Edelweis (Chapter 5)

CIMG0155 - Copy(1)

Title                 : Edelweis (Chapter 5)

Author             : Jung Ri Young

Cast                 :-Oh Sehun

-Park Chanyeol

-Byun Baekhyun

-Kim Jongin

-Kim Yeejin (OC)

-Park Yoora (Chanyeol noona)

-Jung Ahra

Genre              : Family, Brothership, Romance, Little Comedy

Rating             : T

Length             : Chapter

Disclaimer       : Member EXO milik Tuhan, Orang tua dan SMEnt. Kecuali Baekhyun milik saya! kekeke

Summary         : “Gwenchana, hyung. Jangan berterimakasih seperti itu. Kalian sudah ku anggap saudaraku sendiri.”

 

Chapter sebelumnya : 1 , 2 , 3 , 4

-xoxo-

.

Chanyeol mengedarkan mata, mencari sosok yang ia maksud. Pandangannya terhenti pada seorang yeoja yang duduk di deretan dekat stand. Menghindari sinar matahari.

“Kau, aku tak tahu mengapa kau membuatku melakukan ini. Yang aku tahu, aku jatuh cinta padamu.”

Teriakan histeris kembali terdengar. What the hell!! Park Chanyeol menyatakan cinta di atas panggung. Dan itu lebih dari sekedar cool.

“Kim Yeejin, will you be my angel?

.

-xoxo-

.

 

Mereka duduk berdua di café dekat sungai Han. Tempat biasa mereka bersantai bersama. Sehun duduk di sisi Baekhyun yang melamun. Tak ada obrolan ataupun candaan seperti biasa. Mereka larut dalam diam untuk waktu yang cukup lama.

“Gwenchana, hyung?” Sehun menepuk pundak Baekhyun. Memaksa namja yang lebih kecil darinya untuk bereaksi.

Baekhyun menoleh, memperlihatkan senyum yang dengan susah payah ia paksakan. “Nan gwenchana.”

Sehun memang tak ubahnya adik kecil bagi Baekhyun, tapi ia tak sebodoh itu untuk tidak mengetahui keadaan Baekhyun saat ini. Sehun tahu hyungnya sedang dalam keadaan yang tidak baik. Sehun tahu hyungnya tersakiti. Sehun tahu hyungnya sedang berusaha memendam luka seorang diri dan Sehun benci semua itu.

Sehun menatap Baekhyun lama. Seolah ingin menunjukan bahwa hyungnya tidak sendiri. Ia memiliki seseorang yang peduli padanya. Ia dapat berbagi dan Sehun siap menampung kesedihannya. Tapi sekali lagi, Sehun tahu siapa Baekhyun.

Dering ponsel memecah keheningan di antara mereka. Baekhyun mengangkat benda kecil di atas meja untuk menjawab panggilan masuk.

“Yeoboseo?”

“…..”

“Oh, Anak nakal yang kau maksud itu sedang bersamaku sekarang.” Baekhyun tersenyum menatap namja yang duduk di depannya. Sehun yang tahu sedang dibicarakan hanya memajukan bibir.

“Kami berada di café dekat sungai Han.”

“…..”

“Arraseo, kemarilah.”

Percakapan singkat tersebut berakhir dengan suara klik dari ponsel Baekhyun. Ia mendesah pelan, kembali tenggelam dalam pikirannya.

“Tadi itu, Chanyeol hyung?”

“Hmm.”

“Dia akan menyusul kemari?”

“Hmm.”

“Bersama Jongin?”

“Hmm.”

“Hyung!!!”

Sehun menggeram frustasi. Ia benci hyungnya seperti ini. Ia benci Baekhyun diam.

“Dia mencarimu, Sehun-ah.” Baekhyun menjawab sembari menguap lebar. Menggeliat santai seolah tak peduli pada lawan bicaranya yang hampir emosi.

“Untuk apa dia mencariku?”

“Karena kau mematikan handphone tentu saja, adik kecil!”

Bukan Baekhyun yang menjawab pertanyaannya, melainkan namja tinggi yang berjalan ke arah mereka.

