FISH

FF FISH (poster)

 

Title                 : Fish

Author            : @syarevimizani

Main Cast       : Luhan (EXO) , Sulli (fx)

Support Cast  : EXO members, Lee Jinki (Onew SHINee)

Genre              : fantasy, romance, friendship

Rating             : PG + 15

Length            : Oneshot

Disclaimer       : Sebelumnya, ff ini pernah di upload di exofanfiction.wordpress.com (http://exofanfiction.wordpress.com/2014/04/07/fish/). Cerita ini murni dari otak author yang tiba-tiba dapet ide ceritanya pas lagi menggambar ikan._. oke, happy reading!!

 

Semilir angin musim panas menerpa rambut panjang Sulli. Lee Sulli, seorang gadis biasa yang sedang menunggu kedatangan Oppa-nya – Lee Jinki – di sebuah dermaga di Pantai Pulau Jeju. Dari kejauhan, dia melihat kapal Oppa-nya. Sulli pun melambai ke arah kapal itu.

“Sulli-a!!” panggil suara khas itu.

“Oppa!!! Bogoshippo,” Sulli pun langsung melepaskan rindu kepada Oppanya itu dengan memeluknya.

“Kajja, kita pulang,” sahut Jinki, sambil merangkul tubuh mungil Sulli.

***

Jinki langsung meletakkan semua barang-barangnya – mulai dari ransel besar, beberapa dokumen dan satu tempat yang sangat berat.

“Oppa, itu apa?” tanya Sulli saat melihat tempat besar yang terlihat sangat berat itu.

“Ah, Sulli-a. Mianhae…”

“Kenapa, Oppa minta maaf?”

“Kau tau? Ini sudah lewat dua hari dari ulang tahunmu yang ke tujuh belas. Dan, Oppa minta maaf atas keterlambatan mengucapka selamat kepadamu. Saengil chukae Sulli-a, nae dongsaeng. Ini kado dari Oppa.”

Sulli kaget dengan apa yang dikatakan Oppanya.dia sendiri pun lupa dengan ulang tahunnya sendiri.

Sejak kepergian orang tuanyatepat saat ulang tahunnya lima tahun yang lalu, membuat Sulli untuk enggan merayakan, bahkan mengingat hari yang bersejarah dan, buruk itu.

“Tapi, kenapa Oppa…”

“Oppa, hanya ingin kau berbahagia di umurmu yang ketujuh belas ini.umur dimana kamu sudah mulai dewasa. Dengan memberika kado teristimewa yang tidak akan terlupakan olehmu,” potong Jinki dengan senyum indahnya.

Sulli pun terharu dengan perlakuan Oppanya. Oppanya yang masih mengingat bahwa sekarang adalah hari ulang tahunnya, bukan hari kematian orang tuanya. Pipi pucat Sulli pun basah oleh butiran-butiran kristal dari matanya.

“Ya, nae dongsaeng, uljima. Kau jelek tahu kalau nangis. Kajja, dibuka kado dari Oppa,” sahut Jinki menenangkan Sulli.

Setelah tenang, Sulli pun membuka kadonya.

Dan…

***

 

Pagi yang cerah. Matahari bersinar cerah di langit Pulau Jeju pagi ini. Benar-benar tenang dan terasa damai.

Pagi ini tidak seperti pagi biasa bagi Sulli. Biasanya, Sulli akan segera menyiapkan makan dan membersihkan rumah. Karena, sejak kematian kedua orang tuanya, Sulli lebih memilih mengurus rumahnya ketimbang sekolah. Sulli pun mengisi waktunya dengan menjahit baju ataupun merajut, karena dia sangat senang menjahit dan merajut. Tapi pagi ini, Sulli hanya terdiam menatap akuarium baru di rumahnya. Kado dari Jinki.

-Flashback-

“Oppa, ini… Ikan?”

“Ya! Ini dua belas ekor ikan ini akan selalu menjagamu saat Oppa pergi kerja. Dia akan menjadi temanmu Sulli-a.”

Sulli terdiam menatap kadonya itu. Bahagia, sekaligus bingung. Apa yang spesial dari ikan ini? Mungkin kalau menjadi teman curhat bisa saja. Tapi kalau menjaga…

-Flashback end-

“Sulli-a. Kau belum masak?” tanya Jinki yang baru saja keluar dari kamar mandi. Heran, biasanya pasti Sulli akan menunggunya di meja makan. Tapi sekarang…?

“Oh, Oppa mian. Auku telat bangun. Sepertinya Oppa pagi ini harus makan di tempat Kibum ahjussi. Hehe.”

“Oh, geurae…” dengan bingung Jinki langsung keluar dari rumah,sambil menyandang tas renselnya.

“Oh iya, Sulli-a, Oppa sepertinya hari ini tidak pulang lagi. Oppa akan ke Seoul siang nanti. Oppa ada perjanjian dengan salah satu restoran temen Oppa di sana. Kau mau titip apa?”

“Ah, tidak ada Oppa. Kado kemarin sudah cukup kok. Dan persediaan makanan juga masih ada. Uang tabunganku dan uang rumah tangga masih ada.”

“Oke Sulli-a, Oppa pergi dulu. Nanti Oppa telefon. Annyeong!”

Sulli pun melambaikan tangan ke arah Oppanya yang semakin lama semakin hilang, saat berbelok ke arah rumah makan Kibum ahjussi.

***

Sulli kembali ke aktivitasnya seperti biasa. Buat sarapan, membersihkan rumah, dan menjahit beberapa baju pesanan tetangganya.

“Ah, capeknya.” Sulli menyeka keringat di dahinya sambi duduk di atas sofa.

Cpak(bunyi air)

Sulli langung waspada. Bunyi apa itu?tanya Sulli di dalam hatinya. Bingung. Kan hanya dia sendiri di rumah. Sulli mulai paranoid.

Cpak… cpak… cpak…

Bunyinya semakin banyak dan keras. Dan makin dekat ke Sulli.

Apakah, akuarium?

Sulli pun langsung mencari akuariumnya.

Mata Sulli pun membulat.

Tiba-tiba, air dari dalam akuarium itu berbusa, seperti saat merebus air. Dan mendadak air tersebut penuh dan tumpah, dan membuat ke dua belas ikan di dalamnya jatuh.

“ANDWE!!!” Sulli pun berteriak, berusaha menyelamatkan ikannya.

Tapi…

“HUAAAA!!!!!!”

***

“Hyug, bagaimana ini? Dia pingsan,”kata seorang cowok berkulit putih, agak pendek dengan mata yang bulat, bibir membentuk hati dan wajah yang imut.

“Hyung sih. Menyuruh kita buat berubahnya nggak tepat.” Kali ini dari seorang cowok yang berkulit agak gelap dan tubuh yang tinggi dan lumayan kekar.

“Ya mau bagaimana lagi? Jinki sudah memberi kita amanat untuk menjaga dan menemaninya selama kita di sini. Lalu kapan lagi? Kalau kita hanya menjadi ikan, mana mempan. Kita tidak bisa berbicara dengan mereka kalau kita masih menjadi ikan kan?” jawab seorang cowok berkulit putih dan mempunyai wajah yang baby face.

“Hei, daripada dia tidur di lantai yang dingin, mending kita angkat saja ke kamarnya. Kajja!” sekarang seorang cowok yang bertubuh tinggi dan memiliki telinga yang lebar.

