FF: Ghost Rider (Part 14)

Ghost Rider

Author : Oh Mi Ja

Genre : Horror. Mystery, Comedy, Friendship

cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Support Cast : Kim Myungso

o (Infinite), Kim Jongdae

Baekhyun mendapati kenyataan jika dirinya mengalami amnesia Anterograde setelah nyonya Byun dengan perlahan menjelaskan padanya. Menjelaskan sesuatu hal yang sebenarnya menggantung karena dia sendiri tidak mengetahui akibatnya. Perlahan, dengan lembut walaupun sebenarnya Baekhyun tidak sepenuhnya mengerti. Namun, ia dapat menerimanya setelah yakin jika wanita yang sedang berada didepannya benar-benar ibu kandungnya.

Dua hari berlalu saat nyonya Byun meminta pada dokter agar anak kandungnya dipindah ruangan ke sebelah suaminya. Agar ia bisa merawat dua orang sekaligus.

Juga,melewati usaha-usahanya yang mulai memberikan buku catatan pada Baekhyun agar ia bisa mengingat semua penjelasannya setelah ia bangun keesokan harinya. Penyakitnya memang tidak parah dan mematikan, namun sangat membuat nyonya Byun, bahkan diri Baekhyun sendiri menjadi sangat terkejut.

Amnesia Anterograde adalah jenis amnesia dimana penderita akan mudah kehilangan ingatan jangka pendeknya. Kasus yang terjadi pada diri Baekhyun, dia akan melupakan semua yang setelah terjadi kemarin setelah dia bangun tidur.

Dia akan melupakan siapa orang-orang yang dikenalnya, apa yang terjadi kemarin, bahkan sesuatu yang penting sekalipun.

Mendengarkan penjelasan dari nyonya Jung, ia mulai mencatat semuanya. Juga menyimpan sebuah foto keluarga kecil mereka dengan memberikan catatan ‘ini keluargaku’ dibagian atasnya.

“Oema, apa kita adalah warga Hongkong?” Baekhyun mulai menanyakan tentang identitasnya.

“Kita adalah orang Korea, Baekhyun.” sahut ayahnya. “Appa dan oema berada disini karena appa dipindahtugaskan. Sedangkan kau, kau datang kemari untuk menjenguk appa.”

Sama seperti nyonya Byun, tuan Byun juga menjelaskan pada Baekhyun dengan sabar. Juga dengan pemilihan kata-kata yang tepat agar anaknya itu mampu menerimanya dengan baik. Seperti tidak menyesal dengan kehidupan sebelumnya.

Baekhyun menuangkan penjelasan yang bercampur dengan gurauan itu ke dalam catatannya. Kali ini dia merasa rileks. Dan tidak memberontak lagi dengan kenyataan yang terjadi.

‘Aku adalah orang Korea. Aku berada di Hongkong untuk menjenguk appa yang mengalami serangan jantung. Aku adalah seorang mahasiswa di salah satu Universitas cukup terkenal di Korea. Namaku Byun Baekhyun.’

“Oema, apa aku punya sahabat saat berada di Korea?”tanya Baekhyun.

Nyonya Jung mengangguk, sambil memberikan potongan apel pada Baekhyun. “Namanya Kim Jongdae. Dia adalah sahabatmu sejak SMP. Sekarang kalian berada di Universitas yang sama dan fakultas yang sama.”

“Whoaa, benarkah? Lalu bagaimana sosok… emm… Kim… Jong…” Baekhyun tidak mampu mengingat namanya.

“Kim Jongdae.” Nyonya Byun membenarkan.

“Ah, ya. Kim Jongdae.”

“Dia adalah sosok yang baik. Selalu perhatian padamu dan sangat setia kawan. Oema rasa, dia juga orang yang sudah mengubah sifat kekanak-kanakkanmu menjadi seperti sekarang”jelas nyonya Byun tersenyum.

Mata Baekhyun membulat, “ha? Aku? Kekanak-kanakkan?” ia bertanya ragu. “Tidak mungkin.”

Nyonya Byun tertawa geli, “Yaah, anak oema sangat kekanak-kanakkan dan penakut dulu. Bahkan kau tidak berani pergi ke kamar kecil diatas jam 10 malam.”

“Sungguh?!” wajah Baekhyun mulai merona merah. “Ah, mengapa dulu aku sangat memalukan?”

