Starry Sky

 

Starry SkyAuthor : Chanminmaa

Cast: Baekhyun EXO-K, You [OC]

Genre: Friendship, Slight!Comedy, Romance, Sad

Length: >2000w [Oneshoot]

Summary:

Baekhyun punya sebuah impian dan aku harus menggagalkannya!

***

Aku mengenal Byun Baekhyun cukup lama.

Mungkin sekitar 5 tahun, 60 bulan, dan 1.825 hari. Terhitung sejak awal pertemuan kami di sekolah menengah pertama, hingga sekarang, saat tanpa terasa kami sudah berada di tahun ketiga sekolah menengah ke atas.

Baekhyun yang kukenal memang tidak pernah berubah. Dia tetap tumbuh menjadi seorang namja bodoh dengan segala ide gila yang juga ikut tumbuh memenuhi otaknya. Tsk, ngomong-ngomong soal ide gila, aku sangat ingin memukul kepalanya sekarang!

 

“Kau lihat Baekhyun?”

 

Kali ini aku bertanya pada Chanyeol—teman Baekhyun yang baru saja keluar dari studio musik. Butuh waktu sepersekian detik ketika namja itu masih diam sembari menggaruk pelipisnya (tampak sedang berfikir), dan kemudian harus menguap terlebih dahulu sebelum memberiku satu gelengan kepala sebagai jawaban.

“Tidak.”

Ugh, menyebalkan.

Aku tahu akan seperti ini jadinya. Bertanya pada Chanyeol sama halnya membuang waktuku. Tak akan ada jawaban yang kuharapkan yang akan keluar dari mulutnya.

“Lalu kemana perginya si bodoh itu?” rutukku kesal, tanpa sadar berteriak di depan Chanyeol yang masih mematung di tempatnya.

Oh, apa sekarang aku juga tampak bodoh karena terlalu mengkhawatirkannya? Mengkhawatirkan Baekhyun yang tiba-tiba menghilang sejak jam istirahat berlalu dan hanya menyisakan tas ranselnya di kelas.

Lagi-lagi pikiran konyol kembali menabrak pikiranku. Membayangkan ada berbagai kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi pada Baekhyun semakin membuatku cemas. Benar, tidak biasanya Baekhyun seperti ini. Ya, karena kemanapun dia pergi, dia akan selalu memberitahuku—well, walau itu ke toilet sekalipun.

Aku memutuskan untuk kembali ke kelas. Berniat menunggunya di sana, sesaat aku menghentikan langkahku ketika melihat tangga di ujung koridor. Seolah teringat akan sesuatu, sontak aku tergesa berlari menaiki tangga lalu membuka pintu utama yang menghubungkan tempat ini dengan balkon.

Dan…

 

Aku menemukannya!

Byun Baekhyun ada di sana. Yap, namja yang sedang terduduk di balkon, memakai balutan seragam yang sama sepertiku, serta wajah menengadah menatap langit itu, adalah Baekhyun. Si bodoh yang mencoba kabur untuk membolos pelajaran hari ini.

“Aww!” ringis Baekhyun saat aku memukul bagian belakang kepalanya.

“Berniat bunuh diri?” dengusku geli. Beranjak mengambil duduk tepat di sampingnya, kudengar Baekhyun hanya berdecak sebal—mengaduh kesakitan karena aku sudah memukulnya terlalu keras.

“Aish. Kenapa kau suka sekali memukulku?”

Terkekeh pelan, aku mendorong dahinya menggunakan satu telunjukku. “Tentu saja karena itu menyenangkan, bodoh.” kataku asal, hendak mendorong dahinya lagi, tapi Baekhyun buru-buru menangkap tanganku dan memasukkannya ke dalam saku blazer.

“Bukankah kau kemari karena mencariku, hm?”

Oh, benar juga.

“Ya.” kataku sembari mengangguk pelan.

Baru saja aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan serta mengajukan protes terkait ide gilanya yang nekat membolos seharian ini. Tapi, melihat Baekhyun yang tengah sibuk mengambil sesuatu di balik blazer-nya membuatku mengurungkan niat.

“Apa ini?” tanyaku bingung.

Aku mengerti kertas apa yang kini ada di tanganku. Hanya saja aku tidak mengerti kenapa benda ini masih ada padanya sementara seharusnya Baekhyun sudah mengumpulkannya di meja Jung Songsaenim sejak seminggu yang lalu.

Form kelanjutan study?

“Aku bertanya kenapa kertas ini masih ada padamu, Byun Baekhyun.” kataku mulai emosi.

Baekhyun hanya tersenyum selagi aku menuntut penjelasannya, “Memangnya kenapa?” ujarnya balik bertanya, sekejap membuat emosiku kian meluap-luap.