***

mmm… wangi apa ini?

Perlahan Sulli membuka matanya.

aku dimana? Ah… aku di kamar.

Pikiran Sulli pun pangsung memikirkan kejadian beberapa saat lalu.

Sulli langsung waspada.

Siapa mereka? Sulli langsung memicingkan matanya.

Mereka dari mana? Kenapa…?

“Sulli-a, kau sudah bangun?” tanya seorang cowok sambil membawa mangkuk bubur. Dia pun tersenyum sambil memperlihatnya kan lesung pipinya.

“Kau… Kau siapa?!” sulli langsung mundur. Dia ketakutan. Dia tidak mengenal cowok di depannya ini.

“Hai…hai. tenangkan dirimu.”

“Bagaimana aku bisa tenang kalau ada cowok asing di rumahku…?!”

“Namaku Lay. Dan aku tidak akan mengganggu ataupun mencelakaimu. Kajja, kau makan dulu buburnya. Nanti aku dan temanku akan menjelaskannya.”

Sulli pun terdiam.

Siapa dia? Apa dia bilang tadi? Dan teman-temanku?!

***

Sulli terdiam dan termenung di sofa rumahnya. Di depannya terdapat dua belas cowok dengan perawakan berbeda.

“Ba…baiklah. jadi coba jelaskan. Kalian siapa?”

Mereka terdiam. Dan mulai kasak kasuk sesama mereka.

“Ya!! Apa kalian tidak dengar?! Coba jelaskan, kalian ini siapa?!” sulli pun mulai frustasi dengan pemandangan di depannya.

“Ah geurae. Mulai dari aku.” Kata cowok itu dengan irama sok cool. “Namaku Kris. Itu saja.”

Sulli terdiam. Dia pun mulai mendengar pengenalan nama dari kedua belas cowok asing di depannya ini.

Di sebalah Kris ada Tao. Dia mempunyai mata panda tapi badannya kekar. Lalu Lay, cowok yang tadi memasakkan Sulli bubur. Di sebelahnya sedang memegangi hidung namanya Kai, cowok dengan kulit gelap. Lalu ada Kyungsoo, cowok imut dengan mata bulat besar.

Lalu Baekhyun, cowok yang dari tadi hanya nyengir, tapi cengirannya itu membuat bibirnya berbentuk petak, di sebelahnya Xiumin, cowok dengan pipi baozinya. Lalu Chanyeol, cowok tinggi dengan telinga besar dan gigi yang sangat rapi. Suho dengan wajah malaikatnya. Chen, cowok yang menurut Sulli lucu dan punya wajah mirip unta, dengan bibir yang melengkung saat tersenyum. Dan Sehun yang sepertinya paling muda diantara mereka. Malah mungkin di bawah Sulli.

“Lalu. Kau siapa?” Tanya Sulli satu orang cowok lagi.

Cowok itu imut, hanya saja dari tadi lebih banyak diam. Dan dari tadi Sulli selalu memperhatikan wajahnya. Mmm… Dia keren sekali…

“Aku Luhan. Pemimpin mereka semua.”

“Pemimpin? Maksudmu?” tanya Sulli heran.

Luhan terdiam sebentar, dan mengambil nafas dalam-dalam.

“Aku akan menjelaskan mulai dari asal usul kami. Begini ceritanya…

“Aku adalah pengeran dari Kerajaan Bawah Laut. Aku berteman dengan sebelas cowok ini. Mereka adalah anak dari petinggi kerajaan. Tidak seperti di dongeng putri duyung, kami tidak memiliki ekor. Kami hidup dengan kaki biasa. Seperti manusia. Kerajaan kamilah yang mengatur komunitas laut di sekitar wilayah teritorial kerajaan kami. Ada banyak kerajaan di bawah laut sana.”

Sulli tercengang. Kerajaan? Dan masih banyak kerajaan yang lain? Benarkah?

“Kami berdua belas, membentuk suatu tim sejak kecil, yaitu tim petualangan kami sendiri. Exo namanya. Dan samapai sekarang, kami masih sering berekspedisi di sekitar kerajaan kami. Dan, akulah yang dipercaya sebagai pemimpinnya. Berbeda dengan saat kecil. Setelah semakin dewasa, kami berpetualang ketempat yang lebih menantang dan sedikit berbahaya.

“Di kerajaan kami, ada sebuah cerita tentang penyihir jahat yang di asingkan di hutan di laut dalam. Penyihir itu di asingkan oleh ayahku karena kejahatannya. Kami yang penasaran sejak kecil, bertekad saat besar, kami ke sana untuk membuktikannya. Dan saat umur Sehun yang paling muda di antara kami berusia tujuh belas tahun, kami pun bersama-sama ke sana.

“Ternyata ya, cerita itu sendiri benar. Penyihir itu sangat keras. Ia mengutuk siapa pun yang datang ke sana. Apalagi yang berasal dari Kerajaan kami. Tapi kami tetap masuk ke wilayahnya. Kami di sana melawan dan terus melawan. Karena pasukan penyihir itu sungguh kuat. Kami yang mulai kewalahan pun disihir oleh penyihir itu menjadi dua belas ekor ikan yang tidak berdaya dan tidak dapat melawan. Dia mengatakan, agar kami kembali seperti semula, kami harus mengorbankan salah satu sari kami dalam waktu satu bulan. Kalau tidak, kami akan menjadi ikan selamanya.

“Tapi, dengan kecerdikan dan ketangkasan Tao, dia brhasilkan mendapatkan suatu ramuan dari tempat penyihir itu yang dapat merubah kami menjadi seperti semula walaupun hanya sementara. Tapi itu sangat berguna kan di saat-saat kami akan melawannya?

“Penyihir itu marah besar saat kami mencuri ramuannya, lagsung melempar kami sampai ke tempat Jinki, saat dia sedang melaut saat itu. Kami masih menjadi selayaknya kami saat itu. Kami yang sat itu sedang lemah, menceritakannya kepada Jinki. Dia pun mau merawat dan memberi kami tempat tinggal sementara, dengan syarat menjagamu. Dan dalam kurun waktu satu bulan kurang ini, kami akan menyusun siasat, sekaligus untuk menjagamu.”

Sulli terdiam. Antara bingung, tidak percaya, dan sedikit terharu dengan kisah mereka. Tapi, apa ini benar? Apa mereka bukan penjahat yang menyelinap ke rumah Sulli?

“Jadi apa yang akan kalian lakukan, dalam waktu kurang dari sebulan ini?”

“Dari hari kami disihir sampai skarang, sudah lima hari. Jadi waktu kami tinggal dua puluh lima hari lagi. Dalam dua puluh lima hari itulah kami akan menuyusun siasat untuk melawan penyihir itu,” lanjut Luhan.

“Tapi, tadi kau bilang kalian bisa kembali ke seperti semula kalau mengorbankan salah satu dari kalian…”

“Tidak, aku tidak mau mengorbankan salah satu dari kami,”potong Luhan.”Ayahku juga akan membantu. Tapi saat ini dia belum membantu banyak. Dia akan mengumpulkan prajuritnya dulu untuk membantu kami saat melawan penyihir itu. Pada saat waktu yang tepat.”

“Bagaimana caranya?”

