Luhan’s Hobby is Boring

 Luhan-3-luhan-35390916-500-614

Tittle    : Luhan’s Hobby is Boring

Author : erfaa_

Cast     : EXO

Length: OneShoot

Genre : Hurt/Sad, Friendship, School life

Rate     : PG-15 (Ada beberapa kata yang kasar)

Menghitung panjang pensil dengan penggaris. Entah apa yang dilakukan Luhan sekarang, dia hanya sedang mencari keusilan. Terlalu penat dengan materi dihadapannya. Seperti ayam yang terus berjalan dan berkotek. Luhan tak bisa diam. Ia cepat sekali bosan. Tak seperti teman-temannya yang akan langusung beralih ke smartphone terbaru di pasar elektronik. Mengapa ia hanya mengukur panjang pensil ? Ia terlalu bosan, terlampau sangat bosan dengan gadget yang baru dibelinya kemarin. Ia bosan dengan suasana kelasnya, ia bosan dengan teman-temannya sekarang, ia bosan dengan rayuan gadis-gadis yang memujinya tanpa henti.

Luhan akan terus berkutik selama kedua bola matanya terjaga, dan akan diam jika malam sudah tiba. Well… dia tidak bisa diam, dan cepat bosan. Keputusannya saat ini hanyalah mengukur semua barang yang ada di dalam tasnya lantas menunggu bel pulang, kemudian setelah itu mencari keusilan lain. Tapi Luhan tidak tahu, karena kebosanannya itulah, ia membuat dirinya kehilangan makna-makna berarti dalam hidupnya. Ia sama sekali tidak tahu dan tidak peduli.

KRING…

Luhan tersenyum kecil. Bel yang sudah ia tunggu sedari tadi sudah bersenandung ria di seluruh arena sekolah. Sigap, ia mengemas barang-barangnya ke dalam tas, kemudian berlalu keluar dari gedung pendidikan itu. Sebelumnya…

“Luhan ! Ayo kita latihan basket !” seseorang menegur Luhan.

“Aku tidak mau.” Luhan singkat.

“Tapi hyung.. kita sangat membutuhkan skill-mu kali ini. Pertandingan selanjutnya kita akan melawan sekolah laki-laki Yonsei High School. Kau tahu kan betapa tangguhnya mereka ?” Seseorang itu memohon. Hyung ? Well… anak ini adalah seorang junior Luhan.

“Aku tidak mau Kris… aku bosan dengan basket.” Jawab Luhan tajam, kemudian berbalik meninggalkan juniornya yang bernama Kris.

Wajah Kris menunjukkan kekecewaan. Ia tidak tinggal diam. Ia mengejar Luhan, mencekal pundaknya, dan…

BUKK ! Sebuah pukulan tepat mengenai wajah Luhan.

“Itu… sebuah pukulan yang pantas untuk seseorang sepertimu. Hyung !” Kris yang menjabat sebagai Ketua Club Basket itu meninggikan suaranya, menarik perhatian kecil di dekat mereka. Ya, tontonan yang sedikit menarik diantara dua pria tampan ini.

“Terserah apa katamu Kris. Maaf aku keluar !” Luhan berlalu meninggalkan Kris sambil menyeka sedikit cairan merah di ujung bibirnya, hadiah dari Kris. Dan ini semua terjadi karena Luhan ‘Bosan’.

Tidak hanya Kris, sudah banyak orang yang menjadi korban akan harapan tinggi dari pria sempurna seperti Luhan. Bukan harapan tinggi dari sebuah kata cinta, tapi ini harapan yang lebih dari kata cinta. Kesetiaan dan Kepercayaan.

***

 

“Ampun Tao, kau benar-benar akan memukulku dengan tongkat itu kan ?” Luhan berlari secepat mungkin. Di belakangnya ada seorang pria berwajah garang dengan sebuah tongkat di tangannya juga ikut berlari. Tidak, dia bukannya ikut berlari. Tetapi ia mengejar Luhan.

“Luhan hyung, kau jahat, kau jahat hyung.” Tak disangka, pria yang mempunyai wajah garang itu menangis. Sangat kesal, Ia akhirnya melempar tongkat yang dibawanya ke arah Luhan. TTAK ! Meleset, Tao melemparnya terlalu jauh. Memang tongkat itu hampir mengenai Luhan, Faktanya tongkat itu hanya berjarak kurang dari 1 meter di depan Luhan. Luhan berhenti. Tak percaya Tao benar-benar semarah itu. Menengok sekilas ke arah Tao yang berada di belakangnya. Iba.

Tao kini terduduk menangis, menyembunyikan wajah di balik kedua lututnya. Di samping wajahnya yang garang itu, laki-laki itu memiliki hati yang sangat sensitif. Luhan berbalik mendatangi Tao yang sedang menangis itu.

“Tao… !” Luhan tidak mengerti apa yang harus ia ucapkan. Ini pertama kalinya ia melihat Tao menangis.

“Pergilah hyung, aku sudah tak mempercayaimu lagi. Ku- kupikir kau benar-benar tertarik dengan club martial arts ini. Pergilah… aku ingin sendiri. Hiks..” Suara Tao terdengar berat.

“Tao…aku tidak mengerti harus berbuat apa !” Luhan benar-benar tak tega, ia berusaha meletakkan tangan di atas pundak Tao, tepat sebelum itu lengan Tao sudah menepis tangan Luhan.

“Aku bilang pergi, aku benar-benar tidak akan mempercayaimu lagi hyung.” Kali ini Tao menatap wajah Luhan. Terlihat mata Tao memerah. Sirat matanya kini benar-benar menunjukkan perasaan kecewanya terhadap Luhan.

