging sapi mentahnya. “Lebih terasa enak jika darahnya masih menempel.”

“Setelah besok malam, aku akan berubah menjadi jarski kan?”

“Yeaah, karena kau memang seorang jarski. Beruntung sekali.”

“Apa paman Arthur masih belum menemukan ramuan untuk merubahmu juga? Sampai kapan kau akan meminum morfin itu?”

“Tentu sampai ayahku menemukan ramuannya.”canda Sehun. “Tidak apa-apa. Orang-orang yang menentangku menjadi keturunan terakhir juga mulai luluh. Aku telah bisa membuktikan pada mereka jika aku tidak makan daging manusia. Aku rasa itu cukup.”

Kening Kai berkerut, “mereka menentangmu? Maksudmu… apa keturunan Rouler masih ada?”

“Mereka masih ada.” Kini dia telah menyelesaikan satu potong daging sapi mentah. “Tersisa sedikit di Polandia, dan tersebar di beberapa Negara. Ayahku menjadi satu-satunya yang menetap di Jerman.”

“Dan mereka semua menentangmu?”

Sehun mengangguk, “termasuk paman yang tinggal bersamamu. Itu juga menjadi alasanku kenapa aku tidak pernah mau berkunjung kesana. Walaupun dia sudah menyetujuinya, aku tetap merasa tidak enak.”

“Kenapa? Lagipula semua ini bukan sepenuhnya salahmu. Kau hanya ingin menyelamatkan Lu—“ Kai buru-buru menghentikan ucapannya. Dia sendiri tersentak kenapa dia bisa mengatakan hal itu. Kris sudah melarangnya untuk mengatakan segala sesuatu yang berhubungan dengan Luhan dan bisa mengingatkannya kembali pada pria itu. Hanya saja… itulah kenyataannya, “Maksudku.. kau ingin melindungi kami.” Ia memperbaiki.

“Mungkin mereka pikir, aku akan berubah menjadi klan Theiss dan menjadi pemburu karena aku sudah meminum darah Leo. Mereka bahkan membuat petisi agar kedudukan itu berpindah padamu. Tapi… yeaah… aku berusaha menahan hasratku agar kau tidak kembali ke dunia seperti ini lagi. Aku berhasil tapi kau tetap kembali.”

“Sehun, aku ingin membantumu. Aku tidak mau kau menopangnya sendirian.”balas Kai. “Aku adalah saudaramu dan aku adalah satu-satunya orang yang tidak mengetahui apapun. Aku merasa sangat bersalah.”

“Yang terpenting adalah kau.” Sehun menghela napas. “Aku tidak mau kehilanganmu seperti aku kehilangan D.O. Aku ingin melindungimu dan membuatmu hidup dengan tenang.”

“Aku juga ingin melindungimu.”kata Kai. “Setelah semua ini selesai, setelah kita berhasil mengalahkan Leo, juga setelah ayahmu menemukan ramuan penetral hasrat pemburumu. Ayo minum ramuan penghilang ingatan dan jadi manusia. Kita harus hidup dengan tenang dan menjalani hari-hari yang normal. Kau mau?”

Sehun memandang Kai haru, “aku harap aku bisa berubah.”

***___***

Suho hanya bisa terperangah tanpa suara setelah mendengar seluruh cerita Kris tentang dirinya dan dunia. Dia bahkan tidak bisa mempercayai jika Kai baru saja berubah kembali dan harus pergi karena harus mencari ibu Kyungsoo.

Dia kehilangan kata-katanya karena semua cerita Kris benar-benar diluar logikanya. Memang sangat berhubungan dengan sejarah tapi cerita Kris lebih mendekati dengan cerita Fantasy seperti Harry Potter atau The Lord Of The Ring yang jauh dari kenyataan.

Tidak bisa ditangkap dengan akal pikiran namun kenyataan. Pada awalnya, dia tidak begitu mempercayai cerita rakyat tentang gereja itu. Tapi sekarang, mau tidak mau, suka tidak suka, dia harus mempercayainya. Didepannya ini, adalah sebuah bukti nyata jika cerita itu memang sebuah legenda yang masih berlanjut hingga sekarang.

“Terima kasih, Suho.”seru Kris membuyarkan keheningan diantara mereka. “Terima kasih karena kau sudah mengetahuinya.”

Suho menoleh dengan kening berkerut, “Bukankah kau tidak mau identitasmu diketahui orang? Kenapa berterima kasih?”

Kris tersenyum singkat, menerawang ke depan tanpa fokus pandangan. “Karena akhirnya bebanku sedikit berkurang sekarang. Setidaknya… aku sudah tidak menyimpannya seorang diri lagi.”

Suho menatap sisi wajah Kris iba, “apa semua itu begitu sulit?”

