My Blue

img1402629559389_resized(1)

Judul : My Blue

 

 

Author : Lu_llama

 

 

Cast : Park Jiyeon , Kim Jongin

 

 

Lenght : Oneshot

 

 

Rating : T

 

 

Genre : Romance

 

 

Cr. Poster : cafeposterart.wordpress.com

 

 

Summary : Ini bukan tentang penyatuan warna, tapi sebuah ungkapan perasaan yang terdapat warna dalam setiap ceritanya.

“Dia tidak pernah mau bergabung. Sikapnya sangat tertutup”

 

 

“Gadis itu terlalu aneh. Dia tidak akan bicara jika kau tidak bertanya”

 

 

“Seaneh itu kah aku?”

 

 

Derap langkah kaki itu terlihat tenang. Pandangannya menyapu seluruh pemandangan yang terpampang dijalanan yang terlihat sepi. Tidak ada seorangpun. Hanya ada suara kicau burung dan hembusan angin yang lumayan kencang juga suara desir ombak yang terdengar samar. Sebuah balon berwarna putih berada digenggamannya.

 

 

Dia tetap menyusuri jalan lurus itu hingga sebuah mercusuar terpampang dihadapannya. Ia memasukinya dan menaiki satu persatu anak tangga untuk mencapai lantai paling atas. Hamparan laut luas dibawah langsung terlihat saat ia tiba diatas sana. Ia memejamkan matanya, merasakan desiran angin kencang yang menerpa tubuhnya.

 

 

“Kenapa kau itu datar sekali? Apa hidupmu juga sedatar wajahmu?”

 

 

Deru ombak adalah satu-satunya suara yang ia dengar saat ini. Bau laut yang tercium memberikan kesan tersendiri untuknya. Gadis itu mendongak ke atas, menatap hamparan langit biru yang luas. Tidak begitu tergambar ekspresi diwajahnya. Bibirnya terkatup rapat. Rambut sebahunya bergoyang tertiup   angin yang berhembus. Ia mendesah.

 

 

“Aku pernah jenuh,bosan,bahkan marah”

 

 

Ia mengeluarkan sebuah spidol berwarna dari dalam tasnya dan bersiap untuk memberi coretan pada balon yang ia bawa.

 

 

“Hanya aku yang tau hidupku…”  ia mulai menulis namun terhenti saat tiba-tiba ia tidak ingin melanjutkan tulisannya. Lalu ia mulai melepas balon dari genggamannya. Matanya terus terarah mengikuti peregerakan balon yang sudah mulai terbang tinggi. Denga cepat ia mengeluarkan ponselnya,lalu mengarahkannya pada sang balon dan memotretnya.

 

 

“Sampaikan salamku padanya” ucapnya pelan “aku penasaran, apa kau selembut catton candy?

 

 

Yaa, dia berusaha menyampaikan salamnya pada sang awan lewat balon itu. Kegiatan ini sudah sering ia lakukan. Terkadang ia juga memotret langit-tanpa balon. Ia hanya suka. Ia senang saat melihat awan itu.

 

 

 

“Kenapa kau selalu memotret langit?”

 

 

Gadis itu menoleh. Ia terkesiap. Pria dihadapannya ini sukses membuatnya menegang juga bingung disaat yang bersamaan.

 

 

“Aku bertanya padamu Park Jiyeon”

Tegas laki-laki itu, dan Jiyeon masih terdiam. “Kau heran kenapa aku bisa disini?”

 

 

“Sejak kapan kau disini?”

 

 

Laki-laki itu mendengus “sepertinya kau terlalu asik dengan kegiatanmu itu hingga tidak menyadari keberadaanku” ia kembali menoleh kedepan “Aku sudah berada disini lebih dulu” laki-laki itu menoleh, menatap Jiyeon dalam tanpa ekspresi berarti.

 

 

Jiyeon tergugu, ia mengalihkan pandangannya kedepan. Menghindar dari tatapan-yang menurutnya-sedikit membuatnya resah.

