A Confession

a confession pic

 

Tittle : a Confession

Author :cedarpie24

Cast : Oh Se Hun of EXO-K, Han Se Kyung (OC), Byun Baek Hyun of EXO-K, Lee Ji Ra (OC)

Genre : School-life, romance

Rate : PG-15

Length : Oneshot

Disclaimer : Maybe, for this time Oh Se Hun isn’t mine, but you must know, in the future, he should be mine! *tendang* kkk~ sorry, just kidding^^v, i just own the story, yeah, this strory PURE MINE, kekeke~

A/N : Annyeong, admin-nim, author-nim, reader-nim *bow* ini ff pertama yang aku kirim, mohon diterima ya^^ maaf jika banyak kekurangan, typo, ceritanya ga seru.. tapi aku sangat sangat sangat berharap komennya, hihi.Hope you like it^^ Oh ya sebelumnya ff ini pernah dipublish di Say Korean Fanfiction (saykoreanfanfiction.wordpress.com)

—the Story is begin

“Ugh, berat sekali.”

Han Se Kyung berkali-kali membenarkan posisinya memeluk setumpuk buku-buku tebal. Sahabatnya, Lee Ji Ra, yang berjalan di sampingnya mengangguk setuju.

“Karena hal ini aku sangat benci hari Senin.”ujar Ji Ra.”Pelajarannya banyak sekali. Semua bukunya tebal-tebal. Lama-lama tanganku bisa patah kalau begini terus.”

“Atau tinggiku takkan bertambah.”Se Kyung mengerling Ji Ra yang tingginya memang semampai, berbanding terbalik dengan dirinya.”Membawa buku setebal ini membuatku merasa ditekankan ke tanah.”

Ji Ra mendengus pelan.”Tinggimu memang takkan bertambah lagi, Se Kyung. Kalau kau lupa, umurmu sudah 17 tahun. Terima saja badan pendekmu itu.”Ji Ra mengakhiri kalimatnya dengan kekehan.

Se Kyung menggerundel tak jelas.

Koridor sekolah masih sepi. Se Kyung dan Ji Ra memang datang terlalu pagi hari ini. Kebanyakan siswa belum datang ke sekolah. Se Kyung yakin di kelasnya belum ada siapa-siapa.

Se Kyung tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya terpancang jauh ke depan sana, dengan mulut menganga. Sedetik kemudian ia sudah menarik tangan Ji Ra—dengan agak kesusahan, karena dibebani buku-buku tebal—dan hendak mengajaknya menghindar pergi.

“Apa,sih?”Ji Ra bertanya jengkel, masih tak menyadari apa yang membuat Se Kyung ingin segera menghilang. Ia juga ikut menghentikan langkahnya.

“Jangan lewat sini. Ayo putar balik!”Se Kyung berkata dalam bisikan pelan, setengah memohon. Matanya masih melototi sesuatu di depan sana.

Ji Ra mengernyitkan keningnya. Ia hapal betul tingkah Se Kyung jika sudah begini. Matanya ikut menatap apa yang ditatap Se Kyung. Kemudian langsung mendecak pelan.

“Oh, ayolah Se Kyung, mau sampai kapan kau menghindarinya, eoh?”

Se Kyung langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat.”Tidak, tidak! Aku tak bisa. Lebih baik menghindarinya saja. Ayo,Ji Ra!”tangannya masih berusaha menarik Ji Ra pergi dari koridor itu. Namun Ji Ra malah tetap berdiri di tempatnya.

“Tidak, Se Kyung.Kau harus menghadapinya. Ayo.”kini Ji Ra yang balik menarik tangan Se Kyung, mengajaknya berjalan terus ke depan.Sementara yang ditarik tangannya merintih tak jelas.

“Oh, tidak, tidak. Jangan Ji Ra! Aku bisa mati.”Se Kyung setengah merengek sekarang. Ia berusaha melepaskan diri dari cengkraman Ji Ra, namun Ji Ra menarik tangannya terlalu keras, sehingga mau tak mau ia terus berjalan ke depan. Jarak dirinya dengan orang itu semakin dekat…

Se Kyung dapat merasakan jantungnya berdentum dengan liar,sampai dadanya terasa sakit. Pelipisnya mulai berkeringat dingin. Badannya mulai gemetaran tak jelas. Tidak, ini pertanda bahaya sekali!

