Reflection (Chapter 1)

Reflection poster

Title : Reflection (Chapter 1)
Author : Jung Ri Young
Main Cast : Oh Sehun || Luhan || Zhang Yixing || Park Chanyeol
Genre : Family, Brothership , School life
Rating : General
Length : Chaptered
Disclaimer : All cast belong to God, parents and SMEnt.
Summary : “Aku memiliki tanggung jawab pada perusahaan ketika besar kelak. Aku mengerti eomma, appa.”

Moment yang paling membahagiakan bagi seorang istri adalah bersanding dengan suami sembari menanti kelahiran sang putra. Hal itulah yang kini sedang dirasakan oleh Im Yoona., seorang wanita yang beruntung dapat membina rumah tangga bersama putra tunggal konglomerat, Jung Yunho.
Yoona adalah wanita dari keluarga sederhana. Masa remajanya jauh dari kata bahagia. Orang tuanya tewas secara tragis hanya karena sebuah rumor mistis. Ya, keluarga Im terkenal dengan rumor bahwa mereka keturunan penyihir. Mereka memiliki kemampuan-kemampuan diluar akal sehat manusia. Semenjak itu, banyak terjadi kekacauan di daerah tempat tinggal Yoona. Siapa lagi kalau bukan ulah mereka? Dan disitulah pasangan Im harus membayar. Mereka tewas dipenggal massa.
Peristiwa itu sudah lama ia lupakan. Yoona pindah ke ibukota, merantau untuk menghidupi dirinya yang sebatang kara. Ia bekerja siang malam hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria. Pria mapan yang menjanjikannya kebahagiaan. Jung Yunho menikahinya.
Yunho duduk disamping istrinya, mengelus perut buncit itu untuk yang kesekian kali. Ia terlihat sangat bahagia menanti kelahiran putra pertamanya.
“Perutmu semakin besar, yeobo.”
Yoona tersenyum, mengangguk pada suaminya, “tentu yeobo. Waktunya sudah dekat.”
“Aku harap anak kita laki-laki. Agar kelak dapat meneruskan bisnis keluarga kita.”
“Perempuan atau laki-laki sama saja. Dia tetap akan menjadi anak paling beruntung memiliki ayah perhatian sepertimu.”
“Kau ben—“
“Akhh..!!”
Yunho terhenyak mendengar jeritan istrinya. Seketika wajahnya menegang, “Yoona-ya? Wae?”
“Akh..perutku..sepertinya sudah wa-..akh yeobo!!”
Yoona mengerang kesakitan, membuat Yunho panik setengah mati. Ia berteriak memanggil supirnya utuk menyiapkan mobil. Ia tahu, istrinya akan melahirkan.
.
-xoxo-
.
Suasana ruang tunggu hening mencerkam. Dokter memutuskan melakukan operasi ketika mendapati keadaan Yoona yang sangat lemah. Yunho tak dapat duduk diam, membuat orang tuanya harus turun tangan menenangkan putra semata wayangnya.
“Duduklah, adeul. Anak istrimu akan baik-baik saja.”
Yunho mendesah, tak yakin dengan ucapan eommanya.
Soerang pengawal keluarga tiba-tiba datang dengan tergesa. Menyampaikan informasi pada tuannya, “permisi, tuan besar. Para wartawan menunggu di luar untuk meliput kelahiran putra tuan muda Yunho.”
“Suruh mereka menunggu. Istri Yunho masih dalam proses persalinan.” perintah tuan Jung.
Nyonya Jung menepuk pundak putranya, “sebaiknya kau sendiri yang menemui mereka, Yunho-ya, agar tidak terjadi keributan. Kelahiran calon pewaris keluarga Jung pasti sudah mereka tunggu-tunggu beritanya.”
“Nde eomma. Aku akan menemui mereka, tapi hanya sebentar. Yoona pasti lebih membutuhkanku.”
Nyonya dan tuan Jung mengangguk setuju.
Yunho berjalan menuju pintu keluar bersamaan dengan dokter keluar dari ruang operasi.
“Keluarga nona Im Yoona?”
“Ya, dok. Kami orang tua Yoona. Bagaimana anak dan cucu kami?”
“Sebaiknya kita bicarakan di ruangan.”
.
-xoxo-
.
“Selamat ,anak dan kedua cucu anda lahir dengan selamat.”
“Dua?” Jawab nyonya dan tuan Jung bersamaan.
“Benar, nona Yoona melahirkan putra kembar.”
“Ah, benarkah? uri Yunho pasti bahagia sekali.”
“Tapi, ada sedikit masalah pada salah satu dari mereka. Salah satu putra nona Yoona memiliki kelainan jantung. Dari segi fisik mungkin tidak akan terlihat, tapi akan terjadi beberapa masalah kesehatan seiring ia tumbuh. Bahkan aku tidak bisa menjamin ia dapat hidup normal ketika dewasa kelak.”
