Edelweis (Chapter 2)

cats

Title                 : Edelweis (Chapter 2)

Author             : Jung Ri Young

Cast                 :-Oh Sehun

-Park Chanyeol

-Byun Baekhyun

-Kim Jongin

-Kim Yeejin (OC)

-Park Yoora (Chanyeol noona)

-Jung Ahra (OC)

Genre              : Family, Brothership, Romance, Little Comedy

Rating            : T

Length            : Chapter

Disclaimer       : Member EXO milik Tuhan, Orang tua dan SMEnt. Kecuali Baekhyun milik saya! kekeke

Summary         : “Bisakah kita hanya berpura-pura tidak saling mengenal? Aku tak pernah tahu apa alasanmu meninggalkanku dan saat ini aku telah berhasil melupakanmu. Jangan membuat usahaku sia-sia. Dan kata maaf, pantaskah kau ucapkan kata itu setelah menghilang hampir dua tahun?”

 

-xoxo-

Ketika pikiranku masih melayang, terdengar bunyi ketukan dari arah pintu, sontak kami terduduk dan membenarkan posisi masing-masing. Perlahan pintu terbuka bersamaan dengan pembantuku yang memasang raut sungkan. Mungkin merasa tidak enak telah mengganggu kami.

“Ada apa Yoon Ahjumma?” tanyaku santai.

“Telepon untuk Tuan Muda Sehun. Seorang yeoja.” Jawab Yoon Ahjumma.

-xoxo-

 

“Yeoboseo?”

“Emh, Sehun sunbae?”

Terdengar suara yeoja yang malu-malu di seberang sana. Aku mengerutkan kening. Merasa asing dengan suaranya.

“Nde, nugu?” tanyaku menyelidik.

“Jung Ahra imnida. Mianhae mengganggu sunbae malam-malam. Aku hanya ingin meminta bantuan.”

Ah, ternyata Ahra, hoobae yang juga masuk organisasi mahasiswa dibawah naunganku. Dia baru masuk beberapa minggu yang lalu, pantas suaranya tidak terlalu familiar.

“Apa yang bisa ku bantu Ahra-ya?” tanyaku ramah. Bagaimanapun dia adalah bagian dari organisasiku. Sudah sewajarnya aku berlaku baik padanya.

“Apakah Sehun sunbae memegang kunci duplikat ruang pertemuan? Beberapa berkasku tertinggal di dalam. Padahal itu adalah bahan-bahan laporan untuk pertemuan hari Senin. Jika tak kunjung di ambil aku tak bisa mengerjakan laporan ini. Bantu aku, sunbae. Jebal!” Ahra mulai merengek. Suaranya seperti anak kecil yang meminta sesuatu pada Oemmanya. Membuatku tanpa sadar menyunggingkan senyuman.

“Arraseo, aku memiliki duplikatnya. Jika kau benar-benar membutuhkan, ambilah ke rumahku. Kau tahu rumahku,kan?”

“Tentu saja. Siapa yang tidak tahu rumah namja paling tampan di kampus!” seru Ahra tanpa berfikir. Aku kembali terkekeh atas bualannya.

“Kalau begitu aku tunggu, dan lebih baik kau menyimpan nomor ponselku daripada menghubungiku lewat telepon rumah. Sangat tidak praktis, Jung Ahra.”

Setelah menyelesaikan kalimat sindiran itu, kututup teleponnya. Tak peduli dia akan menggerutu atapun mengelak. Ku langkahkan kakiku kembali ke dalam kamar, dimana ketiga sahabatku berada. Pasti mereka sedang berfikir macam-macam setelah mengetahui ada yeoja yang meneleponku.

 

Author POV

 

Baekhyun, Chanyeol dan Jongin serentak melihat ke arah pintu ketika namja tinggi itu memasuki kamarnya. Memberi tatapan menyelidik seolah mencari jawaban dari pertanyaan yang bermunculan di kepala mereka. Sehun yang ditatap lekat-lekat hanya mencibir, seolah tahu bahwa ketiga makhluk menyebalkan di depannya itu sedang berfikir yang tidak-tidak tentangnya.