“Oh tidak, oh tidak,oh tidak”

Se Kyung terus menggumam panik tak jelas, membuat Ji Ra memasang tampang bosan. Sahabatnya ini, jika berpapasan dengan orang itu selalu bertingkah berlebihan, seolah akan dieksekusi mati. Ji Ra jadi sering kesal sendiri.

“Ya ampun, Ji Ra,ya ampun.”Se Kyung bergumam tambah panik saat orang itu kini tepat di depannya. Se Kyung berharap orang itu takkan mendengar gumaman paniknya, dan tak menyadari reaksi berlebihannya.

Namun sepertinya harapan Se Kyung tak terkabul. Orang itu menghentikan langkahnya. Wajahnya tetap datar seperti biasa, namun keningnya berkerut bingung menatap Se Kyung. Mungkin bertanya-tanya ada apa dengan yeoja di depannya ini.

Se Kyung berharap dapat segera pergi dari hadapan orang itu. Namun Ji Ra malah menahannya. Se Kyung tak berani menatap orang itu, dan lebih memilih menatap sampul buku kalkulusnya. Ia dapat merasakan Ji Ra menginjak kakinya. Refleks Se Kyung mendongakan wajahnya, dan langsung menyesal.

Orang itu, tepat di hadapannya. Jarak mereka sangat dekat. Oh Se Hun berdiri kurang dari semeter. Sebelumnya mereka tak pernah berada di jarak sedekat ini.

Jantung Se Kyung berdebar tambah keras. Tangan dan kakinya benar-benar gemetar hebat sekarang. Ia bahkan tak kuat lagi menahan beban buku yang dari tadi dipeluknya.

Bruk!

Buku-buku tebal itu terjatuh begitu saja dari pelukan Se Kyung. Namun yeoja itu tak memperdulikannya—atau mungkin tak menyadarinya. Ia masih menatap Oh Se Hun dengan mata membeliak, dan jantung berdebar gila-gilaan.

Ya ampun, kenapa Se Kyung bodoh sekali. Ji Ra merutuki sahabatnya dalam hati.

 

[][][]

“Lalu apa yang terjadi selanjutnya?”

“Yah—Ji Ra kembali menginjak kakiku, dan aku langsung sadar. Aku buru-buru mengambil buku-bukuku yang terjatuh, dibantu Ji Ra. Dan.. dan orang itu langsung berlalu begitu saja.”

“Dia tidak membantumu membereskan buku-bukumu? Seperti yang biasa terjadi di drama-drama,”

“Tidak. Tidak sama sekali.”

Byun Baek Hyun mengangguk-angguk pelan. Wajahnya sangat serius mendengar cerita Se Kyung tentang pengalamannya pagi tadi. Ia menggosok-gosok dagunya sambil berpikir.

“Menurutmu bagaimana?”Se Kyung bertanya penuh harap pada teman semejanya itu.

Baek Hyun tak langsung menjawab. Ia menimang-nimang jawaban yang takan membuat Se Kyung sakit hati.”Yah—seharusnya namja itu membantumu membereskan bukum, sih.Kalau aku jadi dia,mungkin aku akan meminta maaf sekalian.”

“Hng, benar juga.”Se Kyung menghempaskan punggungnya dengan lemas ke sandaran kursinya.

Se Kyung selalu menceritakan semua kejadian yang dialaminya bersama Oh Se Hun pada Baek Hyun. Termasuk kejadian pagi tadi. Saat ia berpapasan dengan Oh Se Hun, dan dirinya dengan tololnya menjatuhkan semua buku dalam pelukannya.Ia mempercayai Baek Hyun karena mereka merupakan tetangga, dan pengalaman Baek Hyun dalam asmara jauh lebih baik ketimbang dirinya maupun Ji Ra, yang masih nol.

Byun Baek Hyun dikenal seluruh siswa Hannyoung High School, atau bahkan mungkin ia terkenal di sekolah lain juga. Didorong oleh faktor wajahnya, Baek Hyun sangat senang bergonti-ganti yeojachingu. Tidak sepeti Oh Se Hun, yang sekalipun tak pernah kelihatan menggandeng seorang gadis—dan ini membuat Se Kyung benar-benar lega. Namun Se Kyung tak pernah mengerti kenapa seorang Byun Baek Hyun bisa digilai banyak siswi. Padahal, dibandingkan Oh Se Hun ketampanan Baek Hyun kalah telak, tentu saja ini hanya pendapat Se Kyung.

