FF: Ghost Rider (Part 15)

Ghost Rider

Author : Oh Mi Ja

Genre : Horror. Mystery, Comedy, Friendship

cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Support Cast : Kim Myungsoo (Infinite), Kim Jongdae

Chanyeol tidak menepati janjinya untuk mengembalikan kunci rumah Baekhyun pada Jongdae. Dan dia juga tidak menepati janjinya pada Kris untuk kembali. Hari sudah pagi, namun dia tetap tidak terlihat di rumah sakit.

Diseluruh kekhawatiran teman-temannya, Jongdae ikut bergabung bersama mereka karena dia juga tidak menemukan Chanyeol di rumah Baekhyun. Mobilnya juga menghilang. Mereka pikir, Chanyeol pergi membawa mobil biru itu karena merindukan masa-masanya yang dulu.

Hal itu wajar, tapi tetap saja berbahaya mengingat keadaan Chanyeol belum sepenuhnya pulih.

“Kenapa kau mengijinkannya pergi, Kris?!”ketus Kyungsoo kesal. “Dia belum sepenuhnya pulih. Harusnya kau tidak membiarkannya pergi!”

“Kyungsoo, hentikan.”cegah Yixing.

“Kau mengulangi kesalahanmu lagi dengan membiarkannya pergi!” Namun Kyungsoo tetap tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.

“KYUNGSOO HENTIKAN!” Kali ini Yixing membentak. “Kau tidak bisa menghakimi kakakku seperti itu!”

“Maaf Kyungsoo. Aku melakukannya karena Chanyeol bersikeras ingin bertemu dengan Jongdae dan dia ingin tau tentang Baekhyun.”sahut Kris menunduk di kursi rodanya.

“Sudah ku bilang ini bukan waktu yang tepat!”

“Lalu mau sampai kapan?!” Jongdae ikut berteriak. “Mau sampai kapan kau menyembunyikannya, hah?!”

“Diam Jongdae. Kau tidak mengerti apapun!”

“Apa yang aku tidak mengerti?!” Jongdae kehabisan kesabaran. “Kau tau?! Baekhyun mengalami amnesia Anterograde sekarang! Dan aku yakin itu karena kau!”

Seketika semua orang terperangah dengan pernyataan Jongdae barusan.

“Baekhyun tidak pernah mengalami kecelakaan sebelumnya. Satu-satunya luka yang menyebabkannya harus dirawat di rumah sakit adalah pukulanmu! Kau pernah memukulnya bertubi-tubi!”

Kyungsoo benar-benar terdiam dan membeku ditempatnya. Dia kehilangan kata-kata dan tidak bicara sama sekali. Benarkah? Baekhyun mengalami amnesia karena dia?

“Jongdae, jangan bercanda.”kata Yixing mengguncang tubuh Jongdae kuat-kuat.

“Kau pikir ini adalah lelucon?” Sepasang mata Jongdae mulai berkaca-kaca. “Baekhyun menghilang karena dia sudah tidak mengingatku lagi! Dia tidak menghubungiku karena dia sudah melupakanku!”cercanya sangat menyesal. “Apa kau masih mau egois?! Kau masih mau menggunakan Baekhyun?! Baekhyun sudah berkorban dan kini dia telah terluka! Kau senang?! Kau puas?!”

“Jongdae.”tahan Yixing, ia menarik tubuh Jongdae mundur lalu memutar tubuhnya agar menghadapnya. “Baekhyun? Dia?”

Jongdae mengangguk pelan kemudian menunduk, “Yah, Yixing. Dia kehilangan ingatannya. Dia melupakanku.”

“Astaga.” Yixing langsung memeluk tubuh Jongdae sembari menepuk-nepuk punggungnya. Biar bagaimanapun, Baekhyun juga sahabatnya. Orang asing yang tiba-tiba bersedia megorbankan diri demi Chanyeol. Orang asing, yang tiba-tiba bersedia membantu mewujudkan mimpi Chanyeol. Dan dia sangat berterima kasih akan hal itu.

***___***

Chanyeol melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Membelah jalan raya dan meninggalkan Seoul jauh ke belakang. Ia seperti melawan waktu. Karena sepertinya jiwanya juga tidak berada ditempatnya.

Dia kehilangan kesadaran. Dan dia sangat ingin menemukan Baekhyun. Dimana Baekhyun? Dimana dia? Saat dia pernah menjadi kekuatannya dulu dan sekarang menghilang.

Dia tidak tidur sejak semalam. Terus memikirkan bagaimana jalan keluar yang tepat atas semua masalahnya.