“Ayahku bilang, sihir itu bisa hilang kalau kami bisa membunuh penyihir itu. Otomatis kami harus membunuhnya. Tapi mungkin sulit. Itu sebabnya kami harus bersiap-siap dulu.”

Sulli lagi-lagi terdiam. Apa benar? Apa benar Oppanya juga mengenal mereka? Jangan-jangan mereka pencuri atau rampok yang mengincar uang Oppanya…

“Kau tidak usah cemas. Kami ini benar-benar ada dan tidak akan mencelakaimu kok,” sahut Luhan seaka bisa membaca pikiran Sulli sambil tersenyum.

Sulli terkesima dengan senyumnya Luhan. Apa yang terjadi kalau dia kembali ke asalnya dan kembali ke kerajaannya?

***

Sulli kembali keaktivitasnya semula. Hanya saja, sekarang rumah Sulli sudah diisi oleh dua belas orang cowok dari Kerajaan Bawah Laut. Walaupun pada pagi hari ke dua belasnya harus menjadi ikan biasa, mereka tetap bisa menemani kesendirian Sulli di rumah. Mulai dari meloncat-loncat di akuarium, loncat-loncat keluar akuarium – yang membuat Sulli langsung teriak-teriak dan berusaha mengangkat mereka – sampai membuat air mancur dari mulut mereka. Benar-benar lucu, dan sedikit membuat Sulli kadang harus pacu jantung.

Mulai dari siang – sekitar jam sebelas – sampai malam, barulah ke dua belas ikan ini bisa kembali ke wujud aslinya, dan mulai membantu Sulli. Mulai dari masak, berkebun, berbelanja ke pasar, dan yang lainnya.

Hari ke-10 mereka menjadi ikan.

“Sulli-a, kau tau?sepertinya kita akan pindah ke Seoul! Oppa dan teman Oppa akan mengelola restoran seafood di Seoul. Bagaimana?”

Sore ini, Jinki menelfon Sulli dari Seoul.

Sulli terdiam mendengar perkataan Oppanya.

“Sulli-a? Apa kau masih di sana? Sulli-a??”

“Oppa, gomawo sebelumnya…”

Ha? Sulli menangis? Kata Jinki dalam hatinya.

“Sulli-a? Gwencanha? Kau kenapa menangis?”

“Ani, aku belum berterimakasih sejak Oppa pergi ke Seoul. Mengenai kado Oppa. Aku sangat berterima kasih. Sepertinya aku benar-benar terhibur dan rumah jadi tidak sepi lagi saat Oppa pergi.”

Jinki terdiam. Berarti mereka sudah memperlihatkan dirinya?

“Sama-sama Sulli-a. Kau sudah…”

“Ya, aku sudah melihatnya. Dan aku mendengar ceritanya. Aku benar-benar kaget.”

“Ke mana mereka?”

“Mereka sedang masak. Tadi aku memebeli resep makanan. Dan Lay yang memimpin mereka. Dia sangat cepat beradaptasi dengan yang namanya makanan. Hahaha.”

“Ahhh. Kau pasti selalu sehat kalau ada mereka.”

“Hahaha. Ya begitulah Oppa.”

“Jadi, kita kembali ke topik. Bagaimana dengan Seoul?”

“Mmm… Aku belom bisa saat ini.”

“Wae??”

“Oppa, kau tau kan, mereka harus…”

“Ah, geurae geurae, Oppa percaya padamu. Kalau mereka sudah berhasil, kau harus berjanji akan ke Seoul oke? Kita akan memulai hidup yang baru di sini. Di sini sangat keren!”

“Mmm… Oppa?”

“Ne?”

“Kalau mereka kembali ke asal mereka? Apa aku tidak bisa melihat mereka lagi?”

Jinki terdiam. Dia tidak tahu akan hal ini…

“Aku, sepertinya sudah mulai terbiasa dengan kehadiran mereka. Mereka sangat akrab denganku, jadi…”

“Kalau masalah itu, aku tidak tahu Sulli-a.”

“Apa aku harus, menahan mereka?”

“Kau, akan sangat egois kalau menahan mereka, dan membuat mereka menjadi ikan selamanya.”

“Tapi Oppa…”

“Kau percaya pada Oppa. Kalau kau melepaskan mereka nantinya, kau pasti akan menemukan yang lebih baik lagi. Kau harus percaya dan yakin, karena setiap pertemuan pasti ada perpisahannya.”

Sulli membeku. Di satu sisi, dia tidak ingin melepas mereka. Tapi dia tidak mungkin egois kepada mereka…

Dan dari ekor matanya, dia melihat Luhan sedang bercanda dengan teman-temannya.

Luhan.

Apa sebenarnya itu alasanku tidak ingin melepas mereka?

***

Hari mulai gelap. Mereka pun sama-sama menyantap masakan yang mereka masak. Mereka sangat semangat menyantapnya, dibalut kebahagiaan diantara mereka semua.

“Oh iya, kamu beberapa hari yang lalu ulang tahun kan?” tanya Baekhyun, sambil membakar dagingnya.

“Ah ya, umurku genap tujuh belas tahun ini. Memangnya kenapa?” tanya Sulli dengan polosnya, sambil menyesap ice teanya.

“SAENGIL CHUKAE SULLI-A!!!” teriak kedua belas namja itu bersamaan.

“Mian, kami telat merayakannya Sulli-a,” sahut Luhan sambil menyodorkan kue tart warna pink ke Sulli. Dengan tulisan “Happy Sweet 17th Sulli-a, Uri ChinguJ’

Sulli kaget dengan kejutan dan perhatian dari teman-teman barunya ini. Sulli sangat terharu. Benar kata Oppa-nya, ini adalah kado istimewa dan tidak akan terlupakan olehnya. Inilah yang Sulli takutkan. Dia merasa, semakin dekat hubungannya, semakin dekat pula dia merasakan perpisahan diantara mereka.

“Aaaa!!! Gomawo chingu-a!!” kata Sulli sambil menangis terisak. Benar-benar terharu dan bahagia.

“Uljima Sulli-a, kami memberikan ini agar kau senang. Ayo, lap air matanya,” kata Chen sambil menyodorkan tissue ke Sulli.

“Hahaha, gomawo Chen-a. Gomawo chingudeul…”

Mereka pun sama-sama tenggelam dalam kebahagiaanperayaan ulang tahun Sulli. Makan kue tart sama-sama, lalu bermain-main dengan kuenya. Mereka benar-benar tenggelam dengan kesenangan. Seperti melupakan perpisahan yang mungkin semakin dekat

***

Jam 10 malam

“Oh iya, pasti tidak lengkap kalau ulang tahun tidak ada kado! Di tempat kami kalau ada yang ulang tahun pasti juga ada kado,” teriak Sehun saat mereka duduk di depan TV sambil menonton drama terbaru saat ini. “Ayo hyung! Keluarkan kado kalian!” sahut Sehun sambil mengeluarkan kadonya. “Ini kadoku dengan Kai! Hehehe.”

Seakan lupa, mereka sama-sama mengeluarkan kado mereka masing-masing.

“Wah, kadonya banyak sekali. Hehe, gomawo,” sahut Sulli dengan berbinar-binar melihat beberapa bungkusan di depan matanya.

“Kajja! Buka kadonya!” kata Suho semangat.