Penuturan menyakitkan itu membuat mereka terkejut. Ini tidak mungkin. Anak-anak itu adalah calon pewaris dari keluarga Jung. Mereka harus menjadi anak yang kuat. Mereka tidak boleh cacat. Karena mereka adalah cucu dari keluarga bangsawan kaya raya yang tersohor.
“Ini tidak mungkin, dok!”
“Maafkan saya, nyonya, tuan.”
Nyonya Jung mulai kalap, “tidak!! Ini tidak bisa dibiarkan! Yeobo, apa yang kau tunggu? Suruh pegawaimu menyingkirkan anak cacat itu!”
“Kau gila? dia anak Yunho! cucu kita yeobo!!”
“Tidak! cucuku bukan anak cacat seperti itu. Singkirkan ia sekarang! para wartawan sudah menunggu.!!” nyonya Jung mulai berteriak histeris. Ia tidak mau keluarganya tercoreng karena pemberitaan cucunya yang tidak normal. Mereka terlahir kembar bukan? memiliki satu orang cucupun tidak masalah.
Setelah diskusi menegangkan, akhirnya mereka setuju bahwa anak tersebut akan dibawa oleh asisten sang dokter. Dokter itu tidak tega membuangnya, jadilah ia menawarkan susternya untuk mengasuh cucu keluarga Jung. Setelah berbagai perjanjian yang intinya tidak boleh menyangkut pautkan anak itu dengan keluarga Jung, mereka keluar ruangan. Memberi kabar pada Yunho.
“Yunho-ya, putramu—“
nyonya Jung menangis, meneteskan air mata buaya di depan Yunho. Seakan ia merasakan kepedihan atas penuturan dokter yang mengatakan salah satu putranya tak tertolong. Sedangkan Yunho hanya terdiam, duduk memegang tangan Yoona yang masih belum sadar. Ia ingin sekali menangis, ia sangat terpukul. Tetapi ia harus tegar, demi Yoona dan putranya yang lain.
.
-xoxo-
.
Beberapa hari berikutnya media penuh dengan pemberitaan keluarga Jung. Tentang lahirnya sang pewaris dan kematian saudara kembarnya. Ia menjadi begitu terkenal hanya beberapa hari setelah lahir ke dunia. Jung Luhan, calon pemegang tahta kekuasaan keluarga Jung yang kaya raya.
Seperti yang pernah Yoona katakan, Luhan tumbuh menjadi anak yang beruntung. Ia tak pernah kekurangan perhatian dan kasih sayang. Orang-orang begitu menyayanginya karena parasnya yang menggemaskan. Berbagai moment berharga tak pernah luput dari perhatian, seperti saat pertama kali ia berjalan, bicara, bahkan moment saat Luhan lulus sekolah menengah pertama selalu menjadi perhatian keluarga. Bahkan publik tak ingin ketinggalan perkembangan sang pewaris.
“Nilai ujianmu sangat bagus, Luhannie.” Yunho mengacak rambut putranya bangga.
“Tentu saja, aku kan pintar seperti appa!”
Jawaban Luhan membuat pasangan itu tersenyum. Mereka terlihat sangat bahagia menikmati waktu liburan bersama Luhan, karena biasanya Luhan akan memilih mengunci diri di dalam kamar sambil belajar.
“Jadi, kau yakin akan melanjutkan ke sekolah menengah atas?”
Luhan menoleh pada eommanya, memasang wajah memelas, “eomma, sudah kubilang aku tidak mau home schooling. Aku ingin bermain seperti anak-anak yang lain.”
“Hidupmu bukan untuk bermain-main, sayang. Kau mem—“
“Aku memiliki tanggung jawab pada perusahaan ketika besar kelak. Aku mengerti eomma, appa.” Sahut Luhan bosan. Kata-kata itu sudah tertancap di otaknya sejak jauh-jauh hari. Luhan memang terlahir untuk menjadi seorang pemimpin, jadi semua dalam dirinya benar-benar dipersiapkan sejak dini.
“Lagipula ada Yixing, bukankah ia selalu menjagaku?”
Yunho dan Yoona mengangguk. Mereka bersyukur anak pegawainya berusia sama dengan Luhan, jadilah Yixing diperintahkan untuk menjaga Luhan ketika ia berada di luar pengawasan keluarga. Yixing memang bukan orang yang menyenangkan, pribadinya cenderung tenang. Namun Luhan sangat nyaman berada di dekatnya karena ia pikir Yixing tidak terlalu banyak protes dengan segala tingkah Luhan. Yixing menjaganya dalam diam.
.
-xoxo-
.
“Mari berangkat, tuan muda. Waktu kita tidak banyak.”