 

 

Kim Jongin. Laki-laki itu bukan orang asing. Jiyeon mengenalnya. Sangat. Siapa yang tidak mengenal Jongin disekolah. Dia tidak bisa disebut sebagai pembuat onar-atau mungkin iya, bukan pula siswa yang patut menjadi panutan. Ia seorang yang sembrono dan serampangan. Sikapnya cuek dan tingkah juga ucapannya yang terkadang dingin-bahkan ketus itu bisa membuat orang lain geleng kepala. Bukan tidak sering ia membolos dan melanggar peraturan sekolah. Dan tidak ada yang bisa menolak pesona yang ia punya. Jongin merupakan bintang dilapangan basket. Tidak ada yang menyangka bahwa laki-laki seperti Jongin memiliki otak yang luar biasa. Ia pernah menjuarai olimpiade matematika disekolahnya. Jongin tidak suka diusik dan mengusik orang lain. Itu sebabnya ia tidak pernah memperhatikan sekitarnya bahkan para penggemarnya diluar sana.

 

 

“Kau mencoba membuat harapan dengan melepaskan balon itu kelangit?” Jongin tertawa mendengus

 

 

Hanya desahan nafas yang terdengar. Jiyeon bukannya malas meladeni laki-laki ini. Hanya saja, ia terlalu bingung harus bersikap seperti apa.

 

 

Hening. Lagi-lagi hanya desiran ombak yang terdengar. Mereka menatap lurus kedepan. Menikmati sejuknya angin sore yang berhembus. Satu hal yang terlihat sama dari dua orang siswa SMA ini, ekspresi juga tatapan datar yang terkesan kosong.

 

 

“Kenapa kau selalu menatap langit?”

 

 

Seruan itu terdengar jelas saat sapuan angin yang berhembus kencang menjadi satu-satunya pengusik keheningan. Jiyeon bungkam, mengamati ombak yang bergulung itu dengan pandangan mengernyit.

 

 

“Bukan langit” jawabnya pelan.

 

 

“Lalu?” Jongin tidak merubah posisinya. Rambut hitamnya bergerak bebas mengkuti arah angin.

 

 

“Gumpalan-gumpalan putih dilangit. Awan”

 

 

Jongin menoleh. Menatap gadis dihadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Park Jiyeon bukan gadis aneh-menurutnya. Namun pandangan orang lain terhadap Jiyeon berbeda. Dia terlalu menarik diri. Dia seperti tidak membiarkan orang lain memasuki kehidupannya dan juga sebaliknya. Itu yang membuat orang-orang disekelilingnya melihat Jiyeon sebagai gadis asing. Karena memang kenyataannya Jiyeon seperti mengasingkan diri.

 

 

Kesan pertama Jongin saat melihatnya adalah gadis ini terlalu angkuh. Karena saat itu siswa baru seperti Jiyeon tidak mengucapkan kata “tolong” dan “terimakasih”  saat Jongin sudah berbaik hati menunjukkan ruang guru padanya. Jongin sempat mencibir dan berkata dingin pada Jiyeon saat tidak sengaja gadis itu menumpahkan minuman dingin keblazer yang Jongin kenakan. Dengan wajah datarnya , Jiyeon hanya menunduk kecil dan menggumamkan kata maaf.

 

 

Namun hari terus berlanjut dan bulan terus berganti. Bukan sebuah kesengajaan bagi Jongin saat hampir setiap hari ia melihat Park Jiyeon berdiri ditaman sekolah saat sore mulai menyapa. Gadis itu hanya mendongak menatap langit dan sesekali memotretnya dengan ponsel miliknya. Mungkin juga hanya sebuah kebetulan ketika Jongin tidak sengaja memergoki gadis itu berjalan seorang diri dijalan sepi yang mengarah pada sebuah mercusuar pinggir pantai. Mulai hari itu hampir setiap minggunya ia melihat gadis itu disana. Di atas mercusuar tinggi itu dengan sebuah balon putih ditangannya.

 

 

Tanpa sadar, perlahan ia sering memperhatikan gadis itu baik disekolah ataupun diluar sekolah. Secara sengaja ataupun tiak sengaja. Karena hal itu juga, Jongin merubah pandangannya terhadap gadis itu. Ia bukan gadis angkuh. Ia hanya terlalu pendiam dan suka menyendiri. Tidak terlalu suka keramaian dan kebisingan.

