I’m Sorry For Loving Him [Chapter 1]

PicsArt_1403452059799

Author : gladiol

Length : Chaptered

Genre : Romance

Rating : General

Cast : Wufan | Min Young

Author’s Note : terima kasih buat admin yang udah bersedia posting ff-ku ini. Terima kasih juga buat reader yang udah bersedia baca dan kasih komentar. Maaf untuk poster yang sangat sederhana…hehehe. Cerita ini adalah kisah nyata author yang author tuangkan ke dalam ff. dan adegan di dalamnya cuma sebagian yang author ingat. Sisanya lupa…hahaha

Selamat membaca….

 

Bagaimana rasanya memiliki kekasih?

Bagaimana rasanya dicintai?

Bagaimana rasanya diperhatikan?

Bagaimana rasanya jika cintamu terbalas?

 

Min Young POV

Kekecewaan tak bisa kututupi ketika aku tahu bahwa aku bukan wanita yang terpilih untuk mendampingi hidupnya. Ingin menangis tapi tak bisa. Ingin tersenyum tapi itu sangat munafik karena aku sedang sedih saat ini. Sudah beberapa jam yang kulakukan hanya berguling-guling di tempat tidurku sambil menahan sesak di dada. Menunggu waktu yang tepat untuk menumpahkan semua emosi. Seluruh hatiku bahkan hampir kuserahkan padanya. Setidaknya aku sedikit beruntung karena Tuhan tidak mengijinkan kisah ini berlanjut ke tahap yang lebih jauh lagi.

Beberapa jam yang lalu, dia menghubungiku. Sekedar menanyakan kabarku dan kedua orang tuaku. Obrolan kami berlanjut dengan saling melemparkan candaan. Sampai kurasakan jantungku berdetak kencang saat dia mengatakan akan pulang ke kampung halamannya. Senang, itulah yang kurasakan mengingat ini pertemuan pertama kami dan pesawat yang akan dia naiki akan mendarat di kota tempat tinggalku. Ya, kami memang belum pernah bertemu, tapi entah kenapa dari semua obrolan yang kami lakukan melalui telefon membuat rasa cinta bersemi dihatiku.

Kami sangat antusias, namun itu tidak berlangsung lama. Aku kembali mematung karena kaget mendengar kalimat yang dia lontarkan. Kalimat yang membuatnya bahagia namun membuatku hancur dalam sekejap.

 

 

Author POV

Flashback 3 hours ago

Yeobboseyo?” Sapa Min Young saat mendengar ada telefon masuk ke handphonenya.

Yeobboseyo, bagaimana kabarmu dan keluarga saeng? Baik kan?” Tanya laki-laki di seberang sana.

“Aku baik oppa, bagaimana disana? Kau juga sehat kan?” Tanya Min Young sedikit manja.

“Ne, oppa baik disini.”

Obrolan mereka lanjutkan dengan berbagai topik pembicaraan. Sampai tidak terasa waktu sudah bergulir satu setengah jam.

Saeng, bisakah kau menjemput oppa di bandara tanggal 13 nanti?” Tanya sang laki-laki.

Oppa akan pulang? Benarkah? Apa kita akan bertemu? Oppa aku gugup bertemu denganmu.” Jawab Min Young beruntun.

“Ya! Ya! Ya! Kalau bicara jangan seperti itu, oppa bingung menjawabnya. Pertama, oppa akan pulang karena ini sudah hampir akhir tahun dan oppa belum mengambil jatah cuti oppa. Kedua, benar kita akan bertemu asal kau bersedia menjemput oppamu yang gagah ini di bandara, adikku yang manis.” Kata sang oppa panjang lebar.

Oppa, kau bilang aku manis untuk merayuku eoh? Dasar laki-laki.”

“Ya! Kau ini tidak sopan sekali pada oppamu! Oppa penasaran denganmu. Apakah semanis fotonya atau lebih jelek dari yang oppa bayangkan?”

Oppa!!!” Min Young sedikit berteriak kesal, membuat sang oppa tertawa.

Ya, mereka memang belum pernah bertemu karena sang pria yang dipanggil oppa sedang menjalankan tugasnya sebagai tentara yang menjaga perbatasan di pulau seberang. Perkenalan mereka diawali dengan ketidaksengajaan karena Min Young salah sambung saat akan menghubungi temannya. Dan hubungan ketidaksengajaan itu berlanjut menjadi status kakak adik diantara keduanya. Namun tidak sepenuhnya rasa sayang itu berlandaskan status kakak dan adik. Karena Min Young menganggapnya lebih. Lebih dari rasa sayang adik kepada kakaknya.