“Tidak apa-apa. Yang terpenting sekarang kau adalah namja dewasa yang membuat appa dan oema sangat bangga.” Nyonya Byun berdiri, mendekati Baekhyun dan menghuap kepalanya lembut.

Baekhyun mendongak, “benarkah?” ia tersenyum. “Ah, sepertinya aku harus berterima kasih pada Jongdae.”

***___***

Disisi lain, Kyungsoo, Lay dan Kris juga mulai menjelaskan pada Chanyeol sedikit demi sedikit kenyataan yang terjadi di masa lalu. Selama dia koma dan tidak sadarkan diri. Beberapa hari telah berlalu, dan Lay rasa ini adalah saat yang tepat karena keadaan Chanyeol juga sudah membaik.

“Maaf Chanyeol.” Kris menelan ludah pahit. “Aku benar-benar tidak bermaksud meninggalkanmu. Juga tidak bermaksud tutup mulut saat hakim memintaku untuk menjelaskannya. Aku punya alasan walaupun aku memang bersalah. Aku minta maaf dan aku akan menebusnya. Maafkan aku.” Ia menunduk dalam.

“Aku juga bersalah.”sahut Kyungsoo menyesal. “Aku tidak menemanimu waktu itu. Aku lebih memilih mengerjakan PR-ku di rumah. Harusnya aku—“

“Tidak ada yang perlu disesali.”potong Chanyeol menerawang ke luar jendela. “Lagipula, aku sudah sadar dan baik-baik saja.” Suaranya terdengar lirih. “Yang aku sesalkan, harusnya aku sadar lebih cepat dan membantumu melawan Myungsoo. Harusnya kau tidak kehilangan kakimu seperti itu.”

Kris menggeleng cepat, “ini adalah balasan untukku dari Tuhan. Karena aku sudah meninggalkanmu. Ini adalah karma, karena aku telah mengkhianati sahabatku sendiri. Dibanding semua yang telah aku lakukan, hukuman ini tidak seberapa dibandingkan rasa sakitmu.”tangisnya pecah, air matanya bercucuran membentuk sungai kecil dikedua pipinya. Seandainya saja, dia bisa kembali.

Chanyeol berpaling, kini menatap Kris lurus dengan senyuman kecil di wajahnya. “Tidak. Aku mengerti alasanmu karena aku juga pernah merasakannya. Keluarga adalah hal yang penting. Dan terima kasih karena kau sudah berusaha untuk membelaku. Terima kasih.”

“Chanyeol…”panggil Lay, suaranya terdengar serak. “Hingga sekarang, kami masih menjadi sahabatmu kan? Setelah mengetahui semuanya, apa kau akan membenci kami?”

“Tidak Lay. Aku tidak akan membenci kalian. Dan aku tidak akan bisa.”serunya lembut, kembali tersenyum.

Lay memeluk Chanyeol erat, menumpahkan segala kesedihan dan air matanya di pundak seseorang yang sudah sangat lama ia rindukan itu.

“Terima kasih. Terima kasih. Mulai sekarang aku berjanji akan menjagamu. Aku akan melindungimu apapun yang terjadi. Jangan pergi lagi. Aku mohon. Kami semua sangat menyayangimu.”

***___***

Jongdae mendesah panjang karena lagi-lagi mendapati kenyataan jika ponsel Baekhyun masih belum aktif. Sudah beberapa hari berlalu, namun ia masih belum mengetahui keberadaan sahabatnya, juga kabar darinya.

Berpuluh-puluh pesan suara yang telah ia kirim sama sekali tidak mendapat balasan apapun, membuatnya khawatir dengan keadaan Baekhyun sekarang.

Dimana dia? Kenapa tidak menghubunginya?

“Baekhyun, sebenarnya kau dimana?”desah Jongdae, tangannya yang memegang ponsel meluruh kebawah.

Pertandingan memang semakin dekat dan bahkan dia belum mempersiapkana apapun. Chanyeol telah sadar namun tidak mungkin jika dirinya memaksa Chanyeol untuk menggantikan Baekhyun. Diatas semua itu, sebenarnya kekhawatiran terbesarnya adalah tentang Baekhyun dan keadaannya.

“Ku dengar sahabatmu akan mendaftar sebagai peserta uji coba.”

Myungsoo mengejutkan Jongdae dengan suara dinginnya yang terasa mendesir. Membuatnya seketika bergidik hanya dengan pertanyaannya.

“Darimana kau tau?” Jongdae menarik napas diam-diam, menenangkan dirinya.