Kado pertama, dari Sehun dan Kai. Sebuah kotak berukuran sedang dibalut dengan kertas kado abu-abu dengan pita merah melilit kado itu. Sulli pun membukanya, dan…

“Sehun-a, Kai!!! Ini, kemoceng dan cairan pel?” sahut Sulli tertawa dan mengankat kadonya.

“Hahaha. Kami membeli benda yang sangat berguna. Agar kau lebih rajin lagi membersikan rumah. Hehehe,” jawab Kai dengan muka lucunya.

Sulli hanya bisa geleng-geleng kepala. Dan diikuti oleh ketawa yang lainnya.

Sulli membuka satu persatu kado yang lainnya. Baekhyun dan Chanyeol membelikan dress pink polkadot yang lucu, Suho memberika buku diary, Xiumin dan Chen memberikan panci dan alat masak lainnya(?), Kris memberikan syal, Lay memberikan celemek, Kyungsoo memberikan sepatu boots, dan Tao memberikan bando. Mereka pun tertawa-tawa dengan kado yang mereka berikan.

“Hyung, kadomu mana?” sahut Tao disela tawa mereka.

Mereka sama-sama terdiam. Melihat ke arah Luhan.

“Aaaahhh…” Luhan canggung. Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia melanjutkan, “Ini kadoku, saengil chukae Sulli-a.”

Luhan memberikan sebuah kotak kecil dengan bungkus berwarna biru langit.

Sulli mengambil kado itu. “Gomawo. Aku buka ya.” Sulli pun membuka kadonya.

Sulli terdiam. Isinya adalah sebuah kalung dengan bandul cincin menghiasi kalung itu.

“Itu, adalah kalungku. Dan cincin itu, cincin yang aku beli di pasar dekat sini. Mianhae, aku membelikanmu kado yang murahan,” kata Luhan sambil kembali menggaruk kepalanya.

“Tidak apa-apa kok. Kado kalian ini sangat-sangat berharga bagiku. Karena kado ini tidak dinilai dari harganya, tapi keikhlasannya. Gomawo nae chingu-yaaa!!!” Dan mereka pun berpelukan bersama

***

Malam ini bintang bersinar dengan terang. Dengan ditemani oleh bulan sabit yang indah. Di bawahnya ada Sulli yang sedang bermenung, sambil memegang kalung dari Luhan.

“Kau belum tidur Sulli-a?” sahut Luhan dari belakang punggung Sulli.

Sulli kaget mendengar suara Luhan. “Aaah, aaah, geurae. Aku belum mengantuk,” jawab Sulli canggung sambi menyembunyikan kalungnya.

“Hei, mau kupasangkan kalungnya?” kata Luhan sambi memiringkan kepalanya. Melihat kalung pemberiannya ada ditangan Sulli.

“Oh, baiklah.”

Luhanpun melingkarkan kalung itu di leher putih mulus Sulli.

Setelah memasang kalung itu, mereka sama-sama duduk di dalam keheningan. Tenggelam dengan pikiran masing-masing.

“Luhan.”

“Sulli.”

Mereka serentak memanggil. Dan kembali terjadi kondisi yang canggung lagi.

“Kau dulu,” kata Luhan canggung.

“Aku cuma mau berterimakasih atas kalung ini dan, pemasangannya. Itu saja,”jawab Sulli. “Jadi kau mau mengatakan apa?”

“Aku hanya mau menceritakan tentang kalung itu. Itu adalah kalung pemberian ayahku. Dia mengatakan, kalau nanti aku menemukan seseorang yang ingin aku lindungi, aku akan memberikan kalung ini kepadanya. Dan, begitulah. Kau orang yang ingin aku lindungi Sulli-a.”

Untuk kesekian kalinya, Sulli terdiam kembali. “Orang yang ingin kau lindungi? Kenapa aku?”

“Aku juga tidak tahu. Entah kenapa. Aku ingin sekali melindungimu dan, tidak mau berpisah denganmu. Semoga, kalung ini juga akan selalu melindungimu. Kalau nanti aku pergi.”

“Andwe!!!”

“Sulli, waeyo?”

“Aku, tidak mau berpisah denganmu Luhan. Jaebal.” Air mata Sulli mulai menggenang lagi.

“Sulli-a, uljima. Aku ingin melindungimu, tidak mau kau selalu menangis Sulli-a”

“Tapi, aku tidak mau berpisah denganmu. Juga dengan yang lain.”

“Sulli-a. Mungkin, kalau kita memang berjodoh, apa pun yang terjadi kita akan bertemu lagi kok. Jangan khawatir.”

“Yaksok?”

“Ne, yaksok.”

Sulli yang duduk di sebelah Luhan mulai mengantuk. Dan tertidur di bahu Luhan.

***

Siang yang cerah, yang ditemani oleh kicauan burung pantai di Jeju.

Sulli terbangun dari tidurnya. Sudah jam 11 siang.

Bukankah aku kemarin duduk bersama Luhan? Apa kemarin itu mimpi?

Sulli oun keluar dari kamarnya.

Terlihat rumahnya sepi. Chanyeol, Baekhyun, Kyungsoo, Kai dan Sehun terlihat tertidur di depan TV. Lay dan Chen sedang sibuk di dapur. Dan yang lain sepertinya sedang sibuk keluar.

Dan di teras dapur, nampak Luhan yang sedang duduk sendirian. Sulli pun menghampirinya.

“Hei, sepertinya aku terbangun saat kalian sudah tidak menjadi ikan. Aku kesiangan dong,” sahut Sulli sambil duduk di sebelah Luhan.

“Ah, kami tidak ingin membangunkanmu yang sedang tertidur pulas.”

Terjadi keheningan lagi antara keduanya. Kedua-duanya sama-sama malu untuk memulai pembicaraan.

“Kau sudah makan?” Sulli lebih dulu angkat bicara.

“Sudah. Kau mau makan? Lay tadi masak pancake-kimchi. Dia sangat cepat beradaptasi dengan makanan di sini. Hahaha.”

Mereka pun akhirnya tengelam dalam hangatnya pembicaraan tentang masing-masing.

Dari cerita Sulli saat sekolah dasar, kelucuan Oppa-nya. Luhan juga menceritakan kehidupannya sebagai pangeran. Dan kelucuan teman-temannya.

“Jadi kenapa kau tidak sekolah lagi? Sepertinya sekolah di dunia asyik juga,” kata Luhan.

“Sejak kematian kedua orang tuaku, aku dan Oppa sama-sama tidak sekolah lagi. Oppa meneruskan usaha keluarga dan aku, ya menjaga rumah dan mengurus keperluan yang lain. Dan juga menyalurkan hobiku. Yaitu menjahit.”

“Wah… mian, soal kedua orang tuamu.”

“Haha, gwencanha. Aku sudah mengikhlaskan mereka kok. Mereka sudah di surga sekarang.”

“Jadi, tadi kau bilang kau hobi menjahit,” Luhan mencairkan suasana kembali. “Apa kau bisa melihatkan hasil jahitannya?” tanya Luhan.

“Oh, tunggu sebentar.”

Sulli pun kembali masuk ke dalam rumah, dan pergi ke kamarnya. Mengambil sweater yang sedang dia rajut. Dia pun membawanya ke tempat Luhan.

“Ini. Sweater ini awalnya buat Oppa. Cuma dia kurang suka dengan warnanya. Kebetulan, hanya ada rajutan yang sedang aku buat.”

