FF EXO : AUTUMN Chapter 15

autumn

Author  :  Oh Mi Ja

Cast :  Leeteuk SJ as Park Jungsoo

Luhan EXO as Park Luhan

Kai EXO as Park Jongin

Sehun EXO as Park Sehun

Support Cast      : Kris EXO as jaksa

Suho EXO as Pastor

Taemin Shinee as Lee Taemin

JR JJ Project as Park Jin Young

Jonghyun CN Blue as Lee Jonghyun

Shindong SJ as Shin Donghee

Dongho Ukiss as Shin Dong Ho

Genre                   : Brothership, Family,  Friendship, little sad

Jonghyun datang ke rumah sewa Luhan setelah pulang sekolah. Luhan harus pergi bekerja beberapa saat lagi sehingga dia menawarkan diri untuk menjaga Sehun selama Jongin belum pulang.

“Oe? Jonghyun hyung?”

“Annyeong Sehunnie.” Ia melambaikan tangan, kemudian melepas sepatunya dan menghampiri Sehun yang tengah bersantai di ruang tamu. “Kau sudah baik-baik saja? Aku membelikan ddokbukkie untukmu.”

“Hah? Ddokbukkie lagi?” ia mendesah panjang, membuat Jonghyun mengerutkan keningnya karena biasanya, Sehun akan sangat senang jika dibawakan dokkbukkie. “Tadi pagi pastor Kim sudah membawakannya untukku. Sekarang, hyung membelinya juga.”

“Pastor Kim?”

“Pastor yang mengurus gereja di depan sana.” Luhan keluar dari kamar, menggendong ranselnya.

“Pastor yang kita temui waktu itu. Yang menyelamatkanku saat aku hampir tetabrak. Kau ingat, hyung?”

“Ah, pastor itu?” Jonghyun mengangguk-angguk. “Dia membawakanmu ddokbukkie? Benarkah?”

“Yeaah, ternyata pastor Kim adalah sahabat Jinyoung.”

“Karena itu juga Sehunnie jadi rajin ke gereja sekarang.”sahut Luhan membuat Sehun langsung mengelak.

“Tidak. Aku ke gereja karena aku ingin berdoa. Aku ingin bertemu Tuhan.”

“Hahaha baiklah…”

“Tapi… hyung, kau mau kemana? Kenapa membawa tas dan memakai jaket?”

“Ah, aku harus menemui Donghae sonsengnim. Ada masalah yang harus ku bicarakan dengannya.”

Sehun mengerjap, “Tentang sepak bola?”

“Tentu saja.”

“Dengan Jonghyun hyung?”tanyanya lagi.

“Tidak. Jonghyun akan menemanimu di rumah sampai Jongin datang.”

“Ha? Kenapa? Bukankah kau bilang ada masalah tentang sepak bola? Kalau begitu Jonghyun hyung harus ikut. Aku tidak apa-apa berada di rumah sendirian.”

Luhan tersentak, dia kehabisan alasan menghadapai Sehun. “Dia… sebenarnya…”

Jonghyun tersenyum, ia menghusap kepala Sehun lembut. “Hanya Luhan yang akan mengurus masalahnya karena dia adalah seorang kapten. Aku akan tinggal disini dan menjagamu.”

“Benarkah?” Sehun menatap Jonghyun lurus.

Jonghyun mengangguk.

“Jadi, bolehkah aku pergi, Sehunnie?”

Luhan memandang wajah adiknya dengan jantung berdebar-debar. Selalu ada perasaan takut yang menyelinap setiap kali dirinya berbohong. Hanya takut jika kebohongan itu akan diketahui oleh Sehun suatu saat nanti.

Namun ternyata Sehun mengangguk,”tidak apa-apa. Aku bersama Jinghyun hyung saja. Lagipula, Jongin hyung akan pulang sebentar lagi.”

Diam-diam, Luhan menarik napas lega. “Kalau begitu aku pergi dulu.”

***___***

Luhan meninggalkan rumah dan berjalan menuju tempat kerjanya. Beruntung karena Sehun sama sekali tidak curiga tadi. Namja tampan itu berdiri di halte bus dan menaiki bus yang tak lama berhenti di depan halte.