“Kau bahkan belum mengisinya sama sekali dan sekarang masih bisa tersenyum?” menghela nafas jengah, aku menatap form itu juga Baekhyun secara bergantian. “Baek, kau tahu ‘kan kalau semua murid kelas tiga yang ingin melanjutkan ke Perguruan Tinggi diwajibkan untuk mengumpulkan form ini?”

Baekhyun mengangguk.

Dia. Hanya. Mengangguk.

Hey! Reaksi macam apa itu? Masa depannya sedang dipertaruhkan. Apa hanya itu reaksi yang dia tunjukkan?

“Aku tidak berniat mengisinya, oke? Aku tidak tertarik.” jawabnya tak acuh, lagi-lagi menunjukkan cengiran lebarnya—bersikap seolah ini bukanlah masalah besar yang perlu di perdebatkan. “Lagipula aku sudah mempunyai rencana lain.”

Rencana lain?

“Benarkah?” ya, itu cukup melegakan.

Byun Baekhyun—si bodoh itu mempunyai rencana lain dan itu sungguh melegakan. Kupikir hanya akan ada ide gila di otaknya yang imajinatif itu, tapi aku salah. Byun Baekhyun tidak segila itu (setidaknya dia masih memiliki rencana lain) dan itu artinya dia masih memikirkan masa depannya.

“Jadi, rencana apa yang kau maksud?”

***

“Bisakah kau membuka pintunya?”

“Tidak.”

“Kalau begitu aku akan menunggu.”

 

Kau tahu…

Terkadang aku sangat ingin membelah kepala Baekhyun. Aku ingin membelah kepalanya karena dengan begitu aku akan tahu apa yang ada dalam pikirannya. Pikirannya yang tidak bisa kumengerti!

Penyanyi?!

Apa bagusnya pekerjaan itu?

 

Apa bagusnya ketika kau berdiri di atas panggung?—melantunkan nada-nada merdu, sementara saat kau selesai orang-orang hanya akan memberimu ‘tepuk tangan’ sebagai hadiah.

Apa bagusnya ketika kamera itu hanya menyorotmu?—memperlihatkan jerawat atau apapun yang bisa saja membuatmu malu seumur hidup.

Apa bagusnya jika jutaan gadis itu menjadi fans-mu?—mengikutimu kemanapun kau pergi dan mengganggu hari-harimu yang menyenangkan

Apa bagusnya jika memiliki kehidupan semacam itu?—menjadi terkenal, lalu seluruh orang di dunia ini akan mengagumimu sebagai seorang selebriti.

 

Apa bagusnya semua itu hingga Byun Baekhyun bilang dia ingin menjadi seorang, Penyanyi?

“Bagaimana dengan sekarang? Bisakah kau membuka pintunya?” teriak Baekhyun dari luar.

Menggeram kesal, aku beranjak dari ranjang dan membuka pintu kamar dengan kasar. Besidekap enggan karena, ya, aku masih kesal setengah mati padanya. Aku marah dan tidak ingin melihat wajahnya—tapi, Byun Baekhyun terlanjur datang di saat yang tidak tepat.

“Kau marah padaku, ya?” tanyanya dengan wajah polos. Oh, perlukah kau menanyakannya lagi?

“Tidak.”

Baekhyun tertawa, masuk begitu saja ke dalam kamarku tanpa di persilahkan, kemudian duduk di dekat jendela di sudut ruangan: tempat favoritnya saat menyelinap ke rumahku setiap malam.

“Terlihat jelas kalau kau sedang berbohong.” ejeknya, sontak membuatku bertubi-tubi melemparkan tumpukan bantal padanya.

“Tsk, kau menyebalkan Byun Bacon.” dengusku, perlahan ikut duduk di sampingnya. Lagi-lagi kejadian tadi siang kembali mengusik pikiranku, masih tak habis pikir darimana Baekhyun mendapatkan lelucon konyol itu dan berani melontarkan hal paling gila sepanjang eksistensi hidupnya pada orang sepertiku—orang pertama yang akan menentang impiannya.

Penyanyi?

Sebenarnya, tak ada salahnya dengan itu.

Ya, harus kuakui kalau Baekhyun memiliki suara yang sangat merdu (aku pernah mendengarnya bernyanyi di pentas seni) dan aku terkesima. Dia juga terlihat seribu kali lipat lebih keren saat sedang memainkan piano di studio musik. Tapi, lebih dari sekedar itu…ada ketakutan luar biasa yang membuatku seperti ini.

“Kau bisa menjadi Pengisi Suara.” cicitku pelan, memainkan boneka teddy bear di pangkuanku seraya menatap Baekhyun yang juga sedang menatapku, “Atau Penyiar Radio.” tambahku, berharap Baekhyun akan berubah pikiran.

“Lalu?”

“Lalu berhentilah bermimpi menjadi Penyanyi, apalagi?”

Pft, aku tahu itu terdengar sadis.