“Wah, bagus. Aku suka warnanya.”

“Kau mau?”

“Hah? Bukannya itu…?”

“Tidak apa-apa. Lagi pula, Oppa tidak mau kok. Untuk kau saja. Supaya aku bisa melanjutan merajutnya.”

“Ah, gomawo Sulli-a. Jadi, coba kau perlihatkan bagaimana cara merajutnya.”

“Oke!”

Dengan semangat Sulli mulai merajut sweater itu. Luhan pun mendekati pundak Sulli untuk melihatnya.

“Wah, kau cepat sekali merajutnya. Jjang!” sahut Luhan senang.

“Jinja?” Dengan spontan Sulli menghadap ke belakang, ke arah Luhan. Dan…

Pipi Sulli yang akan berbalik tercium oleh Luhan. Aroma natural dari Sulli yang belum mandi (tidak bau ya._.) membuat Luhan menikmati ciumannya. Walaupun hanya dipipi Sulli.

Muka Sulli seketika merah. Dan menjauhkan mukanya.

“Ah, mian Sulli-a.”

Mereka pun kembali canggung dan kembali ke aktivitas masing-masing.

***

Hari ke-20 mereka menjadi ikan

Dari hari ke hari, mereka semua semakin dekat, dan semakin tidak ingin berpisah. Tapi waktu mereka tinggal 10 hari. Tinggal memilih, apa mereka akan melanjutkan hidup menjadi ikan selamanya. Atau bertarung melawan penyihir itu.

Itulah yang selalu dipikirkan Luhan.

Di satu sisi, dia ingin selamanya melindungi Sulli, tapi di sisi lain, dia tidak ingin menykiti teman-temannya yang lain, dan mungkin keluarganya. Karena mungkin, dari hati teman-temannya yang paling dalam, mereka ingin kembali ke asal mereka. Yaitu di bawah laut.

“Luhan, waktu kita tinggal 10 hari lagi.” Kris menghampiri Luhan.

Saat ini mereka sedang duduk di pinggir pantai. Dengan deburan ombak dan aroma laut, itulah yang dapat menenangkan pikiran Luhan sejenak.

“Dari mana kau tahu aku di sini?” tanya Luhan bingung. Setaunya, dia tadi diam-diam kesini.

“Aku sudah mengenalmu saat kita masih di perut ibu kita. Masa saat kau jenuh aku tidak tau dimana tempatmu. Pasti yang berhubungan dengan laut. Tempat kita tinggal.”

Lama keheningan menghampiri mereka.

“Kau ingin pulang?”

Kris langsung menoleh. “Apa?”

“Kau ingin pulang?”tanya Luhan lagi. Sambil melihat ke arah laut.

“Ya, pastilah. Aku hidup di sana. Kau dan yang lain juga. Kenapa? Kau tidak ingin pulang? Apa karena Sulli?”

Luhan terdiam. Benar-benar mengenai dasar hatinya.

“Luhan! Kau pemimpinnya. Kau yang mengambil keputusannya,”sahut Kris sambil menepuk punggung Luhan. “Apapun keputusanmu, pasti itu yang terbaik untuk kita. Karena kau pemimpinnya.” Kris pun berdiri dan meninggalkan Luhan sendiri.

Jadi, apa keputusanku? Luhan kembali memandangi laut.

Sudah kuputuskan!

***

“Hei, Sulli-a…”

Pagi ini Sulli sedang masak. Mendadak Luhan menghampiri Sulli dari belakang.

“Kau masak apa?”

“Biasa. Aku hanya masak bekal untuk piknik kita siang ini. Ingatkan? Waktu itu Sehun memintanya,” jawab Sulli sambil menyusun bekal mereka.

“Ah, geurae…”

“Nah! Sudah siap! Kau sudah siap-siap Luhan-ssi?” tanya Sulli sambil tersenyum.

“Sudah kok,”jawab Luhan sambil tersenyum manis ke arah Sulli.

“Kajja!” Sulli menarik tangan Luhan pergi.

Ternyata 11 cowok yang lainnya sudah bersiap-siap. Mereka begitu bersemangat.

Sulli membawa mereka ke sebuah padang rumput luas yang berada di dekat tebing. Dari sana, mereka dapat mendengar deburan ombak. Bahkan, aroma pantai masih tercium di sana.

“Wah!! Indah sekali!!!” teriak ke-12 cowok itu bersamaan.

Mereka sangat bersemangat dan berlari ke sana kemari. Menikmati suasana sejuk di sana.

Sulli tersenyum melihat kebahagiaan mereka. Seakan mereka melupakan masalah utama mereka saat ini.

Mereka menghabiskan waktu bersama. Bermain disekitar padang rumput, makan dan tidak lupa, Sulli mengabadikan momen-momen itu.

“Wah, itu apa Sulli-a?”tanya Kyungsoo polos.”Sepertinya kau dari tadi bermain-main dengan itu.”

Ini kamera.” Klik! Sulli memotret Kyungsoo.”Lihat. Dia bisa mengabadikan apapun. Hahaha! Fotomu lucu Kyungsoo-a!”Terlihat wajah Kyungsoo yang polos dengan mata besarnya. Mereka tertawa bersama.

“Kajja! Ayo kita berfoto bersama!!” Sulli pun memanggil ke-12 cowok itu. Mereka pun langsung menghampiri Sulli.

“Ada apa Sulli?” tanya Luhan.

“Ayo kita berfoto!” kata Sulli semangat.

Mereka yang bingung hanya mengikuti apa instruksi Sulli. Mereka langsung mengambil posisi. Dua baris. Tujuh di belakang – Kris, Kai, Sehun, Lay, Xiumin, Tao dan Chanyeol – dan di depan – Baekhyun, Kyungsoo, Luhan, Chen dan Suho. Mereka pun menyisakan sedikit ruang untuk Sulli di sebelah Luhan, yang sedang mengutak-atik kameranya.

“Jadi, kamera ini akan menyimpan gambar kita ini. Jangan lupa tersenyum!”kata Sulli setelah selesai dengan kameranya. Dia pun berlari ke arah cowok-cowok itu.

“3…2…1!”

Klik! Klik! Klik!

Dengan berbagai macam gaya, mereka pun berpose di depan kamera. Memberikan kenangan-kenangan yang akan sangat berharga bagi Sulli.

***

Hari semakin sore. Mereka pun beristirahat di atas karpet yang dibawa Sulli. Kecuali Luhan, yang sedang melihat ke arah laut.

“Hei, kau sedang memikirkan apa?” tanya Sulli yang masih memegang kameranya.

Luhan menghadap ke arah Sulli dan, klik!

“Hei, jangan diam-diam mengambil foto,” kata Luhan tertawa manis.

“Hehe. Jadi apa yang sedang kau pikirkan?”

“Kau tahu, ini tinggal 9 hari lagi.”

Sulli terdiam, waktunya semakin dekat.

“Jadi?”

“Aku, tidak bisa egois kepada teman-temanku. Dari hati mereka, mereka pasti ingin pulang. Tapi bagiku, aku mungkin lebih memilih untuk tidak pulang. Jadi, mian Sulli-a, aku tidak bisa egois terhadap mereka. Mian…”

Sulli langsung memeluk Luhan.

