FF: The Wolf and not The Beauty (part 15)

The wolf and not the beauty

Tittle                          : The Wolf and not the beauty

Author                        : Ohmija

Cast                            : EXO

Genre                          : Fantasy, Friendship, Comedy, Action, School life

Summary                    : “Kyungsoo, saat ini yang harus kau lakukan adalah mendengarkanku! Aku tidak akan membiarkan diriku menyesal lagi. Aku tidak akan membiarkanmu pergi!”

cats

“Kembali ke kelas dan bawakan tasku nanti!”seru Kai langsung menarik lengan Kyungsoo dan berlari bersamanya.

Chanyeol terkejut, “Kai, kau mau kemana?!”

Namun Kai tidak menjawab pertanyaan itu, ia terus berlari bersama Kyungsoo menuju gerbang sekolah. Tidak perduli mereka akan dimarahi oleh satpam karena Kai sama sekali tidak mempunyai surat ijin untuk meninggalkan sekolah, namun mereka tetap akan melakukannya.

Kai berhasil melewati satpam penjaga walaupun dengan mengancamnya dan memaksanya untuk membuka pagar. Seperti lupa jika nantinya dia bisa saja mendapat masalah karena perbuatan itu.

Secepat kilat menuju halte dan langsung menaiki bus yang datang, Kai bisa menangkap ekspresi panik Kyungsoo yang ada disampingnya. Matanya terlihat berkaca-kaca, juga wajahnya yang memucat. Bisa dirasakan bagaimana tubuhnya gemetar karena takut. Mungkin saat ini, dia sedang memikirkan dimana ibunya, sedang apa, atau apa benar dia menghilang.

Hari ini, ibunya memang memilih untuk tidak bekerja karena merasa tidak enak badan. Memilih tetap berada di rumah untuk beberapa hari.

Disampingnya, Kai terus memandangi sisi wajah Kyungsoo yang terus menatap keluar jendela. Seperti tidak sabar untuk segera sampai di rumah. Dia bahkan seperti lupa jika dia harus mengucapkan ucapan terima kasih pada Kai yang sudah menemaninya, bahkan melawan satpam penjaga sekolah.

“Ayo!” Kai menarik lengan Kyungsoo, membuatnya terkejut saat bus telah berhenti. Keduanya kembali berlari menuju rumah Kyungsoo.

Saat mereka telah sampai di depan gereja Solomon, kening keduanya sempat berkerut saat melihat ada banyak orang yang berkumpul disana. Juga ada dua buah mobil polisi yang menepi di pinggir.

Kai dan Kyungsoo menyeruak dari balik kerumunan orang-orang. Kali ini disusul dengan mata mereka yang seketika membulat lebar-lebar. Mereka terkejut. Terkesima. Dan terperangah hebat.

Pintu gereja itu telah dirusak menjadi porak-poranda. Gembok yang mengunci dan rantai besinya yang besar terbelah menjadi dua dan tergeletak tak jauh dari pintu. Juga, adanya garis kuning polisi yang membatasi orang-orang dengan gereja itu.

Keduanya membeku, terutama Kai. Pikirannya kini membuahkan pikiran buruk. Siapa yang melakukannya? Kris? Sehun? Itu mustahil.

Tidak seperti Kai yang tenggelam dalam lamunannya, Kyungsoo dengan cepat berlari menuju rumahnya. Melewati jalan kecil yang ada disamping gereja untuk mencari ibunya.

Berdiri didepan rumah, ia tidak menemukan sesuatu yang janggal. Rumahnya terlihat baik-baik saja dengan pintu yang tertutup. Sesaat kemudian, ia menerobos masuk. Mencari-cari sosok ibunya didalam ruangan yang lengang dan sepi.

“Ibu!”panggilnya mengelilingi seisi rumah. “Ibu! Ibu dimana? Ibu!”

Sudah mencari, namun hasilnya tetap saja nihil. Ia tidak menemukan siapapun dirumahnya. Ibunya tidak ada.

“Kyung, ini milikmu?”tanya Kai, ia menghampiri Kyungsoo dan menunjukkan sebuah kalung yang ditemukannya didepan pintu. “Aku menemukannya disana.”