“Mwo?” Kentara sekali Sehun sebal. Tentu saja, siapa yang tidak sebal ditatap seperti seorang yang kepergok mencuri.

“Kau..siapa tadi yang menelepon? Yeojachingu?” Tanya Baekhyun tanpa basa basi.

“Aniyo, dia hoobae ku, hyung. Ada keperluan.” Jawab Sehun santai.

“Jinjja?” Chanyeol masih curiga. Sepertinya tidak puas dengan jawaban dongsaengnya.

Sehun tidak langsung menjawab. Dia mengambil cola dari lemari es di sudut ruangan, Kerongkongannya terasa kering.

“Nde, hyung. Dia hanya meminjam kunci ruang organisasi. Lagipula kau tahu aku tidak sedang berkencan dengan siapapun.” Jawab Sehun akhirnya sebelum meneguk cola dinginnya.

“Tentu saja, tidak ada yang mau berkencan dengan Sehun. Kulitnya seperti mayat. Mereka pasti berfikir bahwa Sehun adalah keturunan vampire!”

Tak perlu ditanya siapa yang menyerukan argumen tidak manusiawi itu. Kata-kata tersebut meluncur mulus dari bibir Jongin. Hampir saja Sehun menyemburkan colanya. Dia mendelik sambil menahan sakit di kerongkongannya akibat tersendak tadi.

“Diamlah! Setidaknya aku tidak memiliki warna kulit hitam legam sepertimu! Aku curiga Kim Ahjussi memungutmu di Afrika waktu beliau melakukan kunjungan. Bahkan Joonmyun hyung memiliki kulit seputih susu.” Yap, sepertinya mereka akan bertengkar lagi.

“Hentikan! Kepalaku bisa meledak mendengar kalian berkelahi terus menerus. Kalian kekanak-kanakan.” Baekhyun berusaha melerai kedua dongsaengnya tersebut. Entah mengapa kali ini dia tidak ingin mendengar teriakan-teriakan mereka. Padahal biasanya Baekhyun hanya diam dan terkikik geli menikmati hiburan gratis di depannya.

“Apakah kau mulai bosan dengan tontonan gratismu ini, Baek? Biasanya kau lebih suka mengompori mereka daripada melerainya.” Sindir Chanyeol sembari menyeringai.

.

-xoxo-

.

Waktu menunjukan pukul sembilan ketika keempat namja tersebut bersantai di ruang tengah. Sehun duduk di sofa sambil mengarahkan remote ke layar televisi. Memindah channel secara acak berharap ada acara yang menarik.

Baekhyun sibuk dengan Ipad nya. Duduk bersila di karpet tebal dan bersandar pada sofa yang Sehun duduki. Diam tak peduli pada keadaan sekitar.

Jongin sepertinya tertidur. Berbaring di sofa panjang sambil menutup mata dengan lengan kirinya. Usahanya mengajak keluar bersama gagal total sehingga ia memilih meregangkan otot-ototnya di benda empuk tersebut. Sedangkan Chanyeol terlihat sama bosannya dengan Sehun. Mungkin sebentar lagi dia juga tertidur. Padahal waktu belum larut.

.

Ting Tong

.

Seseorang memencet bel. Keadaan yang sepi membuat suaranya terdengar lebih nyaring. Yoon Ahjumma berjalan tergopoh-gopoh menghampiri pintu utama. Seolah tak ingin membiarkan sang tamu menunggu terlalu lama.

“Annyeonghaseyo, apakah Sehun sunbae ada? Saya Jung Ahra”

Sehun menoleh ke arah pintu. Letak ruang tengah yang strategis membuatnya dapat melihat pintu utama dengan jelas. Tak hanya Sehun, Baekhyun dan Chanyeol juga tak mau repot-repot menahan rasa penasarannya pada tamu yang memperkenalkan diri bernama Jung Ahra tersebut.

Yoon Ahjumma mempersilakan Ahra masuk. Menuntunnya ke ruang tengah dimana Sehun berada. Bukannya pembantu itu bersikap tidak sopan, tetapi dia tahu bahwa tuan mudanya tersebut lebih suka berbincang dengan tamu di ruang tengah daripada di ruang tamu sendiri. Seperti sudah menjadi kebiasaan Sehun.

