Edelweis (Chapter 4)

CIMG0155 - Copy(1)

Title                 : Edelweis (Chapter 4)

Author             : Jung Ri Young

Cast                 :-Oh Sehun

-Park Chanyeol

-Byun Baekhyun

-Kim Jongin

-Kim Yeejin (OC)

-Park Yoora (Chanyeol noona)

-Jung Ahra

Genre              : Family, Brothership, Romance, Little Comedy

Rating             : T

Length             : Chapter

Disclaimer       : Member EXO milik Tuhan, Orang tua dan SMEnt. Kecuali Baekhyun milik saya! kekeke

Summary         : “Kau, aku tak tahu mengapa kau membuatku melakukan ini. Yang aku tahu, aku jatuh cinta padamu.”

 

Chapter sebelumnya : 1 , 2, 3

 

-xoxo-

Ketika buku itu terangkat, sebuah benda tipis terjatuh dari dalamnya. Mata mereka membulat melihat wajah yang terpampang dalam lembaran foto berukuran             5R tersebut.

Bukan, bukan wajah Yeejin yang sedang tersenyum manis membawa sebatang lolipop yang membuat mereka terkaget. Tetapi wajah di sampingnya yang tersenyum lebih lebar sambil merangkulnya.

Wajah itu terlalu familiar bagi mereka.

Surai coklat yang menutupi hampir seluruh keningnya.

Mata sipit yang membentuk garis ketika ia benar-benar tersenyum bahagia.

Dia, Byun Baekhyun.

.

-xoxo-

.

Seorang yeoja duduk di taman sekolah sembari mendengarkan musik dari headphone-nya. Matanya terpejam dan bibirnya bergerak-gerak. Menyenandungkan lagu yang di dengarnya.

Setengah jam berlalu. Yeoja itu mulai resah melirik-lirik jam yang terbalut di lengannya. Sampai sebuah tangan menepuk pundaknya.

“Kau menunggu lama?” Sapa seorang namja dari belakang.

“Oppa..! Dari mana saja? Huh!”

“Mianhae, chagi. Aku harus mengumpulkan tugas sebelum kemari.”

“Tetap saja kau membuatku menunggu lama, menyebalkan!” Jawab sang yeoja menggembungkan pipinya. Membuat namja tersebut mengacak rambut sang kekasih gemas.

“Sudahlah, ayo kita pulang. Hari sudah mulai gelap.”

Namja itu berdiri , mengulurkan tangan pada kekasihnya untuk segera bangkit.

“Keunde oppa, aku ingin makan es krim.” Kata Yeejin malu-malu.

“Oh. Kita akan mampir ke kedai es krim sebagai permintaan maafku.”

“Jeongmal? Ahh, gomawo, Baekhoney!!!”

“Mwoya? Baekhoney? Ya! Sudah kubilang jangan panggil seperti itu. Menggelikan!” Jawab Baekhyun bersungut-sungut.

Ia benci ketika kekasihnya memanggil dengan panggilan sayang itu. Terdengar sangat konyol dan kekanakan. Bahkan teman-teman sekelasnya jadi menggoda Baekhyun dengan memanggilnya “Baekhoney”.

 

.

-xoxo-

.

Baekhyun berbaring di ranjang kamarnya. Pikirannya melayang mengenang masa-masa ketika ia hidup di Bucheon. Kampung halaman neneknya.

Memiliki orang tua yang sibuk dengan dunia bisnis membuat Baekhyun sedikit terabaikan. Nilai-nilai sekolahnya sangat buruk sehingga neneknya bersikeras agar Baekhyun tinggal bersamanya di kota kecil tersebut. Orang tua Baekhyun tak punya pilihan lain. Mereka menyadari Bahwa anak semata wayangnya butuh perhatian lebih sedangkan perusahaan mereka juga sedang dalam masa perkembangan besar-besaran. Jadilah Baekhyun dipindahkan ke Bucheon High School untuk meneruskan tahun keduanya.

Pada awalnya, keadaan itu sangat membuat Baekhyun frutasi. Bagaimana tidak? Ia harus berpisah dengan Chanyeol, Jongin, dan Sehun. Tinggal jauh dari keramaian kota, dan hidup dalam pengawasan neneknya yang sedikit cerewet.