 

 

“Apa yang kau suka dari awan?”

 

 

Kali ini Jiyeon menoleh. Tanpa ekspresi berarti diwajahnya. Dia menatap Jongin dalam diam. Jiyeon tidak pandai mengekspresikan perasaannya. Namun tidak bisa dipungkiri, ia juga gadis biasa yag terkadang tak bisa mengontrol detak jantungnya sendiri. Jongin terlalu sempurna untuk Jiyeon. Maka ia sadar, sebesar apapun perasaannya pada Jongin, ia tidak mungkin bisa meraihnya. Jongin terlalu sulit diraih. Seperti awan-awan di atas sana. Mereka hanya bisa dipandang. Akan sulit menyentuh bahkan meraihnya.

 

 

“Karena bentuknya unik. Terkadang aku merasa bahwa mereka seperti cotton candy  yang lembut” Jiyeon kembali menoleh kedepan, kemudian mendongak “setiap aku melihatnya, aku bisa merasakan bahwa mereka berarak mengikutiku”

 

 

“Hanya itu?” Jongin ikut mendongak

 

 

“Aku suka putih. Bersih. Cerah. Lambang kesucian”

 

 

Jongin bisa merasakan bahwa tatapan itu berbeda. Sorot matanya yang terlihat kosong perlahan berubah. Jongin melihat senyuman dimatanya.

 

 

“Kalau begitu aku yang akan menjadi langitnya”

 

 

Terdengar seperti gurauan memang. Apalagi seorang Jongin yang mengatakannya. Pria cuek yang serampangan. Tidak ada kesan serius didalamnya. Namun ternyata kalimat barusan sukses membuat Jiyeon menoleh. Ia sedikit terkesiap.

Dia terus menatap Jongin, tapi yang ditatap tidak memperlihatkan ekspresi apapun.

 

 

“Karena langit biru. Biru merupakan lambang ketenangan mungkin juga kedamaian”

 

 

Jiyeon bungkam. Dia masih memperhatikan Jongin dengan tatapan bingungnya.

 

 

“Biru akan memberikan dampak menenangkan” Jongin menoleh, sorot matanya masih belum bisa menjelaskan apapun. “Jadi kau awan dan aku langit. Kau putih dan aku biru” lanjutnya tanpa ekspresi

 

 

Situasi ini belum bisa dipahami. Jiyeon masih ragu akan pemikirannya tentang ungkapan aneh pria ini.

 

 

“Mulai sekarang aku akan menjadi langit dan biru-mu”

 

 

“A-apa?”

 

 

Jongin kembali mendongak. Hamparan langit biru itu menjadi fokusnya saat ini “Bukankah awan dan langit itu bersama? Mereka menjadi satu dan membentuk sebuah makna”

 

 

Jiyeon mengerjap. Memastikan bahwa saat ini ia memang benar-benar berada didunia nyata bersama Jongin disampingnya.

 

 

“Jadilah awanku” masih dengan ekspresi datarnya, Jongin menatap Jiyeon.

 

 

Ia merasakan tubuhnya menegang. Jiyeon membatu. Ia takut kalau saat ini Jongin bisa mendengar suara degup jantungnya.

 

 

Jongin berdecak dan tersenyum kecil. Kemudian menatap lekat kedua manik hitam milik Jiyeon “karena aku menyukaimu” ucapnya seolah menjawab semua kebingungan yang terjadi saat ini. “Kita akan menjadi seperti langit dan awan itu, kebersamaan yang membentuk makna. Mulai sekarang aku akan menjadi biru-mu”

 

 

Senja yang menyapa, deru ombak yang bergulung juga hembusan angin yang bertiup menjadi saksi bisu atas perasaan itu. Sebuah ungkapan manis yang syarat akan makna itu berhasil membuat sang hati menghangat. Tidak perlu jawaban, karena sorot mata itu mewakili segalanya. Dan akan menjadi terus bermakna seperti sang awan bertabur dilangit. Juga sang biru yang memberikan ketenangan bagi sang putih.