“Tapi kau tak usah cemas, mungkin dia hanya gugup jadi tak bisa melakukan apapun selain melengos pergi,”Baek Hyun berkata cepat-cepat, yang Se Kyung yakini hanya penghiburan saja.

“Heol, yang benar saja.”

Baek Hyun mengangkat bahu.”Siapa tahu memang benar dia gugup di dekatmu.”

Se Kyung terdiam. Merasa ucapan Baek Hyun sangat jauh dari kata pasti.

“Aish! Apa yang harus kulakukan!Aku bisa gila lama-lama…”Se Kyung mengacak rambutnya frustasi.

Baek Hyun menatap Se Kyung prihatin.”Kalau begitu nyatakan saja perasaanmu, Se Kyung.”

“Mwo? Kau gila!”

“Aku serius.”

“Aku bisa mati jika dia tahu perasaanku, Baek Hyun. Kau mau wajahku berubah jadi penggorengan saking malunya, huh?”

Baek Hyun berdecak pelan.”Menahan perasaanmu terus-menerus yang malah akan membuatmu mati, Han Se Kyung. Sekarang aku tanya, sudah berapa lama kau menyukai Oh Se Hun diam-diam?”

Se Kyung kelihatan sangat enggan menjawab.”Sejak kelas satu,”ucapnya tak lebih keras dari bisikan.

“Hampir tiga tahun, kan. Kau mau menahan perasaanmu lebih lama? Kau tak takut Oh Se Hun direbut yeoja lain?”

Se Kyung langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Nah, kalau begitu nyatakan perasaanmu.”Baek Hyun berkata dengan puas.

“Tapi… bagaimana jika dia menolakku?”Se Kyung bertanya pelan.

Baek Hyun terdiam sesaat.”Setidaknya kau takkan penasaran lagi bagaimana perasaannya padamu, kan.”ia tersenyum menenangkan.”Lagipula jika Oh Se Hun itu menolakmu, kau masih bisa menjadikan aku penggantinya.”Baek Hyun menaik turunkan alisnya dengan jahil.

“Yah!”
Baek Hyun hanya terkekeh.

Se Kyung mulai memikirkan bagaimana jadinya jika ia benar-benar menyatakan perasaannya pada Oh Se Hun. Entah bagaimana reaksi si tampang-datar itu. Sebelumnya Se Kyung tak pernah berinteraksi dengan Oh Se Hun. Mereka juga tak pernah sekelas sejak kelas satu.Hanya sekarang saja kelas mereka bersebelahan.

Kling!

Se Kyung mengerling Baek Hyun yang terlihat asyik dengan ponselnya. Ia melirik layar ponsel Baek Hyun, dan keningnya langsung berkerut.

“Ryu Hee Ran?”Se Kyung membaca nama di ponsel Baek Hyun.”Bukankah kau baru kencan dengan Kim Tae Yeon semingu lalu?”

“Oh, itu,”Baek Hyun menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponselnya, sesekali ia tersenyum-senyum sendiri.”Kami sudah putus lusa kemarin.Ceritanya panjang, nanti saja kuceritakan padamu.”

“Lalu Ryu Hee Ran?”kening Se Kyung berkerut semakin dalam.

“Kami baru mulai kencan kemarin.Dia imut sekali,kau tahu.”Baek Hyun tersenyum sendiri, kemudian bangkit dari duduknya dengan semangat.”Aku mau menemuinya sekarang,”

Se Kyung hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak percaya namja ini bisa dengan mudahnya melupakan yeoja lain. Sementara Baek Hyun mulai menghilang di balik pintu kelas, Se Kyung kembali memikirkan usulan untuk menyatakan perasaannya. Yah, lebih baik ia mendiskusikannya dengan Ji Ra.

[][][]

 

“Ya ampun, ya ampun..”

Ini yang selalu dilakukannya jika ia tengah gugup. Bergumam panik tak jelas.Kedua tangannya saling meremas, dan keringat dingin membanjiri wajahnya. Oh, dan jangan lupakan jantungnya yang berdebar hebat.