“Begitu sulit sampai membuatmu lebih memilih mati daripada menghadapinya.”jawab Kris sama sekali tidak terdengar bahagia. “Kau tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana menjijikannya memakan daging manusia saat kau lapar, dan setelah menjadi jarski, kau harus memakan daging hewan yang terkadang mentah. Sangat berat. Seluruh hidupku sepertinya hanya ku habiskan untuk menjaga Sehun, Kai, Luhan dan Kyungsoo. Mereka berempat sekaligus. Belum lagi harus menahan kesabaran atas kekeras kepalaan Sehun. Tapi… aku juga tidak bisa melawan karena dia adalah keturunan terakhir. Dia adalah pemimpinku.”

“Apa tidak lebih baik jika kau memberitahu semuanya pada Luhan dan Sehun? Dari cerita yang ku dengar, mereka berdua sepertinya tulus dan saling menyayangi. Jika di masa lalu kalian adalah sahabat, kenapa sekarang kalian lebih memilih menjadi musuh?”

“Aku tidak pernah merasa begitu.” Kris menggeleng. “Aku tidak pernah menganggap Luhan adalah musuhku karena itu dalam diam aku juga memperhatikannya.”

“Lalu bagaiman dengan Sehun dan Luhan? Bukankah terdengar sangat jahat kalian terus membohongi mereka? Sehun tidak mengetahui apapun namun kalian membuatnya membenci Luhan. Walaupun, aku sangat tidak menyukai Luhan, tapi kali ini aku ingin membelanya.”

“Kami punya alasan melakukannya, Suho.” Kris menunduk dalam, bercampur rasa menyesalnya.

“Jika perbedaan itu menjadi alasan untuk mereka, lalu bagaimana dengan kita? Kita juga berbeda, tapi kau bisa mempercayaiku. Bukankah hal itu sama saja?”

Kris mengangkat wajahnya, menoleh kearah Suho dengan mata melebar. Suho membalasnya dengan senyuman, sebuah senyuman yang tidak pernah berubah di mata Kris. Selalu menenangkan.

“Aku memang tidak mengetahui apapun tentang kalian. Tapi.. bisakah aku membantumu? Setidaknya… kau bisa mempercayaiku.”

***___***

“Makanlah.”

Leo melempar satu jasad manusia ke depan Lay yang sejak tadi meringkuk disudut ruangan. Wajahnya terlihat sangat pucat, bercampur dengan deru napasnya yang terputus-putus. Sejak ‘berubah’ dia sama sekali belum memakan apapun membuatnya begitu depresi.

Melihat ‘makanan segar’ didepan matanya, ia langsung melompat dan menyantapnya dengan membabi buta. Dia begitu lapar, dan ingin menghabiskannya untuk meredam hasratnya yang sudah menggebu-gebu.

Di tempatnya, Leo hanya menatap Lay dengan senyuman menyeringai. Sedikit banyak, dia sudah mengetahui tentang Luhan dan Kyungsoo dari pengakuan Lay, yang memberitahu jika keduanya berada dikelas yang sama dengannya.

Nantinya, dia akan menggunakan Lay sebagai senjata andalannya untuk mendapatkan Luhan dan Kyungsoo.

“Dengar Lay. Kita masih kekurangan banyak pasukan jadi tugasmu adalah mencarinya sebanyak mungkin. Tentunya, tanpa menimbulkan kecurigaan dari Kris dan teman-temannya itu.”

Lay mengangguk, kemudian menunduk dalam sambil terus menggerogoti tulang yang ada ditangannya.

“Jika saatnya telah tiba, kita akan menyerang mereka secara tiba-tiba. Juga mendapatkan Kyungsoo serta darahnya.”

Lay mengangguk lagi.

Leo tersenyum, menepuk-nepuk kepala Lay seperti anak anjing yang patuh.

“Bagus.”

Tiba-tiba, Lay merangkak ke depan sambil mengendus-endus. Secepat kilat berdiri dan membuka pintu gudang.

“Xiumin. Itu Xiumin. Aku harus menggigitnya dan merubahnya sepertiku.”

Lay sudah berdiri, hendak menerkam Xiumin yang melintas didepan gudang. Namun, Leo dengan sigap menahannya, menariknya kembali dan menutup pintu sebelum Xiumin mengetahuinya.

“Jangan makan apapun kecuali yang aku berikan padamu!”desisnya tajam.

Lay menunduk, “Tuan, tapi… dia temanku. Kita bisa menggunakannya juga.”

“Aku bilang kumpulkan pasukan tanpa diketahui orang lain! Jika kau menggigitnya, hal itu akan sangat mencolok. Belum lagi jika kau tidak bisa menahan hasratmu sendiri, kau bisa memakannya. Bukan mengubahnya! Mengerti?!”