Tapi, Baekhyun hanya tersenyum menanggapi perkataanku. Sejenak menghela nafas pelan sebelum jemarinya beringsut mengambil satu telunjukku dan menggerak-gerakkannya ke atas langit, seakan memberiku isyarat untuk segera menebaknya.

“Gunakan mulutmu dan bicaralah Baek. Kau tahu aku tidak suka main tebak-tebakan.” tandasku malas.

Baekhyun mendesah, memilih menyerah dan kali ini menunjuk keluar jendela menggunakan telunjuknya sendiri, sedangkan aku mengikuti arah pandangnya. “Bintang” gumamnya tak jelas, “Aku ingin bersinar seperti bintang.”

Apa?

“Bersinar seperti bintang?” ulangku tak mengerti, “Kau pasti tidak waras. Itu mustahil, bodoh!” aku menjitak kepalanya dengan sangat keras dan Baekhyun terlihat begitu frustasi—menatapku tak sabaran.

“Bintang bersinar = Penyanyi terkenal.”

Aku mengangguk paham.

“Perumpamaan yang aneh,” komentarku seadanya. Untuk saat ini berhenti menunjukkan sikap penolakan dan berpura-pura mengalah selagi aku tetap berpikir bagaimana cara membuat Baekhyun melupakan mimpinya menjadi Penyanyi.

***

Setiap orang memiliki sebuah impian, bukan?

Dan bagi sebagian orang seperti Baekhyun, mereka menganggap hal itu adalah segalanya. Obsesi yang harus diwujudkan bagaimanapun caranya. Meski itu terdengar tidak logis—terlalu memaksa dan terlalu banyak hal yang perlu dikorbankan.

“Aku membencimu, Baek!” teriakku berang.

Bukan tanpa alasan mengapa aku tiba-tiba berteriak seperti orang kesetanan sementara kini aku dan Baekhyun sedang berdiri di tengah hujan deras. Baiklah, mungkin sebaiknya kami berteduh terlebih dahulu atau membicarakan masalah ini baik-baik di café.

 

Tapi, siapa yang peduli akan semua itu ketika emosimu sedang berada di puncak kemarahan?

 

Aku melayangkan sebelah sepatuku hingga mengenai tepat di punggungnya, “Aku sangat membencimu!” isakku kencang, mati-matian menahan diri untuk tidak menangis lagi. “Kau…pembohong.”

Sejenak diam, sesaat Baekhyun berbalik dan balas menatapku dalam. Berjalan menghampiriku yang sekarang justru terduduk di jalanan—membenamkan wajah diantara tumpukan lengan dan lutut, serta menangis sejadi-jadinya.

Pembohong?

Ugh, ya.

Baekhyun pernah berjanji padaku saat itu. Dia bilang dia akan mengabulkan permohonan di hari ulang tahunku yang ke 18 tahun. Dia bersedia melakukan segala hal yang ku mau, Baekhyun setuju kala itu dan dia berjanji padaku!

Dia sudah berjanji, tapi malah mengingkarinya hari ini.

“Maaf.”

“Aku tidak butuh maafmu, Baek.” desisku dingin, berusaha mengalihkan pandanganku ke arah lain. Aku hanya ingin kau melupakan mimpimu!

Silahkan menyebutku sebagai satu-satunya orang yang egois di sini. Tokoh antagonis yang selalu berusaha untuk menentang impian Baekhyun, lalu parahnya kali ini—tepat di hari ulang tahunku yang ke 18 tahun—aku berniat memaksanya menjadi genie dan mau menuruti permintaanku agar melupakan mimpinya sebagai seoarang ‘Penyanyi’.

Apa aku begitu kejam?

“Kau tidak akan mengerti.” kataku memulai lagi pembicaraan, air mata menyeruak keluar selagi aku memejamkan mata, “Kau tidak akan mengerti apa yang kutakutkan.”

Kau tidak akan mengerti betapa takutnya aku saat mendengar impianmu itu, Baekhyun-ah. Kau tidak akan mengerti seberapa besar yang kutakutkan ketika membayangkan seandainya kau benar-benar menjadi seorang Penyanyi.

“Hei, kau bisa mengatakan semuanya padaku.” ujar Baekhyun lembut, setengah berjongkok di hadapanku. “Apa yang kau takutkan itu tidak akan pernah terjadi.”

Kata-kata itu memang terdengar menenangkan Baek, tapi…

“Bisakah aku mempercayaimu?”

Baekhyun mengangguk, “Tentu.” jawabnya gamblang. Tanpa ragu mengulurkan jari kelingkingnya padaku, “Kalau kau mau, kita akan membuat janji mulai dari sekarang.”

Beranji, lagi?

Semudah itu?

Tertawa kecil, aku menampik pelan jari kelingkingnya. “Tidak perlu, bodoh.”