Dia hanya bisa mengingat visual Baekhyun secara samar. Namun, dia sangat mengingat kenangan yang telah terjadi diantara mereka.

Byun Baekhyun.

Kini Park Chanyeol sudah bangun dari tidur panjangnya dan dia ingin membalas budi Byun Baekhyun. Jangan pergi. Jangan menghilang.

***___***

Namja mungil berwajah tampan itu sejak tadi hanya terduduk di ranjangnya sambil menatap keluar jendela. Ibunya sedang pergi, mengantar ayahnya untuk mendapat perawatam lebih lanjut. Meninggalkannya seorang diri, di kamar rawat dan tenggelam dalam pikirannya.

Sesekali ia melirik kearah buku diary yang tengah dipegangnya. Membaca ulang kenyataan-kenyataan yang telah diceritakan ibunya dan dituangkan kedalam tulisam. Diseluruh coretannya, ia baru menyadari jika nama Jongdae begitu mendominasi. Dari separuh perjalanan hidupnya, sepertinya dia selalu menghabiskan waktunya bersama Jongdae,

Menoleh ke kanan, Baekhyun mendapati ponsel ibunya tergeletak diatas meja. Tenggelam dalam lamunannya sesaat, hingga akhirnya ia memutuskan untuk meraih ponsel itu. Jantungnya mulai berdebar dengan sesuatu yang ingin ia lakukan.

Ia mencari sebuah nama disana. Dan menemukan nama Kim Jongdae diantara kontak telepon ibunya. Apa yang harus dia lakukan? Apa dia harus menghubungi orang asing yang dikatakan ibunya adalah sahabatnya? Apa yang akan dia katakan nantinya? Dia bahkan sama sekali tidak mengenal bagaimana sosok Jongdae.

Dia bahkan belum kembali pada kenyataan saat jarinya tanpa sadar menekan tombol call dan menghubungi nomor itu. Menunggu beberapa saat hingga akhirnya suara seseorang terdengar diseberang panggilan.

Suara itu. Suara lembut yang tidak asing ditelinganya. Dia mendengarnya lagi.

“Bibi Byun? Hallo?”

“J-Jongdae,,,” Deru napas terputus-putus tak kalah mewarnai degupan jantungnya yang berdebar-debar begitu cepat, entah mengapa ia merasa sangat takut saat ini. Tanpa mengetahui apa ketakutan yang sedang ia rasakan itu.

Disebrang panggilan, Jongdae tak kalah terperangah saat ia mendengar suara itu. Separuh hidupnya, ia menghabiskan seluruh waktunya dengan pria mungil yang ia ketahui paling pengecut. Selalu merengek dan bertingkah kekanakkan walaupun sekarang ia telah berada di bangku universitas. Namun, saat pria itu pergi. Dia sangat merindukannya.

“Jongdae… ini aku…”

Jongdae menelan ludah, “Byun… Baekhyun…?”

“Jongdae,,” Baekhyun mulai menangis tertunduk. “Jongdae, aku takut.”

“Baekhyun. Byun Baekhyun. Apa kau baik-baik saja, huh? Apa yang terjadi padamu? Byun Baekhyun, aku sangat mengkhawatirkanmu. Dengar, semuanya akan baik-baik saja. Jangan khawatir.”

“Jongdae, aku… aku tidak bisa mengingat apapun. Aku tidak bisa mengingat siapa diriku sendiri.”

“Baekhyun…”

“Jongdae… apa yang harus aku lakukan? Aku sangat takut menghadapi semuanya. Seperti aku adalah orang lain yang tidak mengetahui apapun.”

Jongdae terdiam ditempatnya. Tidak menemukan kata-kata tepat untuk menghibur sahabat yang kini berada sangat jauh dalam jangkauannya. Dia menangis. Dan dia tidak ada disana untuk menghiburnya. Dia sendirian, seperti orang yang baru lahir kembali. Dia tidak mengetahui apapun tentang hidupnya.

Dibelakang pintu, nyonya Byun mendengar tangisan Baekhyun dalam luka dalam. Ia ikut menangis. Seperti merasakan perasaan anaknya saat ini. Dia menangis. Tanpa suara karena dia tidak ingin Baekhyun mengetahuinya.

***___***

Jongdae langsung berdiri dari duduknya saat ia mendengar suara mesin mobil di matikan. Dengan langkah-langkah panjang berjalan keluar dan membuka pintu pagar rumah Baekhyun.