Ahra sedikit kaget ternyata sunbae-nya tersebut tidak sendirian. Ada dua namja lain yang sama tenarnya dengan Sehun di kampus tengah bersantai di ruangan besar itu. Ah, bukan dua, tapi tiga. Kim Jongin juga berada di situ, hampir luput dari pandangan Ahra karena dia satu-satunya yang tidak berdiri. Dia tertidur. Sepertinya sangat nyenyak.

“Annyeonghaseyo, sunbaedeul.” Sapa Ahra ramah sambil sedikit membungkukan badan.

Ketiganya tersenyum dan mengangguk pada Ahra. Tak dipungkiri ia kini merasa gugup. Bagaimana tidak, jajaran namja tampan nan populer di kampusnya sedang berdiri di hadapannya. Dan, heol!! Dia seorang diri! Moment ini pasti akan segera ia pamerkan kepada teman-teman kampusnya.

Ahra sedikit melengkungkan bibir ke atas membayangkan reaksi histeris dan kecemburuan teman-temannya nanti. Tetapi suara dehaman Sehun seketika membuyarkan lamunannya.

“Apakah kau mendengar apa yang ku katakan barusan, Ahra-ya?” Tanya Sehun.

“Ah, kenapa aku jadi tidak fokus seperti ini.” Runtuk Ahra dalam hati. Pipinya perlahan memanas tertangkap basah sedang melamun.

“Nde? Mianhae sunbae, tadi sunbae bilang apa?” Tanyanya sambil tersenyum kikuk.

“Tadi kubilang apa kau akan ke kampus seorang diri? Ini sudah cukup larut untuk seorang yeoja keluar rumah. Lagipula, sepertinya akan turun hujan sebentar lagi.” Sehun mengulangi kalimatnya yang sempat diacuhkan tadi.

“Gwenchana, Sehun sunbae. Aku benar-benar membutuhkan berkas itu. Rencananya, aku akan menyelesaikan laporannya besok pagi. Jadi tidak ada waktu lagi selain sekarang.” Jelas Ahra.

Selang beberapa saat Ahra menyelesaikan kalimatnya, petir menyambar sangat keras. Membuat mereka berempat tersentak. Jongin yang tertidur pulas juga ikut berjengit mendengar suara petir yang menggelegar. Ia mengedarkan pandangannya, dan refleks terduduk ketika mendapati seorang yeoja berada di tengah-tengah mereka.

“Nuguya?” Tanya Jongin entah ditujukan pada siapa.

Ahra yang merasa sedikit sungkan buru-buru membungkukan badan. Memberi salam pada namja yang satu tingkat di atasnya.

“Jung Ahra imnida.”

“Dia hoobae kita di kampus. Rekan Sehun dalam organisasi.” Chanyeol menimpali, memberi sedikit pengertian pada dongsaengnya yang masih terlihat linglung.

“Ah, begitu.” Sahut Jongin singkat.

Tiba-tiba mata Ahra membulat. Dia melupakan sesuatu. Dia tidak sendiri datang kesini. Sahabatnya menunggu di mobil.

“Sunbae, bolehkah aku membawa temanku masuk kemari? Dia menungguku di mobil saat ini. Hujan sangat deras dan petir menggelegar. Dia pasti ketakutan!”

“MWOOO???” Keempat namja itu sontak kaget. Bagaimana bisa dia meninggalkan temannya sendiri di mobil. Apa yeoja ini bodoh?

Mereka berlari menuju pintu keluar. Baekhyun yang otaknya masih sedikit waras dibanding yang lain berinisiatif menyambar payung di sudut ruangan sebelum ikut keluar juga.

Pada akhirnya karena Baekhyun yang membawa payung, dia yang menghampiri mobil untuk menjemput teman Ahra tersebut. Ia mengetuk pintu penumpang, memberi isyarat pada siapapun yang di dalam untuk keluar. Baekhyun mengetuk pintu mobil kembali, sedikit tidak sabar karena orang yang di dalam tidak kunjung membukanya. Selain itu dia juga benci udara dingin, sehingga berlama-lama berdiri di tengah hujan adalah hal paling akhir yang akan ia lakukan.