“Handphoneku mat- , Eh? Yeejin?” Seru Sehun ketika melihat seorang yeoja mengekor di belakang hyungnya.

Yeejin tersenyum kikuk. Sedikit membungkukan tubuh untuk menunjukan rasa hormat pada sunbaenya. Di sisi lain, sebuah tangan mengepal kuat menahan emosi yang tiba-tiba muncul.

“Kau melupakan ini, sunbae.” Yeejin menyodorkan map yang Sehun yakini berisi dokumen pengganti dari berkas-berkas yang dahulu pernah Jongin rusak.

“Ah, benar. Bagaimana bisa tertinggal?” Gumam Sehun lebih pada dirinya sendiri. Kepalan tangannya mengendor seiring ia menerima map tersebut.

“Tapi, kenapa kalian bisa bersama?”

“Dia mencarimu kemana-mana. Aku kasihan padanya.” Terang Chanyeol sambil menyambar jus strawberry di depan Baekhyun.

“Ah, segar sekali.”

Sang empunya hanya memandang sambil tersenyum. “Habiskan saja jika kau mau.”

“Kalau begitu aku permisi, sunbaedeul. Maaf telah mengganggu.”

“Gwenchana, Yeejin-ah. Terimakasih untuk dokumennya.”

“Kajja, ku antar.” Ajak Chanyeol bersemangat, namun buru-buru Yeejin menggeleng.

“Ahra menjemputku, sunbae. Dia sudah menunggu di luar.”

“Begitu? Baiklah, hati-hati di jalan. Oke?”

“Ne.”

.

-xoxo-

.

“Apa kalian resmi berkencan?” Sehun tak percaya kalimat itu keluar dari mulut Baekhyun. Ia pikir hyungnya menghindari topik sensitif tersebut.

“Molla. Dia belum memberiku jawaban. Tapi dilihat dari sikapnya, sepertinya dia juga menyukaiku.” Kali ini Sehun percaya seratus limapuluh persen bahwa kata-kata itu keluar dari mulut Chanyeol. Ditambah cengiran lebar hyung tiang listriknya seolah membenarkan. Park Chanyeol dengan kadar percaya diri berlebihan. Ingat?

“Aku pikir juga begitu.”

Chanyeol mengangkat tinjunya, mengajak sang sahabat berhighfive. “Thanks sobat!”

“Kemana Jongin?” Sehun meginterupsi. Ia tak tahan dengan keadaan ini. Kepalanya pusing melihat kepura-puraan di depannya.

“Aku tak melihatnya sejak di kampus.”

“Telepon saja, suruh dia kemari.”

Sehun mendesah lelah, “sudah kubilang handphone-ku mati, hyung.”

.

-xoxo-

.

Jauh dari ketiga sahabatnya, Jongin duduk termangu di ruangan kerja kakak kandungnya. Terlihat janggal memang, mengingat ia bukan tipe dongsaeng yang suka bermanja-manja pada Joonmnyun. Bahkan mereka tak dapat dikatakan dekat. Dengan kepribadian yang bertolak belakang, menjadikan dua saudara tersebut jarang berkomunikasi jika tidak ada kepentingan. Bukan, bukan mereka bermusuhan, tetapi mereka memang lebih nyaman seperti itu.

“Masih memikirkannya?” Joonmyun membuka suara tanpa mengalihkan pandangan dari kertas-kertas di tangannya.

“Kau berhutang penjelasan, hyung. Jebal, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada orang tua kita!”

“Aku akan menjelaskan ketika kau sudah mampu menguasai diri.” Jawab Joonmyun santai.

Jongin mendengus. Berbicara dengan hyungnya mengenai masalah seperti ini memang bukan tindakan yang tepat. Tapi ia tak punya pilihan lain. Melihat orang tuanya bertengkar hebat memancing rasa penasarannya. Terlebih mereka membawa-bawa namanya dan sang kakak dalam perdebatan tersebut.

“Aku akan mendengarkanmu, hyung. Aku tidak akan bertidak macam-macam.”