Kyungsoo menoleh dengan mata terbelalak, “itu milik ibuku!” kemudian meraih kalung itu dan menatapnya lekat-lekat. Mata bulatnya semakin membulat lebar disusul dengan asumsi-asumsi buruk yang diciptakan oleh otaknya tentang keberadaan ibunya sekarang.

“Siapa yang menghubungimu tadi? Ayo cari dia.”

Kyungsoo mengangguk, lalu berlari keluar mencari seseorang yang menghubunginya tadi. Kai benar. Hanya dia yang mengetahui kemana ibunya pergi.

“Bibi,”panggilnya saat melihat seorang wanita paruh baya hendak meninggalkan kerumunan yang masih ramai didepan gereja Solomon.

Wanita itu menoleh, “Kyungsoo…”

“Kemana ibuku? Kenapa bibi bilang dia menghilang?”tanyanya panik. “Aku tidak menemukannya di rumah. Kemana dia?”

Wanita itu menatap Kyungsoo khawatir, ekspresinya seketika berubah. Ia menelan ludah dalam kepanikannya yang semakin lama semakin terlihat.

“Kyungsoo, bibi melihat seseorang yang masuk ke dalam rumahmu tadi. Dia membawa ibumu pergi. Dia… dia…”

“Dia?” Kyungsoo tidak sabar menunggu lanjutannya.

“Bibi tidak tau apa mungkin bibi sudah gila. Tapi bibi benar-benar melihatnya. Dia terbang. Keatas menara gereja itu. Lalu beberapa saat kemudian gereja itu hancur. Dia… dia membawa ibumu bersamanya.”

Tidak hanya Kyungsoo yang terlonjak hebat dengan pernyataan barusan. Dibelakangnya, Kai lebih terperangah hebat setelahnya. Ia berbalik, langsung mendongak dan menatap keatas. Kearah menara gereja yang tidak mungkin bisa dijangkau oleh orang biasa. Jalan menuju menara itu sudah ditutup mati, dan tidak akan bisa dibuka lagi. Karena itu, Kris terpaksa harus terbang untuk berpatroli disana setiap malam.

“Bibi sudah berusaha menjelaskannya pada polisi-polisi itu tapi mereka tidak mempercayainya. Mereka mengatakan bahwa bibi sudah gila dan mengusir bibi pergi. Maaf Kyungsoo.”tangisnya menggenggam tangan Kyungsoo erat-erat.

Tidak menemukan pikiran-pikiran positif dikepalanya, Kai gagal menenangkan hati dan pikirannya. Keduanya berpacu cepat, bersamaan dengan pikiran-pikiran buruk yang terlanjur mendomiansi semunya.

Ia berbalik, berlari menuju gereja itu dan hampir menerobos garis kuning polisi jika tidak dihentikan oleh beberapa orang polisi yang berjaga disana.

“Anda tidak boleh masuk, tuan.”

“Tapi aku harus keatas. Ibunya ada diatas bersama orang yang telah menghancurkan gereja ini!”

“Jalan menuju menara telah ditutup mati, tidak ada yang bisa kesana.”

“Tapi mereka ada diatas sekarang!”

Beberapa polisi itu menjadi geram melihat tindakan Kai yang dianggap sangat gegabah dan mengganggu ketenangan. “Tuan, jika anda hanya ingin membuat keonaran, sebaiknya anda pergi dari sini.”

“”Keonaran?! Aku bicara serius! Ibunya sedang berada dalam bahaya sekarang!” Kai tetap ngotot walaupun tangan Kyungsoo berusaha menghentikan perlawanannya.

“Tolong hentikan anak ini.”

Mata Kai melebar. “Apa?! Kalian pikir aku sedang bercanda?!”

BUG

“KAI!”

Sudah tidak ada kesabaran yang tersisa dihatinya saat melakukan itu. Dia memukul, menendang, dan melawan semua polisi yang ia bisa. Meloloskan diri dengan merunduk dan menerobos garis kuning. Ia berlari masuk ke dalam gereja. Setidaknya, dia harus menemukan sesuatu yang bisa membuat hatinya tenang.