Karena dihujani ketukan bertubi-tubi, pintu mobil perlahan terbuka. Baekhyun menghela nafas lega. Namun kemudian nafasnya kembali tercekat. Lebih sesak daripada berdiri di tengah hujan seperti ini.

Yeoja itu menunduk, tak seperti Baekhyun yang menatapnya tanpa berkedip sedikitpun. Seolah takut bahwa yang di hadapannya saat ini hanya illusi dan akan menghilang jika dia menutup matanya barang sejenak.

“Kim Yeejin.” Bisik Baekhyun hampir tak terdengar.

.

-xoxo-

.

Mereka akhirnya pergi berenam. Sehun tidak tega membiarkan hoobae-nya hanya berdua memasuki kampus selarut ini. Sehingga ia mengusulkan dirinya dan ketiga hyungnya untuk ikut menemani dua yeoja tersebut.

“Jadi, kau juga berminat masuk organisasi, Yeejin-ssi?”

Sehun membuka percakapan, mereka kini tengah duduk di sebuah café. Pemandangan sungai Han terhampar di depan mereka.

“Nde, sunbaenim. Aku tidak lolos seleksi kloter pertama karena saat interview aku sedang sakit. Mungkin aku akan mengadu peruntungan kembali di kloter kedua.“

Sehun mengangguk, merasa senang karena organisasi yang dipimpinnya banyak diminati mahasiswa semester awal.

“Kalau begitu berbaik-baiklah dengan calon ketuamu ini Yeejin-ssi. Kau pasti akan diterima, kujamin!” Canda Chanyeol yang diamini oleh yang lainnya. Mereka tergelak seketika. Melemparkan candaan satu sama lain. Sepertinya keinginan Jongin terkabul. Malam ini akan menjadi Sabtu malam yang panjang.

.

-xoxo-

.

Suara klakson terdengar tanpa henti di pelataran rumah mewah di kawasan Gangnam. Menimbulkan bunyi berisik yang sangat mengganggu. Setiap orang yang mendengar pasti ingin melemparinya dengan apapun agar dia menghentikan tingkahnya. Tentu saja, ini masih pagi.

“Park Chanyeol hentikan! Ini berisik.” Hardik pria bersurai coklat sambil membuka pintu mobil Chanyeol. Ia langsung menyandarkan diri di kursi sebelah sambil kembali memejamkan mata.”

“Kau menumpang tapi lama sekali. Aku sudah terlambat mata kuliah pertama, Baekhyunnie!” Chanyeol menjawab bersungut-sungut. Dia mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata. Kentara sekali mengejar waktu.

“Kau tidak tidur semalam?”

“Hmm”

“Wae? Tidak mungkin kau begadang mengerjakan tugas.”

“Memang tidak.”

“Lalu?”

“Pemanas kamarku mati. Kau tahu sendiri aku tidak bisa tidur dengan udara dingin.”

Tentu saja Baekhyun berbohong. Jika pemanas kamarnya mati, dia bisa tidur di kamar lain. Rumahnya sangat besar. Kamar yang tak dihuni-pun sangat banyak. Baekhyun tidak membuka mata saat menjawabnya. Takut Chanyeol mengetahui ketidak jujuran dari sorot matanya.

Kim Yeejin. Yeoja itu yang mengganggu pikirannya sejak pertemuan Sabtu malam di tempat Sehun. Selama ini ia berhasil mengubur nama itu, tak pernah mencari tahu lagi tentangnya. Bahkan Baekhyun tak pernah tahu jika Yeejin menuntut ilmu di Universitas yang sama dengannya.

Andai saja dia tak pergi ke rumah Sehun. Andai saja dia tak berinisiatif mengambil payung. Andai saja dia tak berlagak pahlawan menjemput teman Ahra yang terjebak hujan. Dia tak pernah tahu itu Yeejin. Bukan dia menyesal, tetapi pertemuan ini sangat mendadak dan Baekhyun tak siap.

.

-xoxo-

.

“Jika kau terus memajukan bibirmu, kau tidak ada bedanya dengan Donald Bebek, hyung.”

“Baekhyun membuatku harus mengikuti ujian susulan. Menyebalkan sekali” Bukannya mengindahkan perkataan Jongin, Chanyeol malah semakin bersungut-sungut.