Luhan mundur selangkah, terjatuh. Ia kemudian berlari meninggalkan Tao yang masih menangis. Otaknya masih dipenuhi dengan pertanyaan Apakah yang aku lakukan ini salah ?

*****

“Suho , ini artikel terakhirku.” Luhan menyerahkan satu bindel kertas di atas meja ketua club jurnalistik. Seseorang yang sedang duduk di belakang meja itu terdiam sesaat, menghentikan kegiatan mengetiknya. 1 detik. 2 detik.. 3 detik… Suho kemudian merespon ucapan Luhan tadi.

“Oh, wae ? Kau akan berhenti ?” Suho bertanya tenang.

“Ya begitulah, aku akan mencoba hal yang lain. Ketertarikanku dengan jurnal mulai pudar. Apakah tidak apa-apa ?” tanya Luhan takut-takut.

“Tentu saja, terima kasih sudah bergabung Luhan hyung !” Suho tersenyum… paksa. Luhan tidak tahu itu, karena menurutnya senyum Suho sama saja dengan yang biasanya.

“Ah, Terima Kasih Suho. Semoga club ini makin jaya.” Luhan tersenyum, mengangkat tangannya membentuk kepalan tangan ‘Fighting’ kemudian keluar dari ruangan itu.

“Sudah kuduga, meskipun kau mempunyai bakat sastra di atas rata-rata itu. Kau hanya akan bermain-main dengan dunia jurnal ini.” Ucap Suho dalam heningnya, tepat setelah Luhan menutup pintu. Tersenyum sekilas, ia lebih memilih melanjutkan pekerjaannya.

*****

Dinginnya malam itu benar-benar sangat menusuk. Salju turun semakin lebat, tetapi sesosok mungil itu seperti tidak berniat untuk berlindung dari salju ini. Kedua telapak tangannya dimasukkan ke dalam saku jaketnya, ia sudah berada di taman itu sejak 2 jam yang lalu. Setiap 5 menit sekali ia terus melongok melihat jam tangannya. Gelisah, kakinya tak bisa diam. Ia menunggu seseorang. Bukannya tak bermaksud untuk mengubungi nomor kontaknya, tapi nomor kontak orang yang sedang ditunggunya tidak aktif. Tidak ada jawaban.

Kemampuan otaknya mencetuskan beberapa kemungkinan yang menimpa orang yang ditunggunya saat ini. Apakah dia sakit ? Kecelakaan ? Tidak mungkin seseorang seperti dia haruslah kuat. Apakah dia sakit ? Tidak, dia di sekolah tadi sangat sehat. Apakah dia lupa ? Eiyy, mana mungkin ? Ia menyangkal keras. Ia masih tetap menunggu, dia yakin seseorang yang dipanggilnya ‘sahabat’ sekaligus ‘hyung’ itu akan datang. Karena sahabatnya itu sudah berjanji.

“Kyungsoo hyung ?” Ia mendengar namanya dipanggil. Ia tersenyum, orang yang ditunggunya sudah datang- setidaknya itu yang ada di pikirannya.

“O-Oh, Jongin ?” Ia yang bernama kyungsoo itu menyadari, bukan orang yang ditunggu-nyalah yang datang. Melainkan seseorang yang bernama Jongin. Senyumnya perlahan memudar.

“Mengapa kau berada di luar.. kau tahu cuacanya sedang..”

“Buruk, aku tahu !” Kyungsoo memotong perkataan Jongin, memaksakan senyum.

“Lantas, mengapa kau masih disini. Ayo, kita pulang !” Jongin hendak menggandeng tangan kyungsoo, tetapi kyungsoo sigap memasukkan tangannya ke jacket. Jongin kurang cepat.

“Kau duluan saja, aku masih menunggu Luhan hyung.”

“Jadi, kau sedang menunggu Luhan hyung ?”

“Yep…” Kyungsoo mengangguk kecil.

“Kau duluan saja Jongin-ah. Bilang pada eommaku aku masih menunggu Luhan hyung.” Dengan enggan, kyungsoo mendorong jongin.

“Baiklah, aku duluan hyung. Cepatlah pulang. Aku akan memberi tahu ahjumma kau masih menunggu Luhan hyung. Aku duluan..” Jongin menjauh dari kyungsoo sembari melambaikan tangannya ke arah kyungsoo. Kyungsoo hanya membalas senyum singkat. Yeah, mereka sudah berteman sedari kecil. Sangat dekat malah. Walaupun tidak sedekat Luhan dengan Kyungsoo yang selalu menempel dimanapun.

~

“MWO ?” Jongin terkaget. Ia menutup teleponnya. Cekatan ia mengambil jaketnya, kemudian bergegas keluar. Pikirannya mana bisa tenang. Jam telah menunjukkan pukul 1 malan, tetapi kyungsoo belum pulang. Itulah yang diberitahunya dari ibu kyungsoo lewat panggilan telepon tadi. Kebetulan saja Jongin masih bangun untuk mengerjakan tugas, bagaimana mungkin seorang sleeping beauty seperti dia akan bangun hanya karena telpon. Jongin segera menuju taman tempat kyungsoo menunggu Luhan. Tak butuh waktu lama untuk sampai di taman itu.

Terlihat Kyungsoo masih disana, hanya saja ia meringkukdi atas kursi taman dalam senyapnya malam yang sangat deras akan salju ini. Jongin berlari.

“Kyungsoo hyung?” ia jongkok memadakan posisinya dengan kyungsoo.

