Let The Fate Lead Me (chapter 3)

poster let the fate lead me 1

 

Tittle : Let The Fate Lead Me

Author : Cicil

Cast : exo’s Luhan and GG’s Jessica

Other cast : exo and gg members

Rating : G

Genre : romance

Disclaimer : all belong to GOD

Summary : entah kenapa wajahnya memerah, hapir mirip warna bunga mawar di taman belakang.

HAPPY READING ya J

Sepuluh menit berlalu dan perempuan paras cantik itu masih berdiam ditempatnya sekarang, masih duduk anggun ditemani secangkir cola dingin. Selama itu juga matanya berputar kesana-kemari, mengikuti si pria.

Namanya Luhan, entah mengapa pandangan Jessica tidak bisa melepas focus darinya. Sosok pria itu terus tercetak di iris coklat hazel Jessica. Untuk kali ini, hatinya bekerja sama dengan baik bersama pikirannya. Bukan tak sinkron seperti biasa.

“Duaaarr!”Jessica melonjak kaget bukan main.Ia menengok ke belakang, dua sahabatnya tengah tersenyum puas bercampur tawa menggelitik. Ia mendengus kesal, meniup-niup poninya hingga berterbangan.

“Sedang apa?”Taeyeon mengambil duduk di sisi kanan.

“Hei!Itu salahmu karena kaget sendiri.” Gadis yang mungilnya sama seperti Jessica malah nampak jengkel. Yoona mengambil sisi berlawanan dengan Taeyeon.“Maaf, kami tidak bermaksud mengganggumu Sica.”

Jessica melirik sejenak ke kanan, sempat melihat raut menyesal di wajah Yoona, lalu kembali fokus ke depan. “Ya.”Mengembangnya senyum menandakan perayaan kecil di muka dua sahabat Jessica.

“Sedang apa?”Taeyeon kembali mengulang kalimatnya.

“Tidak.Hanya melihat orang main bola.”Jessica menumpu dagu di telapak tangan, sedangkan sikunya bersender di lutut.

“Aaahh kamu bohong ya?”

“Apaan sih?Ganggu aja deh.” Dalam hati ia bersipu malu. Satu hal yang paling sukar dilakukan Jessica yakni berbohong, ah! Dia sama sekali tidak pandai dalam urusan yang satu ini.

“Udah ah!Aku bosan ngeliatin orang main bola. Ga seru, mending kita ke kantin aja yuk!” Taeyeon serempak beranjak berdiri, menarik lengan kiri Jessica.Membuat perempuan itu acuh tak acuh ikut berdiri.

“Kamu tuh!Kerjaannya ke kantin terus.”Taeyeon hanya terkikik kecil mendengar omelan Yoona.

Jessica menggerutu dalam hati, merutuki Taeyeon.Acaranya habis sudah digarap dua gadis cantik itu.Acara memperhatikan lebih jauh sosok Luhan, acara menonton latihan sepak bola sekolah barunya.

 

—-,———

 

Luhan mengelap keringat basahnya, meneguk habis sebotol air putih.“Baekhyun!” yang merasa disebut namanya menoleh.Menunjukan maksud ‘Apa?’

“Aku menginap di rumahmu malam ini.”Luhan berbalik membuka loker abu-abu kelamnya.Mengambil sepasang kemeja-celana khas anak sekolah.Sedangkan Baekhyun melongo.

“Menginap?Lagi?”

“Ya.Aku bosan tinggal di rumah.”

‘Bosan?Adakah manusia bosan menyinggahi rumah megahnya sendiri?Dia aneh, benar-benar aneh.Dasar Luhan.’ batin pria mungil itu sambil geleng-geleng kepala sendiri.

Luhan berusaha mengimbangi langkah Baekhyun, kemudian merangkul pundak sahabatnya itu.“Ayolah, ini yang terakhir.Aku janji.” Bahkan kalimat tersebut sudah dipakai Luhan lebih dari lima kali untuk merajuk Baekhyun.

“Malam ini Sehun juga ingin tidur di rumahku.Apa tempat tinggalku itu penginapan hotel?” cecar laki-laki itu kesal.Yang merangkul pundaknya malah tertawa menyindir diri.Rumah sederhana miliknya memang diakui sangat nyaman.

Sederhana, asri, seperti surga dunia dalam media kecil dari keseluruhan dunia.Lagi pula Nyonya Byun sungguh baik luar biasa.Selalu menyapa senyuman ketika teman-teman anaknya datang.Menawarkan sepiring cookies nikmat buatannya dan segelas kaca yang isinya campuran lelehan coklat.