Sesampainya di dalam, Kai memang tidak menemukan apapun dan siapapun. Hanya bangku-bangku kayu yang sudah termakan usia dan patung Tuhan yang sudah tidak terawat lagi.

“Kai!” Kyungsoo menyusul dibelakang. “Mereka akan memanggil bantuan. Ayo pergi!” Ia menarik lengan Kai namun Kai tidak bergerak sama sekali, membuat Kyungsoo justru tertarik kembali.

“Kai!”panggilnya lagi.

Merasa jika seseorang yang sedang berdiri didepannya terlihat berbeda, Kyungsoo mengikuti kemana arah pandangan Kai. Keningnya berkerut. Kenapa Kai menatap meja kayu yang terletak tepat dibawah patung Tuhan itu?

“Meja itu rusak.”serunya pelan sembari berjalan kesana. “Kris bilang, darahnya ada disini.”

Kening Kyungsoo berkerut, “apa maksdumu? Ayo pergi! Mereka akan segera masuk dan menyeret kita keluar!”seru Kyungsoo nyaris membentak. Saat ini, bukan waktunya untuk terpaku pada meja yang rusak.

Namun, beberapa detik berikutnya. Kai bergerak dengan cepat, ia berlari menuju sisi kanan. Masuk ke dalam sebuah ruangan kecil namun lengang, tidak berisi apapun, namun memiliki sebuah pintu di salah satu sisinya. Pintu itu pasti jalan menuju menara.

Namun anehnya, pintu itu sama sekali tidak rusak. Tetap kokoh dan terkunci sangat kuat. Kai menatap lekat pintu itu, menguncinya sebagai titik fokus dan berpikir sangat keras bagaimana cara agar bisa mendobraknya, merusaknya atau apapun itu. Dia harus pergi keatas menara sekarang!

“Kai!”teriakan Kyungsoo kembali terdengar, pria mungil itu berdiri ditepi ruangan, tidak mengerti dengan apa yang sedang Kai lakukan sekarang. “Ibuku tidak mungkin berada diatas! Pintu itu sudah terkunci sejak beratus-ratus tahun lalu. Bibi Song pasti hanya berkhayal saat mengatakannya. Ayo pergi!”

Percuma. Kyungsoo seperti sedang berbicara dengan patung sekarang. Kai tetap terpaku. Tidak bergerak. Dan membeku.

Dia memang tidak mengingat bagaimana masa lalunya dulu. Tapi firasatnya benar-benar buruk sekarang.

Leo… apa pria itu benar-benar sudah musnah? Apa dia sudah menghilang seperti yang diceritakan oleh Kris? Tapi, kenapa tempat yang menyimpan darah pastor Solomon menghilang? Apa mungkin Sehun?

Kai buru-buru menepis pikirannya. Sehun tidak mungkin melakukannya karena itu sama saja dengan bunuh diri. Namun di sisi lain, Kris pernah mengatakan jika Sehun sangat ingin menghancurkan botol itu. Tapi, apa hubungannya dengan menghilangnya ibu Kyungsoo? Kemana perginya dia?

Tiba-tiba Kai berbalik, dengan cepat menggapai lengan Kyungsoo dan menyeretnya pergi sebelum sempat berdesis dingin, “Kau dalam bahaya sekarang!”

***___***

Kai dan Kyungsoo berhasil meninggalkan gereja dan menuju ke sebuah tempat. Mereka menuju hotel dimana Sehun tinggal. Hari sudah sangat sore, dia pasti sudah pulang dari sekolah.

Disepanjang jalan, Kai hanya diam tak bersuara. Tidak menjelaskan apapun dan kemana tujuan mereka pada Kyungsoo yang akhirnya menyerah untuk bertanya. Ia hanya menyeret pria mungil itu untuk mengikuti kemana langkah panjangnya pergi.

“KAI!” Hingga tiba-tiba Kyungsoo membentak Kai sembari menepis cekalan tangannya.

Kai terkejut, berbalik menatap Kyungsoo.