Joonmyun mendongak, menatap manik adik kecilnya yang kini telah tumbuh menyaingi dirinya sendiri. Matanya menelusuri setiap sisi diri Jongin. Bahu tegak itu, rahang keras itu, ia menyadari jika sosok yang tengah diamatinya bukan lagi seorang anak kecil yang suka merengek padanya hanya untuk meminta ddokbukki. Ia bukan lagi seorang murid sekolah dasar yang selalu takut menyeberang ketika berjalan. Jongin-nya telah tumbuh menjadi namja dewasa. Dan Joonmyun yakin ini adalah saat yang tepat bagi Jongin mengetahui masalah keluarganya. Masalah yang menyangkut tentang orang tua mereka. Masalah yang selama ini ia sembunyikan dan ia pendam sendiri karena adiknya masih terlalu kecil untuk mengerti.

“Hyung melamun.”

Joonmyun tersadar dari lamunannya, kemudian beranjak mendekati adiknya.

“Kau tahu, Jongin? Wajahmu sangat mirip dengan eomma.”

Jongin memiringkan kepala, tak mengerti arah pembicaraan namja yang tujuh tahun lebih tua darinya itu.

“Dan kau tahu mengapa aku bersikeras menjadi seorang jaksa?”

Jongin masih terdiam menatap hyungnya.

“Itu karena aku ingin seperti eomma. Menjadi seorang penegak keadilan. Walaupun ku tahu takdir sangat tidak adil padaku. Ah bukan, pada kita maksudku.”

“Hyu-“

“Dengarkan penjelasanku sampai akhir dan kau akan mengetahui tanpa perlu bertanya.” Potongnya ketika Jongin akan menginterupsi.

“Kau pasti menganggap otakku bermasalah ketika aku mengatakan hal tadi. Eomma? jaksa? Tentu kau bertanya-tanya, bukan? Tapi itu benar, Jongin. Eomma kita adalah seorang jaksa handal di sebuah kota kecil jauh dari sini. Eomma kandung kita. Bukan eomma yang bersanding bersama appa saat ini.”

Otak Jongin terpaksa bekerja lebih keras untuk mencerna kata-kata Joonmyun. Tetapi sekeras apapun ia berusaha, ia tak mampu memahaminya. Eomma? Selama ini yang ia tahu, eomma adalah wanita yang saat ini berada di rumahnya. Wanita yang pertama kali ia pahami sosoknya semenjak kecil. Wanita yang mengasuh dan menemaninya sampai ia tumbuh sebesar ini. Ia tak punya dan tak mengharap eomma lain selain wanita itu. Jongin sangat menyayangi eommanya.

“A-apa yang kau bicarakan, hyung?”

“Aku tahu sulit bagimu mempercayainya. Tapi inilah kenyataannya, Jongin.”

Joonmyun menepuk pundak Jongin pelan. Seolah memberi kekuatan pada dongsaengnya yang sedang berusaha memahami keadaan.

Air mata tak dapat ia sembunyikan ketika Joonmyun menceritakan apa yang terjadi sembilan belas tahun yang lalu. Cerita bagaimana eomma dan appa-nya memutuskan untuk bercerai bahkan saat dirinya belum dapat menginjakan kaki di lantai tanpa bantuan. Begitu kejamnya takdir padanya. Ia bahkan tidak pernah ingat bagaimana wajah eomma yang hyungnya bicarakan itu. Sekali lagi, yang ia tahu eomma adalah wanita yang mengajarkannya berjalan. Wanita yang selalu ada untuknya kapanpun Jongin butuh.

“Jadi, dimana eomma sekarang?”

Joonmyun mendesah, menatap dongsaengnya lama.

“Apa aku bisa bertemu dengannya, hyung?” Kata Jongin kembali dengan suara lemah, matanya sembab. Ia terlihat sangat terpukul.

“Aku sendiri tidak yakin dimana eomma sekarang.”

.

-xoxo-

.

Selepas pembicaraan dengan kakak kandungnya, Jongin menjadi lebih pendiam. Sehun adalah orang yang paling merasakan perubahan itu karena mereka selalu mengambil mata kuliah yang sama. Sehun tahu ada yang tidak beres dengan sahabatnya.