 

—-,———

 

Ini kali kedua Jessica duduk di bangku penonton, ketika matahari tepat di atas kepalanya.Bersyukur karena hari ini ada rapat guru besar jadi para murid diperbolehkan pulang cepat.Ia lebih memilih singgah memperhatikan namja itu daripada pergi ke mall bersama Taeyeon dan Yoona.

Priiittttt!!!!

“Ya! Sudah kukatakan jangan memakai lapangan hari ini, apa kalian tuli? Lapangan akan segera dipakai untuk pertandingan sekolah lain.”

Jessica ikut mendengus kesal seperti beberapa anak laki-laki yang tengah di marahi pak satpam itu.

Saat hendak berbalik untuk pulang, tiba-tiba matanya menangkap sosok Luhan menghampirinya.Namja itu langsung menyerobot barisan panjang bangku dan duduk tepat di sebelah Jessica, sambil mengelap keringan. “Hai,”

Entah kenapa wajahnya memerah, hapir mirip warna bunga mawar di taman belakang. “Ehmm..hai juga.” Jessica merasa jantungnya berdebar dua kali lebih cepat, perasaannya tidak tergambarkan sampai-sampai untuk menjawab sapaan Luhan saja ia gugup.

“Sudah makan siang?”

“Be-belum,” ia melihat senyum namja itusaat kata ‘Belum’ keluar dari mulutnya. “Kalau begitu ayo makan bersama, aku sudah sangaaattt lapar.” Tanpa jawaban yang pasti, Luhan sudah menarik lengan lembut yeoja di sebelahnya.Ia membawa Jessica masuk mobilnya dan meluncur ke rumah makan favoritnya.

“Di sini spagetinya benar-benar enak, atau kau ingin coba yang lain?” Jessica masih mebolak-balik buku menunya saat laki-laki di hadapannya itu terus bercerita tentang makanan kesukaannya.Ia mulai nyaman dengan sikap Luhan yang mudah bergaul. Walaupun masih terselip gerakan salah tingkah saat tidak tau hendak melakukan apa.

“Aku pesan spaghetti carbonara satu.” Pelayan itu beralih pada Luhan sambil memasang wajah ‘Ingin pesan apa?’

Spaghetti bolognaise.”

 

“Besok hari libur kan?”

“Sepertinya,” Jessica mengelap lembut bibirnya dengan tissue yang ada.“Aku ingin pergi ke Lotte World, mau ikut?”

“Memang kau pergi dengan siapa saja?”Jessica melihat raut wajah berpikir di depannya.“Entahlah, mungkin sendiri.Karena itu aku mengajakmu.”

“Akan kupikirkan,” setelah mendengar jawaban Jessica, Luhan berdiri dari duduknya, berjalan ke arena parkiran sedangkan Jessica mengikutinya di belakang.‘Apa salah aku mengatakan akan kupikirkan? Itu bukan berarti menolak ajakannya kan? Kenapa dia bersikap seolah-olah marah padaku’

Jessica bingung sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan yang dicetuskan pikirannya.Ia hanya bertanya dalam hati, tentu Luhan tidak akan pernah tau dan menjelaskan.

Sehabis Jessica menutup pintu mobil, ia memperhatikan Luhan. mengumpulkan segenap keberanian untuk sekedar bertanya, mengeluarkan beberapa kalimat saja. Rasanya seperti seorang anak kecil yang takut ibunya marah besar.

“Luhan-ssi, apa aku melakukan kesalahan?” nadanya terdengar begitu ragu.“Bhahahaha, apa aku kelihatan marah?”Jessica mengerutkan keningnya.“Aku memang seperti ini, terlihat marah ya?”

“Sebenarnya sih ti-tidak, hanya saja kupikir kau tidak suka saat aku bilang akan kupikirkan.”Luhan membetulkan posisinya dari balik kemudi. Sampai sekarang ia belum memutar kunci untuk menyalakan mesin.

“Tentu saja tidak, sudahlah tidak usah dipikirkan.Aku tidak memaksamu.”Perbincangan usai, mobil hitam itu melaju keluar dari parkiran rumah makan.