“Tentu saja aku tau.” Dia tersenyum menyeringai. “Bukankah sudah ku peringatkan jika dia akan mati di arena balap?”

Rahang Jongdae mengatup, “Apa maksudmu?! Kau mau membunuhnya juga seperti kau membunuh Chanyeol?!”

Sekali lagi Myungsoo tersenyum, lalu menjatuhkan dirinya di kursi kayu yang ada didepan Jongdae berdiri. Ia duduk dengan santai, sambil mendongak menatap Jongdae.

“Baekhyun yang memberitahumu?” katanya tenang. “Jangan bicara yang tidak-tidak. Aku tidak pernah membunuh siapapun.” Ia merentangkan kedua tangannya diatas sandaran kursi. “Lagipula, aku tidak perlu melakukan apapun pada pria kekanak-kanakkan itu. Dia hanya terlalu memaksakan diri untuk melawanku dan ingin menang. Sekarang, beritahu aku. Apa kalian mengenal Park Chanyeol? Atau jangan-jangan Do Kyungsoo memberitahu kalian semuanya?”

“Apa pedulimu?!” Jongdae semakin kesal. Giginya menggertak.

Myungsoo tertawa kecil, “Kau benar. Aku tidak perlu peduli karena Do Kyungsoo itu juga tidak berguna. Dia tidak akan melakukan apapun.”

“Baekhyun pasti akan mengalahkanmu!”

“Baiklah.” Akhirnya Myungsoo berdiri, membersihkan celanannya lalu berbalik pergi. “Asalkan mobilnya tidak menabrak tiang seperti Park Chanyeol.”

***___***

Jongdae membolos di dua jam terakhir dan secepat mungkin mengendarai mobilnya menuju rumah sakit. Kesabarannya telah habis dan kekesalannya semakin menjadi-jadi. Dia benar-benar mengendarai mobilnya seperti kesetanan dan akhirnya memarkirkannya secara sembarangan di parkiran rumah sakit.

Setelah membanting pintu, ia melompat keluar dan berlari menuju kamar Chanyeol. Mendapati Kris dan Kyungsoo sedang duduk di sisinya sambil bercanda.

“Jongdae?” Kyungsoo terkejut melihat Jongdae muncul diambang pintu dengan raut kesal. “Ada apa?”

“Maafkan aku Kyungsoo tapi aku harus melakukannya.” Ia bergerak mendekati Chanyeol dan berdiri tepat di depan ranjangnya. Chanyeol menatapnya dengan kening berkerut. “Park Chanyeol, aku tidak perduli kau sudah siap tentang ini atau tidak, tapi kau harus mengikuti pertandingan uji coba!”

Kyungsoo dan Kris tersentak, “Jongdae! Kenapa kau mengatakannya? Kita sudah sepakat untuk tidak—“

“Berhenti menggunakan temanku sebagai alat kalian!”potong Jongdae, ia menatap tajam kearah Kyungsoo. “Kenapa kalian sangat egois?! Bukankah sahabat kalian sudah sadar? Kenapa kalian masih mau menggunakan Baekhyun?!” ia membentak. “Baekhyun bukanlah pembalap yang handal. Dia juga baru bisa menyetir mobilnya beberapa bulan lalu. Dia tidak bisa mengikuti pertandingan ini! Aku tidak mau dia terluka!”

“Tunggu… apa maksud kalian? Siapa Baekhyun?”tanya Chanyeol tidak mengerti.

“Dan kau bahkan melupakannya!” nada suaranya semakin meninggi. “Setelah semua pengorbanan yang telah dia lakukan, kau melupakannya! Kalian melupakannya! Bahkan disaat dia menghilang seperti sekarang, kalian tidak perduli tentang itu! Sahabat kalian kembali dan sahabatku menghilang. Apa kalian masih mau menjadi egois?! Tolong lepaskan Baekhyun!”

“Jongdae, kita sudah membicarkannya, kan? Dan Baekhyun menyetujuinya. Dia bilang dia akan ikut pertandingan itu.” Kris mencoba menenangkan.

“Kalian harus menjawabku! Siapa Baekhyun?! Dan siapa kau sebenarnya?!” Chanyeol mulai muak etelah diabaikan berkali-kali.