Lay semakin meringkuk dalam, “M-maafkan aku, tuan.”

“Untuk teman-temanmu, sebaiknya kau gunakan cairan ini.” Leo melemparkan botol darah Pastor Solomon pada Lay. “Minumkan cairan itu pada teman-temanmu seperti aku melakukannya padamu. Tapi ingat! Jangan lakukan hal itu pada Luhan. Jika dia meminumnya, dia akan kembali dan mengingat semuanya. Jangan lukai Luhan karena aku sendiri yang akan mengubahnya.” Ia tersenyum menyeringai. “Dan membuatnya menjadi senjata andalan untuk mengalahkan keturunan terakhir Rouler.”

***___***

Kai akhirnya berhasil keluar dari semua larangan Sehun yang tidak mengijinkannya untuk keluar. Dia berhasil melarikan diri saat Sehun sedang membersihkan dirinya. Memilih melewati jalur ‘atap rumah’ Kai menuju sekolah karena ingin menghindari masyarakat sekitar. Dia masih belum bisa menahan hasratnya sendiri.

Setelah sampai, Kai memilih bersembunyi di atas pohon besar yang tumbuh di samping gedung pertama sekolah. Duduk bersila disalah satu dahan dan menghadap ke depan.

Disebrang, wajah Kyungsoo tercetak dibingkai jendela. Dia terlihat berbeda. Kai tau, pasti dia sangat mengkhawatirkan ibunya saat ini. Terlihat dari sorot matanya yang teduh dan terus menatap kebawah tanpa fokus. Dia tau, pria itu tidak sedang membaca buku ataupun mendengarkan penjelasan guru. Dia sedang gelisah.

“Kyungsoo, tidak perduli apa resikonya nanti, aku berjanji akan menemukan ibumu. Walaupun aku harus melawan Leo lagi.”gumamnya seorang diri. “Berjanjilah kau akan selalu bahagia setelah ini. Bukan karena sumpah, tapi aku berjanji akan melindungimu…” Ia memberikan jeda sesaat di ucapannya. “…kakak…”

Dari atap sekolah, Suho bisa melihat sosok yang sedang menyembunyikan diri dibalik rimbunan daun itu. Juga mengetahui siapa yang sedang ditatapnya.

Berteman cukup lama dengan Kai, ini adalah pertama kalinya dia mengetahui jika jalan hidup sahabatnya itu sangat sulit. Dia bahkan hampir gila saat kehilangan kakaknya.

Dan sekarang, dia baru mengetahui jika alasannya mati-matian melindungi Kyungsoo adalah karena dia memiliki wajah yang mirip dengan kakak kandung Kai.

Jika semua itu memang terasa sangat sulit, setidaknya dia ingin meringankan. Tidak hanya Kai, tapi Sehun dan Kris juga sahabatnya sekarang.

Mungkin, dia sudah gila. Namun… bisakah dia… berubah juga?

***___***

Sehun tidak menemukan Kai dimanapun, juga tidak menemukan Kris di menara gereja. Sudah pukul sepuluh malam, dia pikir mungkin Kris belum kembali dari sekolah. Juga Kai yang melarikan diri untuk melihat Kyungsoo.

Akhirnya, Sehun memutuskan untuk pergi ke sekolah bersama dengan beberapa botol morfin di kantungnya. Setelah ini, dia akan melanjutkan perburuannya mencari Leo, yang memungkinkan dirinya kembali tidak hadir disekolah besok. Juga untuk Kai, saat reaksi morfin didalam tubuhnya sudah habis.

“Bodoh. Kau pergi ke sekolah disaat-saat seperti ini? Bagaimana jika kau justru melukai Kyungsoo?”gerutu Sehun, melenggang santai memasuki gerbang sekolah. “Jika kau melukainya, aku akan—“

“Sehun?”

Suara seseorang tiba-tiba terdengar. Sehun berbalik, sesaat berikutnya terkejut melihat Luhan yang ternyata memanggilnya.

“Apa yang kau lakukan disini? Ku dengar kau tidak datang ke sekolah hari ini. Kai juga. Kalian sakit?”tanyanya menghampiri Sehun.

Ekspresi Sehun seketika berubah menjadi dingin, “bukan urusanmu.”ketusnya dingin lalu melanjutkan langkahnya melewati Luhan.

“Kris belum keluar dari kelas. Tunggu saja sebentar.”

Sehun berbalik dengan helaan napas panjang, “bisakah kau tidak mencampuri urusanku? Pergilah. Aku tidak bertanya apapun padamu.”

“Aku hanya memberitahumu.” Luhan membalas santai. “Baiklah. Aku pulang dulu. Semoga kau cepat sembuh.”

“Tsk.” Sehun mendengus kesal, sama sekali tidak memperdulikan ucapan Luhan dan kembali mencari Kai dan Kris.