Mulutnya sudah terbuka, sudah ingin menyerang Chanyeol dengan tumpukan emosinya yang sejak tadi ia pendam. Namun, saat ia melihat bagaimana sosok pria tinggi itu setelah keluar dari mobil, mulutnya tidak bisa mengeluarkan ucapan apapun.

Matanya melebar saat ia melihat penampilan Chanyeol yang sama sekali tidak mendekati kata baik. Dia berantakan. Seperti orang gila dengan rambutnya yang terlihat acak dan bajunya yang tidak beraturan. Wajahnya memucat dengan lingkaran hitam dibawah matanya.

“Apa yang terjadi denganmu?”tanya Jongdae disela bimbangnya. “Kau baik-baik saja?”

Chanyeol mengangkat kepalanya, semakin memperjelas bagaimana rupa wajah pucatnya pada Jongdae. Ia memaksa dirinya untuk tersenyum yang mana membuat Jongdae semakin merasa gelisah terhadap pria tinggi yang berdiri didepannya itu.

“Aku akan melakukannya Jongdae.” Lirihnya setengah tersendat. “Aku akan memenangkan pertandingannya.”

Mata Jongdae seketika membulat, “Chanyeol, kau tidak melakukannya kan?!” Ia maju satu langkah, berdiri di hadapan Chanyeol. “Kau tau aku tidak bersungguh-sungguh saat mengatakannya”

“Dia pernah mengatakan ingin memenangkan pertandingan untukku tanpa mengetahui resikonya.” Chanyeol kembali menunduk, pandangannya kini berpusat pada tanah yang dipijaknya. “Dia pernah menepuk pundakku saat aku benar-benar terpuruk.” Saat ia mengadahkan wajahnya, Jongdae melihat sepasang matanya sudah berkaca-kaca dan berubah warna menjadi kemerahan. “Sahabatmu menghilang…” suaranya terdengar serak. “…tapi dia juga sahabatku…”

***___***

Jongdae tau mungkin perbuatannya salah besar saat ia membiarkan Chanyeol tinggal di rumah Baekhyun selama mempersiapkan pertandingan uji coba. Ia sudah keluar dari rumah sakit beberapa hari lalu dan langsung memaksa untuk berlatih setiap malam.

Dia mengabaikan seluruh nasihat dari teman-temannya yang menyuruhnya untuk tidak memaksakan diri. Bahkan sekarang Kyungsoo hanya bisa membiarkannya melakukan apapun yang dia mau karena dia mulai mengerti.

Jongdae sudah melupakan tentang pemukulan yang terjadi waktu itu dan memutuskan untuk tidak memperpanjangnya kepada pihak kepolisian. Dia pikir, Kyungsoo mempunyai alasan saat melakukannya. Untuk melindungi Chanyeol. Walaupun terkadang ia masih merasa kesal jika mengingat kejadian itu.

Seperti malam ini, mungkin masih merasa sangat menyesal atas perbuatannya dulu. Kris tidak pernah sedetikpun meninggalkan Chanyeol. Dia selalu menemani Chanyeol saat dia berlatih. Duduk di kursi yang ada disamping kemudi dengan tenang sambil memberikan nasihat apa saja yang harus ia perbaiki agar bisa mengalahkan Myungsoo nanti.

“Mungkin sebaiknya kau tidak menginjak rem dan menikung disaat bersamaan. Belokan seperti itu cukup berbahaya jika kau tidak menurunkan gasmu.”seru Kris, matanya sesekali melirik kearah Chanyeol.

“Tapi aku tidak mau kehilangan waktu.”

“Tapi, melakukan hal seperti itu bisa membuat mobilmu sliding saat kau berbelok. Mobilmu bisa berputar. Kau bisa mengerem terlebih dahulu lalu menikung.”

“Kris, jika aku melakukannya, Myungsoo akan bisa mengalahkanku.” Chanyeol tetap bersikeras.

“Tapi—“

“Aku tidak perduli. Aku tetap ingin mengalahkannya. Kali ini, aku harus menjadi orang terpilih yang akan mewakili Korea dalam pertandingan di Jepang nanti.”

Kris menghela napas panjang, kali ini Chanyeol sama sekali tidak mendengar nasihatnya. Bahkan ia tau hal yang akan dilakukannya itu adalah hal yang berbahaya.

“Bagaimana jika melakukan Drifting? Kau bisa menikung tanpa mengurangi kecepatanmu.”

Chanyeol terkejut, “Ha? Kau tau kan hal itu belum mendapat pengakuan dari FIA?”