“Gwencanha. Lagi pula, kalau kalian pergi, aku masih punya Oppa. Aku akan pindah ke Seoul dan mencari teman. Juga, kalung ini akan menjagaku. Pasti,”jawab Sulli sesudah memeluk Luhan. Dan memegang kalung pemberian Luhan.

“Sulli-a, mianhae.”

Di tengah terbenamnya matahari, Luhan menyatukan bibirnya dengan bibir Sulli. Mereka tenggelam dengan hangatnya sinar matahari tenggelam yang sangat cantik.

Setelah adegan yang terasa menghipnotis mereka, terciptalah suasana yang sangat canggung di antara keduanya.

“Luhan. Kau mau berfoto berdua denganku?”tanya Sulli setelah mereka terdiam lama.

“Oh, baiklah.”

Sulli memegang kamera dan mulai mengambil posisi yang bagus.

“1…2…3…” Klik!

***

“Baiklah. Waktu kita tinggal 5 hari lagi setelah matahari terbit besok. Aku sudah menghubungi ayahku. Dan dia bersedia membantu sebisanya. Dan keberhasilan ini hanya ada di tangan kita.

Ibuku juga sudah menyediakan ramuan agar kita tidak dapat mejadi ikan dalam beberapa hari ini, saat kita bertarung. Jadi jangan khawatir saat bertarung nanti. Baiklah, kalian bersiap-siap untuk besok.”

Luhan pun menutup pembicaraannya dan pergi menuju teras rumah Sulli.

“Kau yakin dengan keputusanmu?”Kris tiba-tiba datang.

“Sangat yakin. Kita harus berhasil.”

“Bagaimana kalau gagal?”

“Tenang saja. Kalau kita yakin, semua pasti akan berjalan lancar,” jawab Luhan sambil tetap menatap lurus ke depan.

Ya, harus berhasil!

***

Pagi ini, Sulli sangat semangat. Pagi-pagi ini dia akan ke studio Soo Man ahjussi, untuk mecetak foto-foto mereka saat piknik kemarin.

Sekitar jam 1 siang, Sulli selesai menyetak foto mereka. Dan dia kembalike rumahnya dengan semangat. Sambil sesekali melihat-lihat foto mereka di padang rumput itu.

Srak… mendadak satu foto jatuh dalam tumpukan itu.

Sulli pun mengambilnya.

Fotonya bersama Luhan.

Sulli memandangnya sebentar.

Terlihat wajah Sulli yang manis dan sedikit merah. Begitu juga Luhan. Mereka terlihat sangat serasih.

Sulli tersenyum. Dan lanjut berjalan ke rumahnya.

***

“Hyung. Ayo! Ayahmu sudah mengatur pasukannya di sekitar tempat penyihir itu. Tinggal menunggu kita maju memimpin pasukan itu,” sahut Chanyeol yang masuk ke ruangan Luhan.

Luhan sendiri sudah siap dengan perlengkapannya. Perisai besi dan pedang yang sangat tajam.

“Hyung, kau siap?”

“Aku sangat siap.”

***

Sulli sampai di rumahnya. Pintunya terkunci. Dia ingat, kalau tidak orang di rumah – saat ke-12 cowok itu pergi – mereka akan meletakkan kunci di bawah pot bunga mawar kesayangan Sulli.

Sulli melihat ke sana, dan tepat seperti dugaannya, kunci itu ada di sana. Kemana mereka? tanya Sulli dalam hati.

Sulli pun membuka pintu rumahnya. Terlihat suasana rumah yang sangat sepi.

Setelah meletakkan foto dan album fotonya, Sulli pun pergi menuju meja makan untuk mengambil minum. Dan dia melihat sepecuk surat. Beserta sweater yang dia berikan kepada Luhan.

Sulli langsung membuka surat itu. Perasaannya tidak enak.

Untuk Sulli-a, seseorang yang ingin aku lindungi…

Pertama, aku harus berterima kasih kepada Oppa-mu yang sudah menyelamatkan kami. Tanpanya mungkin kami sudah mati tidak berdaya. Sampaikan terimakasih kami padanya.

Lalu, aku minta maaf Sulli-a, aku harus meninggalkanmu secepat ini. Seperti yang sudah aku bilang, aku tidak boleh egois kepada mereka dan hanya memikirkan perasaanku.

Hari ini, kami harus bertarung untuk mengembalikan kami seperti semula. Do’akan kami berhasil, sehingga aku bisa mengunjungimu sesekali.

Aku juga minta maaf, tidak membawa sweater darimu. Aku berjanji, saat aku kembali, aku akan memakainya di depanmu. Tapi kalau tidak, berikanlah sweater itu kepada orang yang kau cintai nantinya. Dan semoga kalung dariku selalu bisa melindungimu dan mengingatkan aku padamu. Saranghae Sulli-a.

-Luhan-

Sulli langsung terduduk setelah membaca surat itu. Dan menangis sejadi-jadinya.

“ANDWEEE!!!”

Terlihat, di meja tempat foto ditumpuk, terbuka foto mereka bertiga belas yang ditiup oleh angin.

***

Terjadi peperangan sengit di bawah laut dalam. Di tempat penyihir itu tinggal. Pertarungan yang sangat sengit antara prajurit kerajaan dengan prajurit penyihir itu.

Korban sudah banyak yang berjatuhan dari kedua belah pihak. Dan prajurit kerajaan hanyalah umpan. Agar ke-12 cowok itu bisa masuk ke sarang penyihir tersebut.

Dengan susah payah, mereka sampai di sarang penyihir tersebut.

Di lantai pertama, ada seekor monster ikan raksasa berkepala 3 yang menahan mereka.

“Biar aku, Lay dan Xiumin yang menahan ini. Kalian naik saja dulu!” sahut Kris.

Dengan anggukan yang lain, mereka pun menuju lantai selanjutnya.

Sebuah lautan api yang dijaga oleh seorang yang sangat tinggi besar yang sangat mirip dengan dokkaebi raksasa.

“Kau lanjut saja Hyung! Biar aku yang menghadapinya!” kali ini Suho.

“Aku juga!” seru Kyungsoo dan Baekhyun.

“HAHAHA!! Kalian bertiga akan lumat dengan sekali lumat saja!” Tiba-tiba raksasa itu melompat. Dan itulah kesempatan yang lainnya untuk kabur.

“Jaga diri kalian!!” Teriak Luhan saat mereka akan menyebrang lautan api itu.

“Ya!” teriak Suho yang sudah bertarung dengan raksasa itu.

Sekarang tinggal Luhan, Chanyeol, Sehun, Chen, Tao dan Kai.

Ada lagi serangan. Seorang cewek yang lentur dan bisa memanjangkan tubuhnya ke sana kemari. Seakan tubuh itu tanpa tulang dan bisa mematahkan lawannya dengan sekali lilitan.

“BWAHAHAH! Apa ini? Bukannya kalian ber-12? Kanapa tinggal 6? Sudah habiskah pasukan kalian? BWAAHAHAH!!!”lengkingan wanita itu terlihat sangat licik.

“Heh, biar aku saja yang menanganinya,” kata Chen.

“Aku akan bantu Hyung.” Kali ini Kai.

“Wah. Aku juga!” diikuti oleh Tao.

“Jaga diri kalian!”ucap Luhan untuk yang kesekian kalinya.