“Berhenti mencatat, Jongin-ah. Kau bisa menyaingiku jika seserius itu belajar.” Bisik Sehun di tengah-tengah perkuliahan.

Jongin menoleh sesaat pada sumber suara kemudian kembali berkutat dengan penanya. Sehun yang diabaikan hanya mencibir.

Ketika Lee seongsaengnim mengakhiri perkuliahan, Jongin segera bangkit. Meninggalkan Sehun yang masih membereskan bukunya.

“Hei, tunggu aku!” Seru Sehun yang merasa ditinggal.

Tetapi sepertinya Jongin tak mendengarkan. Ia tetap melenggang menuju kantin, tempat biasa ia menghabiskan jam makan siang.

“Jongin!”

“YA! Kim Jongin dengar aku tidak!” Teriaknya kesal. Nafasnya tersenggal akibat menyamai langkah kaki sahabatnya.

“Diamlah, Albino. Kau terlihat seperti seorang yeoja yang ditinggal kekasihnya.” Jawab Jongin tanpa ekspresi. Sehun mendelik.

Mereka menemukan namja mungil tengah duduk seorang diri menyantap makan siangnya. Buru-buru Sehun menghampiri, sedangkan Jongin pergi mengantri makanan.

“Sendirian? Dimana Yeollie hyung?”

“Molla, perutku sangat lapar jadi aku langsung kemari.”

“Kau menghindarinya, hyung.”

Baekhyun menghentikan gerakan sumpitnya. Mendongak menatap namja di depannya.

“Kau pikir aku selicik itu? Demi Tuhan, Sehun-ah, aku akan merelakannya jika itu membuat Chanyeol bahagia.”

“Apa yang akan direlakan?” Potong Jongin tiba-tiba. Ia mengambil tempat duduk di samping Baekhyun dengan nampan di tangannya.

Baekhyun menoleh ke samping, mengamati pemuda yang satu tahun lebih muda darinya sebelum ia mengedikan bahu.

Selang beberapa saat si jangkung ikut bergabung dengan mereka. Mengambil alih kursi di sebelah Sehun tanpa terlebih dulu mengantri makanan. Letak duduknya membuat ia tepat berhadapan dengan Jongin.

“Bicaralah, jangan kau pendam sendiri.” Chanyeol membuka mulut. Menatap Jongin prihatin.

“Apa yang harus ku bicarakan, hyung? Bahkan aku sendiri masih tidak mengerti.”

Sehun dan Baekhyun menoleh tertarik. Mereka tahu ada sesuatu yang tidak mereka ketahui. Mereka tertinggal informasi.

“Aku tahu ini sulit, tapi setidaknya berbagilah dengan kami. Kami selalu ada untukmu, Jongin-ah.”

“Terimakasih, hyung.”

“Tunggu, apa kalian akan tetap membiarkan aku dan Baekhyun hyung bertanya-tanya? Sebenarnya ada apa? Ya, Kkamjong, ceritakan padaku juga!” Gerutu Sehun.

Mata mereka membulat heboh ketika Jongin –dengan bantuan Chanyeol- menceritakan masalahnya. Mereka tak percaya, tentu saja. Kim ahjumma adalah sosok eomma yang sangat sempurna. Anggun, perhatian, dan penuh kasih sayang. Mereka selalu iri pada Jongin. Mereka menginginkan sosok eomma seperti itu juga. Dan mereka tak menyangka ternyata beliau bukan eomma kandung Jongin.

“Jongin.” Lirih Baekhyun. Ia mengusap punggung namja disebelahnya. Menatapnya prihatin.

Sehun ikut memperhatikan. Tak kalah menyesal. “Jadi, kau belum tahu eomma kandungmu berada dimana?”

Jongin menggeleng.

“Kata Yoora noona, Joonmyun hyung sedang berusaha mencari tahu. Ia ingin menikah di dampingi eommanya. Hyung dan noona.”

“Jadi itu sebabnya hyung tidak mau buru-buru menikah. Karena eomma.” Bisik Jongin lebih pada dirinya sendiri.

.

-xoxo-

.

 

“Aku memasak bukan untuk didiamkan seperti ini, oppa. Makanlah.”