“Panggil namaku, Yixing! Harus berapa kali kubilang! kau adalah temanku, oke?” Luhan menggerutu sambil memasuki mobil. Ia benar-benar tidak suka sebutan ‘tuan muda’ keluar dari bibir temannya. Itu terdengar menggelikan.
Yixing mengangguk, tersenyum sekilas pada tuannya kemudian duduk di bangku belakang.
“Kita satu kelas kan?”
“Sepertinya tidak tu-Luhan. Aku terpaksa masuk kelas 1B karena nilaiku tidak setinggi milikmu. Kau berada di kelas 1A, bukan?”
Luhan mengigit bibir bawah, ini pertama kali baginya harus berpisah kelas dengan Yixing.
“Aku akan menghampirimu ketika jam istirahat, jangan khawatir.” tambahnya menenangkan.
Suasana gedung sekolah sangat riuh dengan banyaknya siswa baru. Mereka berlalu lalang mencari ruang kelas masing-masing. Ditambah para senior yang ikut memperhatikan membuat koridor terasa sempit. Luhan bahkan harus berpegangan pada Yixing agar tidak terpisah.
“Masuklah, kelasku ada di sebelah.”
‘Terimakasih, Yixing.”
.
-xoxo-
.
Seperti biasa, dimanapun Luhan berada ia selalu menjadi sorotan. Hari pertamanya masuk sekolah terasa sedikit terganggu karena perhatian berlebih dari guru dan teman-teman barunya. Tak sedikit dari mereka yang mendekatinya, berharap menjadi teman Luhan.
Yixing menepati janji untuk menghampiri Luhan pada jam istirahat. Ia duduk dikursi kosong sembari membaca sebuah buku, sedangkan Luhan asyik dengan Ipod dan headshetnya. Begitulah mereka sampai Luhan bosan dan beranjak.
“Mau kemana?”
“Mencari angin, disini membosankan. Kau kembalilah ke kelasmu.”
Luhan menapakan kaki keluar ruangan, mulai menelusuri sudut-sudut sekolah barunya. Yixing mengikuti dengan jarak yang cukup jauh. Seperti biasa, ia memperhatikan tuannya dalam diam.
Luhan beberapa kali mengangguk ketika berpapasan dengan orang lain, Ia berusaha ramah terhadap semua orang yang menyapanya. Sopan santun adalah hal yang sangat penting di keluarganya, dan ia telah mempelajari sejak kecil.
Langkah kaki membawa Luhan pada taman samping sekolah. Dinding kaca yang tembus pandang memperjelas pemandangan luar yang sangat indah. Luhan tersenyum, ia suka taman, ia suka udara segar dan ketenangan yang ditawarkan.
Ketika semakin mendekati pintu, ia tertenggun. Luhan melihat bayangan dirinya terpantul dengan jelas. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap cermin di depannya, kemudian refleksi dirinya juga melakukan hal yang sama. Ia memiringkan wajah, refleksi di depannya juga memiringkan wajah. Ia tersenyum, menyadari hal bodoh yang dilakukannya. Sedetik kemudian matanya melebar, ini bukan cermin, ini pintu kaca! Jadi, sosok yang ada dihadapannya itu?
Luhan membuka pintu dengan terburu-buru. Ingin memastikan apa yang ia pikirkan. Benar saja, sosok itu tidak hilang walau ia telah melewati pintu dan berdiri membelakanginya. Sosok itu nyata, seseorang yang memiliki wajah sama dengan dirinya. Luhan nyaris tak bisa menutup mulutnya yang ternganga melihat visual di depannya. Ia terkejut, tentu saja. Namun keterkejutannya tidak berakhir sampai di situ ketika tiba-tiba sosok di depannya mendorong keras Luhan hingga jatuh terjerembab.
Ia membuka pintu dan melirik sinis pada Luhan. “Kau menghalangi jalanku.”
.
-xoxo-
.
“Kau baik-baik saja?” Yixing mengulurkan tangan pada Luhan, membantu tuannya berdiri.
“Tidak apa-apa, Yixing-ah. Aku hanya tersandung.”
Yixing mengangguk, mengikuti Luhan yang berjalan menghampiri bangku taman. Ia melihat dengan jelas apa yang terjadi sebelumnya, tetapi ia memilih diam karena ia rasa Luhan sama terkejutnya dengan dirinya.
Seperti yang sudah Yixing duga, Luhan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia juga memikirkan kejadian tadi, penasaran dengan orang yang memiliki wajah sama persis dengan orang yang duduk di sebelahnya saat ini. Walaupun sepenglihatan Yixing, mereka sedikit berbeda, tetapi secara keseluruhan mereka berdua bagai pinang dibelah dua.
.
.
-TBC-