“Bisakah kau katakan padaku?! Apa yang sedang kau lakukan?! Ibuku sedang menghilang, aku harus melapor pada polisi sekarang!” Kesabarannya semakin menipis.

“Tidak ada gunanya kau melapor karena polisi tidak akan menemukannya!” Rahang Kai mengatup rapat. “Ibumu menghilang bersama dengan botol itu! Seseorang pasti sudah mengambilnya dengan menggunakan ibumu!”

Kyungsoo terpaku tak mengerti, “Apa?”

“Kyungsoo, saat ini yang harus kau lakukan adalah mendengarkanku! Aku tidak akan membiarkan diriku menyesal lagi. Aku tidak akan membiarkanmu pergi!”

Tidak ada sahutan. Sepertinya Kyungsoo juga telah kehilangan kesadarannya setelah mendengar kalimat itu. Sebuah kalimat pendek, membingungkan, dan sama sekali tidak bisa dimengerti. Ia terpaku, kehilangan tenaga dan kembali menghikuti langkah Kai yang begitu tergesa-gesa.

Sebenarnya… apa yang sudah terjadi?

***___***

Kai tidak mendapat sahutan apapun dari balik kamar Sehun walaupun ia sudah menekan bel kamarnya berkali-kali. Berpuluh-puluh panggilan dan pesannya juga tidak terbalas, sama sekali tidak mendapat respon.

Membuat kekhawatirannya semakin lama semakin memuncak dan amarahnya seperti akan meledak keluar. Keyakinannya menjadi mendominasi pada sosok Sehun yang mungkin curiga padanya dan Kris malam itu.

Mendengar cerita Kris yang mengatakan jika Sehun sangat ingin menghancurkan botol itu, dan mengingat jika malam itu dia terlihat tidak percaya dengan apa yang dikatakan dirinya dan Kris. Membuat keyakinannya semakin menjadi-jadi jika Sehun memang benar-benar nekad melakukannya, yang artinya membahayakan dirinya sendiri.

“Brengsek!”umpat Kai lalu kembali berlari, disusul Kyungsoo yang juga membuntuti dibelakangnya.

Satu-satunya kunci dari masalah ini adalah Kris. Jika dugaannya benar, itu artinya saat ini dua orang sedang dalam bahaya. Saat hasrat pemburu Sehun tidak dapat ditahan, dia bisa saja meminum darah ibu Kyungsoo. Dan dia akan berubah menjadi klan Theiss pada akhirnya.

Kai kembali ke sekolah secepat yang ia bisa. Kakinya seperti melayang, begitu cepat ia berlari hingga kakinya terasa seperti hampir putus. Hari sudah senja, namun sekolah masih dipenuhi dengan murid-murid tingkat akhir yang masih harus mengikuti bimbingan tambahan untuk ujian akhir,

“Kai!”

Chanyeol berlari saat ia melihat Kai dan Kyungsoo muncul di mulut gerbang. Bersama dengan Suho, Tao dan Baekhyun, dia menghampiri Kai.

“Kau kemana saja? Kris mencarimu!”

Mata Kai membulat, “Hah?! Dimana dia?! Kalian melihatnya?!”

“Tidak, tapi tadi dia terlihat tergesa-gesa. Dan…” Chanyeol memutar bola matanya. “…aku rasa dia tidak terlihat baik.”

Kris pasti sudah mengetahui tentang hal ini.

“Hey, apa yang sedang terjadi? Ku dengar kalian meninggalkan sekolah tadi siang.”sahut Suho.

“Bisakah kalian menolongku?” Raut wajah Kai berubah panik. “Kalian harus sembunyi dan jangan keluar rumah sampai aku datang. Dan.. tolong jaga dia.” Ia mendorong tubuh Kyungsoo ke depan.

Sontak, semuanya terkejut. “Apa?!”

“Aku akan menjelaskannya nanti. Tapi aku mohon tolong aku.” Mohonnya mengatupkan kedua telapan tangan.

“Kai, tapi aku harus mencari ibuku!”sentak Kyungsoo kesal. Bagaimana bisa dia berdiam diri smeentara ibunya menghilang hingga saat ini?