“Kau berangkat dengan Baekhyun hyung? Memangnya dimana mobilnya?”

“Entahlah.”

Selagi namja berkulit gelap itu berbicara pada Chanyeol, diam-diam Sehun berulah.

“Berhenti memindahkan sayur-sayur itu ke mangkuk ku, Oh Sehun. Ini berlebihan!” Seru Jongin kesal.

Biasanya Sehun akan memberikan sayur di mangkuknya pada Baekhyun, tetapi dia belum datang. Masih ada kuliah mungkin. Jadi kini mangkuk Jongin yang menjadi sasaran pembuangannya.

“Aku tidak membutuhkan sayur-sayur sialan ini, Jongin-ah. Otakku sudah cerdas.” Jawab Sehun santai.

Jongin mendelik sinis ke arah Sehun, jika bukan di kampus mungkin ia sudah menghajar vampire jadi-jadian itu. Apa maksudnya dengan berkata tak butuh sayur karena otaknya sudah cerdas? Jadi dia menganggap Jongin bodoh, begitu?

.

-xoxo-

.

Baekhyun duduk di ruang musik. Menenangkan hati dan pikirannya yang terus menerus meneriakan nama yeoja itu. Jemarinya menekan tuts-tuts piano dengan lihai. Menciptakan rangkaian nada indah. Namun tersirat kepedihan bagi siapapun yang mendengarnya.

“Yeejin.” Otaknya kembali meneriakan nama itu. Ia mengabaikannya.

“Yeejin, Kim Yeejin!” Namun hati dan pikirannya tak sejalan. Suara di kepalanya semakin jelas terdengar. Ia memejamkan mata erat-erat.

“Ya! Kim Yeejin! Apa yang sedang kau lakukan!!”

Tidak, itu bukan suara di kepalanya. Mana mungkin suara hatinya berubah menjadi suara yeoja.

Perlahan Baekhyun membuka mata. Mencari sumber suara yang meneriakan nama yang paling tidak ingin ia dengar saat ini. Ketika dia memutar badan, dia mendapati rekan segrup vokalnya di kampus, Choi Jinri. Dia tidak sendiri, disebelahnya berdiri yeoja cantik yang tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan Jinri. Dia, Kim Yeejin.

Pandangan mereka bertemu, Yeejin mematung tanpa ekspresi dan nafas Baekhyun tercekat.

Sorot mata itu ia lihat kembali, kepedihan dan putus asa. Sebisa mungkin Baekhyun menetralkan suaranya sebelum berucap.

“Jinri-ya? Kenapa berdiri di situ?”

Gagal, suaranya bergetar walau ia sudah berusaha. Baekhyun hanya berharap Jinri tidak menyadarinya.

“Aniyo, Oppa. Aku hanya heran melihat temanku berdiri di sini. Jadi aku memanggilnya.” Jinri menjawab sembari memasang ekspresi bertanya pada Yeejin.

“Ah, itu. Kupikir tadi aku melihat temanku sedang bermain piano. Aku ingin menghampiri tapi ternyata aku salah orang.”

Bohong. Baekhyun tahu Yeejin pasti berbohong.

“Hmm” Jinri mengangguk tanpa curiga.

“Ngomong-ngomong, ini Baekhyun Oppa, Yeejin-ah. Orang yang pernah aku ceritakan mempunyai suara emas.” Sambung Jinri membanggakan namja yang sudah ia anggap kakaknya sendiri..

“Ne, aku tahu, Jinri-ya.”

“Eh? Kau bilang dulu kau tidak tahu.”

“Aku bertemu dengannya ketika menemani Ahra ke rumah Sehun sunbaenim.”

Hati Baekhyun mencelos. Yeejin berpura-pura tak mengenalnya. Kenapa?

“Bukankah tadi kau sedang mengerjakan tugas? Kenapa tiba-tiba di sini?” Sambung Yeejin.

“Ah benar! Aku berniat mencari referensi di perpustakaan. Hampir lupa. Kalau begitu aku pergi dulu, annyeong!” Jinri melambaikan tangan ke arah Yeejin dan Baekhyun sambil berlari kecil menuju pintu.