“Belum mendapat pengakuan di FIA, tapi dipertandingan uji coba nanti semua itu diperbolehkan.”balas Kris. “Kau tau kan, mereka tidak memikirkan bagaimana keselamatanmu di arena balap, yang mereka pikirkan hanyalah tekhnik dan kau bisa menang. Mereka hanya melihat itu. Pertandingan uji coba nanti tidak berbeda jauh dengan balapan liar yang sering kita lakukan dulu.”

Chanyeol menginjak remnya tiba-tiba, kemudian menoleh kearah Kris dengan mata terbelalak. “Kau benar.”

“Kita tinggal menambahkan beberapa sparepart yang dibutuhkan untuk melakukan Drifting. Kemudian berlatih tentang tekhnik dan memperbaiki semua yang kurang.”

“Aku tidak membutuhkan tekhnik.” Chanyeol menggeleng, menatap Kris lurus sementara dia mengernyitkan kening bingung. “Aku hanya ingin menjadi yang tercepat. Tidak perduli apa peraturan yang mereka buat. Aku hanya ingin menjadi nomor satu.”

Kris balas menatap pandangan Chanyeol, ekspresinya juga berubah menjadi serius sementara hatinya merasakan kegelisahan atas kemauan sahabatnya itu.

“Kau yakin akan melakukannya lagi, Chanyeol?”

“Aku tidak punya alasan untuk tidak melakukannya.”jawab Chanyeol serius. “Aku akan melakukannya lagi kali ini.”

“Chanyeol…” panggil Kris, mencoba meyakinkan sahabatnya itu sekali lagi. “Kau pernah mengalami koma cukup lama dan aku kehilangan kakiku karena ini. Kau benar-benar yakin?”

Tidak membutuhkan waktu untuk berpikir, Chanyeol menjawabnya dengan cepat. “Bahkan jika aku kehilangan nyawaku, Kris.”

“Kenapa?”

Pandangan Chanyeol meluruh ke bawah, “Karena kau, kalian dan Baekhyun.”jawabnya pelan. “Kita sudah cukup dikalahkan, juga dipermalukan, dan aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Aku ingin menang untuk kalian. Setidaknya itu adalah balasan yang bisa aku berikan karena kalian sudah menjagaku selama ini.”

“Chanyeol, kau tau kami—“

“Aku mempunyai alasan, Kris.”potong Chanyeol tidak memberikan kesempatan pada Kris untuk bicara. “Sahabat Jongdae menghilang dan semua itu karena aku. Baekhyun juga sahabatku.”

***___***

“Jika kau mau melakukan Drifting, kau harus memasang LSD pada mobilmu. Aku akan bertanya pada temanku apakah dia mempunyai barang seperti itu atau tidak. Aku akan menghubungimu secepat mungkin.”jelas Lay, matanya tak lepas dari bagian dalam mobil Chanyeol.

“Selain itu, kita harus memodifikasi kembali Handbreak-nya, ABS, Ban dan mesin. Engine Mounting-nya juga harus diganti dan kurangi bobot mobil dibagian belakang dan pusatkan bobotnya di bagian depan.”sahut Jongdae, kedua tangannya terlipat didepan dada sembari menatap lurus kearah mobil biru itu.

Lay sontak menoleh ke belakang dengan mata terbelalak, “darimana kau bisa mengetahuinya juga?”

Jongdae terkekeh malu, menggaruk belakang kepalanya kikuk. “Aku pernah mempelajarinya sedikit. Sebenarnya sebelum memiliki mobil, aku cukup tertarik dengan dunia otomotif sehingga aku membaca banyak buku tentang itu.”

“Aku pikir kau juga pembalap dulunya.” Tambah Kris ikut tertawa.

“Haha.. tidak mungkin. Aku hanya tertarik dengan dunia otomotif bukan tertarik pada kecepatan dan tekhnik.”

Lay mengangguk-angguk mengerti.

“Aku akan mencari ban yang cocok nantinya. Membedakan ban depan dan belakang juga salah satu syarat untuk melakukan Drifting.” Chanyeol yang sangat serius sejak tadi bahkan tidak memalingkan wajahnya sedikitpun dari mobil biru itu. “Juga memasang Header, porting polishing atau piggyback pada mesin dan menyetting area Mid End-nya.”

“Hey, bisakah kalian berhenti dan memakan makanan yang telah aku buat?” Suara Kyungsoo terdengar, membuat Chanyeol, Kris, Lay dan Jongdae seketika menoleh. Mendapati namja mungil itu duduk di kursi halaman belakang dengan ekspresi kesal. “Aku sudah membuatkannya sejak satu jam yang lalu tapi kalian tidak juga menyentuhnya. Jika kalian tidak mau, aku akan memberikannya pada Byul.”ketusnya.