“Luhan hyung….” Yang Jongin dengar hanyalah nama Luhan. Ia mengigau. Matanya terpejam. Jongin menyadari bahwa Kyungsoo tidak sadarkan diri. Bibir membiru, kulit bertambah pucat. Jongin melepas jacketnya untuk mengurangi dingin yang dirasakan kyungsoo. Dinaikkan kyungsoo ke punggungnya. Jongin sama sekali tak merasa kedinginan. Ia justru merasakan panas, well… dia menahan amarah yang ia tujukan untuk Luhan.

“Sudahlah hyung… Bagaimana bisa kau masih percaya dengan orang sial itu ? Cukup aku dan lay hyung saja, tapi kenapa kau juga ikut terkena permainannya ?” Jongin tersenyum pahit, ia mengingat kejadian beberapa bulan lalu. Ia kembali fokus ke jalan, tak mau mengingat. Rencananya sekarang adalah menghajar Luhan esok.

~

BUKK

“DASAR, BULSHIT !” Kai sempat memukul tepat di bagian mulut sebelum siswa-siswa yang lain menghalanginya untuk memukul lebih lanjut. Tidak ada guru yang melihat, dan tak ada yang melapor. Takut masalah malah makin runyam.

Luhan menyeka darah sebab pukulan Kai tadi,

“Apa maksud pukulan ini..?” Luhan bersikap tenang, dia tak berniat membalas pukulan itu. Dia sudah berhenti menjadi pemukul.

“MAKSUD ?” Kai benar-benar telah termakan emosi. Kulit wajahnya yang memang lebih gelap dari wajah orang korea lainnya, kini memerah. Marah, ia sangat marah. Luhan mundur selangkah, setidaknya menghindar lebih baik.

“Bagaimana bisa kau lupa jika kau ada janji dengan sahabat sendiri. Kau tahu, Kyungsoo hyung sekarang sakit. SEMUA INI KARENA KAU !” Kai berteriak lagi, tak bisa menahan emosinya.

“Bagaimana bisa kau menyalahkanku ?” Perkataan Luhan kali ini benar-benar membuat Kai gemas.

“Kyungsoo hyung sakit, menggigil hebat di tengah salju yang sedang turun deras semalam. Dia menunggumu BOCAH !” Kai memberi tekanan pada kata terakhir.

“Heol… bodoh sekali dia, bagaimana bisa kyungsoo lebih memilih menungguku. Seharusnya dia bisa berpikir seperti ‘ah malam ini salju turun deras, luhan mungkin tidak datang’.” Luhan tak acuh menjawab Kai.

“Kau bosan berteman dengan kyungsoo hyung?” Aneh memang pertanyaan yang Kai ajukan, tapi Luhan menjawabnya dengan santai.

“Benar sekali, Kai… apakah kau mempunyai kekuatan membaca pikiran orang ?” Luhan memberi tepuk tangan, bertindak kagum dengan Kai. Kali ini bukan pukulan, tetapi dorongan keras yang berhasil membuat Luhan terjerembap ke belakang. Tidak, siswa lain tidak berani mencegah tindakan Kai kali ini. Siswa lain setuju dengan Kai. Sama-sama berpendapat bahwa… Luhan seseoarang yang sangat tega, tak memandang siapapun, bahkan sampai sahabatnya sendiri ?

“Bodoh sekali, yang bodoh itu KAU hyung… Kau ternyata masih belum mendapat feel persahabatanmu dengan kyungsoo hyung. Mulai dari sekarang, jangan dekati dia lagi.” Kai mengacungkan jarinya ke arah Luhan.

“Untuk apa aku mendekatinya ? Kau sendiri tahu, aku sudah bosan.” Jawab Luhan santai sambil mencoba berdiri kembali. Masih dengan amarah geram, Kai keluar dari kelas Luhan.

Kali ini dengan teganya karena kebosanannya. Luhan kehilangan seorang sahabat yang sudah bersamanya selama setahun terakhir. Dan Luhan… sama sekali tak menyesalinya.

*****

Sehari sebelum kompetisi dance, Kai menangis. Entah apa yang membuat Kai menangis, disitu tidak hanya dia, Lay dan Luhan juga berada disitu. Tidak, Lay tidak cengeng, tentu saja dia tidak menangis. Tapi Lay berbahaya, sangat berbahaya. Tangannya mengepal, dia seperti ingin memukul seseorang. Lalu, Luhan ? Apa yang dia lakukan ? Dia diam saja, memainkan kukunya yang sudah mulai memanjang. Tapi gerakannya terdiam ketika mendengar apa yang dikatakan Kai.

“Jangan pukul dia hyung !” Kai memecah suasana. Benar saja, tangan Lay terhenti tepat di depan wajah Luhan, tepat ketika Kai mencegahnya. Luhan cukup kaget dengan tindakan Lay yang akan memukulnya. Dia mundur selangkah.

“Dia bahkan lebih buruk dari anjing bangsat manapun Kai, dan kau masih melindunginya ?” terbelalak Lay tak percaya. Kai berdiri.

“Masih ada lain waktu hyung…” Kai mencoba menenangkan Lay, tapi gagal. Lay lebih memilih meninggalkan mereka berdua. Satu menit berlalu dalam keheningan di antara Kai dan Luhan. Dan… BUKK

“Kenapa kau memukulku ? auww sakit sekali.” Luhan meringis. Kai memukul Luhan, meninggal bercak darah di ujung bibirnya.