Jongdae menelan ludah, “Baekhyun adalah seseorang yang menolongmu saat kau menjadi roh. Seseorang yang tiba-tiba mengatakan jika dia akan berjuang untukmu dan mengalahkan Myungsoo agar impianmu tercapai. Seseorang yang tiba-tiba menjauhiku karena dia terlalu sibuk mengurusi masalahmu. Kau lupa?!” Lelah berteriak, akhirnya Jongdae menundukkan kepalanya dalam. Dilanjutan kalimatnya, suaranya terdengar sangat lirih, “dia bahkan melakukan apapun untukmu.”

Chanyeol terperangah, “Roh?”

“Hentikan Jongdae! Kau sudah keterlaluan! Chanyeol belum siap mengetahui tentang itu!”bentak Kyungsoo, berdiri dari duduknya menatap Jongdae geram.

Jongdae masih menunduk, isakan kecilnya terdengar, “kau melakukannya karena sahabatmu sudah kembali.” Ia terdiam sejenak. “Aku melakukannya karena sahabatku menghilang.” Setelahnya, ia berbalik pergi.

***___***

Jongdae tidak keluar kamar setelah pulang dari rumah sakit. Juga tidak pergi mengajar seperti seharusnya. Hatinya terus gelisah bercampur kekesalannya terhadap semua orang. Baekhyun sudah melakukan hal yang baik menurutnya, tapi sepertinya mereka tidak menghargai usaha Baekhyun itu. Mereka mengabaikannya.

Suara dering ponsel memecah kesunyian di kamarnya. Jongdae mendiamkannya beberapa saat, namun akhirnya menjawab panggilan dari nomor yang tidak dikenal itu di detik-detik terakhir. Dia pikir, mungkin itu adalah Kyungsoo.

“Yeoboseyo.” Suaranya terdengar serak.

“Jongdae. Kim Jongdae?”

Alis Jongdae terangkat satu. Ini suara perempuan. “Ya? Ini siapa?”

“Ah syukurlah kau belum mengganti nomor ponselmu. Ini bibi Byun.”

Setelah mendengar kalimat itu, Jongdae sontak bangkit dari tidurnya. “Siapa?! Bibi Byun?!”

“Iya. Ini bibi Byun. Bibi ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Bi, apa yang terjadi dengan Baekhyun? Apa dia baik-baik saja? Kenapa dia tidak menghubungiku? Aku menunggu balasan pesannya setiap hari.”

Ada jeda disebrang telepon saat Jongdae menanyakan hal itu. Juga ada helaan napas panjang yang bisa Jongdae rasakan jika memang ada sesuatu yang terjadi.

“Jongdae, bisakah kau membantu bibi? Bisakah kau menjual mobil Baekhyun?”

Jongdae terkejut, “kenapa?! Baekhyun sangat menyayangi mobil itu, bi.”

“Ini adalah keputusan kami. Baekhyun sedang mengalami sakit dan paman Byun juga seperti itu. Bibi membutuhkan tambahan uang. Dan… bibi rasa Baekhyun sudah tidak perlu memakai mobil lagi.”

“Bi, aku mohon. Beritahu aku apa yang sedang terjadi. Kenapa Baekhyun?” Jongdae menuntut.

“Dokter bilang dia mengalami benturan keras di kepalanya. Apa dia pernah mengalami kecelakaan sebelumnya? Bibi khawatir dia mengalaminya namun tidak memberitahu tentang hal ini. Dia mengalami… Amnesia Anterograde.”

“Apa?!” Jantung Jongdae nyaris melengos ke bawah saat ia mendengar penjelasan bibi Byun tentang Baekhyun. Baekhyun tidak pernah mengalami kecelakaan apapun. Bagaimana bisa dia mendapat benturan dikepalanya?! Mustahil. Ini mustahil.

“Jongdae, bisakah kau membantu bibi? Baekhyun pasti meninggalkan satu kunci cadangan padamu, kan? Berkas-berkasnya ada di kamar Baekhyun.”

Jongdae masih terdiam. Tidak bersuara sama sekali.

“Jongdae?”

“Tut… tut… tut…”

Tangan Jongdae yang memegang ponsel meluruh dan panggilan itu terputus. Kenyataan ini terlalu membuat dadanya terasa sesak dan dia tidak bisa bicara. Dia akan meminta maaf pada ibu Baekhyun nanti karena saat ini dia ingin menenangkan diri.