Membutuhkan waktu selama 20 menit, akhirnya ia sampai di tempat yang ia tuju. Luhan melompat turun dari bus dan langsung bergerak menuju kedai.

“Oe? Hyung-nim.. ah maksudku… Kris? Kenapa kau masih disini?” Luhan terkejut saat ia mendapati Kris masih berdiri di belakang meja kasir. “Bukankah seharusnya kau bekerja?”

Kris tersenyum, “Aku libur hari ini. Jadi aku memutuskan untuk menemanimu menjaga kedai.”katanya. “Kau sudah pulang sekolah? Kenapa tidak memakai seragam?”

Luhan menunduk, menatap baju yang dipakainya lalu memandang Kris lagi. Ia menggeleng, “Aku tidak pergi ke sekolah hari ini.” Luhan berkata sembari berjalan menuju loker untuk meletakkan tas ransel dan jaketnya.

“Kenapa?” Kris menaikkan nada suaranya.

“Adikku sakit. Aku harus menjaganya hari ini.” Terdengar teriakan Luhan dari ruang ganti.

Kris tidak bersuara apapun lagi sampai ia melihat Luhan keluar, lengkap dengan seragam kerjanya.

“Sakit apa?”

“Demam.”kata Luhan bergerak ke sebelah Kris. Ia mulai mengelap etalase. “Dia alergi dingin jadi mudah terkena demam.”

“Sudah diobati?”

Luhan mengangguk, masih tidak menoleh kearah Kris. “Kemarin dia dirawat di rumah sakit selama satu hari. Sekarang keadaannya sudah jauh lebih baik.”

“Lalu siapa yang menjaganya di rumah jika kau bekerja?”

“Sementara ini dia bersama sahabatku sampai adikku yang lain pulang sekolah. Setelah itu, dia akan menjaganya.”

“Waaah, kau memiliki sahabat dan adik yang baik. Hidupmu pasti sangat menyenangkan.”

Luhan menoleh, hanya tersenyum tipis. “Mungkin.”

“Ada apa? Sepertinya kau tidak begitu senang.”

“Haha.. tidak. Aku senang. Sangat senang.”

Kris terdiam. Mulai merasakan jika Luhan memang sebenarnya berbeda. Dia mengungkapkan perasaan bahagianya dengan ekspresi paling sedih yang pernah ia lihat. Matanya tidak bisa berbohong dan dengan jelas mengatakan jika dia sedang menyimpan sebuah luka.

“Annyeong haseo.”

Kris terus memperhatikan Luhan yang sedang melayani seorang tamu.

“Bisakah aku bantu pesananmu?”

“Aku ingin satu Capucinno hangat dan satu Americanno dingin.”kata pengunjung itu.

Luhan mengangguk sedikit, “baik. Silakan tunggu sebentar.”

“Ah, dan aku ingin roti coklat itu juga. Aku ingin empat potong.”

“Ah, baik nona.”

Luhan mulai menyibukkan dirinya membuatkan pesanan pengunjung. Sementara Kris, membantu mengambilkan roti coklat dari dalam etalase.

“Kasus tentang penggelapan uang perusahaan yang dilakukan oleh tuan Park Jungsoo beberapa bulan lalu akhirnya resmi di tutup. Hakim telah memutuskan jika dia benar-benar bersalah dan telah menjatuhi hukuman untuknya. Diyakini jika tuan Shin Donghee—“

“Ah, sayang sekali. Pada awalnya, aku benar-benar menyukai Park Jungsoo. Ibuku bahkan sangat menghormatinya karena dia sangat murah hati. Ternyata, dugaanku salah. Dia sangat buruk. Bahkan menggelapkan uang perusahaan.”

Luhan meletakkan gelas kopi yang di pegangnya lalu berbalik, menatap pengunjung tadi dengan wajah sinis.

“Jika kalian tidak mengetahui apapun sebaiknya jangan bicara macam-macam.”ketusnya. “Jangan pernah memutuskan bagaimana hidup seseorang jika kalian bahkan tidak mengenalnya sama sekali.”

Pengunjung itu dan salah seorang temannya terlihat bingung, “Kenapa kau tiba-tiba bicara seperti itu?”