“Kenapa ? Hyung pikir saja sendiri dengan ego yang kau miliki itu.” Kai berlalu meninggalkan Luhan yang masih kesakitan. Tapi dalam hati Kai sakit atas dasar pengkhianatan lebih sakit Lu, bahkan beribu kali lipat. Kai menangis. Dia dan Lay gagal mengharumkan nama sekolah mereka di kompetisi dance. Luhan dengan seenaknya mengatakan mundur sehari sebelum. Bagaimana bisa mencari pengganti yang mau latihan dalam sehari ? Dan Luhan ? Ia memang merasa bersalah, tapi ia tidak memikirkan hati Kai dan Lay yang terluka. Luhan bosan dengan dunia dance.

*****

Chen tak berhenti tersenyum setelah kembali dari ruang guru. Dia berlari saking tak sabarnya, menuju kelas Luhan.

“Luhan hyung…” panggil Chen cerah.

“Oh, Chen… kenapa ?” Luhan yang tadi memainkan gadgetnya berhenti sejenak.

“Aku punya berita bagus !” Chen menarik salah satu kursi ke depan Luhan.

“Apa itu ?” Luhan penasaran.

“Kita diundang lagi untuk mengisi acara sekolah bulan depan.” Senyum tak bisa dihilangkan dari wajah Chen.

“Lagi ?” Kini Luhan kembali memainkan gadgetnya.

“Yups, bukankah kau senang ?” Chen masih tersenyum.

“Errr… mungkin !” Luhan membetulkan posisi duduknya tak nyaman.

“Mungkin ? Kau tidak mau ?” Senyum Chen mulai memudar.

“Em, bagaimana ya. Tunggu sebentar…!” Luhan mengeluarkan sesuatu, semacam surat. Kemudian memberikannya ke Chen.

“Aku baru saja berencana memberikan ini saat istirahat nanti.” Luhan mengetuk tangannya di atas surat itu. Chen mengambilnya.

“Apa ini ?” Chen penasaran.

“Buka saja !” saran Luhan. Chen membuka surat itu. Senyum chen sekarang benar-benar menghilang, tampak raut wajah yang menjelaskan dia sedih, dia marah, dia kecewa.

“Apa maksud surat ini hyung ?” Chen menatap Luhan tak percaya.

“Maafkan aku… tetapi aku sudah membuat keputusan Chen. Aku keluar dari grup vocalmu.”

“Tapi kenapa mendadak seperti ini ? Tak bisakah kau menundanya hingga bulan depan ?” Chen mengharap.

“Maafkan aku Chen… aku benar-benar tak bisa.” Mereka tak bersuara lagi, 5 menit mereka terdiam, Chen beranjak dari kursinya, mengeluarkan suara decitan kecil.

“Ternyata rumor tentangmu itu benar hyung. Aku kecewa pernah memasukkanmu ke grupku Luhan.” Chen menghapus air mata yang sempat keluar saat mereka terdiam tadi. Chen menangis. Ia kemudian berlalu meninggalkan Luhan sendiri yang kebingungan. Dalam pikiran Luhan.. Rumor ? rumor apa ? Masa bodoh . Luhan memilih untuk melanjutkan bermain dengan gadgetnya.

*****

Kebosanan Luhan hari ini meningkat dua kali lipat. Selepas istirahat dia langsung keluar dari ruangan kelasnya, melangkahkan kakinya entah kemana. Asal melangkah, kakinya mengantarkan Luhan ke lapangan sepakbola di belakang sekolahnya. Dia tiba-tiba berhenti, ketika sebuah bola berhenti tepat di depannya.

“Hei, kau ! Bisakah kau tendang bola itu kemari ?” seru salah seorang pemain dari lapangan.

“Luhan pun menendangnya asal. Dia berpikir sejenak. Hei aku belum pernah mencoba sepakbola sebelumnya. Luhan mencari tahu siapa kapten dari sepak bola ini. Ia bertanya kepada salah satu pemain.

“Hei, bolehkah aku tahu siapa kapten dari kesebelasan ini ?” Tanya Luhan kepada salah satu pemain.

“Oh, kau lihat orang yang bernomor punggung 99 itu ? Dialah kaptennya.” Jawab pemain itu singkat.

“Oke, terima kasih.” Luhan memberi senyum akhir menandakan terima kasih. Ia berlari menuju orang bernomor punggung 99 itu.

“Kau kaptennya ?” Tanya Luhan langsung setelah ia sampai. Orang itu yang tadinya membelakangi luhan, berbalik badan,

“Oh, ternyata kau Xiumin.” Kesan Luhan. Yah, kaptennya adalah xiumin. Orang yang pernah dekat dengan Luhan.

“Ada apa ?” Tanya Xiumin tak mau berbasa-basi.

“Hehehe, tidak jadi. Tadinya aku mau meminta masuk ke grup ini. Tapi berhubung kau kaptennya, aku mengurungkan niatku. Aku sudah pernah merasakan kau yang menjadi kapten. Dan aku bosan denganmu. Maafkan aku. Sukses untul tim-mu.” Luhan dengan polosnya melontarkan kalimatnya. Ia pergi begitu saja. Sedangkan Xiumin ? Ia menangis, hatinya terlalu sakit. Setelah ditinggalkan di klub voli tahun lalu. Kali ini, Luhan bosan dengan dirinya. Apakah Luhan tidak memikirkan perasaannya saat ini.

Xiumin memang seorang yang kuat, tetapi masalah hati ? Ia terlalu lemah dalam hal ini.

****

“1…2…3…LARIII !!!” Chanyeol mengintruksikan untuk berlari.Dialah yang pertama kali melesat. Baekhyun dan Luhan mengikuti di belakangnya

Jika kalian pernah melihat masa kecil Go Nam Soon dan Park Heung Soo, seperti itulah mereka bertiga sekarang. Maksudku… Mereka bertiga Chanyeol, Baekhyun dan Luhan akhir-akhir ini sering disebut trio jahil. Jika sebelumnya grup ini hanya bernamakan duo jahil beranggotakan Chanyeol dan Baekhyun. Bulan lalu, tiba-tiba saja grup ini bertambah satu anggota. Well, grup ini semakin terkenal dan semakin banyak akal untuk berbuat ulah.