.

.

Baekhyun POV

Hening. Tak ada yang berbicara selepas kepergian Jinri. Yeejin duduk di kursi beberapa langkah di sampingku. Menunduk memainkan ponselnya.

Akupun masih diam. Sibuk dengan pikiranku sendiri. Menimbang-nimbang apa yang harus aku lakukan saat ini.

“Kau banyak berubah.” Akhirnya aku buka suara. Walau masih tak berani menatapnya. Tiba-tiba saja lantai ruangan terlihat lebih menarik dari apapun di ruangan ini. Termasuk lawan bicaraku.

“Tapi tak sebanyak dirimu, Baekhyun-ssi.”

Kentara sekali suara itu dipaksakan keluar dari kerongkongannya. Sejak pertemuan Sabtu malam kemarin, baru sekarang dia berbicara padaku. Yeejin lebih banyak bercanda dengan Chanyeol dan Sehun.

Aku tersenyum sebagai balasannya. Mungkin ia benar. Aku yang berubah.

“Sepertinya kita sama-sama berada dalam situasi yang tidak nyaman, akan lebih baik jika aku pergi.” Dia beranjak dari kursinya. Berjalan ke arah pintu keluar.

“Aku merindukanmu, Kim Yeejin.”

Kata-kata itu meluncur mulus dari bibirku. Entah apa yang ku pikirkan. Aku lelah berpura-pura. Untuk sekali saja aku ingin mengikuti apa kata hatiku. Kim Yeejin, dia terlalu lama terluka. Dan aku tidak ingin membuat masalah ini kembali berlarut-larut.

Yeejin menghentikan langkahnya. Berbalik menatapku. Wajahnya memerah dan air mata siap meluncur dari pelupuknya.

“Maafkan aku, Yeejin-ah. Aku berdosa meninggalkanmu.”

“Bisakah kita hanya berpura-pura tidak saling mengenal? Aku tak pernah tahu apa alasanmu meninggalkanku dan saat ini aku telah berhasil melupakanmu. Jangan membuat usahaku sia-sia. Dan kata maaf, pantaskah kau ucapkan kata itu setelah menghilang hampir dua tahun?”

Hatiku serasa diremas. Dia benar, aku tak layak mendapatkan maaf ketika meninggalkannya terluka begitu lama. Dan aku baru menyadari bahwa aku juga tak layak merindukannya, ketika selama ini aku berusaha mengubur namanya, bukan mencarinya.

Nafasku sesak melihat air matanya. Air mata yang sama ketika aku memaksa diri lepas dari pelukannya. Mengibaskan genggaman tangannya dan pergi meninggalkannya.

Tak tahan mendengar isakannya, kurengkuh dia dalam pelukanku. Yeejin memberontak, namun tenagaku lebih kuat. Dia terisak semakin keras, menenggelamkan wajahnya di dadaku.

“Mianhae, Yeejin-ah. Mianhae.” Bisikku sambil menutup mata.

“Nappeun namja!” Dia membalas dengan memukul-mukul tubuhku. Wajahnya semakin tenggelam dalam pelukanku. Membuat kemeja yang ku kenakan basah oleh air matanya.

.

Tiba-tiba,

Braakkk!!

.

Kami tersentak, refleks melepaskan pelukan mendengar suara mencurigakan dari luar ruangan. Ketika aku membuka pintu, ku lihat kursi-kursi besi tak terpakai yang tersusun rapi di luar ruangan sudah berserakan. Seperti ada orang yang dengan sengaja menabraknya. Tetapi orang bodoh mana yang mau menabak kursi-kursi besi seperti itu? Pasti sakit sekali.

Ketika ku edarkan pandangan, mataku menangkap postur tinggi berbelok koridor dengan terburu-buru.

“Ah, Kau mencuri dengar rupanya!”

.

.

.

-TBC-

19 thoughts on “Edelweis (Chapter 2)

  1. ExoHunHunnie berkata:

    Thor jinjja neomu daebak (y) ini bagus banget :* tapi sayang ada cast ceweknya😦 aku sebenernya agak gak suka kalo ada cast cewe tapi ini gak sama Hun oppa inih jadi gapapalah aku rapopo :’)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s