Namun situasi berubah ketika ia memasuki tahun ketiga. Banyak murid baru masuk dan salah satu diantaranya menarik perhatian Baekhyun. Dia yeoja periang yang sangat manis. Kim Yeejin.

.

Baekhyun POV

“Hyung, kau di dalam?”

Suara itu membuyarkan lamunanku. Dengan malas ku buka pintu kamar dan membiarkannya masuk.

“Kau sendirian?” Tanyaku sedikit heran. Kembali ku rebahkan badanku di atas ranjang. Sehun mengikuti.

“Aku tak bisa menghubungi Jongin dan Chanyeol hyung.”

“Tentu saja. Mereka sedang membantu persiapan pertunangan Joonmyun hyung dan Yoora noona.” Jelasku. Apa anak ini tidak tahu? Bukankah dia anggota keluarganya juga?

“Mwo?? Kenapa tidak ada yang memberi tahuku? Aissh, jinjja!”

Ah jadi dia benar-benar tidak tahu.

“Kau terlalu sibuk, Sehun-ah. Luangkan sedikit waktumu untuk mereka. Bagaimanapun mereka adalah saudaramu.”

“Arraseo.”

Sehun memandangiku lama. Seolah memikirkan sesuatu.

“Wae?” Tanyaku.

“Emm.. Ani.”

“Kau aneh sekali.” Aku mencibir.

Terdapat jeda cukup lama sebelum Sehun membuka suara kembali.

“Kau mengenal Yeejin sebelumnya, hyung?”

“Hmm.” Aku mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.

“Kalian pernah berkencan?”

“Bukankah kau sudah mendengar semuanya? Sampai kau rela melukai kakimu hanya untuk menguping?” Sindirku.

Sehun meringis. Ingin sekali aku mencekiknya. Bisa-bisanya ia hanya bereaksi seperti itu ketika jelas-jelas tertangkap basah? Aku benar-benar meragukan IQ tingginya.

“Jadi, apa hubungan kalian selesai seperti ini saja?”

“Entahlah, Sehun-ah. Aku tidak mau banyak berharap. Bersyukur dia memaafkanku. Aku pernah menyakitinya.”

“Apa kau meninggalkannya karena Byun ahjussi?”

Mataku melebar. Bagaimana ia bisa tahu? Apa dia bisa membaca pikiranku?

“Kau tahu dari mana?”

“Kalian menjalin hubungan di Bucheon?”

“Bagaimana kau tahu?”

“Kau pergi meninggakannya lalu kembali ke Seoul?”

“Ya! Aku bertanya kau tahu semua itu darimana? Apa kau seorang peramal?”

Bukannya menjawab, ia malah tersenyum lebar. Seolah puas telah membangkitkan rasa penasaranku.

“Kau benar-benar tidak mau menjawab pertanyaanku?” Sengitku.

“Hanya saja semua terlihat masuk akal ketika aku membaca biodatanya. Dia menulis Bucheon sebagai tempat asalnya.”

“Biodat-“

Ah, tentu saja, Yeejin mengkuti seleksi organisasi mahasiswa. Sudah pasti Sehun membaca biodatanya.

“Prediksimu sangat akurat, Sehun-ah. Kau berbakat menjadi detektif.” Sindirku.

“Jadi hyung, kupikir kau masih memiliki kesempatan memeperbaiki hubungan kalian. Ku lihat kau masih menyimpan rasa padanya. Begitu pula dengan Yeejin.”

“Kau bicara apa, Sehun-ah. Dia bahkan menganggapku jahat. Ya, aku memang jahat padanya.”

“Sejahat apapun kau padanya, dia belum bisa menghapusmu dari hatinya,hyung.”

Aku tak habis pikir apa yang anak ini bicarakan. Apa dia sedang berusaha menyenangkanku?

“Kau tahu, hyung? Dia bahkan masih menyimpan foto kebersamaan kalian.”

Ucapan Sehun membuat mataku membulat. Apa aku tak salah dengar?

“Darimana kau tahu?”