Mereka terus berlari menghindari si pemilik rumah yang mereka jahili tadi. Mereka membuat anjing di rumah itu menggonggong tak henti-hentinya. Si bapak pecinta anjing ini tidak terima salah satu “anak” kesayangannya diganggu.

“Hei.. berhenti.. .dasar bocah nakal, apakah orang tuamu tidak mengajari sopan santun, hah ?” si Bapak makin lama makin lambat laju larinya, dia gagal mengejar trio jahil ini.

“Lihat baek, bapak itu sudah kelelahan.” Luhan menengok ke belakang sekilas.

“Kita berhasil Chan !” seru Baekhyun girang.

~

“Bagaimana kalau kita ke kedai bubble tea di seberang sungai Han sana ?” usul Chanyeol.

“Kau yang traktir ?” Tanya Luhan dan Baekhyun serempak ke Chanyeol.

“Tentu saja, ayo…!” Chanyeol merangkul kedua pundak temannya. Ketiganya berjalan senang.

Hanya saja di pintu masuk Luhan menabrak seorang pria… menjatuhkan bubble tea yang dipegang orang yang ditabraknya.

“Ah, maafkan aku… kau tidak apa-apa ?” Luhan melihat sekilas korbannya.

It’s okay…Aku membeli lebih, Korbannya tersenyum. Beruntung, dia tak terluka, minumannya pun tak membasahi pakaiannya. Lihat saja pakaian anak itu, terlihat seperti pakaian mewah.

“Oh, kau Sehun bukan ?” Baekhyun seperti mengenal korban Luhan.

“Baekhyun hyung ?” Anak yang bernama sehun itu takut-takut salah menyebutkan nama Baekhyun.

“Ini benar kau ? Wahh.. kau semakin tampan saja…” Baekhyunseperti terpukau akan penampilan Sehun.

“Benarkah ? kkk~ hyung, maafkan aku. Bertemu lagi nanti ya… Paman sudah menungguku. Bye !” Sehun tersenyum sambil berlalu.

Chanyeol dan Luhan yang sedari tadi hanya memperhatikan telah menyimpan beberapa pertanyaan. Mereka memandang Baekhyun heran. Ketika Baekhyun ingin masuk ke dalam kedai Bubble Tea, ia menangkap Chanyeol dan Luhan yang masih keheranan.

Wae ?” Baekhyun menyadarkan mereka.

“Dia siapa ?” Chanyeol yang pertama kali bertanya.

“Dia ? Oh tadi, dia itu Sehun. Sepupunya Kai.” Jelas Baekhyun singkat. Ia sudah tak sabar menyeruput bubble tea favoritenya. Chanyeol dan Luhan ? Pikiran mereka masih sibuk mencerna penjelasan Baekhyun barusan.

“YA! PARK CHANYEOL ! BAYARKAN BUBBLE TEA-KU SEGERA !” Baekhyun sudah tak sabar lagi kini. Chanyeol dan Luhan kembali tersadar. Melupakan kejadian tadi, menikmati manisnya buble tea di kedai dekat Sungai Han ini.

~

“Mana Luhan ?” Tanya chanyeol.

“Dia. Pulang. Dia. Bosan. Dia. Keluar.” Baekhyun menjawab terputus-putus. Hal yang dikhawatirkan sebelum memasukkan Luhan ke grup ini-pun terjadi. Baekhyun menangis.

“Kau menangis ?” Chanyeol yang memang kesal dengan Luhan, tapi ia menyembunyikannya di depan Baekhyun.

“Luhan jahat, huaaaa.” Tangis baekhyun pecah, naluri anak kecilnya-pun keluar. Dan saat ini Chanyeol akan bertindak sebagai kakak Baekhyun.

“Jangan menangis baek. Kau sendiri yang bilang kau siap jika sewaktu-waktu Luhan akan bosan. Kau masih mempunyaiku.” Chanyeol terdengar seperti menahan tangis, ia menepuk punggung baekhyun.

“Chanyeol, maukah kau menghiburku ?” Pinta baekhyun.

“Tentu saja, kenapa tidak. Bagaimana caranya agar kau tertawa ?” Chanyeol bersiap.

“Bisakah kau menyanyikan sebuah lagu ballad ?”

“Baek, kau meledekku ? Kau tahu ? Aku hanya bisa menyanyikan sebuah rap -_-.” Chanyeol memasang wajah tersiksa.

“Ah, jeball !!!” Baekhyun kembali memohon.

“Baiklah… I will…” Chanyeol baru saja mengeluarkan satu kata. Baekhyun sudah tertawa terpingkal-pingkal. Bagaimana tidak, chanyeol bernyanyi dengan suara falsetto. Tunggu, CHANYEOL ? DENGAN FALSETTO ? Oh tidak, suaranya terdengar seperti lenguhan sapi yang kesakitan, membuat serangga-serangga di sekitarnya seketika pingsan.

Well, singkatnya…kali ini Luhan bosan dengan sejoli yang jahil itu. Tapi duo sejoli itu sudah bersiap-siap sebelumnya. Luhan, apakah dia memang sejahat itu ? Secepatkah itu dia bosan ?

*****

“Boleh aku duduk disini ? Kursi ini satu-satunya yang tersisa di sini ?” Luhan meminta izin pada seseorang yang sedang duduk di depannya.