“Mianhae, Yoora-ya. Tapi sepertinya aku sedang tidak nafsu makan.”

Yoora menatap sedih namja di depannya. Biasanya ia akan marah-marah jika kekasihnya tidak mau mencicipi hasil masakannya. Tapi kali ini ia hanya diam. Seakan mengerti perasaan Joonmyun.

“Oppa belum mendapat kabar lagi?”

Joonmyun mendesah. “Sepertinya aku benar-benar kehilangan jejak eomma. Terakhir kali beliau bekerja di Bucheon, tetapi sekarang entahlah. Aku tidak menemukannya.”

“Bukankah keluarga Baekhyun mempunya banyak relasi di kota itu? Oppa tidak mau meminta bantuan?”

Mata Joonmyun melebar. Benar, keluarga Byun berasal dari Bucheon. Dan mereka merupakan orang berpengaruh. Pasti tidak sulit mencari informasi tentang eomma.

Joonmyun segera membuka handphonenya. Mencari nama dalam daftar kontak. Sebelum ia memencet tombol call, pintu apartemen terbuka.

“Aku pulang.”

“Eh, tumben sekali kau pulang cepat?” Tanya Yoora heran.

Chanyeol tidak menjawab pertanyaan noonanya. Ia masuk diikuti oleh tiga namja lainnya.

“Noona, kau memasak sesuatu? Aku lapar.” Sehun merengek.

Baekhyun hanya mencibir. “Siapa suruh tadi tidak makan.”

“Aku membuat beberapa makanan. Makanlah sebelum dingin.”

Sehun dan Chanyeol yang tidak memakan apapun di kampus langsung melenggang menuju meja makan. Baekhyun hendak mengikuti namun suara Joonmyun menghentikan langkahnya.

“Baekhyun-ah, bisa kita bicara?”

Baekhyun mengangguk. Kemudian duduk di samping Joomnyun.

“Aku ingin meminta bantuanmu.”

“Bantuan? Apa yang bisa ku bantu, hyung?”

“Tentang eomma kami.” Joonmyun menghentikan kata-katanya. Sejenak melirik Jongin yang masih berdiri memperhatikan.

“Terakhir kali aku mendengar kabar bahwa eomma berada di Bucheon. Tetapi setelah kucari, aku tidak menemukannya. Sangat sulit mendapat informasi dari orang-orang sana. Bisakah kau membantuku?”

“Benarkah? Jika eomonim memang berada di Bucheon, pasti tidak sulit untuk menemukannya. Keluarga kami banyak berhubungan dengan berbagai kalangan masyarakat Bucheon.”

“Itu sebabnya aku meminta bantuanmu, Baekhyun.”

“Keure. Akan aku usahakan. Jongin bilang eomonim bekerja sebagai jaksa?”

Joonmyun mengangguk.

“Kalau begitu aku akan meminta bantuan teman appa yang seprofesi dengan eomonim. Semoga saja mereka mengetahuinya.”

“Gomawo, Baekhyun-ah. Jinjja Gomawo.”

“Gwenchana, hyung. Jangan berterimakasih seperti itu. Kalian sudah ku anggap saudaraku sendiri.”

.

-xoxo-

.

Malam itu Baekhyun habiskan untuk menepati janjinya pada Joonmyun. Ia menghubungi teman-teman appa-nya yang bekerja di bidang hukum. Namun tiap kali pembicaraan terputus, ia mendesah. Sangat sulit ternyata mencari informasi keberadaan eomma sahabatnya. Beberapa orang yang ia hubungi memang mengenalnya, tetapi saat ini mereka tidak tahu keberadaan eomma Jongin karena beliau sudah tidak aktif lagi bekerja.

Baekhyun merebahkan diri di ranjangnya setelah tidak ada lagi yang dapat ia hubungi. Matanya menangkap jarum jam yang menunjuk angka dua belas. Sudah tengah malam, tetapi ia masih terjaga. Alih-alih memejamkan mata, pikirannya justru melayang kemana-mana.

.

-xoxo-

.