Semuanya tertawa, kemudian berjalan mendekati meja dan mencomot beberapa telur gulung isi daging juga ddokbukkie.

“Kalian terlalu serius membicarakan hal yang bahkan tidak aku mengerti.”

“Karena kau terlalu sibuk memahami kalkulus menyebalkanmu itu.”ejek Chanyeol disusul dengan tawa dari yang lain.

“Kyungsoo, otakmu akan meledak jika kau lebih lama mempelajarinya. Sebaiknya kau merubah haluanmu ke otomotif.”tambah Kris.

Kyungsoo mendengus, “Tidak akan pernah.”

“Ah, aku lupa. Jongdae, ada sesuatu yang ingin aku berikan untukmu.”seru Chanyeol berjalan menuju tas ranselnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. “Berikan ini untuk nyonya Byun.” Ia menyerahkan sebuah amplop putih pada Jongdae yang seketika mengerutkan keningnya.

“Ini apa?”

“Tabunganku. Bilang saja mobilnya sudah terjual dan itu adalah hasil penjualannya. Bilang juga uang itu untuk pengobatan tuan Byun dan Baekhyun.”

“Kau berniat membeli mobil itu?!” Jongdae sontak terkejut.

“Jangan khawatir.” Ia menggeleng lalu tersenyum. “Aku akan mengembalikannya pada Baekhyun setelah semuanya selesai.”

“Kalau begitu, aku tidak bisa menerima uang ini.” Jongdae mendorong kembali amplop itu kearah Chanyeol.

“Kau bisa!” Chanyeol tetap bersikeras. “Kau mau temanmu kembali, kan? Kalau begitu dia harus sembuh terlebih dahulu.”

“Chanyeol..” Jongdae menatap Chanyeol merasa tidak enak.

“Kemarin dia selalu membantuku, sekarang giliranku. Aku juga ingin Baekhyun segera kembali.”

Jongdae tersenyum haru, “terima kasih, Chanyeol.”

“Waktunya tersisa 10 hari lagi. Kita harus berusaha sebisa mungkin. Kami semua akan membantumu, Chanyeol. Kali ini, kau harus menang.”

***___***

7 hari kemudian….

“Whooa, Baekhyunnie akhirnya bisa menghabiskan kacang dan sayurnya. Charanda…” Nyonya Byun menghusap kepala Baekhyun sesekali tertawa geli.

Di tempatnya, Baekhyun merengut kesal. “Besok aku akan kembali ke Seoul, oema tidak bisa memaksaku makan makanan seperti ini lagi.’

“Aigooo, apa kau mau cepat pergi, hm?”

Baekhyun menggeleng cepat, “tentu saja tidak. Tapi aku harus melanjutkan kuliahku, kan? Oema dan appa harus cepat pulang dan tinggal bersamaku lagi.”

“Adeul, apa kau baik-baik saja jika kembali ke Seoul seorang diri?”tanya ayahnya, menatap Baekhyun khawatir.

“Tidak apa-apa, appa. Aku akan menghubungi Jongdae setelah sampai disana.” Beberapa detik kemudian Baekhyun menepuk keningnya. “Ah, aku lupa jika aku belum mengisi Baterai ponselku yang mati. Oema, bisakah aku meminjam alat charger?”

“Pergilah ke kamar oema dan isi bateraimu. Ponselmu juga oema letakkan di dalam laci kecil disamping tempat tidur.”

“Baik.”

Baekhyun bangkit dari kursi makannya, bergerak menuju kamar ibunya dan mengambil ponsel yang sudah cukup lama tidak tersentuh itu. Setelah mengisi baterainya, ia menunggu beberapa saat sebelum layar ponselnya mengeluarkan layar hitam biru hingga akhirnya memperlihatkan tampilan depannya.

“Astaga!” Baekhyun berseru kaget saat ia melihat 89 pesan masuk. “Apa semua ini dari Jongdae?”

Menekan tombol open, dugaan Baekhyun ternyata tidak sepenuhnya benar. Di daftar pesan, nomor tak dikenal berada dipaling atas disusul beberapa nama Jongdae dibawahnya.

Kening Baekhyun berkerut. “siapa ini?” Kemudian membuka pesan dari nomor yang tak dikenal itu.

Byun Baekhyun, hantu yang suka duduk diatas atap rumahmu kini sudah bangun.

Cepatlah pulang~

–      Hantu Chan –

“Hah? Siapa ini?”                      

TBC

53 thoughts on “FF: Ghost Rider (Part 15)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s