“Silahkan.”Jawab orang itu singkat, sambil menikmati choco bubble tea miliknya.

“Oh… Kau Sehun bukan ?” Tanya Luhan tak pasti.

“Bagaimana kau ta…Tunggu… Kau teman baekhyun hyung ?” Sehun terlihat seperti pernah bertemu sebelumnya. Mereka memang pernah bertemu, tapi saat itu Baekhyun masih menyandang status sebagai teman Luhan.

“Sekarang tidak lagi.”Luhan terlihat santai, tersenyum, kemudian menyesap minumannya.

“Tidak lagi ?” Sehun mengernyitkan dahi. “Bagaimana bisa ?” lanjutnya.

“Aku bosan.” Satu jawaban Luhan yang membuat Sehun mengeluarkan smirk-nya sekilas.

“Ngomong-ngomong, aku baru pertama kali melihatmu di sekitar sini.” Luhan bertindak penasaran.

“Oh.. itu. Aku baru saja pindah dari Amerika.”

“Kau ? Dari Amerika ? Keren sekali…!” Luhan bertindak terpukau.

“Memangnya kenapa ?” giliran Sehun yang heran.

“Nope. Pantas saja bahasa koreamu masih terdengar agak aneh. Keundae Bagaimana baekhyun bisa mengenalmu ?” Luhan bertindak penasaran ‘lagi’.

“Apakah sebegitu anehnya ? Hahaha, jadi, waktu itu Baekhyun hyung bermain ke tempat Kai hyung. Well…singkatnya aku tak sengaja bertemu dengannya dan berkenalan dengannya saat aku mengunjungi Kai hyung, Paman serta Bibi Kim di Seoul.” Sehun bercerita singkat perihal perkenalannya dengan Baekhyun.

“ Tapi, kenapa kau tiba-tiba memutuskan untuk pindah kesini ?” Luhan sesekali meneguk minumannya yang hampir habis.

“Aku sangat dekat dengan Kai hyung, sebenarnya sudah sangat lama aku ingin pindah ke Seoul. Tapi Eommaku tidak menyetujuinya. Kau tahu, membujuk eommaku adalah hal yang sangat sulit. Butuh waktu 3 tahun untuk meyakinkannya.” Sehun dengan lancarnya, ia bercerita kepada orang yang belum terlalu dikenalnya.

“Oh begitu, kau pindah ke yayasan sekolah yang sama dengan Kai ?” Luhan tampak seperti orang yang sedang mengintrogasi. Dan sehun ? Ia hanya mengangguk singkat.

“Itu artinya kau akan menjadi juniorku.” Luhan bertingkah layaknya seorang senior yang patut dihormati.

“Lalu kenapa ?” Sehun yang sudah lama tinggal di Amerika tak mengerti ke-senioritas-an yang sangat dijunjung tinggi di negeri ginseng ini.

“Tentu saja kau harus menghormatiku.” Luhan tersenyum menang.

“Oh.” Sehun melirik sekilas jam tangannya.

“Emm, sunbae. Aku duluan.” Sehun mengambil tasnya. Tapi ada yang aneh, dia seperti meninggalkan sebuah kertas di atas meja makan.

“Oh, kau sudah mau pergi ? Sebelumnya, perkenalkan. Aku Luhan.” Luhan mencoba mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

Sehun membalas uluran tangannya. Tentu saja sehun tersenyum. Ia terkenal dengan si ‘murah senyum’ di Amerika. Tapi siapa yang tahu dibalik senyuman itu ada makna yang lain ?

“Aku sudah tahu namamu. Sunbae. Sebelumnya.” Sehun beranjak dari tempatnya. Luhan masih mengambil pusing perkataan Sehun tadi. ‘aku sudah tahu namamu. Sunbae. Sebelumnya’ Mungkinkah kita pernah bertemu sebelumnya ? Ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang entah bagaimana Sehun sudah mengetahui namanya. Never mind, bukannya bagus jika ada orang yang mengetahuimu ? Luhan memilih untuk menikmati minumannya kembali.

~

Drrttt… Drrrttt…

Smartphone milik Sehun bergetar. Ia menarik kedua ujung bibirnya ketika melihat siapa yang menelpon.

“Yoboseyo.” Sehun mengangkat panggilannya.

Sehun ?” Tak salah lagi, suara ini. Suara pria yang bertemu dengannya sore tadi.

“Iya… benar ini Sehun.” Sehun menjawab seolah tak tahu siapa yang menelpon.

Sehun.. ini aku Luhan?” Luhan seperti bersemangat.

“Oh Luhan hyung…? Bagaimana bisa kau mendapat nomorku ?” Sungguh, jika kau melihat Sehun kali ini, mana bisa kau mengartikan ekspresinya. Terlihat ambigu.

Bagaimana bisa kau menjatuhkan kartu namamu di kedai tadi ? Bagaimana jika yang menemukan adalah orang jahat ? Kau harus berterima kasih kepadaku, untung saja yang menemukan itu aku.” Luhan dengan nada panik tapi lega, karena dia penemunya.

“Gomawo. Hyung. Kau benar, bagaimana jika yang menemukan itu adalah orang lain, mungkin aku akan diterror dengan orang tak jelas sekarang ini .” Sehun tersenyum dengan nada kekhawatiran di balik smartphonenya.

“Sehun-ah. Bisakah kau besok meluangkan waktumu untuk bertemu denganku sebentar ? Aku ingin mengobrol denganmu.” Suara Luhan ragu untuk mengundang sehun esok.

“Besok ? Aku tak bisa berjanji tapi akan kuusahakan. Kau ingin bertemu jam berapa hyung ?”