Temannya mengangguk, “bukankah dia sudah jelas bersalah? Dia menggelapkan uang perusahaan demi keuntungannya.”

Luhan menghembuskan napas keras, ia mengambil dua gelas kopinya dan memberikannya pada pengunjung itu.

“Kalian bisa pergi sekarang. Tidak perlu membayar, aku yang akan membayarnya.”

“Ya, wae geurrae?” pengunjung itu masih sangat bingung.

“Aku bukan tipe pria yang bisa membentak wanita. Jadi sebaiknya kalian pergi sekarang sebelum aku kehabisan kesabaran.”

“Bagaimana bisa kau membela si penipu itu? Aneh.” Pengunjung itu masih mencibir.

“Jangan pernah mengatakan dia penipu!”bentak Luhan membuat dua pengunjung itu seketika termundur.

“Luhan!” Kris menarik lengan Luhan dan berdiri didepannya. “Ah, maafkan dia. Dia tidak bermaksud—“

“Kenapa kau membentak kami? Aissh, apa pelayanan disini sangat buruk?”

Kris membungkuk sopan, “aku mohon maafkan kami. Kami akan berhati-hati di kemudian hari. Maafkan kami.”

Setelah pengunjung itu akhirnya pergi. Kris berbalik dan menatap Luhan lurus. “Apa yang sedang kau lakukan? Kau membuat mereka pergi.”

Luhan hanya menunduk, tanpa berani menatap sepasang mata Kris. “Maafkan aku. Aku akan membayar biayanya.”ujarnya sambil hendak berlalu.

Namun Kris segera menahan lengannya, “bukan itu masalahnya.” Ia menarik tubuh Luhan kembali. “Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa kau jadi begitu emosi?”

Luhan menggeleng sambil tersenyum tipis, “mungkin aku hanya sedikit pusing.”

“Katakan padaku Luhan.” Kris memaksa Luhan untuk menatapnya. “Apa yang terjadi di hidupmu? Dan apa hubunganmu dengan Park Jungsoo?!”

***___***

“Aku pulaaaang!”teriak Jongin dari pintu rumah. Ia melihat Jonghyun sedang mengajari Sehun di ruang tamu.

Melihat Jongin datang, Sehun langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri kakak kandungnya itu. “Hyung! Kau sudah pulang?”tanyanya bersemangat. “Tadi Jonghyun hyung membelikan ddokbukkie untukku tapi hyung bisa memakannya. Hyung pasti sangat lapar, kan?”

“Benarkah?” Jongin meletakkan tas ranselnya. “Kenapa kau tidak memakannya?”

“Aku sudah memakan ddokbukkie bersama Luhan hyung tadi pagi. Pastor Kim yang membelikannya untukku.”

“Ah, pastor Kim? Aku juga bertemu dengannya tadi pagi. Jadi dia mengunjungimu?”

Sehun mengangguk-angguk, “hanya sebentar sebelum dia pergi bekerja.”katanya. “Hyung, cepat ganti baju dan makan ddokbukkienya. Aku akan memanaskan ddokbukkienya untukmu.”

Kening Jongin seketika berkerut, “kau bisa memanaskan ddokbukkie?”

“Jonghyun hyung mengajariku. Bukankah kita hanya perlu memasukkannya ke dalam microwave?”

“Dia memaksa ingin memanaskan ddokbukkie-nya untukmu jadi aku mengajarinya.”

“Whooa, Sehunnie mau melakukannya? Charanda…”kata Jongin bangga sembari mengacak rambut Sehun.

Sehun tersenyum lebar, “Tentu saja.”

***___***

“Park Jungsoo adalah ayahmu?”desis Kris tertahan setelah mendengar seluruh penjelasan Luhan.

Luhan menunduk dalam, kemudian mengangguk pelan. “Aku tidak bermaksud menyembunyikan semuanya darimu. Hanya saja… aku benar-benar membutuhkan pekerjaan.”

“Tapi, walaupun dia memang ayahmu. Kau tetap tidak bisa memarahi pengunjung seperti tadi.”

“Maaf. Tapi aku kesal karena mereka menuduh ayahku yang tidak-tidak.”