Jongdae memaksa tubuhnya untuk berdiri dan dia menyambar kunci mobilnya. Saat menuruni anak-anak tangga, dia mengabaikan pertanyaan ibunya yang bertanya dia ingin pergi kemana. Jongdae terus berjalan keluar, membawa Byul bersamanya lalu menuju mobil.

Dengan kesadaran yang masih terombang-ambing, ia menyalakan mesin dan bergerak menjauh dari rumah. Sudah pukul 9 malam, memasuki saat-saat dingin di kota Seoul walaupun saat ini sudah memasuki musim panas.

Byul yang duduk disampingnya terlihat malas dan tidak mengajaknya bermain seperti biasa. Anjing putih itu hanya melipat kedua tangannya dan meletakkan kepala diatasnya.

Tak lama setelah ia sampai di tempat yang ia tuju, Jongdae menggendong Byul di pelukannya. Mereka ada di rumah Baekhyun. Terlihat sangat gelap karena tidak ada sang pemilik rumah di dalamnya. Saat memasuki halaman rumah, Byul memberontak turun. Jongdae mengerti, Byul pasti sangat merindukan tempat ini, rumah lamanya.

Ia membiarkan Byul berlari menuju kandangnya dan memutar-mutar senang. Byul yang bersemangat kembali.

Lalu, ia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah Baekhyun. Menekan saklar lampu untuk menyalakan lampu ruang tamu. Juga naik ke lantai dua, menuju kamar Baekhyun.

Pria mungil itu tidak memutuskan untuk menyalakan lampu. Justru membiarkan kegelapan kamar Baekhyun menemaninya. Kamarnya terlihat berantakan. Bantal-bantal yang berserakan di lantai dan buku-buku pelajaran yang bercecer di atas meja belajar. Dia tidak berubah.

Ia memunguti baju-baju Baekhyun yang juga tercecer di lantai dan meletakkannya di keranjang kotor. Menempatkan kembali bantal-bantal lalu duduk di ujung ranjang.

Cukup lama ia tenggelam dalam pikirannya dan kegelapan. Sengaja melakukannya agar kegelapan bisa menyembunyikan sungai kecil yang sudah terbentuk di pipinya.

Baekhyun. Apa yang telah terjadi padanya? Apa benar dia mengalami kecelakaan? Tapi, kenapa dia tidak pernah mengatakannya?

Jongdae memikirkan hal-hal itu hingga kepalanya terasa sangat sakit. Juga hatinya yang masih belum bisa menerima kenyataan jika Baekhyun telah kehilangan ingatan.

Keputusan untuk menjual mobil itu memang menjadi hak orang tua Baekhyun. Tapi dia pikir, apa semua ini tidak terburu-buru mengingat Baekhyun sangat ingin memenangkan pertandingan itu untuk Chanyeol? Mengingat bagaimana bahagianya dia saat dia berhasil mengendarai mobilnya sendiri. Baekhyun sangat menyayangi mobilnya.

Namun di sisi lain, keluarga Baekhyun juga bukan termasuk ke dalam keluarga kaya. Hanya keluarga sederhana dan Jongdae mengerti jika sekarang ibu Baekhyun pasti membutuhkan banyak uang untuk perawatan suami dan anaknya. Hanya saja… apa memang harus di jual?

Suara gonggongan Byul terdengar tak beraturan. Jongdae tersadar, lalu berdiri dan berjalan menuju balkon kamar Baekhyun. Rasa terkejut menghampiri dirinya saat ia melihat Chanyeol merapat ke pintu pagar karena Byul terus menggonggong kearahnya.

Byul memang bukan jenis anjing yang berbahaya. Namun bagi seseorang yang tidak terlalu menyukai anak anjing seperti Chanyeol, gonggongannya tetap menakutkan.

“Anjing baik, aku bukan pencuri.” Chanyeol berseru sambil mengibas-ngibaskan tangannya, berusaha mengusir Byul.

“Chanyeol?”

Chanyeol mengangkat kepalanya dan mendapati Jongdae sudah berdiri didepannya.

“Kenapa kau kemari?” ia bertanya sambil menarik tali Byul dan menenangkannya.

“Aku kabur dari rumah sakit. Ingin bertemu denganmu.” Ia berseru hati-hati.

“Bagaimana kau bisa tau aku ada disini?”

“Kris memberikan alamatmu padaku. Satu-satunya orang yang mengijinkanku pergi.” Ia bergerak maju mendekati Jongdae. “Sebenarnya… aku ingin bertanya tentang siapa Baekhyun itu.”