Kemarin sore, Se Kyung menemui Ji Ra dan menanyakan pendapatnya soal usulan Baek Hyun. Siapa yang sangka Ji Ra menyambut usulan itu dengan antusias. Yeoja itu berkata bahwa ia setuju seratus persen dengan Baek Hyun. Se Kyung tak mengerti apa yang ada di otak dua temannya itu.

Tapi yang lebih mengherankannya lagi, adalah dirinya yang malah setuju untuk menyatakan perasaannya pada Oh Se Hun. Mungkin sekarang Se Kyung telah kehilangan akal sehatnya.

Se Kyung berjinjit untuk mengintip lewat jendela kelas. Namja itu, Oh Se Hun, masih diam di tempat duduknya sambil membaca sebuah buku tebal. Padahal sekarang sudah jam istirahat.

Ya ampun, Se Kyung pasti telah kehilangan kewarasannya mengikuti saran Byun Baek Hyun. Ia pasti sudah gila!

“Kau cari siapa?”

Se Kyung langsung membeku di tempatnya saat mendengar suara itu. Ia membalikkan badannya, dan jantungnya terasa berhenti berdetak. Si tampang-datar, berdiri di depannya, dan tentu saja, masih dengan wajah datarnya.

“Daritadi kau mengintip lewat jendela kelasku. Itu benar-benar mengganggu, kau tahu itu.”Oh Se Hun berkata sadis.

Se Kyung menelan ludahnya susah payah.”Aku.. aku..”baiklah, baiklah, sudah terlanjur ini.Ia menarik napas, mencoba mencari kekuatan.”Bisa kita bicara sebentar? Tidak di sini, tapi.”

Oh Se Hun menaikkan sebelah alisnya. Namun akhirnya ia menganggukan kepalanya dan ikut saja saat Se Kyung membawanya ke koridor di bawah tangga. Se Kyung tak bisa menjelaskan, bahkan pada dirinya sendiri, kenapa ia memilih tempat sepi ini. Mungkin mengantisipasi jika Oh Se Hun menolaknya. Setidaknya ia takkan terlalu malu kalau tak banyak orang, kan…

Se Kyung tak berani menatap Oh Se Hun. Ia hanya menunduk menatap sepatu kets putih namja itu. Bersih sekali, tak ada setitik pun noda di sana. Se Kyung beralih menatap sepatunya sendiri. Sedetik kemudian ia sangat menyesal kenapa tak memakai sepatunya yang lain yang lebih baik.

Baru saat Se Hun berdehem Se Kyung sadar ia telah membuang waktu dengan memikirkan sepatu. Ia mendongak menatap Se Hun, Namja itu memasang tampang datar—seperti biasanya.

Se Kyung menarik napas, kemudian kata-katanya meluncur bebas begitu saja,”Aku tahu ini di luar akal sehat, kau juga pasti akan kaget mendengarnya. Tapi ketahuilah aku benar-benar nyaris gila tiga tahun terakhir ini, dan kini aku tak bisa menahannya lagi. Aku benar-benar menyukaimu Oh Se Hun. Aku tak tahu apa yang membuatku jadi tergila-gila padamu. Ya, ya, aku tahu ini kedengaran sangat konyol bagimu, tapi terserah kau sajalah. Aku tak mengharap kau membalas perasaanku. Aku juga tahu kau takkan mau melakukannya…”

Sama seperti mulainya, kata-katanya macet berhenti begitu saja. Se Kyung tak tahu lagi apa yang harus ia katakan. Ia terdiam. Baru disadarinya napasnya terengah-engah. Tentu saja, ia mengatakan kalimat panjang tadi dalam sekali tarikan napas. Se Kyung dapat merasakan wajahnya memanas. Ya ampun, dia baru saja—dia baru saja menyatakan perasaannya pada Oh Se Hun!

Se Kyung memberanikan diri menatap Se Hun. Namja itu masih tanpa ekspresi, namun Se Kyung dapat melihat keterkejutan di matanya.

“Yah—itu.. itu saja yang ingin kukatakan.”Se Kyung menggigit bibirnya,”Eh, sampai jumpa!”

Ia langsung berbalik meninggalkan Oh Se Hun. ‘Sampai jumpa’?! Ia mengatakan ‘sampai jumpa’?! Ya ampun, kenapa kau sangat tolol, Han Se Kyung!

“Han Se Kyung!”