“Apa hyung tak punya kosakata lain? Daritadi kau bertanya seperti itu terus.” Sehun menggerutu.

“Itu karena kau membuatku penasaran, bodoh!”

Sehun bercerita panjang lebar tentang kejadian di kantin siang tadi. Entah bagaimana aku harus mengekspresikan perasaanku mendengar penuturannya. Kebahagiaan dan rasa bersalah berkecamuk dalam hatiku. Tapi kurasa perasaan bersalah itu jauh mendominasi mengingat aku telah mengabaikannya. Mengingkari janji-janji yang kami ukir pada masa sekolah dulu.

.

-xoxo-

.

Author POV

Hari-hari berlalu seperti biasa. Sehun yang semakin sering meneriaki Jongin karena lebih banyak mengganggunya, Baekhyun yang sibuk dengan kelas vokalnya, dan Chanyeol yang selalu kesana-kemari. Mencari sesuatu yang bisa ia jadikan hiburan.

“Baek, kau masih sibuk?” Kepala Chanyeol menyembul dari arah pintu ruang musik.

“Sebentar lagi selesai, wae?”

“Temani aku.”

“Kemana?” Tanya Baekhyun penasaran.

“Suatu tempat.” Jawabnya tersenyum lebar.

“Kau mencurigakan.” Cibir Baekhyun.

Chanyeol duduk memperhatikan sahabatnya yang sedang berkutat dengan tuts-tuts piano. Ia selalu mengagumi kemampuan bermain piano Baekhyun yang di atas rata-rata. Melodi yang indah mengalun kala jemari tersebut menari-nari. Ketika alunan nada berhenti, Chanyeol bertepuk tangan, memberi pujian pada Baekhyun.

“Suatu saat kau pasti akan menjadi komposer hebat!” Seru Chanyeol masih bertepuk tangan.

Yang di puji hanya tersenyum bangga. Mulai membereskan barang-barangnya dan menyampirkan ransel pada pundaknya.

“Kajja, tadi kau bilang mau pergi.”

.

-xoxo-

.

“Akhir-akhir ini kau lebih sering menghabiskan waktu dengan piano kesayanganmu itu daripada berkumpul dengan kami, Baek.” Chanyeol membuka percakapan.

Mereka berdua kini sedang duduk di sebuah foodcurt. Mengisi perut setelah berjam-jam menemani Chanyeol membeli beberapa pakaian yang akan ia kenakan pada pesta pertunangan noona-nya.

“Jurusan seni akan mengadakan festival musik minggu depan. Tentu saja aku harus mempersiapkan beberapa lagu untuk ditampilkan.” Jelas Baekhyun sambil tetap menyantap makanannya.

Chanyeol terlihat bersemangat mendengarnya. “Jinjja? Apa anak jurusan lain boleh berpartisipasi juga?”

“Boleh, acara ini terbuka untuk umum. Tunggu, kau tak berniat naik panggung lalu bernyanyi, kan?” Baekhyun memasang ekspresi khawatir berlebihan.

“Wae? Bukankah itu menyenangkan?” Chanyeol tersenyum lebar.

“Andwae! Sudah ku bilang suaramu jelek, Yeol. Jangan merusak acara kami!” Sambar Baekhyun tak berperasaan.

“Kau mengataiku seperti tak punya tenggorokan saja! Menyebalkan sekali!” Gerutu Chanyeol.

Baekhyun meringis. Merasa ucapannya sangat keterlaluan pada sahabatnya.

“Hehe, mianhae.”

“Kau menyebalkan, Baekhyun!”

“Mianhae.”

“Mentang-mentang kau memiliki suara merdu, bukan berarti kau bisa bicara seenaknya seperti itu!” Muka Chanyeol semakin ditekuk.

“Aku tidak bermaksud seperti itu, Chanyeol-ah. Maafkan aku.” Bujuk Baekhyun lagi.

Terdapat jeda cukup lama sebelum Chanyeol kembali merespon kalimat Baekhyun.

“Hmm.”

Baekhyun tersenyum geli, dia tahu Chanyeol tidak akan bisa marah terlalu lama padanya. Lihat saja sekarang, bahkan ia sudah tersenyum lagi.