 

 

*   *   *

 

 

Dalam langkah pelannya, Jiyeon terus memperhatikan Jongin yang berjalan lebih dulu didepannya. Tidak ada yang berubah. Dimata Jiyeon, Jongin tetap terlihat sempurna. Sama seperti saat pertama kali mereka bertemu.

 

 

“Kau anak baru?”

 

 

Bukan tanpa alasan jika selama ini Jiyeon selalu memperhatikan laki-laki itu dari jauh. Lapangan basket adalah satu-satunya tempat  untuknya memperhatikan Jongin dari dekat-setidaknya ia bisa melihat Jongin dari bangku penonton.

 

 

“Hey!  Jangan berdiri disini jika kau tidak ingin terkena bola”

 

 

“Perhatikan jalanmu bodoh”

 

 

Jiyeon tidak pernah bisa membenci semua ucapan dingin nan ketus dari Jongin. Dia juga tidak pernah absen mengikuti kelas tambahan matematika hanya untuk bertemu Jongin.

 

 

“Kau itu manusia normalkan?”

 

 

Sampai saat ini Jiyeon tidak pernah lupa dengan pertanyaan yang Jongin lontarkan bulan lalu-saat kelas matematika berakhir. Laki-laki itu menunggunya diluar kelas dan menatapnya dalam. Jiyeon mengerti kata sindiran itu. Dia bahkan sempat merasakan sedikit sesak didadanya saat mata mereka bertemu. Tapi yang Jiyeon benci adalah kenyataan bahwa dia tidak pernah bisa benar-benar membenci Jongin.

 

 

“Jongin?”

 

 

Ucapan pelan itu masih bisa terdengar olehnya. Jongin menoleh dan menatap Jiyeon datar.

 

 

“Kenapa kau menyukaiku?”

 

 

Jongin terdiam cukup lama. Ia mencoba berpikir untuk mencari jawaban yang tepat dijadikan alasan.

 

 

“Entah” hingga akhirnya hanya itu yang terucap

 

 

Jiyeon terdiam, pandangan datarnya berubah sedikit mengernyit. Dia tidak merubah tatapannya saat Jongin berjalan mendekat kearahnya.

 

 

“Mungkin karena kau adalah kau. Yaaa..tanpa alasan”

 

 

Jiyeon merasa sebuah genggaman hangat ditangannya. Dia mendongak dan melihat Jongin tersenyum. Dan detik itu juga Jiyeon yakin, ketulusan itu benar-benar ada.

 

 

Mereka berjalan beriringan dengan genggaman yang semakin erat. Berjalan tanpa bayang-bayang kemarin juga hari esok. Saat ini adalah yang menentukan bagaimana waktu akan berlanjut.

 

 

“Mulai saat ini hanya aku biru-mu”

 

FIN

 

Huuaaa apaan ini .-. Soo cheessyyy.. sorry kalo sedikit anehh..

Sambil nunggu Do Kyungsoo : The Story Begin chater 5 kelar, aku buat fic baru. Semoga suka🙂

Sekarang aku pake nama diatas sebagai namapena ku.

Komen?

 

13 thoughts on “My Blue

  1. nadia1 berkata:

    WUAAH kerenn bgt,,,andai ada sequelnya
    dan sungguh ff buatanmu it cerita cinta sederhana yg mengalir seperti sungai. tenang bgt…………….. aq sk bgt……..

  2. adezenianggraeni berkata:

    Aaaah JongIn Jiyeon, cerita cinta yang sangat manis aku suka couple EXO-JIYEON🙂
    Do Kyungsoo : The Story Begin nya jangan lama-lama yah thor, FF nya keren.

    Lanjutkan karyamu FF Jiyeon-EXO Jjang !🙂

  3. MFAAEM berkata:

    sweeetttt dehh❤ ternyata jiyeon mampu meluluhkan kai meskipun sikapnya kek gitu hihi tapi justru itu daya pikatnya :3 ini harusnya ada sequel thor… biar manis(?) pengen tau kehidupan percintaan mereka selanjutnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s