“Untuk apa mengetahuinya? Bukankah kau tidak mengenalnya?” balas Jongdae, matanya menatap Byul.

“Kris sudah menceritakan sedikit padaku. Gila memang. Awalnya akupun tidak percaya. Tapi, aku rasa kau tidak berbohong. Bahkan tadi siang kau menangis.”

Jongdae menarik napas panjang, “sebenarnya.. aku sendiri juga tidak mengetahui apapun tentang kalian. Tapi, mungkin ini bisa membuatmu mendapat jawaban.”

Pria mungil itu berjalan dan meminta Chanyeol untuk mengikutinya. Mereka menuju garasi mobil Baekhyun. Dibelakangnya, Chanyeol mengikutinya tanpa suara walaupun dia sendiri tidak mengerti dengan apa yang sedang dilakukan Jongdae saat ini.

Saat Jongdae membuka garasi mobil, barulah Chanyeol bereaksi. Matanya nyaris terbelalak lebar dan tubuhnya sontak membeku di tempat. Sebuah mobil biru terlihat dan ingatannya masih mampu mengingat dengan jelas tentang mobil itu. Yah, mobil biru yang memiliki angka 13 di badannya.

Chanyeol menelan ludah, “ini… bagaimana bisa?”

“Mobil ini yang mempertemukanmu dan Baekhyun. Kau pasti… sangat mengetahui mobil ini kan?”

Chanyeol merasakan jika dunianya berhenti berputar dan rasa sakit itu menusuk-nusuk jantungnya hingga ingin meledak. Ia hanya bisa terpaku, membeku dan terperangah melihat logam biru yang dengan mudah mampu membangkitkan luka-luka lamanya kembali.

Jarum jam seperti bergerak mundur dan dia seperti dibawa ke dimensi lain untuk melihat masa lalu. Ia seperti sedang menonton film dirinya didepan mata. Bagaimana dia tertawa bersama teman-temannya. Bagaimana susahnya keluarganya dulu. Dan bagaimana kecelakaan itu terjadi. Dia melihat itu. Semuanya berputar didepan mata.

Ia terhuyung mundur, tangannya tidak menemukan pegangan apapun hingga akhirnya ia tersungkur di tanah. Ia terduduk dengan mata yang tidak mempunyai fokus. Genangan air juga sudah tercipta disana.

Jongdae menatapnya sedikit menyesal. Namun dia harus secepatnya mengetahui. Siap atau tidak.

“Ibu…”

Chanyeol terisak dengan tubuh yang membungkuk dalam-dalam. Ia tersadar jika ibunya kini telah tiada. Seperti merasakan jika duri-duri itu menusuk-nusuk hatinya.

Seperti adegan-adegan film yang perlahan muncul di matanya. Chanyeol mulai mengingat semuanya. Ia mendongak, menoleh ke kiri dan menatap kearah balkon kamar Baekhyun.

Ingatannya samar. Namun hatinya merasakan jika pernah ada sesuatu disana. Dia baru pertama kali ke tempat ini, namun sepertinya tempat ini tidak terasa asing. Dia seperti mengenal tempat ini.

Jongdae berjongkok didepan Chanyeol sambil menepuk pundaknya, “Maaf Chanyeol. Aku hanya ingin kau mengetahuinya. Sahabatku sudah banyak berkorban untukmu.”

Chanyeol menatap Jongdae dengan wajah yang sudah basah, “dimana Baekhyun?”

Jongdae terdiam. Tidak langsung menjawab pertanyaan Chanyeol yang membuatnya juga merasakan rasa sakit itu. “Dia di Hongkong. Dia kehilangan ingatannya. Ibunya memintaku untuk menjual mobil ini. Mereka membutuhkan banyak biaya.”

Mata Chanyeol melebar, “kehilangan ingatannya?!”

Jongdae mengangguk, “Aku belum mengetahuinya secara jelas tapi ibunya bilang kepalanya terbentur sesuatu keras dulunya.”

“Apa dia pernah mengalami kecelakaan?”

“Setauku tidak.”kata Jongdae. “Tapi aku tidak tau.”

“Bisakah kau tinggalkan aku disini sendiri?”

Jongdae mendapati wajah tulus Chanyeol yang sedang memohon padanya. Dia tidak tau apa yang akan dilakukan oleh pria ini di rumah Baekhyun. Namun ia mengerti jika pria ini sedang menyimpan banyak luka dan membukanya kembali.