“Jadi, aku boleh ikut berpartisipasi?”

Bunuh saja Baekhyun saat ini juga. Ia benar-benar tak bisa memahami jalan pikiran Chanyeol. Apa dia bercanda? Bahkan suaranya seperti keluar dari telapak kaki. Bagaimana bisa ia membiarkan Chanyeol bernyanyi?

.

-xoxo-

.

Mereka berdua tiba di rumah Jongin ketika sang pemilik rumah sedang bergelut bersama tubuh tinggi lainnya di depan ruang keluarga. Televisi dibiarkan menyala dan banyak makanan berserakan, baik di meja maupun di lantai. Sungguh pemandangan yang membuat Chanyeol dan Baekhyun geleng-geleng kepala.

“Ya, ya, ya! Apa-apaan ini?” Seru Baekhyun.

Mereka tak menghiraukan suara Baekhyun. Sehun masih terlihat menganiaya Jongin sedangkan sang korban hanya bisa berteriak-teriak. Ekspresinya sangat menggelikan antara kesakitan dan menahan tawa.

“Ya! Berhenti kalian anak-anak nakal! Chanyeol ikut angkat bicara. Menendang gulungan manusia itu dengan kakinya.

“Hyung, tolong aku. Hahaha. Hyung, Sehun sangat ganas.” Jongin berbicara sembari tertawa. Masih berkutat dengan Sehun yang kini berusaha mencekiknya.

“Appo, Sehun-ah. Appo!!!”

“Itu tidak seberapa, Jongin! Kau menghancurkan berkas-berkas pentingku!” Teriak Sehun kalap.

“Sudah ku bilang aku tidak sengaja! Kau akan cepat tua jika terus marah-marah seperti ini.”

“Apa pedulimu, Hitam! Kau harus bertanggung jawab!”

“Bahkan kau mengataiku di rumahku sendiri. Aigoo, Oh Sehun benar-benar sedang marah rupanya.” Sempat-sempatnya ia bercanda padahal Sehun terlihat benar-benar emosi.

“Kim Jongin kau mau mati?”

“Arraseo, arraseo. Aku akan bertanggung jawab. Lepaskan aku sekarang.”

Sehun melepaskan cengkramannya. Bangkit lalu menjatuhkan diri di samping Baekhyun.

“Kalian benar-benar terlihat seperti orang bodoh. Sangat bodoh!” Cibir Chanyeol dengan penekanan pada kata ‘bodoh’.

“Sebenarnya apa yang kau perbuat, Jonginnie?” Tanya Baekhyun.

“Dia menumpahkan kopi di atas berkas-berkasku, hyung. Padahal itu laporan hasil rapat kemarin dan harus segera dibukukan.” Sambar Sehun. Mukanya masih memerah menahan kesal.

“Sudahlah, Sehunnie. Kau kan bisa meminta kembali pada sekretarismu.” Baekhyun menasehati.

“Tidak semudah itu, hyung. Kau pikir ketua macam apa aku ini yang tak bisa menjaga berkas-berkas organisasi?”

“Kenyataannya kau memang tak bisa menjaganya. Kau bahkan membiarkan kopi itu tumpah mengenai berkasmu.” Sahut Jongin santai.

“Itu karena kakimu yang menendang kopinya, Kim Jongin sialan!” Teriak Sehun kembali.

Chanyeol dan Jongin tak bisa menahan tawanya melihat ekspresi Sehun. Sungguh adik kecilnya terlihat sangat lucu. Sehun yang sadar tengah ditertawakan oleh dua makhluk tinggi itu semakin emosi. Ya Tuhan, Baekhyun serasa ingin menenggelamkan diri ke lautan melihat ketiga sahabat abnormalnya tersebut.

.

-xoxo-

.

“Berisik, hyung. Berisik! Arrgghhh…!”

Sehun tak tahan lagi. Setelah perdebatannya dengan Jongin berakhir kini giliran Chanyeol menghancurkan mood-nya. Entah apa yang hyungnya itu lakukan. Yang Sehun tahu sedari tadi Chanyeol bernyanyi-nyanyi tidak jelas disaat yang lain asyik bermain game.

“Bagaimana menurutmu, Sehun-ah?”