***___***

Sudah larut malam saat Chen berjalan di jalanan menuju rumahnya. Sepulang sekolah, dia mampir sebentar ke arcade untuk menghilangkan penat. Luhan sudah tidak seperti dulu lagi, bahkan mereka sudah tidak sependapat.

Sedangkan Xiumin? Ah, pria dingin itu tidak bisa diandalkan dalam hal apapun.

“Astaga!” Chen melompat mundur saat mendapati Lay tiba-tiba mundul didepannya. “Kau mengagetkanku!” Ia mendorong sebelah pundak Lay kesal. “Darimana saja kau? Luhan seharian mencarimu. Kau bilang ingin latihan sepak bola tapi kau justru tidak datang.”

Lay hanya diam. Tidak menjawab apapun.

“Ehh? Apa yang terjadi padamu? Kau sakit? Wajahmu sangat pucat?”

Lay masih diam, sesaat berikutnya mengangkat wajahnya sambil berdesis dingin. “Maafkan aku, Chen.”

“Hah?”

“Maafkan aku.”

Lay membekap mulut Chen cepat sambil mendorong tubuhnya ke tembok. Mengunci pria mungil itu dalam rengkuhannya dan meminumkan cairan yang tersimpan disaku celananya pada Chen.

TBC

 

 

 

75 thoughts on “FF: The Wolf and not The Beauty (part 17)

  1. RusaAlbino berkata:

    hwaaaaaa
    authorny daebak (y)
    aku fansny author mija~~~
    hehehe:-D
    aku suka semua ff author yg broship hehe
    author semangat nulisnya
    nextnextnext;-)

  2. misriana berkata:

    wuaaahhh kalo suho jd kaya kai ???? lawannya jd pas dong.. K lawan M … jiaaaahhh rame sekaliii… iya aku stuju sama Rin mitsuki kalo jauhhhh Bgusan ide cerita tiap ff kamu daripada sinetron2 indo…

  3. phalifa berkata:

    Kyaa kenapa lay jadi klan theiss gk jadi rouler aja ??
    Next part jgn lama2 dong thor ^^
    Keren bgt ff nya makin penasaran ma kelanjutannya😀

  4. lee hanna berkata:

    Bagus banget ceritanya eonnie , aku sampek megadang kemarin baca ceritanya , hehhehee
    di tunggu chap 18nya iya eonnie , aku harap cepet sampai end , karena aku udah penasaran banget , saranghae eonnie🙂

  5. Ren Chittaphon L berkata:

    Wuaaah deg degan nih…
    keren keren… sehun cool amat gilaaaaa. author semangat!! fighting jngn bosan berkarya😀
    Btw “daddy’s bestfriend”-nya jg dilanjutin dong… saya fansnya si anak kepala jamur tuh🙂🙂

  6. Oh Joon Dae berkata:

    Thorr…gua udh 3 kali komen
    Soal’a gue udh gk sabaran ni
    Pliss di percepat udh penasaran nii thoorrrr…
    #Gilameradang

  7. Indah Fauzia berkata:

    Maksud’a Suho Mw Bntuin Kris Apa Di Pgn Brubh Jd Jarsky Jg? Trz Chen Nanti Dia Berubah Ya? Aduh Bkn Pnsran Aj Si, Thor… Cpt D Lnjutin Y Thor… Ya..Ya..Ya.. Please…😦 #maksa

  8. Indah Fauzia berkata:

    Maksud’a Suho Mw Bntuin Kris Apa Di Pgn Brubh Jd Jarsky Jg? Trz Chen Nanti Dia Berubah Ya? Aduh Bkn Pnsran Aj Sih, Thor… Cpt D Lnjutin Y Thor… Ya..Ya..Ya.. Please…😦 #maksa

  9. mooreruLigh94 berkata:

    luhan perannya dikit banget..
    “Sehun!!! cuekbanget sama LuhanT.T”
    bagus eon lanjut yeee
    GHost rider, ama lords of legends nya ditunggu lanjutannya..^^
    makasih udah berkerja keras buat nglnjutin ini^^

  10. sehunbee berkata:

    Aku udah comment apa belum ya? /mlai pikun/

    kalau belum mianhae, kemaren-kemaren aku nungguin chapter 18 muncul ampe lupa lagi nungguin /tampar/ eh taunya udah nyampe chapter 28… /ketinggalan jauh/

    alhasil aku jadi baca ulang chapter ini, hihi

    untuk comment sendiri, aku ga tau mau comment apa… Aku selalu kehabisan kata-kata tiap kali baca FF kk…

    Pokoknya kk yang paling daebak dah, ga salah aku ngefans sama kk..huhu

    Fighting ka…

    Regards,

    Sehun’Bee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s