Se Kyung langsung membeku di tempatnya.Ia berhenti melangkah. Apakah telinganya jadi rusak karena ia menyatakan perasaannya? Tadi itu seperti mendengar suara Oh Se Hun memanggil namanya. Tapi bagaimana namja itu mengetahui namanya? Se Kyung telah mencopot name tagnya sebelumnya. (Ia terlalu malu sampai tak mau Oh Se Hun mengetahui identitasnya.)

“Yah—Han Se Kyung, aku memanggilmu. Kemarilah!”

Sepertinya telinganya masih berfungsi dengan seharusnya. Oh Se Hun benar-benar memanggilnya. Se Kyung berbalik, kemudian melangkah mendekati Se Hun dengan langkah kikuk.

Se Kyung dapat mendengar dengusan Se Hun saat dirinya telah berada tepat di hadapan namja itu. Apa Se Hun marah? Oh, tidak, ini buruk sekali! Ya ampun, ya ampun…

Namun yang selanjutnya terjadi membuat Se Kyung yakin dirinya tengah berhalusinasi. Oh Se Hun tiba-tiba menariknya mendekat, masuk ke dalam dekapannya. Kemudian mendaratkan satu kecupan di keningnya. Hanya sedetik, namun mampu membuat syaraf-syaraf dalam tubuh Se Kyung berhenti bekerja. Ia merasakan dirinya membatu.

Se Kyung membeliakan matanya. Jantungnya berdebar liar, sampai memukul-mukul rongga dadanya, seolah berusaha kabur dari tempatnya. Apa… tadi itu apa?

Wajah Se Hun masih tetap datar, namun ada yang berubah dari sorot matanya.

“Kau ini siapa?”ujarnya perlahan, menatap Se Kyung lekat-lekat.”berhak menebak perkataanmu tadi kedengaran konyol bagiku. Siapa kau ini, asal saja menebak aku tak mau membalas perasaanmu.”

Lagi, Se Hun mendaratkan bibirnya di kening Se Kyung. Kali ini lebih lama. Dan itu sukses membuat Se Kyung tak bisa bergerak sesenti pun. Ia dibuat membatu oleh Oh Se Hun. Saat itu juga Se Kyung yakin Oh Se Hun ini merupakan kembaran si Raja Ular Basilisk. Keduanya sama-sama mampu membuat orang membatu. Se Kyung berjanji pada dirinya sendiri setelah ini ia akan menghubungi J.K. Rowling, kemudian meminta kontak Harry Potter, untuk mengatakan bahwa di dunia ini masih ada kerabat Basilisk. Harry Potter mampu membunuh Basilisk, mungkin ia bisa memusnahkan Oh Se Hun juga…

Se Hun menjauhkan dirinya dari Se Kyung. Namja itu menatap wajah Se Kyung yang masih memasang tampang shock menggelikan, dengan mata membeliak. Se Hun tertawa pelan melihatnya.

“Lain kali jangan mengambil keputusan sebelum mengetahui kebenarannya,eoh?”Se Hun tertawa lagi melihat Se Kyung mengangguk kaku—masih dengan mata membeliak.”Mulai sekarang kita pasangan, mengerti?”

Sekali lagi Se Kyung mengangguk kaku, tanpa sadar untuk apa ia menganggukan kepala. Dirinya masih dilanda shock berat!

Se Hun tergelak sekarang. Ia yakin Se Kyung bahkan tak sadar Se Hun tengah menyatakan mereka pasangan sekarang. Yah, ia akan mengatakannya sekali lagi nanti saja, saat shock di wajah Se Kyung sudah hilang, tentunya.

Se Hun menyelipkan jemarinya diantara jemari Se Kyung kemudian menariknya pergi.”Kajja, jam istirahat sebentar lagi selesai.”

Barulah saat Se Hun menggamit jemarinya Se Kyung sadar dari acara membatunya. Ia ikut saja saat Se Hun menariknya pergi. Dalam hati berjanji akan segera melabrak Ji Ra dan Baek Hyun karena setelah ia mengikuti saran mereka—untuk menyatakan perasaannya—keadaannya bukan membaik, namun malah bertambah buruk.

Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, dan itu tak pernah jadi pertanda baik. Ia hanya bisa berharap semoga tingkah Se Hun ke depannya takkan membuatnya membatu lagi. Kalau tidak, Se Kyung benar-benar akan melapor pada Harry Potter.

 

—    Fin

 

2 thoughts on “A Confession

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s