“Apanya?”

“Tentu saja suaraku, bodoh!”

“Merusak pendengaran.”

Pletaakkk

“Mwoya, hyung?! Appo!”

“Rasakan! Itu karena kau berani menghina suara merduku.”

“Merdu kau bilang? Maaf hyung, tapi untuk kali ini saja aku setuju dengan ucapan Sehun.” Jongin yang sedari tadi fokus pada monitor ikut sewot mendengar penuturan berkadar narsis tinggi tersebut.

“Bingo! Ternyata telinga kalian masih berfungsi dengan baik. Kau lihat, Chanyeollie?” Ejek Baekhyun.

Persetan, seorang Park Chanyeol terlahir dengan kepercayaan diri berlebihan. Kata-kata menyakitkan itu seolah hanya lewat di telingannya.

“Lagu yang kau mainkan di ruang musik, Baek. Itu lagu apa?”

“Tentu saja lagu ciptaanku, wae?”

“Bolehkah aku menyanyikannya di acara festival seni besok?” Tanya Chanyeol penuh harap.

“Err,,kenapa harus lagu itu?” Jawab Baekhyun. Seolah ragu untuk mengijinkan.

“Hanya saja, lagu itu sangat indah.”

Tentu saja, Baekhyun menciptakannya dengan penuh perasaan. Ia sendiri sangat puas dengan lagu terbarunya tersebut. Lagu yang mengalun begitu saja di kepala sejak beberapa hari yang lalu. Lagu yang tercipta atas kembalinya seseorang yang selalu menjadi ispirasi.

.

-xoxo-

.

Chanyeol sungguh berlatih keras untuk acara festival musik. Tak peduli Jongin dan Sehun terus menertawakannya. Ia benar-benar ingin berdiri di atas panggung dan mendapat sorakan dari penonton seperti yang selama ini Baekhyun lakukan. Membayangkannya saja membuat semangatnya kembali menggebu-gebu.

“Sudahlah, hyung. Jangan memaksakan diri. Biarkan Baekhyun hyung yang membawakan lagu itu. Suaramu tak tertolong.” Ejek Jongin yang disusul kikikan Sehun dan Baekhyun.

“Diamlah, warna kulitmu lebih tak tertolong!”

“Hahaha..” Baekhyun dan Sehun berbalik menertawai Jongin. Adu mulut dengan Chanyeol memang penuh resiko, dan Jongin lupa akan hal itu.

“Kau hanya sirik dengan kulit seksi-ku.” Cibirnya.

“Ngomong-ngomong, ini lagu bahagia pertama yang kau ciptakan, hyung.” Kata Sehun.

“Benar, hampir seluruh lagu ciptaan Baekhyun lainnya bernuansa kelabu.” Chanyeol menimpali.

“Siapa bilang? Sejak SMA aku banyak menciptakan lagu-lagu romantis. Kalian saja tidak pernah tahu.”

“Maksudku sejak kau memasuki bangku kuliah, hyung.”

“Oh, entahlah. Tiba-tiba aku mendapat inspirasi. Nadanya mengalun begitu saja di kepalaku.” Baekhyun menerawang, tersenyum penuh arti.

“Kau berbicara seolah-olah sedang jatuh cinta.” Cibir Jongin. Yang diajak bicara hanya mengedikan bahu, masih mempertahankan lengkungan di bibirnya.

.

-xoxo-

.

Seoul National University terlihat lebih ramai dari biasanya. Panggung berdiri megah di tengah-tengah halaman universitas. Tak hanya itu, stand-stand kecil juga ikut menyemarakan acara. Menjajakan aksesoris dan makanan-makanan kecil yang menggiurkan. Hari ini, festival seni berlagsung.

Detik berganti menit. Penonton yang berkumpul terus bertambah seiring banyaknya lagu-lagu yang mereka sajikan. Bahkan tak sedikit dari mereka yang ikut berjingkrak mengikuti alunan musik yang menggema.