“Emmm, mungkin sekitar jam 4 sore. Baiklah, kutunggu besok.”               -CLICK- Luhan mengakhri perbincangannya dengan Sehun.

“Apakah kau yakin akan melakukannya ?” tanya seorang laki-laki yang duduk di sebelah Sehun.

“Kenapa tidak ?” sehun tersenyum menyeringai.

“Sungguh, sehun… Kau tidak ada urusan sama sekali dengannya, kenapa kau masih bersikeras melakukannya ?”

“Tenanglah… aku akan melakukannya hati-hati.” Sehun tersenyum. Laki-laki itu hanya bisa mendesah penuh kehawatiran.

*****

Lonceng kedai berbunyi, menandakan seorang pelanggan datang. Itu Sehun. Terang saja… dia menepati janjinya dengan Luhan.

“Sunbaenim…” Sehun menemukan Luhan di ujung kedai.

“Oh… kau datang. Aku sudah memesan minumanku… kau mau kupesankan atau sendiri ?”

“Aku sendiri saja, tunggu sebentar..!”

“Kau pesan apa ?” Tanya Luhan sekembalinya .

“Choco Oreo..”

“Oh…” Luhan melanjutkan kegiatannya, ia sedang bermain game.

“Game apa itu sunbae ?”

“Oh.. ini aquodis.”

“Aquodis… ?”

“Iya.. aquodis, kau mau bermain ?”

“Aku sudah tamat game itu Sunbae.” Sehun tersenyum.

“Jinjja ?” Luhan tampak kagum.

“Jinjjaya..” Sehun meyakinkan.

Dan percakapan mereka berlanjut sekurang-kurangnya 3 jam.

****

1 tahun berlalu….

Sehun dan Luhan makin akrab, mereka memiliki banyak kesamaan yang saling mereka bagi. Berdua, mereka selalu bertemu setiap harinya di kedai itu, entah untuk hal yang sama sekali tak berguna sekalipun. Hanya saja… sore pada hari itu terlihat masam.

Ini sudah ke-13 kalinya Luhan menelpon Sehun, ya 13 kali dan itu semua tanpa respon. Tak seperti biasanya, Sehun akan selalu cepat mengangkat telpon ketika Luhan menelponnya. Berulang kali Luhan menghubungi nomor itu, sama saja hasilnya tak diangkat, padahal nada panggilan selalu terhubung.

“Aish… kenapa dia tak mengangkat telponnya.” Luhan kesal sendiri dengan ponselnya. Hingga pada akhirnya, nomor yang dihubungi Luhan itu merespon Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau….

Ini pertama kalinya Sehun tidak mengangkat telponnya, membuat Luhan menunggu lebih dari 1 jam. Sehun bertindak aneh. Luhan menggema dalam pikirannya sendiri. Ada apa dengan Sehun ? Kenapa dia tidak datang ? Ditelpon tak diangkat, apa sebaiknya aku ke rumahnya ? Benar, ide yang bagus Luhan.

~

Luhan benar-benar mendatangi rumah Sehun- Kai lebih tepatnya. Tampak banyak sekali kendaraan terparkir di depan rumah. Kenapa ramai sekali ? Pikir Luhan dalam benaknya. Terdengar suara-suara ramai dari dalam, Pesta ? Luhan masih berpikir. Ia memberanikan diri memencet bel. Sekali tingtong… tak ada yang menyahut. Kedua tingtong….

“Siapa di luar ?” Suara Kai terdengar. Tak lama, pintu terbuka. Tak ada yang menyambutnya, Luhan akhirnya memilih untuk mengikuti suara ramai itu. Suara itu menuntunnya ke halaman belakang. Spotted. Sehun sedang bercanda ria dengan Kai. Tunggu, bukan hanya dia dan Kai yang sedang berpesta di halaman. Ada 9 orang lain disitu. Dan Luhan… mengenal mereka semua. Kris, Tao, Lay, Chanyeol, Baekhyun, Xiumin, Suho, Chen, dan Kyungsoo. Seketika itu, Luhan terdiam.

“Wah… Luhan hyung. Ada apa kemari ?” Itu… Sehun, orang yang sedari tadi Luhan tunggu.

“Ada apa? Sehun, apa kau lupa dengan jadwalmu sore ini denganku ?” Luhan menatap Sehun kosong.

“Aku ingat, kenapa ?” Sehun menjawabnya tenang.

“Lantas… kenapa kau disini ?”

“Aku bosan hyung !”

“Bosan ?”

“Iya aku bosan. Sudah setahun kita melakukan hal itu berulang-ulang.” Sehun masih tenang.

“Kau keterlaluan Sehun-ah.” Luhan tak sangka Sehun melakukan ini.

“Aku ? Keterlaluan ? Bagaimana bisa ?” Sehun tak terima.

“Bagaimana bisa ? Kau masih bertanya ?” Luhan sedikit meninggikan suaranya.

“Hei… Sehun, cepatlah. Steaknya sebentar lagi matang.” Suho berteriak dari tempatnya.

“Sebentar lagi hyung. Aku akan kesana.” Sehun balas teriak.

“Sehun-ah…” Wajah Luhan memerah. Sehun mendekatkan kepalanya ke telinga Luhan. Beberapa detik kemudian, Luhan meninju keras wajah Sehun.

“Hei kau apakan adikku ?” Kai yang entah bagaimana dengan cepatnya langsung mendorong Luhan kasar. Tangannya sudah mengepal, tangannya sudah terangkat. Tetapi Suho menahannya.

“KAI ! Tenanglah !” Suho membentak.