Salah satu alis Kris terangkat tinggi, “apa maksud ucapanmu? Bukankah dia bersalah?”

“Sama sekali tidak!” Luhan langsung menggeleng. “Dia tidak bersalah. Ayahku sudah di fitnah, Kris!”

“Di fitnah?” Kris semakin bingung.

“Semuanya terjadi begitu saja. Aku sangat mengetahui bagaimana watak ayahku. Dia tidak mungkin melakukannya. Aku membantunya malam itu, bersama dengan Donghyun ahjussi. Kami menuju kantor appa untuk mengambil bukti dan tiba-tiba mobil appa di tabrak oleh seseorang. Dia juga membawa lari bukti itu.”

Mata Kris melebar, “hah?!”

“Appa pernah bilang jika salah satu dewan direksi tidak begitu menyukai appa sehingga dia selalu membuat masalah atas nama appa. Dia juga telah memalsukan laporan keuangan dan menggunakan cek-cek kosong yang telah appa tanda tangani sebagai alat kejahatannya. Malam itu, aku membantu appa kabur dari penjara untuk mengambil laporan keuangan asli dan sebuah memo dari orang itu. Memo itu menjelaskan jika dia meminta appa untuk menandatangani beberapa cek kosong sebagai alat pembayaran tender. Namun, saat appa ingin kembali ke penjara, mobilnya justru ditabrak. Dan aku yakin, orang yang menabraknya itu juga telah membawa lari bukti-bukti itu. Karena saat malam penyelidikan, tidak ditemukan bukti apapun di mobil appa. Dan semua itu justru memberatkan hukumannya atas usaha ingin melarikan diri.”

“Luhan, jika itu memang benar. Harusnya kau bisa menjadi saksi untuk meringankan ayahmu!”

Luhan menggeleng lirih, “Donghyun ahjussi bilang tidak semudah itu.” ia menghela napas panjang. “Dia bilang aku tidak bisa menjadi saksi tanpa adanya bukti.”

“Donghyun? Siapa Donghyun?”

“Pengacara yang disewa ayahku. Dia membantu kasus ayahku waktu itu.”

“Saat kecelakaan itu berlangsung, dimana posisimu dan Kim Donghyun itu?”

“Aku hanya mengantar mobil, setelahnya appa mengantarku pulang. Dia menyuruhku menunggu di rumah karena itu terlalu berbahaya. Setelahnya, ku dengar, seseorang juga menyerang mereka berdua saat keduanya berada di ruangan appa. Appaku selamat sedangkan Donghyun ahjussi pingsan setelah terkena pukulan.”

Kris terdiam. Dia terlihat memikirkan sesuatu setelah mendengar kasus yang menimpa ayah Luhan.

“Maafkan aku, Kris. Hanya saja aku tidak menyukai jika mereka—“

“Bukankah menurutmu ada yang janggal dari kasus itu?” Kris mengabaikan ucapan Luhan. Ia memandang Luhan lurus. “Apa kau masih berhubungan dengan Kim Donghyun hingga sekarang?”

Luhan menggeleng bingung, “tidak. Sejak kasus di tutup dan aku pindah ke rumah sewa, kami tidak pernah berhubungan lagi.”jelasnya, ia membalas tatapan Kris dengan ekspresi yang tidak mengerti. “Tunggu. K-kau mencurigai Donghyun ahjussi?”

“Hanya prasangka.”seru Kris. “Aku adalah seorang jaksa. Aku mempunyai pemikiran berbeda terhadap kasus dibanding denganmu.”

“Tapi Donghyun ahjussi tidak mungkin melakukannya. Selama ini dia selalu membantu keluargaku.”

“Aku tidak menuduhnya.” Kris menggeleng. “Aku hanya yakin jika ada sebuah kejanggalan di balik kasus ayahmu.”

Luhan menghela napas panjang, “Yeaah, aku juga berpikir begitu. Tapi kasus telah di tutup dan aku sudah tidak bisa melakukan apa-apa. Ayahku juga sedang koma sekarang, yang harus ku lakukan adalah mencari uang yang banyak untuk membiayai adik-adikku.”

“Jika kau mau, kasus itu bisa dibuka kembali dan dilakukan penyelidikan ulang.”