Beberapa menit berasa di dalam mobil dalam keadaan hening benar-benar membuat Jessica tidak nyaman.Ia ingin memulai pembicaraan tapi tidak tahu topik apa yang tepat. Berbatas, Luhan akhirnya mengeluarkan kalimat,

“Rumahmu ada di mana?Aku baru sadar sedari tadi menyetir kea rah yang tidak tentu.”Jessica terkikik pelan mendengarnnya. Betapa bodohnya sampai ia lupa topic yang satu itu. Jessica menepuk dahinya dan tertawa tanpa sadar.

Ia menunjukan arah sebelah kanan, “Belok situ, rumahku sudah dekat.”

Ketika hendak turun dari mobil Luhan yang berhenti tepat di depan rumahnya, laki-laki itu mengulurkan tangan memegang lengan Jessica. Gadis itu menoleh, menjatuhkan pandangan betanya ‘ada apa?’ pada Luhan.

“Jadi ingin pergi bersamaku tidak?”

“Oooh..ehmm apa tidak bisa kupikirkan dulu lagi?” Luhan menggeleng ala anak kecil sambil menekuk bibirnya ke bawah.“Baiklah aku mau.”

Samar-samar Jessica bisa mendengar kata ‘Yes!’ keluar dari mulut namja itu ditambah gerakan mengepal tangan. Ia menahan tawanya yang ingin segera meledak. “Jam berapa?” Luhan berpikir sejenak, “Sepuluh pagi?Apa kau bisa?”

“Tentu saja,” Jessica menarik tangannya dari genggaman Luhan dan menutup pintu mobil laki-laki itu.Ia mengurungkan niat untuk berbalik dan melambaikan tangan. Kakinya terus melaju, tangannya merogoh seisi tas untuk mencari kunci.

Menemukannya kemudian masuk ke dalam rumah.Di belakang semua kelakuan Jessica tadi, Luhan hanya memperhatikan dari balik kaca.Ia menginjak pedal gas ketika siluet Jessica menghilang dari pandangan.

 

—-,———

 

Mobil sport warna hitam itu menarik perhatian sejumlah petugas keamanan di sebuah rumah megah. Salah satunya segera berlari dan membuka pintu gerbangnya dibantu yang lain.

Luhan keluar dari mobilnya, memberikan kuncinya pada salah satu pelayan.Ia masuk ke dalam rumah. Menemukan seisi hatinya kembali kosong, tidak ada sapaan ‘Eomma!Aku pulang’ lagi atau apapun yang sejenisnya.Itu sudah terhadi beberapa tahun belakangan.

Saat hubungan kedua orang tuanya mulai retak.Bibi Nam mengulurkan tangannya, mengambil tas sekolah yang sejak Luhan masuk masih bertengger di pundaknya. Luhan tersentak saat ada yang menyentuh bahunya, ternyata itu bibi Nam.

“Apa eomma sedang keluar rumah?” tepat saat kalimat tanya itu berkahir suara derap high heels kaca tergesah-gesah memenuhi ruang tamu. Luhan melihat ibunya tengah berjalan secepat mungkin, tangannya memegang sebuah tas besar dan yang satu lagi menarik koper berukuran serupa.

“Mau kemana?”Wanita itu berhenti saat suara anak laki-lakinya terdengar.Ia berhenti dan membalikan badan. Matanya memerah berkaca-kaca. “Eomma—“

“Ya!Jangan coba lari dari rumah ini!” ketiganya mendongakan wajah saat Tuan Xi turun dari tangga. “Untuk apa lari kalau kau seakan mengusirku dari rumah ini hah?!” Luhan termundur sambil memegang kepalanya pusing.

“Aku tidak mengusirmu!Hei!”Tuan Xi mencoba memanggil saat wanita paruh baya itu kembali berbalik dan menarik kopernya kea rah pintu keluar.“Ya sudah, kau ingin pergi dari sini? Baiklah, tapi jangan harap aku akan menerimamu lagi! Dasar wanita!”

Nyonya Xi tetap berjalan, tepat saat itu sebuah taksi putih berhenti di depan pintu. Seorang supir keluar membantu wanita itu memasukan barangnya ke dalam bagasi mobil.

Luhan melihat semua kejadian barusan. Seperti sebuah film jeda, ia mulai tidak yakin bisa pergi keluar rumah esok hari.

TBC

 

Ini udah lama banget ga dilanjutinnn, akhirnya ide kembali mengalir. Makasih ya buat exo yang udah tampil di MAMA award itu keren loh, padahal gak ada sangkut pautnya sama cerita ini😄 mendingan makasih deh buat yang udah mau baca ff abal ku haha.

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s