“Kau, Pergilah.” Kali ini Tao yang mengangkat kerah Luhan, memaksanya untuk berdiri. Luhan masih terdiam. Suho baru saja akan menarik Tao dari Luhan, tapi Kris melarangnya. Biarkan Tao meluapkan kemarahannya. Dengan isyarat mata dari Kris itu, Suho mengalah.

“PERGI KATAKU, BRENGSEK.” Tao berteriak keras, menangis. Pada akhirnya Luhan juga meninggalkan rumah Kai dalam keadaan menangis.

Well… tinggal mereka bersebelas di halaman itu. Kini, halaman itu diselimuti rasa hening yang dahsyat. Hanya terdengar suara percikan api dari alat bebakaran steak yang terhembus angin malam. Semua membisu. Chanyeol berdua dengan Baekhyun di teras halam itu, saling memeluk, keduanya menangis. Kyungsoo terduduk di tengah-tengah halaman, tatapannya kosong. Sehun, Kai, Suho, dan Kris. Ketiganya masih berdiri, hanya menatap lurus rerumputan yang sedang mereka injak. Lay, walaupun dia masih sangat marah, tapi ia bersama Xiumin lebih memilih menenangkan Tao yang masih sesenggukan sepeninggal Luhan. Hingga pada akhirnya, Chen memecah keheningan,

“Tak kusangka akan seberat ini…”

“Setidaknya kita telah berbuat yang terbaik, untuk kita, dan dirinya sendiri.” Sehun merespon.

“Yah setidaknya….” Ia melanjutkan.

Dan pada akhirnya, keheningan yang menutup percakapan mereka malam itu. Tak ada pesta. Tak seperti yang direncanakan sebelumnya. Hanya Sehun yang berhasil menjalankan misinya, tapi apa daya, Sehun juga tak sempurna melakukan misinya. Ia menangis setelah melakukan misinya itu.

Flashback Start – Sebelum Sehun pergi ke Korea

“Sehun… aku tidak apa-apa.” Suara Kai terdengar dari seberang telpon.

“Tidak, aku akan membalasnya hyung, bagaimana bisa dia dengan semudah itu membodohimu. Tunggu saja hyung, kalau kau tak bisa balas dendam, aku yang akan melukannya, balas dendam dengan Luhan, untukmu.”

Flashback End

Flashback Start – Saat Sehun mendekatkan kepalanya ke telinga Luhan

“Hyung… giliran aku yang bertanya. Bagaimana bisa kau menyakiti temanmu sendiri hanya karena perasaan bosanmu yang konyol itu. Hah…” Sehun tersenyum sekilas.

“Aku juga terheran, ternyata aku bisa bertahan memainkan pertemanan ini lebih dari 6 bulan. Keren sekali bukan, seorang Luhan. Seorang Luhan yang bahkan bisa bosan dengan persahabatannya sendiri. Apakah kau ingat, saat Kyungsoo hyung menunggumu di tengah salju yang deras. Saat ini aku memperlakukanmu nyaris persis ketika kau memperlakukan Kyungsoo. Kini, bagaimana perasaanmu hyung ? Sakit bukan ?”

Flashback End

KKEUUT~

Thanks for reading ^^ Maaf kalau ceritanya gak nyambung, atau alur yang terlalu cepta. Masih belajar dalam membuat fanfic.

19 thoughts on “Luhan’s Hobby is Boring

  1. Cicil berkata:

    Great banget! Jadi pelajaran tersendiri baca ff kamu hehe^^ tapi ini endingnya agak gantung thor, aku pengen liat mereka balikan jadi temen dan lulu tobat gitu._.

    Keep writing yaaa^^

  2. adezenianggraeni berkata:

    kereeeeen!!!
    hahaha ya ampun kalau ada yah orang yang punya hobby kaya begitu disekitarku haha tapi sayangnya gak ada wkwk

    sequel dong thor😀

  3. Athiyyah berkata:

    Haha, maaf ya, aku mau komentar, ini dari lubuk hatiku yg paling dalam -.-
    Luhan. Kayak. Orang. Norak. Pas ketemu. Sehun (ngomong ala Baekhyun)
    Wkwkwk, maaf kalo comment saya ga jelas -.-
    Tapi selain itu.. ceritanya bagus kok, cuma akhirnya gantung tuh, bikin sequel dong😀

    Keep writing yaaa ^^

  4. kiszmyluhanzn berkata:

    nyesek sih ya kalo jadi temennya Luhan .
    ya itu balasannya buat Luhan😀
    well, like this friendship🙂

  5. chokyulate berkata:

    nyebelin banget ya luhan. sekali” emang harus diberi pelajaran karena perbuatannya. nyesek banget liat luhan bilang bosen ama member apalagi my bias kyungsoo & jongdae.. gak tega gue lihat mereka nangis + sakit. tapi yg bikin penasaran kok luhan betah ya temenan ama sehunnie??
    sequelnya jgn lama” yah author..🙂 ditunggu banget nih..😉
    sorry kepanjangan😀

  6. Kai's fan berkata:

    widiih nyesek bgt tuh d gituin.Luhan kena karma tuh

    sequel dong thor,ceritanya Luhan barengan lg gtu gk cepet bosen hehe

    d tunggu ne^^

  7. sharymyname berkata:

    sumpahh dehh nih ff menghibur.. ngga tau kenapa. padahal awalnya agak ilfil gitu, tapi perlahan aku jadi suka lohhh… menghibur ^^

  8. tatta berkata:

    kukira awalnya setelah misi sehun berhasil mereka berdua belas akan berteman dekat
    luhan keterlaluan pada kyungsoo dan kailay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s