“Hoo!! Mengorbankan pasukan? Akan kupatahkan leher kalian sekali bertiga!! Bwahaha!!”

Luhan, Chanyeol dan Sehun pun bergerak menuju ke sebuah pintu yang dijaga wanita itu, saat dia menerjang ke arah Chen, Kai, dan Tao.

                Semoga mereka baik-baik saja, ucap Luhan dalam hatinya.

Mereka pun sampai di sebuah pintu besar. Sarang si penyihir.

Luhan pun membuka pintu itu. Dan terlihatlah seorang penyihir dengan pakaian serba hitam dan keriput yang menghiasi seluruh wajahnya.

Penyihir itu duduk di sebuah singgasana. Terlihat dia seperti seorang ratu dengan senyum licik dan tidak punya ampun, yang memerintah sebuah kerajaan hitam yang jahat.

“Ternyata kau punya nyali juga huh? Luhan.”

Mereka – Luhan, Chanyeol, Sehun – bersiap-siap dengan posisi mereka.

“Tidak adil sekali, 3 lawan 1,” kata penyhir itu dengan tampang dibuat-buat. “Tapi kalian hanyalah pria lemah yang dibelenggu oleh sihir ku! Hahahaa!!!”

Ketawa penyihir itu menggema di seluruh ruangan.

“Kau tahu? Inilah saat yang kutunggu. Membunuh anak dari raja yang sok dan membuangku ke sini!”

Kata-kata penyihir itu membuat Luhan terdiam. Dan, menyadari, penyihir itu sedang lengah.

Luhan mengode 2 temannya dengan lirikan. Sepertinya mereka juga menyadari dan mulai mengambil posisi ke samping kiri-kanan si penyihir.

“Kenapa?” Luhan mulai memancing.

“Aku, awalnya hanyalah tabib biasa dan aku menemukan sebuah sihir yang hebat, yang bisa membuat hidup abadi. Dan tentu saja, aku mengorbankan banyak hal untuk itu, terutama nyawa.

“Ayahmu tidak terima. Dia menghukum dan mengasingkanku di sini. Selama 20 tahun ini, aku menyusun rencana untuk menghancurkan kerajaan kalian. Tapi ternyata, anaknya sendiri yang menyerahkan diri. AHAHAHAHAHAH!!!!!”

Luhan bergidik mendengar tawa itu.

“Tapi hidup abadi sama saja menantang Tuhan. Apalagi mengorbankan banyak nyawa! Kau pantas mendapatkan ini semua!” Luhan menantang.

“Aku, membuat ramuan ini agar ayahmu hidup kekal! Tetap berkuasa! Dan akulah tabib kesayangannya! Dan dia menghancurkan rencanaku! Dia memusnahkan ramuanku!!”

Mendadak penyihir itu murka dan melayangkan tongkat yang langsung berubah menjadi pedang ke arah Luhan. Dengan sigap, Luhan menghindar. Sehun dan Chanyeol langsung menyerang. Api dari kekuatan Chanyeol dan angin dari Sehun. Tapi, saat menyerang, mereka terpental oleh kekuatan si penyihir.

“Hah, kalian memang lemah!”

Penyihir itu bersaing sengit dengan ketiga namja itu.

Chanyeol, Sehun, terutama Luhan, sudah banyak mendapat luka. Karena memang Luhan yang diincar penyihir itu.

“Aku, ada rencana,” kata Luhan saat mereka berlindung di balik batu.

“Apa?” tanya Sehun dan Chanyeol bersamaan.

“Kalian alihkan dia dari belakang. Lalu aku akan menyerang dari belakang, ke arah jantungnya. Karena sepertinya itu memang kelemahannya. Dia dari tadi seperti melindunginya.”

“Tapi itu terlalu beresiko…” Chanyeol terlihat tidak setuju.

“Lakukan saja,” potong Luhan. “Dan ini perintah terakhirku.”

Chanyeol dan Sehun terdiam. “Apa maksud Hyung perintah terakhir…” Sehun menampakkan raut wajah cemas.

“Perintah terakhirku sebelum kita menang. Tenang saja!” sahut Luhan sambil menepuk pundak Sehun.

Mereka pun mengangguk dan mulai menjalankan rencana mereka.

Chanyeol dan Sehun mulai menjebak si penyihir dengan menyerangnya secara terang- terangan. Sementara Luhan, tanpa diketahui si penyihir, sudah siap diposisinya.

“Hiyaaaa!!!” Luhan lompat dan mengangkat pedangnya dan langsung menancapkannya tepat di jantung sang penyihir, sampai tembus. Tapi, respon penyihir itu juga cukup cepat. Dia langsung menancapkan pedangnya ke arah Luhan…

“Arrrggghhh….” Luhan terjatuh. Dengan menahan rasa sakit, dia melepaskan pedang yang menancap di perutnya.

“Luhan!!!” Chanyeol dan Sehun langsung menuju ke tempat Luhan terjatuh. Juga disusul oleh 9 namja lainnya, yang terlihat babak belur. Mereka berhasil mengalahkan monster itu.

Sang penyihir yang jantungnya ditembus dan sekarat, mendadak mengeluarkan sebuah cahaya yang menyilaukan dari tubuhnya. Dan.. SWUSSHHH… Seperti tertelan pusaran air, sang penyihir dan kerajaan hitamnya menghilang, beserta seluruh pasukannya. Yang tinggal hanyalah bangunan tua yang hancur lebur.

“Luhan, bertahanlah!!” sahut Kris cemas sambil meletakkan kepala Luhan di pahanya.

Lay mencoba untuk menahan lukanya, tapi luka Luhan terlalu besar dan dalam.

“Aku… uhuk… sudah… tidak kuat… lagi…” kata Luhan terbata-bata menahan sakitnya.

“Sudah hyung! Jangan bicara lagi!” Teriak Lay yang masih berusaha menyembuhkan Luhan.

“Akhirnya… kutukan kalian… le.. lepas. Aku… minta.. maaf… Karena.. diriku… kalian..sempat dikutuk…”

Mulai terlihat raut wajah sedih dari 11 namja itu. Mereka tau, inilah saat terakhir…

“Aku… juga.. berterima kasih… kepada kalian… semua… yang sudah.. menjadi sahabatku…

“Dan tolong…katakan pada… Sulli.. bahwa.. aku sudah tenang… damai… Dan.. tolong… berikan… surat yang ada di.. kamarku… ke.. Sulli…”

Luhan pun menutup matanya. Dan tidur untuk selamanya-lamanya…

***

Terlihat suasana duka menyelimuti kerajaan bawah laut. Selain kehilangan banyak prajurit, sang raja juga kehilangan anak sulungnya. Luhan.

Sejak kejadian itu, sisa sarang penyihir itu pun dimusnahkan sampai tidak bersisa. Dan di rubah menjadi taman laut untuk ekosistem laut di sekitar sana.

“Kita banyak kehilangan orang yang sangat penting akibat kejadian ini,” Raja membuka pidatonya, “Terutama Luhan. Anak sulungku,”ucap Sang Raja menahan tangis. Di belakangnya, berdiri Ibu dan adik Luhan yang masih berumur 12 tahun – yaitu Suzy – dan 11 sahabatnya.

“Mereka sudah banyak berkorban untuk kita. Dengan ini, upacara pelepasan dimulai.”