“Aku akan mencarinya! Aku akan menemukan ibumu. Tapi kau harus bersembunyi sekarang!”

“Tapi dia ibuku! Aku yang harus mencarinya!” Bentak Kyungsoo menatap Kai dingin. Membuat semua orang tersentak karena ini pertama kalinya ia melihat sosok Kyungsoo yang hangat menjadi sangat menyeramkan. “Dia ibuku dan kau tidak bisa melarangku untuk mencarinya! Sejak tadi, aku sudah menurutimu tapi sekarang kau sudah keterlaluan! Sebenarnya apa yang sedang terjadi?! Dimana ibuku?! Apa hubungannya denganmu, Kris dan gereja itu?! Kau bahkan tidak menjelaskan apapun padaku!”

Kai melunak. Kyungsoo memang benar, prilakunya hanya akan membuat kekhawatiran Kyungsoo semakin besar. Namun, tidak ada pilihan lain selain melakukannya. Dia tidak bisa menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dan dia tidak mungkin mengatakan jika dia, Kris, dan Sehun sedang mati-matian melindunginya.

Kai menatap sepasang mata Kyungsoo lekat-lekat. Dia menangkap kekhawatiran disana, juga air mata yang tertahan di pelupuk matanya. Ia mengerti. Namun, perasaan kasih sayang yang timbul tanpa sadar di dalam dirinya tidak bisa membiarkan Kyungsoo bernasib seperti D.O. Dia tidak akan kehilangan Kyungsoo seperti dia kehilangan D.O dulu.

Bukan karena sumpah, namun ini karena kasih sayang. Sosok Kyungsoo sudah terlanjur ia anggap seperti sosok D.O. Berarti. Dan sekarang, atas semua perlindungan dan pengorbanan yang telah ia lakukan dulu, ia ingin membalasnya. Walaupun dengan orang yang berbeda. Kali ini, ia ingin melindungi Kyungsoo. Dia tidak ingin gagal dan terlihat seperti pengecut lagi.

Dia… dia tidak ingin kehilangan….

“Aku berjanji. Hanya satu kali. Aku mohon dengarkan aku.”lirih Kai, ia mencekal kedua pundak Kyungsoo, sedikit membungkuk dan menatapnya lekat. “Aku akan membawa ibumu kembali. Aku akan mencarinya. Hanya saja, kau harus bersembunyi. Kau tidak boleh terlihat.”

“Apa yang sedang—“

“Aku mohon!”potong Kai benar-benar memohon membuat Kyungsoo tidak bersuara lagi. Setelahnya, ia berpaling pada Chanyeol. “Tolong jaga dia dan jaga diri kalian. Tunggu sampai aku kembali.”

Kai berbalik pergi tanpa penjelasan yang berarti. Meninggalkan tanda tanya besar pada diri Kyungsoo juga teman-temannya. Tidak mengerti. Mereka tidak mengerti dengan sikap Kai yang mengatakan kata-kata aneh seakan-akan ada bahaya besar yang sedang mengincar mereka.

“Maaf Kyungsoo, tapi dia benar-benar memohon tadi. Ayo pergi.”ajak Chanyeol, mendorong halus pundak Kyungsoo dan menuju rumahnya.

***___***

Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Kai saat ia memutuskan untuk kembali ke gereja Solomon saat hari sudah mulai gelap. Tempat itu kini sepi, tidak seramai tadi. Namun tetap diberi garis kuning polisi sebagai pembatas dan peringatan untuk tidak boleh dilewati. Polisi masih mengusut masalah ini, namun tidak mengurus masalah hilangnya ibu Kyungsoo.

Tidak ada rasa takut sedikitpun dalam dirinya, telah bersiap untuk menerima segala kemungkinan buruk yang akan datang. Entah Leo atau Sehun yang sudah berubah menjadi pemburu.

Ia berdiri tepat didepan gereja tua itu, banyak tanaman rambat yang menjalari dinding-dinding batanya. Membuat gereja itu lebih terlihat seperti kastil tua yang tidak terurus sekarang. Cerita itu memang sangat kuat, menemani zaman yang seharusnya mampu melupakan kenangan.