Baekhyun pikir waktu berjalan begitu cepat. Ia berlari terburu-buru menuju kelas musik. Langkahnya lebar-lebar. Ia sudah terlambat.

“Han seongsaengnim pasti membunuhku. Bisa-bisanya kesiangan begini. Sial!”

“Aiishh, kakiku lelah. Ayo Baekhyun, ayo lebih cepat lagi!” Napasnya mulai tersenggal.

“Hah, nap..ppasku…”

Racauan demi racauan keluar dari mulut Baekhyun. Ia sudah seperti orang gila yang berbicara sendiri.

“Kenapa tidak sampai-sampai. Ya Tuhan.”

Kaki Baekhyun terus dipaksa berlari. Hingga ia berbelok pada koridor yang sepi, matanya menangkap dua orang berdiri di ujung lorong. Ia memelankan langkahnya, memperhatikan apa yang sedang dilakukan dua orang lawan jenis tersebut. Seorang yeoja bersandar pada dinding koridor, sedangkan sang namja berdiri di depannya, menekankan tangannya pada dinding seolah mengunci gerakan yeoja tersebut. Semakin Baekhyun mendekat, semakin jelas siapa namja dan yeoja yang sedang bermesraan itu. Ia menahan nafas ketika sang namja mengecup kilat kening yeoja di depannya. Yeoja yang ia kenal dengan baik bernama Kim Yeejin. Mantan kekasih yang masih menghuni hatinya.

Otak Baekhyun seperti berhenti bekerja. Langkahnya terhenti tanpa ia sadari. Merasa ada orang lain di dekatnya, namja itu menoleh. Hati Baekhyun bagai tertusuk pisau untuk yang kedua kali ketika menyadari bahwa itu sahabatnya.

Seharusnya Baekhyun tahu ini akan terjadi. Seharusnya ia sudah menyiapkan hatinya jauh-jauh hari. Tapi kenyataannya ia tak sekuat itu. Perasaan sakit di hatinya memaksa air matanya menggenang. Bahkan ia tak mampu menahan lebih lama ketika namja tinggi itu dengan senyum lebar menyapanya.

“Annyeong, Baekhyun.”

.

.

.

-TBC-

19 thoughts on “Edelweis (Chapter 5)

  1. indahtentiana berkata:

    aaaaaaaa . akhirnya dilanjut jugaaaa . baekhyuuun yg sabar yaaa . huhu sini sama aku aja . hehe . berasa agak kesel sama chanyeol tapi dya gaada salah sbnrnya . hmmm .next part aku tunggu banget nget nget !!!

  2. wunara berkata:

    hallo author ,aku new reader :3 dari part awal sampai part ini bahasamu enak sekali dibacaaaaa >.< jjang ! suka banget setiap mereka berempat lg kumpul / berantem ,feel brothershipnya dapet bgt gitu haha . semoga cepet update yaaa😉 makin sering buat sehun jongin berantem oke :3 *plak

  3. ParkJudit berkata:

    Huahh~~ Kasian si Baekkie. Rada kesel sbnr nya sama Chanyeol gue.😥 Tp, sebenernya Chanyeol gue kgak salah. Yg salah itu si Yeejin, knp dia terima si Chanyeol, pdhl dia tau Chanyeol itu sahabat nya Baekhyun. Nappeun Yeoja!!!!😡 Mending Chanyeol sma aku. :v😀
    Oke thor, pkoknya gue kgak setuju Chanyeol sma Yeejin!!😡
    Ya udh, di tunggu kelanjutan-nya.😉
    Hwaiting for Author. ‘-‘)9

  4. bintang dwi ananda berkata:

    huahh gmn lnjtnya thor? baekyeol jgn dibuat brntem ya? akaka scene sekainya banyakin yaaa whwhwhw maaf kl crewet:p annyeong^^

  5. In Soo berkata:

    yaampun, jongin jangan tertutp gitu ne, sahabat adlh sgalanya mrka pasti bantu kamu kok,,🙂
    smga eomma jongin cpt ktmu deh,, oh ya baekhyun yang sabar ya, jgan smpk gra2 1 orng cwek bkin prshbatan kalian hancur,,

    d tunggu chapter slanjutnya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s