Oppa akan tiba jam berapa besok?”

“Sekitar jam 2 siang, tunggu oppa ya?”

“Tentu, aku akan menunggumu. Oppa, kau pasti senang akan bertemu dengan eonni kan?” Ada sedikit rasa cemburu saat Min Young menyebutkan kata ‘eonni’ yang tidak lain adalah kekasih dari pria yang dicintainya.

Ne, oppa akan bertunangan dengannya. Doakan kami ya?” Jawab lelaki bernama Wufan itu.

Mwo?” Min Young sedikit gugup.

Oppa akan bertunangan, saeng.”

Geurae, chukhahamnida oppa. Semoga kalian bahagia” sahut Min Young menahan sesak didadanya.

Ne, gomawo saeng. Kalau begitu sudah dulu ya. Oppa harus bersiap-siap mengurus kepulangan oppa.

Tidak lama setelah itu telefon terputus. Min Young masih mematung ditempatnya. Terngiang-ngiang percakapannya beberapa saat lalu. Hari ini ia baru saja merasakan bahagia karena akan bertemu dengan laki-laki yang dicintainya. Namun hari ini juga ia serasa disambar petir mendengar kabar bahwa laki-laki yang dicintainya akan bertunangan dengan kekasihnya.

Flashback Off

***

 

13 September 2010

Suasana bandara Internasional Incheon sedikit ramai. Terlihat antrian puluhan penumpang pesawat sedang menunggu giliran untuk keluar dari bandara. Min Young mendudukkan dirinya di kursi ruang tunggu. Matanya mengedarkan pandangan sekedar mengurangi rasa bosan.

Agassi, apa kau akan menjemput keluargamu?” Tanya seorang laki-laki yang diperkirakan usianya diatas 30 tahun.

Min Young menjawab dengan senyum ramahnya, “Ne, ajussi

“Boleh aku tahu pesawat yang dinaiki keluargamu?” Tanya ajussi itu lagi seolah ingin tahu urusan Min Young.

“Eemm…kalau tidak salah Korean Air. Memangnya ada apa ajussi?” Tanya Min Young.

“Ah tidak apa-apa. Kalau jadwalnya tidak mundur, pesawat itu akan tiba sebentar lagi. Kau tunggu saja, ne?”

“Ah ne, gamsahamnida ajussi.”

Setelah itu Min Young kembali duduk sendirian sambil mengedarkan pandangannya. Benar saja apa yang dikatakan ajussi tadi. Suara perempuan yang bertugas di bagian informasi bergema keseluruh penjuru bandara, mengatakan Korean Air baru saja melakukan pendaratan. Min Young kembali panik. Jantungnya berdegup semakin kencang. Tidak tahu harus berbuat apa. Kepanikan Min Young terhenti saat menyadari telefon genggamnya berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Dari Wufan.

Yeobboseyo, Oppa?” Tanya Min Young gugup.

Ne, kau sudah di bandara? Oppa sudah tiba, saeng.” Kata Wufan antusias.

Ne oppa, aku sudah di ruang tunggu bandara.”

“Tunggu sebentar lagi ya, oppa sedang antre mengambil barang.” Jawab Wufan.

Ne.” percakapan mereka berakhir.

Min Young berkali-kali menghembuskan nafasnya kasar untuk mengurangi kegugupannya. Matanya mengarah ke pintu kedatangan dalam negeri. Segerombolan orang keluar melalui pintu tersebut. Pandangannya bertemu dengan sepasang mata elang milik seorang pemuda. Pemuda yang dicintainya. Pemuda bernama Wufan.

Senyuman tersungging di wajah mereka berdua. Langsung saling mengenali wajah masing-masing yang sudah mereka lihat sebelumnya melalui foto.

Setelah berjabat tangan tanda pertemuan, mereka berjalan beriringan menuju tempat Min Young memarkirkan motor kesayangannya. Sempat kerepotan mengatur barang bawaannya yang berupa ransel besar membuat Wufan sedikit bingung. Wufan memutar balikan ranselnya untuk mendapatkan posisi terbaik agar tidak kerepotan saat membawa ransel itu sambil membawa motor Min Young.

“Ya! Oppa, cepatlah sedikit. Lelet sekali.” Omel Min Young tidak sabar.

“Sabar sedikit, ransel ini membuat oppa repot.”

Oppa cepatlah, kasihan ajussi itu dari tadi menunggu kita keluar antrian.”