“Kai!”

Hingga tiba-tiba sentakan seseorang dipundaknya membuatnya berbalik. Melihat sosok yang sedang berdiri didepannya, kali ini Kai bisa menghela napas lega sesaat. Itu Kris.

“Dimana Sehun?! Apa yang sudah terjadi?!”tanyanya menuntut.

Kris mengangkat kepalanya, berseru pelan nyaris membuat bulu kuduk Kai bergidik, “Leo… Dia kembali Kai. Dia belum mati…”

“APA?!” Kai terperangah hebat. Walaupun ia sempat memikirkan kemungkinan itu di pikirannya, tapi ia benar-benar tidak menyangka jika Leo akan benar-benar datang. “Kau bilang dia sudah mati!”

Kris menggeleng pelan, “aku salah. Dia belum mati. Dia datang dan dia akan mencari Kyungsoo untuk darahnya.”

Untuk kedua kalinya, rasa terkesima yang lain menyusul, menghantam keras dada Kai.

“Dia menculik ibu Kyungsoo saat kita lengah. Dia menggunakannya untuk mengambil botol darah pastor Solomon yang terkunci di meja itu.”

Gigi Kai menggertak, “Lalu dimana ibu Kyungsoo sekarang?”

Kembali, Kris mengatakannya dalam nada lirih. “Tidak tau. Sehun sedang mencarinya sekarang. Sedangkan aku kembali untuk menjagamu dan Kyungsoo.”

“Kau membiarkan adikku mengejarnya sendirian, hah?!” bentak Kai sambil menarik kasar kerah kemeja Kris. “aku bisa menjaga diriku! Aku bisa menjaga Kyungsoo! Kau tidak perlu mengkahwatirkan kami dan meninggalkan Sehun sendiri!” Lalu mendorong tubuh Kris kasar membuatnya termundur ke belakang. Helaan napasnya yang begitu keras dan berat adalah bentuk dari histeria dan kekhawatirannya sejak tadi. “Sekarang kau masih tidak mengijinkanku untuk berubah?! Kau akan membiarkannya menjadi semakin kacau karena hanya kau dan Sehun yang bisa melawan?! Apa kau mau kita berakhir seperti dulu, hah?!”

Kai mencerca Kris dan mengeluarkan semuanya keluar. Sorot tajamnya seperti mampu membuat Kris menunduk dalam tanpa berani mengusiknya. Pria ini… dia sudah berbeda sejak terakhir ia mengenalnya. Sejak kematian D.O dan sejak ingatannya menghilang, dia telah berubah menjadi sosok lain. Bukan Kai yang begitu bergantung pada D.O tapi Kai yang mampu berdiri diatas kedua kakinya sendiri.

Dia berhasil keluar dari sisi gelap itu dan membentuk diri menjadi orang lain. Namun tetap pergi bersama kenangan-kenangan yang tercetak samar di visual pikirannya.

“Aku tidak akan membiarkan siapapun pergi lagi! Aku tidak mau mereka pergi!” teriaknya masih dalam kekesalan. “Jika kau tidak mau memberitahu padaku caranya, aku tetap akan pergi mencari adikku! Aku tetap akan menyelamatkannya!”

“Kai!” Tahan Kris, ia mencekal lengan Kai dan memaksanya untuk berbalik. “Kau butuh morfin yang dibuat oleh paman Arthur dan sedikit darahku. Jika keduanya bersatu, kedua sisi akan saling menyerang, jika darahku menang, kau bisa kembali.”

Dalam hati, Kris berkali-kali mengucapkan kata maaf untuk Sehun. Untuk pengkhianatannya atas janji yang telah ia berikan dulu. Kai sudah mengetahui semuanya dan dia harus kembali. Karena, dia yakin Leo tidak sendirian. Dia pasti membentuk pasukan, dan dibandingkan dengan itu, dia dan Sehun adalah jumlah yang terlalu sedikit untuk melawan Leo.

Biar bagaimanapun Kai harus kembali, untuk membantu mereka. Walaupun ia tau, masa-masa sulit pasti akan datang di hari-hari awal dia berubah nanti.