***

Duka masih menyelimuti kerajaan bawah laut. Apalagi terhadap ke-11 sahabat Luhan.

Kris, yang mengingat pesan Luhan pun, segera menuju kamarnya. Mengambil sepucuk surat yang dibuat Luhan untuk Sulli. Setelah menemukannya, tanpa berpikir panjang, dia langsung pergi ke tempat Sulli. Ke daratan.

***

Sudah seminggu, sejak kepergian Luhan. Bagaimana kabarnya?

Sulli sendiri masih menolah ajakan oppanya ke Seoul. Dia ingin bertemu Luhan. Ingin memastikan bahwa Luhan baik-baik saja.

Tok…tok…tok…

Ada seseorang. Sulli pun langsung beringsut ke pintu depan rumahnya. Dan dia kaget dengan tamunya.

“Kris?”

“Hai Sulli. Boleh aku masuk?”

Tanpa bicara, Sulli menyuruh Kris masuk dan langsung duduk bersama di sofa rumahnya.

“Jadi, bagaimana?” tanya Sulli tanpa ba-bi-bu. “Mana Luhan?”

“Ini, kau baca dulu.”

Perasaan Sulli tidak enak.

Bulir bening langsung keluar dari matanya.

“Sulli-a, uljima. Luhan pasti tidak suka kau seperti ini…”

“Kau tau apa!!” Sulli berteriak histeris. “Mana Luhan?! Aku butuh dia! Bukan surat ini!”

“Kau baca dulu. Aku tau kau sangat mencintainya, maka bukalah. Demi Luhan.”

Sulli pun akhirnya membuka surat itu.

Saat kau baca surat ini, mungkin aku hanya bisa memandangmu dari jauh. Sangat jauh. Hanya bisa melingdungimu dari jauh…

Mianhae Sulli-a. Aku merasa, kita tidak bisa bersatu. Entahlah. Karena kita berbeda dunia?

Aku hanya ingin berpesan, saat kau baca surat ini, pindahlah ke Seoul dan cari kehidupan barumu di sana. Aku juga sudah kembali ke kehidupanku. Mungkin juga kehidupan yang baru? Entahlah.

Aku hanya ingin kau bahagia. Jinja, hanya ingin kau bahagia, dan tidak ingin melihat kau menangis. Aku ingin terus menjagamu.

Terimakasih sudah datang dalam hidupku. Aku percaya, setiap pertemuan, pasti ada perpisahan, ada pertemuan lagi, ada perpisahan. Dan begitulah seterusnya.

Berjanjilah, kau akan bahagia di kehidupan barumu tanpaku. Karena aku juga merasakan kebahagiaan itu. Dan aku berjanji, akan selalu melindungimu.

-Luhan-

Sulli menangis sejadi-jadinya. Sambil memegang kalung pemberian Luhan.

Kalung yang akan selalu menjaganya. Kapan pun.

Kris pun mengusap punggung Sulli. Menenagkan seorang yeoja yang rapuh dan butuh kekuatan untuk bangkit kembali.

***

1 tahun kemudian…

Setelah membaca surat dari Luhan dan mendapat keterangan dari Kris, akhirnya Sulli memutuskan untuk pindah ke Seoul. Dan menata kehidupan barunya.

Pada awalnya, memang sulit bagi Sulli. Setelah kehilangan kedua orang tuanya, Sulli pun bertemu dengan orang yang dia cintai, yaitu Luhan. Tapi maut pun harus memisahkan mereka. apa memang benar ada, akan ada pertemuan lagi?

Sejak pindah ke Seoul, Sulli tinggal di sebuah rumah bernuansa hanok, bersama Jinki. Sulli cepat beradaptasi dengan tetangganya, dan langsung bisa membuka usaha menjahit dan merajutnya. Apalagi sekarang sudah mendekati musim dingin. Pasti tetangganya yang masih remaja akan memesan syal rajutan handmade yang imut-imut.

Sulli pun juga tidak berusaha untuk mendatangi ke-11 teman namjanya. Dia oun masih menyimpan kado mereka. bahkan kado dari Kai dan Sehun belum di pakai. Terutama kado dari Luhan. Kalung itu masih bertengger manis di lehernya. Dan, sweater biru itu. Tergantung manis di sebuah manekin di jendela rumahnya. Tempat usahanya.

Tok…tok…tok…

Ada tamu. Atau, pelanggan?

“Oppa, coba tolong buka pintunya! Aku sedang melakukan pekerjaanku, tanggung.”

“Geurae!” teriak Jinki, yang baru pulang kerja.

“Oppa, siapa…” perkataan Sulli terputus. Dia…

“An..annyeonghaseyo. Hehehe. Aku mendengar disini ada tempat merajut yang bagus. Kata bibiku di sini tempatnya. Aku mau memesannya. Haaa, atau aku boleh membeli yang ini?” tanya cowok yang sudah masuk ke dalam rumah Sulli dan Jinki.

Jinki, apalagi Sulli, terdiam mematung.

Tampak seorang cowok dengan baju kaos panjang dan jins belel, dengan rambut blonde dan poni yang menutupi dahinya. Seperti seorang flower boy. Dan dia, mirip Luhan!!

“Ah..ah… Mungkin aku terlihat kurang sopan. Hehe. Perkenalkan, aku Xi Luhan. Panggil saja Luhan. Aku dari Cina. Ibu dan ayahku pindah kerja ke Korea dan tinggal di rumah bibiku. Dan, salam kenal,” cowok itu mengulurkan tangannya ke arah Sulli.

Sulli menerima uluran tangan itu. “Sul, Sulli. Lee Sulli imnida. Dan ini oppaku, Lee Jinki.” Sulli berusaha meguasai dirinya.

Apa ini pertemuan yang dikatakan Luhan? Dan, kehidupan yang baru..?

“Jadi, bolehkan aku membeli sweater ini? Sepertinya muat denganku, dan terlihat nyaman,” Xi Luhan menyentuh sweater biru itu.

“Boleh,” jawab Sulli mantap. Jinki bingung dengan keputusan Sulli. Tapi, akhirnya mengerti apa yang dilakukan dongsaengnya.

“Jinja?? Harganya berapa?” tanya Xi Luhan.

“Kau ambil saja. Anggap sebagai hadiah tetangga baru dan, teman baru,” jawab Sulli.

“Jinja?! Sulli-a, kau baik sekali! Aku akan sering-sering bermain ke sini. Sepertinya aku tidak akan bosan di Korea! Hehehe.”

Sulli tersenyum lebar. Ya, sepertinya aku mulai mendapat kehidupan baruku, Luhan Pangeran Bawah Laut. Sepertinya, kau tidak melindungiku dari jauh lagi. Tapi memberikan seseorang yang bisa melingdungiku dari dekat. Terima kasih atas semuanya, Luhan. Dan selamat datang ke kehidupanku, Xi Luhan…

 

-FIN-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “FISH

  1. Nuli Tao Pandari berkata:

    Di liat dari judulnya.. menarik.. pengen baca tapi pas liat Cover sama yg main cast nya.. gak jadi ah.. Males ~ .. coba FF nya kaya FF lain.. Covernya pake muka Ulzzang.. Cast ceweknya Nama Karangan aja.. mukin lebih banyak yg mau baca.. hehe.

    Pasti ….. baru .. XD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s