Wufan menengokkan kepalanya kebelakang, tampak seorang pria paruh baya dibelakang mereka sedang tersenyum kecil menyaksikan pertengkaran kakak beradik tak sekandung itu. Setelah menunggu beberapa detik akhirnya mereka keluar antrian dan Wufan segera memboncengkan Min Young menuju rumah orang tuanya.

Setelah sampai di rumah, Min Young segera mengenalkan Wufan pada orang tuanya. Orang tua Min Young mempersilakan Wufan agar tidak sungkan dan menganggap mereka sebagai keluarganya sendiri. Wufan beristirahat sekedar melepas lelah karena sudah duduk berjam-jam di dalam pesawat. Pria tinggi itu tidak menyangka orang tua Min Young menyambutnya dengan ramah. Mereka bertukar cerita dan pengalaman karena ayah Min Young juga memiliki profesi yang sama dengan Wufan. Tidak terasa senja sudah tiba mengingatkan Wufan untuk segera pulang kerumah orang tuanya. Wufan segera berpamitan kepada orang tua Min Young dan mengucapkan terima kasih karena sudah merepotkan keluarga mereka.

Min Young mengantar Wufan menuju halte bis yang akan membawa Wufan pulang. Hening. Tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Suasana senja sangat dingin dan sedikit gerimis. Dengan sengaja Wufan menautkan tangannya dengan milik Min Young. Menggandengnya layaknya sepasang kekasih. Min Young hanya memandangi wajah Wufan dari samping. Wufan pun sama, memandangi wajah Min Young.

“Aku ingin mencubit pipimu.” Wufan tiba-tiba bersuara.

“Awas saja kalau kau berani!” Sahut Min Young galak.

Ne…apa kau sedang mengancamku? Uh…aku takut.” Balas Wufan setengah meledek membuat Min Young cemberut.

“Awas kau oppa…” Min Young mengomel membuat Wufan tertawa.

Tiba-tiba Wufan terdiam. Memandangi wajah Min Young yang sedikit pucat karena hawa dingin yang mengelilingi mereka.

Saeng, jangan terlalu sering begadang lagi. Jangan terlambat makan. Jangan sering membolos kuliah lagi. Jangan lupa beribadah.” Wufan memberikan pesannya sambil menatap bola mata cokelat Min Young.

Oppa, kenapa kau mengatakan itu?” Sahut Min Young cemberut.

“Ini pertama kalinya kita bertemu setelah sekian lama. Dan oppa tidak tahu lagi kapan akan bertemu denganmu. Mungkin tahun depan atau dua tahun kemudian. Kita tidak akan tahu apa yang terjadi selanjutnya. Oppa hanya berpesan seperti itu padamu karena oppa menyayangimu. Kau adikku.” Jelas Wufan.

‘Ya…aku hanya adik yang tidak tahu diri karena sudah mencintaimu.’ Batin Min Young menahan sesak.

Hening kembali. Mereka hanya duduk bersebelahan tanpa tahu apa yang ada dipikiran masing-masing sambil sesekali saling memandangi satu sama lain.

Tidak terasa bis yang akan membawa Wufan pulang tiba dan berhenti di hadapan mereka. Mereka saling berpandangan. Mata Min Young sedikit berkaca-kaca namun masih bisa mengendalikannya.

Oppa pulang ya? Jaga dirimu baik-baik. Kita pasti akan bertemu lagi.” Kata Wufan.

Ne oppa, hati-hati dan sampaikan salamku untuk orang tuamu.” Suara Min Young bergetar menahan tangis.

Ne, hati-hati dijalan saat pulang kerumah nanti.” Pesan Wufan sambil membelai kepala Min Young dengan sayang.

Wufan langsung membalikkan badannya dan memasuki bis yang hampir berjalan. Min Young masih memperhatikan punggung tegap Wufan yang ingin dipeluknya sedari tadi namun ia tidak memiliki keberanian untuk mengutarakannya. Wufan duduk tepat disamping jendela agar bisa memandangi wajah Min Young dari dalam bis. Tampak Wufan melambaikan tangan kearah Min Young dan Min Young membalasnya.

Bis itu mulai berjalan. Membawa Wufan pulang menemui orang tuanya. Menemui kekasihnya. Menemui peraduan hatinya. Meninggalkan Min Young yang mulai berkaca-kaca. Meninggalkan Min Young karena Min Young bukan pilihan hati seorang Wufan.

 

***

 

TBC

 

 

2 thoughts on “I’m Sorry For Loving Him [Chapter 1]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s