MC kembali menaiki panggung ketika musik berhenti, sedikit bercuap-cuap sebelum mempersilahkan peserta selanjutnya menyuguhkan bakatnya. Penonton terkejut ketika sang pembawa acara menyebutkan satu nama. Nama yang tak pernah mereka bayangkan akan bernyanyi di acara seperti ini. Park Chanyeol. Ia berjalan menaiki panggung membawa sebuah gitar. Membuat para yeoja berteriak histeris. Mereka semakin histeris ketika Baekhyun menyusul di belakangnya, tersenyum sembari mendudukan diri di belakang piano. Tidak, ini bukan mimpi. Park Chanyeol dan Byun Baekhyun. Dua dari empat jajaran namja yang paling digilai di kampus akan berkolaborasi dalam satu lagu untuk pertama kalinya.

Jemari Baekhyun mulai menyentuh benda di depannya, menciptakan alunan nada yang terdengar lembut dan menenangkan. Di sisi lain Chanyeol yang duduk di kursi memetik gitarnya, bersiap untuk bernyanyi.
machi amugotdo moreuneun airo geuroke dasi teonan sun-gan gachi
jamsi kkumil kkabwa han bon do nun gamatda tto boni
yoksi nomu ganjor-hetdon ne ape gidohadeut so isso
dan han bonman ne yopeso bareul matchwo goro bogopa han bon ttak han bonmanyo
noye sesangeuro yorin barameul tago
ne gyoteuro odieso wannyago
hemalke mutneun nege bimirira mar-hesso
manyang idero hamkke goreumyon
odideun chon-gugilteni


mikael boda non nayege nunbusin jonje
gamhi nuga noreul goyokhe nega yongsoreuran he
eden geu gose bareul deurin techoe geu chorom meil
no hanaman hyanghamyo maeumeuro mideumyo


aju jageun gosirado nol himdeulge haji mot-hage
hangsang jikigo sipo I’’m eternally love


noye suhojaro jo gosen barameul makgo
ne pyoneuro modu da deungeul dollyodo
hime gyoun oneu nal ne nunmureul dakka jul
geuron han saram dwel su itdamyon
odideun chon-gugilteni

(Angel By EXO-K)

 

Tepuk tangan terdengar riuh selepas lagu berakhir. Penonton benar-benar terpukau penampilan menakjubkan tersebut. Dapat Chanyeol lihat Sehun memamerkan kedua jempol padanya, di sebelahnya, Jongin terlihat kesulitan menutup mulutnya yang ternganga.

“See? Kau bahkan terpesona.” Cibirnya dalam hati.

Chanyeol melepaskan mic dari tripod yang menyangganya. Masih mengulum senyum.

“Berdiri di panggung seperti ini adalah impianku sejak lama.” Chanyeol memulai.

“Dan aku berterimakasih kepada sahabat terbaikku yang telah mengabulkan keinginanku. Tak hanya itu, ia juga mengijinkanku membawakan lagu ciptaanya sendiri. Terimakasih kawan. Terimakasih, Byun Baekhyun!”

Baekhyun melengkungkan sudut bibir ke atas, tersenyum tulus pada sahabatnya.

“Aku menyanyikan lagu ini tidak semata-mata hanya untuk menghibur kalian. Tetapi, lagu ini juga mewakili perasaanku yang terdalam. Rasa yang mulai tumbuh ketika aku bertemu dengan seseorang. Perasaan yang semakin hari semakin mendominasi akal sehatku.”

Chanyeol mengedarkan mata, mencari sosok yang ia maksud. Pandangannya terhenti pada seorang yeoja yang duduk di deretan dekat stand. Menghindari sinar matahari.

“Kau, aku tak tahu mengapa kau membuatku melakukan ini. Yang aku tahu, aku jatuh cinta padamu.”

Teriakan histeris kembali terdengar. What the hell!! Park Chanyeol menyatakan cinta di atas panggung. Dan itu lebih dari sekedar cool.

“Kim Yeejin, will you be my angel?

.

.

.