Bonus Pict Luhan & Yixing

Luhan & his reflection

15 thoughts on “Reflection (Chapter 1)

  1. kyuRiani18 berkata:

    Iiisshhhh aq kecewa dgn ff ini, kok singkat banget..aq jd mati pnsaran nih authornim pngen tau apa tanggapan sehun..smga chapter 2 bs sgera rilis dan ceritanya agak panjang yaa…fighting.

  2. adezenianggraeni berkata:

    Waaaah brothership again? Aku suka aku suka. Lanjut thor ff nya kereeen jangan lama-lama yah 🙂 semangat 😉

  3. Shin Seul Gi_99HunHan shipper berkata:

    Mnulutku jga mlif xo hunhan ffa..dlu aj ga bza bedain#ga dha yg nanya..it hun ffa tinggal dmana?d’azuh ziafa??xo kyak’y jutek zieh..hduf’y ga bhgia yah??!xo nenek’y hunhan ffa jhat bgt zieh??kzian tf hunhun ffa’y..aigoooo dtnggu yah next fenathalan..cayoo^^

  4. Ava berkata:

    wah, suka nih ff…
    tapi kasihan kan kembarannya luhan…
    kembaran luhan itu sehun ya??
    wah, ditunggu next chapternya…
    keep writing… : )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s