“Aku akan mengembalikan kuncinya padamu secepat mungkin. Aku ingin berada disini.”katanya lagi.

“Baiklah.” Jongdae berdiri. Walaupun tidak mengenal Chanyeol, namun entah mengapa ia percaya jika Chanyeol adalah orang baik. Ia berjalan menjauh menuju pintu pagar. “Chanyeol?” ia berbalik, menatap Chanyeol. “Sebelum pergi ke Hongkong, Baekhyun menulis sebuah pesan untukmu. Sepertinya kau belum membacanya.” Ia melemparkan gumpalan kertas dari kantung celananya pada Chanyeol. “Aku pergi.”

Tempat ini benar-benar tidak asing. Setiap ruangannya seperti mempunyai arti tersendiri bagi Chanyeol. Dia lupa, namun dia mampu merasakan jika dia pernah berada disini. Memasuki kamar Baekhyun, perasaan Chanyeol semakin bertambah kuat.

Ingatannya kembali berputar samar. Ia sangat tau jika kamar ini tidak pernah rapi dan pemiliknya selalu lupa meletakkan barang-barangnya. Setiap paginya, dia selalu tergesa-gesa karena terlambat setelah semalam berlatih keras mengendarai mobil. Terkadang, dia juga tertidur saat mengerjakan tugasnya. Dan jika bosan, dia akan membaca jejeran komik koleksinya.

Melihat lemari kaca yang berisi kumpulan komik Baekhyun. Chanyeol bergerak mendekat. Tangannya terulur untuk mengambil sebuah komik. Dan untuk sesaat, dia terpaku menatap komik naruto itu. Terbesit diingatannya saat ia dan Baekhyun menemukan persamaan jika keduanya sama-sama menyukai Naruto. Hal yang lain, dia ingat saat Baekhyun menepuk pundaknya menggunakan komik karena dia tidak bisa menyentuh pundaknya.

Perlahan, Chanyeol bisa menerima kenyataan jika dia memang pernah menjadi roh dan dia memang mengenal Baekhyun. Yah, pria kekanak-kanakkan dan penakut itu adalah sahabatnya. Mereka pernah menjalin persahabatan yang tidak wajar dulu. Dan dia pernah bergantung pada Baekhyun.

Setelah kembali pada kenyataan, dia berjalan menuju balkon kamar Baekhyun. Hujan mulai turun dan dia membuka gumpalan kertas yang diberikan Jongdae padanya tadi.

 

Chanyeol, aku harus pergi ke Hongkong sekarang. Jaga dirimu.’

 

‘Jangan duduk di atap rumahku saat hujan turun dan jangan berbuat ulah. Aku akan segera pulang dan memenangkan pertandingan untukmu. Byun Baekhyun’

Chanyeol mendongakkan kepalanya keatas, menatap kearah atap rumah Baekhyun dengan keyakinan yang semakin besar.

“Baekhyun, aku akan memenangkan pertandingan untukmu.”

TBC

 

 

56 thoughts on “FF: Ghost Rider (Part 14)

  1. ParkJudit berkata:

    Alhamdulillah, Chanyeol perlahan mulai inget. ^^
    Heyyyy, Jongdae ap kau tidak ingat kyungsoomemukuli baekhyun dl? Itu penyebabnya Baekhyun amnesia jangka pendek!!! Oh ayolah~~ Ingat2 itu Jongdae. >\<
    Btw, author Oh Mi Ja daebak!!! (y)
    Cerita2 author udh pantes lo untk di buat buku!! Trus di jual di toko2 buku!! Soalnya, cerita nya keren2 bgt! Author buruan deh bkin bku nya, jng di blog aja. Klo author bkin bku nya, Aku pasti beli! Janji!😉 (y)
    Sampe sini aj ya thor!
    Hwaiting for author! '-')9
    Lop yu😀 :*
    Next next next! GPL! Ga pke lama! Otthe?

  2. Park Dobby berkata:

    Annyeong? hehe. aku reader baru disini. oh, dari pertama aku baca ff ini, aku langsung terkesima sama jalan ceritanya. sumpah keren bgt🙂 next chapternya cepet ya ^^ gomawo~

  3. jungdongae berkata:

    wah daebak..
    huhu.. bener tuh.. harusnya jongdae inget kalo baekki pernah dipukul kunci inggris sama kyungsoo..
    baekki.. cepatlah sadar nak.. TT_TT

    next tor..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s