***___***

“Hanya menahannya selama tiga hari. Apa kau siap?”tanya Kris saat mereka sudah berada dalam kamar hotel Sehun. Mencuri kunci duplikat dari lemari resepsionis adalah jalan satu-satunya. “Jika kau berhasil menahannya, kau akan tetap menjadi jarski. Tapi jika tidak, kau akan berubah menjadi pemburu.”

Kai mengangguk mantap, “aku siap.”

Kris menghela napas panjang, “kemungkinan buruk yang lain, kau akan kembali mengingat rasa sakitmu. Jika kau tidak bisa melawannya, kau akan menjadi gila.”

“Aku bisa, Kris! Aku bisa melawan semuanya!”seru Kai cepat.

Kris menyerah. Setidaknya dia telah memperingatkan Kai di awal. Ia membungkuk, menarik sebuah kotak yang diletakkan Sehun di bawah ranjang tidurnya. Membawa botol morfin itu ke tengah dan meletakkannya diatas meja.

Ia berjalan ke dapur, mengambil sebuah gelas dan menuangkan sedikit morfin ke dalamnya. Juga mengambil pisau, untuk mengambil darahnya.

Kris menusuk ujung jarinya hingga robek. Membuat tetesan daran keluar dari sana dan terjun bebas ke dalam gelas yang sudah berisi morfin.

“Jika warnanya berubah menjadi merah, itu artinya darahku menang.”ujar Kris sambil terus membiarkan darahnya menetes.

Kai mengangguk. Memperhatikan dua cairan yang perlahan mulai bersatu itu. Ia meninggalkan segala kemungkinan buruk dibelakang dan fokus pada tujuannya. Menyelamatkan Sehun dan Kyungsoo.

Keduanya terus memperhatikan gelas itu lekat-lekat. Menunggu hasil yang akan keluar dan takdir yang akan menentukan hidup Kai kelak.

“Darahku menang.” Lirih Kris, matanya terus tertancap pada gelas itu.

Tanpa berpikir panjang, Kai mengulurkan tangannya dengan cepat. Mengangkat gelas itu dan meneguk isinya membuat Kris terperangah hebat. Bahkan, dia tidak memerlukan waktu untuk berpikir dan ragu.

Suara gelas yang kembali menyentuh meja membuat Kris mengerjap. Kai sudah menghabiskan cairan itu dengan sekali teguk.

“Sebentar lagi… aku akan berubah kan?”

TBC

 

64 thoughts on “FF: The Wolf and not The Beauty (part 15)

  1. dyoremisoo_ berkata:

    Aku kaisoo shipper & suka bgt sm cerita ini,, feel nya dapet bgt,, satu yg mesti ada di ff author kayaknya hunhan feel bener gk? Satu kata buat author,, DAEBAK!! Keep writing ya thor..

  2. JuditExoshidae 2713 berkata:

    Huwwwaaaaaaa!!!! LEO MASIH HIDUP?? #mengalay ‘_’
    trus gimana jdi nya?? Sehun kemana?? ibu nya kyungsoo apa kabar? trus kai nya gimana?
    suasana semakin memanas bung!! semakin mengang bung!!
    Wuaaahhh!!!!!!!!!!! Pokoknya jng lma2 ya di next nya thor! gua penasaran pkek BGT!
    okeh fix, aku tunggu nih chap16 nya!! Pliss jng lama2, aku org nya ga bisa nunggu!
    Hwaiting Author!!!!!!!!!! ^^)9

  3. 이인 berkata:

    Woaaaah, daebak!
    ceritanya makin asik aja nih^^
    Jangan ubah sehun apa kai jadi pemburu thor. u,u
    aku tunggu thor lanjutannya

  4. Kim Kyuri berkata:

    Wahh ff ini mkin lma mkin seru dn tiap kli dpt tlisan TBC psti bkin pnasaran dgn klanjutannya. Maaf bru bsa komen,thor. Soalnya bru tau cra komen d ff itu gimana.
    Next secepatnya yah,thor. Enggak sbar soalnya. Fighting,thor. Keep writing. I love you

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s