-TBC-

22 thoughts on “Edelweis (Chapter 4)

  1. indahtentiana berkata:

    ohmaigat ohmaigat ohmaigat !!!!!!!!! #teriakhisteris
    kenapaaaaaaaaaa ????? sudah aku kira ini bakalan terjadi . omo ! aku bingung gimanaa jadinya baekyeol kedepannya . baekhyun pastinya sakit hati bener dah . serasa kesel jadinya sama chanyeol di part ini . tapi jangan dibuat berantem dong mereka .😦 jleb banget jadi baekhyun . untung ada aku yang selalu setia menemaninya disini /digeplakauthor/ . siip next chap aku tunggu !!!!

  2. bintang dwi ananda berkata:

    aaaa andweeee!!!!! biarin sm uri baekhyunee aja ne authorrr???:’ jeballll chanyeol oppa sama ahra ajaaaa. biarkan.sehunnie dan.jonginie sigle akaka:D sekaiiio~~~ next authorrr ditunggu^^

  3. ParkJudit berkata:

    Andwae!!!!!!!! >//< Yeejin, ckup sma Baekhyun. Dan Chanyeol sma AKU!! Huwwwweeee, udh ak kira ini semua pasti terjadi!!!" Arrggghhh, Andwae!!!! Yeollie oppa!!!! Kamu udh di sakitin sma Yejin, trainee SMEnt knp di sini kamu mlh sma Yeejin?? Andwae!! Andwae!! Andwae!!! Arrrggghhh!!! Yeollie oppa!! Neomu joah!!!! Pliss!! Kamu jng sma Yeejin!
    -sorry emosian thor. Aku sebel bgt soal nya-
    Next ya thor!! Jng lama2!!! Ingat ya thor JANGAN LAMA2!!!!😀 :'D

  4. In Soo berkata:

    oh migod!!!!!!!!!!!!!
    huuaaa park chanyeol, kau melukai hati sahabatmu sendiri,,,,,,😦
    baekhyun yg sbar ya,, kyknya cma jongin aja nih blm ktmu cewek yg bkin dia terpesona,, hahahha

  5. Suharnila berkata:

    ahhhhh,,,andweeee…..!!!
    Chanyeol jngan suka sma yajin ksihan sma baekhyun,,ga kbayanggmana reaksi baekhyun denger pngakuan yeoli,,semoga hbungan mereka ttep baik2 saja.
    Next……..!!!

  6. tydongdong berkata:

    Wth?! OhmyG gmna nasib baekki? Oh no! Jadi? Jadi? Aku shock😮
    gmna bisa? Tpi aku yakin yejin bakalan milih baekki kkk~
    n one more, about kkamjong? Will u make him a couple? I wanna see it ^^ jangan buat dia trlalu cuek sma yeoja, may there’s a girl who stole his heart. Keep writing neeee.. Author, hwaiting!😉
    ditunggu next chaptnya.. Mau ngilang dulu. *ting

  7. phalifa berkata:

    Author jgn sampe baekyeol pecah gara2 seorang cewek ya thor
    Gk setuju klo persahabatan mereka rusak gitu aja -_-,keren bgt ff nya ^^
    Next part jgn lama2 ya thor ^^

  8. baek_taolin berkata:

    .MWOOO!!!!! aph”an park chanyeol malah menytakan cinta dg yejin . .aph dia gila? dia tau kant kalo baek msh suka sma yejin n bgtu sblik.ny . . .auhhh knpa yeol tiba”blng suka aissshh jinjja!!! michokuna ?? author bkin q jadi gila aaaaaah baekhyun

  9. Nuraya berkata:

    Omonaaaaa😮
    chanyeol menyatakan cinta didepan baekhyun? Betapa hancurnya hati baekhyun *cupcupcup
    eh, mau tanya eon. Apakah disini emang chanyeol dijadiin lebih tua dri baekhyun, kok baek bilang hyung ke yeol?
    Kan baek lebih tua dri yeol?

    Gomawo yah eon, bisa bikin ketawa dgn kegaloan TLP😀
    Fighting ngelanjutin ff “Reflection”🙂

  10. Maya helena berkata:

    Aaaaa chanyeol bunuh gua dirawa rawa peliss🙂 rasanya jantung gua kyk mau copot ngebaca ni efef keren thor gomawo thor epep nya daàeeeeeebaaaaaakkkkkkk dah😉
    10 jempol buat author😀 minjem jempolnya sehun, kai, chanyeol, ama baekhyun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s