Luhan tersentak, “benarkah?!”

“Yeaah, kau bisa memintaku untuk jadi jaksa pembela atas kasus ayahmu.”

“Hyung-nim, kau bersungguh-sungguh? Kau mau membantuku?!”

Kris berkecap, “tsk, apa saat aku melakukan hal yang baik, kau akan memanggilku hyung? Kau terlalu berlebihan.”serunya membuat Luhan meringis malu. “Lagipula ini bukan bantuan. Kau tetap harus membayar setelah kasus ini selesai.”

Luhan mengangguk mantap dengan senyuman lebar di wajahnya, “berapapun itu, aku pasti akan berusaha membayarnya. Asalkan kasus ini selesai dan nama baik ayahku kembali.” Kemudian ia berdiri dan membungkuk dalam pada Kris. “Terima kasih, hyung-nim. Benar-benar terima kasih.”

Kris tersenyum singkat, “aku akan berusaha sebisaku.Tapi aku harap kau tidak terlalu berharap karena kasus yang sedang ku tangani juga lumayan banyak.”

“Tidak apa-apa. Aku tetap berterima kasih padamu. Terima kasih, hyung-nim.”

***___***

Luhan kembali ke rumahnya dengan perasaan senang, lega dan sedikit ringan. Dia mulai menyadari jika ini adalah jalan yang telah ditentukan oleh Tuhan untuk keluarganya. Walaupun kesulitan itu selalu menimpa mereka, banyak orang datang untuk menolong mereka.

Mungkin Tuhan telah memberikan kesulitan namun juga telah mengutus banyak malaikat untuk menemani mereka.

“Luhan hyung?” Kening Jongin berkerut saat ia melihat kakak kandungnya itu tersenyum seorang diri. “Kenapa senyum-senyum seperti itu? Menakutkan.”

“Jongin!” Mata Luhan seketika berbinar. “Apa yang kau lakukan di luar? Kenapa tidak masuk?” Ia balas bertanya.

“Menunggumu. Sehun sudah tidur jadi aku berdiri disini untuk menunggumu. Hyung, kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau tersenyum?”

Luhan tiba-tiba memeluk Jongin erat dan melompat-lompat senang, “semua ini akan selesai! Semuanya akan selesai!”

Kening Jongin berkerut, “h-hyung, ada apa?”

Beningan air mata jatuh di pipi Luhan saat ia mengerjap, “Jongin-ah, aku sangat senang. Aku benar-benar sangat senang. Keluarga kita, appa, rumah dan semuanya. Aku harap akan segera kembali.”

***___***

Sehun akhirnya kembali ke kelasnya setelah beberapa hari harus ijin karena sakit. Beruntung, karena dia selalu belajar di rumah sehingga dia bisa bersiap saat ada ulangan harian dadakan seperti hari ini.

Ulangan Matematika. Dan semua siswa tidak diperbolehkan untuk mencontek. Sehun mengerjakan soal-soalnya dalam diam sembari mencoba mengingat-ingat rumus yang telah dijelaskan kemarin oleh Jonghyun.

Saat bel istirahat berbunyi dan seluruh murid diwajibkan mengumpulkan kertas ulangan, Sehun duduk dikursinya dengan ekspresi yang tidak begitu senang. Dia terjebak di beberapa soal yang sulit untuk dipecahkan.

“Akh, aku rasa aku akan mendapat nilai yang buruk. Aku sama sekali tidak belajar kemarin.”keluh Jinyoung cemberut.

Sehun mengangguk, “sepertinya aku juga begitu. Soalnya sangat sulit.”

“Sudah pasti. Karena kau bodoh.”

Tiba-tiba terdengar suara dari arah lain membuat Sehun dan Jinyoung menoleh.

Sehun menggeleng, “kami tidak bodoh, Dongho. Kau tidak boleh bicara seperti itu.”

“Kenapa tidak boleh? Selain bodoh, kau juga miskin. Kau tiak bisa membanggakan kekayaanmu lagi, Park Sehun.” Dongho melipat kedua tangan didepan dada sambil tertawa mengejek.

“Aku tidak pernah melakukannya.”kata Sehun.