Tak apa…tidak perlu berjanji lagi.

 

Karena Byun Baekhyun sudah menentukan jalan hidupnya, maka tak ada lagi yang bisa kulakukan. Hanya berusaha merelakan keputusannya serta berharap bahwa dia akan selalu mendapatkan yang terbaik. Hidup bahagia atas pilihannya sendiri.

.

.

.

Atau mungkin tidak…

.

.

.

Harusnya aku tahu bahwa aku tidak akan pernah bisa merelakan keputusan Baekhyun saat itu. Mungkin lebih baik aku tetap bersikeras—bersikap egois dan melakukan segala cara agar Baekhyun bisa melupakan mimpinya, melakukan apapun jika saja aku tahu akan begini jadinya!

“Apa kau baik-baik saja?”

“Tentu.”

“Kau terlihat kurus.”

“Tidak, berat badanku naik.”

Mendesah pelan, aku menatap kesal ke arah Baekhyun yang tengah duduk di sebelahku. Melihat penampilannya yang tampak berlebihan benar-benar membuatku malas.

“Well, bisakah kau lepaskan benda itu dari wajahmu?” tanyaku sarkastis, “Demi tuhan Baek, untuk apa kau masih mengenakan kaca mata hitam padahal kau sedang berada di kamarku sekarang. Dan ini pukul 2 dini hari, ingat? Kau persis seperti orang gila.” cibirku.

Baekhyun tertawa, menyadari kebodohannya tapi enggan melepaskan kaca mata itu. “Nope. Ini adalah penyamaran, oke? Jangan protes.”

Penyamaran?

Oh, ya. Aku bahkan hampir saja melupakan fakta terpenting sekaligus topik utama tentang alasan kenapa aku begitu membenci impian Baekhyun sampai kapanpun. Katakan aku egois, katakan aku orang paling jahat di muka bumi, katakan aku adalah satu-satunya sahabat yang tidak ikut berbahagia di saat sahabatnya meraih kesuksesan—berhasil menggapai impiannya.

“Aku punya gambarmu yang sedang mengupil di Bandara! Ugh, itu memalukan Baek.” ujarku antusias, berniat memberikan sedikit pukulan pada Baekhyun (asal tahu saja, aku memiliki rencana untuk ini : aku ingin Baekhyun tidak menjadi Penyanyi lagi).

“Itu wajar dan itu manusiawi.”

“Aku punya video saat kau berteriak ketakutan di rumah hantu! Wow, aku tidak percaya kau membiarkan dunia melihatnya.” ujarku tak kalah antusias

“Semua orang bilang itu lucu.”

Hell, baiklah aku harus memutar otak sekarang. Sungguh di luar dugaan, karena ternyata hal yang paling memalukan menurutku justru tampak biasa bagi Baekhyun—tampak biasa bagi fans-nya.

“Kau punya majalah?” tanya Baekhyun tiba-tiba. Aku mengernyit bingung selagi Baekhyun tertawa kecil, memalingkan pandangannya ke luar jendela. “Apa kau punya majalah dimana ada sebuah artikel yang mengatakan sesuatu tentangku?”

Aku tahu maksudmu. Pft, katakan lebih jelas Baek.”

Baekhyun menggeleng pelan, sesaat mengulas senyum simpul. “Tidak, lupakan saja.”

Aku mungkin tidak punya majalah itu, tapi aku punya komputer dan itu artinya aku tahu segalanya. Aku tahu segalanya tentangmu—apa saja yang sedang terjadi padamu saat ini. Scandal of a famous singer – Byun Baekhyun. Salah satu alasan yang membuatku semakin membenci impianmu itu.

Yes. Because you call me ‘best friend’
I know, loving you is a mistake

You may more priority your dreams than I.
You may fall in love with another girl someday, and it was not me

But it’s okay…

“Kau bisa meminjam bahuku untuk menangis, Baek. Kita sahabat, bukan?”

“Apa?”

“Aku tahu masalahmu.”

Yes. because whatever you do, I will always be by your side. I will support you as a best friend and still love you (behind the mask) as a best friend too.

FIN

N/A :

LolLolLol😄 Wks, I know this is not fanfiction already. Mungkin lebih tepat di sebut curahan hati terdalam -_- kekeke. Maksud hati bikin Comedy-Romance, tapi…apa daya karena ‘Scandal of a famous singer’ bikin aku down setengah hidup. Semua berantakan, alur nggak jelas, dan judul absurd >.< huahahaha.

But it’s okay, komen kalian tetep aku tunggu. Say what you want about this weird story (don’t bully me, okay?).😄 Pai-pai~

 

 

 

 

 

 

6 thoughts on “Starry Sky

  1. kiszmyluhanzn berkata:

    “Yes. Because you call me ‘fans’
    I know, loving you is a mistake”
    like this word but with little edit😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s