“Yah, kau selalu memamerkan kekayaanmu. Sekarang, ayahku sudah menempati jabatan tertinggi di perusahaannya, kau sudah bukan tandinganku lagi.”

“Dongho, aku tidak pernah ingin bertanding dengan siapapun.”jelas Sehun.

Namun Dongho justru mengabaikannya, “Dan aku akan mengalahkanmu di ulangan harian hari ini.”

Sehun menghela napas panjang, ia berdiri dari duduknya dan menarik lengan Jinyoung.

“Jinyoung, kajja. Sebaiknya kita keluar.”

“Ya, Park Sehun. Aku belum selesai bicara denganmu.” Tiba-tiba Dongho mendorong pundak Sehun membuat anak itu terdorong ke belakang. “Aku tidak suka jika ada seseorang yang mengalahkanku!”

“Sudah ku bilang, aku tidak pernah bertanding dengan orang lain!” nada suara Sehun akhirnya meninggi.

“Dongho-yaa, bisakah kau berhenti mengganggu Sehun?”sahut Jinyoung ikut kesal.

“Ada apa ini?”

Tubuh menjulang Jongin terlihat di belakang Dongho dan teman-temannya. Seketika semuanya menoleh.

“Kau mengganggu Sehun?”tanya Jongin menatap Dongho lurus.

“Jongin, kita tidak mencari masalah dengan anak kecil, kan?”bisik Taemin sambil menarik tubuh Jongin mundur.

“Hyung, aku sudah lapar. Ayo pergi ke kantin.” Sehun mencoba mengalihkan perhatian Jongin. Ia menarik lengan kakaknya itu lalu menggeretnya keluar. Pastor Kim bilang, dia harus menjadi anak yang baik.

***___***

“Yeaaaay!” Sehun melompat-lompat didepan kelas setelah menerima kertas hasil ulangan dari gurunya.

Gurunya tersenyum geli menatap Sehun, “selamat Sehunnie. Tapi, kau harus belajar lebih giat lagi. Aracchi?”

Sehun mengangguk, kemudian membungkuk sopan. “Algesseumnida sonsengnim.”

“Whoooa Sehunnie. Nilaimu A+. Sempurna! Chukkae!”seru Jinyoung tersenyum lebar.

Sehun meringis malu, “Aniyo Jinyoung-ah. Gomawo.”

“Lain kali, kau harus mengajariku.”

“Tidak. Kita belajar bersama. Oke?”

Di tempatnya, Dongho benar-benar terlihat sangat kesal dengan pemandangan itu. Dia hanya mendapat nilai A, berbeda tipis dengan nilai yang dicapai Sehun. Sudah menjadi wataknya, dia sama sekali tidak menyukai jika ada seseorang yang mengalahkannya dalam hal apapun. Dan dia sudah bertekad, untuk mengalahkan Sehun suatu saat nanti.

***___***

“Sehunnie, nanti siang aku akan mengikuti sebuah perlombaan menari. Mau ikut?”tawar Jongin pada Sehun yang baru saja bangun dari tidurnya.

“Hmm?” Sehun hanya bergumam.

“Luhan hyung sudah pergi untuk latihan. Sebaiknya kau ikut denganku ke perlombaan. Lagipula ini adalah hari libur. Bagaimana?”

“Kau mengikuti perlombaan hyung?”tanya Sehun masih menghusap-husap matanya.

Jongin mengangguk, “jika aku menang, aku akan membelikan apapun yang kau mau sebagai hadiah natal.”

Seketika mata Sehun melebar, “benarkah?!”

“Emp. Tapi kau harus menemaniku.”

TBC

 

53 thoughts on “FF EXO : AUTUMN Chapter 15

  1. farokha berkata:

    akhirnya ada kris yang mau membantu keluarganya luhan jadi sedikit demi sedikit masalah luhan akan selesai . fighting author ……

    # I like this FF

  2. Jung Han Ni berkata:

    aku baca ulang ff ini dan baru bisa komen skarang, jadi aku komennya disini aja ya skalian🙂 aku suka bgt sama ff ini, suka nangis n terharu bacanya😥 pokoknya ff ini yg paling aku tunggu2, daebak!
    keep writing!😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s